Diskusi

Diskusi

Diskusi

Jumlah balasan: 24

Cobalah anda diskusikan beberapa pertanyaan berikut ini bersama teman-teman disini sebagai bukti anda hadir. Berikan respon anda terhadap pertanyaan berikut dan sertakan argumen dari berbagai sumber.

  1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
  2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Asnia Sundari -
Assalamu'alaikum ibu & teman-teman, selamat soree.. sebelumnya perkenalkan saya Asnia Sundari (NPM 2413031040)
Menurut saya, paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM memiliki perbedaan utama pada fokusnya. Anggaran tradisional lebih menekankan input dan besarnya anggaran yang digunakan, sehingga penyusunannya sering kali masih mengikuti pola anggaran tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Novita Indrawati dalam Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis berjudul “Penyusunan Anggaran dalam Era New Public Management: Implementasinya di Indonesia”, yang menjelaskan adanya pergeseran dari anggaran tradisional menuju anggaran berbasis kinerja karena tuntutan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sektor publik. Namun, kelemahannya adalah keberhasilan program dapat lebih banyak dilihat dari penyerapan anggaran, bukan dari manfaat yang dihasilkan. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada kinerja, yaitu bagaimana anggaran yang digunakan dapat menghasilkan output dan outcome yang efektif serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan. Dalam ZBB, setiap program tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena sudah dijalankan pada tahun sebelumnya. Setiap program harus dikaji kembali berdasarkan kebutuhan, biaya, manfaat, dan prioritasnya. Selanjutnya, program disusun berdasarkan tingkat prioritas dan dikaitkan dengan target kinerja sebelum anggaran dialokasikan.

Jadi, ZBB dapat menggabungkan keunggulan keduanya, yakni mengurangi pemborosan dan kebiasaan mempertahankan anggaran lama, sekaligus memastikan setiap dana yang dialokasikan memiliki tujuan dan hasil yang jelas.
Sekian dari saya, terima kasih dan sukses selaluu.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Arshella Cahya Yuniarti -
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat sore Ibu dan Teman-teman sekalian...
Nama: Arshella Cahya Yuniarti
NPM: 2413031058

1. Menurut saya, anggaran tradisional lebih menekankan pada input, aturan, dan penggunaan anggaran tahun sebelumnya. Jadi, anggaran cenderung disusun dengan menyesuaikan anggaran yang sudah ada. Berbeda dengan anggaran berbasis New Public Management (NPM) yang lebih menekankan pada hasil, efisiensi, efektivitas, dan kinerja. Hal ini terlihat dalam jurnal “Memaknai Kembali Penganggaran Berbasis Kinerja Berdasarkan Studi Implementasi Penganggaran Sektor Publik” karya Biswan dan Grafitanti (2021), yang menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja tidak seharusnya hanya berorientasi pada peningkatan jumlah anggaran setiap tahun, tetapi juga harus melihat hasil dan akuntabilitas dari penggunaan anggaran.

2. Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi perbedaan tersebut karena setiap kegiatan dan pengeluaran harus dievaluasi kembali dari awal. Artinya, suatu kegiatan tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena sebelumnya sudah mendapatkan anggaran. Dalam jurnal “Peran Zero-Based Budgeting dalam Peningkatan Akuntabilitas Keuangan: Studi Pustaka” karya Nurunnabilah dan Ahmad (2025), dijelaskan bahwa ZBB mengharuskan setiap pengeluaran untuk dijustifikasi dari awal agar alokasi anggaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan organisasi. Dengan begitu, anggaran dapat lebih diarahkan pada kegiatan yang benar-benar penting, bermanfaat, dan memiliki prioritas.

Jadi kesimpulannya, Anggaran tradisional berfokus pada input dan aturan, sedangkan NPM berfokus pada hasil dan kinerja. ZBB membantu menghubungkan keduanya dengan menentukan anggaran berdasarkan kebutuhan dan prioritas.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Fadhilah Izdihar -
Nama : Fadhilah Izdihar
NPM : 2413031068

