གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ febe ririn ariyani 2213053277

Nama : Febe Ririn Ariyani

NPM : 2213053277

Kelas : 3 H 

ANALISIS VIDEO 1

trolley problem yang disajikan dalam video yaitu sebagai berikut:

sebuah kereta dengan seorang pengemudi meluncur dijalur rel. masalah ditemukan ketika kereta yang meluncur cepat tersebut bertemu lima orang yang berada dijalur utama, namun ada belokan sebelum bertemu 5 orang yang ada dijalur utama. tetapi dibelokan tersebut ada 1 orang 

Dengan demikian, hanya ada dua kemungkinan, yakni:

1. Tetap membiarkan troli melaju lurus dan menabrak 5 orang

2. Berbelok, dan masuk ke jalur samping, kemudian menabrak 1 orang.

Apabila Anda berada di posisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan orang berpegang pada etika, di mana membiarkan korban yang lebih sedikit lebih baik ketimbang korban yang lebih banyak. Maka lebih banyak yang akan memilih berbelok, meski sebenarnya jalur samping tak tahu mengarah ke mana. 

apakah mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak adalah pilihan yang lebih baik? apakah hanya karena kita merasa itu tidak dilakukan oleh tangan kita sendiri lantas kita boleh menyetujuinya dan membiarkan itu terjadi?

the troly problem membuat kita berfikir lebiih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihanapakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari hari 

apakah mengorbankan yang lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral? atau hanya sebuah pembenaran belaka. 

maka tak heran kita sering terdoktrin bahwa harus selalu ada yan dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar. 

maka tak heran jika moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa dan segelintir orang untuk mendiskriminasi minoritas, perang dll.  Karena pada akhirnya moralitas ternyata hanyalah persoalan keegoisan masyarakat terhadap kepentingannya sendiri atau kelompoknya.



Nama : Febe Ririn Ariyani

NPM  : 2213053277

Kelas  : 3H 

ANALISIS JURNAL 2

Identitas Jurnal

Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora

Nomor : 1

Halaman : 89-100

Tahun Terbit : 2010

Judul Jurnal : Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia di Kalangan Remaja

Nama Penulis : H. Wanto Rivaie

1. Membangun Hubungan Interpersonal Antar Bangsa.            Nilai-nilai hubungan antar manusia warga bangsa perlu dibangun berdasarkan saling menghargai, saling percaya untuk menciptakan kehidupan yang sejahterah

2. Pendidikan Generasi Muda Yang Memiliki Jati Diri Indonesia Yang Berkadar Modern

Jati diri generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terprogram, direncanakan dengan baik, dan sistematis/modern (Jalaluddin, dan Abdullah Idi, 2007, 184-185)

3. Diperlukan Pendidik Dalam Arti Seluas-luasnya (Orang Tua, Guru,Dosen, Tokoh Masayarakat Formal/Non Formal)

Nursid S. (2008, 31-33) menjelaskan bahwa sepanjang hidupnya manusia dipengaruhi oleh pendidik dalam arti luas ini (orang tua, guru, dan tokoh masyarakat).

4. Penciptaan Suasana Yang Kondusif Aktif, Efektif, Komunikatif Penuh Nilai Kreatif Dan Bertanggung Jawab

Menciptakan suasana pendidikan yang kondusip dimaksudkan, bahwa perlu dibangun interaksi timbal balik dua arah yang akan melahirkan masukan dan hasil. Hal ini dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai.

5. Peranan Strategis Pendidikan Agama dalam Pembentukan Perilaku Peserta Didik dalam Kondisi Masyarakat yang Pluralistis

Dengan landasan pendidikan agama yang dilakukan di keluarga, sekolah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka akan terbangun kepribadian peserta didik yang memiliki nilai-nilai moral yang termaktub dalam pancasila, dimana sila yang pertama adalah Sila ketuhanan YME, yang menjadi dasar sila-sila yang lain. 

6. Faktor-Faktor Personal Yang Mempengaruhi Tindakan Manusia

Ada dua macam pendekatan dalam pembentukan prilaku manusia. Kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor sosial. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal), dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental)


Nama : Febe Ririn Ariyani 

NPM : 2213053277

Kelas : 3 H

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Pemimpin- Pengabdian Masyarakat Ilmu Pendidikan
Volume : 2
Nomor : 1
Halaman : 13-17
Tahun Terbit : 2022
Judul : PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DI SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH!
Nama Penulis : Asti Yunita Benu, Agnes Maria Diana Rafael, Imanuel Baok, Intan Yunita Tungga, Maria M Nina Niron, Niski Astria Ndolu, Vebiyanti P Leo

Hasil Analisis 

Nilai Moral pancasila adalah suatu pedoman bagi masyarakat untuk bertindak hidup sebagaimana telah diatur dalam pancasila atau ideologi Indonesia, dengan kata lain moral pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus dilakukan oleh masyarakat. Pendidikan Moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuh kembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Butir pancasila merupaan petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengalaman Pancasila yakni sebagai berikut:

1. Pengalaman sila kesatu, Ketuhanan Yang Maha Esa

  •  Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 
  •  Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
  • Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain

2. Pengalaman sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradap 

  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban anatar sesama manusia. 
  • Saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa-selira. 
  • Tidak semena-mena terhadap orang lain.

