FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL
Arif nurrohman_2105101004_d3 teknik mesin
Intisari:
...Penyikapan yang dilakukan pemerintahan Orba tentu bertentangan dengan kodrat dan kondisi Indonesia yang selama ini dianugerahi sebagai suatu bangsa yang plural....
...B. Identitas dan Integrasi Nasional Di masa awal Indonesia merdeka, identitas nasional yang ditandai oleh bentuk fisik dan kebijakan umum seluruh rakyat Indonesia (di antaranya adalah bersama dengan Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Bahasa Indonesia, dan seterusnya)....
...Identitas Dibuatkan suatu yang selesai dan final, tetapi merupakan suatu kondisi yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang selalu dikembangkan, dan keadaan yang dinegosiasi terus-menerus, sehingga wujudnya akan selalu tergantung dari proses yang membentuknya....
Intisari:
...Penyikapan yang dilakukan pemerintahan Orba tentu bertentangan dengan kodrat dan kondisi Indonesia yang selama ini dianugerahi sebagai suatu bangsa yang plural....
...B. Identitas dan Integrasi Nasional Di masa awal Indonesia merdeka, identitas nasional yang ditandai oleh bentuk fisik dan kebijakan umum seluruh rakyat Indonesia (di antaranya adalah bersama dengan Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Bahasa Indonesia, dan seterusnya)....
...Identitas Dibuatkan suatu yang selesai dan final, tetapi merupakan suatu kondisi yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang selalu dikembangkan, dan keadaan yang dinegosiasi terus-menerus, sehingga wujudnya akan selalu tergantung dari proses yang membentuknya....
In reply to ARIF NURROHMAH
Re: FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL
NAMA: IBRA WANDA FEBRIAN
NPM: 2105101010
KELAS: D3 TEKNIK MESIN
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks. Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas.
Lapis-lapis identitas itu tergantung pada
peran-peran yang dijalankan, keadaan
objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula
dari cara menyikapi keadaan dan peran
tersebut.
Intergrasi Nasional Versus Otonomi
Daerah
Seperti telah dideskripsikan pada
pembahasan terdahulu bahwa integrasi
nasional pada dasarnya memuat makna
penyatuan visi dan misi suatu bangsa dari
perbedaan kepentingan masing-masing
anggota masyarakat. Konsep integrasi
nasional pada dasarnya sejalan kondisi
Indonesia pada saat ini. Ketika terjadi
konflik antar-etnik, konflik antar-daerah,
konflik antar-agama, konflik antar-partai
politik, konflik antar-pelajar, serta sejumlah
konflik kepentingan lain yang hingga saat ini
masih terus-menerus melanda Indonesia.
NPM: 2105101010
KELAS: D3 TEKNIK MESIN
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks. Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas.
Lapis-lapis identitas itu tergantung pada
peran-peran yang dijalankan, keadaan
objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula
dari cara menyikapi keadaan dan peran
tersebut.
Intergrasi Nasional Versus Otonomi
Daerah
Seperti telah dideskripsikan pada
pembahasan terdahulu bahwa integrasi
nasional pada dasarnya memuat makna
penyatuan visi dan misi suatu bangsa dari
perbedaan kepentingan masing-masing
anggota masyarakat. Konsep integrasi
nasional pada dasarnya sejalan kondisi
Indonesia pada saat ini. Ketika terjadi
konflik antar-etnik, konflik antar-daerah,
konflik antar-agama, konflik antar-partai
politik, konflik antar-pelajar, serta sejumlah
konflik kepentingan lain yang hingga saat ini
masih terus-menerus melanda Indonesia.
