Nama: Serly Natasa
NPM: 2413031028
1. Jika kita cermati rumusan topiknya, yaitu
"pengaruh penggunaan media digital interaktif terhadap motivasi belajar
siswa", maka sudah tergambar jelas bahwa ada dua variabel yang hendak diuji
hubungannya yaitu media digital interaktif yang berperan sebagai variabel bebas
atau variabel independen, sedangkan motivasi belajar siswa berperan sebagai
variabel terikat atau variabel dependen. Kata penghubung "terhadap"
yang digunakan dalam judul juga menjadi penanda khas bahwa hubungan yang
dimaksud bersifat kausal atau sebab akibat, bukan sekadar hubungan yang sejajar
atau timbal balik.
Berdasarkan sifat hubungan tersebut, pendekatan yang
paling sesuai untuk kasus ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain
kausal atau eksperimen semu (quasi eksperimen), atau bisa juga menggunakan
desain korelasional jika peneliti hanya ingin melihat kekuatan pengaruh tanpa
memberikan perlakuan secara langsung. Alasannya sederhana namun mendasar, yakni
karena tujuan penelitian ini adalah mengukur seberapa besar pengaruh satu
variabel terhadap variabel lainnya, dan pengukuran semacam ini menuntut data
yang bersifat numerik, dapat diuji secara statistik, serta dapat digeneralisasi
pada populasi yang lebih luas.
Pendekatan kualitatif memang bisa saja digunakan,
namun akan lebih tepat apabila mahasiswa ingin menggali pengalaman subjektif
siswa dalam menggunakan media digital, bukan untuk mengukur pengaruh secara
terukur. Karena rumusan masalah yang diajukan sudah mengarah pada pengujian
hubungan sebab akibat antarvariabel, maka pendekatan kuantitatif menjadi
pilihan yang lebih logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.
2. Prosedur
yang perlu ditempuh mahasiswa tersebut dapat disusun sebagai berikut.
1). Identifikasi Masalah yaitu mahasiswa perlu
menelusuri kesenjangan yang benar-benar terjadi di lapangan, misalnya ditemukan
fakta bahwa motivasi belajar siswa cenderung menurun selama pembelajaran daring,
sementara harapannya siswa tetap antusias meski belajar dari rumah. Kesenjangan
inilah yang menjadi titik awal munculnya masalah penelitian.
2). Penyusunan Latar Belakang Masalah yaitu setelah
masalah teridentifikasi, mahasiswa perlu menguraikan situasi yang melatarinya
secara lebih luas, misalnya bagaimana kondisi pembelajaran daring pascapandemi,
tantangan yang dihadapi guru dan siswa, serta pentingnya media pembelajaran
yang menarik dalam menjaga semangat belajar siswa.
3). Pembatasan Masalah ialah mengingat luasnya cakupan
topik, mahasiswa sebaiknya membatasi penelitian pada jenjang sekolah tertentu,
mata pelajaran tertentu (misalnya Ekonomi), serta jenis media digital
interaktif tertentu, agar penelitian tidak melebar dan tetap fokus.
4). Perumusan Masalah, pada tahap ini disusun kalimat
rumusan masalah, misalnya, "Apakah penggunaan media digital interaktif
berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi selama
pembelajaran daring?"
5). Penyusunan Tujuan Penelitian ialah tujuan yang dirumuskan
dalam kalimat pernyataan, misalnya, "Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penggunaan media digital interaktif terhadap motivasi
belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi selama pembelajaran daring."
6). Penyusunan Kajian Teori dan Kerangka Berpikir
yaitu mahasiswa perlu menelaah teori-teori yang relevan mengenai media
pembelajaran digital dan motivasi belajar, kemudian menyusunnya menjadi
kerangka berpikir yang logis sebagai dasar penyusunan hipotesis.
7). Perumusan Hipotesis yaitu karena pendekatannya
kuantitatif, hipotesis perlu dirumuskan secara jelas, misalnya, "Terdapat
pengaruh yang signifikan antara penggunaan media digital interaktif terhadap
motivasi belajar siswa."
8). Penentuan Desain dan Metode Penelitian ialah mahasiswa
menentukan apakah menggunakan desain eksperimen semu dengan kelompok kontrol
dan kelompok eksperimen, atau desain survei korelasional dengan mengukur kedua
variabel pada waktu yang bersamaan.
