Posts made by Adies Adellia Futri 2213053133

Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133
Kelas : 3F

6 Tahap Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg

Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yang kemudian menjadi fondasinya untuk merumuskan tahapan perkembangan moral.

Menurutnya, tahap perkembangan moral dibagi menjadi 3 level. Setiap level memiliki 2 tahap. Sehingga ada 6 tahapan dalam perkembangan moral;

1.) Pra-Konvensional.
Terdiri dari Tahap Menghindari Hukuman, dan Tahap Keuntungan dan Minat Pribadi.

2.) Konvensional
Terdiri dari Tahap Menjaga Sikap Orang Baik, dan Tahap Memelihara Peraturan.

3.) Pasca-Konvensional
Terdiri dari Tahap Orientasi Kontrak Sosial, dan Tahap Prinsip Etika Universal.

Adapun penjelasan terkait ke-6 tahap tersebut adalah;

1. Menghindari Hukuman.
Di tahap ini, seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena menghindari hukuman.
Contohnya:
Jika seseorang memilih untuk tidak menerobos lampu merah di jalan raya, dikarenakan tidak ingin di kejar dan ditilang oleh polisi.

2. Keuntungan dan minat pribadi.
Di tahap ini seseorang melakukan suatu tindakan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.
Contohnya:
"Apa untungnya membantu orang lain? Tentu karena suatu hari dia akan balas membantu ku juga."
Kurang lebih itu yang terjadi pada tahap ini.

3. Menjaga sikap orang baik.
Pada tahap ini seseorang akan memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya.
Contohnya:
Seseorang memilih tidak bertengkar karena hal tersebut tidak baik dan orang baik tidak melakukannya.

4. Memelihara Peraturan.
Jika peraturan tidak ada yang mematuhinya, maka keadaan akan menjadi kacau. Karenanya peraturan harus selalu di patuhi.
Contohnya:
Seorang ketua kelas yang memastikan bahwa kondisi dan situasi ruang kelas tetap tertib serta tentram. Dan akan bertindak tegas jika ada yang melanggar.

5. Tahap Orientasi Kontrak Sosial.
Pada tahap ini seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda.
Tidak ada yang absolut atau pasti saat melihat sebuah kasus.
Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.

6. Tahap Prinsip Etika Universal.
Pada tahap ini ada penggambaran prinsip internal seseorang.
Ia melakukan hal yang dianggapnya benar, walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.

Kohlberg menggunakan cerita dilema didalam penelitian nya. Salah satunya adalah Dilema Heinz.
Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133

Dampak globalisasi telah menimbulkan transformasi nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan hak-hak personal seseorang semakin tinggi, kehidupan cenderung semakin individualis, semakin permisif, dan lunturnya nilai-nilai moral. Di manakah letak akar permasalahan krisis pendidikan nilai Indonesia ini? Dampaknya pendidikan nilai selama ini banyak terjadi adanya keterpaksaan, yaitu nilai-nilai diajarkan dengan paksa untuk diketahui secara kognitif dan dilaksanakan tetapi karena dipaksakan maka tidak sampai menyentuh hati. Hasilnya sikap dan perilaku anak didik tidak berakar dari pengalaman nilai yang autentik.

Kita tidak dapat membantu pengaruh zaman dan tidak dapat mengalihkan perhatian mereka dari nilai-nilai yang sedang trend. Yang dapat kita lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan nalar dan hati.
Dengan nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil.

Secara individual setiap penduduk diharapkan mencoba melaksanakan tugasnya "mengajar" dan "mendidik" secara bertanggung jawab. Hal yang mendesak dan harus dilakukan adalah mengajari anak didik untuk dapat menggunakan nalar dan hati sebaik-baiknya, melalui sarana segala aktivitas yang dapat mendewasakan dirinya.
Untuk menghindarkan anak tiri dari arus globalisasi harus dibekali dengan nalar dan hati yang benar, norma dan agama yang kuat, rasa nasionalisme yang benar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.
Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133

