Cobalah anda kemukakan disini pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia. bagaimanakah relevansinya pembangunan berkelanjutan dengan gerakan ramah
lingkungan/Greenmatric yang telah dilaksanakan dengan upaya menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat?
Forum Diskusi
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009
Menurut saya, pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan cara pandang bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan kebutuhan generasi mendatang. UNESCO (2026) menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan berupaya memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang, dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam konteks global, prinsip tersebut diwujudkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri atas 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Persoalan lingkungan di dalam SDGs tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan pendidikan, kemiskinan, energi, konsumsi, perubahan iklim, hingga kehidupan masyarakat (United Nations, 2015). Artinya, kerusakan lingkungan pada akhirnya juga menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan menghadapi tantangan seperti pencemaran, sampah, deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam. Menurut saya, persoalannya bukan hanya kurangnya program lingkungan, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar keberlanjutan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. UNESCO (2020) menegaskan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan penting karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, keterampilan, nilai, dan kemampuan masyarakat untuk mengambil tindakan terhadap persoalan lingkungan.
Relevansi GreenMetric dengan Kesadaran Ekologis
Dalam konteks tersebut, UI GreenMetric menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan diterjemahkan ke dalam tindakan yang lebih terukur di lingkungan perguruan tinggi. GreenMetric memperhatikan berbagai aspek seperti energi, perubahan iklim, air, transportasi, pengelolaan limbah, infrastruktur, serta pendidikan dan penelitian keberlanjutan (UI GreenMetric, 2019).
Menurut saya, GreenMetric penting karena gerakan ramah lingkungan sering kali berhenti pada kegiatan simbolis seperti menanam pohon atau membersihkan lingkungan. Kegiatan tersebut memang penting, tetapi belum cukup jika tidak diikuti perubahan sistem dan perilaku. GreenMetric mendorong institusi untuk mengukur kondisi lingkungan, melakukan perbaikan, dan mengevaluasi hasilnya.
Hubungannya dengan kesadaran ekologis dapat dilihat melalui proses:
pengukuran → kesadaran → perubahan perilaku → evaluasi → perbaikan berkelanjutan.
Hal ini semakin jelas dalam pengembangan UI GreenCityMetric. UI GreenMetric (2025) menambahkan aspek peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan kabupaten/kota yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur hijau, tetapi membutuhkan masyarakat yang sadar dan terlibat.
Namun, menurut saya, GreenMetric juga perlu dilihat secara kritis. Jangan sampai keberlanjutan hanya dipahami sebagai persoalan mengejar skor atau peringkat. Sebuah institusi mungkin memiliki ruang hijau, pengelolaan sampah, dan fasilitas ramah lingkungan yang baik, tetapi jika warga di dalamnya tidak memiliki kesadaran ekologis, keberlanjutan tersebut menjadi kurang bermakna. Karena itu, indikator kuantitatif perlu berjalan bersama perubahan budaya dan perilaku masyarakat.
Kesimpulan
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan, SDGs, GreenMetric, dan pendidikan ekologis memiliki hubungan yang erat. Pembangunan berkelanjutan memberikan arah, SDGs memberikan tujuan, GreenMetric membantu mengukur dan mendorong praktik keberlanjutan, sedangkan pendidikan membangun kesadaran dan perubahan perilaku.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup dilihat dari banyaknya ruang hijau, fasilitas ramah lingkungan, atau tingginya skor GreenMetric. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memahami keterbatasan alam, bersedia mengubah perilakunya, dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Karena itu, GreenMetric sebaiknya tidak hanya menjadi alat pemeringkatan, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun budaya ekologis yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
UNESCO. 2020. Education for Sustainable Development: A Roadmap. Paris: UNESCO.
UNESCO. 2026. What You Need to Know About Education for Sustainable Development. Paris: UNESCO.
United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
UI GreenMetric. 2019. UI GreenMetric World University Rankings: Guidelines. Depok: Universitas Indonesia.
UI GreenMetric. 2025. Siaran Pers Peluncuran dan Sosialisasi UI GreenCityMetric 2025. Depok: Universitas Indonesia.