In reply to First post
Re: FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL
Randika Adi Saputra
2105101007
D3 Teknik Mesin
Salah satu kesalahan Orba selama memegang kendali pemerintahan, adalah penerapan politik pemerintahan yang sentralistik, sebagai bentuk peredaman atas munculnya aksi separatis dari daerah-daerah. Ide dan gagasan dari daerah diusahakan untuk diredam, serta setiap aksi daeri daerah ditanggapi dengan sikap otoriter-represif. Penyikapan yang dilakukan pemerintahan Orba tentu bertentangan dengan kodrat dan kondisi Indonesia yang selama ini dianugerahi sebagai suatu bangsa yang plural. Ia terdiri dari beratus-ratus pulau, bahasa, dan sukubangsa. Pluralitas sebagai kekayaan yang tiada tara bagi sebuah bangsa, justru tidak dikelola dengan baik. Ia dianggap sebagai bentuk gerakan politik yang lebih menekankan identitas kedaerahan, dan dianggap sebagai musuh terciptanya stabilitas bangsa. Maka, Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini. Era Reformasi yang tidak memiliki platform secara jelas, justru menimbulkan ketidakmenentuan dan kekacauan. Acuan kehidupan bernegara (gevernance) dan kerukunan sosial (social harmony) menjadi berantakan dan menumbuhkan ketidakpatuhan sosial (social disobedience). Dari sinilah tergambar tentang tindakan anarkis, pelanggaran moral, pelanggaran etika, dan meningkatnya kriminalitas secara kasat mata. Kondisi tersebut terus belarut-larut hingga hari ini, dan kesimpulannya tak menghasilkan solusi. Di kala hal ini berkepanjangan dan tidak jelas sampai kapan krisis akan berakhir, para pengamat hanya bisa mengatakan bahwa bangsa kita adalah “bangsa yang sedang sakit”, suatu kesimpulan yang tidak menawarkan solusi. Untuk itulah diperlukan, suatu strategi kebudayaan nasional senyampang sejak kemerdekaan hingga hari ini negeri ini belum memiliki adanya strategi kebudayaan.
2105101007
D3 Teknik Mesin
Salah satu kesalahan Orba selama memegang kendali pemerintahan, adalah penerapan politik pemerintahan yang sentralistik, sebagai bentuk peredaman atas munculnya aksi separatis dari daerah-daerah. Ide dan gagasan dari daerah diusahakan untuk diredam, serta setiap aksi daeri daerah ditanggapi dengan sikap otoriter-represif. Penyikapan yang dilakukan pemerintahan Orba tentu bertentangan dengan kodrat dan kondisi Indonesia yang selama ini dianugerahi sebagai suatu bangsa yang plural. Ia terdiri dari beratus-ratus pulau, bahasa, dan sukubangsa. Pluralitas sebagai kekayaan yang tiada tara bagi sebuah bangsa, justru tidak dikelola dengan baik. Ia dianggap sebagai bentuk gerakan politik yang lebih menekankan identitas kedaerahan, dan dianggap sebagai musuh terciptanya stabilitas bangsa. Maka, Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini. Era Reformasi yang tidak memiliki platform secara jelas, justru menimbulkan ketidakmenentuan dan kekacauan. Acuan kehidupan bernegara (gevernance) dan kerukunan sosial (social harmony) menjadi berantakan dan menumbuhkan ketidakpatuhan sosial (social disobedience). Dari sinilah tergambar tentang tindakan anarkis, pelanggaran moral, pelanggaran etika, dan meningkatnya kriminalitas secara kasat mata. Kondisi tersebut terus belarut-larut hingga hari ini, dan kesimpulannya tak menghasilkan solusi. Di kala hal ini berkepanjangan dan tidak jelas sampai kapan krisis akan berakhir, para pengamat hanya bisa mengatakan bahwa bangsa kita adalah “bangsa yang sedang sakit”, suatu kesimpulan yang tidak menawarkan solusi. Untuk itulah diperlukan, suatu strategi kebudayaan nasional senyampang sejak kemerdekaan hingga hari ini negeri ini belum memiliki adanya strategi kebudayaan.
