Kiriman dibuat oleh Adies Adellia Futri 2213053133

Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133

Analisis jurnal 2

Nama jurnal : JIPSINDO
Nomor : 2
Volume : 6
Halaman : 131-145
Tahun terbit : 2019
Nama penulis : Enung Hasanah
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Pembahasan :
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang.

Teori (Kohlberg; L., Hersh,R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut :
1. Level 1. Moralitas Pra-konvensional yang meliputi tahap ketaatan dan hukuman, Individualisme dan Pertukaran
2. Level 2 Moralitas Konvensional meliputi tahap Hubungan Interpersonal disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", dan Menjaga Ketertiban Sosial.
3. Level 3. Moralitas Pasca-konvensional meliputi Tahap Kontrak Sosial dan Hak Perorangan dan tahap universal

Pada contoh pada sebuah penelitian terhadap siswa yang berusia antara 11-12 tahun menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum.
Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133

Analisis Jurnal 1

Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang baik nilai personal maupun nilai sosial. Nilai yang dicetuskan UNESCO 1993 diuraikan dalam dua gagasan yang berseberangan, yaitu nilai standar (terukur) secara material dan nilai yang abstrak dan sulit diukur berupa keadilan, kejujuran, kebebasan, kedamaian, dan persamaan.

Pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara Indonesia, Malaysia, India, dan Cina memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena masing-masing negara memiliki ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang tidak.

Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Dalam implementasinya diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
Nama: Adies Adellia Futri
NPM : 2213053133

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Menurut komisioner KPAI Bidang Pendidikan Bu Retno Listyarti pada tahun 2014, sejak tahun 2014 kekerasan yang dilakukan oleh anak maupun anak sebagai korban cukup tinggi. Penyebabnya yang utama yaitu pola pengasuhan orang tua di rumah, guru dalam mengelola kelas, dan kekerasan yang dilakukan guru ataupun siswa tidak dibenarkan.

Sedangkan menurut praktisi pendidikan Dr. Itje Chodidjah, MAa bahwa terdapat di dalam Undang-undang, Seorang guru mempunyai empat standar kompetensi utama yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi pedagogi. Sementara ini pelatihan sebelum dan setelah menjadi guru keempat hal ini belum dilaksanakan secara holistik, sehingga harus lebih ditekankan lagi pembelajarannya tidak hanya dengan teori tapi praktek juga melihat berbagai macam kondis siswa di sekolah sehingga pada saatnya nanti seorang guru dapat mengambil keputusan yang tepat.

Kemudian menurut Psikolog (Vero Adesla), anak memiliki level tingkat kognisi, kognisi adalah kemampuan untuk menalar dan berpikir
pada kasus ini, anak tidak mampu mengelola emosi ketika dia marah ketika dia benci itu kan muncul impuls yaitu rangsangan yang mendorongnya untuk bereaksi seketika ( impulsif atau reaktif ) kemudian dia muncul dorongan dan langsung bereaksi, dan sang psikolog mengatakan tuntutan yang besar yang di alami anak membuat dia stress sehingga emosinya tidak terkontrol karena adanya tuntutan yang tinggi namun tidak di imbangi oleh kemampuan mengolahnya.