NPM: 2523031009
Menurut saya, pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan cara pandang bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan kebutuhan generasi mendatang. UNESCO (2026) menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan berupaya memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang, dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam konteks global, prinsip tersebut diwujudkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri atas 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Persoalan lingkungan di dalam SDGs tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan pendidikan, kemiskinan, energi, konsumsi, perubahan iklim, hingga kehidupan masyarakat (United Nations, 2015). Artinya, kerusakan lingkungan pada akhirnya juga menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan menghadapi tantangan seperti pencemaran, sampah, deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam. Menurut saya, persoalannya bukan hanya kurangnya program lingkungan, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar keberlanjutan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. UNESCO (2020) menegaskan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan penting karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, keterampilan, nilai, dan kemampuan masyarakat untuk mengambil tindakan terhadap persoalan lingkungan.
Relevansi GreenMetric dengan Kesadaran Ekologis
Dalam konteks tersebut, UI GreenMetric menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan diterjemahkan ke dalam tindakan yang lebih terukur di lingkungan perguruan tinggi. GreenMetric memperhatikan berbagai aspek seperti energi, perubahan iklim, air, transportasi, pengelolaan limbah, infrastruktur, serta pendidikan dan penelitian keberlanjutan (UI GreenMetric, 2019).
Menurut saya, GreenMetric penting karena gerakan ramah lingkungan sering kali berhenti pada kegiatan simbolis seperti menanam pohon atau membersihkan lingkungan. Kegiatan tersebut memang penting, tetapi belum cukup jika tidak diikuti perubahan sistem dan perilaku. GreenMetric mendorong institusi untuk mengukur kondisi lingkungan, melakukan perbaikan, dan mengevaluasi hasilnya.
Hubungannya dengan kesadaran ekologis dapat dilihat melalui proses:
pengukuran → kesadaran → perubahan perilaku → evaluasi → perbaikan berkelanjutan.
Hal ini semakin jelas dalam pengembangan UI GreenCityMetric. UI GreenMetric (2025) menambahkan aspek peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan kabupaten/kota yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur hijau, tetapi membutuhkan masyarakat yang sadar dan terlibat.
Namun, menurut saya, GreenMetric juga perlu dilihat secara kritis. Jangan sampai keberlanjutan hanya dipahami sebagai persoalan mengejar skor atau peringkat. Sebuah institusi mungkin memiliki ruang hijau, pengelolaan sampah, dan fasilitas ramah lingkungan yang baik, tetapi jika warga di dalamnya tidak memiliki kesadaran ekologis, keberlanjutan tersebut menjadi kurang bermakna. Karena itu, indikator kuantitatif perlu berjalan bersama perubahan budaya dan perilaku masyarakat.
Kesimpulan
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan, SDGs, GreenMetric, dan pendidikan ekologis memiliki hubungan yang erat. Pembangunan berkelanjutan memberikan arah, SDGs memberikan tujuan, GreenMetric membantu mengukur dan mendorong praktik keberlanjutan, sedangkan pendidikan membangun kesadaran dan perubahan perilaku.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup dilihat dari banyaknya ruang hijau, fasilitas ramah lingkungan, atau tingginya skor GreenMetric. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memahami keterbatasan alam, bersedia mengubah perilakunya, dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Karena itu, GreenMetric sebaiknya tidak hanya menjadi alat pemeringkatan, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun budaya ekologis yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
UNESCO. 2020. Education for Sustainable Development: A Roadmap. Paris: UNESCO.
UNESCO. 2026. What You Need to Know About Education for Sustainable Development. Paris: UNESCO.
United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
UI GreenMetric. 2019. UI GreenMetric World University Rankings: Guidelines. Depok: Universitas Indonesia.
UI GreenMetric. 2025. Siaran Pers Peluncuran dan Sosialisasi UI GreenCityMetric 2025. Depok: Universitas Indonesia.
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
Gerakan ramah lingkungan seperti Greenmatric memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan berkelanjutan karena tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Syamsiyah et al. (2025), misalnya, menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berperan penting dalam keberhasilan program pengembangan desa berwawasan lingkungan dan keberlanjutan manfaat sosial-ekologisnya. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif, sehingga gerakan lingkungan berbasis partisipasi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pengalaman langsung, kerja sama, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan.
Pada konteks Greenmatric, kegiatan ramah lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat dipandang sebagai proses pendidikan ekologis berbasis praktik. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai permasalahan lingkungan, tetapi belajar memahami hubungan antara tindakan manusia dan keberlanjutan lingkungan melalui keterlibatan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Sucipto et al. (2024) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif, komunikasi, kerja sama, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat memperkuat peran masyarakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, Greenmatric dapat menjadi media untuk mengubah kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan dan tindakan kolektif, sehingga kesadaran ekologis masyarakat tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berkembang menjadi perilaku yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Rujukan:
Sucipto, S., & Fatihin, M. (2024). Participatory Learning for Rural Community Empowerment. Jurnal Ilmu Pendidikan, 30(1), 69-79.