Nama : Anggie Alendra Pratama
Npm : 2105101005
Prodi : D3 Teknik Mesin
Negara dan bangsa Indonesia, sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini telah mempunyai sejumlah pengalaman. Di antara sejumlah pengalaman itulah, bangsa Indonesia mengalami berbagai perubahan azas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai perubahan azas dan idiologi tersebut, menciptakan disintegrasi dan instabilisasi nasional. Perubahan dari Orde Lama (Orla) ke Orde Baru (Orba) ditandai dengan pemberontakan PKI 30 September 1965 hingga lahirlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Saat itu, PKI menjadi satu-satunya kelompok yang dituduh sebagai dalang yang melakukan kudeta pada tanggal 30 Oktober 1965 tersebut. Akibatnya, PKI tidak saja terdepak dari konstelasi politik (baik di kabinet maupun di parlemen), Namun para mahasiswa dan pelajar melalui KAMMI DAN KAPPI di bawah kendali Soeharto berusaha menghancurkan PKI seakar-akarnya.
Setelah Orba mampu berkuasa selama 32 tahun, akhirnya digantikan Pemerintahan Reformasi. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini. Era Reformasi yang tidak memiliki platform secara jelas, justru menimbulkan ketidakmenentuan dan kekacauan.
Di masa awal Indonesia merdeka, identitas nasional ditandai oleh bentuk fisik dan kebijakan umum bagi seluruh rakyat Indonesia (di antaranya adalah penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Bahasa Indonesia, dan seterusnya). Identitas adalah representasi diri seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Dengan demikian, identitas adalah produk kebudayaan yang berlangsung demikian kompleks.
Npm : 2105101005
Prodi : D3 Teknik Mesin
Negara dan bangsa Indonesia, sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini telah mempunyai sejumlah pengalaman. Di antara sejumlah pengalaman itulah, bangsa Indonesia mengalami berbagai perubahan azas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai perubahan azas dan idiologi tersebut, menciptakan disintegrasi dan instabilisasi nasional. Perubahan dari Orde Lama (Orla) ke Orde Baru (Orba) ditandai dengan pemberontakan PKI 30 September 1965 hingga lahirlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Saat itu, PKI menjadi satu-satunya kelompok yang dituduh sebagai dalang yang melakukan kudeta pada tanggal 30 Oktober 1965 tersebut. Akibatnya, PKI tidak saja terdepak dari konstelasi politik (baik di kabinet maupun di parlemen), Namun para mahasiswa dan pelajar melalui KAMMI DAN KAPPI di bawah kendali Soeharto berusaha menghancurkan PKI seakar-akarnya.
Setelah Orba mampu berkuasa selama 32 tahun, akhirnya digantikan Pemerintahan Reformasi. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini. Era Reformasi yang tidak memiliki platform secara jelas, justru menimbulkan ketidakmenentuan dan kekacauan.
Di masa awal Indonesia merdeka, identitas nasional ditandai oleh bentuk fisik dan kebijakan umum bagi seluruh rakyat Indonesia (di antaranya adalah penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Bahasa Indonesia, dan seterusnya). Identitas adalah representasi diri seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Dengan demikian, identitas adalah produk kebudayaan yang berlangsung demikian kompleks.
In reply to First post
Re: FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL
Nama: Surya Jonathan Sagala
NPM: 2105101001
Prodi: D3 Teknik Mesin
Sepertinya dari analisa saya tentang jurnal ini di masa Orde Baru identitas masyarakat terlalu di kekang, dan pada saat masa orde baru runtuh lalu masuk ke zaman Reformasi masyarakat mulai mengepakkan sayap identitasnya dan lupa tujuan zaman reformasi tersebut. Karena Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas.
Tapi menurut saya sistem Orde Baru mencegah perpecahan identitas di masyarakat, sebab jika seseorang tersebut memiliki pola pikir Etnosentrisme maka akan ada kesenjangan sosial antar etnik. Setiap lini masyarakat memiliki identitas entah itu (adat,budaya, agama, ras dll) masing masing, dari hal tersebut tidak bisa di pungkiri menjadikan persoalan dalam bermasyarakat oleh sebab itu harus ada pemersatu dari banyaknya keberagaman tersebut.
Integrasi pada dasarnya menyatukan lintas identitas untuk satu kepentingan bersama. Identitas sebagai sarana pembentukan pola pikir masyarakat diperlukan adanya suatu kesadaran nasional yang dipupuk dengan menanamkan gagasan nasionalisme dan pluralisme.
