Kiriman dibuat oleh Mita Yogi Handayani 2213053107

Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 3 "8 Fungsi Keluarga | Menerapkan dan Menanamkan Nilai-Nilai Moral dalam Keluarga"

• Penanaman dan Penerapan Nilai-nilai Moral melalui 8 Fungsi Keluarga
1. Fungsi Agama
Nilai moral : keimanan, ketaqwaan, kejujuran, bersyukur, kepedulian, tenggang rasa, kerajinan, kesalehan, ketaatan, suka menolong, disiplin, kesabaran, kasih sayang.

2. Fungsi Sosial Budaya
Nilai moral : gotong royong, sopan santun, kerukunan, kepedulian, kebersamaan,toleransi, kebangsaan.

3. Fungsi Cinta Kasih
Nilai moral : empati, keakraban, keadilan, pemaaf, kesetiaan, pengorbanan, suka menolong, bertanggung jawab

4. Fungsi Perlindungan
Nilai moral : pemaaf, tanggap, ketabahan

5. Fungsi Reproduksi
Nilai moral : bertanggung jawab, kesehatan,keteguhan.

6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Nilai moral : percaya diri, keluwesan, kebanggaan, kerajinan, kreatifitas, bertanggung, bekerjasama

7. Fungsi Ekonomi
Nilai moral : hemat, ketelitian, disiplin, kepedulian, keuletan

8. Fungsi Pemeliharaan Lingkungan
Nilai moral : kebersihan, kedisiplinan
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 1 "Pentingnya Pendidikan Moral untuk Anak Sekolah Dasar"

•Pengertian Pendidikan Moral
Pendidikan moral adalah suatu proses yang digunakan untuk menanamkan baik dan buruk mengenai perbuatan untuk mencapai kedewasaan. Pendidikan moral sangat penting untuk anak-anak sekolah dasar karena mereka harus memiliki sikap atau perilaku yang baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

•Penyebab Menurunnya Moral Pada Anak
-Perundungan di Sekolah
Perundungan kerap terjadi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh anak sekolah dasar baik perempuan maupun laki-laki. Contohnya menyakiti korban secara fisik maupun sosial

- Kekerasan Fisik dalam Keluarga
Kekerasan yang dilakukan oleh saudara kandung dirumah kepada anak tersebut.

• Peranan Orang Tua dan Guru
-Peran Orang Tua
Peran orang tua penting untuk membentuk moral yang baik dan membentuk perkembangan moral anak karena anak meniru tingkah laku orang tua.
-Peran Guru
Guru berperan untuk memperkokoh kepribadian anak serta membekali dengan nilai-nilai agar menjadi insan yang bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakat serta keluarga. Peran guru harus menjadi figur yang dapat dipercaya dan berperilaku baik agar tingkah laku siswa sesuai dengan norma yang berlaku.

• Penyelesaian Terhadap Moral Anak
Supaya siswa tidak menyimpang dari tujuannya diperlukan motivator untuk memberikan pelajaran tentang kebaikan agar tujuannya dapat tercapai. Peran guru yang harus dilakukan dengan memberikan nasihat setiap hari agar siswa dapat mengingat nya dan tujuan yang akan dituju tidak menyimpang.

•Kesimpulan
Upaya dalam mewujudkan nilai-nilai moral melalui pendidikan moral harus diupayakan agar pendidikan moral dapat maksimal. Bukan hanya dari guru saja tetapi harus diajarkan sejak dini oleh orang tua, terlebih anak biasanya mengikuti sikap atau perilaku orang tua yang kadang tidak baik untuk ditiru. Maka dari itu orang tua adalah peran utama yang harus mencontohkan sikap dan perilaku baik agar anak memiliki sikap yang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 2

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : -
Volume : -
Nomor : -
Halaman : 1-10
Tahun Terbit : -
Judul : Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
Nama Penulis : Lia Yuliana, M.Pd

-Pendahuluan
Pendidikan moral diberikan di berbagai macam lembaga pendidikan, salah
satunya di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pentingnya penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini agar
karakter anak dapat berkembang dengan potensi dan kemampuan anak secara optimal.

-Pengertian Moral
Pendidikan moral bukan
sesuatu yang dapat ditambahkan atau boleh dikaitkan pada pendidikan begitu saja,
melainkan sesuatu yang hakiki dan bahkan menduduki tempat yang amat sentral dan
strategis dalam pendidikan sehingga perlu dirancang secara khusus agar dapat
mentransferkan makna pendidikan nilai moral yang hakiki menuju peradaban bangsa.

-Nilai Nilai Moral
Moral
menjadi tolak ukur suatu perbuatan itu bernilai baik atau buruk adalah adat istiadat yang
berlaku di dalam masyarakat tertentu. Nilai-nilai moral yang bersifat objectivistic (sebagai moral kesusilaan, seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan,
tanggung jawab). Nilai moral yang bersifat relativistic (sebagai moral kesopanan, seperti berbicara secara sopan, hormat
kepada orang yang lebih tua, tidak bertamu pada jam istirahat).
Dalam nilai moral terdapat batasan-batasan berlakunya nilai tersebut yaitu nilai universal, nilai partikular dan nilai abadi.

-Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini merupakan
anak yang berusia 0-6 tahun. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai
lompatan perkembangan.

