Nama : Oi' Kurniyati
NPM : 2113053282
Kelompok : 2
Izin menjawab Bu. Pada awal proses pembuatan, Ir. Soekarno mengusulkan rumusan Pancasila pada 1 Juni 1945, yaitu :
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang Maha Esa
Menurut Soekarno, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga fundamen yang digali dari jati diri bangsa Indonesia.
Kemudian panitia 9 mulai mengubah susunan Pancasila versi Soekarno.
1. "Ketuhanan Yang Maha Esa" ditempatkan menjadi sila pertama.
2. "Internasionalisme atau perikemanusiaan" diganti menjadi "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".
3. "Persatuan Indonesia" digunakan untuk menggantikan "Kebangsaan Indonesia.
4. Pada sila keempat, digunakan kata "Kerakyatan".
5. Terakhir, digunakan sila "Kesejahteraan Sosial".
Menurut Hatta, pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama "Piagam Jakarta". Namun, ada sejumlah perubahan pada sila pertama pada Piagam Jakarta.
Adapun sila pertama yang tercantum dalam Piagam Jakarta adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".
Sejumlah pembicara dalam sidang BPUPKI dari kalangan Islam, seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo, menilai bahwa kemerdekaan Indonesia diraih juga berkat perjuangan umat Islam. Argumen itu kemudian disanggah karena dinilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis. Pertimbangan bahwa Indonesia merupakan sebuah gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke itu juga yang menyebabkan muncul usulan agar dasar negara tidak berdasarkan agama tertentu.
Oleh karena itu, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta.
Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus.
Hingga kemudian, rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Jadi, berdasarkan sejarah proses panjang pembuatan Pancasila tersebut dapat disimpulkan bahwa Pancasila mengalami beberapa perubahan dalam proses pembuatan nya dikarenakan perbedaan argumen dari beberapa tokoh. Indonesia yang didominasi oleh masyarakat pemeluk agama Islam berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia sebagian besar diraih atas perjuangan dari umat Islam. Namun, kesepakatan telah diambil dengan mempertimbangkan keragaman seluruh masyarakat tanpa hanya melihat agamanya, dan terciptalah butir Pancasila yang sekarang menjadi pedoman seluruh bangsa Indonesia
Posts made by OI' KURNIYATI
PGSD B PANCASILA 1 -> absensi
by OI' KURNIYATI -
Oi' Kurniyati, 2113053282,Kec. Braja Selebah Kab. Lampung Timur
PGSD B PANCASILA 1 -> absensi
by OI' KURNIYATI -
NAMA : OI' KURNIYATI
NPM : 2113053282
Izin menambahkan
Pengaruh negatif yang ditiru oleh pemuda generasi muda diakibatkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal diakibatkan oleh pengaruh kebudayaan dari luar.
Seperti yang dikatakan Deputi Bidang Pengkajian Strategik Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P., yaitu
“Ketahanan ideologi Pancasila kembali diuji ketika dunia masuk pada era globalisasi di mana banyaknya ideologi alternatif merasuki ke dalam segenap sendi-sendi bangsa melalui media informasi yang dapat dijangkau oleh seluruh anak bangsa,”
Maka dapat kita simpulkan bahwa pengaruh dari luar berupa ideologi alternatif membuat pola pikir generasi muda menjadi melenceng dari nilai-nilai luhur Pancasila.
NPM : 2113053282
Izin menambahkan
Pengaruh negatif yang ditiru oleh pemuda generasi muda diakibatkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal diakibatkan oleh pengaruh kebudayaan dari luar.
Seperti yang dikatakan Deputi Bidang Pengkajian Strategik Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P., yaitu
“Ketahanan ideologi Pancasila kembali diuji ketika dunia masuk pada era globalisasi di mana banyaknya ideologi alternatif merasuki ke dalam segenap sendi-sendi bangsa melalui media informasi yang dapat dijangkau oleh seluruh anak bangsa,”
Maka dapat kita simpulkan bahwa pengaruh dari luar berupa ideologi alternatif membuat pola pikir generasi muda menjadi melenceng dari nilai-nilai luhur Pancasila.
NAMA : OI' KURNIYATI
NPM : 2113053282
Lunturnya pemahaman generasi muda tentang nilai nilai luhur Pancasila di era globalisasi sangat terlihat. Padahal dengan memahami nilai-nilai luhur Pancasila, kita diharapkan dapat mewujudkan dasar falsafah negara Pancasila dalam bentuk pola pikir, sikap mental, tingkah laku, dan perbuatan di segala bidang kehidupan. Era globalisasi adalah masa dimana teknologi berkembang pesat dan bersifat universal. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan dampak positif dan juga negatif Dampak era globalisasi juga dapat mempengaruhi sikap dan karakter generasi muda.
Dikutip dari penuturan Maryono dalam Makalahnya dengan judul "PERAN MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGATASI PUDARNYA NILAI-NILAI LUHUR PANCASILA GENERASI ZAMAN NOW", dapat dipahami bahwa kurangnya kesadaran untuk memahami pendidikan agama, pendidikan Pancasila serta pendidikan moral di era globalisasi ini mengakibatkan lunturnya pemahaman nilai-nilai luhur Pancasila.
Karakter para pemuda kini menjadi sorotan tajam dalam masyarakat. Berbagai sorotan tersebut termuat dalam media cetak, wawancara, dialog atau gelar wicara di beberapa media elektronik. Ironisnya, persoalan yang muncul seperti meningkatnya tindak kriminal, semakin menjadi-jadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kekerasan, kejahatan seksual, pengrusakan, perkelahian massal, kehidupan yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan lain-lain yang seringkali menjadi topik hangat dan tidak ada henti-hentinya untuk dibicarakan .Padahal sudah lebih dari setengah abad bangsa Indonesia merdeka, tapi sampai saat ini justru bangsa Indonesia semakin mengalami degradasi karakter kebangsaan.
NPM : 2113053282
Lunturnya pemahaman generasi muda tentang nilai nilai luhur Pancasila di era globalisasi sangat terlihat. Padahal dengan memahami nilai-nilai luhur Pancasila, kita diharapkan dapat mewujudkan dasar falsafah negara Pancasila dalam bentuk pola pikir, sikap mental, tingkah laku, dan perbuatan di segala bidang kehidupan. Era globalisasi adalah masa dimana teknologi berkembang pesat dan bersifat universal. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan dampak positif dan juga negatif Dampak era globalisasi juga dapat mempengaruhi sikap dan karakter generasi muda.
Dikutip dari penuturan Maryono dalam Makalahnya dengan judul "PERAN MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGATASI PUDARNYA NILAI-NILAI LUHUR PANCASILA GENERASI ZAMAN NOW", dapat dipahami bahwa kurangnya kesadaran untuk memahami pendidikan agama, pendidikan Pancasila serta pendidikan moral di era globalisasi ini mengakibatkan lunturnya pemahaman nilai-nilai luhur Pancasila.
Karakter para pemuda kini menjadi sorotan tajam dalam masyarakat. Berbagai sorotan tersebut termuat dalam media cetak, wawancara, dialog atau gelar wicara di beberapa media elektronik. Ironisnya, persoalan yang muncul seperti meningkatnya tindak kriminal, semakin menjadi-jadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kekerasan, kejahatan seksual, pengrusakan, perkelahian massal, kehidupan yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan lain-lain yang seringkali menjadi topik hangat dan tidak ada henti-hentinya untuk dibicarakan .Padahal sudah lebih dari setengah abad bangsa Indonesia merdeka, tapi sampai saat ini justru bangsa Indonesia semakin mengalami degradasi karakter kebangsaan.