Jadi kita harus mulai menyadari integrasi nasional, karena bagaimana bangsa akan melangkah jika tujuan tidak ada.
karena masyarakat terlalu menjunjung identitas masing-masing sampai lupa negara Indonesia adalah negara beragam identitas, bisa jadi membantu kekurang identitas masing-masing. Apa salahnya saling berbaur antar identitas hal tersebut tidak merugikan bahkan menguntungkan.
NPM: 2105101001
Prodi: D3 Teknik Mesin
Sepertinya dari analisa saya tentang jurnal ini di masa Orde Baru identitas masyarakat terlalu di kekang, dan pada saat masa orde baru runtuh lalu masuk ke zaman Reformasi masyarakat mulai mengepakkan sayap identitasnya dan lupa tujuan zaman reformasi tersebut. Karena Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas.
Tapi menurut saya sistem Orde Baru mencegah perpecahan identitas di masyarakat, sebab jika seseorang tersebut memiliki pola pikir Etnosentrisme maka akan ada kesenjangan sosial antar etnik. Setiap lini masyarakat memiliki identitas entah itu (adat,budaya, agama, ras dll) masing masing, dari hal tersebut tidak bisa di pungkiri menjadikan persoalan dalam bermasyarakat oleh sebab itu harus ada pemersatu dari banyaknya keberagaman tersebut.
Integrasi pada dasarnya menyatukan lintas identitas untuk satu kepentingan bersama. Identitas sebagai sarana pembentukan pola pikir masyarakat diperlukan adanya suatu kesadaran nasional yang dipupuk dengan menanamkan gagasan nasionalisme dan pluralisme.
Jadi kita harus mulai menyadari integrasi nasional, karena bagaimana bangsa akan melangkah jika tujuan tidak ada.
karena masyarakat terlalu menjunjung identitas masing-masing sampai lupa negara Indonesia adalah negara beragam identitas, bisa jadi membantu kekurang identitas masing-masing. Apa salahnya saling berbaur antar identitas hal tersebut tidak merugikan bahkan menguntungkan.
Nama : Rasyid Jaya Wardana
Npm : 2105101011
prodi : D3 Teknik Mesin
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks. Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas.
Lapis-lapis identitas itu tergantung pada
peran-peran yang dijalankan, keadaan
objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula
dari cara menyikapi keadaan dan peran
tersebut.Identitas bukanlah suatu yang selesai
dan final, tetapi merupakan suatu kondisi
yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang
selalu diperbaharui, dan keadaan yang
dinegosiasi terus-menerus, sehingga
wujudnya akan selalu tergantung dari proses
yang membentuknya. Seperti halnya
identitas kita pada saat ini, menunjukkan
gambaran yang tidak tunggal tetapi sangat
plural. Pluralitas pada perkembangan saat ini
tidak lagi hanya dibatasi pada perbedaan
etnis, profesi, latar belakang pendidikan,
serta asal usul daerah. Pluralitas pada
perkembangan saat ini justru lebih menunjuk
pada persoalan kepentingan-kepentingan.
Seseorang bisa berbeda dengan orang lain,
bukan lantaran dia berasal dari etnis yang
berbeda, profesi yang berbeda, latar belakang
pendidikan yang berbeda, bahkan asal asul
daerah yang berbeda. Kepentingan masing-
masing oranglah yang kemudian menyatukan
identitas tersebut.
Npm : 2105101011
prodi : D3 Teknik Mesin
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks. Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas.
Lapis-lapis identitas itu tergantung pada
peran-peran yang dijalankan, keadaan
objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula
dari cara menyikapi keadaan dan peran
tersebut.Identitas bukanlah suatu yang selesai
dan final, tetapi merupakan suatu kondisi
yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang
selalu diperbaharui, dan keadaan yang
dinegosiasi terus-menerus, sehingga
wujudnya akan selalu tergantung dari proses
yang membentuknya. Seperti halnya
identitas kita pada saat ini, menunjukkan
gambaran yang tidak tunggal tetapi sangat
plural. Pluralitas pada perkembangan saat ini
tidak lagi hanya dibatasi pada perbedaan
etnis, profesi, latar belakang pendidikan,
serta asal usul daerah. Pluralitas pada
perkembangan saat ini justru lebih menunjuk
pada persoalan kepentingan-kepentingan.
