གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Dr. PUJIATI, S.Pd., M.Pd. -

EKOPEND C2026 -> Diskusi

Dr. PUJIATI, S.Pd., M.Pd. - གིས-

Silakan diskusikan bersama rekan-rekan anda:

  1. Apakah peningkatan anggaran pendidikan otomatis meningkatkan kualitas SDM?
  2. Bagaimana hubungan antara pengangguran sarjana dan teori human capital?
  3. Apakah Indonesia lebih membutuhkan perluasan akses atau peningkatan kualitas?

EKOPEND A2026 -> Diskusi

Dr. PUJIATI, S.Pd., M.Pd. - གིས-

Silakan diskusikan bersama rekan-rekan anda, 

  1. Apakah peningkatan anggaran pendidikan otomatis meningkatkan kualitas SDM?
  2. Bagaimana hubungan antara pengangguran sarjana dan teori human capital?
  3. Apakah Indonesia lebih membutuhkan perluasan akses atau peningkatan kualitas?

 


Salam pembelajar,

Topik pekan ini adalah mengkaji Kebutuhan akan sumber daya manusia: penawaran dan permintaan tenaga terdidik, karakteristik tenaga terdidik.

Apa yang ada dalam pemikiran anda terkait dengan topik tersebut? Adakah kalian sudah membaca referensi terkait dari buku maupun  jurnal nasional/internasional?

Mari kita bahas bersama,

KEBUTUHAN AKAN SUMBER DAYA MANUSIA

(Penawaran dan Permintaan Tenaga Terdidik serta Karakteristiknya)

 

Kerangka Dasar: Pasar Tenaga Kerja Terdidik

Mahasiswa sekalian,

Dalam ekonomi, tenaga kerja terdidik dianalisis melalui mekanisme permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar tenaga kerja.

Secara sederhana:

  • Permintaan tenaga terdidik → berasal dari dunia usaha/industri
  • Penawaran tenaga terdidik → berasal dari sistem pendidikan

Keseimbangan keduanya menentukan:

  • Tingkat upah
  • Tingkat pengangguran terdidik
  • Tingkat mismatch pendidikan

 

Permintaan Tenaga Terdidik (Demand for Educated Labor)

A. Perspektif Teori Ekonomi

Permintaan tenaga kerja bersifat derived demand (permintaan turunan).

Artinya:

Perusahaan mempekerjakan tenaga terdidik karena mereka membantu menghasilkan output.

Dalam teori produktivitas marginal:

  • Perusahaan akan mempekerjakan tenaga kerja sampai
  • Nilai produk marginal (VMP) = upah

Jika produktivitas tenaga terdidik tinggi → permintaan meningkat → upah naik.

 

B. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tenaga Terdidik

1. Perubahan Teknologi

Dalam teori pertumbuhan endogen oleh Paul Romer, inovasi menjadi kunci pertumbuhan.

Ekonomi digital meningkatkan permintaan pada:

  • Data scientist
  • Engineer
  • Software developer
  • Analis keuangan

Fenomena ini disebut:
Skill-Biased Technological Change (SBTC)
→ Teknologi lebih menguntungkan pekerja berpendidikan tinggi.

 

2. Struktur Ekonomi

Negara berbasis industri & jasa modern → permintaan tinggi pada tenaga terdidik.

Contoh:

  • Singapura
    Ekonomi berbasis jasa keuangan & teknologi → mayoritas tenaga kerja terdidik.
  • Indonesia
    Masih dominan sektor informal & berbasis komoditas → struktur permintaan tenaga terdidik belum optimal.

 

3. Globalisasi dan MEA

Mobilitas tenaga kerja regional meningkatkan persaingan tenaga terdidik antar negara ASEAN.

 

Penawaran Tenaga Terdidik (Supply of Educated Labor)

Penawaran berasal dari:

  • Sekolah
  • Perguruan tinggi
  • Lembaga pelatihan
  • Pendidikan vokasi

Secara ekonomi, keputusan individu untuk sekolah dipengaruhi oleh teori Human Capital oleh:

  • Gary Becker

Individu akan melanjutkan pendidikan jika:

ExpectedReturn>CostofEducationExpected Return > Cost of EducationExpectedReturn>CostofEducation

Biaya:

  • Biaya langsung (SPP, buku)
  • Biaya tidak langsung (opportunity cost)

Manfaat:

  • Upah lebih tinggi
  • Status sosial
  • Stabilitas pekerjaan

 

Data Empirik dan Fakta Kontekstual Indonesia

Fakta 1: Peningkatan Partisipasi Pendidikan

  • Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia meningkat signifikan dalam 20 tahun terakhir.
  • Jumlah lulusan sarjana meningkat tajam.

