Kiriman dibuat oleh Eliska Bia Kusuma Putri

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Test Formatif 4

oleh Eliska Bia Kusuma Putri -
Assalamualaikum Bu, saya Eliska Bia NPM 1913024018 mohon izin menjawab Tes Formatif 4.
Kearifan lokal di Indonesia antara lain:
1. Koko dan Tattakeng di Sulawesi Selatan
sebelum diperkenalkannya pertanian seperti padi sawah, rakyat To Bentong sudah mewariskan lahan untuk para keturunannya berbentuk kebun atau Koko dan juga lading yang sudah ditinggalkan atau Tattakeng. Koko merupakan suatu lahan perladangan yang bisa diolah dengan cara berpindah. Sementara Tattakeng merupakan suatu lahan bekas perladangan yang tengah diberakan.
 
2. Moposad Dan Moduduran di Sulawesi Selatan
adalah suatu pranata mengenai tolong
menolong yang sangat penting untuk dapat menjaga sebuah
keserasian dari lingkungan sosial. Kearifan lokal ini terletak di
Bolaang Mongondow, provinsi Sulawesi Selatan.

3. Tembawai di Kalimantan Barat
adalah sebuah hutan rakyat yang juga dikembangkan oleh
rakyat Dayak Iban yang terletak di Kalimantan Barat. Didalam hutan
tersebut juga memiliki berbagai jenis tumbuhan yang produktif
seperti pohon durian.

4. Rimba Kepungan Sialang di Riau
Para masyarakat melayu telah mengenal suatu pembagian hutan
tanah yang juga terdiri atas 3 bagian, yaitu tanah perladangan, rimba larangan dan juga rimba kepungan sialang

5. Hompongan di Jambi
adalah suatu hutan belukar yang juga melingkupi suatu kawasan inti dari pemukiman Orang Rimba, atau lebih tepatnya dikawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas di provinsi Jambi. Hal
tersebut dengan sengaja dijaga ketat keberadaaannya karena memiliki fungsi menjadi suatu banteng pertahanan dari gangguan pihak dari luar.


PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Tugas Latihan 4

oleh Eliska Bia Kusuma Putri -
Assalamualaikum Bu, saya Eliska Bia NPM 1913024018 mohon izin menjawab tugas latihan 4.
Kearifan lokal di Indonesia antara lain:
1. Repong Damar di Lampung Barat, adalah model
dari pengelolaan pada suatu lahan bekas lading didalam suatu bentuk
wanatani yang kemudian dapat dikembangkan oleh masyarakat
Lampung Barat di Krui. Tradisi ini menanami lahan bekas ladang
dengan berbagai macam jenis tanaman, contohnya yaitu seperti
karet, damar, durian dan juga kopi.

2. Tembawai di Kalimantan Barat, adalah sebuah hutan rakyat yang juga dikembangkan oleh
rakyat Dayak Iban yang terletak di Kalimantan Barat. Didalam hutan
tersebut juga memiliki berbagai jenis tumbuhan yang produktif
seperti pohon durian.

3. Pamali Memancing Ikan Di Maluku Utara, adalah suatu aturan adat berupa
larangan maupun boboso. Dan pamali memancing ikan ini juga secara yurisdiksi sangat terbatas kepada adat, nilai-nilai dan juga
agama.
Akan tetapi konsep dari property right itu terbentuk dari
pranata sosial pada masyarakat yang sudah berlangsung sangat lama
didalam mengatur suatu pemanfaatan sumberdaya laut dan juga
pesisir.

4. Koko dan Tattakeng di Sulawesi Selatan, sebelum diperkenalkannya pertanian seperti padi sawah, rakyat To Bentong sudah mewariskan lahan untuk para keturunannya
berbentuk kebun atau Koko dan juga lading yang sudah ditinggalkan
atau Tattakeng. Koko merupakan suatu lahan perladangan yang bisa
diolah dengan cara berpindah. Sementara Tattakeng merupakan
suatu lahan bekas perladangan yang tengah diberakan.

5. Moposad Dan Moduduran di Sulawesi Selatan, adalah suatu pranata mengenai tolong
menolong yang sangat penting untuk dapat menjaga sebuah
keserasian dari lingkungan sosial. Kearifan lokal ini terletak di
Bolaang Mongondow, provinsi Sulawesi Selatan.

6. Pahomba di Nusa Tenggara Timur, biasa juga disebut juga dengan gugus hutan merupakan suatu tempat yang dilarang keras untuk dimasuki,
terlebih lagi dengan niatan untuk mengambil hasil hutannya. pohon-pohon di tiap pahomba tersebut memiliki fungsi menjadi pohon-pohon induk yang bisa menyebarkan benih
kedalam padang rumput yang cukup luas. Oleh sebab itu, Apabila
api tak menghangus dan mematikan anakan dari pepohonan tersebut,
proses dari perluasan hutan yang secara alamiah bisa berlangsung. Pepohonan yang ada dipahomba dan disekitaran batang sungai
memiliki fungsi menjadi suatu filter terhadap materi erosi dan juga
secara sekaligus menjadi sempadan alamiah sungan yang berguna
untuk pelestarian air sungai.

