Nama: Syarifah Siti Fatimah NA
NPM: 2413053036
1. Menurut saya, cara mengintegrasikan budaya lokal, cerita rakyat, tradisi, dan kearifan masyarakat ke dalam pembelajaran sekolah dasar dapat dilakukan dengan menjadikannya sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Guru dapat mengaitkan materi pelajaran dengan budaya yang ada di lingkungan sekitar agar peserta didik tidak hanya mengenal keberagaman, tetapi juga belajar menghargai perbedaan. Contohnya, guru merancang kegiatan pembelajaran dengan tema keberagaman budaya Indonesia. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari informasi tentang cerita rakyat, pakaian adat, makanan tradisional, atau tradisi dari berbagai daerah. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasilnya dan saling bertukar informasi. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar bekerja sama, menghargai pendapat teman, mengenal budaya lain, serta memahami bahwa setiap budaya memiliki keunikan dan nilai yang patut dihargai.
2. Menurut saya, apabila terjadi perundungan atau perlakuan diskriminatif terhadap peserta didik karena perbedaan suku, agama, bahasa, atau kondisi sosial ekonomi, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan tindakan tersebut dan memberikan perlindungan kepada peserta didik yang menjadi korban. Guru perlu mendengarkan penjelasan dari pihak yang terlibat tanpa menyalahkan salah satu pihak sebelum mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Selanjutnya, guru dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya toleransi, empati, dan menghargai perbedaan melalui diskusi serta pembinaan. Pihak sekolah juga perlu melibatkan orang tua untuk mencari penyelesaian bersama. Agar kejadian serupa tidak terulang, sekolah harus menerapkan aturan yang tegas terhadap tindakan perundungan dan diskriminasi, melakukan pengawasan, serta membiasakan kegiatan yang mendorong kerja sama tanpa membeda-bedakan latar belakang peserta didik.
3. Menurut saya, program kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat dirancang melalui kegiatan Pekan Keberagaman dan Gotong Royong yang melibatkan seluruh peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Dalam kegiatan ini, sekolah berperan sebagai penyelenggara sekaligus memberikan arahan tentang pentingnya toleransi dan menghargai perbedaan, keluarga berperan mengenalkan budaya serta kebiasaan baik yang ada di rumah, sedangkan masyarakat dapat berpartisipasi dengan memperkenalkan tradisi, kesenian, dan kearifan lokal. Kegiatannya dapat berupa pameran budaya, permainan tradisional, berbagi cerita tentang budaya daerah, serta kerja bakti bersama tanpa membedakan latar belakang. Keberhasilan program ini dapat dilihat dari meningkatnya sikap saling menghargai, kepedulian terhadap teman, kemampuan bekerja sama, berkurangnya tindakan diskriminasi, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan bersama. Dengan demikian, nilai toleransi, gotong royong, dan empati tidak hanya dipelajari melalui materi, tetapi juga diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.