Syamsiyah, N., Sadeli, A. H., Saidah, Z., & Noor, T. I. (2025). Community participation in the development of sustainable, environmentally conscious villages in the Cirasea Sub-Watershed, Indonesia. Sustainability, 17(11), 4871. https://doi.org/10.3390/su17114871
NPM: 2523031006
Gerakan ramah lingkungan seperti Greenmatric memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan berkelanjutan karena tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Syamsiyah et al. (2025), misalnya, menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berperan penting dalam keberhasilan program pengembangan desa berwawasan lingkungan dan keberlanjutan manfaat sosial-ekologisnya. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif, sehingga gerakan lingkungan berbasis partisipasi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pengalaman langsung, kerja sama, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan.
Pada konteks Greenmatric, kegiatan ramah lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat dipandang sebagai proses pendidikan ekologis berbasis praktik. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai permasalahan lingkungan, tetapi belajar memahami hubungan antara tindakan manusia dan keberlanjutan lingkungan melalui keterlibatan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Sucipto et al. (2024) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif, komunikasi, kerja sama, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat memperkuat peran masyarakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, Greenmatric dapat menjadi media untuk mengubah kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan dan tindakan kolektif, sehingga kesadaran ekologis masyarakat tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berkembang menjadi perilaku yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Rujukan:
Sucipto, S., & Fatihin, M. (2024). Participatory Learning for Rural Community Empowerment. Jurnal Ilmu Pendidikan, 30(1), 69-79.
Syamsiyah, N., Sadeli, A. H., Saidah, Z., & Noor, T. I. (2025). Community participation in the development of sustainable, environmentally conscious villages in the Cirasea Sub-Watershed, Indonesia. Sustainability, 17(11), 4871. https://doi.org/10.3390/su17114871
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001
Pembangunan Berkelanjutan dalam Konteks Indonesia dan Dunia serta Relevansinya dengan Gerakan Ramah Lingkungan dan UI GreenMetric
Pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia
Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep ini menekankan keseimbangan antara tiga aspek utama, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam konteks global, pembangunan berkelanjutan menjadi penting karena dunia menghadapi berbagai persoalan, seperti perubahan iklim, pencemaran, kerusakan ekosistem, kemiskinan, dan ketimpangan sosial. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sustainable Development Goals (SDGs) menetapkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi pedoman bagi negara-negara untuk meningkatkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kelestarian bumi. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan suatu negara melindungi lingkungan, memperluas akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta menciptakan kehidupan yang adil bagi masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, pembangunan berkelanjutan memiliki relevansi yang sangat kuat karena Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar, tetapi juga menghadapi tantangan berupa deforestasi, pencemaran air, persoalan sampah, degradasi lahan, serta dampak perubahan iklim. Pembangunan di sektor industri, pertambangan, perkebunan, pertanian, dan infrastruktur memang berperan dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, apabila pelaksanaannya tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, pembangunan tersebut dapat menimbulkan kerusakan ekologis dan mengurangi kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan di Indonesia perlu diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab, pengembangan energi yang lebih bersih, pengelolaan sampah, perlindungan hutan, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Relevansi pembangunan berkelanjutan dengan gerakan ramah lingkungan dan UI GreenMetric
Salah satu gerakan yang memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan adalah gerakan ramah lingkungan atau green movement. Gerakan ini mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian alam melalui pengurangan sampah, penggunaan energi secara efisien, penghematan air, penghijauan, pemanfaatan transportasi rendah emisi, dan penerapan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Gerakan ramah lingkungan menjadi penting karena pembangunan berkelanjutan tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah atau teknologi modern, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Dalam hal ini, kesadaran ekologis menjadi landasan utama agar masyarakat memahami bahwa setiap tindakan manusia, mulai dari penggunaan plastik hingga pemakaian energi, mempunyai konsekuensi terhadap lingkungan. Gerakan tersebut juga berkaitan langsung dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 15 tentang perlindungan ekosistem daratan.
