jelaskan 1 yang anda ketahui pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya !
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Rifki Ardiansyah NPM 2053033006. Izin menjawab pertanyaan yang bapak berikan tentang 1 pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya.
Bidang Politik
Awal abad ke-20 adalah zaman baru yang disebut sebagai zaman pergerakan. Istilah pergerakan ini meliputi segala macam aksi-aksi yang dilakukan oleh bumiputra menuju perbaikan hidup untuk bangsa Indonesia. Pergerakan terjadi karena masyarakar bumiputra merasakan ketidakpuasan atas kondisi keterjajahan, baik oleh imperialisme tua (zaman Oost Indische Compagnie) maupun imperialisme baru yaitu sesudahnya timbulnya kapitalisme modern pada perempat pertama abad ke-19 M (Fikiran Ra‟jat: 1919, 154-155).
Snouck Hurgronje (1995, 2163) melukiskan bahwa sudah berabad-abad lamanya orang pribumi merasa dirinya kurang dibandingkan dengan seluruh manusia ras lain. Hal ini diperparah dengan kelaliman para penguasa di negeri sendiri yang kemudian dimanfaatkan oleh orang Eropa yang datang untuk kepentingannya sendiri. Masyarakat Jawa merasa dirinya ditindas oleh berbagai alat kekuasaan bangsa Eropa dan kesewenang-wenangannya. Selanjutnya, sikap kekurang mandirian orang Jawa semakin lama semakin menunjukkan titik paling lemah.
Pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
Bidang Budaya
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Namun dalam pengertian selanjutnya rijsttafel lebih dikenal sebagai hidangan nasi. Rijsttafel ini merupakan salah satu wujud dari adanya kebudayaan Indis. Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Kuliner yang hadir di tengah-tengah meja makan para elite di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) terdiri dari berbagai macam jenis. Dari sinilah mulai disajikan masakan-masakan baru yang merupakan hasil dari penyesuaian resep asli Barat dan Cina dengan selera dan juga lidah orang Jawa. Makanan itu seperti bakmi, sup, bestik, bergedel (frikadel), sosis (sausage), dan lain sebagainya. Masakan-masakan tersebut biasanya disajikan dalam jamuan rijsttafel.
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bidang Politik
Awal abad ke-20 adalah zaman baru yang disebut sebagai zaman pergerakan. Istilah pergerakan ini meliputi segala macam aksi-aksi yang dilakukan oleh bumiputra menuju perbaikan hidup untuk bangsa Indonesia. Pergerakan terjadi karena masyarakar bumiputra merasakan ketidakpuasan atas kondisi keterjajahan, baik oleh imperialisme tua (zaman Oost Indische Compagnie) maupun imperialisme baru yaitu sesudahnya timbulnya kapitalisme modern pada perempat pertama abad ke-19 M (Fikiran Ra‟jat: 1919, 154-155).
Snouck Hurgronje (1995, 2163) melukiskan bahwa sudah berabad-abad lamanya orang pribumi merasa dirinya kurang dibandingkan dengan seluruh manusia ras lain. Hal ini diperparah dengan kelaliman para penguasa di negeri sendiri yang kemudian dimanfaatkan oleh orang Eropa yang datang untuk kepentingannya sendiri. Masyarakat Jawa merasa dirinya ditindas oleh berbagai alat kekuasaan bangsa Eropa dan kesewenang-wenangannya. Selanjutnya, sikap kekurang mandirian orang Jawa semakin lama semakin menunjukkan titik paling lemah.
Pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
Bidang Budaya
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Namun dalam pengertian selanjutnya rijsttafel lebih dikenal sebagai hidangan nasi. Rijsttafel ini merupakan salah satu wujud dari adanya kebudayaan Indis. Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Kuliner yang hadir di tengah-tengah meja makan para elite di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) terdiri dari berbagai macam jenis. Dari sinilah mulai disajikan masakan-masakan baru yang merupakan hasil dari penyesuaian resep asli Barat dan Cina dengan selera dan juga lidah orang Jawa. Makanan itu seperti bakmi, sup, bestik, bergedel (frikadel), sosis (sausage), dan lain sebagainya. Masakan-masakan tersebut biasanya disajikan dalam jamuan rijsttafel.
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin memperkenalkan diri nama saya Alifian Faridz Ramadhan NPM 2053033001. Izin menjawab pertanyaan yang bapak berikan tentang 1 pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya.
Dalam Bidang Politik:
Hampir semua elit aristokrat Jawa memainkan politik simbolis, terutama setelah raja-raja Vorstenlanden kehilangan wilayah konsentris mereka. Sultan Agung dan elit aristokrat Kasunanan menggunakan Islam dan budaya Jawa sebagai simbol kekuatan politik, meskipun dalam praktiknya tidak lebih sebagai sebuah politik budaya Jawa atau politik simbolis. Ketika Sultan Agung gagal dalam penyerbuan di Batavia, implikasinya adalah tumbuh gerakan-gerakan faksional politik di pesisir utara Jawa. Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Kemudian Sultan Agung mengeluarkan tiga kebijakan penting: (1) Kerajaan Mataram sebagai pusat islamisasi di Jawa, (2) Islam sebagai kekuatan untuk mengatasi persoalanpersoalan sosial politik dan sosial ekonomi yang sedang dihadapi Sultan Agung, dan (3) Islam merupakan panduan etika dan moral bagi budaya masyarakat Jawa (Ricklefs, 1998: 469-482).