Namun...

Fakta 2: Pengangguran Terdidik

Data BPS menunjukkan:

  • Pengangguran terbuka cukup tinggi pada lulusan SMK dan sarjana muda.
  • Terjadi mismatch antara kompetensi dan kebutuhan industri.

Fenomena ini disebut:

Educated Unemployment

 

Fakta 3: Return to Education

Berbagai studi menunjukkan:

  • Tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan upah sekitar 7–10% (estimasi umum model Mincer di banyak negara berkembang).
  • Namun return berbeda antar jurusan.

Contoh kontekstual:

  • Lulusan teknik & kesehatan → return tinggi
  • Lulusan bidang tertentu di ilmu sosial → return lebih bervariasi

 

Ketidakseimbangan: Mismatch Pasar Tenaga Kerja

Ada tiga bentuk mismatch:

1. Vertical Mismatch

Tingkat pendidikan lebih tinggi dari pekerjaan (over-education).

Contoh:
Sarjana bekerja sebagai admin entry-level.

2. Horizontal Mismatch

Bidang studi tidak sesuai pekerjaan.

Contoh:
Lulusan pertanian bekerja di sektor perbankan.

3. Skill Mismatch

Industri butuh soft skills & digital skills, tetapi lulusan kurang siap.

 

Karakteristik Tenaga Terdidik

Tenaga terdidik memiliki beberapa karakteristik ekonomi:

A. Produktivitas Lebih Tinggi

Mampu:

  • Menggunakan teknologi
  • Beradaptasi
  • Menghasilkan inovasi

B. Upah Lebih Tinggi

Teori Mincer:
Upah meningkat seiring tahun pendidikan dan pengalaman.

C. Elastisitas Mobilitas Tinggi

Lebih mudah berpindah sektor dan wilayah.

D. Risk-Taker dalam Inovasi

Lebih berpeluang menjadi wirausaha modern.

 

Perspektif Multi-Perspektif

Sebagai mahasiswa Ekonomi Pendidikan, kita harus melihat dari beberapa sudut.

 

Perspektif Neoklasik

  • Pasar tenaga kerja akan mencapai keseimbangan.
  • Jika kelebihan sarjana → upah turun → orang berhenti kuliah → seimbang.

Namun realitas tidak sesederhana itu.

 

Perspektif Struktural

Masalah bukan hanya individu, tetapi:

  • Kurikulum tidak relevan
  • Informasi pasar kerja tidak transparan
  • Industri kurang berkembang

 

Perspektif Institusional

Kebijakan pemerintah sangat menentukan:

  • Link and match pendidikan–industri
  • Pendidikan vokasi
  • Sertifikasi kompetensi
  • Investasi riset

 

Perspektif Sosiologis (Signaling Theory)

Ijazah tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi:

  • Berfungsi sebagai sinyal kemampuan
  • Alat seleksi dalam rekrutmen

 

Ilustrasi Sederhana dalam Grafik Konseptual

Jika:

  • Supply tenaga terdidik meningkat cepat
  • Demand tumbuh lambat

→ Terjadi surplus tenaga terdidik
→ Pengangguran terdidik naik
→ Return pendidikan menurun

Sebaliknya:

Jika:

  • Ekonomi tumbuh pesat
  • Industri padat teknologi berkembang

→ Demand naik
→ Upah naik
→ Insentif sekolah meningkat

 

Tantangan Masa Depan

Di era:

  • AI
  • Otomatisasi
  • Ekonomi digital

Permintaan bukan hanya pada gelar, tetapi pada:

  • Kompetensi
  • Adaptabilitas
  • Lifelong learning

Negara seperti:

  • Korea Selatan
    Berhasil menyelaraskan sistem pendidikan dengan industrialisasi.

Indonesia masih menghadapi tantangan:

  • Ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah
  • Kesenjangan digital
  • Dominasi sektor informal

 


Salam pembelajar,

Topik pekan ini adalah mengkaji Kebutuhan akan sumber daya manusia: penawaran dan permintaan tenaga terdidik, karakteristik tenaga terdidik.

Apa yang ada dalam pemikiran anda terkait dengan topik tersebut? Adakah kalian sudah membaca referensi terkait dari buku maupun  jurnal nasional/internasional?

