Kiriman dibuat oleh Risa Perwita Sari 2253053045

Nama : Risa Perwita Sari

Npm : 2253053045

Kelas : 2 D



A. Identitas Jurnal

1. Nama Jurnal : Jurnal Penelitian Politik

2. Halaman : 69-81

3. Volume : Vol. 16

4. Nomor : No. 01

5. Tahun Terbit : Juni 2019

6. Judul Jurnal : Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019

7. Nama Penulis : R. Siti Zuhro

8. Kata Kunci : Pendalaman Demokrasi, Pemilu Presiden, Politisasi Identitas, Pemerintahan Efektif, Membangun Kepercayaan


B. Pembahasan

1. Deepening Democracy dan Tantangannya

Demokrasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai ‘pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’. Namun, untuk mewujudkan makna tersebut tidaklah mudah karena demokrasi memerlukan proses panjang dan tahapan-tahapan penting yang harus dilalui, seperti proses konsolidasi demokrasi. Seperti dikatakan Laurence Whitehead (1989), konsolidasi demokrasi merupakan salah satu sarana untuk

meningkatkan secara prinsip komitmen seluruh lapisan masyarakat pada aturan main demokrasi. Ia tidak hanya merupakan proses politik yang terjadi pada level prosedural lembaga-lembaga politik, tetapi juga pada level masyarakat. Demokrasi akan terkonsolidasi bila aktor-aktor.

2. Pemilu Presiden 2019 dan Masalahnya

Sebagai pilar utama demokrasi, pemilu merupakan sarana dan momentum terbaik bagi rakyat, khususnya, untuk menyalurkan aspirasi politiknya, memilih wakil-wakil terbaiknya di lembaga legislatif dan presiden/wakil presidennya secara damai. Keberhasilan penyelenggaraan pemilu (pemilu legislatif, pemilihan kepala daerah

dan pemilihan presiden) dan pelembagaan sistem demokrasi mensyaratkan kemampuan bangsa untuk mengelola politik dan pemerintahan sesuai amanat para pendiri bangsa. Meskipun hak-hak

politik dan kebebasan sipil telah dijamin oleh konstitusi serta partisipasi politik masyarakat semakin luas, di tataran empirik pemilu masih belum mampu mengantarkan rakyat Indonesia benar-benar berdaulat.

3. Politisasi Identitas: Berebut Suara Muslim

Pemilu serentak 2019 tak lepas dari isu politisasi identitas dan agama. Fenomena politisasi identitas dan agama juga diwarnai dengan berebut suara muslim.7

Munculnya sejumlah isu yang oleh sebagian umat Islam dipandang merugikan mereka pada akhirnya melahirkan gerakan ijtima’ulama untuk mengusung pasangan

calon (paslon) presiden dan wakil presiden.

hasil ijtima’, -yang di dalamnya terdapat

representasi ulama sebagai penantang petahanamerekomendasikan Prabowo untuk memilih cawapres yang berasal dari kalangan ulama (pasangan

capres-cawapres bertipe nasionalisagamis).

4. Pemilu dan Kegagalan Parpol

Pemilu bukan hanya penanda suksesi

kepemimpinan, tapi juga merupakan koreksi/ evaluasi terhadap pemerintah dan proses deepening democracy untuk meningkatkan kualitas demokrasi yang sehat dan bermartabat.11 Dalam proses konsolidasi tersebut, parpol sebagai pelaku utama pemilu idealnya dapat melaksanakan fungsinya sebagai penyedia kader calon pemimpin. Namun, ketika fungsi parpol

tidak maksimal, proses konsolidasi demokrasi terhambat. Hal ini tampak jelas dalam pemilu 2019 di mana banyak parpol gagal dalam proses kaderisasi. Hal ini dapat dilihat dari maraknya partai yang memilih mencalonkan kalangan selebritis sebagai caleg. Tujuannya menjadikan selebritis tersebut sebagai vote getter partai

dalam pemilu.12 Partai Nasdem, misalnya, tercatat sebagai partai yang paling banyak mengambil artis sebagai calon legislatifnya dalam pemilu 2019.

5. Pemilu dalam Masyarakat Plural

Mungkin bijak untuk memahami makna

demokrasi dalam sebuah negara yang plural dan multikultural seperti Indonesia, dengan mengutip teori etik filsuf Jerman, Immanuel Kant (1724- 1804) yang mengingatkan, jika dalam suatu masyarakat majemuk masing-masing kelompok mengklaim kebenaran absolut agama, moralitas,

atau kulturnya, yang menjadi hasil akhirnya

adalah konflik. Dalam konteks Indonesia, kiranya jelas bahwa yang dihadapi tidak hanya kemajemukan etnik dan daerah, tetapi pada saat yang bersamaan

adalah ’subbudaya etnik dan daerah’ yang majemuk pula.

6. Pemilu dan Politisasi Birokrasi

Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan demokrasi yang substansial, reformasi politik dan pemilu juga menuntut lahirnya reformasi birokrasi yang profesional terbebas dari pragmatisme dan kooptasi partai politik dan penguasa. Ketidaknetralan birokrasi dalam pemilu bisa berakibat pada lemahnya legitimasi kinerja pemerintah, penyelenggara pemilu dan hasilnya. Sejauh ini tataran empirik menunjukkan adanya tarikan politik, khususnya, dari penguasa

terhadap birokrasi. Hal ini tampak sangat kuat. Salah satunya adalah adanya video viral yang memperlihatkan dugaan dukungan camat seMakassar kepada paslon Joko Widodo-Ma’ruf Amin.16 Politisasi birokrasi makin tampak nyata

dengan dijadikannya menteri-menteri, kepalakepala lembaga, kepala-kepala daerah sebagai pemenangan paslon dalam pilpres. Artinya, birokrasi terlibat politik praktis tak hanya di pusat, tapi juga sampai ke daerah-daerah.

Nama : Risa Perwita Sari

Npm : 2253053045

Kelas : 2D


Demokrasi itu gaduh, tapi kenapa bertahan dan dianut banyak negara?

Demokrasi memfasilitasi silang pendapat, demokrasi juga menjamin kebebasan untuk berpendapat.

Demokrasi itu tempatnya orang brisik, tempat orang ribut yang penting ributnya masih dalam kontekskoridor demokrasi yang prosedural tidak akan menjadi persoalan.

Dengan kebrisikan itu, bagaimana sistem ini jadi pilihan banyak negara?

Alasan utamanya, negara yang sistem demokrasinya baij lebih mampu mempertahankan keamanan dan kemakmuran jangka panjang.

Demokrasi juga dipandang sebagai alat paling efektif mewujudkan kesejahteraan, mengurangi konflik, dan meningkatkan partisipasi publik.

Dari segi penegakan HAM. misalnya,

Negara yang menganut demokrasi memiliki skor penegakan HAM yang lebih tinggi.

Kalau kita bandingkan negara demokrasi dengan non-demokrasi,

Secara umum negara demokrasi lebih kaya, mereka punya tingkat perkembangan manusia yang lebih tinggi.

Demokrasi punya angka korupsi yang lebih rendah, warga negara demokrasi lebih bahagia dan sehat, dan warga negara demokrasi menikmati lebih banyak jaminan atas hak asasi manusia .