-Penanaman Nilai Nilai Moral pada Anak Usia Dini
1. Metode bermain
2. Metode bercerita
3. Metode pemberian tugas
4. Metode bercakap-cakap

-Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-nilai moral pada anak usia dini dapat
diselenggarakan melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum
jenjang Sekolah Dasar.
Pada jalur pendidikan formal cara penanaman nilai-nilai moral pada anak usia
dini bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dengan jadwal tatap muka yang
ditentukan yaitu meliputi
1. Persiapan kegiatan pembelajaran
2. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
a. Penataan lingkungan bermain
b. Kegiatan inti pembelajaran
c. Kegiatan Penutup
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 1

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD
FKIP Unsyiah
Volume : 1
Nomor : 1
Halaman : 68-77
Tahun Terbit : 2016
Judul : PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI
LAMPEUNEURUT
Nama Penulis : Ruslan, Rosma Elly, Nurul Aini.

-Pendahuluan
Bangsa Indonesia telah mengalami kemerosotan moral menyangkut
persoalan kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Kemerosotan moral yang dialami bila tidak diberikan
perhatian khusus akan berakibat buruk bagi generasi mendatang. Jadi penanaman nilai-nilai moral bertujuan menanamkan nilai-nilai
moral yang mulai luntur di lingkungan anak-anak akibat pengaruh buruk yang
mereka dapatkan.

-Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan
di SD Negeri Lampeuneurut.

-Hasil Penelitian dan Pembahasan
Peneliti mengumpulkan data mengenai penanaman nilai-nilai moral pada
siswa melalui observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat disimpulkan bahwa guru di
SD Negeri Lampeuneurut sudah menanaman nilai-nilai moral kepada siswanya,
nilai-nilai yang ditanamakan adalah nilai agama (religius), nilai kejujuran,nilai kemandirian, nilai gender.
Penanaman nilai-nilai moral bukan hanya dapat dilakukan saat proses belajar
mengajar tetapi saat berada di luar kelas juga dapat ditanamkan seperti dilingkungan
sekolah maupun di rumah karena dengan adanya berkesinambungan akan
menjadikan siswa mempunyai moral yang baik.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 2 "Pendidikan Moral di Sekolah Dasar"

•Pendidikan Moral adalah usaha yang dilakukan secara terencana untuk mengubah sikap,perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakat, sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan masyarakat setempat.

•Tahap-tahap perkembangan moral
1. Usia 6-12 bulan (orang tua mulai memandu mengendalikan dan melindungi bayi)
2. Usia 12-18 bulan (membuat komitmen dan patuh pada keadaan merupakan awal tanda hati nurani perhatian terhadap objek yang cacat atau rusak mencerminkan cemasan diri dalam melakukan hal yang salah)
3. Usia 18-30 bulan (anak mungkin menunjukkan perilaku menolak, rasa bersalah, malu dan empati mendorong perkembangan moral akurasi terkait mainan dan ruang muncul)
4. Usia 30-36 bulan (aktivitas fisik berkurang, dan lebih banyak verbal)
5. Usia 3-4 tahun (akruisme dan perilaku menolong yang lain menjadi lebih lazim. Motifnya untuk mendapat pujian dan menarik penolakan rasa bersalah dan kepedulian mengenai berbuat salah memuncak)
6. Usia 4-6 tahun (penalaran moral makin fleksibel)
7. Usia 7-8 tahun (penalaran moral makin fleksibel, empati dan perilaku prososial meningkat agresi terutama jenis permusuhan berkurang)
8. Usia 9-11 tahun (penalaran moral makin dipandu oleh rasa keadilan)
9. Usia 12-15 tahun (moral mencerminkan peningkatan kesadaran akan keadilan dan pembuat aturan yang kooperatif)
10. Usia 16-20 tahun (relativisme memainkan peran penting dalam penalaran moral)
11. Usia 20-40 tahun atau dewasa muda (penilaian moral bisa menjadi lebih rumit)
12. Dewasa tengah pada usia 40-65 tahun (penilaian moral bisa menjadi lebih rumit)
13. Dewasa tua pada usia 65 tahun (penilaian moral bisa menjadi lebih rumit)

•Implikasi Perkembangan Sosial dan Pribadi Anak dalam KBM di Sekolah Dasar
Pada implikasi KBM (perkembangan pribadi atau sosial) sangat diperlukan dalam belajar. Anak kadang memerlukan teman untuk membantu proses belajar tapi kadang anak juga bisa melakukannya sendiri.

•Implikasi Identitas Gender dalam Perkembangan Moral Anak Sekolah Dasar
Guru sebaiknya mengajarkan murid mengenai identitas gender supaya mengontrol atau perilaku mereka sesuai dengan nilai moralnya. Sebenarnya bukan hanya guru saja, tetapi orang tua juga memiliki peranan yang sangat penting.

•Permasalah serta Solusi Perkembangan Moral Anak Sekolah Sadar
1. Hilangnya kejujuran
contoh : ketika sedang melakukan ujian, siswa mencontek atau bekerja sama dengan temannya.
Solusi : mengajarkan anak untuk lebih percaya diri terhadap jawabannya, mengajarkan anak untuk bersikap jujur dan ketika anak jujur jangan memarahi nya.
2. Hilangnya rasa tanggung jawab
Contoh : ketika anak di berikan pr anak harus mengerjakan tidak boleh tidak di kerjakan.
Solusi : mengajarkan anak untuk bersikap tanggung jawab.
3. Rendahnya disiplin
Contoh : siswa datang tidak tepat waktu ke sekolah.
Solusi : sebaiknya guru dan kepala sekolah harus tegas jika tidak tegas maka anak akan menjadi terbiasa .
4. Kurang bisa bekerja sama
Contoh : melakukan kerja kelompok
Solusi : membiasakan anak untuk terlibat dalam kerja kelompok jangan biarkan ada anak yang tidak aktif ketika kerja sama.
5. Mengambil hak orang lain
Contoh : mencuri
Solusi : membiasakan anak untuk menerima apa yang dia miliki dan tidak boleh mengambil hak orang lain.