Mari kita bahas bersama,

KEBUTUHAN AKAN SUMBER DAYA MANUSIA

(Penawaran dan Permintaan Tenaga Terdidik serta Karakteristiknya)

 

Kerangka Dasar: Pasar Tenaga Kerja Terdidik

Mahasiswa sekalian,

Dalam ekonomi, tenaga kerja terdidik dianalisis melalui mekanisme permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar tenaga kerja.

Secara sederhana:

  • Permintaan tenaga terdidik → berasal dari dunia usaha/industri
  • Penawaran tenaga terdidik → berasal dari sistem pendidikan

Keseimbangan keduanya menentukan:

  • Tingkat upah
  • Tingkat pengangguran terdidik
  • Tingkat mismatch pendidikan

 

Permintaan Tenaga Terdidik (Demand for Educated Labor)

A. Perspektif Teori Ekonomi

Permintaan tenaga kerja bersifat derived demand (permintaan turunan).

Artinya:

Perusahaan mempekerjakan tenaga terdidik karena mereka membantu menghasilkan output.

Dalam teori produktivitas marginal:

  • Perusahaan akan mempekerjakan tenaga kerja sampai
  • Nilai produk marginal (VMP) = upah

Jika produktivitas tenaga terdidik tinggi → permintaan meningkat → upah naik.

 

B. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tenaga Terdidik

1. Perubahan Teknologi

Dalam teori pertumbuhan endogen oleh Paul Romer, inovasi menjadi kunci pertumbuhan.

Ekonomi digital meningkatkan permintaan pada:

  • Data scientist
  • Engineer
  • Software developer
  • Analis keuangan

Fenomena ini disebut:
Skill-Biased Technological Change (SBTC)
→ Teknologi lebih menguntungkan pekerja berpendidikan tinggi.

 

2. Struktur Ekonomi

Negara berbasis industri & jasa modern → permintaan tinggi pada tenaga terdidik.

Contoh:

  • Singapura
    Ekonomi berbasis jasa keuangan & teknologi → mayoritas tenaga kerja terdidik.
  • Indonesia
    Masih dominan sektor informal & berbasis komoditas → struktur permintaan tenaga terdidik belum optimal.

 

3. Globalisasi dan MEA

Mobilitas tenaga kerja regional meningkatkan persaingan tenaga terdidik antar negara ASEAN.

 

Penawaran Tenaga Terdidik (Supply of Educated Labor)

Penawaran berasal dari:

  • Sekolah
  • Perguruan tinggi
  • Lembaga pelatihan
  • Pendidikan vokasi

Secara ekonomi, keputusan individu untuk sekolah dipengaruhi oleh teori Human Capital oleh:

  • Gary Becker

Individu akan melanjutkan pendidikan jika:

ExpectedReturn>CostofEducationExpected Return > Cost of EducationExpectedReturn>CostofEducation

Biaya:

  • Biaya langsung (SPP, buku)
  • Biaya tidak langsung (opportunity cost)

Manfaat:

  • Upah lebih tinggi
  • Status sosial
  • Stabilitas pekerjaan

 

Data Empirik dan Fakta Kontekstual Indonesia

Fakta 1: Peningkatan Partisipasi Pendidikan

  • Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia meningkat signifikan dalam 20 tahun terakhir.
  • Jumlah lulusan sarjana meningkat tajam.

Namun...

Fakta 2: Pengangguran Terdidik

Data BPS menunjukkan:

  • Pengangguran terbuka cukup tinggi pada lulusan SMK dan sarjana muda.
  • Terjadi mismatch antara kompetensi dan kebutuhan industri.

Fenomena ini disebut:

Educated Unemployment

 

Fakta 3: Return to Education

Berbagai studi menunjukkan:

  • Tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan upah sekitar 7–10% (estimasi umum model Mincer di banyak negara berkembang).
  • Namun return berbeda antar jurusan.

Contoh kontekstual:

  • Lulusan teknik & kesehatan → return tinggi
  • Lulusan bidang tertentu di ilmu sosial → return lebih bervariasi

 

Ketidakseimbangan: Mismatch Pasar Tenaga Kerja

Ada tiga bentuk mismatch:

1. Vertical Mismatch

Tingkat pendidikan lebih tinggi dari pekerjaan (over-education).

Contoh:
Sarjana bekerja sebagai admin entry-level.

2. Horizontal Mismatch

Bidang studi tidak sesuai pekerjaan.

Contoh:
Lulusan pertanian bekerja di sektor perbankan.

3. Skill Mismatch

Industri butuh soft skills & digital skills, tetapi lulusan kurang siap.

