Posts made by Destia Rahmah Fitriani 2213053082

Nama : Destia Rahmah Fitriani
NPM : 2213053082
Kelas : 3F

Analisis Video 2

Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah
Kekerasan di lingkungan sekolah adalah masalah serius yang dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang tidak aman. Kekerasan di lingkungan sekolah dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesejahteraan fisik dan mental siswa, serta dapat mengganggu proses pembelajaran. Penting bagi sekolah dan masyarakat untuk bekerja sama dalam mencegah dan mengatasi kekerasan di lingkungan sekolah dengan cara seperti :

1. Pendidikan dan Kesadaran : Program-program pendidikan tentang kekerasan, penghormatan, dan toleransi dapat membantu meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak kekerasan dan bagaimana mencegahnya.
2. Kebijakan dan Tindakan Disiplin : Sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas tentang perilaku yang tidak dapat diterima dan tindakan disiplin yang sesuai untuk pelanggaran tersebut.
3. Dukungan Psikologis : Siswa yang menjadi korban kekerasan memerlukan dukungan psikologis dan konseling untuk mengatasi trauma dan stres yang mungkin mereka alami.
4. Partisipasi Orangtua : Orangtua dan wali murid harus terlibat aktif dalam pemantauan perilaku anak-anak mereka dan berkomunikasi dengan sekolah jika ada masalah.
Pengawasan Online: Untuk mengatasi kekerasan cyber, penting untuk mengawasi aktivitas online siswa dan mendidik mereka tentang etika online yang sehat.
5. Pelatihan Guru dan Staf: Guru dan staf sekolah perlu dilatih untuk mengidentifikasi, melaporkan, dan menangani kasus kekerasan dengan bijak.
6. Komitmen Terhadap Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif : Sekolah harus berkomitmen untuk menciptakan budaya yang aman dan inklusif di mana setiap siswa merasa diterima dan dihormati.

Pencegahan kekerasan di sekolah adalah tanggung jawab bersama. Dengan melibatkan semua pihak dan mengimplementasikan solusi-solusi ini, kita dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, ramah, dan mendukung bagi semua siswa
Nama : Destia Rahmah Fitriani
NPM : 2213053082
Kelas : 3F

Analisis Video 1

Trolley Problem
Trolley problem pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf etika Inggris bernama Philippa Foot pada tahun 1967 dalam esainya yang berjudul "Abortion and the Doctrine of Double Effect." Walaupun awalnya bukan disusun sebagai eksperimen pemikiran eksplisit, esai ini menggambarkan kasus moral yang kemudian menjadi dasar bagi trolley problem. Trolley problem adalah sebuah eksperimen pemikiran dalam etika yang sering digunakan dalam konteks filosofi dan ilmu sosial untuk menguji intuisi moral seseorang. Tujuan dari trolley problem adalah untuk memicu perdebatan dan refleksi etika tentang apa yang akan seseorang lakukan dalam situasi moral yang sulit seperti ini.

Ada beberapa variasi trolley problem, tetapi intinya adalah untuk mengevaluasi konflik antara tindakan yang mungkin mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan banyak orang (utilitarianisme) dengan tindakan yang mungkin tidak melibatkan Anda secara langsung dalam kematian seseorang, tetapi tetap mengakibatkan banyak kematian (deontologi atau etika tugas). Skenario ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan moral kompleks tentang nilai-nilai seperti pengorbanan, keadilan, dan tanggung jawab.Dalam skenario trolley problem, seseorang dihadapkan pada situasi di mana ada sebuah kereta api yang sedang bergerak menuju sekelompok orang, dan Anda memiliki pilihan untuk melakukan tindakan tertentu yang akan memengaruhi nasib mereka. Pilihan yang Anda miliki biasanya dibatasi menjadi dua pilihan ekstrem, yang sering kali saling bertentangan. Reaksi terhadap trolley problem beragam, dan berbagai aliran etika dapat menghasilkan solusi yang berbeda. Beberapa orang mungkin mengambil pendekatan utilitarian, yaitu menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, sementara yang lain mungkin memilih tindakan yang sesuai dengan prinsip-prinsip deontologis, seperti tidak membunuh seseorang secara langsung. Dalam dunia nyata, masalah etika seringkali jauh lebih kompleks daripada skenario sederhana ini, tetapi trolley problem tetap merupakan alat yang bermanfaat untuk mendiskusikan prinsip-prinsip moral dan memahami perbedaan dalam pandangan etika.

Sejak itu, trolley problem telah menjadi subjek penelitian etika yang signifikan dan menjadi alat yang berguna untuk memeriksa intuisi moral, memahami konflik etika, dan membangun pemahaman tentang berbagai teori etika, seperti utilitarianisme, deontologi, dan etika kontraktual. Selain itu, trolley problem juga telah digunakan dalam eksperimen psikologi dan neurosains untuk memahami bagaimana orang membuat keputusan moral dan bagaimana otak kita merespons situasi moral yang sulit.

