Diskusi Militer dalam Agresi Militer Belanda I dan II

Diskusi

Diskusi

by Yusuf Perdana -
Number of replies: 18
sebutkan beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer indonesia pada saat agresi militer belanda I dan II !
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Dwi Mawarni -
Saya Dwi Mawarni npm 1813033033 izin menanggapi.
Saat terjadi Agresi Militer Belanda 1 dan 2, peran militer Indonesia sangat dibutuhkan. Dalam upaya mencegah Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia, pasukan militer Indonesia melakukan berbagai upaya. Dalam video wawancara Jenderal Nasution beliau mengatakan bahwa pasukan militer saat itu menggunakan strategi gerilya untuk melawan Belanda yang mulai mencoba menguasai wilayah Jawa Barat. Aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan TNI, memancing terjadinya pembersihan yang dilakukan oleh pihak Belanda. Tindakan pembersihan akan berpengaruh.terhadap keselamatan rakyat di wilayah yang terkena pembersihan. Sehingga seluruh penduduk diberikan pemahaman mengenai sikap yang harus mereka ambil.saat terjadi pembersihan. Strategi yang digunakan dalam
melakukan perlawanan dengan Belanda adalah upaya diplomasi dan dengan menggunakan strategi gerilya, yang.bersifat non kooperasi dan bumi hangus. Strategi gerilya memiliki sifat melemahkan bukan menghancurkan selain itu dalam strategi gerilya diusahakan agar cakupan serangan diperluas. Tujuan memperluas serangan agar lawan dapat menyebar pasukannya juga, sehingga kekuatannya menjadi terpecah dan mudah untuk dilakukan penyerangan. Sifat non kooperasi dan bumi hangus juga digunakan dalam mengahadapi Belanda.
Jenderal Nasution juga mengatakan bahwa pasukan militer Indonesia memanfaatkan keadaan geografis wilayah untuk menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda. Di luar Jawa sejumlah perlawanan dilakukan dengan membentuk lima wilayah pemerintahan militer di Sumatera yakni di Aceh, Tapanuli, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan. Perlawanan terhadap belanda juga dibantu berbagai laskar di Jawa.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Joko Sutrisno -
Saya Joko Sutrisno NPM 1813033013 izin menanggapi pak.

Hal penting dan krusial yang dilakukan TNI pada agresi militer Belanda I & II adalah:
-Melakukan Perang Gerilya
Akibat agresi militer Belanda I TNI Menyadari akan kekuatannya yang semakin terdesak, maka TNI mengatur strategi dengan melakukan perang gerilya melawan Belanda. TNI mulai menyusun kekuatan di desa-desa untuk memulai babak baru pertarungan melawan musuh. Di Jawa Barat, TNI yang semula bercerai-berai, kembali dapat mengkonsolidasikan diri dan mengadakan penghadangan-penghadangan dan serangan-serangan terhadap pos-pos tentara Belanda. Perlawanan yang dilakukan secara gerilya ini semakin teratur dan meningkat. Seperti di Jawa Timur, serangan-serangan gerilya sepanjang jalan raya antara Surabaya-Bondowoso terus terjadi, sehingga setiap transportasi Belanda selalu dikawal konvoi militer Belanda. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja gerilya TNI telah berhasil membentuk kantong-kantong pertahanan.

-Hijrahnya TNI
Akibat perjanjian Renville, pemindahan tentara gerilya Indonesia atau penghijrahan sejumlah 30.000 prajurit dari Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah “pedalaman” republik secara strategis sangat merugikan bagi RI.
Belanda menganggap bahwa daerah-daerah atau kota-kota propinsi, keresidenan, kabupaten, dan kewedanan yang diduduki tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli 1947 merupakan daerah kekuasaan Belanda. Oleh sebab itu, Belanda menuntut agar gerilya TNI harus di tarik dari daerah-daerah pendudukan Belanda dan dipindahkan ke daerah yang belum diserang oleh Belanda.

-Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan Umum yang terjadi pada 1 Maret 1949 mampu memukul mundur tentara Belanda dari Yogyakarta dalam enam jam.
Serangan penjajah Belanda melalui Agresi Militer II membuat kondisi Indonesia dalam kesulitan. Bahkan, sebagai propaganda, Belanda mengumumkan jika TNI sudah tidak ada. Serangan umum 1 Maret 1949 membawa arti penting bagi posisi Indonesia di mata internasional. Selain membuktikan eksistensi TNI yang masih kuat, Indonesia memiliki posisi tawar melalui perundingan di Dewan Keamanan PBB. Perlawanan singkat tersebut turut mempermalukan Belanda dengan propagandanya.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Roni Hermawan -
Saya Roni Hermawan (1813033011) izin menanggapi pak atas pertanyaan bapak terkait beberapa Hal penting dan krusial yang dilakukan Militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu:

1. Melakukan Perang Gerilya
Akibat agresi militer Belanda I TNI Menyadari akan kekuatannya yang semakin terdesak, maka TNI mengatur strategi dengan melakukan perang gerilya melawan Belanda. TNI mulai menyusun kekuatan di desa-desa untuk memulai babak baru pertarungan melawan musuh.

2. Akibat perjanjian Renville, pemindahan tentara gerilya Indonesia atau penghijrahan sejumlah 30.000 prajurit dari Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah “pedalaman” republik secara strategis sangat merugikan bagi RI. Oleh sebab itu, Belanda menuntut agar gerilya TNI harus di tarik dari daerah-daerah pendudukan Belanda dan dipindahkan ke daerah yang belum diserang oleh Belanda.

3. Adanya Serangan Umum 1 Maret 1949 dimana pada serangan tersebut TNI mampu memukul mundur tentara Belanda dari Yogyakarta dalam enam jam. Serangan umum 1 Maret 1949 membawa arti penting bagi posisi Indonesia di mata internasional. Selain membuktikan eksistensi TNI yang masih kuat, Indonesia memiliki posisi tawar melalui perundingan di Dewan Keamanan PBB. Perlawanan singkat tersebut turut mempermalukan Belanda dengan propagandanya.

Sekian dari saya Terima kasih.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Erika Sukma Lestari -
Saya Erika Sukma Lestari npm 1813033021 izin menanggapi Pak

Saat terjadi Agresi Militer Belanda 1 dan 2, peran militer Indonesia sangat dibutuhkan. Dalam upaya mencegah Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia, pasukan militer Indonesia melakukan berbagai upaya. Dalam video wawancara Jenderal Nasution beliau mengatakan bahwa pasukan militer saat itu menggunakan strategi gerilya untuk melawan Belanda yang mulai mencoba menguasai wilayah Jawa Barat. Aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan TNI, memancing terjadinya pembersihan yang dilakukan oleh pihak Belanda. Tindakan pembersihan akan berpengaruh.terhadap keselamatan rakyat di wilayah yang terkena pembersihan. Sehingga seluruh penduduk diberikan pemahaman mengenai sikap yang harus mereka ambil.saat terjadi pembersihan. Strategi yang digunakan dalam melakukan perlawanan dengan Belanda adalah upaya diplomasi dan dengan menggunakan strategi gerilya, yang.bersifat non kooperasi dan bumi hangus. Strategi gerilya memiliki sifat melemahkan bukan menghancurkan selain itu dalam strategi gerilya diusahakan agar cakupan serangan diperluas.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Ayu Fitri Anggraini -
Saya Ayu Fitri Anggraini Npm 1813033049 izin menanggapi pak

