Nama: Ghina Azizah
Npm: 2513053198
Jurnal ini membahas perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa usia 11–12 tahun melalui jawaban mereka terhadap suatu permasalahan yang berkaitan dengan dilema moral. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan 10 siswa kelas VI sebagai responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, terutama tahap 1, yaitu ketaatan dan hukuman. Hal ini terlihat dari alasan mereka dalam mengambil keputusan yang lebih banyak didasari oleh rasa takut dimarahi, dihukum, atau dianggap sebagai pembohong oleh teman-temannya. Namun, terdapat satu siswa yang sudah menunjukkan perkembangan moral pada tahap yang lebih tinggi karena mampu mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain, bukan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Dari hasil penelitian tersebut, dapat dipahami bahwa perkembangan moral anak tidak hanya dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari alasan yang mendasari tindakan tersebut. Oleh karena itu, guru dan orang tua memiliki peran penting dalam membimbing anak agar mampu memahami nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap saling menghargai. Pendidikan moral sebaiknya tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membantu anak memahami mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk. Dengan begitu, anak diharapkan dapat mengembangkan kesadaran moral yang lebih baik seiring bertambahnya usia.
Npm: 2513053198
Jurnal ini membahas perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa usia 11–12 tahun melalui jawaban mereka terhadap suatu permasalahan yang berkaitan dengan dilema moral. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan 10 siswa kelas VI sebagai responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, terutama tahap 1, yaitu ketaatan dan hukuman. Hal ini terlihat dari alasan mereka dalam mengambil keputusan yang lebih banyak didasari oleh rasa takut dimarahi, dihukum, atau dianggap sebagai pembohong oleh teman-temannya. Namun, terdapat satu siswa yang sudah menunjukkan perkembangan moral pada tahap yang lebih tinggi karena mampu mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain, bukan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Dari hasil penelitian tersebut, dapat dipahami bahwa perkembangan moral anak tidak hanya dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari alasan yang mendasari tindakan tersebut. Oleh karena itu, guru dan orang tua memiliki peran penting dalam membimbing anak agar mampu memahami nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap saling menghargai. Pendidikan moral sebaiknya tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membantu anak memahami mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk. Dengan begitu, anak diharapkan dapat mengembangkan kesadaran moral yang lebih baik seiring bertambahnya usia.