Sementara itu, apabila yang dimaksud dengan GreenMetric adalah UI GreenMetric World University Rankings, program ini merupakan inisiatif Universitas Indonesia yang diluncurkan pada 2010 untuk menilai dan mendorong penerapan prinsip keberlanjutan di perguruan tinggi. UI GreenMetric tidak hanya memperhatikan kondisi fisik kampus, tetapi juga kebijakan dan program yang berkaitan dengan keberlanjutan. Dalam pedoman 2025, penilaian mencakup enam kategori utama, yaitu penataan ruang dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan sampah, pengelolaan air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian. Kerangka ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan perlu diterapkan melalui pengelolaan institusi secara menyeluruh, bukan sekadar memperbanyak tanaman atau memperindah lingkungan kampus.
Relevansi UI GreenMetric dengan pembangunan berkelanjutan terletak pada upayanya menerjemahkan konsep keberlanjutan menjadi tindakan yang dapat direncanakan, diukur, dan dievaluasi. Misalnya, kampus dapat menyediakan ruang terbuka hijau, mengembangkan sistem pemilahan dan daur ulang sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, meningkatkan efisiensi energi, serta mendorong penggunaan sepeda dan transportasi bersama. Pada saat yang sama, perguruan tinggi dapat memasukkan isu lingkungan ke dalam pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan organisasi mahasiswa. Dengan demikian, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang praktik untuk membangun budaya hidup berkelanjutan. UI GreenMetric juga dapat digunakan sebagai sarana evaluasi untuk mengetahui aspek yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
Dari perspektif pembentukan kesadaran ekologis, gerakan ramah lingkungan dan UI GreenMetric mempunyai peran yang saling melengkapi. Gerakan ramah lingkungan mendorong keterlibatan masyarakat melalui kebiasaan sehari-hari, sedangkan UI GreenMetric memberikan kerangka bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan kebijakan, program, dan indikator keberlanjutan. Sebagai contoh, program pengurangan sampah di kampus tidak akan berhasil hanya dengan menyediakan tempat sampah terpilah apabila mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola kantin tidak memahami serta menerapkan cara pemilahan yang benar. Karena itu, pembangunan fasilitas perlu diikuti pendidikan lingkungan, keteladanan, keterlibatan warga kampus, dan evaluasi terhadap perubahan perilaku. Kesadaran ekologis akan lebih kuat apabila masyarakat bukan hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, melainkan juga merasa bertanggung jawab dan terbiasa mengambil tindakan nyata.
Menurut analisis saya, tantangan utama dalam pelaksanaan gerakan ramah lingkungan adalah memastikan agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar mengejar penilaian. Kampus yang memiliki banyak ruang hijau belum tentu telah menerapkan seluruh prinsip keberlanjutan apabila penggunaan energinya masih boros, sampahnya tidak dikelola dengan baik, atau pendidikan ekologis belum menjadi bagian dari budaya institusi. Oleh sebab itu, penilaian seperti UI GreenMetric sebaiknya dipandang sebagai alat untuk mendorong perbaikan berkelanjutan, bukan sebagai tujuan akhir. Keberhasilannya perlu dilihat dari perubahan yang dapat dibuktikan, seperti berkurangnya volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir, menurunnya penggunaan energi dan air per kapita, meningkatnya partisipasi warga kampus, serta meluasnya kegiatan pendidikan lingkungan kepada masyarakat sekitar. Prinsip ini sejalan dengan tujuan UI GreenMetric untuk mendorong perubahan sosial dan penerapan kebijakan keberlanjutan di perguruan tinggi.
Dalam konteks pendidikan IPS, pembangunan berkelanjutan dan UI GreenMetric dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Peserta didik dapat diajak mengamati pengelolaan sampah di sekolah, menganalisis penggunaan air dan listrik, meneliti kebiasaan warga sekolah dalam menggunakan plastik, atau merancang kampanye lingkungan berbasis kondisi lokal. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan ecopedagogy, yaitu pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami persoalan ekologis secara kritis sekaligus berpartisipasi dalam mencari penyelesaiannya. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep pembangunan berkelanjutan, tetapi juga berlatih mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas dampak perilakunya terhadap lingkungan.
Kesimpulannya, pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia membutuhkan keterpaduan antara kebijakan, inovasi teknologi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat. Gerakan ramah lingkungan berperan membentuk kebiasaan ekologis dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan UI GreenMetric menyediakan kerangka untuk mendorong dan mengevaluasi penerapan keberlanjutan di perguruan tinggi. Keduanya akan memberikan dampak yang lebih bermakna apabila dilaksanakan secara konsisten, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dan berorientasi pada perubahan nyata. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup diukur melalui penghargaan atau peringkat, tetapi juga melalui terbentuknya masyarakat yang memiliki kesadaran ekologis, bertanggung jawab terhadap alam, dan mampu menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.