Nama : Destia Rahmah Fitriani
NPM : 2213053082
Kelas : 3F

Analisis Jurnal

MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA

Dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Menjadi sesuatu yang langka. Kelangkaan sentuhan orang tua tersebut kini menggejala dengan
munculnya berbagai kenakalan remaja, tawuran pelajar, dan penggunaan obat terlarang narkoba dan semacamnya, merupakan pelarian dari suasana mental remaja yang bersifat terminal. Untuk itu upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.

Pendidikan nilai moral Pancasila pada anak remaja memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter mereka. Pancasila adalah dasar nilai-nilai moral dan ideologi Indonesia, dan mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam pendidikan remaja dapat membantu mereka menjadi individu yang lebih baik, bertanggung jawab, dan berkontribusi positif pada masyarakat. Berikut beberapa cara untuk memberikan pendidikan nilai moral Pancasila pada anak remaja :
1. Pembelajaran tentang Pancasila :
-  Ajarkan kepada anak remaja mengenai lima sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang  
   Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
-  Diskusikan arti dan makna masing-masing sila serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Contoh dari Orang Dewasa :
- Jadilah contoh yang baik bagi anak remaja dalam hal menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
3. Dialog Terbuka :
- Fasilitasi dialog terbuka dengan anak remaja tentang nilai-nilai moral, etika, dan konsep-konsep Pancasila.
4. Partisipasi Sosial :
- Hal ini akan membantu mereka memahami nilai-nilai solidaritas dan keadilan sosial.
5. Literasi Media :
- Dorong mereka untuk memahami dampak sosial dan moral dari konten yang mereka konsumsi dan bagikan.
6. Peran Sekolah :
- Sekolah dapat memainkan peran penting dalam mendidik nilai moral Pancasila dengan mengintegrasikan materi Pancasila dalam kurikulum.

Pendidikan nilai moral Pancasila pada anak remaja adalah proses yang berkelanjutan dan memerlukan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan membantu anak remaja memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, kita dapat membangun generasi yang lebih sadar moral dan bertanggung jawab dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak- anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis.

Nama : Destia Rahmah Fitriani
NPM : 2213053082
Kelas : 3F

Analisis Jurnal

PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DI SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH

Pendidikan moral pancasila sangatlah penting, dengan adanya metode sosialisasi yang diterapkan bagi anak sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai moral pancasila yang ditanam sejak dini. Nilai Moral pancasila adalah suatu pedoman bagi masyarakat untuk bertindak hidup sebagaimana telah diatur dalam pancasila atau ideologi Indonesia, dengan kata lain moral pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus dilakukan oleh masyarakat. Pendidikan Moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidahkaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya.

Tujuan dari Penerapan Nilai Moral Pancasila Sejak Dini Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utama.
Nama : Destia Rahmah Fitriani
NPM : 2213053082
Kelas : 3F

Dari Video tersebut, adapun beberapa nilai-nilai pancasila yang dapat kita teladani, diantaranya :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa :
- Nilai ini mengajarkan untuk mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa sebagai landasan moral dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
- Menghormati dan menjalankan keyakinan agama masing-masing dengan toleransi terhadap beragam kepercayaan.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab :
- Nilai ini menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, dan peradaban.
3. Persatuan Indonesia :
- Mengedepankan nilai persatuan dan kesatuan dalam keberagaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia.
- Menjaga persatuan dan menghindari tindakan yang dapat merusak kerukunan antarwarga negara.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan:
- Nilai ini menekankan pentingnya demokrasi, musyawarah, dan keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan keputusan.
- Mendorong partisipasi aktif dalam pemerintahan dan pemilihan pemimpin yang baik dan berkompeten.
- Dalam tindakan sehari-hari, kita harus memperlakukan semua orang dengan adil, tanpa memandang suku, agama, ras, atau gender.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia :
- Menekankan pentingnya keadilan sosial dalam distribusi kekayaan, kesempatan, dan akses kepada semua lapisan masyarakat.
- Mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan peningkatan kesejahteraan sosial bagi semua warga negara.

Dengan menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang adil, beradab, harmonis, dan demokratis di Indonesia. Teladani nilai-nilai ini dalam tindakan, sikap, dan perilaku kita untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Menurut saya dengan melalui pendidikan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung, generasi muda dapat lebih mudah meneladani dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mereka. Upaya ini akan membantu menjaga integritas nilai-nilai tersebut dalam masyarakat Indonesia, meskipun dalam era modern yang kompleks.