Kiriman dibuat oleh Chindy Alviona 2213053093

Nama: Chindy Alviona
Npm: 2213053093
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

Analisis Vidio 2
Degradasi moral pelajar zaman modern

Sebuah tragedi tragis kembali muncul dari dunia pendidikan di Indonesia. seorang siswa dikabarkan telah menganiaya gurunya sendiri hingga tewas korban bernama Ahmad Budi Cahyono cinta yang saat ini telah mengandung 5 bulan. Belum ada kasus siswa menghabisi nyawa guru muncul video seorang murid yang sepertinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama mengajak duel Kepala Sekolahnya tidak jelas kalimat apa yang diucapkan Namun sepertinya ia mengatakan siap berulang kali sikap dan bahasa tubuh yang terlihat Arogan menunjukkan si murid tidak merasa takut sama sekali dengan para guru bahkan Kepala Sekolahnya lantas di manakah moral anak bangsa calon penerus masa depan.

Apa yang dilakukan oleh anak sebenarnya tidak berdiri sendiri artinya ada pasti ada sebab penyebab nah salah satu ini muncul tentu saja kita harus melihat pola-pola bagaimana pengasuhan, Bagaimana anak ini di rumah, yang artinya tiba-tiba di sekolah sikap dan perilaku itu tidak terbentuk begitu saja atau tiba-tiba itu. ada sebuah proses panjang dalam hidupnya, kemudian memang ini juga ada kaitannya Bagaimana guru di kelas melakukan pengelolaan kelas jadi menghadapi anak-anak, tentu yang seperti ini memang pasti ada banyak sekolah gitu, artinya walaupun tidak banyak jumlah anaknya tapi di sekolah pasti ditemukan anak-anak yang seperti ini, seperti biasa tetapi memang untuk yang dipukul hingga meninggal itu memang ini kejadian pertama di Indonesia. tentu kita semua prihatin tetapi kalau mengingat bahwa anak-anak ini memang manusia belum dewasa, dia tidak menghitung resiko dan dia juga tidak menyangka juga apa yang dia lakukan, apapun sebenernya tidak boleh dilakukan dengan kekerasan. kekerasan baik dilakukan oleh siswa oleh guru tentu semua tidak dibenarkan.

Sebenarnya memang untuk sosok menjadi guru ini kelengkapan yang utama adalah kelengkapan di dalam dirinya sebagai sosok pribadi dan hal itu sebetulnya sudah diatur dalam undang-undang bahwa seorang guru mempunyai empat standar kompetensi utama yaitu kompetensi kepribadian, Kompetensi sosial, Kompetensi profesional dan kompetensi pedagogi. yang sementara ini baik dalam pembekalan sebelum jadi guru apalagi dalam pelatihan setelah menjadi guru keempat hal ini belum dilaksanakan secara holistik jadi misalnya pelatihan Sebelum menjadi guru faktor kepribadian sebelum seseorang memasuki tahapan untuk menjadi calon guru mestinya perlu dilakukan screening dalam sekeliling psikologis supaya ketika dia masuk dalam sekolah guru itu betul-betul sudah siap. memang untuk menjadi seorang pendidik dalam proses itu dia juga dikenalkan ragam sekolah-sekolah kita, ragam anak-anak kita yang kemudian Bagaimana menanganinya, Bagaimana menangani anak dengan perilaku yang berbeda berada di dalam satu kelas. pembekalan itu memang tidak cukup seperti yang sekarang, sementara ini yang dilakukan yaitu pembekalan yang bersifat knowledge bersifat pengetahuan apa yang mendominasi yang bersifat penguatan di dalam keterampilan dan pembenahan perilaku ini belum menjadi fokus utama.

Sisi psikologis
anak itu bertumbuh ada level tingkat kognisi. sebenarnya apakah aksi itu berlanjut pada konsekuensi tertentu tapi pada kasus kalau anak itu tidak mampu mengelola emosi ketika dia marah ketika dia benci itu kan muncul impuls yang atau rangsangan yang mendorong dia untuk bereaksi seketika itu kita sebutnya impulsif atau reaksi ketika dia muncul dorongan dan langsung bereaksi itu dia udah tidak tahu apa konsekuensinya, kemampuan untuk mengelola emosi Ini yang harusnya juga dilatih kepada anak-anak itu. kemudian level toleransi terhadap stress frustrasi ini yang sekarang makin turun, di mana kemudian reaksi mudah tertekan mudah depresi itu karna tuntannya berbeda, sekarang informasi banyak sekali diserap padahal belum tentu informasi penting. kemudian belum lagi di dalam pelajaran sekarang juga tuntutannya semakin besar yang harus dipelajari, nilai segala macam semakin berat. konsentrasinya itu sebenarnya makin tinggi tapi tidak diimbangi dengan kemampuan pribadi untuk mengelola itu.
Nama: Chindy Alviona
NPM: 2213053093
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

