གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ NOVITA ANGGARWATI

Nama : Novita Anggarwati
NPM : 2113053200

Analisis Jurnal

Edamame goreng merupakan salah satu inovasi pengembangan produk pangan olahan edamame, memiliki cita rasa nikmat dan memiliki nutrisi yang tidak jauh beda dengan kondisi segarnya. Edamame goreng merupakan camilan ringan yang dapat dipasarkan lebih luas, lebih tahan lama, praktis, ekonomis dan lebih memuaskan konsumen. Ada sembilan elemen pada model canvas, antara lain:
1. Customer Segment (CS) Segmen yang dipilih adalah seluruh lapisan masyarakat (unsegmented). Studi kasusnya adalah pada masyarakat di Kabupaten Jember.
2. Value Proposition (VP) Value proposition produk edamame yang ingin diberikan adalah produk edamame goreng. Kriterianya adalah berkualis baik, tidak berminyak, tidak menimbulkan serik ketika dikonsumsi dan tanpa pengawet.
3. Customer Relationship (CR) Customer relationship mencantumkan contact person untuk saran dan kritik sebagai bentuk layanan konsumen. Saran dan kritik akan digunakan untuk perbaikan selanjutnya.
4. Key Resource (KR) Key resource untuk produk edamame goreng meliputi tiga hal utama yang penting. Hal utama tersebut yaitu bahan baku, peralatan, dan tenaga kerja.
5. Channel (CH) Usaha edamame goreng chanel yang ingin digunakan, yaitu direct selling. Direct selling adalah penjualan langsung produk edamame goreng kepada masyarkat.
6. Revenue Stream (RS) Revenue stream usaha edamame goreng yang ditargetkan adalah penjualan produk edamame goreng dan penjualan minyak yang tidak terpakai. Penjualan kulit edamame sebagai limbah produksi pada peternak juga dilakukan dalam rangka pemanfaatan limbah.
7. Key Activities (KA) Aktivitas utama dalam usaha edamame goreng meliputi pembelian dan penyimpanan bahan baku, produksi, promosi, pemasaran, serta evaluasi dan pengembangan produk.
8. Key Partners (KP) Key partners usaha edamame goreng meliputi strategic alliance between noncompetitors (perusahaan kemasan), buyer supplier relationship (Mitra Tani), dan perbankan. Key partners dengan pemerintah juga diperlukan dalam upaya untuk mendapatkan perizinan legalitas meliputi BPOM, SNI, dan barcode.
9. Cost Structure (CR) Cost structure dalam usaha edamame goreng ini adalah biaya investasi, biaya tetap dan tidak tetap, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan. Selain itu, angsuran kredit dalam menjalankan suatu usaha juga perlu dipehatikan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Novitha, dkk. (2019), usaha edamame goreng terletak pada komponen value proposition pada model bisnis kanvas adalah renyah, alami, kemasan berstiker, dan penggunaan minyak goreng yang baik. Banyak partisipan kuisioner yang mengisi test the solution maka dilakukan perbaikan model bisnis kanvas yaitu pada komponen value proposition dengan menambahkan point kemasan berstiker dengan informasi yang jelas dan penggunaan minyak yang baik, berat produk bervariasi.
Nama : Novita Anggarwati
NPM : 2113053200

Analisis Jurnal 1
UMK merupakan usaha yang sering ditemui di Indonesia. Usaha kerakyatan yang jumlahnya mencapai lebih dari 26 juta usaha atau 98,68% dari total usaha nonpertanian di Indonesia. Usaha ini juga mampu menyerap tenaga kerja sekitar 75,33% (BPS, 2018). Berdasarkan artikel Rita “Analisis Aksesibilitas Permodalan Usaha Mikro Kecil Pada Lembaga Keuangan Formal Di Provinsi Sumatera Barat”, menyebutkan bahwa Sensus Ekonomi 2016 (SE2016), jumlah UMK di Provinsi Sumatera Barat sudah mencapai 580 ribu usaha atau 98,88% dari total usaha nonpertanian di Provinsi Sumatera Barat dan telah menyerap tenaga kerja lebih dari 1,29 juta orang atau 87,57% dari total tenaga kerja nonpertanian (BPS, 2018). Artinya tidak sedikit rakyat Indonesia yang membangun UMK ini pada wilayahnya masing-masing. UMKM membutuhkan seseorang yang berjiwa kreativitas yang tinggi, semangat, tidak mudah menyerah, berani mengambil resiko, selalu berusaha menemukan ide baru utnuk dikembangkan. Selain itu, untuk mengembangkan suatu UMKM dibutuhkan suatu model yang akan menunjang perkembangan UMKM. Model manajemen merupakan suatu model yang tepat untuk digunakan oleh para pelaku UMKM, sehingga pelaku UMKM perlu melakukan manajemen usaha agar dapat melakukan prinsip-prinsip manajemen dengan baik sehingga dapat mengevaluasi usahanya dan mengetahui perkembangan usahanya.

