Kiriman dibuat oleh Faishal Hariz Makaarim Gandadipoera Unila

ada beberapa utusan yang datang dari Indonesia Bagian Timur, untuk menyampaikan keberatannya terkait bunyi sila pertama Pancasila. Beberapa utusan tersebut diantaranya Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi, Tadjoedin Noor dan Ir. Pangeran Noor, wakil dari Kalimantan, I Ketut Pudja, wakil dari Nusa Tenggara, dan Latu Harhary, wakil dari Maluku. Menanggapi protes kecil ini, pada sidang PPKI pertama yang digelar 18 Agustus 1945, Hatta pun mengusulkan kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pengubahan kalimat itu sebelumnya telah dikonsultasikan bersama 4 tokoh islam, yakni Kasman Singodimejo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M. Hasan. Kesemua tokoh Islam ini menyetujui perubahan kalimat tersebut. Alhasil, pada penetapan rancangan pembukaan sekaligus batang tubuh UUD 1945 pada Sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia. Setelah itu, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia telah diterima oleh semua pihak dan bersifat final.

Sumber : www.kelaspintar.id

menurut saya kenapa Pancasila mengalami beberapa perubahan dalam proses pembuatannya, karena  penyampaian pendapat yang berbeda-beda pada rumusan Pancasila dan protes dari kaum muda terhadap sila pertama yang kurang adanya keberagaman beragama. 



Analisa saya mengenai tantangan di era globalisasi terhadap luturnya pemahaman generasi muda tentang nilai-nilai luhur pancasila 

Smartphone merupakan buah dari teknologi, perangkat yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari saat ini. Smartphone lahir dari  perkembangan zaman yang terus berkembang seiring jalan, namun hal tersebut juga menjadikan nilai Pancasila perlahan-lahan terkikis dan melemah di kalangan anak muda, dan dengan cepat terpengaruh oleh berbagai informasi yang sumber nya belum jelas. Banjir informasi scam bahkan dapa tmenyebabkan satu orang bertengkar dengan orang lain.

Seringnya terjadi sikap individualitas saat berkumpul di satu tempat, dimana semua orang hanya fokus pada gadget yang dimilikinya. Kalaupun ada teman di sebelahnya, mereka tetap main gadget, sama seperti tidak peduli dengan orang di sekitarnya.(literasi : https://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/PEKAN/article/download/1170/911)

Seiring perkembangan zaman di era globalisasi saat ini turut mengiringi adanya trend yang semakin dinamis dan selalu diwarnai oleh ketidakteraturan dan ketidakpastian,  memunculkan kecenderungan permasalahan baru yang semakin beragam dan multidimensional. jika seseorang tidak dapat menggunakan teknologi informasi dengan baik. Teknologi informasi berimplikasi secara langsung pada perubahan berbagai aspek kehidupan akan dapat berdampak negatif, termasuk terhadap karakter generasi muda.

(literasi : https://ppkn.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2018/08/Maryono.-STKIP-PGRI-PACITAN..pdf)


Featherstone (2001: 270) dalam bukunya Consumer Culture and Posmodernism, mengatakan fenomena kehidupan yang berkembang sekarang ini sangat destruktif bagi agama dan kebudayaan dalam kaitannya dengan penekanannya pada hedonisme, pengejaran kesenangan di sini dan saat ini (here and now) penanaman gaya hidup ekspresif, pengembangan narsistik dan tipe kepribadian egoistik. 

( literasi : https://www.kemhan.go.id/wp-content/uploads/2017/11/wirawebgabung.pdf)