Kiriman dibuat oleh JESSICA.AMELIA21 JESSICA.AMELIA21

Jessica Amelia Putri
2113053029

Analisis Jurnal Berjudul " Pendidikan Moral di Sekola "
Menurut Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai- nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945 ) dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Jessica Amelia Putri
Npm : 2113053029

Berdasarkan Analisi video yang berjudul " pentingnya pendidikan nilai dan moral "

PERAN PENDIDIK SD DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL MELALUI PPKN

kesadaran nilai moral mangarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupan sehari-haru baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
masalah moral adalah masalah yang sekarang ini sangat menyita perhatian, terutama dari para pendidik,pemuka masyarakat dan orang tua. pendidikan moral sangat penting disosialisasikan kepada selirug peserta didik demi kemanuan bangsa.

Pentingnya PPKN dalam Pendidikan Nilai dan Moral
1. membangun watak atau karakter
2. secara makro pkn juga merupakan wahana sosial-pedagogis pencerdasan kehudupan bangsa
3. acuan penerapan keberhasilan pendidikan moral di sekolah
4.jembatan untuk menuju pendidikan moral yang baik

peran pendidikan menanamkan pentingnya pendidikan nilai dan moral melalui PPKN
1. indoktrinasi : membantu peserta didik tumbuh dewasa
2. klarifikasi nilai : guru menyampaikan baik atau buruk peserta didik di ajak untuk menyampaikan isu isu moral
3. teladan atau contoh : seorang pendidik sebagai contoh dalam bidang moral
4.pembiasaan dalam perilaku: penanaman moral di biasakan dengan tingkah laku

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
1. memberikan pengertian,pengetahuan dan pemahaman tentang pancasila
2.menanamkan nilai-nilai moral pancasila ke dalam diri anak didik
3. meletakan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan pancasila
4. Menggugah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga
5. Memberiakan motivasi agar dalam setiap langkah laku lampahnya bertindak dan berperilaku sesuai Pancasila
6. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi warga negara dan warga masyarakat Indonesia yang baik
7. Pembangunan watak dan karakter
Jessica Amelia Putri
2113053029

Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Ini menjadi sangat penting terutama bagi para siswa di wilayah Indonesia yang secara umum masyarakatnya adalah masyarakat religius yang meyakini bahwa moral merupakan pondasi terpenting bagi keberhasilan seseorang baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya. Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda.Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak kita, dan sebaliknya (Wren, 2008: 11).

Teori Kohlberg
1.Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.
2. PRA-KONVESIONAL
1. Menghindari Hukuman : seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindah karena untuk menghindari hukuman
2. Keuntungan dan Minat Pribadi : tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya
KONVESIONAL
3. Menjaga Sikap Orang Baik : memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya
4. Memelihara Peraturan : jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau
PASCA KONVESIONAL
5. Orientasi Kontrak Sosial : setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus
6. Prinsip Etika Universal : mengambarkan prinsip internal seseorang
Nama : Jessica Amelia Putri
Npm : 2113053029

1. Isu Pendidikan Nilai dan Moral di Beberapa Negara
1. Indonesia
2. India
3. Malaysia'
4. Cina
Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindak- an yang umumnya diyakini oleh ang- gota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; di- kutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat relatif. Para ahli lain me- mandang bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelom- poknya.
Pertimbangan moral adalah penilai- an mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua pe- nilaian mengenai baik dan benar me- rupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru me- rupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian ter- hadap kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal, in- klusif, konsisten, dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan mo- ral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai se- suatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu me- milih dan menetapkan nilai-nilai de- ngan disertai alasan mengapa sese- orang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.

Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pen- didikan yang berusaha mengembang- kan komponen-komponen integrasi pri- badi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepri- badian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terinte- grasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan.Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan ber- negara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya di- butuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme glo- bal, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional
Nama : Jessica Amelia Putri
Npm : 2113053029

menurut pendapat saya mengenai analisis video tersebut yaitu:
6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg

Lowrence Kohlberg melalukan penelitian di Amerika , menurut Lowrence Kohlberg tahap Perkembangan Moral di bagi menjadi 3 level:

PRA-KONVESIONAL
1. Menghindari Hukuman : seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindah karena untuk menghindari hukuman
contoh : ketika seseorang tidak menerobos lampu merah karena menghindari hukuman

2. Keuntungan dan Minat Pribadi : tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya


KONVESIONAL
3. Menjaga Sikap Orang Baik : memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya
contoh : saya tidak akan bertengkar karena itu tidak baik untuk saya dan dia

4. Memelihara Peraturan : jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau
contoh : ketua kelas memisahkan teman yang bertengkar karna ia berfikir peraturan harus di patuhi


PASCA KONVESIONAL
5. Orientasi Kontrak Sosial : setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus

6. Prinsip Etika Universal : mengambarkan prinsip internal seseorang