Posts made by ADILAH AFIFAH

Assalamualaikum Wr.Wb
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Adilah Afifah
NPM : 2115061053
Kelas : PSTI D

Izin menanggapi jurnal pertemuan 12 “PENEGAKAN HUKUM DAN PERLINDUNGAN NEGARA”
Terdapat beberapa teori perlindungan hukum yang diutarakan oleh para ahli, seperti
1. Setiono yang menyatakan bahwa perlindungan hukum merupakan tindakan untuk melindungi masyarakat dari kesewenang-wenangan penguasa yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mewujudkan ketenteraman dan ketertiban umum.
2. Philipus M.Hadjon, menyatakan bahwa perlindungan hukum bagi rakyat berupa tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan represif. Bersifat preventif artinya pemerintah lebih bersikap hati-hati dalam pengambilan dan pembuatan keputusan karena masih dalam bentuk tindakan pencegahan. Sedangkan bersifat represif artinya pemerintah harus lebih bersikap tegas dalam pengambilan dan pembuatan keputusanatas pelanggaran yang telah terjadi.

Perlindungan hukum ini diberikan untuk menyelesaikan suatu pelanggaran atau sengketa yang sudah terjadi dengan konsep teori perlindungan hukum yang bertumpu dan bersumber pada pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia dan diarahkan kepada pembatasan-pembatasan masyarakat dan pemerintah.

Sedangkan, Penegakan hukum merupakan rangkaian proses penjabaran ide dan cita hukum yang memuat nilai-nilai moral seperti keadilan dan kebenaran kedalam bentuk-bentuk konkrit, dalam mewujudkannya membutuhkan suatu organisasi seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan sebagai unsur klasik penegakan hukum yang dibentuk oleh negara, dengan kata lain bahwa penegakan hukum pada hakikatnya mengandung supremasi nilai substansial yaitu keadilan. Ruang lingkup penegakkan hukum sangat luas sekali, karena mencakup hal-hal yang langsung dan tidak langsung terhadap orang yang terjun dalam bidang penegakkan hukum. Penegakkan hukum yang tidak hanya mencakup law enforcement,juga meliputi peace maintenance. Adapun orang-orang yang terlibat dalam masalah penegakkan hukum di Indonesia ini adalah diantaranya polisi, hakim, kejaksaan, pengacara dan pemasyarakatan atau penjara.

Menurut Josep Golstein, penegakkan hukum pdana dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni :
1. Total enforcement, yakni ruang lingkup penegakan hukum pidana sebagaimana yang dirumuskan oleh hukum pidana substantif (substantive law of crime),
2. Full enforcement, setelah ruang lingkup penegakan hukum pidana yang bersifat total tersebut dikurangi area of no enforcement dalam penegakan hukum ini para penegak hukum diharapkan penegakan hukum secara maksimal,
3. Actual enforcement, dianggap not a realistic expectation, sebab adanya keterbatasan-keterbatasan dalam bentuk waktu, personil, alat-alat investigasi, dana dan sebagainya, yang kesemuanya mengakibatkan keharusan dilakukannya discretion dan sisanya inilah yang disebut dengan actual enforcement.

Menurut Muladi, Penerapan hukum haruslah dipandang dari 3 dimensi, yaitu :
1. Penerapan hukum dipandang sebagi sistem normatif (normative system) yaitu penerapan keseluruhan aturan hukum yang Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Volume VII No. 1/Juni 2017 JIPSi 25 menggambarkan nilai-nilai sosial yang di dukung oleh sanksi pidana,
2. Penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (administrative system) yang mencakup interaksi antara pelbagai aparatur penegak hukum yang merupakan sub-sistem peradilan di atas,
3. Penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (social system), dalam arti bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula diperhitungkan pelbagai perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan masyarakat.

Sekian dari saya, saya ucapkan terimakasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Assalamualaikum Wr.Wb
Sebelumnya izin memperkenalkan diri,
Nama : Adilah Afifah
NPM : 2115061053
Kelas : PSTI D

Izin memberi tanggapan mengenai video pembelajaran pertemuan 12
Berdasarkan video “Supermasi Hukum” dapat diperoleh bahwasannya hukum muncul dan dipercaya untuk mengatur dan menata negara beserta masyarakatnya. Hukum telah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan zaman yang modern dan negara beserta masyarakatnya yang begitu kompleks tidak dapat lagi diatur dengan customary law/ interaction law (Customary Law atau Hukum Adat Hukum adat berasal dari kebiasaan yang melekat di komunitas tertentu. Ciri lazim dari hukum adat biasanya berdasarkan hukum tak tertulis. Selain itu, adat yang berada di masyarakat sudah berlaku secara luas sehingga diterima secara hukum. (Hadi et al., 2021)).

Kehidupan modern yang diikuti dengan kemajuannya tentu membutuhkan struktur hukum baru yang dapat menjadi sandarannya. Hukum modern menjadi acuan yang penting dalam menjalani kehidupan yang modern dan kompleks seperti saat ini. Berdasarkan UUD 1945, tepatnya pada pasal 1 ayat (3) menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum” , saat ini negara kita membutuhkan hukum yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi agar terciptanya rumah nyaman untuk mensejahterahkan dan membahagiakan masyarakatnya. Jika tidak, negara kita akan diperbodoh oleh para koruptor yang dengan mudahnya membayar pengacara untuk mempermainkan hukum di Indonesia.

Cara berhukum yang keliru memang dapat menimbulkan malapetaka. Semenjak reformasi 1998, membuka babak baru dalam cara berhukum di Indonesia yang dimana slogan reformasi yakni “Demokratisasi dan Desentralisasi”. Maka dari itu, hal ini tidak membiarkan penyelenggaraan hukum di Indonesia terlepas dari sorotan dan kontrol masyarakat. Daripada itu, terbentuklah Lembaga – Lembaga swadaya masyarakat yang dapat mengontrol hal tersebut seperti Indonesia Corruption Watch (ICW), Indonesia Police Watch , dan Indonesia Pemantau Peradilan Indonesia (MAPPI).

Sekian dari saya, saya ucapkan terimakasih
Wassalamualaikum Wr. Wb