Analisis Jurnal 2
Bisnis model canvas merupakan salah satu bisnis yang memudahkan wirausaha atau pelaku usaha untuk melihat bentuk usaha yang sedang atau yang akan dijalaninnya. Melalui model ini, pelaku usaha akan lebih mengerti detail atau keakuratan usaha miliknya. Metode BMC (Bisnis Model Canvas) mengubah konsep bisnis yang rumit menjadi sederhana, model ini ditampilkan pada canvas yang berisi sembilan rancangan bisnis. Model canvas ini menggunakan analisis SWOT sebagai analisis biaya terhadap kelengkapan bisnis. Sembilan elemen yang harus ada dalam bisnis model canvas, adalah:
1. Customer segments, menentukan segmen pelanggan mana yang akan menjadi target bisnis.
2. Value proposition, maksud pada business model canvas ini adalah sekat yang merupakan keunggulan produk, apa saja sesungguhnya poin-poin yang dapat mendatangkan manfaat yang ditawarkan bisnis atau perusahaan bagi customer segment-nya.
3. Channel, yang dimaksud di sini adalah media atau sarana apa saja yang bisa Pelaku usaha gunakan untuk menyampaikan produk atau jasa.
4. Revenue stream, merupakan bagian yang paling vital, di mana organisasi memperoleh pendapatan dari pelanggan. Elemen business model canvas (BMC) ini harus dikelola semaksimal mungkin untuk meningkatkan pendapatan bisnis.
5. Key resource, adalah sekat dalam bisnis model kanvas yang berisikan daftar sumber daya yang sebaiknya direncanakan dan dimiliki perusahaan untuk mewujudkan value proposition mereka. Semua jenis sumber daya, mulai dari pengelolaan bahan baku, mengontrol stok barang, penataan sumber daya manusia, dan penataan proses operasional menjadi perhatian dalam membuat business model canvas.
6. Customer relationship, merupakan elemen dalam contoh bisnis model canvas di mana perusahaan menjalin ikatan dengan pelanggannya.
7. Key activities, adalah semua aktivitas yang berhubungan dengan produktivitas bisnis yang berkaitan dengan sebuah produk, di mana kegiatan utamanya adalah menghasilkan proposisi nilai.
8. Key Partnership, elemen business model canvas ini berfungsi untuk pengorganisasian aliran suatu barang atau layanan lainnya dalam bisnis Pelaku usaha
9. Cost Structure, model bisnis ini merupakan konsekuensi secara finansial dari cara yang digunakan dalam model bisnis yang Pelaku usaha buat. Di sini pelaku usaha harus memetakan biaya dan memastikan bahwa biaya sesuai dengan value propositions bisnis.

Analisis Jurnal 3
Winner Perkasa Indonesia Unggul adalah sebuah UKM yang memproduksi beberapa macam produk olahan berbahan dasar rumput laut seperti jus, konsentrat, dodol, dan beberapa jenis olahan rumput laut lainnya. Berdasarkan usaha milik Winner Perkasa Indonesia, UKM yang memproduksi olahan rumput laut, bisnis model canvas nya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Customer Segments, Winner Perkasa Indonesia Unggul melayani segmen pelanggan di dalam Kota Depok dan segmen pelanggan dari luar Kota Depok. Mayoritas segmen pelanggan di dalam Kota Depok membeli produk ini untuk konsumsi sehari-hari dan untuk konsumsi kegiatan tertentu. Sedangkan untuk segmen pelanggan dari luar Kota Depok mayoritas pelanggan membeli produk ini untuk dijual kembali kepada konsumen akhir, namun ada juga segmen pelanggan di dalam Kota Depok yang membeli produk untuk dijual kembali (distributor).
2. Value Propositions, Winner Perkasa Indonesia Unggul menjalankan bisnisnya dengan menciptakan produk olahan rumput laut.
3. Channels, dalam upaya menjangkau pelanggan dan penyampaian proposisi nilai, Winner Perkasa Indonesia Unggul menggunakan beberapa saluran pemasaran. Diantaranya melalui saluran pemasaran langsung atau yang dikenal dengan direct selling.
4. Customer Relatonships, dalam upaya menjalin hubungan baik dengan pelanggan (customer) Winner Perkasa Indonesia Unggul menggunakan pelayanan secara personal. Selain itu, perusahaan juga memberikan layanan jasa antar (delivery) produk pesanan dalam lingkup Kota Depok dan sekitarnya.
5. Revenue Streams, blok elemen ini mencakup segala sumber pemasukan yang didapatkan oleh Winner Perkasa Indonesia Unggul dalam kegiatan bisnisnya.
6. Key Activities, aktivitas kunci yang dilakukan Winner Perkasa Indonesia Unggul terbagi menjadi dua, yaitu aktivitas produksi dan pemasaran.
7. Key Resources, dalam kegiatan operasionalnya perusahaan membutuhkan beberapa sumberdaya utama, diantaranya:
a. Sumberdaya Fisik, meliputi bangunan, peralatan kantor, peralatan dan mesin (mixer, blender dan kuali pendingin), sarana transportasi.
b. Sumberdaya Finansial, meliputi sumber dana permodalan perusahaan.
c. Sumberdaya Intelektual, meliputi merek dagang, pengetahuan dan keterampilan yang dilindungi, paten dan hak cipta.
d. Sumberdaya Manusia, meliputi karyawan yang bekerja di perusahaan.
8. Key Partnerships, perusahaan juga membentuk kemitraan dalam kegiatan bisnisnya. Jenis kemitraan yang dibentuk adalah hubungan pembeli-pemasok, serta kerjasama dengan beberapa pengusaha toko oleh-oleh sebagai distributor.
9. Cost Structure, biaya yang ditanggung oleh perusahaan dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap meliputi biaya listrik, air, gaji karyawan tetap, maintenance peralatan dan mesin produksi. Sedangkan biaya variabel meliputi biaya pembelian bahan baku utama (rumput laut), biaya pengiriman barang, serta biaya gaji karyawan lepas.

