Forum Analisis Jurnal 1

Forum Analisis Jurnal 1

Forum Analisis Jurnal 1

Jumlah balasan: 32

Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Yuninda Putri -
Yuninda Putri
2113053045

Dari jurnal PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL dapat disimpulkan bahwa Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh ICHA KURNIA PUTRI -
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
Prodi : PGSD

Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isuisu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. karakteristik keempat negara itu berbeda, khususnya jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai.
Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh KIKI LIEONI WIDODO -
Nama: Kiki Lieoni Widodo
NPM: 2113053005
Kelas : 3C

Izin menganalisis jurnal berjudul Pendidikan Nilai dan Moral Ditinjau dari Perspektif Global
Revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi menghadirkan sejumlah kemudahan untuk melakukan aktivitas kehidupan di segala bidang. Kerjasama dalam bidang ekonomi, politik,kebudayaan dan mili- ter dijalin tanpa dibatasi oleh jarak antarwilayah negara.
1.Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
Di bawah ini akan dibahas isu pen- didikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malay- sia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda.
a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.Menurut Sudar- minta (dikutip S. Belen, 2004: 9), praktik yang terjadi mengenai sistem pendidikan nasional era Orde Baru terutama pendidikan nilai hanya mampu menghasilkan berbagai sikap dan peri- laku manusia yang nyata-nyata malah bertolak belakang dengan apa yang diajarkan.
b. India
Pendidikan nilai di India dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004: 230).
c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya.
d. Cina
Pendidikan di cina memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memicu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas pada anak.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas berikut dijelaskan bahwa :
a. Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai moral dalam kaitannya dan perkembangan dengan pendidikan anak. Pembahasan itu ditolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak. Pada dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; di- kutip Muhaimin, 2001: 215).
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik pada anak.
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh miftahu rahman -
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
Kelas : 3 C
Dari analisis jurnal yang telah saya lakukan dengan judul Pendidikan nilai dan moral ditinjau dari perspektif global

Pendidikan nilai dan moral merupakan suatu tuntutan yang harus dimiliki dalam dunia global hal ini digunakan untuk memiliki wawasan pemikiran kedepan dan mampu membaca peluang dan tantangan global. Menurut sastrapratedja (dalam k.kaswardi,1993:3) menyatakan bahwa menjadikan sebuah negara yg berpredikat ganda,tidak hanyak memerlukan keterampilan, dan teknologi tetapi juga memerlukan aspek lainnya seperti pendidikan nilai dan moral. Dalam hal ini pendidikan nilai dan moral perlu penanaman dan pengembangan nilai dalam diri seseorang baik nilai personal maupun nilai sosial.
Isu pendidikan nilai dan moral dibeberapa negara. Ternyata permasalahan pendidikan nilai dan moral bukan juga terjadi di Indonesia tetapi diberbagai dunia yang hampir memiliki persoalan dan permasalahannya nilai dan moral yang terjadi dan memiliki persamaan dan perbedaan seperti yang terjadi di negara Malaysia,cina, dan India. Hal ini terjadi karena masing-masing negara memiliki ideologi yang digunakan sebagai pedoman untuk negaranya, nilai moral pada jenjang pendidikan berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara. Empat negara tersebut dihadapkan oleh berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai dan moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun tidak. Pendidikan nilai dan moral selain dalam mata pelajaran yang diajarkan disekolah juga diajarkan dalam pendidikan agama dan PPKN, Sehingga dalam untuk menanggulangi permasalahan ini berbagai negara dapat saling membantu dan mendukung sebagai manusia yang memiliki moral kepada sesama bangsa.

Dapat dikatakan bahwa pendidikan nilai moral ialah sebagai jalan alternatif untuk pemecah masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional hal ini yang menyebabkan perlu nya penanaman pendidikan karakter pada siswa mulai dari sekolah dasar agar memiliki nilai dan moral yang baik untuk terjun dalam lingkungan masyarakat yang membawa dampak bagi kehidupannya. Dan konsep pendidikan yang telah dilakukan oleh ahli bernama kohlberg dan John p.miller yang cenderung bersifat dividualistik dan perlu nya penyempurnaan dengan mempertimbangkan kembali paradigma yang dikemukakan oleh capra sehingga dalam mengimplementasikan hal itu diperlukannya strategi pendidikan nilai dan moral. Pendidikan nilai dan moral menjadi hal yang penting untuk ditanamkan untuk menjadi manusia yang berkarakter baik dan mampu membawa perubahan, memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh negara bahkan global tentang nilai dan moral.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Diah Widianingsih -
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171

Analisis Jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”

Setiap negara memilikilatar belakang dan ideologi yang berbeda-beda. Misalnya Indonesia merupakan negara Pancasila dan mayoritas masyarakatnya Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai yang universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Perbedaan perbedaan tersebut sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai pada ke-4 negara tersebut.
Pendidikan nilai di Negara Indonesia sejatinya belum melalui proses pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global dan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.
Sedangkan pendidikan nilai di india lebih popular dari 4 negara tersebut . Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Untuk sekolah swasta, baik dalam komunitas Kristen maupun Muslim , nilai agama menjadi prioritas pengembangan nilai. Tidak seperti sekolah negeri nilai agama ditempatkan dalam rentang nilai yang mencakup kebenaran untuk semua.
Pendidikan nilai di Malaysia Pendidikan nilai di negara malaysia yang dilakukan di SD dikembangkan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai tidak langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.