 

Karakteristik Tenaga Terdidik

Tenaga terdidik memiliki beberapa karakteristik ekonomi:

A. Produktivitas Lebih Tinggi

Mampu:

  • Menggunakan teknologi
  • Beradaptasi
  • Menghasilkan inovasi

B. Upah Lebih Tinggi

Teori Mincer:
Upah meningkat seiring tahun pendidikan dan pengalaman.

C. Elastisitas Mobilitas Tinggi

Lebih mudah berpindah sektor dan wilayah.

D. Risk-Taker dalam Inovasi

Lebih berpeluang menjadi wirausaha modern.

 

Perspektif Multi-Perspektif

Sebagai mahasiswa Ekonomi Pendidikan, kita harus melihat dari beberapa sudut.

 

Perspektif Neoklasik

  • Pasar tenaga kerja akan mencapai keseimbangan.
  • Jika kelebihan sarjana → upah turun → orang berhenti kuliah → seimbang.

Namun realitas tidak sesederhana itu.

 

Perspektif Struktural

Masalah bukan hanya individu, tetapi:

  • Kurikulum tidak relevan
  • Informasi pasar kerja tidak transparan
  • Industri kurang berkembang

 

Perspektif Institusional

Kebijakan pemerintah sangat menentukan:

  • Link and match pendidikan–industri
  • Pendidikan vokasi
  • Sertifikasi kompetensi
  • Investasi riset

 

Perspektif Sosiologis (Signaling Theory)

Ijazah tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi:

  • Berfungsi sebagai sinyal kemampuan
  • Alat seleksi dalam rekrutmen

 

Ilustrasi Sederhana dalam Grafik Konseptual

Jika:

  • Supply tenaga terdidik meningkat cepat
  • Demand tumbuh lambat

→ Terjadi surplus tenaga terdidik
→ Pengangguran terdidik naik
→ Return pendidikan menurun

Sebaliknya:

Jika:

  • Ekonomi tumbuh pesat
  • Industri padat teknologi berkembang

→ Demand naik
→ Upah naik
→ Insentif sekolah meningkat

 

Tantangan Masa Depan

Di era:

  • AI
  • Otomatisasi
  • Ekonomi digital

Permintaan bukan hanya pada gelar, tetapi pada:

  • Kompetensi
  • Adaptabilitas
  • Lifelong learning

Negara seperti:

  • Korea Selatan
    Berhasil menyelaraskan sistem pendidikan dengan industrialisasi.

Indonesia masih menghadapi tantangan:

  • Ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah
  • Kesenjangan digital
  • Dominasi sektor informal

Salam pembelajar,

Pada pekan ini materi ini adalah tentang Sumber daya manusia dalam doktrin ekonomi: konsep sumber daya manusia, identifikasi nilai SDM. Apa yang ada di pikiran kalian tentang SDM? 

Mari kita bahas bersama.

Konsep Sumber Daya Manusia dalam Doktrin Ekonomi

Evolusi Pandangan tentang SDM

A. Pandangan Klasik: Manusia sebagai Faktor Produksi

Dalam ekonomi klasik, manusia diposisikan sebagai tenaga kerja (labor), salah satu dari tiga faktor produksi:

  • Tanah (land)
  • Modal (capital)
  • Tenaga kerja (labor)

Tokoh utama:

  • Adam Smith
  • David Ricardo

Dalam karya The Wealth of Nations (1776), Adam Smith sudah menyadari bahwa keterampilan pekerja adalah bentuk “modal tetap” (fixed capital). Artinya, bahkan dalam ekonomi klasik, kualitas manusia sudah diakui bernilai ekonomi.

Namun, pada tahap ini manusia masih dipandang terutama sebagai input produksi, belum sebagai investasi strategis jangka panjang.

 

B. Revolusi Human Capital (1960-an)

Perubahan besar terjadi ketika muncul teori Human Capital.

Tokoh penting:

  • Theodore W. Schultz
  • Gary S. Becker

Mereka menyatakan:

Pendidikan, kesehatan, dan pelatihan adalah investasi yang meningkatkan produktivitas manusia.

SDM tidak lagi sekadar tenaga kerja, tetapi modal produktif yang dapat ditingkatkan nilainya melalui investasi pendidikan dan pelatihan.

