Nama: Neysa Azzahra Nurluna
NPM: 2417021088
Menurut saya, status IUCN dan pencantuman suatu spesies dalam Appendix CITES belum cukup untuk menjamin spesies tersebut terhindar dari kepunahan. Kedua instrumen memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam konservasi. IUCN Red List berfokus pada penilaian risiko kepunahan secara global berdasarkan ukuran dan tren populasi, persebaran, serta ancaman yang dihadapi suatu spesies. Sementara itu, CITES berfokus pada pengaturan perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar melalui Appendix I, II, dan III. Dengan demikian, IUCN memberikan dasar ilmiah mengenai tingkat risiko kepunahan, sedangkan CITES mengendalikan perdagangan internasional sebagai salah satu tekanan terhadap spesies (IUCN, 2024; CITES, 2021).
Perbedaan tujuan tersebut menunjukkan adanya keterbatasan pada kedua instrumen. Status IUCN tidak secara langsung menjadi larangan terhadap aktivitas manusia karena Red List berfungsi sebagai penilaian risiko dan sumber informasi ilmiah. CITES juga memiliki cakupan yang lebih spesifik karena berfokus pada perdagangan internasional. Artinya, CITES tidak secara langsung mengatasi kehilangan habitat, fragmentasi hutan, perubahan penggunaan lahan, konflik manusia-satwa, atau perburuan untuk kebutuhan domestik. Oleh karena itu, suatu spesies dapat memiliki status terancam dan masuk Appendix I, tetapi populasinya tetap mengalami penurunan apabila ancaman utama di habitat alaminya belum dikendalikan.
Studi kasus orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Indonesia memperlihatkan kondisi tersebut. Orangutan Sumatera berstatus Critically Endangered (CR) dalam IUCN Red List dan tercantum dalam Appendix I CITES. Di Indonesia, spesies ini juga termasuk satwa yang dilindungi. Namun, perlindungan tersebut belum otomatis menghentikan penurunan populasi. Hadi et al. (2026) melakukan penilaian populasi melalui 208 survei sarang pada 2021–2023 dan memperkirakan terdapat sekitar 11.694 orangutan Sumatera di delapan metapopulasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan sekitar 19,5% dibandingkan kondisi tahun 2011, dengan kehilangan hutan menjadi faktor penting yang berkaitan dengan perubahan populasi (Hadi et al., 2026).
Studi tersebut memperkuat argumen bahwa status konservasi dan pengaturan perdagangan tidak cukup jika ancaman lain tetap berlangsung. Penelitian Knott et al. (2021) di Gunung Palung juga menunjukkan pentingnya perlindungan habitat, penelitian jangka panjang, edukasi masyarakat, serta pengembangan mata pencaharian alternatif dalam mendukung konservasi orangutan. Upaya seperti perlindungan kawasan hutan, pengawasan populasi, pencegahan perburuan, penegakan hukum, rehabilitasi, dan keterlibatan masyarakat perlu dilakukan secara bersamaan agar perlindungan tidak berhenti pada status administratif.
Berdasarkan uraian tersebut, IUCN dan CITES lebih tepat dipandang sebagai instrumen yang saling melengkapi, bukan jaminan tunggal terhadap kepunahan. IUCN membantu menunjukkan tingkat risiko kepunahan berdasarkan bukti ilmiah, sedangkan CITES membantu mengendalikan perdagangan internasional. Kasus orangutan Sumatera menunjukkan bahwa keberadaan status CR dan Appendix I tetap perlu didukung oleh perlindungan habitat serta tindakan konservasi di tingkat nasional dan lokal. Efektivitas perlindungan spesies pada akhirnya bergantung pada kemampuan berbagai pihak dalam mengurangi ancaman secara langsung dan mempertahankan populasi di habitat alaminya.
Daftar Pustaka :
CITES. (2021). Appendices I, II and III. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.
Hadi, A. N., Siregar, J. P., Anugrah, N., Kuswanda, W., Boang Manalu, J. H., Nasution, N., Fauzan, R., Wardani, N. K., Subhan, Barata, U. W., Rahman, D. A., Ishadamy, M. Y., Sitorus, S. F., Andayani, N., Supriatna, J., Wich, S. A., Kühl, H. S., & Buckley, B. J. W. (2026). Population status of Sumatran and Tapanuli orangutans: A comprehensive assessment 2021–2023. Global Ecology and Conservation, 69, e04302.
IUCN. (2024). Guidelines for using the IUCN Red List Categories and Criteria: Version 16. International Union for Conservation of Nature.
Knott, C. D., Kane, E. E., Achmad, M., Barrow, E. J., Bastian, M. L., Beck, J., et al. (2021). The Gunung Palung Orangutan Project: Twenty-five years at the intersection of research and conservation in a critical landscape in Indonesia. Biological Conservation, 255, 108856.