Meski sudah konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih terdapat hambatan.
Pada negara Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Beberapa tantangan pendidikan nilai di Cina taitu banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai. Untuk mengatasi tantangan tersebut pemerintah cina memberikan solusi yaitu salah satunya pendidikan moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan diajarkan sekali dalam seminggu.
Penerapan pendidikan nilai tersebut pada 4 negara memiliki persamaan dan juga perbedaan hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan ideologi pada setiap negara.
Para ahli berbendapat bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelompoknya. Dengan demikian, perkembangan moral dipahami sebagai suatu internalisasi langsung norma-norma budaya eksternal.
Kohlberg mengenai tahap-tahap perkembangan moral memiliki kelemahan di mana tahap ke-5 kurang memiliki bukti empiris dan tahap ke-6 tidak memiliki bukti empiris. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam implementasikannya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
Pendidikan nilai dan moral pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan. Demikian pula, banyak sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasinya. Pengaplikasian pendidikan nilai dan moral dapat dilaksananan dengan metode langsung dan tidak langsung
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh HASNI SEPTIANI -
Nama : Hasni Septiani
Npm :2113053097
Kelas :3 C
Prodi : PGSD
Izin memberikan hasil analisi jurnal 1

Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar . Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat relatif.

Anak yang sedang tumbuh dan berkembang dapat dilatih untuk berperilaku dengan cara sedemikian rupa sehingga ia dapat menyesuai-kan diri dengan berbagai aturan dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya. Aturan dan nilai-nilai di masyarakat tentunya nilai-nilai universal dan nilai-nilai lokal yang baik, yakni nilai lokal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal, sedangkan nilai-nilai negatif misalnya radikalisme harus dilakukan tindakan pencegahan sehingga tidak terjadi di lingkungan masyarakat, karena nilai radikalisme itu bertentangan dengan nilai universal dan nilai lokal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.

Piaget dengan menetapkan enam tingkat pertimbangan moral yang relatif tidak bergantung pada umur. Penetapan tingkat perkembangan moral ini di-dasarkan pada karakteristik empiris Tidak ada tahap-tahap terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi. Artinya, tingkat pemikiran moral yang tinggi telah tercakup dan menguasai tahap-tahap dan pola pikir.
Struktur tingkat pertimbangan moral berfungsi melahirkan kecenderungan ke arah tahapan-tahapan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, suatu pilihan yang ditetapkan seseorang dalam suatu situasi yang di-hadapi disebut isi pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan suatu pilihan berdasarkan pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral .

Laki-laki dalam penalaran moral tentang keadilan mendasarkan pada prinsip, perlu belajar menjadi orang yang memiliki kasih sayang di samping bertindak adil. Sebaliknya, wanita yang memiliki sifat kasih sayang perlu belajar mengintegrasikan moralitas personal dan institusional dalam prinsip-prinsip moral yang konsisten. Meskipun demikian tawaran pemikiran moral Kohlberg tetap memberikan sumbangan pemikiran yang berguna dalam kajian moral yang antara lain berintikan pandangan hidup sistem dan keutuhan.

Ia mengamati perubahan yang berlangsung terus menerus yang merupakan sebuah titik balik dalam peradaban manusia yang mewakili tumbuhnya kesadaran baru dalam kehidupan yang sarat nilai . Tesis Capra lebih menekankan bahwa setiap peradaban manusia akan melahirkan kesadaran baru dalam kehidupan yang sarat nilai. Oleh karena itu, ada dua hal esensial menghadapi peradaban manusia, yaitu lahirnya kesadaran baru, dan kehidupan sarat nilai. Pendidikan nilai moral adalah pen-didikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi.

Pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya, ia memandang hidupnya sebagai suatu proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut. Dengan kata lain, ia memiliki kesadaran terhadap per-ubahan perkembangan yang mesti di-alami. Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Resti Umi Melinda -
Nama : Resti Umi Melinda
NPM : 2113053058
Kelas: 3C

Analisis jurnal 1
Dari jurnal PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL dapat disimpulkan bahwa Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan manusia sebagai wujud kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara dengan berbagai masalah. Ada banyak masalah, seperti terorisme global dan krisis multidimensi, yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara sendiri karena harus melakukannya sehingga membutuhkan dukungan negara lain. Pendidikan nilai moral adalah salah satu alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Tentunya pendidikan nilai moral disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing negara berdasarkan ideologi yang dianutnya.