Seseorang bisa berbeda dengan orang lain,
bukan lantaran dia berasal dari etnis yang
berbeda, profesi yang berbeda, latar belakang
pendidikan yang berbeda, bahkan asal asul
daerah yang berbeda. Kepentingan masing-
masing oranglah yang kemudian menyatukan
identitas tersebut.
gabriel sitorus 2105101017
menurut saya sistem Orde Baru mencegah perpecahan identitas di masyarakat, sebab jika seseorang tersebut memiliki pola pikir Etnosentrisme maka akan ada kesenjangan sosial antar etnik. Setiap lini masyarakat memiliki identitas entah itu (adat,budaya, agama, ras dll) masing masing, dari hal tersebut tidak bisa di pungkiri menjadikan persoalan dalam bermasyarakat oleh sebab itu harus ada pemersatu dari banyaknya keberagaman tersebut.
Integrasi pada dasarnya menyatukan lintas identitas untuk satu kepentingan bersama. Identitas sebagai sarana pembentukan pola pikir masyarakat diperlukan adanya suatu kesadaran nasional yang dipupuk dengan menanamkan gagasan nasionalisme dan pluralisme.
Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini
menurut saya sistem Orde Baru mencegah perpecahan identitas di masyarakat, sebab jika seseorang tersebut memiliki pola pikir Etnosentrisme maka akan ada kesenjangan sosial antar etnik. Setiap lini masyarakat memiliki identitas entah itu (adat,budaya, agama, ras dll) masing masing, dari hal tersebut tidak bisa di pungkiri menjadikan persoalan dalam bermasyarakat oleh sebab itu harus ada pemersatu dari banyaknya keberagaman tersebut.
Integrasi pada dasarnya menyatukan lintas identitas untuk satu kepentingan bersama. Identitas sebagai sarana pembentukan pola pikir masyarakat diperlukan adanya suatu kesadaran nasional yang dipupuk dengan menanamkan gagasan nasionalisme dan pluralisme.
Orba yang lebih menekankan pada persoalan stabilitas pembangunan, cenderung tidak memberi ruang adanya politik identitas. Ketika Era Reformasi mulai membuka kran demokrasi dan peluang besar daerah mengembangkan sistem desentralisasi, maka sejumlah daerah diberi kebebasan untuk membangun dan mengatur dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan demokrasi ternyata justru memberi gambaran buram terhadap kondisi bangsa ini
Nama:Zainal Arifin
Npm:2105101013
Kelas :D3 Teknik Mesin
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks.Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas. Dengan demikian, di satu sisi
identitas akan terbentuk berdasarkan
kemauan kita sendiri, sedangkan di sisi lain
identitas akan sangat tergantung dari
kekuatan-kekuatan objektif yang terjadi di
sekitar yang mengharuskan kita untuk
meresponsnya. Pada suatu sisi integrasi terbentuk
kalau ada identitas yang mendukungnya
seperti kesamaan bahasa, kesamaan dalam
nilai sistem budaya, kesamaan cita-cita
politik, atau kesamaan dalam pandangan
hidup atau orientasi keagamaan. Integrasi nasional terjadi juga akibat
terbentuknya kelompok-kelompok yang
dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik
yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun
sosial. Misalnya, kelompok pedangang kaki
lima (PKL) membentuk jaringan mereka
ketika menghadapi Perda yang dikeluarkan
Pemda atau ketika mereka harus
menghadapai operasi Satpol PP. Demi
kepentingan tersebut, seorang PKL yang
beretnik Minang akan bersatu dengan PKLPKL beretnik lain. Singkat kata, integrasi
pada dasarnya menyatukan lintas identitas
untuk satu kepentingan bersama.