Tiga kebijakan di atas dapat ditafsirkan sebagai keinginan Sultan Agung untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan pasca penyerbuan di Batavia, serta keinginan untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan kaum ulama (Mas‟ud, 2004: 55-58). Hampir seluruh raja di Keraton Kasunanan memainkan politik simbolis, dan basis politik simbolis itu berakar pada agama Islam. Memainkan politik simbolis merupakan implikasi dari ketidakberdayaan mereka menghadapi hegemoni kolonial, dan politik simbolis justru meneguhkan otoritas sunan. Dia sudah tidak memiliki kekuasaan apapun, tetapi sunan mengolah otoritas itu dengan mendirikan madrasah dan sekolah umum, serta memberikan keterampilan masyarakat untuk meningkatkan akses mobilitas ekonomi masyarakat.
Dalam Bidang Budaya:
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung dijadikan sebagai suatu identitas. Makanan juga dapat mendefinisikan dari golongan manakah seseorang berasal. Hal ini juga mempengaruhi penyajian makanan di Vorstenlanden. Rijsttafel yang tidak hanya terbatas pada orang-orang Eropa, tetapi juga masyarakat Jawa khususnya para elite Jawa, juga dijadikan sebagai identitas sosial. Peralatan makan juga menjadi hal yang penting dalam jamuan makan. Peralatan makan yang digunakan dalam rijsttafel biasanya menunjukkan mewahnya jamuan makan ini.Material yang digunakan untuk peralatan makan juga tidak sembarangan. Bagi orang Belanda, penggunaan material peralatan makan ini juga mendefinisikan tingkat kekayaan. Orang Belanda biasanya menggunakan peralatan makan yang terbuat dari perak, kristal, atau emas.Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa. Walau memiliki pola pemikiran Barat dan terbiasa dengan apapun yang berbau Eropa, namun mereka tetaplah seorang Jawa yang tidak bisa melepaskan identitasnya.
Demikian yang dapat saya sampaikan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam Bidang Politik:
Hampir semua elit aristokrat Jawa memainkan politik simbolis, terutama setelah raja-raja Vorstenlanden kehilangan wilayah konsentris mereka. Sultan Agung dan elit aristokrat Kasunanan menggunakan Islam dan budaya Jawa sebagai simbol kekuatan politik, meskipun dalam praktiknya tidak lebih sebagai sebuah politik budaya Jawa atau politik simbolis. Ketika Sultan Agung gagal dalam penyerbuan di Batavia, implikasinya adalah tumbuh gerakan-gerakan faksional politik di pesisir utara Jawa. Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Kemudian Sultan Agung mengeluarkan tiga kebijakan penting: (1) Kerajaan Mataram sebagai pusat islamisasi di Jawa, (2) Islam sebagai kekuatan untuk mengatasi persoalanpersoalan sosial politik dan sosial ekonomi yang sedang dihadapi Sultan Agung, dan (3) Islam merupakan panduan etika dan moral bagi budaya masyarakat Jawa (Ricklefs, 1998: 469-482).
Tiga kebijakan di atas dapat ditafsirkan sebagai keinginan Sultan Agung untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan pasca penyerbuan di Batavia, serta keinginan untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan kaum ulama (Mas‟ud, 2004: 55-58). Hampir seluruh raja di Keraton Kasunanan memainkan politik simbolis, dan basis politik simbolis itu berakar pada agama Islam. Memainkan politik simbolis merupakan implikasi dari ketidakberdayaan mereka menghadapi hegemoni kolonial, dan politik simbolis justru meneguhkan otoritas sunan. Dia sudah tidak memiliki kekuasaan apapun, tetapi sunan mengolah otoritas itu dengan mendirikan madrasah dan sekolah umum, serta memberikan keterampilan masyarakat untuk meningkatkan akses mobilitas ekonomi masyarakat.
Dalam Bidang Budaya:
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung dijadikan sebagai suatu identitas. Makanan juga dapat mendefinisikan dari golongan manakah seseorang berasal. Hal ini juga mempengaruhi penyajian makanan di Vorstenlanden. Rijsttafel yang tidak hanya terbatas pada orang-orang Eropa, tetapi juga masyarakat Jawa khususnya para elite Jawa, juga dijadikan sebagai identitas sosial. Peralatan makan juga menjadi hal yang penting dalam jamuan makan. Peralatan makan yang digunakan dalam rijsttafel biasanya menunjukkan mewahnya jamuan makan ini.Material yang digunakan untuk peralatan makan juga tidak sembarangan. Bagi orang Belanda, penggunaan material peralatan makan ini juga mendefinisikan tingkat kekayaan. Orang Belanda biasanya menggunakan peralatan makan yang terbuat dari perak, kristal, atau emas.Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa. Walau memiliki pola pemikiran Barat dan terbiasa dengan apapun yang berbau Eropa, namun mereka tetaplah seorang Jawa yang tidak bisa melepaskan identitasnya.
Demikian yang dapat saya sampaikan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Perkenalkan saya Fefi Yunia Amalia Sari dengan NPM 2053033010. Izin untuk menjawab pertanyaan yang telah Bapak berikan.