Isu Pendidikan nilai dan morlal telah menjadi isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan China) dan memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan tersebut dihasilkan dari ideologi negara yang berbeda. Namun, negara-negara tersebut menekankan nilai moral pendidikan nilai-nilai etika moral, khususnya nilai-nilai yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang bersifat universal dan global. Konsep pendidikan nilai moral yang diusulkan oleh Kohlberg dan Miller cenderung individualistis. Oleh karena itu, perludilengkapi dengan memperhatikan paradigma yang dikemukakan oleh Capra bahwa manusia hidup dibangun atas dasar pandangan hidup yang sistemik dan holistik, yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya diperlukan pendekatan yang tepat dan metode dan teknik yang relevan. Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik. Pendekatan pendidikan nilai moral termasuk menanamkan, memberi contoh, memfasilitasi, dan pendekatan pengembangan keterampilan, dan metode tersebut meliputi metode dogmatis, deduktif, induktif, dan reflektif.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Winda.l eriska -
Nama : Winda eriska
Npm : 2113053079
Kelas : 3C

Izin menganggapi jurnal 1 yang berjudul
PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Isu pendidikan yang dihadapi setiap negara pastinya berbeda yakni :

1. Indonesia
Yang mana masih belum banyak pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama.

2. Malaysia dihadapkan pada beberapa kendala. Di antaranya, nilai masih banyak diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif, sehingga kurang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan menentukan nilai, alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, khususnya
untuk mengembangkan teknik-teknik pengamatan perilaku, belum terjabarkan dengan jelas, cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi.

3. Cina
dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting.

Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan
atau kebenaran, estetis, teknologis atau bijak.
jadi pendidikan moral merupakan jalan keluar dari masalah sosial yang harus diajarkan oleh pendidik sejak sekolah tingkat rendah supaya bisa tumbuh menjadi generasi yang bisa beradaptasi dengan lingkungan masyarakat yang tentu didalam ada berbagai masalah, karakter dan sifat-sifat beraneka raga
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Fitri Cahya Karnain -
Nama : Fitri Cahya Karnain
Npm : 2153053034
Kleas : 3C

Aalisi jurnal 1
Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat Negara: Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. karakteristik keempat negara itu berbeda, khususnya jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai.
2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a.Teori Perkembangan Moral
Pada dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215).
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan Nilai Moral Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5)
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh JESSICA.AMELIA21 JESSICA.AMELIA21 -
Nama : Jessica Amelia Putri
Npm : 2113053029

1. Isu Pendidikan Nilai dan Moral di Beberapa Negara
1. Indonesia
2. India
3. Malaysia'
4. Cina
Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindak- an yang umumnya diyakini oleh ang- gota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; di- kutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat relatif. Para ahli lain me- mandang bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelom- poknya.
Pertimbangan moral adalah penilai- an mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua pe- nilaian mengenai baik dan benar me- rupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru me- rupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian ter- hadap kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal, in- klusif, konsisten, dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan mo- ral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai se- suatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu me- milih dan menetapkan nilai-nilai de- ngan disertai alasan mengapa sese- orang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.

Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pen- didikan yang berusaha mengembang- kan komponen-komponen integrasi pri- badi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepri- badian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terinte- grasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan.Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan ber- negara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya di- butuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme glo- bal, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh MUTIA RAHMA AULIA -
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136

Hasil analisis jurnal diatas dengan judul: Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global.

A. Indonesia Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global.
B. India
Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan
sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara
khusus dikembangkan melalui satu
sudut pandangan agama.
C. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung pendidikan
nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara
langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kurikuler.
D. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan.

Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan
dan kesamaan. Perbedaan yang ada
disebabkan oleh adanya perbedaan
ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan
penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh REZA FITRIYANI -
Nama : Reza Fitriyani Sari
Npm : 2113053094

Analisis jurnal 1
Di bawah ini akan dibahas isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Indonesia merupakan negara
Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik.

Di sisi lain, keseluruhan kurikulum sekolah berfungsi sebagai suatu sumber penting pendidikan nilai. Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping kesediaan peserta didik itu sendiri. Nilai-nilai itu dapat diterima peserta didik melalui kedua metode tersebut, baik yang sudah dirancang dalam kurikulum maupun nilai yang terkandung di dalam kurikulum sebagai hiddent curriculum. ditekankan dalam pendidikan nilai adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh yang melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pada dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal.
Tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional. Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik.

terimakasih
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh ERMA TITIS NIKMAH -

Nama: Erma Titis Nikmah

Npm: 2153053014

Hasil analisis dari jurnal diatas yaitu karena aspek sistem nilai merupakan bagian tunggal dari aspek afeksi , maka pendidikan nilai merupakan komponen pendidikan afeksi .Daftar lengkap faktor - faktor efektif meliputi biaya berbisnis , minat , motivasi, sikap , sistem nilai, dan keyakinan. Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai implementasi hidup bersama berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. 

Pendidikan nilai moral juga alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam implementasikannya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai. 

Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global. 