.Seperti telah dideskripsikan pada
pembahasan terdahulu bahwa integrasi
nasional pada dasarnya memuat makna
penyatuan visi dan misi suatu bangsa dari
perbedaan kepentingan masing-masing
anggota masyarakat. Konsep integrasi
nasional pada dasarnya sejalan kondisi
Indonesia pada saat ini. Ketika terjadi
konflik antar-etnik, konflik antar-daerah,konflik antar-agama, konflik antar-partai
politik, konflik antar-pelajar, serta sejumlah
konflik kepentingan lain yang hingga saat ini
masih terus-menerus melanda Indonesia.
dikaruniai alam yang elok dengan
iklim subtropis yang bersahabat
dan tanah yang subur. Ia adalah negara
dengan 17.504 pulau, 1.068 suku bangsa,
dan memiliki sedikitnya 665 bahasa daerah.
Indonesia juga kaya dengan spesies langka.
Baik flora maupun fauna. Ada mamalia,
kupu-kupu, reptil, burung, unggas, dan
amfibi yang berjumlah lebih dari 3.025
spesies. Tumbuhan yang hidup di Indonesia
berjumlah sekitar 47.000 spesies atau setara
dengan 12 persen dari seluruh spesies
tumbuhan di dunia. Bahkan, dalam bidang
seni dan budaya terdapat sedikitnya 300 gaya
tari tradisional dari Sabang sampai
Merauke.
Merujuk sejumlah deskripsi yang
telah diuraikan pada pembahasan terdahulu
maka dapat dikatakan bahwa integrasi
nasional adalah jalan keluar untuk
menghadapi yang hingga saat ini masih
terus-menerus melanda Indonesia. Konflik
antar-etnik, konflik antar-daerah, konflik
antar-agama, konflik antar-partai politik,
konflik antar-pelajar, serta sejumlah konflik
kepentingan lain semestinya tidak perlu
terjadi kalau masing-masing pelaku konflik
menyadari bahwa pluralitas bangsa
Indonesia sudah menjadi sebuah
keniscayaan.
Npm:2105101013
Kelas :D3 Teknik Mesin
Identitas adalah representasi diri
seseorang atau masyarakat melihat dirinya
sendiri dan bagaimana orang lain melihat
mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya.
Dengan demikian, identitas adalah produk
kebudayaan yang berlangsung demikian
kompleks.Identitas dilihat dari aspek waktu
bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak
semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi
yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek
ruang juga bukan hanya satu atau tunggal,
tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas. Dengan demikian, di satu sisi
identitas akan terbentuk berdasarkan
kemauan kita sendiri, sedangkan di sisi lain
identitas akan sangat tergantung dari
kekuatan-kekuatan objektif yang terjadi di
sekitar yang mengharuskan kita untuk
meresponsnya. Pada suatu sisi integrasi terbentuk
kalau ada identitas yang mendukungnya
seperti kesamaan bahasa, kesamaan dalam
nilai sistem budaya, kesamaan cita-cita
politik, atau kesamaan dalam pandangan
hidup atau orientasi keagamaan. Integrasi nasional terjadi juga akibat
terbentuknya kelompok-kelompok yang
dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik
yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun
sosial. Misalnya, kelompok pedangang kaki
lima (PKL) membentuk jaringan mereka
ketika menghadapi Perda yang dikeluarkan
Pemda atau ketika mereka harus
menghadapai operasi Satpol PP. Demi
kepentingan tersebut, seorang PKL yang
beretnik Minang akan bersatu dengan PKLPKL beretnik lain. Singkat kata, integrasi
pada dasarnya menyatukan lintas identitas
untuk satu kepentingan bersama.
.Seperti telah dideskripsikan pada
pembahasan terdahulu bahwa integrasi
nasional pada dasarnya memuat makna
penyatuan visi dan misi suatu bangsa dari
perbedaan kepentingan masing-masing
anggota masyarakat. Konsep integrasi
nasional pada dasarnya sejalan kondisi
Indonesia pada saat ini. Ketika terjadi
konflik antar-etnik, konflik antar-daerah,konflik antar-agama, konflik antar-partai
politik, konflik antar-pelajar, serta sejumlah
konflik kepentingan lain yang hingga saat ini
masih terus-menerus melanda Indonesia.
dikaruniai alam yang elok dengan
iklim subtropis yang bersahabat
dan tanah yang subur. Ia adalah negara
dengan 17.504 pulau, 1.068 suku bangsa,
dan memiliki sedikitnya 665 bahasa daerah.