Jelaskan 1 yang anda ketahui pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya !
1. Bidang Politik
Pada masa pemerintahan kolonialisme dan imperialisme memunculkan adanya sistem dualisme yakni pemerintahan Eropa dan Pemerintahan pribumi.
Misalnya di pemerintahan Daendels, orang Eropa memimpin sebagai residen yang memimpin karesidenan dan asisten residen yang mengepalai afdeling (setingkat kabupaten). Di mana orang pribumi memimpin sebagai bupati yang menjadi pemimpin kabupaten dan dibantu oleh seorang patih, wedana yang memimpin distrik, hingga asisten wedana yang memimpin desa-desa.
Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta.
2. Budaya
Salah satunya yaitu Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa.
Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Jelaskan 1 yang anda ketahui pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya !
1. Bidang Politik
Pada masa pemerintahan kolonialisme dan imperialisme memunculkan adanya sistem dualisme yakni pemerintahan Eropa dan Pemerintahan pribumi.
Misalnya di pemerintahan Daendels, orang Eropa memimpin sebagai residen yang memimpin karesidenan dan asisten residen yang mengepalai afdeling (setingkat kabupaten). Di mana orang pribumi memimpin sebagai bupati yang menjadi pemimpin kabupaten dan dibantu oleh seorang patih, wedana yang memimpin distrik, hingga asisten wedana yang memimpin desa-desa.
Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta.
2. Budaya
Salah satunya yaitu Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa.
Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh sebelumnya izin memperkenalkan diri nama saya Ferdy Nurfajri NPM 2053033013 izin memberikan pendapat mengenai pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya.
Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
Dalam situasi sosial budaya yang demikian, sistem lapisan sosial mulai terlihat pecah. Kalangan ningrat masih dengan keras mempertahankan berlakunya aneka ragam perbedaan status antara bangsawan dan warga biasa, termasuk terkait dengan masalah pakaian. Pesta-pesta yang digelar oleh orang biasa, seperti pesta pernikahan, tidak boleh diselenggarakan dengan mewah, dan juga mereka tidak boleh naik kendaraan melalui alun-alun Kraton Surakarta (Korver: 12). Sebagian kalangan bangsawan Jawa ada yang menuding bahwa pudarnya pamor bangsawan Jawa karena pengaruh penyebaran Islam (Ricklefs: 2007, 196).
Sekian sedikit kesimpulan yang dapat saya sampaikan terimakasih wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
Dalam situasi sosial budaya yang demikian, sistem lapisan sosial mulai terlihat pecah. Kalangan ningrat masih dengan keras mempertahankan berlakunya aneka ragam perbedaan status antara bangsawan dan warga biasa, termasuk terkait dengan masalah pakaian. Pesta-pesta yang digelar oleh orang biasa, seperti pesta pernikahan, tidak boleh diselenggarakan dengan mewah, dan juga mereka tidak boleh naik kendaraan melalui alun-alun Kraton Surakarta (Korver: 12). Sebagian kalangan bangsawan Jawa ada yang menuding bahwa pudarnya pamor bangsawan Jawa karena pengaruh penyebaran Islam (Ricklefs: 2007, 196).
Sekian sedikit kesimpulan yang dapat saya sampaikan terimakasih wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin memperkenalkan diri nama saya Raisya Aulia NPM 2053033009. Izin menjawab pertanyaan yang telah bapak berikan mengenai pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya.
• Bidang Politik
Sejak 1830, sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda pasca Perang Jawa/ Perang Diponegoro (1825-1830), luas wilayah yang termasuk Vorstenlanden menciut secara drastis. Sejak tahun tersebut, Vorstenlanden tinggal meliputi beberapa daerah yang kini dikenal sebagai eks Karesidenan Surakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hampir semua elit aristokrat Jawa memainkan politik simbolis, terutama setelah raja-raja Vorstenlanden kehilangan wilayah konsentris mereka. Sultan Agung dan elit aristokrat Kasunanan menggunakan Islam dan budaya Jawa sebagai simbol kekuatan politik, meskipun dalam praktiknya tidak lebih sebagai sebuah politik budaya Jawa atau politik simbolis. Ketika Sultan Agung gagal dalam penyerbuan di Batavia, implikasinya adalah tumbuh gerakan-gerakan faksional politik di pesisir utara Jawa. Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan.
Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Kemudian Sultan Agung mengeluarkan tiga kebijakan penting: (1) Kerajaan Mataram sebagai pusat islamisasi di Jawa, (2) Islam sebagai kekuatan untuk mengatasi persoalanpersoalan sosial politik dan sosial ekonomi yang sedang dihadapi Sultan Agung, dan (3) Islam merupakan panduan etika dan moral bagi budaya masyarakat Jawa (Ricklefs, 1998a: 469-482).
Selanjutnya, pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227).
• Bidang Kebudayaan
Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Krmudian, Istilah vorstenlanden juga dipakai untuk menyebut kain kain batik gaya Surakarta dan Yogyakarta yang cenderung memiliki warna dasar soga hingga putih, serta terkesan memiliki motif-motif klasik. Penggunaan istilah demikian untuk beragam batik asal Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai pembeda dengan bermacam batik asal pesisir Utara yang umumnya lebih berwarna-warni. Dalam penggunaan istilah vorstenlanden pada produksi batik secara umum memiliki konotasi positif, tak selalu diingat dan dikaitkan dengan eksistensi kolonial. Hal demikian sering diutarakan hanya sebagai cerminan Citra klasik dan pesona peradaban Barat atau Eropa yang memang masih melekat pada Penggunaan istilah vorstenlanden.