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer dengan menyerbu wilayah Republik Indonesia, TNI menggelar pertahanan linier yang konvensional. Pertahanan TNI di beberapa daerah berhasil diterobos oleh Belanda, namun pasukan TNI tidak bergerak mundur, melainkan membentuk kantong-kantong perlawanan. Ketika Belanda menyatakan batas daerah pendudukannya dan daerah Republik dengan garis demarkasi, pasukan TNI menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah yang diakui Belanda sebagai daerah pendudukannya. Selain itu militer indonesia melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan indonesia dengan menggunakan strategi gerilya, dimana saat itu militer indonesia merasa bahwa kekuatan semakin terdesak.
Sekian tanggapan dari saya kurang dna lebihny saya mohon maaf, terimakasih.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Delia Mulniyati -

Assalamualaikum wr.wb bapak nama saya Delia mulniyati npm 1813033019 izin menanggapi pak


Hal krusial dalam agresi militer 1

Agresi Militer Belanda 1 dilatar belakangi oleh Belanda yang tidak menerima hasil Perundingan Linggajati yang telah disepakati bersama pada tanggal 25 Maret 1947. Atas dasar tersebut, pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melakukan agresi militer pertamanya dengan menggempur Indonesia.

Dan hal krusial dalam agresi militer 2 yatu Latar belakang terjadinya peristiwa ini dikarenakan kegagalan PBB dalam menyelesaikan konflik antara Belanda dan Indonesia melalui jalan perundingan.


Ketika Perjanjian Linggarjati ditandatangani, Belanda menolaknya dengan meluncurkan agresi militer pertama terhadap rakyat Indonesia.

In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by siska - -
Saya Siska NPM 1813033007 izin menanggapi pak, mengenai hal penting dan krusial yang dilakukan Militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu: pada agresi militer Belanda I, perselisihan pendapat akibat perbedaan penafsiran dalam melaksanakan perjanjian Linggarjati menimbulkan konflik antara Indonesia dan Belanda. Sehingga Belanda mengeluarkan nota eropa ultimatum yang harus dijawab pemerintah Indonesia dalam waktu 14 hari, karena tidak mencapai kesepakatan pada 21 Juli 1947 (tepatnya tengah malam) Belanda melancarkan serangan ke seluruh daerah RI. Maka upaya yang dilakukan Militer Indonesia pada saat itu yakni Pasukan TNI memutuskan mundur ke pedalaman sambil menjalankan taktik bumi hangus dan taktik gerilia. Sistem wehrkeise diterapkan dengan menggantikan sistem pertahanan linier. Dengan taktik ini, Belanda hanya mampu bergerak ke kota kota dan jalan raya. Sementara wilayah lainnya dikuasai sepenuhnya oleh TNI. TNI angkatan udara pun mulai aktif dalam perang melawan Belanda. Dengan bermodalkan pesawat tua peninggalan Jepang yang terdiri dari sebuah pesawat pengebom Guntai dan dua buah pesawat pemburu cureng dan penerbangan AURI terlibat dalam beberapa serangan Udara terhadap Belanda. Sekian yang dapat saya sampaikan terimakasiu bapak.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Amalia Sari -
Nama saya Amalia Sari npm 1813033055 izin menjawab pak jawabannya yaitu

-TNI (Tentara Nasional Indonesia) mundur dan melakukan perlawanan gerilya di bawah pimpinan Jenderal Sudirman. Panglima Besar Jenderal Sudirman memerintahkan tentara republik ke luar kota untuk bergerilya kembali. Jenderal Sudirman memutuskan untuk memimpin gerilya sekalipun waktu itu beliau dalam keadaan sakit berat (TBC).