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Dhea Ajeng Pradana -
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277

Analisis saya mengenai jurnal diatas yang berjudul “Pendidikan Nilai Moral di Tinjau dari Perspektif Global” yaitu bahwasanya Pendidikan nilai moral merupakan sebuah tuntutan atau pondasi manusia dalam menjalani kehidupan sebagai perwujudan kebrsamaan dalam hal bangsa dan negara. Di setiap negara tentunya memiliki permasalahan yang berbeda, baik dalam hal politik, ekonomi, iedologi atau bahkan dalam bidang pendidikan. Di lihat dari perspektif global mengenai pendidikan banyak sekali isu-isu pendidikan mengenai pendidikan nilai, seperti di Indonesia, India, Malaysia dan Cina. Keempat negara tersebut memiliki perssamaan dan perbedaan dalam pendidikan nilai moral yang dilaksanakan. Hal ini dikarenakan setiap negara memiliki ideologi yang berbeda juga. Namun, pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan persamaan, yaitu adanya fokus pendidikan nilai moral tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tat hidup berbangsa dan bernegara.

Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama sama dihdapkan pada berbagai persoalan, baik pendidikan nilai moral ya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun tidak. Akan tetapi, pendidikan nilai moral ini pada hakikatnya inheren dalam setiap mata pelajaran.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh ADELBERTUS GADING ANANTA PUTRA -
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023

Izin untuk memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”

Pendidikan nilai-nilai moral merupakan syarat sekaligus kebutuhan manusia sebagai perwujudan persatuan bangsa dan suku dengan berbagai persoalannya. Banyak masalah, seperti terorisme global dan krisis multi dimensi, tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja karena dibutuhkan negara lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pendidikan nilai-nilai moral merupakan alternatif dari permasalahan lokal, regional, nasional dan internasional. Hal ini telah menjadi isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India dan China) dan memiliki perbedaan serta persamaan tertentu.

Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller memiliki kecenderungan ke arah individualisme. Oleh karena itu, konsep tersebut perlu disempurnakan dengan mempertimbangkan model yang diajukan oleh Capra. Selain itu, dalam proses implementasinya diperlukan strategi pendidikan nilai etika yang tepat melalui pemilihan pendekatan(approach), metode (methods) dan teknik (skills) yang tepat.

Dengan adanya pendidikan nilai dan moral yang diberikan sejak dini diharapkan isu-isu global seperti di atas dapat berkurang atau mungkin dapat teratasi. Kerjasama antar negara juga diperlukan dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut. Itulah penting nya Pendidikan moral sejak dini sehingga karakter serta akhlak seseorang bisa terbentuk kearah yang baik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh SHERLITA NUR AZIZAH -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya izin memperkenalkan diri:
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C

Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Pendidikan nilai dan moral merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan manusia sebagai wujud kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara dalam mengatasi berbagai masalah. Contohnya seperti terorisme global dan krisis multidimensi, yang dimana keduanya tidak dapat diselesaikan oleh satu negara sehingga membutuhkan dukungan negara lain. Pendidikan nilai dan moral adalah salah satu alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Hal tersebut telah menjadi isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan China) yang memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan tersebut dihasilkan dari ideologi negara yang berbeda. Namun, negara-negara tersebut menekankan pada pendidikan nilai-nilai etika moral, khususnya nilai-nilai yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang bersifat universal dan global. Konsep pendidikan nilai dan moral yang diusulkan oleh Kohlberg dan Miller cenderung individualistis. Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan memperhatikan paradigma yang dikemukakan oleh Capra bahwa manusia hidup dibangun atas dasar pandangan hidup yang sistemik dan holistik, yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya diperlukan pendekatan, metode dan teknik yang tepat dan relevan. Yang termasuk pendekatan pendidikan nilai dan moral yaitu menanamkan, memberi contoh, memfasilitasi, dan lain sebagainya. Sedangkan metodenya meliputi metode dogmatis, deduktif, induktif, dan reflektif.

Sekian, terimakasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Annisa Salsabina Rahmadhani -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memberikan tanggapan analisis mengenai jurnal PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSFEKTIF GLOBAL

Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C

Kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksitas mengemukan dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isu-isu global, seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi menghadirkan sejumlah kemudahan untuk melakukan aktivitas kehidupan di segala bidang. Kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan mili- ter dijalin tanpa dibatasi oleh jarak antarwilayah negara. Era baru tidak serta-merta menjanjikan kehidupan manusia yang lebih baik dengan ditandai munculnya sebuah buku karya Samuel Huntington (1997) dari Universitas Harvard The Clash of Civilizations (Benturan Peradaban).

Sastrapratedja (dalam K. Kaswardi, 1993: 3) menyatakan bahwa untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda seperti itu, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pe- ngembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etika moral. Nilai yang dicetuskan UNESCO 1993 diuraikan dalam dua gagasan yang saling berseberangan, yaitu nilai standar (terukur) secara material dan nilai yang abstrak dan sulit diukur yang berupa keadilan, kejujuran,
kebebasan, kedamaian, dan persamaan (Mulyana, 2004: 8). Di samping itu, sis- tem nilai merupakan sekelompok nilai yang saling berkaitan, saling menguatkan dan tidak terpisahkan, seperti nilai-nilai yang bersumber dari agama atau tradisi humanistik.

Dimensi pendidikan nilai dan moral :
1. Teori perkembangan moral yakni, Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh ang- gota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat relatif.
2. Pendidikan Nilai Moral, yakni Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembang- kan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepri- badian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertum- buhan dan perkembangan.
3. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
4. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai MoralUntuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Farida Julia Saputri -
Nama : Farida Julia Saputri
NPM : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1

Berikut hasil analisis jurnal menurut saya mengenai “ Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global “ bahwa isuu pendidikan nilai moral di beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis.