 

Konsep SDM dalam Perspektif Ekonomi Modern

Dalam ekonomi modern, SDM mencakup:

  • Pengetahuan (knowledge)
  • Keterampilan (skills)
  • Kompetensi
  • Kesehatan
  • Etos kerja
  • Kreativitas dan inovasi

Secara sederhana:

SDM = Human Capital + Kompetensi Sosial + Kapasitas Adaptif

Dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), SDM bahkan lebih penting dibanding modal fisik.

Contoh empiris:

  • Negara seperti Korea Selatan dan Singapura minim sumber daya alam, tetapi unggul karena investasi besar dalam pendidikan dan pelatihan.
  • Sebaliknya, banyak negara kaya sumber daya alam mengalami “resource curse” karena kualitas SDM rendah.

 

II. Identifikasi Nilai Sumber Daya Manusia

Pertanyaan penting dalam Ekonomi Pendidikan:

Bagaimana kita mengukur nilai ekonomi manusia?

Nilai SDM dapat diidentifikasi melalui beberapa pendekatan.

 

Pendekatan Produktivitas dan Pendapatan

Cara paling umum adalah melihat:

  • Upah
  • Pendapatan seumur hidup (lifetime earnings)
  • Produktivitas tenaga kerja

Data Empirik Global

Bank Dunia menunjukkan bahwa:

  • Setiap tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan pendapatan individu rata-rata sekitar 8–10%.
  • Negara dengan rata-rata lama sekolah lebih tinggi memiliki PDB per kapita lebih besar.

Contoh kontekstual Indonesia:

  • Rata-rata upah lulusan perguruan tinggi bisa 2–3 kali lipat dibanding lulusan SD.
  • Tingkat pengangguran cenderung lebih rendah pada pendidikan menengah dan tinggi (meskipun ada fenomena mismatch).

Artinya: nilai SDM tercermin dalam return to education.

 

Pendekatan Kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dalam model pertumbuhan endogen, seperti yang dikembangkan oleh:

  • Paul Romer

SDM menjadi mesin inovasi dan pertumbuhan jangka panjang.

Model ini menjelaskan bahwa:

Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari akumulasi modal fisik, tetapi dari akumulasi pengetahuan.

Data empiris menunjukkan:

  • Negara dengan indeks pendidikan tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil.
  • Investasi pendidikan dasar dan menengah memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas nasional.

 

Pendekatan Human Development

Nilai SDM tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial.

UNDP mengembangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM/HDI), yang mencakup:

  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Pendapatan

Pendekatan ini dipengaruhi oleh pemikiran:

  • Amartya Sen

Menurut Sen:

Manusia bukan alat produksi, tetapi tujuan pembangunan itu sendiri.

Dalam perspektif ini, nilai SDM terletak pada kemampuannya menjalani kehidupan yang bermakna.

 

III. Perspektif Multi-Teoretis tentang Nilai SDM

Agar tidak terjebak dalam satu sudut pandang, mari kita lihat beberapa perspektif:

 

Perspektif Neoklasik

  • SDM adalah aset ekonomi.
  • Nilainya diukur dari produktivitas dan upah.
  • Investasi pendidikan dianalisis seperti investasi mesin.

Kelebihan:
✔ Terukur secara kuantitatif
✔ Relevan untuk kebijakan ekonomi

Kritik:
Terlalu menyederhanakan manusia menjadi faktor produksi.

 

Perspektif Sosiologis (Reproduksi Sosial)

Berargumen bahwa:

  • Pendidikan tidak selalu meningkatkan mobilitas sosial.
  • SDM dipengaruhi latar belakang keluarga dan modal sosial.

Artinya, nilai SDM tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh:

  • Jaringan sosial
  • Budaya
  • Status ekonomi keluarga

 

Perspektif Institusional

Menekankan bahwa kualitas SDM bergantung pada:

  • Sistem pendidikan
  • Tata kelola
  • Institusi pasar tenaga kerja

Contoh:

  • Negara dengan sistem pelatihan vokasi kuat (misalnya model dual system di Jerman) memiliki pengangguran muda rendah.
  • Negara dengan mismatch tinggi menunjukkan lemahnya koordinasi pendidikan dan industri.

 

IV. Masalah Aktual dalam Pengembangan SDM

Sebagai calon analis kebijakan pendidikan, saudara perlu memahami persoalan riil:

1.    Skill Mismatch

Lulusan tidak sesuai kebutuhan industri.

2.    Brain Drain

Tenaga terdidik pindah ke luar negeri.

3.    Overeducation

Pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan peluang kerja.

4.    Ketimpangan Kualitas

Perbedaan mutu sekolah kota–desa memengaruhi kualitas SDM nasional.