-TNI memerintahkan penyerangan terhadap objek-objek vital di Surakarta. Di tempat-tempat lain pun perlawanan gerilya terus berlangsung tanpa terpengaruh oleh hasil perundingan.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Lidia Millinia -
Saya Lidia Millinia NPM 181303031, izin menanggapi pak;
beberapa Hal penting dan krusial yang dilakukan Militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu:
pada agresi militer Belanda I, perselisihan pendapat akibat perbedaan penafsiran dalam melaksanakan perjanjian Linggarjati menimbulkan konflik antara Indonesia dan Belanda. Sehingga Belanda mengeluarkan nota eropa ultimatum yang harus dijawab pemerintah Indonesia dalam waktu 14 hari, karena tidak mencapai kesepakatan pada 21 Juli 1947 (tepatnya tengah malam) Belanda melancarkan serangan ke seluruh daerah RI. Maka upaya yang dilakukan Militer Indonesia pada saat itu yakni Pasukan TNI memutuskan mundur ke pedalaman sambil menjalankan taktik bumi hangus dan taktik gerilia. Sistem wehrkeise diterapkan dengan menggantikan sistem pertahanan linier. Dengan taktik ini, Belanda hanya mampu bergerak ke kota kota dan jalan raya. Sementara wilayah lainnya dikuasai sepenuhnya oleh TNI.
Sekian, terimakasih pak
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Farin Fatwa Sugesty -
Saya Farin Fatwa Sugesty, Npm 1813033029. Izin menanggapi pak.
1. Melakukan Perang Gerilya
Akibat agresi militer Belanda I TNI Menyadari akan kekuatannya yang semakin terdesak, maka TNI mengatur strategi dengan melakukan perang gerilya melawan Belanda. TNI mulai menyusun kekuatan di desa-desa untuk memulai babak baru pertarungan melawan musuh. Di Jawa Barat, TNI yang semula bercerai-berai, kembali dapat mengkonsolidasikan diri dan mengadakan penghadangan-penghadangan dan serangan-serangan terhadap pos-pos tentara Belanda. Perlawanan yang dilakukan secara gerilya ini semakin teratur dan meningkat.
2. Hijrahnya TNI
Akibat perjanjian Renville, pemindahan tentara gerilya Indonesia atau penghijrahan sejumlah 30.000 prajurit dari Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah “pedalaman” republik secara strategis sangat merugikan bagi RI.

3. Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan Umum yang terjadi pada 1 Maret 1949 mampu memukul mundur tentara Belanda dari Yogyakarta dalam 6 jam. Serangan penjajah Belanda melalui Agresi Militer II membuat kondisi Indonesia dalam kesulitan. Bahkan, sebagai propaganda, Belanda mengumumkan jika TNI sudah tidak ada. Serangan umum 1 Maret 1949 membawa arti penting bagi posisi Indonesia di mata internasional. Selain membuktikan eksistensi TNI yang masih kuat, Indonesia memiliki posisi tawar melalui perundingan di Dewan Keamanan PBB. Perlawanan singkat tersebut turut mempermalukan Belanda dengan propagandanya.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Novita Trisnawati -
Saya Novita Trisnawati npm 1813033027, izin berpendapat pak. Hal krusial yang dilakukan oleh militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu :
1. Agresi Militer I pada 21 Juli-5 Agustus 1947 membuat seluruh pasukan Siliwangi terpaksa mundur ke hutan-hutan dan pedalaman atau bisa disebut juga Long March Siliwangi. Di sana, mereka melanjutkan pertempuran secara gerilya di daerah masing-masing.

2. Pada 21 Juli 1947 Belanda memulai aksi militernya dengan kode “operasi produk”. Dalam waktu singkat Belanda berhasil menerobos garis pertahanan TNI. Kekuatan TNI dengan organisasi dan peralatannya yang sederhana tidak bisa menahan pukulan musuh yang serba modern.

3. Adanya Perang Gerilya di Mojokerto di daerah Pacet, Trawas, Gunung Penanggungan dan daerah sungai Brantas dengan tujuan merebut kembali daerah-daerah yang telah diduduki oleh Belanda. Diturunkannya surat perintah siasat tanggal 24 Desember 1948 yang isinya semua kesatuan yang berada di daerah selatan kali brantas dikerahkan serentak untuk menyerang dan menduduki kota surabaya dengan jalan apapun. Sehingga gerakan operasi besar-besaran tersebut diberi nama “Operasi Hayam Wuruk”.