Indonesia juga kaya dengan spesies langka.
Baik flora maupun fauna. Ada mamalia,
kupu-kupu, reptil, burung, unggas, dan
amfibi yang berjumlah lebih dari 3.025
spesies. Tumbuhan yang hidup di Indonesia
berjumlah sekitar 47.000 spesies atau setara
dengan 12 persen dari seluruh spesies
tumbuhan di dunia. Bahkan, dalam bidang
seni dan budaya terdapat sedikitnya 300 gaya
tari tradisional dari Sabang sampai
Merauke.
Merujuk sejumlah deskripsi yang
telah diuraikan pada pembahasan terdahulu
maka dapat dikatakan bahwa integrasi
nasional adalah jalan keluar untuk
menghadapi yang hingga saat ini masih
terus-menerus melanda Indonesia. Konflik
antar-etnik, konflik antar-daerah, konflik
antar-agama, konflik antar-partai politik,
konflik antar-pelajar, serta sejumlah konflik
kepentingan lain semestinya tidak perlu
terjadi kalau masing-masing pelaku konflik
menyadari bahwa pluralitas bangsa
Indonesia sudah menjadi sebuah
keniscayaan.
Nama :Aji Avandi Mulqi
Npm : 2105101002
integrasi terbentuk
kalau ada identitas yang mendukungnya
seperti kesamaan bahasa, kesamaan dalam
nilai sistem budaya, kesamaan cita-cita
politik, atau kesamaan dalam pandangan
hidup atau orientasi keagamaan.4
Pada pihak
lain, integrasi yang lebih luas hanya
mungkin terbentuk apabila sekelompok
orang menerobos identitasnya dan
mengambil jarak dari segala yang selama ini
dianggap membentuk watak dirinya atau
watak kelompoknya. Dengan demikian ia
meninggalkan identitasnya, yang kemudian
membuka kemungkinan untuk pembentukan
integrasi yang lebih luas.
Integrasi nasional terjadi juga akibat
terbentuknya kelompok-kelompok yang
dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik
yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun
sosial. Misalnya, kelompok pedangang kaki
lima (PKL) membentuk jaringan mereka
ketika menghadapi Perda yang dikeluarkan
Pemda atau ketika mereka harus
menghadapai operasi Satpol PP. Demi
kepentingan tersebut, seorang PKL yang
beretnik Minang akan bersatu dengan PKL-
PKL beretnik lain. Singkat kata, integrasi
pada dasarnya menyatukan lintas identitas
untuk satu kepentingan bersama.
Npm : 2105101002
integrasi terbentuk
kalau ada identitas yang mendukungnya
seperti kesamaan bahasa, kesamaan dalam
nilai sistem budaya, kesamaan cita-cita
politik, atau kesamaan dalam pandangan
hidup atau orientasi keagamaan.4
Pada pihak
lain, integrasi yang lebih luas hanya
mungkin terbentuk apabila sekelompok
orang menerobos identitasnya dan
mengambil jarak dari segala yang selama ini
dianggap membentuk watak dirinya atau
watak kelompoknya. Dengan demikian ia
meninggalkan identitasnya, yang kemudian
membuka kemungkinan untuk pembentukan
integrasi yang lebih luas.
Integrasi nasional terjadi juga akibat
terbentuknya kelompok-kelompok yang
dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik
yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun
sosial. Misalnya, kelompok pedangang kaki
lima (PKL) membentuk jaringan mereka
ketika menghadapi Perda yang dikeluarkan
Pemda atau ketika mereka harus
menghadapai operasi Satpol PP. Demi
kepentingan tersebut, seorang PKL yang
beretnik Minang akan bersatu dengan PKL-
PKL beretnik lain. Singkat kata, integrasi
pada dasarnya menyatukan lintas identitas
untuk satu kepentingan bersama.