གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004

MPPE B2025 -> Menulis Summary e-journal

Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 གིས-
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

Jurnal tersebut membahas mengenai Teori, kerangka teoritis, dan kerangka konseptual adalah tiga komponen penting dalam penelitian yang memiliki peran masing-masing. Teori merupakan pernyataan umum yang menjelaskan atau memprediksi hubungan antara fenomena, berdasarkan data empiris. Teori membantu peneliti memahami fenomena yang diteliti dan memberikan dasar untuk membangun argumen. Kerangka teoritis adalah struktur yang mengorganisir teori-teori relevan yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian. Ini bukan sekadar ringkasan pemikiran peneliti, melainkan sintesis dari pemikiran para ahli di bidang tersebut, yang membantu peneliti merumuskan pertanyaan penelitian dan menentukan metode yang tepat.

Sementara itu, kerangka konseptual mencakup semua elemen yang membentuk orientasi logis dari proyek penelitian, termasuk topik, masalah, pertanyaan penelitian, dan metodologi. Kerangka konseptual berfungsi sebagai panduan dalam merancang penelitian dan membantu peneliti memahami bagaimana berbagai elemen saling berhubungan.

Perbedaan utama antara kerangka teoritis dan kerangka konseptual terletak pada fokusnya; kerangka teoritis lebih menekankan pada teori-teori yang ada dan bagaimana mereka diterapkan dalam analisis data, sedangkan kerangka konseptual mencakup pemikiran keseluruhan peneliti tentang bagaimana semua elemen penelitian berinteraksi. Dengan memahami ketiga komponen ini, peneliti dapat merancang penelitian yang lebih sistematis dan berbasis teori, serta menghasilkan temuan yang lebih valid dan dapat diandalkan.

MPPE B2025 -> Membuat summary e journal

Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 གིས-
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

Jurnal ini membahas tentang pentingnya memahami paradigma penelitian dalam konteks pendidikan, terutama bagi mahasiswa tingkat lanjut (HDR) dan peneliti pemula. Paradigma penelitian diartikan sebagai pandangan dunia atau worldview yang mencakup asumsi dasar mengenai eksistensi (“ontologi”), bagaimana kita bisa tahu sesuatu (“epistemologi”), metode yang digunakan (“metodologi”), dan nilai-nilai atau etika penelitian (“aksiologi”).Penulis menunjukkan bahwa kadang mahasiswa bingung dengan istilah paradigm, terutama karena dalam penggunaan sehari-hari istilah tersebut sering tidak lengkap atau tidak melibatkan keempat elemen tersebut.

Selanjutnya, artikel tersebut menguraikan beberapa paradigma utama yang sering digunakan dalam riset pendidikan: positivist, interpretivist (constructivist), critical (transformative), dan pragmatic. Untuk setiap paradigma dijelaskan asumsi-dasarnya, hubungan dengan metode yang cocok digunakan, serta kriteria penilaian kualitas penelitian yang sesuai. Misalnya, paradigma positivist menekankan objektivitas, data kuantitatif, dan generalisasi, sementara interpretivist lebih mengedepankan pengalaman subjektif, konteks sosial, interaksi peneliti-partisipan, dan keaslian data, dengan kriteria seperti kredibilitas, dependabilitas, dan transferabilitas. Paradigma pragmatic menawarkan cara yang lebih fleksibel dengan memilih metode yang paling sesuai dengan masalah penelitian, menggabungkan aspek kuantitatif dan kualitatif, serta mempertimbangkan manfaat dan nilai praktis penelitian tersebut.

Di bagian penutup, penulis menegaskan bahwa pilihan paradigma sangat berdampak terhadap hampir semua aspek riset: mulai dari rumusan pertanyaan, pemilihan partisipan, cara pengumpulan dan analisis data, hingga interpretasi hasil. Oleh karena itu mahasiswa HDR dan peneliti perlu jelas dalam menyatakan paradigma mereka supaya penelitian menjadi terarah, koheren, dan sahih secara ilmiah.

MPPE B2025 -> CASE STUDY

Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 གིས-
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

1. Identifikasi Masalah Penelitian
Masalah utama yang dapat diidentifikasi dari kasus tersebut adalah penurunan jumlah mahasiswa baru meskipun promosi telah dilakukan secara intensif melalui berbagai media dan kerja sama pendidikan. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara upaya promosi yang dilakukan universitas dengan hasil yang diperoleh. Dengan kata lain, strategi promosi yang ada belum efektif dalam menarik minat calon mahasiswa. Masalah penelitian yang relevan dapat dirumuskan sebagai: “Mengapa promosi besar-besaran yang dilakukan universitas belum mampu meningkatkan jumlah mahasiswa baru dalam tiga tahun terakhir?”

2. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, terdapat beberapa variabel yang dapat dikaji, antara lain:
Efektivitas Strategi Promosi (Variabel Independen/X)
Variabel ini meliputi intensitas promosi di media sosial, kegiatan pameran pendidikan, serta kerja sama dengan sekolah menengah. Variabel ini berperan sebagai faktor yang diduga memengaruhi jumlah mahasiswa baru.
Minat Calon Mahasiswa untuk Mendaftar (Variabel Dependen/Y)
Variabel ini menggambarkan tingkat ketertarikan siswa SMA terhadap universitas tersebut, yang tercermin dari jumlah pendaftar baru setiap tahun.
Selain dua variabel utama tersebut, peneliti juga dapat menambahkan variabel moderator seperti persepsi masyarakat terhadap reputasi universitas atau variabel intervening seperti kepuasan calon mahasiswa terhadap informasi promosi yang diterima.

3. Paradigma Penelitian yang Tepat

Paradigma yang paling tepat untuk mengkaji kasus ini adalah paradigma interpretif (konstruktivis). Paradigma ini dipilih karena tujuan penelitian bukan hanya untuk mengukur seberapa besar pengaruh promosi terhadap jumlah mahasiswa, tetapi untuk memahami secara mendalam alasan dan persepsi calon mahasiswa terkait keputusan mereka tidak memilih universitas tersebut. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna subjektif dari pengalaman, persepsi, dan motivasi calon mahasiswa, orang tua, serta guru bimbingan konseling di sekolah.
Melalui paradigma interpretif, peneliti dapat menggunakan metode kualitatif, seperti wawancara mendalam dan analisis tematik, untuk menemukan faktor-faktor sosial, psikologis, maupun institusional yang tidak terlihat dalam data kuantitatif semata.

4. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Rumusan Masalah:
Mengapa upaya promosi besar-besaran yang dilakukan universitas belum mampu meningkatkan jumlah mahasiswa baru selama tiga tahun terakhir?
Pertanyaan Penelitian:
Bagaimana persepsi dan pengalaman calon mahasiswa terhadap strategi promosi yang dilakukan universitas, serta faktor apa saja yang memengaruhi keputusan mereka untuk tidak mendaftar ?

MPPE B2025 -> CASE STUDY

Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 གིས-
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

1. Pendekatan penelitian yang sesuai
Untuk kasus ini, pendekatan kuantitatif adalah pilihan yang paling tepat. Alasannya sederhana: mahasiswa ingin meneliti "pengaruh" media digital terhadap motivasi belajar. Kata "pengaruh" ini menunjukkan ada hubungan sebab-akibat yang perlu dibuktikan dengan angka-angka.
Dengan pendekatan kuantitatif, mahasiswa bisa mengukur seberapa besar pengaruhnya secara objektif menggunakan statistik. Misalnya, apakah motivasi siswa naik 20% atau 50% setelah menggunakan media digital? Ini lebih mudah diukur dan dibuktikan dibanding pendekatan kualitatif yang hanya mendeskripsikan tanpa angka pasti.
Namun, jika mahasiswa ingin hasil yang lebih lengkap, bisa menggunakan pendekatan campuran (mixed methods). Kuantitatif untuk mengukur angka motivasinya, ditambah kualitatif melalui wawancara singkat untuk menggali pengalaman siswa lebih dalam. Tapi untuk penelitian skripsi pemula, kuantitatif murni sudah cukup.

2. Langkah-langkah penelitian secara sistematis
Penelitian yang baik mengikuti alur yang runtut. Berikut langkah-langkahnya:
Pertama, identifikasi masalahnya. Mahasiswa perlu menyadari bahwa ada masalah di lapangan, yaitu motivasi belajar siswa rendah saat pembelajaran daring. Dari situ, rumuskan masalahnya: "Apakah media digital interaktif bisa meningkatkan motivasi belajar siswa?"
Kedua, baca literatur. Cari tahu teori tentang media pembelajaran dan motivasi belajar dari buku atau jurnal. Lihat juga penelitian orang lain yang mirip. Ini penting agar penelitiannya punya dasar teori yang kuat dan tidak mengulang penelitian yang sudah ada.
Ketiga, buat hipotesis. Hipotesis adalah dugaan sementara. Contohnya: "Media digital interaktif berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa." Nanti hipotesis ini akan dibuktikan benar atau salah.
Keempat, tentukan metode penelitian. Pilih desain eksperimen dengan dua kelompok: kelompok eksperimen (yang pakai media digital) dan kelompok kontrol (yang tidak pakai). Tentukan juga sampelnya, misalnya 60 siswa dibagi dua kelompok, masing-masing 30 siswa.
Kelima, buat instrumen penelitian. Instrumen utamanya adalah kuesioner untuk mengukur motivasi belajar. Buat pertanyaan-pertanyaan yang mengukur indikator motivasi seperti perhatian, minat, dan semangat belajar siswa.
Keenam, uji coba instrumen. Sebelum dipakai beneran, kuesioner harus diuji dulu ke sampel kecil sekitar 30 siswa. Tujuannya untuk memastikan pertanyaan-pertanyaannya valid (tepat mengukur apa yang mau diukur) dan reliabel (hasilnya konsisten).
Ketujuh, kumpulkan data. Lakukan pretest dulu pada kedua kelompok untuk mengukur motivasi awal mereka. Setelah itu, kelompok eksperimen menggunakan media digital dalam pembelajaran selama beberapa minggu, sementara kelompok kontrol tidak. Terakhir, lakukan posttest pada kedua kelompok.
Kedelapan, analisis data. Masukkan data ke software statistik seperti SPSS. Gunakan uji t untuk membandingkan skor motivasi sebelum dan sesudah, serta membandingkan kedua kelompok. Dari sini akan ketahuan apakah ada pengaruh yang signifikan atau tidak.
Kesembilan, tarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis, jawab hipotesis: apakah terbukti atau tidak? Jelaskan juga maknanya dalam konteks pembelajaran.
Kesepuluh, tulis laporan. Susun semua proses penelitian dalam bentuk skripsi yang sistematis, mulai dari pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil, pembahasan, hingga kesimpulan dan saran.