Didalam jurnal ini, membahas tentang pengimplementasian pendidikan nilai dan moral dalam kurikulum Aceh yang notabene nya fokus dalam pendidikan islam.
Penyelenggaraan pendidikan Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan diseluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam. Pelaksanaan pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, dengan indikator sistem pengelolaan madrasah memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun. Pendidikan nilai dan moral di satuan pendidikan di Aceh diselenggarakan selain sesuai dengan pendidikan nasional, juga mengacu pada penerapan melalui kurikulum islami yang berpedoman sesuai dengan qanun pendidikan di Aceh. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Aceh berbasis dan berorientasi kepada budaya islami yang berbasis syariat islam di Aceh.
Nama: Adies Adellia Futri
Kelas : 3F
NPM : 2213053133

Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Sekolah yang seharusnya bisa menjadi rumah kedua bagi anak, justru berkemungkinan menjadi tempat terjadi nya kekerasan yang dapat berdampak sangat buruk bagi anak.

Misalnya:

1. Pada September 2015
Siswa kelas SD di kebayoran lama, meninggal setelah berkelahi dengan teman sekelasnya di lingkungan sekolah. Dugaan awalnya karena adanya perkelahian mulut.

2. Agustus 2017, Siswa kelas 2 SD di Sukabumi, meninggal dunia setelah berkelahi di lingkungan sekolah. Dugaan awalnya karena di bully,

3. November 2017, terjadi duel antara 2 siswa SD kelas 5 pada saat perlombaan senam hari guru. Dugaan awalnya karena pelaku terganggu oleh korban yang menyalakan motor bising.


Memang sangat di sayangkan pasalnya segala contoh kejadian tadi terjadi di saat lingkungan sekolah sedang ramai dengan guru dan petugas sekolah. Bagaimana bisa kelalaian seperti demikian terulang terus menerus. Dan tidak ada tindakan berarti untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Namun, perlu di ingat lagi. Bahwasanya bukan hanya peranan guru yang dituntut dalam hal ini. Anak-anak ini juga tidak bisa langsung dilepas begitu saja oleh orang tua dan diserahkan kepada guru dalam hal mendidik.
Maknanya, peran orang tua juga sangat perlu dan sangat di butuhkan. Pasalnya, anak pada usia SD. Atau di usia yang masih membutuhkan arahan, waktunya lebih lama digunakan bersama orang-orang rumahnya.
Pendidikan di sekolah hanya berlangsung beberapa jam sahaja.

Jadi, jika ingin menyelesaikan permasalahan tersebut, perlu kerjasama banyak pihak. Bukan hanya guru.
Nama: Adies Adellia Futri
Kelas : 3F
NPM : 2213053133

The Trolly Problem

Pada tahun 1967, Phillipa Foot mengajukan sebuah eksperimen yang bernama Trolly Problem.

Eksperimen ini membuat kita untuk berfikir jauh tentang konsekuensi sebuah pilihan. Apakah itu dibuat berdasar nilai moral tertentu atau justru lebih ke hasil akhirnya. Dan bagaimana kita mengekspresikan nya dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah mengorbankan yang lebih sedikit, untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang bermoral.
Atau justru, hanya pembenaran belaka.

Sebuah doktrin yang terus menerus kita dapatkan mengenai moral, "mengorbankan yang sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak merupakan moral yang baik."
Dimanfaatkan beberapa oknum untuk menghalalkan adanya perang, pemberantasan suatu etnis, genocide, diskriminasi minoritas, pengrusakan lingkungan, industrialisasi, dan lain sebagainya.

Hanya demi alasan, PERDAMAIAN DUNIA. Demi KEPENTINGAN UMUM. Demi KELOMPOK YANG LEBIH BESAR. Demi MASA DEPAN YANG LEBIH CERAH.

Apakah mengorbankan yang lebih sedikit untuk yang lebih banyak adalah pilihan yang baik?
Apakah hanya karena bukan kita yang melakukannya, lantas kita langsung menyetujui atau membiarkan itu terjadi?

Trolly Problem membuat kita untuk memikirkan lebih mengenai moralitas sebenarnya. Kebanyakan kita selama ini selalu memandang sebagai pendengar berita, membuat keputusan, dll.
Bagaimana jika kita adalah si korban dalam sebuah situasi.