9). Penyusunan Instrumen Penelitian ialah instrumen
berupa kuesioner atau skala motivasi belajar disusun berdasarkan indikator yang
jelas, kemudian diujicobakan sebelum digunakan pada sampel penelitian yang
sesungguhnya.
10). Pengumpulan dan Analisis Data yaitu data yang
terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik yang sesuai,
misalnya regresi sederhana atau uji beda, tergantung desain yang dipilih.
11). Penarikan Kesimpulan dan Penyusunan Laporan ialah
hasil analisis kemudian ditafsirkan, dikaitkan dengan teori yang digunakan, dan
disusun menjadi laporan penelitian yang utuh, mulai dari pendahuluan, tinjauan
pustaka, metode, hasil, hingga penutup.
3. Dalam pelaksanaan penelitian, ada beberapa kendala yang
mungkin dihadapi mahasiswa tersebut.
1). Kebingungan menentukan variabel dan pendekatan penelitian,
sebagaimana yang memang dialami dalam kasus ini. Solusinya, mahasiswa perlu
memperbanyak membaca penelitian terdahulu dengan topik sejenis, sehingga
terbiasa mengenali pola rumusan masalah dan pendekatan yang lazim digunakan.
2). Kesulitan menyusun instrumen yang benar-benar
mengukur motivasi belajar secara tepat, bukan sekadar menyusun pertanyaan yang
terkesan asal jadi. Solusinya, mahasiswa perlu menyusun instrumen berdasarkan
kisi-kisi yang jelas, merujuk pada teori motivasi belajar yang sudah mapan,
kemudian melakukan uji coba sebelum digunakan secara luas.
3). Keterbatasan dalam mengontrol variabel luar
(variabel pengganggu) saat pembelajaran daring, misalnya perbedaan fasilitas
internet atau dukungan orang tua yang bisa memengaruhi motivasi belajar siswa
selain media digital itu sendiri. Solusinya, mahasiswa dapat menetapkan
kriteria sampel yang lebih homogen atau mencantumkan variabel tersebut sebagai
variabel kontrol dalam pembatasan masalah.
4). Keterbatasan waktu dan akses ke lokasi penelitian,
mengingat pembelajaran daring membuat interaksi dengan siswa menjadi tidak
langsung. Solusinya, mahasiswa dapat memanfaatkan platform digital untuk
menyebarkan instrumen secara daring, misalnya melalui formulir elektronik,
sembari tetap menjaga etika penelitian seperti meminta izin pihak sekolah dan
menjaga kerahasiaan data responden.
4. Penyusunan
instrumen dalam penelitian ini dimulai dengan menetapkan definisi operasional
dari variabel motivasi belajar, kemudian menyusun indikator-indikator yang
mewakili definisi tersebut, misalnya ketekunan dalam belajar, keinginan untuk
berprestasi, ketertarikan terhadap materi, dan ketahanan menghadapi kesulitan
belajar. Dari indikator tersebut, disusunlah kisi-kisi instrumen yang kemudian
dikembangkan menjadi butir-butir pertanyaan dalam bentuk skala, misalnya skala
Likert dengan pilihan jawaban mulai dari sangat setuju hingga sangat tidak
setuju.
Setelah instrumen tersusun, langkah berikutnya adalah
menguji kevalidannya. Uji validitas dilakukan untuk memastikan bahwa setiap
butir pertanyaan benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur, biasanya
menggunakan teknik korelasi butir total, di mana skor setiap butir
dikorelasikan dengan skor total instrumen. Butir yang memiliki nilai korelasi
memadai dinyatakan valid, sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebaiknya
diperbaiki atau digugurkan.
Selain uji validitas, instrumen juga perlu diuji
reliabilitasnya untuk melihat konsistensi hasil pengukuran, biasanya
menggunakan teknik Alpha Cronbach. Instrumen yang reliabel akan menghasilkan
skor yang relatif stabil meskipun diujikan pada waktu atau kelompok yang
berbeda, sepanjang kondisi yang diukur tidak mengalami perubahan berarti.
Setelah kedua uji tersebut dilakukan dan instrumen
dinyatakan layak, barulah instrumen dapat disebarkan kepada sampel penelitian
yang sesungguhnya. Dengan demikian, data yang diperoleh nantinya benar-benar
dapat dipercaya untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang telah
disusun sejak awal.