3. Potensi masalah dan solusinya
Ada beberapa masalah yang mungkin muncul dalam penelitian ini:
Masalah pertama: tidak semua siswa punya akses internet yang bagus. Ini masalah klasik pembelajaran daring. Solusinya, pilih sampel siswa yang sudah dipastikan punya akses internet stabil. Atau peneliti bisa bekerja sama dengan sekolah untuk menyediakan kuota internet gratis bagi responden.
Masalah kedua: sulit mengontrol faktor-faktor lain yang mempengaruhi motivasi. Motivasi siswa bisa dipengaruhi banyak hal selain media digital, seperti kondisi keluarga atau mood pribadi. Solusinya, gunakan kelompok kontrol sebagai pembanding, sehingga efek dari faktor luar bisa diminimalkan. Pastikan juga kedua kelompok punya karakteristik yang mirip.
Masalah ketiga: siswa malas mengisi kuesioner atau asal-asalan. Ini sering terjadi karena siswa merasa bosan atau tidak peduli. Solusinya, buat kuesioner yang singkat dan jelas, maksimal 25-30 pertanyaan. Jelaskan juga pentingnya penelitian ini kepada siswa. Bisa juga diberi insentif kecil seperti sertifikat atau pulsa sebagai apresiasi.
Masalah keempat: mahasiswa belum mahir menggunakan SPSS atau software statistik. Ini wajar bagi peneliti pemula. Solusinya, ikuti workshop atau tutorial online tentang SPSS. Yang penting rajin konsultasi dengan dosen pembimbing dan jangan malu bertanya kepada teman yang lebih paham.
Masalah kelima: waktu penelitian yang terbatas. Mahasiswa sering kejar deadline. Solusinya, buat jadwal penelitian yang realistis sejak awal. Jangan menunda-nunda, mulai penelitian sedini mungkin. Koordinasi yang baik dengan pihak sekolah juga penting agar proses berjalan lancar.

4. Penyusunan dan pengujian instrumen
Instrumen penelitian ini adalah kuesioner motivasi belajar. Cara menyusunnya dimulai dari membuat kisi-kisi. Kisi-kisi adalah peta yang menunjukkan indikator apa saja yang mau diukur. Misalnya, motivasi belajar bisa dilihat dari empat indikator: perhatian siswa saat belajar, relevansi materi dengan kehidupan, rasa percaya diri siswa, dan kepuasan setelah belajar.
Dari setiap indikator, buat beberapa pertanyaan. Misalnya untuk indikator perhatian: "Saya fokus saat belajar menggunakan media digital" atau "Saya mudah bosan saat pembelajaran daring." Gunakan skala Likert 1-5, dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Total pertanyaan sekitar 20-25 item sudah cukup.
Setelah kuesioner jadi, minta validasi dari ahli, bisa dosen atau guru berpengalaman. Mereka akan menilai apakah pertanyaan-pertanyaannya sudah sesuai dengan indikator atau belum. Perbaiki jika ada masukan.
Langkah berikutnya adalah uji coba ke lapangan. Ambil sampel kecil sekitar 30 siswa yang tidak termasuk dalam sampel penelitian utama. Setelah mereka mengisi, data dianalisis dengan SPSS untuk uji validitas dan reliabilitas.
Untuk uji validitas, gunakan korelasi Product Moment. Caranya: bandingkan r-hitung dengan r-tabel. Jika r-hitung lebih besar dari r-tabel (biasanya sekitar 0,361 untuk 30 responden), berarti item tersebut valid. Item yang tidak valid harus dibuang atau diperbaiki.
Untuk uji reliabilitas, gunakan Alpha Cronbach. Jika hasilnya di atas 0,70, berarti kuesioner reliabel atau konsisten. Artinya jika digunakan berkali-kali hasilnya akan tetap stabil. Jika kurang dari 0,70, ada item yang perlu diperbaiki atau dibuang.
Setelah semua item valid dan reliabel, kuesioner siap digunakan untuk penelitian sesungguhnya. Dengan instrumen yang teruji, data yang dikumpulkan akan akurat dan bisa dipercaya, sehingga hasil penelitiannya pun berkualitas.