4. Pada tanggal 1 Maret 1949,TNI dibawah komando Jendral Sudirman melakukan serangan besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Indonesia untuk merebut kembali ibu kota Indonesia dari Belanda. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, sewaktu sirine dibunyikan serangan dilakukan di segala penjuru kota. Dari sektor sebelah barat sampai batas Malioboro dipimpin Letkol Soeharto. Di sektor timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur oleh Mayor Sardjono. Di sektor utara dipimpin Mayor Kusno. Sementara di sektor kota dipimpin Letnan Amir Murtopo dan Letnan Masduki. Pasukan Indonesia berhasil menguasai Kota Yogyakarta selama 6 jam dengan mengerahkan 1000 pasukan. Adanya taktik ini membuat TNI dan rakyat yang bersatu dan kemudian berhasil menguasai keadaan dan medan pertempuran.

Sekian pak dari saya. Terimakasih.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Resti Nurmaya -
Saya Resti Nurmaya Npm 43 izin menanggapi pak

Dalam Agresi Militer Belanda I, aksi krusial yang dilakukan adalah melakukan perang Grilya. Akibat agresi militer Belanda I TNI Menyadari akan kekuatannya yang semakin terdesak, maka TNI mengatur strategi dengan melakukan perang gerilya melawan Belanda. TNI mulai menyusun kekuatan di desa-desa untuk memulai babak baru pertarungan melawan musuh. Di Jawa Barat, TNI yang semula bercerai-berai, kembali dapat mengkonsolidasikan diri dan mengadakan penghadangan-penghadangan dan serangan-serangan terhadap pos-pos tentara Belanda. Perlawanan yang dilakukan secara gerilya ini semakin teratur dan meningkat

Kemudian, Dalam Agresi Militer Belanda II, pasukan militer Belanda awalnya menyerang Pangkalan Udara Maguwo agar bisa masuk ke Yogyakarta. Belanda menggempur pangkalan udara itu secara tiba-tiba melalui serangan udara. Setelah Pangkalan Udara Maguwo lumpuh, Belanda dengan cepat menguasai Yogyakarta. Pemimpin Indonesia saat itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Belanda juga menangkap sejumlah tokoh seperti Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Roem, dan AG Pringgodigdo. Mereka diterbangkan ke tempat pengasingan di Pulau Sumatera dan Pulau Bangka. Salah satu aksi krusial yang dilakukan pihak Indonesia adalah membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Peralihan pemerintahan ini bertujuan agar Republik Indonesia tidak berhenti dan terus menyusun strategi melawan Belanda. Presiden Soekarno juga sudah membuat rencana cadangan seandainya Pemerintahan Darurat ini gagal menjalankan tugas pemerintahan.

Sekian dari saya, terimakasih pak..
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Novi Handayani -
Saya Novi Handayani, Npm 1813033009. Izin menanggapi pak. Beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu pada saat agresi militer Belanda I, Republik Indonesia secara resmi mengadukan serangan militer Belanda ke PBB, karena serangan militer tersebut dinilai sudah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati. Belanda ternyata tak memperhitungkan reaksi keras dari alam internasional, termasuk Inggris, yang tak lagi menyetujui penyelesaian secara militer. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah serangan militer yang dilancarkan Belanda dibawa masuk ke dalam acara Dewan Keamanan PBB, yang kemudian mengeluarkan Resolusi No. 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan supaya konflik bersenjata dihentikan.