Sumber Referensi:
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2023). Roadmap of SDGs Indonesia 2023–2030. https://sdgs.bappenas.go.id/website/wp-content/uploads/2024/04/Roadmap-of-SDGs-2023-2030-Eng.pdf
Sari, R. F., & Tjahjono, G. (n.d.). UI GreenMetric ranking of world university: Methodology and evaluation. Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan. https://research.eng.ui.ac.id/detail/publication/2017031821281784
UI GreenMetric World University Rankings. (2025). UI GreenMetric World University Rankings: Guideline 2025. https://greenmetric.ui.ac.id/wp-content/uploads/2025/06/UI-GreenMetric-Guideline-2025.pdf
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. https://sdgs.un.org/2030agenda
United Nations. (n.d.). The Sustainable Development Goals. https://www.un.org/sustainabledevelopment/development-goals/
NPM : 2523031001
Pembangunan Berkelanjutan dalam Konteks Indonesia dan Dunia serta Relevansinya dengan Gerakan Ramah Lingkungan dan UI GreenMetric
Pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia
Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep ini menekankan keseimbangan antara tiga aspek utama, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam konteks global, pembangunan berkelanjutan menjadi penting karena dunia menghadapi berbagai persoalan, seperti perubahan iklim, pencemaran, kerusakan ekosistem, kemiskinan, dan ketimpangan sosial. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sustainable Development Goals (SDGs) menetapkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi pedoman bagi negara-negara untuk meningkatkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kelestarian bumi. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan suatu negara melindungi lingkungan, memperluas akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta menciptakan kehidupan yang adil bagi masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, pembangunan berkelanjutan memiliki relevansi yang sangat kuat karena Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar, tetapi juga menghadapi tantangan berupa deforestasi, pencemaran air, persoalan sampah, degradasi lahan, serta dampak perubahan iklim. Pembangunan di sektor industri, pertambangan, perkebunan, pertanian, dan infrastruktur memang berperan dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, apabila pelaksanaannya tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, pembangunan tersebut dapat menimbulkan kerusakan ekologis dan mengurangi kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan di Indonesia perlu diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab, pengembangan energi yang lebih bersih, pengelolaan sampah, perlindungan hutan, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Relevansi pembangunan berkelanjutan dengan gerakan ramah lingkungan dan UI GreenMetric
Salah satu gerakan yang memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan adalah gerakan ramah lingkungan atau green movement. Gerakan ini mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian alam melalui pengurangan sampah, penggunaan energi secara efisien, penghematan air, penghijauan, pemanfaatan transportasi rendah emisi, dan penerapan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Gerakan ramah lingkungan menjadi penting karena pembangunan berkelanjutan tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah atau teknologi modern, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Dalam hal ini, kesadaran ekologis menjadi landasan utama agar masyarakat memahami bahwa setiap tindakan manusia, mulai dari penggunaan plastik hingga pemakaian energi, mempunyai konsekuensi terhadap lingkungan. Gerakan tersebut juga berkaitan langsung dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 15 tentang perlindungan ekosistem daratan.
Sementara itu, apabila yang dimaksud dengan GreenMetric adalah UI GreenMetric World University Rankings, program ini merupakan inisiatif Universitas Indonesia yang diluncurkan pada 2010 untuk menilai dan mendorong penerapan prinsip keberlanjutan di perguruan tinggi. UI GreenMetric tidak hanya memperhatikan kondisi fisik kampus, tetapi juga kebijakan dan program yang berkaitan dengan keberlanjutan. Dalam pedoman 2025, penilaian mencakup enam kategori utama, yaitu penataan ruang dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan sampah, pengelolaan air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian. Kerangka ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan perlu diterapkan melalui pengelolaan institusi secara menyeluruh, bukan sekadar memperbanyak tanaman atau memperindah lingkungan kampus.
