གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ JENNISYA INDRIVIANKA

PIP ANE REG A 2021 -> Diskusi -> bahan diskusi -> Re: bahan diskusi

JENNISYA INDRIVIANKA གིས-

Nama : Jennisya Indrivianka

NPM : 2116041051

Menurut literasi yang telah saya baca, politik bahasannya bukan hanya membicarakan kekuasaan. Tapi ada banyak hal yang dibicarakan politik. Salah seorang professor politik di Indonesia misalnya, Prof. Rahman Subakti. Dalam bukunya berjudul “Memahami Ilmu Politik 1992” didalam buku itu menyebutkan ada 5 pandangan tentang politik, yaitu;

(1)Faham Klasik, dimana pemahaman faham klasik ini politik dimaknai sebagai usaha bersama untuk mewujudkan kebaikan bersama. Contohnya adalah kesejahteraan dan keadilan. (2)Faham Kelembagaan, menjelaskan tentang segala upaya yang berkaitan dengan penyelenggaraan Negara dan pemerintahan. Jadi politik disini menjelaskan bagaimana Negara ini di olah, bagaimana pemerintahan ini diatur sebagainya. (3)Faham Kekuasaan, mendefinisikan politik sebagai “who gets, when, and how” maksutnya, siapa yang mendapat kekuasaan, kapan mendapat kekuasaan, dan bagaimana cara mendapat kekuasaan tersebut. (4)Faham Fungsionalisme, menyebutkan bahwa politik itu adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan. (5)Faham Konflik, menjelaskan bahwasannya politik tidak pernah lepas dari konflik atau pertentangan. Contohnya, konflik antara DPR dan Pemerintahan.


PIP ANE REG A 2021 -> Diskusi -> bahan diskusi -> Re: bahan diskusi

JENNISYA INDRIVIANKA གིས-
Nama : Jennisya Indrivianka
NPM : 2116041051
Setelah saya membaca materi tentang sejarah perkembangan ilmu politik saya dapat memahami bahwa asal mula Ilmu politik lahir di Amerika Serikat pada abad kedelapan belas. Itu adalah respons terhadap munculnya fenomena global besar pertama – Revolusi Industri. Peningkatan pesat dalam kekayaan dan pasar menciptakan gejolak sosial ketika orang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan cara hidup baru. Perkembangan ilmu politik sebagai suatu disiplin tumbuh dari kebutuhan ilmuwan sosial untuk mempelajari bagaimana manusia bertindak terhadap satu sama lain. Pada akhir abad kesembilan belas, perkembangan ilmu politik sudah mulai mencakup aspek psikologi, sosiologi, ilmu kognitif, matematika, kimia, astronomi, dan ilmu fisika lainnya. Banyak yang mengembangkan bidang yang tumpang tindih, memperluas penelitian mereka dan membawa metode penyelidikan mereka ke dalam pemahaman yang lebih intuitif tentang bagaimana dunia bekerja. Selama periode inilah mereka yang terlibat dalam ilmu politik mulai disebut secara kolektif sebagai “ilmuwan”. Salah satu cabang perkembangan ilmu politik yang berasal dari karya para behavioris adalah sosiologi politik. Sumber pertumbuhan ini biasanya ditelusuri kembali ke pemikir Max Weber, yang menggunakan penalaran ekonomi untuk menjelaskan fenomena politik. Tesis dasar Weber adalah bahwa orang dimotivasi oleh tiga keinginan inti yang unik bagi manusia. Ini adalah kebebasan, komunitas, dan kemakmuran, dan solusinya untuk dilema mengapa individu tertentu berperilaku dengan cara tertentu adalah dengan melihat semua berbagai faktor yang memotivasi orang dan memilih tindakan berdasarkan keinginan ini. Karya Weber, khususnya, bertanggung jawab atas dasar ilmu politik modern, yang mengarah pada pembentukan disiplin ilmu politik saat ini.

Perkembangan ilmu politik juga diuntungkan oleh perkembangan psikologi dan sosiologi. Karya Sigmund Freud meletakkan dasar bagi banyak karya Freud selanjutnya, khususnya pentingnya hasrat erotis dalam membentuk respons psikologis dan sosiologis manusia terhadap dunia. Selain itu, sarjana Pekerjaan Sosial seperti W.E.B. John Diamonds pascaperang telah menyoroti peran hubungan kekuasaan dalam masyarakat, khususnya hubungan kekuasaan gender. Perkembangan ilmu politik juga diuntungkan dari perkembangan di bidang hubungan internasional, dengan para sarjana menyelidiki pertanyaan mulai dari perang, perdamaian, negosiasi, perubahan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, diplomasi, pencemaran lingkungan, dan politik kekuasaan.
Ada empat tahap perkembangan sistem politik: sosialisme demokratis, kapitalisme, neoliberalisme, dan politik pribumi/alternatif. Tahap keempat, pemerintahan alternatif, menawarkan harapan kepada mereka yang ingin menciptakan dunia yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan untuk generasi mendatang.