A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh nilai universal-objektif.

B. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial,dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagaikekuatan dalammembangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004: 230).

C. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler. Silabus pendidikan nilai untuk sekolah dasar berupa kebersihan badan dan pikiran, empati, sikap tidak berlebihan, bersyukur, rajin, jujur, adil, kasih sayang, hormat, keharmonisan sosial, kesederhanaan, dan kebebasan.

D. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung
oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Pendidikan nilai moral merupakan
tuntutan dan sekaligus kebutuhan
pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan
berbagai permasalahan yang bersifat
luas, kompleks, dan mendunia.

Terimakasih
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh NEGI TITIN WIDYANINGTIUS -
Nama : Negi titinwidyaningtius
NPM : 2113053167
Kelas : 3C

Menurut pendapat saya berdasarkan hasil analisis jurnal yang berjudul pendidikan nilai dan moral ditinjau dari aspek perspektif global yaitu dalam pendidikan nilai dan moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Dalam penyelesaian permasalahan penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasiona Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh IRMANDA FRAHANI -
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C

Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Menurut pendapat saya mengenai jurnal diatas yaitu:
Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global.
Menurut Sudarminta (dikutip S. Belen, 2004: 9), praktik yang terjadi mengenai sistem pendidikan nasional era Orde Baru ─terutama pendidikan nilai─hanya mampu menghasilkan berbagai sikap dan perilaku manusia yang nyata-nyata malah bertolak belakang dengan apa yang diajarkan. Dicontohkan bagaimana pen-
didikan Moral Pancasila (PMP) dan agama─dua jenis mata pelajaran tata nilai─yang ternyata tidak berhasil menanamkan sejumlah nilai moral dan humanisme ke dalam pusat kesadaran siswa.

Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan si-
kap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain, pendidikan agama lebih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama
dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.

B. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama.

C. China
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan
akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas.

Tampaknya, pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara tersebut (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena masing-masing negara memiliki ideologi yang berbeda.

Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.
a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215).

Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian terhadap kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal, inklusif, konsisten, dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.


B. Pendidikan nilai moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.

d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya.
Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik.

pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161).

Terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Niken Azzahra -
Nama : niken azzahra
Npm : 2153053032
Kelas :3c

Izin memberikan analisis jurnal Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indo- nesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demi- kian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama da- lam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
Pertimbangan moral adalah penilai- an mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua pe- nilaian mengenai baik dan benar me- rupakan pertimbangan moral
Struktur pertimbangan mo- ral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai se- suatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu me- milih dan menetapkan nilai-nilai de- ngan disertai alasan mengapa sese- orang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.
Penetap- an tingkat perkembangan moral ini di- dasarkan pada karakteristik empiris yang memiliki beberapa ciri pokok beri- kut. (1) Tahap-tahap pertimbangan mo- ral tersusun secara utuh, artinya sistem berpikirnya terorganisasi.
(2) Tahap pertimbangan moral berurutan secara invarian dan tidak pernah terbalik da- lam semua kondisi (kecuali mereka yang mengalami trauma secara ekstrem perkembangannya selalu progresif). Tidak ada tahap-tahap terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi.
(3) Tahap-tahap pertim- bangan moral terintegrasi secara hierar- kis.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Putri ristamarin 2053054009 -
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Putri ristamarin
Npm : 2013053185
Kelas : 3C

Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Menurut pendapat saya mengenai jurnal diatas yaitu:
Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global.
Menurut Sudarminta (dikutip S. Belen, 2004: 9), praktik yang terjadi mengenai sistem pendidikan nasional era Orde Baru ─terutama pendidikan nilai─hanya mampu menghasilkan berbagai sikap dan perilaku manusia yang nyata-nyata malah bertolak belakang dengan apa yang diajarkan. Dicontohkan bagaimana pen-
didikan Moral Pancasila (PMP) dan agama─dua jenis mata pelajaran tata nilai─yang ternyata tidak berhasil menanamkan sejumlah nilai moral dan humanisme ke dalam pusat kesadaran siswa.

Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan si-
kap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain, pendidikan agama lebih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama
dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.

B. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama.

C. China
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan
akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas.

Tampaknya, pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara tersebut (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena masing-masing negara memiliki ideologi yang berbeda.

Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.
a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215).

Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian terhadap kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal, inklusif, konsisten, dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.


B. Pendidikan nilai moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.

d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya.
Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh LAELA NUR VAZRIYAH -
Nama : Laela nur vazriyah
NPM : 2113053186
Kelas. : 3C

Izin untuk memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”

Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.

Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun
banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah
krisis multidimensional.