PGSD 3E -> Forum Analisis Jurnal 1

NOVITA ANGGARWATI གིས-
Nama : Novita Anggarwati
NPM : 2113053200

Pendidikan di abad ke-21 adalah pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan penguasaan siswa terhadap TIK. Kecapakan yang dimiliki siswa tersebut dapat dikembangkan melalui penerapan model pembelajaran yang berbasis pada aktivitas siswa yang sesuai dengan karakteristik. Namun, kenyataannya manusia di abad sekarang ini, belum sepenuhnya mendedikasi moral dan karakteristiknya. Kemajuan ekonomi material negara -negara maju, membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk mengha silkan kelimpahan ekonomi material. Jika kebetulan mereka memperoleh kepercayaan menduduki jabatan dalam pemerintahan dan hukum, maka atas kekuasaannya itu mereka secara berjamaah berbuat korupsi. Dengan demikian, pada abad saat ini banyak konflik yang menutupi penjuru abad 21.
Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “ajaran moral memuat pandangan-pandangan nilainilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan b ahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu, bagaimana kita dapat mengambil si kap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa “etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan - tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”.
Moral sangat penting, bagaimana pun keadaannya, bermoral tetap menjadi tujuan utamanya. Apabila anak-anak sampai dewasa tidak memiliki moral, bagaiaman negara dan pendidikan saat ini dapat berlangsung. Manusia sebagai makhluk pribadi, dengan demikian manusia memiliki nilai dan kepribadian serta pemikiran yang bermacam-macam setiap individunya. Manusia memiliki karakteristik masing-masing, karakter tersebut dapat berkembang berdasarkan lingkungannya. Apabila lingkungannya mendukung ia baik, maka sifat serta kepribadiannya akan baik pula. Bermoral dan beretika wajib dimiliki oleh tiap-tiap manusia. Tidak ada alasan untuk tidak bermoral dan beretika. Kesadaran moral tiap manusia apad abad 21 sangat dibutuhkan, bahkan mungkin apabila saat ini menemukan pribadi atau individu yang bermoral, maka ia sungguh terlihat “istimewa”. Karena ‘saking’ sedikitnya pribadi yang memiliki etika dan moral.
Nama : Novita Anggarwati
NPM : 2113053200
ANALISIS ARTIKEL 1