Sekian, terima kasih.
• Bidang Politik
Sejak 1830, sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda pasca Perang Jawa/ Perang Diponegoro (1825-1830), luas wilayah yang termasuk Vorstenlanden menciut secara drastis. Sejak tahun tersebut, Vorstenlanden tinggal meliputi beberapa daerah yang kini dikenal sebagai eks Karesidenan Surakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hampir semua elit aristokrat Jawa memainkan politik simbolis, terutama setelah raja-raja Vorstenlanden kehilangan wilayah konsentris mereka. Sultan Agung dan elit aristokrat Kasunanan menggunakan Islam dan budaya Jawa sebagai simbol kekuatan politik, meskipun dalam praktiknya tidak lebih sebagai sebuah politik budaya Jawa atau politik simbolis. Ketika Sultan Agung gagal dalam penyerbuan di Batavia, implikasinya adalah tumbuh gerakan-gerakan faksional politik di pesisir utara Jawa. Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan.
Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Kemudian Sultan Agung mengeluarkan tiga kebijakan penting: (1) Kerajaan Mataram sebagai pusat islamisasi di Jawa, (2) Islam sebagai kekuatan untuk mengatasi persoalanpersoalan sosial politik dan sosial ekonomi yang sedang dihadapi Sultan Agung, dan (3) Islam merupakan panduan etika dan moral bagi budaya masyarakat Jawa (Ricklefs, 1998a: 469-482).
Selanjutnya, pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227).
• Bidang Kebudayaan
Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Krmudian, Istilah vorstenlanden juga dipakai untuk menyebut kain kain batik gaya Surakarta dan Yogyakarta yang cenderung memiliki warna dasar soga hingga putih, serta terkesan memiliki motif-motif klasik. Penggunaan istilah demikian untuk beragam batik asal Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai pembeda dengan bermacam batik asal pesisir Utara yang umumnya lebih berwarna-warni. Dalam penggunaan istilah vorstenlanden pada produksi batik secara umum memiliki konotasi positif, tak selalu diingat dan dikaitkan dengan eksistensi kolonial. Hal demikian sering diutarakan hanya sebagai cerminan Citra klasik dan pesona peradaban Barat atau Eropa yang memang masih melekat pada Penggunaan istilah vorstenlanden.
Sekian, terima kasih.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Adhani Mayvera dengan NPM 2053033008, izin untuk menjawab pertanyaan yang sudah tersedia di forum diskusi.
Pengaruh pada bidang politik:
Pasca kedatangan kolonialisme, konstruksi kota-kota di beberapa wilayah mengalami pergerseran terutama terkait dengan berbagai kebijakan kaum kolonial untuk melakukan dekonstruksi terhadap kebudayaan masyarakat tradisional. Salah satukebijakan itu adalah, membangun kota-kota di kepulauan Jawa layaknya kota-kota yang ada di kerajaan Belanda. Konsekuensi yang paling dominan dan ada adalah terjadinya pemindahan karakter dan budaya borjuasi Belanda ke Indonesia (dengan berbagai upayanya) dan berimplikasi pada terbangunnya konstruksi baru, dimana yang berkembangkemudian adalah kota Timur yang khas, sebagai bentuk dari proses akulturasi yang sangat instruktif.Dikutip dari buku Daerah Istimewa Surakarta (2010) karya Imam Samroni dan kawan-kawan, Surakarta pada masa kolonial Belanda merupakan daerah Vorstenlanden (swapraja).Ada dua macam kontrak politik pada waktu, yaitu kontrak panjang tentang kesetaraan kekuasaan keraton dengan Belanda, dan pernyataan pendek tentang pengakuan atas kekuasaan Belanda.Kasunanan Surakarta diatur dalam kontrak panjang, sementara Mangkunegaran diatur dalam pernyataan pendek.Sebelum kedatangan Belanda, hegemoni keraton (ketika itu masih Mataram) memiliki kekuasaan politik yang absolut dan pemerintahan feodal dapat dilakukan keraton secara penuh. Namun, setelah Belanda datang keraton bukan satu-satunya pengambil kebijakan di Surakarta. soal kepemilikan tanah sebagian diatur Belanda.