Relevansi UI GreenMetric dengan pembangunan berkelanjutan terletak pada upayanya menerjemahkan konsep keberlanjutan menjadi tindakan yang dapat direncanakan, diukur, dan dievaluasi. Misalnya, kampus dapat menyediakan ruang terbuka hijau, mengembangkan sistem pemilahan dan daur ulang sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, meningkatkan efisiensi energi, serta mendorong penggunaan sepeda dan transportasi bersama. Pada saat yang sama, perguruan tinggi dapat memasukkan isu lingkungan ke dalam pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan organisasi mahasiswa. Dengan demikian, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang praktik untuk membangun budaya hidup berkelanjutan. UI GreenMetric juga dapat digunakan sebagai sarana evaluasi untuk mengetahui aspek yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
Dari perspektif pembentukan kesadaran ekologis, gerakan ramah lingkungan dan UI GreenMetric mempunyai peran yang saling melengkapi. Gerakan ramah lingkungan mendorong keterlibatan masyarakat melalui kebiasaan sehari-hari, sedangkan UI GreenMetric memberikan kerangka bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan kebijakan, program, dan indikator keberlanjutan. Sebagai contoh, program pengurangan sampah di kampus tidak akan berhasil hanya dengan menyediakan tempat sampah terpilah apabila mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola kantin tidak memahami serta menerapkan cara pemilahan yang benar. Karena itu, pembangunan fasilitas perlu diikuti pendidikan lingkungan, keteladanan, keterlibatan warga kampus, dan evaluasi terhadap perubahan perilaku. Kesadaran ekologis akan lebih kuat apabila masyarakat bukan hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, melainkan juga merasa bertanggung jawab dan terbiasa mengambil tindakan nyata.
Menurut analisis saya, tantangan utama dalam pelaksanaan gerakan ramah lingkungan adalah memastikan agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar mengejar penilaian. Kampus yang memiliki banyak ruang hijau belum tentu telah menerapkan seluruh prinsip keberlanjutan apabila penggunaan energinya masih boros, sampahnya tidak dikelola dengan baik, atau pendidikan ekologis belum menjadi bagian dari budaya institusi. Oleh sebab itu, penilaian seperti UI GreenMetric sebaiknya dipandang sebagai alat untuk mendorong perbaikan berkelanjutan, bukan sebagai tujuan akhir. Keberhasilannya perlu dilihat dari perubahan yang dapat dibuktikan, seperti berkurangnya volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir, menurunnya penggunaan energi dan air per kapita, meningkatnya partisipasi warga kampus, serta meluasnya kegiatan pendidikan lingkungan kepada masyarakat sekitar. Prinsip ini sejalan dengan tujuan UI GreenMetric untuk mendorong perubahan sosial dan penerapan kebijakan keberlanjutan di perguruan tinggi.
Dalam konteks pendidikan IPS, pembangunan berkelanjutan dan UI GreenMetric dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Peserta didik dapat diajak mengamati pengelolaan sampah di sekolah, menganalisis penggunaan air dan listrik, meneliti kebiasaan warga sekolah dalam menggunakan plastik, atau merancang kampanye lingkungan berbasis kondisi lokal. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan ecopedagogy, yaitu pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami persoalan ekologis secara kritis sekaligus berpartisipasi dalam mencari penyelesaiannya. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep pembangunan berkelanjutan, tetapi juga berlatih mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas dampak perilakunya terhadap lingkungan.
Kesimpulannya, pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia membutuhkan keterpaduan antara kebijakan, inovasi teknologi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat. Gerakan ramah lingkungan berperan membentuk kebiasaan ekologis dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan UI GreenMetric menyediakan kerangka untuk mendorong dan mengevaluasi penerapan keberlanjutan di perguruan tinggi. Keduanya akan memberikan dampak yang lebih bermakna apabila dilaksanakan secara konsisten, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dan berorientasi pada perubahan nyata. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup diukur melalui penghargaan atau peringkat, tetapi juga melalui terbentuknya masyarakat yang memiliki kesadaran ekologis, bertanggung jawab terhadap alam, dan mampu menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.
Sumber Referensi:
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2023). Roadmap of SDGs Indonesia 2023–2030. https://sdgs.bappenas.go.id/website/wp-content/uploads/2024/04/Roadmap-of-SDGs-2023-2030-Eng.pdf
Sari, R. F., & Tjahjono, G. (n.d.). UI GreenMetric ranking of world university: Methodology and evaluation. Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan. https://research.eng.ui.ac.id/detail/publication/2017031821281784
UI GreenMetric World University Rankings. (2025). UI GreenMetric World University Rankings: Guideline 2025. https://greenmetric.ui.ac.id/wp-content/uploads/2025/06/UI-GreenMetric-Guideline-2025.pdf
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. https://sdgs.un.org/2030agenda
United Nations. (n.d.). The Sustainable Development Goals. https://www.un.org/sustainabledevelopment/development-goals/