UMKM merupakan singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pada dasarnya, UMKM adalah arti usaha atau bisnis yang dilakukan oleh individu, kelompok, badan usaha kecil, maupun rumah tangga. UMKM adalah usaha produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro. Berdasarkan artikel yang berjudul “Model Manajemen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk Meningkatkan Efektivitas Usaha Kecil Menengah”, faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan UKM di antaranya adalah faktor sumber daya manusia (SDM), permodalan, mesin dan peralatan, pengelolaan usaha, pemasaran, ketersediaan bahan baku, dan informasi agar bisa melakukan akses global. Hal demikian sejalan dengan pendapat Tambunan (2002) “karakteristik UKM yang memiliki keunggulan kompetitif meliputi memiliki kualitas SDM yang baik, pemanfaatan teknologi yang optimal, mampu melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas, mampu meningkatkan kualitas produk, memiliki akses promosi yang luas, memiliki sistem manajemen kualitas yang terstruktur, sumber daya modal yang memadai, memiliki jaringan bisnis yang luas, dan memiliki jiwa kewirausahaan”. Dengan demikian, UMKM membutuhkan seseorang yang berjiwa kreativitas yang tinggi, semangat, tidak mudah menyerah, berani mengambil resiko, selalu berusaha menemukan ide baru utnuk dikembangkan. Selain itu, untuk mengembangkan suatu UMKM dibutuhkan suatu model yang akan menunjang perkembangan UMKM. Model manajemen merupakan suatu model yang tepat untuk digunakan oleh para pelaku UMKM, sehingga pelaku UMKM perlu melakukan manajemen usaha agar dapat melakukan prinsipprinsip manajemen dengan baik sehingga dapat mengevaluasi usahanya dan mengetahui perkembangan usahanya.


ANALISIS ARTIKEL 2

Secara umum penyusunan laporan keberlanjutan didasarkan pada pedoman GRI G4 yang dikeluarkan oleh Global Reporting Initiative (GRI). Menurut Evans & Sawyer (2010) berdasarkan artikel di atas menyebutkan bahwa pada dasarnya pemangku kepentingan bisnis UKM yang paling utama adalah komunitas lokal yang berada di sekitar UKM tersebut. Komunitas lokal akan menjalin hubungan baik dengan para pelaku UKM. Sehingga akan menghasilkan suatu hubungan timbal balik yang baik. Sustainability report (laporan berkelanjutan) merupakan sebuah jenis laporan yang dikeluarkan perusahaan setiap tahunnya. Laporan ini memuat pertanggung jawaban perusahaan kepada public terkait banyak aspek mulai dari sosial, ekonomi dan lainnya. Laporan berkelanjutan sejatinya tidak hanya menjadi kewajiban dari perusahaan besar tapi juga perlu dilakukan oleh UMKM. Terkait dengan UMKM, laporan berkelanjutan ternyata bisa membawa beragam manfaat positif, diantaranya menarik minat investor untuk menyuntikkan dana mereka serta menjadi sebuah acuan akan keadaan usaha mereka. ustainability report (laporan berkelanjutan) merupakan sebuah jenis laporan yang dikeluarkan perusahaan setiap tahunnya. Laporan ini memuat pertanggung jawaban perusahaan kepada public terkait banyak aspek mulai dari sosial, ekonomi dan lainnya. Laporan berkelanjutan sejatinya tidak hanya menjadi kewajiban dari perusahaan besar tapi juga perlu dilakukan oleh UMKM. Terkait dengan UMKM, laporan berkelanjutan ternyata bisa membawa beragam manfaat positif, diantaranya menarik minat investor untuk menyuntikkan dana mereka serta menjadi sebuah acuan akan keadaan usaha mereka. Tahap prepare merupakan tahap awal dalam proses pelaporan keberlanjutan. Tahap ini dipergunakan untuk menentukan bentuk laporan dan memilih pendekatan yang akan dipergunakan dalam laporan keberlanjutan. Dalam tahap ini pelaku bisnis UKM dapat menentukan bagaimana bentuk dan isi laporan nantinya. Pada tahap ini dapat juga dibentuk sebuah tim yang akan menyusun rencana pelaporan keberlanjutan. Pada tahap connect maka pelaku bisnis UKM harus mampu mengidentifikasi pemangku kepentingan mana yang paling membutuhkan laporan keberlanjutan. Tahap berikutnya adalah define dimana pada tahap ini pelaku bisnis UKM harus mampu menilai aspek-aspek mana yang bersifat material dan harus disajikan dalam laporan keberlanjutan. Tingkat materialitas informasi dapat ditentukan pula dari informasi-informasi mana yang paling penting dan paling diperlukan oleh pemangku kepentingan perusahaan. Tahap selanjutnya adalah monitor dimana pada tahap ini pelaku bisnis UKM harus menilai apakah draft laporan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pelaporan. Pada tahap ini juga dapat dibuat daftar-daftar informasi yang akan dimasukkan ke dalam laporan keberlanjutan. Tahap terakhir adalah report yang merupakan tahap mengeluarkan laporan keberlanjutan. Untuk mendukung tahap ini, pelaku bisnis UKM dapat melakukan sebuah komunikasi dengan pemangku kepentingan melalui sebuah diskusi untuk melihat informasi-informasi yang disajikan. Ini juga dapat menjadi sebuah bentuk evaluasi untuk perbaikan laporan keberlanjutan pada tahun berikutnya.