Bidang budaya:
Lebih bersifat sebagai jamuan pesta pada era Kolonial Belanda, rijsttafel diciptakan sebagai bentuk perjamuan resmi (makan siang atau makan malam) yang meriah yang dapat mewakili keanekaragaman suku bangsa di Nusantara. Aneka macam hidangan dihimpun dari penjuru negeri; khazanah kuliner khas dari berbagai pulau di Indonesia dari Jawa Tengah, makanan yang terkenal dan digemari antara lain sate, tempe, dan serundeng. Dari Batavia dan Priangan masakan sayuran favorit seperti gado-gado, lodeh dengan sambal dan lalab. Citarasa pedas kaya bumbu disajikan dalam hidangan rendang dan gulai dari Ranah Minang di Sumatra Barat. Hidangan populer Hindia Belanda lainnya juga disajikan seperti nasi goreng, soto ayam dan kerupuk. Juga sajian hidangan Indonesia "hibrida"; seperti masakan Tionghoa Indonesia babi kecap, lumpia, dan bakmi, serta hidangan yang dipengaruhi Eropa seperti semur daging. Pada masa kolonial, sajian rijsttafel paling bergengsi di Hindia Belanda adalah luncheon (makan siang) tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy Homann di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60 macam hidangan. Pada masa jayanya di era Hindia Belanda, versi jamuan resmi rijstaffel paling mewah terdiri atas iring-iringan para pelayan berbusana resmi (kain kebaya untuk pelayan wanita atau beskap, blangkon, bersarung kain batik untuk pelayan pria), secara khidmat dan resmi menyajikan belasan hingga puluhan piring berisi berbagai macam hidangan secara maraton ke meja makan di mana para tamu perjamuan duduk.
Sekian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pengaruh pada bidang politik:
Pasca kedatangan kolonialisme, konstruksi kota-kota di beberapa wilayah mengalami pergerseran terutama terkait dengan berbagai kebijakan kaum kolonial untuk melakukan dekonstruksi terhadap kebudayaan masyarakat tradisional. Salah satukebijakan itu adalah, membangun kota-kota di kepulauan Jawa layaknya kota-kota yang ada di kerajaan Belanda. Konsekuensi yang paling dominan dan ada adalah terjadinya pemindahan karakter dan budaya borjuasi Belanda ke Indonesia (dengan berbagai upayanya) dan berimplikasi pada terbangunnya konstruksi baru, dimana yang berkembangkemudian adalah kota Timur yang khas, sebagai bentuk dari proses akulturasi yang sangat instruktif.Dikutip dari buku Daerah Istimewa Surakarta (2010) karya Imam Samroni dan kawan-kawan, Surakarta pada masa kolonial Belanda merupakan daerah Vorstenlanden (swapraja).Ada dua macam kontrak politik pada waktu, yaitu kontrak panjang tentang kesetaraan kekuasaan keraton dengan Belanda, dan pernyataan pendek tentang pengakuan atas kekuasaan Belanda.Kasunanan Surakarta diatur dalam kontrak panjang, sementara Mangkunegaran diatur dalam pernyataan pendek.Sebelum kedatangan Belanda, hegemoni keraton (ketika itu masih Mataram) memiliki kekuasaan politik yang absolut dan pemerintahan feodal dapat dilakukan keraton secara penuh. Namun, setelah Belanda datang keraton bukan satu-satunya pengambil kebijakan di Surakarta. soal kepemilikan tanah sebagian diatur Belanda.
Bidang budaya:
Lebih bersifat sebagai jamuan pesta pada era Kolonial Belanda, rijsttafel diciptakan sebagai bentuk perjamuan resmi (makan siang atau makan malam) yang meriah yang dapat mewakili keanekaragaman suku bangsa di Nusantara. Aneka macam hidangan dihimpun dari penjuru negeri; khazanah kuliner khas dari berbagai pulau di Indonesia dari Jawa Tengah, makanan yang terkenal dan digemari antara lain sate, tempe, dan serundeng. Dari Batavia dan Priangan masakan sayuran favorit seperti gado-gado, lodeh dengan sambal dan lalab. Citarasa pedas kaya bumbu disajikan dalam hidangan rendang dan gulai dari Ranah Minang di Sumatra Barat. Hidangan populer Hindia Belanda lainnya juga disajikan seperti nasi goreng, soto ayam dan kerupuk. Juga sajian hidangan Indonesia "hibrida"; seperti masakan Tionghoa Indonesia babi kecap, lumpia, dan bakmi, serta hidangan yang dipengaruhi Eropa seperti semur daging. Pada masa kolonial, sajian rijsttafel paling bergengsi di Hindia Belanda adalah luncheon (makan siang) tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy Homann di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60 macam hidangan. Pada masa jayanya di era Hindia Belanda, versi jamuan resmi rijstaffel paling mewah terdiri atas iring-iringan para pelayan berbusana resmi (kain kebaya untuk pelayan wanita atau beskap, blangkon, bersarung kain batik untuk pelayan pria), secara khidmat dan resmi menyajikan belasan hingga puluhan piring berisi berbagai macam hidangan secara maraton ke meja makan di mana para tamu perjamuan duduk.
Sekian, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Intan Nur Ramadania dengan NPM 2053033002. Izin memberikan pendapat mengenai pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya
Sekian yang dapat saya sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabakatuh.
Perkenalkan nama saya Intan Nur Ramadania dengan NPM 2053033002. Izin memberikan pendapat mengenai pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya
- Bidang Politik
- Bidang Budaya
Sekian yang dapat saya sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabakatuh.
Assamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, izin memeperkenalkan diri nama saya Gumahdona Khoirunnisa dengan NPM 2053033011. Izin untuk menjawab pertanyaan yang telah Bapak berikan pada forum diskusi.
Jelaskan 1 yang anda ketahui pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya !
1. Bidang Politik
Pada masa pemerintahan kolonialisme dan imperialisme memunculkan adanya sistem dualisme yakni pemerintahan Eropa dan Pemerintahan pribumi.