Kemudian, pada saat agresi militer Belanda II atau Operasi Gagak yang terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia ketika itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan sebagian tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibuat susunannya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pada hari pertama Serangan Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu ditentukan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota supaya dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat disediakan.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Yohana Lestari -
Saya Yohana Lestari npm 1813033005 izin menanggapi pak :
Pada saat Agresi Militer Belanda I, hal yang dilakukan militer Indonesia yaitu menyusun strategi perang gerilya karena militer Indonesia terdesak oleh kekuatan militer Belanda . TNI yang semula bercerai-berai, kembali dapat mengkonsolidasikan diri dan mengadakan penghadangan-penghadangan dan serangan-serangan terhadap pos-pos tentara Belanda. Perlawanan yang dilakukan secara gerilya ini semakin teratur dan meningkat. Pada saat Agresi Militer Belanda II, hal yang dilakukan militer Indonesia yaitu menyusun strategi penyerangan gerilya. Kolonel A.H Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No. 1 Salah satu pokok isinya ialah: Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas. Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Hermia Wati -
Saya Hermia Wati npm 1813033023 izin menanggapi pak:

Angkatan militer memiliki peranan penting dalam mempertahankan keamanan dan keutuhan wilayah Indonesia dari serangan belanda pada pada Agresi Militer Belanda I dan II. Pada saat itu, militer Indonesia melakukan beberapa hal penting dimana pada saat itu TNI menggelar pertahanan linier yang konvensional. Pertahanan TNI di beberapa daerah berhasil diterobos oleh Belanda, namun pasukan TNI tidak bergerak mundur, melainkan membentuk kantong-kantong perlawanan. Ketika Belanda menyatakan batas daerah pendudukannya dan daerah Republik dengan garis demarkasi, pasukan TNI menduduki kantong-kantong perlawanan di daerah yang diakui Belanda sebagai daerah pendudukannya. Selain itu militer indonesia melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan indonesia dengan menggunakan strategi gerilya, dimana saat itu militer indonesia merasa bahwa kekuatan semakin terdesak.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Christine Amellia Putri -
Saya Christine Amellia Putri npm 1813033025 izin menanggapi pak.
Pada Agresi Militer 1, TNI memberlakukan strategi Wehrkreise. Dimana TNI menggelar pertahanan linier yang konvensional dengan membentuk medan-medan perlawanan. Selain itu, pada Agresi Militer 2 Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang akhir dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Aib satu pokok pokoknya ialah : Pekerjaan pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke balik garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi ajang gerilya yang lapang.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Salsabila Az Zahra -
Saya Salsabila Az Zahra, NPM 1813033037. Izin menanggapi pak. Beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu pada saat agresi militer Belanda I, Republik Indonesia secara resmi mengadukan serangan militer Belanda ke PBB, karena serangan militer tersebut dinilai sudah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati. Belanda ternyata tak memperhitungkan reaksi keras dari alam internasional, termasuk Inggris, yang tak lagi menyetujui penyelesaian secara militer. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah serangan militer yang dilancarkan Belanda dibawa masuk ke dalam acara Dewan Keamanan PBB, yang kemudian mengeluarkan Resolusi No. 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan supaya konflik bersenjata dihentikan. Selain itu, pada Agresi Militer 2 Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang akhir dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Aib satu pokok pokoknya ialah : Pekerjaan pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke balik garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi ajang gerilya yang lapang.
In reply to Yusuf Perdana

Re: Diskusi

by Agus Triyoga -
Saya Agus Triyoga NPM 41 izin menanggapi pak, Angkatan militer memiliki peranan penting dalam mempertahankan keamanan dan keutuhan wilayah Indonesia dari serangan belanda pada pada Agresi Militer Belanda I dan II. Dalam upaya mencegah Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia, pasukan militer Indonesia melakukan berbagai upaya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan strategi gerilya untuk melawan Belanda yang mulai mencoba menguasai wilayah Jawa Barat. Aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan TNI, memancing terjadinya pembersihan yang dilakukan oleh pihak Belanda. Tindakan pembersihan akan berpengaruh terhadap keselamatan rakyat di wilayah yang terkena pembersihan. Sehingga seluruh penduduk diberikan pemahaman mengenai sikap yang harus mereka ambil saat terjadi pembersihan.