Analisis Vidio 1
6 tahap perkembangan moral menurut Kohlberg

Menurur Lawrence Kohlberg:
Level 1 (Pra-Konvensional), terdari dari tahap:
1. menghindari hukuman
2. keuntungan dan minat pribadi

Level 2 (konvensional), terdiri dari tahap:
3. menjaga sikap orang baik
4. memelihara peraturan

Level 3 (pasca konvensional) terdiri dari tahap:
5. orientasi kontrak sosial
6. komponen prinsip etika universal.

Penjelasan
Tahap 1 (menghindari hukuman)
seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu Karena untuk menghindari hukuman. Tahap 2 (keuntungan dan minat pribadi)
Di tahap ini tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapat olehnya.
Tahap 3 (menjaga sikap orang baik)
Seseorang mungkin menghindari pertengkaran karena memikirkan Bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya.
Tahap 4 (memelihara peraturan)
Seorang ketua kelas memarahi kedua orang temannya yang sedang bertengkar karena Ia berpikir peraturan harus ditetapkan dan jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau karenanya peraturan harus selalu dipatuhi.
Tahap 5 (orientasi kontrak sosial)
Dalam tahap ini seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
Tahap 6 (prinsip etika universal)
Tahap ini adalah tahap yang menggambarkan prinsip internal seseorang Ia melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Nama: Chindy Alviona
NPM: 2213053093
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

Analisis Jurnal 2
A. IDENTITAS JURNAL
1. Judul: PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
2. Penulis: : Enung Hasanah
enung.hasanah@mp.uad.ac.id
3. Kata Kunci: Pendidikan nilai moral, Sudut Pandang Umum.
JIPSINDO No. 2, Volume 6, September 2019

B. HASIL ANALISIS
1. Pendahuluan
Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan
sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik
untuk anak-anak kita, dan sebaliknya (Wren, 2008: 11).

2. Pembahasan
a. Teori Kohlberg
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Psikolog yang mempelajari
moralitas atau perkembangan moral harus berurusan dengan masalah relativisme moral atau netralitas nilai, yang bermula dari kata-kata yang bermuatan nilai "moral" dan "pengembangan." Relativisme moral adalah posisi bahwa nilai-nilai moral berbeda di antara budaya dan
masyarakat dan karenanya tidak universal (Naito, 2013). Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan
Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensiona
Level 2. Moralitas Konvensional
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional

b. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif tertarik pada kepercayaan orang, pengalaman, dan sistem makna dari perspektif orang-orang (Mohajan, 2018).

c. Hasil Penelitian
Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada
pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984: 65).

3. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan
diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatukarena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat
perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama: Chindy Alviona
NPM: 2213053093
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

Analisis Jurnal 1

A. IDENTITAS JURNAL
1. Judul: PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”
2. Penulis: Sudiati, FBS Universitas Negeri Yogyakarta
3. Kata Kunci: Pendidikan nilai moral, Sudut Pandang Umum

B. HASIL ANALISIS
1. Pendahuluan
Kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isuisu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Nilai yang dicetuskan UNESCO 1993 diuraikan dalam dua gagasan yang saling berseberangan, yaitu nilai standar (terukur) secara material dan nilai yang abstrak dan sulit diukur yang berupa keadilan, kejujuran, kebebasan, kedamaian, dan persamaan (Mulyana, 2004: 8).

2. Pembahasan
a. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
1. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim.
2. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama.
3. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.
4. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan.
b. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.
1. Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Kohlberg, melalui penelitian Longitudinal and Crosscultural, telah berupaya untuk menyempurnakan teori Piaget dengan menetapkan enam tingkat pertimbangan moral yang relatif tidak bergantung pada umur.
2. Pendidikan Nilai Moral Pendidikan
Nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya, ia memandang hidupnya sebagai suatu proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut.
3. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
4. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161).

3. Penutup
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.