Misalnya di pemerintahan Daendels, orang Eropa memimpin sebagai residen yang memimpin karesidenan dan asisten residen yang mengepalai afdeling (setingkat kabupaten). Di mana orang pribumi memimpin sebagai bupati yang menjadi pemimpin kabupaten dan dibantu oleh seorang patih, wedana yang memimpin distrik, hingga asisten wedana yang memimpin desa-desa.
Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta.
2. Budaya
Salah satunya yaitu Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa.
Sekian, terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Jelaskan 1 yang anda ketahui pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya !
1. Bidang Politik
Pada masa pemerintahan kolonialisme dan imperialisme memunculkan adanya sistem dualisme yakni pemerintahan Eropa dan Pemerintahan pribumi.
Misalnya di pemerintahan Daendels, orang Eropa memimpin sebagai residen yang memimpin karesidenan dan asisten residen yang mengepalai afdeling (setingkat kabupaten). Di mana orang pribumi memimpin sebagai bupati yang menjadi pemimpin kabupaten dan dibantu oleh seorang patih, wedana yang memimpin distrik, hingga asisten wedana yang memimpin desa-desa.
Gerakan-gerakan politik tersebut dipersepsikan oleh Sultan Agung dapat memicu pemberontakan. Berkaitan dengan masalah gerakan faksional itu, Sultan Agung mengatur kembali relasi-relasi politik dengan ulama beserta basis massanya. Dengan landasan relasi itu Sultan Agung dapat menekan tumbuhnya faksi-faksi politik yang berujung pada gangguan stabilitas politik. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta.
2. Budaya
Salah satunya yaitu Rijsttafel yang merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung.
Rijsttafel hadir sebagai suatu produk percampuran budaya, yaitu Belanda dan Jawa. Rijsttafel mulai ada dan dikenal pada abad ke-19, kemudian di abad ke-20, kepopulerannya semakin meningkat. Berbeda dengan jamuan makan biasa, rijsttafel lebih menekankan proses penyajian makanan di atas meja. Kemewahan menjadi unsur utama dalam jamuan makan ini, sehingga tidak heran jika rijsttafel dipraktikkan oleh orang-orang dengan status sosial tinggi. Seperti orang- orang Eropa dan elite Jawa.
Dalam hal ini, elite pribumi tidak sekadar mengikuti gaya hidup orangorang Eropa, tetapi juga mencari peluang politik dan sosial. Jamuan makan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan, tapi juga sebagai media pendukung suksesnya kepentingan suatu golongan atau individu.Gaya hidup ala Barat yang para elite Jawa terima sejak di bangku sekolahan tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan identitas mereka sebagai orang Jawa.
Sekian, terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Ruri Rismawati npm 2053033004, izin menyampaikan pendapat mengenai pengaruh kolonial di Vorstenlanden pada bidang politik dan budaya.
1. Bidang Politik
Pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Ricklefs mencatat bahwa pada 1909 telah berdiri gerakan Sarekat Dagang Islamijah di Batavia yang didirikan oleh Tirtoadisurjo (1880-1918). Organisasi serupa didirikan di Bogor tahun 1911. Pada tahun 1911 juga, Tirtoadisurjo mendorong seorang pedagang batik Surakarta, Samanhoedi (1868-1956), untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai sebuah koperasi atau perkumpulan pedagang batik pribumi yang bersaing dengan pedagang keturunan Tionghoa. Pada tahun 1912 SDI berubah namanya menjadi Sarekat Islam (Ricklef, 252). Deliar Noer juga mengungkapkan bahwa Sarekat Islam berdiri pada 11 November 1912 di Surakarta. SI tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya yaitu SDI.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Harold W. Sundstrom bahwa Sarekat Islam yang berdiri tahun 1911 kemudian pada tahun 1912 berubah namnya menjadi Sarekat Islam. Mohammad Hatta (1977, 9-11) juga mengungkapkan bahwa SDI di Surakarta didirikan pada tahun 1912, sedangkan menurut Tamar Djaja (1974, 5) SDI didirikan di Solo oleh Samanhoedi pada 16 Oktober 1905 dan setahun kemudian pada tahun 1906 berubah namanya menjadi SI. Berdirinya SDI yang kemudian menjadi SI, juga dimaksudkan untuk menghadapi kekuatan ekonomi Belanda, Cina dan aristokrasi Jawa.
Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
2. Bidang Budaya
Secara sosiologis, konteks struktur sosial masyarakat Surakarta sangat kuat dengan susunan hierarkisnya, dan berlaku hubungan patron-klien (gusti-kawulo). Istilah hubungan gusti-kawulo ini diterapkan dalam kerajaan dengan menganalogikan raja sebagai patron dan rakyat sebagai klien (Pranoto: 210, 82-83). Struktur hierarkis ini begitu mengakar yang ditandai dengan fakta linguistik, yaitu adanya bahasa yang bertingkat: ngoko, kromo, dan kromo inggi (Lombard: 1996, 59). Struktur hierarkis tersebut mengindikasikan bahwa posisi raja berada di atas rakyat. Dalam struktur patron-klien, seorang raja diposisikan sebagai poros dunia, sekaligus patron (penguasa wilayah dan penguasa politik) yang diwujudkan dalam bentuk kepemilikan tanah sedangkan rakyat sebagai pemilik tenaga kerja. Sedangkan secara politis, raja adalah pucuk pimpinan monarkhi tertinggi yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur kehidupan rakyatnya (Pranoto: 2010, 83).