3. Pengalaman sila ketiga peraturan Indonesia. 

  •  Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. 
  •  Cinta tanah air dan bangsa .
  •  Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia

4. Pengalaman sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 

  • Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat. 
  • Tidak memaksakan kehendak pada orang lain. 
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. 
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. 
  • Dengan itikat baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

5. Pengalaman sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia 

  • Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan. 
  •  Bersikap adil. 
  •  Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 
  • Menghormati hak-hak orang lain . 
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya.

Nama: Febe Ririn Ariyani

NPM  : 2213053277

ANALISIS VIDEO

Pengamalan sila pancasila artinya penerapan nilai pancasila dalam kehidupan sehari- sehari 

nilai yang harus kita teladani dalam pancasila di kehidupan sehari hari yaitu: 

  1.  Nilai Ketuhanan yaitu bersyukur kepada Tuhan, melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut, tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain, menghormati agama orang lain.
  2. Nilai Kemanusiaan  yaitu membantu korban bencana alam, menolong teman yang kesulitan, bersikap sopan terhadap orang tua dll. 
  3.  Nilai persatuan  yaitu mengikuti upacara bendera dengan tertib, mencintai dan menggunakan barang atau produk buatan Indonesia, bermain rukun dengan teman, tidak membedakan suku dan agama
  4. Nilai kerakyatan yaitu berdiskusi atau kerja kelompok, menyampaikan pendapat
  5. Nilai keadilan, yaitu kita diajak untuk bersikap adil terhadap sesama, contohnya tidak berbuat curang kepada orang lain, melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang dll

untuk menginspirasi  seseorang agar meneladani dan menerapkan nilai nilai pancasila di era modern, kita dapat melakukan beberapa hal berikut: 

  1. edukasi: artinya kita memberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai- nilai pancasila kepada mereka 
  2. mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam diskusi terbuka tentang nilai nilai pancasila 
  3. mendorong pengembangan karakter yang kuat yang berfokus pada kejujuran, keadilan, toleransi
  4. memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan informasi dan nilai nilai pancasila pada generasi modern 
Nama: Febe Ririn Ariyani
NPM : 2213053277

PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUS

penye bab krisis multi dimensi, termasuk krisis moral yang menimpa bangsa kita adalah karena telah terabaikannya “pendidikan moral” (dalam pengertian pendidikan agama, budi pekerti, akhlaq, nilai moral) bagi generasi penerus.
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 1 ayat (1): “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiri tual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Sedangkan “nilai” merupakan suatu ide - sebuah konsep - mengenai
sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan. Ketika seseorang menilai sesuatu, ia menganggap sesuatu tersebut berharga untuk dimiliki, berharga
untuk dikerjakan, atau berharga untuk dicoba maupun untuk diperoleh.
Jadi pendidikan nilai moral adalah suatu usaha sadar yang dilakukan
oleh manusia (orang dewasa) yang terencana untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik (anak, generasi penerus) menanamkan keTuhanan, nilai-nilai estetik dan etik, nilai baik dan buruk, benar dan salah,
mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban; akhlak mulia, budi pekerti
luhur agar mencapai kedewasaannya dan bertanggung jawab.
Adapun ruang lingkup materi pendidikan nilai moral antara lain
meliputi: ke-Tuhanan, kejujuran, budi pekerti, akhlak mulia, kepedulian
dan empati, kerjasama dan integritas, humor, mandiri dan percaya diri,
loyalitas, sabar, rasa bangga, banyak akal, sikap respek, tanggung jawab,
dan toleransi (Pam Schiller dan Tamera Bryant, 2002), serta ketaatan,
penuh perhatian, dan tahu berterima kasih.

Teori Pendidikan Nilai Moral
Menurut Kohlberg perkembangan sosial dan moral manusia ter jadi dalam tiga tingkatan besar yaitu: 
  1.  tingkatan moralitas prakonvensional, yaitu ketika manusia berada dalam fase perkembangan remaja awal, yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial
  2.  tingkat moralitas konvensional, yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan masa remaja, yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tadisi sosial
  3.  tingkat moralitas pascakonvensional, yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan masa remaja dan pasca remaja (usia 13 tahun ke atas), yang memandang moral lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial.
Pendidikan Nilai Moral

  1. fenomena Tingkah Laku Amoral Remaja Perilaku seperti ini berawal dari sharing nilai atau penyebaran isu, kemudian kumpulan individu tersebut frustasi dan akhirnya melakukan tindakan anarkis. Faktor-faktor ini bisa menjadi penyebab terjadinya konflik yang dapat menimbulkan kerusuhan sosial
  2. kondisi Ideal Remaja sebagai Generasi Penerus Remaja sebagai generasi penerus juga memiliki kemapuan potensial yang bisa diolah menjadi kemampuan aktual. Selain itu juga memiliki potensi kecerdasan intelektual, emosi dan sosial, berbahasa, dan kecerdasan seni yang bisa diolah menjadi kecerdasan aktual yang dapat membawa mereka kepada prestasi yang tinggi dan kesuksesan. Mereka memiliki potensi moral yang dapat diolah dan dikembangkan menjadi moral yang positif sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan Negara yang penuh dengan kejujuran, tidak korup, semangat yang tinggi dan bertanggungjawab. Potensi mereka yang prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotisme dan idealisme telah dibuktikan ketika zaman pergerakan nasional, pemuda pelajar telah banyak memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Pendidikan Nilai Moral dan Implikasinya

orang tua, guru, teman sebaya yang menjadi idola, para actor film/ sinetron hendaknya menjadi contoh teladan perilaku yang baik dan mencerminkan tingkah laku yang mengandung nilai-nilai moral yang baik.