Menurut saya, anggaran tradisional berfokus pada input dan pengeluaran, biasanya berdasarkan anggaran tahun sebelumnya. Kelemahannya, program lama cenderung terus dipertahankan tanpa melihat efektivitasnya. Sedangkan NPM (New Public Management) berfokus pada kinerja, efisiensi, efektivitas, output, dan outcome. Jadi, anggaran tidak hanya melihat jumlah uang yang digunakan, tetapi juga hasil yang dicapai.
Sedangkan, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjembatani keduanya dengan mengharuskan setiap program dievaluasi dari awal, bukan sekadar mengikuti anggaran sebelumnya.
Prosesnya meliputi: menentukan tujuan, mengevaluasi program dan biayanya, menentukan prioritas, mengalokasikan anggaran berdasarkan kebutuhan dan kinerja, lalu melakukan evaluasi. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM karena anggaran diarahkan pada prioritas, efisiensi, dan hasil yang nyata.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh ALZIRAH SABRINA -
Assalamu'alaikum wr.wb. ibu dan teman-teman..
Jika kita bedah pergeserannya, paradigma tradisional dan NPM ini sebetulnya terletak pada perbedaan fokus utama. Anggaran tradisional itu sangat mengunci kontrol input dan prosedur, di mana pola penyusunannya cenderung inkremental karena sekadar mereplikasi tahun sebelumnya. Sederhananya, seperti yang dianalogikan oleh World Bank, fokusnya adalah ketertiban administrasi terlebih dahulu. Nah, NPM kemudian masuk membawa paradigma baru yang menagih output serta dampak nyata dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Menurut hemat saya, kedua pendekatan ini tidak perlu dibenturkan sebagai pilihan mutlak. Kita tetap butuh kontrol kepatuhan dari anggaran tradisional untuk mencegah penyelewengan, sekaligus memerlukan logika kinerja NPM agar anggaran tidak habis tanpa bekas. Hambatan di lapangan biasanya bertumpu pada kapasitas SDM dan indikator kinerja yang belum matang, sehingga implementasinya belum optimal.Di sinilah Zero-Based Budgeting (ZBB) bisa hadir sebagai jembatan penengah. ZBB memotong kebiasaan anggaran tradisional yang asal melanjutkan alokasi tahun lalu, sebab setiap program wajib membuktikan urgensinya dari titik nol. Prosesnya bergerak mulai dari pemetaan kegiatan, penyusunan paket keputusan, hingga pemeringkatan skala prioritas. Melalui mekanisme ini, ZBB mengadopsi kedisiplinan anggaran tradisional sekaligus mengeksekusi prinsip efisiensi NPM. Namun, jika ZBB ini dipaksakan mentah-mentah ke seluruh lini setiap tahun, implikasinya justru memicu beban administrasi dan tumpukan berkas yang tidak produktif. Solusi paling rasional adalah menerapkan ZBB secara selektif. Kita bisa memprioritaskan ZBB khusus untuk program berskala besar atau yang kinerjanya mulai dipertanyakan, alih-alih merombak seluruh pos anggaran secara serentak.</div>
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Olivia Rahma Dani -
Nama: Olivia Rahma Dani
NPM: 2413031039

1. Anggaran tradisional berorientasi pada input dan biasanya menggunakan pendekatan line-item serta inkremental. Artinya, anggaran tahun berjalan umumnya dibuat berdasarkan anggaran tahun sebelumnya dengan penyesuaian tertentu. Fokus utamanya adalah mengontrol pengeluaran dan memastikan kepatuhan terhadap prosedur. Kelemahannya, program yang sudah kurang relevan masih dapat terus memperoleh anggaran karena tidak selalu dilakukan evaluasi ulang (Mardiasmo, 2009; Wildavsky, 1964). Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada output dan outcome. Anggaran tidak hanya menjadi alat kontrol, tetapi juga digunakan untuk mengukur kinerja. Manajer diberikan fleksibilitas dalam mengelola sumber daya, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan hasilnya. Pengukuran dilakukan berdasarkan prinsip value for money, yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas (Hood, 1991; Osborne & Gaebler, 1992). Di Indonesia, pendekatan ini diperkuat melalui UU No. 17 Tahun 2003. Permasalahannya, penerapan anggaran berbasis kinerja terkadang masih sebatas pada dokumen. Indikator kinerja sudah dicantumkan, tetapi penentuan jumlah anggaran masih menggunakan pola inkremental seperti tahun sebelumnya.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) merupakan pendekatan penyusunan anggaran yang dimulai dari nol. Artinya, anggaran sebelumnya tidak otomatis menjadi dasar untuk anggaran berikutnya (Pyhrr, 1973). Penerapannya dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
1. Identifikasi unit keputusan, yaitu menentukan program atau kegiatan yang akan dievaluasi.
2. Penyusunan paket keputusan, yang berisi tujuan, ukuran kinerja, alternatif pelaksanaan, dan konsekuensi jika kegiatan dihentikan.
3. Peringkat dan alokasi, yaitu mengurutkan paket berdasarkan prioritas kemudian mengalokasikan dana sesuai pagu yang tersedia.