Sebagai pusat kerajaan, di kota ini banyak para bangsawan istana bermukim, disamping juga menjadi pusat kajian kebudayaan, bahasa dan ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai berdiri Instituut Voor de Javaansche Taal (Lembaga Pendidikan Kerajaan Untuk Bahasa Jawa) tahun 1832 M yang menekankan pembelajaran bahasa dan etika Jawa. Lembaga ini didirikan oleh Gericke di Surakarta yang akhirnya bubar pada tahun 1843 (Winter: 1928, v).
Kota Surakarta juga melahirkan para pujangga kraton yang telah banyak memproduk karya sastra, baik dalam bentuk serat, babad maupun suluk.De Graf (1995: 112-113) menuliskan nama para pujangga dan karya sastra yang terkenal di Surakarta, yaitu Kyai Yasadipura I (Serat Bratayudha, Serat Rama, Babad Gianti,Suluk Dewaruci), KGPAA Amangku Nagara II yang setelah menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana V (penggagas penggubahan Serat Centini), Kyai Ranggasutrasna, R. Ng. Sastradipura (bersama R.Ng. Yasadipura I menggubah Serat Centini), Sri Susuhunan Pakubuwana IV (Serat Wulangreh), Sri Mangunagara IV (Serat Wedhatama), Yasadipura II (Babad Pakepung), R. Ng. Ranggasasmita (Suluk Martabat Sanga), R. Ng. Ranggawarsita (Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha,Babad Itih) dan masih banyak pujangga dan naskah lain. Beberapa naskah ditulis tanpa nama pengarang.
Dalam situasi sosial budaya yang demikian, sistem lapisan sosial mulai terlihat pecah. Kalangan ningrat masih dengan keras mempertahankan berlakunya aneka ragam perbedaan status antara bangsawan dan warga biasa, termasuk terkait dengan masalah pakaian. Pesta-pesta yang digelar oleh orang biasa, seperti pesta pernikahan, tidak boleh diselenggarakan dengan mewah, dan juga mereka tidak boleh naik kendaraan melalui alun-alun Kraton Surakarta .
Itu saja yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
1. Bidang Politik
Pada awal abad ke-20, muncul dinamika politik baru di Surakarta. Ricklefs mencatat bahwa pada 1909 telah berdiri gerakan Sarekat Dagang Islamijah di Batavia yang didirikan oleh Tirtoadisurjo (1880-1918). Organisasi serupa didirikan di Bogor tahun 1911. Pada tahun 1911 juga, Tirtoadisurjo mendorong seorang pedagang batik Surakarta, Samanhoedi (1868-1956), untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai sebuah koperasi atau perkumpulan pedagang batik pribumi yang bersaing dengan pedagang keturunan Tionghoa. Pada tahun 1912 SDI berubah namanya menjadi Sarekat Islam (Ricklef, 252). Deliar Noer juga mengungkapkan bahwa Sarekat Islam berdiri pada 11 November 1912 di Surakarta. SI tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya yaitu SDI.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Harold W. Sundstrom bahwa Sarekat Islam yang berdiri tahun 1911 kemudian pada tahun 1912 berubah namnya menjadi Sarekat Islam. Mohammad Hatta (1977, 9-11) juga mengungkapkan bahwa SDI di Surakarta didirikan pada tahun 1912, sedangkan menurut Tamar Djaja (1974, 5) SDI didirikan di Solo oleh Samanhoedi pada 16 Oktober 1905 dan setahun kemudian pada tahun 1906 berubah namanya menjadi SI. Berdirinya SDI yang kemudian menjadi SI, juga dimaksudkan untuk menghadapi kekuatan ekonomi Belanda, Cina dan aristokrasi Jawa.
Dinamika politik juga ditandai dengan perlawanan rakyat antara tahun 1918-1924 yang melibatkan kaum santri, buruh dan tani yang diorganisir oleh kaum revolusioner dengan tokoh sentral Misbach. Walaupun Misbach sebagai tokoh sentral ditangkap dan dibuang ke Manokwari tahun 1924, api perlawanan semakin berkobar. Puncak dinamika politik terjadi tahun 1924-1926 yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Sarekat Ra‟jat pimpinan Marco Kartodikromo, kaum buruh yang diorganisir Moetakallimoen dan kelompok Moe‟allimin Surakarta di bawah pimpinan Achmad Dasoeki. Pada tahun 1926-1927 seluruh pejuang anti kolonialisme dan kapitalisme ditangkap dan diadili dan beberapa dibuang ke Digoel. Mereka dari kalngan Sarekat Rakyat (SI Kiri), PKI Surakarta, kalangan buruh dan tani revolusioner, serta perkumpulan Moe‟allimin Surakarta yakni guru-guru agama di Madrasah Sunnijah Mardi Boesana Keprabon dan puluhan kyai yang menjadi guru di Madrasah Mambaoel Oeloem Surakarta (Bakri: 2015, 227). Puncak kobaran api pergerakan di Surakarta terjadi antara tahun 1918-1926. Tahun-tahun tersebut Surakarta menjadi kota paling bergerak di Indonesia.
