Nama: Alma Handini
NPM: 2413053101
Jawaban Soal Diskusi 1
Menurut saya, globalisasi dan perkembangan teknologi membawa dua pengaruh terhadap kelestarian kebudayaan lokal di Indonesia. Di satu sisi, keduanya bisa membuat budaya lokal semakin dikenal. Namun, di sisi lain, keduanya juga bisa membuat generasi muda semakin jauh dari budayanya sendiri apabila tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melestarikannya.
Sekarang, kita bisa melihat bagaimana anak-anak lebih akrab dengan lagu-lagu yang sedang viral di TikTok daripada lagu daerahnya sendiri. Sebagian anak juga lebih mengenal tarian dari media sosial atau budaya populer luar negeri dibandingkan kesenian yang berasal dari daerahnya. Hal ini sebenarnya bukan berarti mereka salah karena menyukai budaya luar. Kita tidak bisa menuntut generasi muda untuk hanya mengenal budaya sendiri dan menolak perkembangan zaman. Justru, yang perlu diperhatikan adalah ketika mereka begitu mudah mengenal budaya luar, tetapi tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal dan memahami budaya lokalnya.
Di sisi lain, teknologi juga memberikan peluang besar untuk melestarikan kebudayaan. Misalnya, anak muda dapat membuat video tentang proses pembuatan kain tapis Lampung, memperkenalkan tari tradisional melalui konten yang menarik, atau membagikan cerita rakyat melalui media sosial. Dengan cara tersebut, budaya lokal tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjangkau orang-orang dari daerah lain, bahkan luar negeri. Artinya, teknologi bukan musuh kebudayaan. Yang menentukan adalah bagaimana kita menggunakannya.
Menurut saya, peran pendidikan bukan sekadar mengajarkan peserta didik untuk menghafal nama tarian, pakaian adat, atau rumah tradisional, tetapi membantu mereka memahami makna dan nilai yang terkandung di dalam kebudayaan tersebut. Sebab, anak mungkin bisa menyebutkan nama suatu tradisi saat ujian, tetapi belum tentu merasa bahwa tradisi itu penting untuk dijaga.
Contohnya, dalam pembelajaran, guru dapat meminta siswa mewawancarai orang tua atau kakek-neneknya mengenai permainan tradisional yang pernah mereka mainkan, seperti congklak, engklek, atau gobak sodor. Setelah itu, siswa dapat mempraktikkan permainan tersebut bersama teman-temannya, mendokumentasikannya dalam bentuk video sederhana, lalu menjelaskan nilai yang mereka pelajari, seperti kejujuran, kerja sama, dan sikap sportif.
Melalui kegiatan tersebut, anak tidak hanya mengetahui bahwa permainan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi juga mengalami langsung kesenangan dan nilai yang ada di dalamnya. Bahkan, mereka bisa membandingkannya dengan permainan digital yang biasa dimainkan sehari-hari tanpa harus menganggap salah satu lebih buruk daripada yang lain.
Melestarikan kebudayaan bukan berarti mengajak generasi muda kembali ke masa lalu, melainkan membantu mereka membawa nilai-nilai baik dari masa lalu ke kehidupan masa kini. Kita tidak perlu menghambat anak untuk berkembang mengikuti zaman. Sebaliknya, kita perlu membekali mereka agar mampu menerima hal-hal baru tanpa kehilangan penghargaan terhadap identitas dan budaya yang membentuk dirinya.
Jawaban Soal Diskusi 2
Menurut saya, perbedaan latar belakang budaya di lingkungan sekolah merupakan hal yang wajar karena setiap anak tumbuh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang tidak selalu sama. Ada anak yang sejak kecil terbiasa menggunakan bahasa daerah di rumah, ada yang dibiasakan berbicara dengan bahasa Indonesia, ada yang diajarkan untuk selalu berbicara secara langsung, dan ada pula yang terbiasa menyampaikan sesuatu dengan lebih halus. Perbedaan seperti ini bisa memengaruhi cara anak berbicara, bergaul, menyampaikan pendapat, bahkan memahami perilaku teman-temannya.
Masalahnya muncul ketika perbedaan tersebut langsung dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Misalnya, seorang siswa yang jarang berbicara di kelas dianggap tidak mampu atau tidak mau bergaul, padahal mungkin ia masih malu, belum terbiasa dengan lingkungan baru, atau membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Contoh lainnya, seorang anak yang menggunakan logat daerah saat berbicara justru ditertawakan oleh teman-temannya. Jika dibiarkan, anak tersebut bisa merasa malu terhadap identitas budayanya sendiri dan memilih untuk diam agar tidak menjadi bahan ejekan.
Di sinilah peran guru sangat penting. Guru tidak boleh terburu-buru menilai perilaku anak hanya berdasarkan kebiasaan yang dianggap umum di lingkungan sekolah. Guru perlu mengenali latar belakang peserta didik, mencari tahu penyebab perilakunya, dan memberikan pemahaman kepada seluruh siswa bahwa perbedaan cara berbicara, kebiasaan, dan nilai keluarga bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Contohnya, ketika ada siswa yang ditertawakan karena berbicara menggunakan logat daerah, guru tidak cukup hanya meminta siswa lain berhenti tertawa. Guru juga dapat mengajak mereka memahami bahwa setiap daerah memiliki cara berbicara yang berbeda dan logat merupakan salah satu bagian dari identitas seseorang. Guru bisa mengatakan bahwa kita mungkin memiliki cara bicara yang berbeda, tetapi tidak ada alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena bahasa yang kita gunakan. Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar untuk tidak mengejek, tetapi juga memahami mengapa mereka harus menghargai perbedaan.
Selain itu, guru perlu memastikan bahwa semua siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Misalnya, guru tidak hanya memberikan kesempatan kepada anak yang lancar berbicara di depan kelas, tetapi juga memberi ruang kepada anak yang lebih pendiam untuk menyampaikan pendapat melalui diskusi kelompok, tulisan, atau cara lain yang membuatnya nyaman. Namun, guru juga tetap perlu membimbing anak agar secara bertahap berani berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Pendidikan multikultural bukan berarti guru harus memperlakukan semua anak dengan cara yang persis sama, melainkan memberikan kesempatan yang adil kepada setiap anak untuk belajar, berkembang, dan merasa diterima. Guru juga tidak boleh membiarkan perilaku diskriminatif dengan alasan bahwa itu hanya candaan anak-anak. Candaan yang terus-menerus merendahkan bahasa, kebiasaan, atau asal daerah seseorang bisa membuat anak merasa tidak aman di sekolah. Jangan sampai anak merasa harus menyembunyikan identitas budayanya agar bisa diterima oleh teman-temannya. Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau dipermalukan, melainkan sesuatu yang bisa dikenali dan dihargai.