7. Ke-kean di Sumatera Selatan
Pengetahuan mengenai kekean merupakan suatu perhitungan waktu
yang sesuai untuk bisa menanam berbagai jenis tumbuhan tertentu
yang berkaitan dengan ilmu perbintangan.

8. Balingkea di Sulawesi Tengah
Balingkea adalah suatu kategori dari pandangan mengenai hutan
menurut pendapat dari orang Toro. Balingkea merupakan bekas
kebun yang umurnya mulai dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun.
Seringnya balingkea diolah untuk tumbuhan palawija yang
berbentuk ubi kayu, jagung, rica, kacang-kacangan dan juga sayur-
sayuran.

9. Rimba Kepungan Sialang di Riau
Para masyarakat melayu telah mengenal suatu pembagian hutan
tanah yang juga terdiri atas 3 bagian, yaitu tanah perladangan, rimba larangan dan juga rimba kepungan sialang.

10. Hompongan di Jambi
Hompongan adalah suatu hutan belukar yang juga melingkupi suatu
kawasan inti dari pemukiman Orang Rimba, atau lebih tepatnya
dikawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas di provinsi Jambi. Hal
tersebut dengan sengaja dijaga ketat keberadaaannya karena
memiliki fungsi menjadi suatu banteng pertahanan dari gangguan
pihak dari luar.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Diskusi 3

oleh Eliska Bia Kusuma Putri -
Assalamualaikum, Bu. Saya Eliska Bia NPM 1913024018 mohon izin menjawab diskusi 3.
Dalam membelajarkan saina berbasis etnosains guru berperan dalam menjembatani antara lingkungan/kebudayaan sekitar dengan siswa, dengan cara mendesain pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar (KD) yang diminta dan disesuaikan dengan kebudayaan/lingkungan sekitar siswa. Guru juga harus memahami dan menggali pemahamannya mengenai budaya lokal untuk dapat mendesain suatu pembelajran yang berbasis etnosains. Etnosains mendorong guru dan juga praktisi pendidikan untuk mengajarkan sains yang berlandaskan kebudayaan, kearifan lokal dan permasalahan yang ada di masyarakat, sehingga peserta didik dapat memahami dan mengaplikasikan sains yang mereka pelajari di dalam kelas dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari–hari. Implementasi pembelajaran berbasis etnosains menuntut pergeseran model pembelajaran, antara lain:
1. Dari pembelajaran berpusat guru ke pembelajaran berpusat peserta didik
2. Dari pembelajaran individual ke arah pembelajaran kolaboratif dan menekankan aplikasi pengetahuan sains
3. Kreativitas serta pemecahan masalah dalam proses merekonstruksi sains asli (pengetahuan yang berkembang di masyarakat) menjadi sains ilmiah.
Assalamualaikum, Bu. Saya Eliska abia NPM 1913024018 mohon izin menjawab tugas latihan 3.
Karena struktur kurikulum yang di kembangkan dalam Kurikulum 2013 (Permendikbud, 2013) di sekolah dasar harus bersifat holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya).
Dalam kurikulum 2013 edisi revisi, pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang.
Sehingga dalam pembelajaran, Siswa yang merupakan pewaris budaya bangsa diharapkan dapat mempelajari dan memunculkan rasa cinta pada budayanya sendiri dengan cara mengintegrasikan pengetahuan budaya dalam proses pembelajaran. Sehingga terciptalah pembelajaran bersifat holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya) serta pembelajaran menjadi lebih nyata dan bermakna bagi siswa.
Assalamualaikum, Bu. Saya Eliska Bia Kusuma Putri NPM 1913024018. Mohon izin menjawab tes formatif 3.
Pentingnya etnosains dalam pembelajaran yakni pendekatan etnosains merupakan strategi penciptaan lingkungan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintregasikan budaya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Penggunaan etnosains dalam pembelajaran IPA/Biologi diharapkan dalam pembelajaran tersebut tidak terasa abstrak, tetapi nyata, siswa dapat mengamatinya di kehidupan sehari-hari. Nilai penting etnosains dalam pembelajaran IPA kurikulum 2013 edisi revisi adalah jika etnosains diterapkan diharapkan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa dapat menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan dan kearifan lokal dengan cara mengintegrasikan pengetahuan budaya dalam proses pembelajaran. Kemudian diharapkan siswa merasa bahwa yang ia pelajari ini dekat dengan dirinya sehingga ia tidak merasa asinh dengan apa yang dipelajari dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.