Pendidikan nilai atau moral ini menjadi
isu global di beberapa negara yaitu seperti Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Kempat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa
dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India
merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai.
1. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh nilai universal-objektif.
2. Malaysia
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004:230).
3. India
Meski cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih dihadapkan pada beberapa kendala. Di antaranya, (a) nilai masih banyak diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif, sehingga kurang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan menentukan nilai, (b) alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, khususnya untuk mengembangkan teknik-teknik pengamatan perilaku, belum terjabarkan dengan jelas, (c) cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan (d) pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi (Mujlyana, 2004:237).
4. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang
besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh WAHANA TRI ADHASARI -
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209

Analisis Jurnal 1
PENDIDIKAN NILAI MORAL
DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Pendidikan nilai atau moral sebagai
isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina)
menampakkan adanya perbedaan
dan kesamaan. Perbedaan yang ada
disebabkan oleh adanya perbedaan
ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan
penekanan pendidikan nilai moral
pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi
manusia, universal, dan global.

Pada dasarnya pendidikan nilai moral merupakan Suatu tuntutan dan merupakan kebutuhan Pada tatanan global bagi umat manusia agar dapat hidup bersama, berbangsa, dan ber-
negara dalam hubungannya dengan
tatanan global yang diwarnai dengan
berbagai permasalahan yang bersifat
luas, kompleks, dan mendunia. Sehingga dengan adanya pendidikan nilai dan moral secara tingkah dan prilaku manusia dalam bernegara dapat sesuai dengan kaidah-kaidah masyarakat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Farhan Iqbal Pratama -
Nama: Farhan Iqbal Pratama
NPM: 2113053196
Kelas: 3C

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat sore Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL” oleh Sudiati.

Kita ketahui bahwasannya saat ini manusia sudah hidup di zaman yang semakin modern dengan segala kemajuannya. Kehidupan saat ini sudah semakin kompleks yang ditandai dengan banyaknya muncul isu-isu global yang berkaitan dengan manusia itu sendiri, seperti pelanggaran HAM, kekerasan, penyalahgunaan narkotika dan masih banyak lagi. Selain itu, perkembangan dan revolusi teknologi yang semakin maju dan pastinya tidak dapat dihindari oleh manusia membuat dunia seakan tanpa batas yang dapat mengancam nilai dan moral suatu bangsa. Hal ini dapat dibuktikan dengan akses internet yang sangat mudah dan tanpa batas membuat anak bangsa penasaran sehingga tak jarang ditemukan anak mengakses situs dewasa berbau pornografi. Oleh karena itu, penting bagi kita secara pribadi untuk membentengi diri sehingga nilai dan moral yang sudah baik pada diri kita tidak mudah terkontaminasi oleh pengaruh luar yang dapat melunturkan hal itu.

Berdasarkan jurnal, dibahas mengenai isu terkait pendidikan nila moral di beberapa negara. Hal ini menjadi sorotan utama karena banyak negara yang warga negaranya mengalami kemerosotan nilai dan moral. Berikut beberapa negara beserta isu pendidikan nilai dan moralnya.
a. Indonesia
Pendidikan nilai dan moral di Indonesia belum banyak diterapkan secara penuh karena pemaknaan terhadap pendidikan nilai moral masih memerlukan perbaikan. Terdapat kelemahan pendidikan agama masih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama melalui hafalan teks yang kurang menyentuh aspek sosial terkait ajaran hidup di masyarakat (Afiyah dkk., 2003).

b. India
Pendidikan nilai di India lebih populer dibandingkan di negara-negara lain. Hal ini dikarenakan di India pendidikan nilai tidak dicampur dengan pendidikan agama sehingga penanaman nilai diutamakan dalam membangun karakter tanpa melupakan esensi dari pendidikan agama.

c. Malaysia
Di Malaysia, pendidikan nilai dilakukan mulai dari sekolah dasar dengan pengembangannya yang secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung melalui mata pelajaran agama, sedangkan secara tidak langsung melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dan kegiatan kokurikuler. Meski cukup konsisten dalam penerapannya, pendidikan nilai di Malaysia masih dihadapkan dengan kendala, seperti pendidik belm sepenuhnya peduli dalam mencatat pelaporan pembelajaran nilai secara konsisten, pandangan gureu, siswa dan orang tua yang masih memandang kognisi lebih penting dari afeksi.

d. Cina
Pendidikan nilai dan moral di Cina dikembangkan berdasarkan tradisi masyarakat Cina. Di beberapa sekolah di Cina, masih terdapat kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan dengan apa yang benar-benar terjadi dalam proses pendidikannya.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, diketahui bahwa pendidikan nilai moral di Indonesia, India, Malaysia, dan Cina masih memiliki beberapa kendala yang memang perlu untuk dibenahi. Pendidikan nilai dan moral ternyata memang sangat penting untuk dilaksanakan karena mengingat keterbukaan akibat globalisasi membuat kemerosotan moral bangsa. Oleh karena itu, untuk mengatasi kemerosotan moral tersebut, pendidikan nilai dan moral ada sebagai alternatif pemecahan masalah moral bangsa.

Sebagai generasi penerus bangsa, mari kita bersama-sama memaknai bahwa dengan perkembangan dunia dan teknologi yang kian maju sehingga kita bisa mengakses apa saja melalui gadget kita sendiri, kita harus dapat memfilter apa-apa saja yang kita perlukan untuk dilihat, disimak, dan didengar. Selain itu, kita juga harus paham betul untuk tidak terpengaruh bahkan terlena dengan hal-hal negatif dari kecanggihan IPTEK.