2. Bidang Budaya
Secara sosiologis, konteks struktur sosial masyarakat Surakarta sangat kuat dengan susunan hierarkisnya, dan berlaku hubungan patron-klien (gusti-kawulo). Istilah hubungan gusti-kawulo ini diterapkan dalam kerajaan dengan menganalogikan raja sebagai patron dan rakyat sebagai klien (Pranoto: 210, 82-83). Struktur hierarkis ini begitu mengakar yang ditandai dengan fakta linguistik, yaitu adanya bahasa yang bertingkat: ngoko, kromo, dan kromo inggi (Lombard: 1996, 59). Struktur hierarkis tersebut mengindikasikan bahwa posisi raja berada di atas rakyat. Dalam struktur patron-klien, seorang raja diposisikan sebagai poros dunia, sekaligus patron (penguasa wilayah dan penguasa politik) yang diwujudkan dalam bentuk kepemilikan tanah sedangkan rakyat sebagai pemilik tenaga kerja. Sedangkan secara politis, raja adalah pucuk pimpinan monarkhi tertinggi yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur kehidupan rakyatnya (Pranoto: 2010, 83).
Sebagai pusat kerajaan, di kota ini banyak para bangsawan istana bermukim, disamping juga menjadi pusat kajian kebudayaan, bahasa dan ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai berdiri Instituut Voor de Javaansche Taal (Lembaga Pendidikan Kerajaan Untuk Bahasa Jawa) tahun 1832 M yang menekankan pembelajaran bahasa dan etika Jawa. Lembaga ini didirikan oleh Gericke di Surakarta yang akhirnya bubar pada tahun 1843 (Winter: 1928, v).
Kota Surakarta juga melahirkan para pujangga kraton yang telah banyak memproduk karya sastra, baik dalam bentuk serat, babad maupun suluk.De Graf (1995: 112-113) menuliskan nama para pujangga dan karya sastra yang terkenal di Surakarta, yaitu Kyai Yasadipura I (Serat Bratayudha, Serat Rama, Babad Gianti,Suluk Dewaruci), KGPAA Amangku Nagara II yang setelah menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana V (penggagas penggubahan Serat Centini), Kyai Ranggasutrasna, R. Ng. Sastradipura (bersama R.Ng. Yasadipura I menggubah Serat Centini), Sri Susuhunan Pakubuwana IV (Serat Wulangreh), Sri Mangunagara IV (Serat Wedhatama), Yasadipura II (Babad Pakepung), R. Ng. Ranggasasmita (Suluk Martabat Sanga), R. Ng. Ranggawarsita (Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha,Babad Itih) dan masih banyak pujangga dan naskah lain. Beberapa naskah ditulis tanpa nama pengarang.
Dalam situasi sosial budaya yang demikian, sistem lapisan sosial mulai terlihat pecah. Kalangan ningrat masih dengan keras mempertahankan berlakunya aneka ragam perbedaan status antara bangsawan dan warga biasa, termasuk terkait dengan masalah pakaian. Pesta-pesta yang digelar oleh orang biasa, seperti pesta pernikahan, tidak boleh diselenggarakan dengan mewah, dan juga mereka tidak boleh naik kendaraan melalui alun-alun Kraton Surakarta .
Itu saja yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Perkenalkan saya Monica Agustia Wiwit Rahayu dengan NPM 2053033007. Izin untuk menjawab pertanyaan yang telah Bapak berikan.
Bidang Budaya
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung dijadikan sebagai suatu identitas. Makanan juga dapat mendefinisikan dari golongan manakah seseorang berasal.
Bidang Politik
Pengaruh Politik kolonial terhadap Vorstenlanden pada masa politik etis membawa perkembangan kota yang berawal dari kota tradisional dengan budaya Jawa dan pengaruh kerajaan yang kental hingga menjadi kota modern yang mulai mendapatkan pengaruh budaya dari masa kolonial. Vorstenlanden pada masa politik etis mampu berkembang seperti kota lainnya
Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Bidang Budaya
Rijsttafel merupakan suatu budaya makan yang jika diartikan secara harfiah, rijs berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel bermula dari tidak adanya tradisi kuliner adiluhung sebagaimana Tiongkok, Perancis, dan Italia di tanah jajahan. Berangkat dari sana, orang-orang Belanda kemudian berusaha mengemas hidangan-hidangan pribumi dan kebiasaan makan yang dilakukan di tanah jajahannya, agar menjadi daya tarik wisatawan dan juga memenuhi kebutuhan gaya hidup orang Belanda. Makanan dan minuman itu disajikan tidak hanya pada jamuan makan biasa, tetapi juga ketika tamu dari Eropa yang berkunjung ke keraton. Makanan secara tidak langsung dijadikan sebagai suatu identitas. Makanan juga dapat mendefinisikan dari golongan manakah seseorang berasal.
Bidang Politik
Pengaruh Politik kolonial terhadap Vorstenlanden pada masa politik etis membawa perkembangan kota yang berawal dari kota tradisional dengan budaya Jawa dan pengaruh kerajaan yang kental hingga menjadi kota modern yang mulai mendapatkan pengaruh budaya dari masa kolonial. Vorstenlanden pada masa politik etis mampu berkembang seperti kota lainnya
Sekian, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.