Sekian analisis jurnal 1 dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh RAFITRI PRIHATINI -
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 2113053133
Kelas: 3C

Izin memberikan analisis pada jurnal yang berjudul "Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global"

Setelah saya membaca jurnal diatas, dapat saya analis bahwa pendidikan nilai moral merupakan alternatif dalam pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Pendidikan nilai moral menjadi tuntutan dan kebutuhan masyarakat pada tatanan global sebagai pengejawantahan dalam hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.

Pendidikan nilai moral menjadi salah satu isu global di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India, dan Cina yang menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Walaupun ada perbedaan-perbedaan tersebut, negara-negara ini tetap memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral, terutama dalam nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.

Nilai moral bersifat relatif, hal ini dilihat dari pengertian nilai moral menurut Berkowitz yaitu nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai sesuatu yang salah ataupun benar. Kohlberg merumuskan 6 tahap tingkat pertimbangan moral, yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan, orientasi instrumental relatif, menjaga sikap baik, orientasi hukum dan ketertiban, orientasi kontrak sosial legalitas, dan orientasi prinsip kewajiban.

Pendidikan nilai moral dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu inculcating, modelling, faciliating, dan skill development. Pendekatan-pendekatan ini dapat di pilih sesuai dengan nilai moral seperti apa yang akan diterapkan dan dikembangkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh WIRANTO OKTAVIAN -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012

Disini saya akan memberikan hasil analisis saya dari jurnal diatas mengenai "Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global"

Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global

Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
-Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia, disadari atau tidak, tidak ada hubungannya dengan pemberdayaan dan penyadaran dalam perspektif global. Isu peningkatan pendidikan dalam rencana pendidikan nasional dan lokal sedang berlangsung dan belum selesai.

-India
Pendidikan nilai tampaknya lebih populer di India daripada di negara lainnya. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dirancang untuk meningkatkan kesadaran ilmiah, sosial dan nilai-nilai kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui
perspektif agama. Hal ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan pembentuk bangsa, tetapi berarti menempatkan pendidikan yang bernilai atas dasar pemahaman nilai-nilai agama yang universal.

-Malaysia
Pendidikan nilai di malaysia dilaksanakan di sekolah dasar dan perkembangannya bersifat langsung dan tidak langsung. Pendidikan nilai diajarkan secara langsung melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai tidak secara langsung dikembangkan melalui beberapa mata pelajaran lain seperti agama.

-Cina
Dalam tradisi china, pendidikan erat kaitannya dengan kewajiban moral. Tradisi ini menghargai pengajaran sebagai bagian penting dari pendidikan. Namun, pendidikan nilai menghadapi tantangan berikut dalam perkembangannya. Harapan masyarakat dan orang tua terhadap kemampuan akademik siswa dapat mengarah pada fokus pada peningkatan kemampuan akademik, yang kemudian mengarah pada perubahan perkembangan emosional, emosional, dan moral. Meskipun sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk membentuk kepribadian siswa, hal itu tidak difasilitasi oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Banyak guru tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan yang berharga.

Jadi, dapat disimpilkan bahwa pendidikan nilai adalah pendidikan yang wajib dan sekaligus diperlukan dalam tatanan dunia bagi kemanusiaan sebagai perwujudan koeksistensi, sebagai bangsa dan negara dalam kaitannya dengan tatanan dunia, yang memiliki berbagai masalah yang luas. dan kompleks. dan bersifat global. Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India dan China) menunjukkan perbedaan dan persamaan. perbedaan muncul dari perbedaan ideologi nasional. Namun, negara-negara tersebut mementingkan pendidikan nilai-nilai moral. terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang bersifat manusiawi, universal dan global.

Sekian terima kasih
wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh KADEK ELI -
Nama : Kadek Eli
Npm : 2113053117
Kelas : 3c

Berdasarkan jurnal yang berjudul PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL banyak sekali isu isu terkait pendidikan nilai dan moral di beberapa negara. Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh Pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Selain itu dibeberapa negara seperti india, cina, dan malaysia. Oleh karenanya pendidikan nilai dan moral menjadi penting untuk tatanan global dan pendidikan nilai dan moral menjadi salah satu alat untuk memecahkan masalah baik secara global ataupun internasional.Namun perlu kita tau bahwa konsep pendidikan moral memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang ada.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh WAHYU RINGGIT KUNCORO -
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
NPM : 2113053254
Kelas : 3C

Izin menberikan hasil analisis saya terkait jurnal “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”
berdasarkan jurnal yang saya baca saya menganalisis bahwa kehidupan manusia pada zaman sekarang ini menjadi semakin kompleks. Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isu - isu global yang sering terjadi, seperti pelanggaran HAM dan kekerasan yang banyak terjadi. Hal ini menuntut adanya pemikiran yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang cocok untuk menjawab permasalahan tersebut. Pendidikan nilai moral menjadi alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional dan internasional. Pendidikan nilai moral sebagai isu global di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India dan China menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara - negara tersebut memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral, terutama dalam hal nilai - nilai yang bersifat asasi, manusiawi, universal dan global.

Terima Kasih.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh IKA SAEFITRI -
Nama: Ika Saefitri
Npm: 2113053099
Kelas: 3C

Analisis Jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL”

Setiap negara memilikilatar belakang dan ideologi yang berbeda-beda. Misalnya Indonesia merupakan negara Pancasila dan mayoritas masyarakatnya Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai yang universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Perbedaan perbedaan tersebut sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai pada ke-4 negara tersebut.
Pendidikan nilai di Negara Indonesia sejatinya belum melalui proses pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global dan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.
Sedangkan pendidikan nilai di india lebih popular dari 4 negara tersebut . Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Untuk sekolah swasta, baik dalam komunitas Kristen maupun Muslim , nilai agama menjadi prioritas pengembangan nilai. Tidak seperti sekolah negeri nilai agama ditempatkan dalam rentang nilai yang mencakup kebenaran untuk semua.
Pendidikan nilai di Malaysia Pendidikan nilai di negara malaysia yang dilakukan di SD dikembangkan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai tidak langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.

Meski sudah konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih terdapat hambatan.
Pada negara Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Beberapa tantangan pendidikan nilai di Cina taitu banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai. Untuk mengatasi tantangan tersebut pemerintah cina memberikan solusi yaitu salah satunya pendidikan moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan diajarkan sekali dalam seminggu.
Penerapan pendidikan nilai tersebut pada 4 negara memiliki persamaan dan juga perbedaan hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan ideologi pada setiap negara.
Para ahli berbendapat bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelompoknya. Dengan demikian, perkembangan moral dipahami sebagai suatu internalisasi langsung norma-norma budaya eksternal.
Kohlberg mengenai tahap-tahap perkembangan moral memiliki kelemahan di mana tahap ke-5 kurang memiliki bukti empiris dan tahap ke-6 tidak memiliki bukti empiris. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam implementasikannya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Zahara Ameliani Putri -
Nama: Zahara Ameliani Putri
Npm: 2113053197
Kelas: 3C

Dari jurnal PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL dapat disimpulkan bahwa Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh DWI OKTAVIANINGSIH -
Nama : Dwi Oktavianingsih
Npm : 2113053208

Setelah membaca jurnal yang berjudul “PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL” dapat saya simpulkan bahwa perkembangan zaman yang semakin canggih merupakan faktor utama yang menyebabkan masyarakat memiliki pola pikir baru sebagai bentuk penyesuaian dengan kondisi yang ada. Hal ini tentu saja membuat kehidupan manusia semakin kompleks yang ditandai dengan banyaknya permasalahan baru yang muncul bahkan hampir terjadi pada semua aspek kehidupan. misalnya dalam HAM, banyak konflik pelanggaran Hak Asasi Manusia berupa kekerasan, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba dan masih banyak lainnya. maslah-masalah yang ada tidak bisa dibiarkan begitu saja harus ada cara untuk mengatasi dan meminimalisisr faktor yang menyebabkan masalah tersebut. Pemerintah sebagai lembaga nasional negara memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan sistem pendidikan yang khususnya pendidikan nilai dan moral yang sesuai guna menjawab permasalahan yang ada.

Sebagai negara berkembang Indonesia harus bisa mencontoh hal-hal positif yang dilakukan oleh negara maju didunia seperti bagaimana pengamalan yang baik tentang pendidikan nilai dan moral misalnya pada negara Eropa, dimana negara tersebut sudah mengamalkan pendidikan nilai dan moral sejak berakhirnya perang dunia ke II. Menurut usulan Capra, dapat dipahami bahwa sistem kehidupan manusia, baik secara lokal maupun internasional perlu diwujudkan dengan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan kebaikan. Sedangkan klasifikasi nilai menurut UNESCO dibagi menjadi 2 yaitu nilai standar secara material dan nilai abstrak yang sulit diukur. Pendidikan nilai dan moral juga disebut sebagai isu global di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India dan Cina. Di Indonesia pendidikan nilai belum menyentuh pemberdayaan kesadaran pada perspektif global. Padahal jika dilihat dari latar belakannya, Indonesia merupakan negara islam terbesar di dunia. Hal ini terjadi karena setiap negara memiliki ideologi masing-masing yang tidak bisa disamaratakan.

Sedangkan di India pendidikan nilai memiliki populer yang tinggi dibandingkan dengan negara lainnya karena dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan nilai ilmiah. Berbeda dengan India, Malaysia melakukan pendidikan nilai di sekolah dasar dengan dua sistem pengembangan. Sedangkan dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan yang erat dengan kewajiban moral. Sehingga Cina menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian yang dalam peraturan pendidikan. Dari keempat negara tersebut yang menjalankan pendidikan nilai dan moral memiliki kesamaan dan perbedaan satu sama lain. Hal ini terjadi karena setiap negara memiliki ideologi masing-masing yang tidak bisa disamaratakan. Namun dari empat negara tersebut kita bisa belajar bahwa setiap pendidikan nilai dan moral yang ada pasti akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang muncul. Oleh karena itu setiap negara memiliki cara masing-masing dalam mengatasi persoalan tersebut.