ZBB dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena tidak hanya bergantung pada anggaran tahun sebelumnya. Selain itu, ZBB dapat mendukung anggaran berbasis NPM karena indikator kinerja dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan alokasi anggaran, bukan hanya sebagai pelengkap dokumen. Namun, ZBB memiliki kendala seperti membutuhkan waktu dan biaya administrasi yang cukup besar, sulitnya menentukan peringkat berbagai program secara konsisten, serta adanya kemungkinan resistensi dari pihak yang anggarannya dikurangi. Oleh karena itu, penerapan ZBB modifikasi dapat menjadi pilihan yang lebih realistis, misalnya diterapkan secara bergilir pada program tertentu. Intinya, anggaran kinerja memberikan arah melalui output dan outcome, sedangkan ZBB membantu menguji kembali apakah anggaran yang diberikan masih relevan dan layak dipertahankan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Rizky Widyaningrum -
Nama: Rizky Widyaningrum
NPM: 2413031060

1. Anggaran tradisional lebih berfokus pada input atau jumlah dana yang digunakan. Penyusunannya biasanya mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan. Keberhasilannya lebih banyak dilihat dari apakah dana telah digunakan sesuai aturan dan pos yang ditetapkan. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada kinerja dan hasil. Artinya, tidak hanya melihat berapa banyak dana yang digunakan, tetapi juga melihat hasil dan manfaat yang diperoleh. NPM menekankan efisiensi, efektivitas, dan pencapaian tujuan. Jadi, anggaran tradisional berorientasi pada input, sedangkan NPM lebih berorientasi pada hasil dan kinerja.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi perbedaan antara anggaran tradisional dan NPM karena setiap kegiatan harus dinilai kembali dari awal, bukan otomatis mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Setiap kegiatan perlu dijelaskan tujuan, biaya, manfaat, dan hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, kegiatan dibandingkan dan diprioritaskan berdasarkan kebutuhan serta manfaatnya. Kegiatan yang kurang penting dapat dikurangi atau tidak diberikan anggaran. Dengan begitu, ZBB menggabungkan pengendalian penggunaan dana dari anggaran tradisional dengan fokus terhadap hasil dari NPM. Anggaran diberikan berdasarkan kebutuhan dan manfaat kegiatan, bukan hanya berdasarkan anggaran tahun sebelumnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Nina Oktaviana -
NAMA: NINA OKTAVIANA
NPM: 2413031057

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Anggaran tradisional merupakan sistem penganggaran yang lebih berfokus pada jumlah dana yang digunakan dan jenis pengeluarannya. Penyusunan anggaran biasanya mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan pada tahun berikutnya. Jadi, yang lebih diperhatikan adalah input dan pengendalian pengeluaran. Kelemahannya, sistem ini kurang memperhatikan apakah anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat dan kinerja yang baik bagi masyarakat.
Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada hasil atau kinerja yang ingin dicapai. Anggaran tidak hanya dilihat dari berapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi juga apa hasil yang diperoleh dari penggunaan dana tersebut. Pendekatan ini mendorong efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran. Jadi, perbedaan utamanya adalah anggaran tradisional lebih berorientasi pada input, sedangkan NPM lebih berorientasi pada kinerja dan hasil.

2. Proses Implementasi ZBB dalam Mengatasi Kelemahan Anggaran Tradisional
Zero-Based Budgeting (ZBB) merupakan metode penganggaran yang mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dinilai kembali dari awal. Artinya, anggaran tahun sebelumnya tidak langsung dijadikan dasar untuk menentukan anggaran berikutnya. Proses ZBB dimulai dengan mengidentifikasi kegiatan yang membutuhkan anggaran, kemudian setiap kegiatan dijelaskan tujuan, biaya, manfaat, dan hasil yang akan dicapai. Setelah itu, kegiatan dinilai dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kepentingan dan manfaatnya. Kegiatan yang lebih penting akan mendapatkan prioritas anggaran.

Menurut saya, penerapan ZBB dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena setiap pengeluaran harus memiliki alasan dan manfaat yang jelas. Kegiatan yang sudah tidak relevan atau kurang memberikan manfaat dapat dikurangi, sementara dana dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih dibutuhkan. Namun, penerapan ZBB juga membutuhkan waktu, data, dan analisis yang cukup karena setiap kegiatan harus dikaji kembali. Dengan demikian, ZBB dapat membantu menciptakan penggunaan anggaran yang lebih efisien dan sesuai dengan prioritas organisasi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Najwa Denita Syafitri -
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat siang Ibu dan Teman-teman sekalian...
Nama: Najwa Denita Syafitiri
NPM: 2413031065

1. Anggaran tradisional lebih fokus pada jumlah dan penggunaan dana, sedangkan NPM lebih menekankan pada hasil dan manfaat dari anggaran yang digunakan. Jadi, keberhasilan program tidak cukup dilihat dari banyaknya anggaran yang terserap, tetapi juga dari pencapaian hasilnya. Indrawati (2010) menyebutkan bahwa NPM mendorong anggaran berbasis kinerja yang lebih memperhatikan efisiensi dan efektivitas. Mulyono dan Hertianti (2019) juga menunjukkan bahwa penyerapan anggaran yang tinggi belum tentu berarti target program tercapai. Dengan demikian, yang penting bukan hanya anggaran terserap, tetapi juga hasil yang diperoleh sesuai tujuan.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) bisa membantu memperbaiki kekurangan anggaran tradisional karena setiap kegiatan harus diperiksa kembali sebelum diberikan dana. Yang dilihat adalah seberapa penting kegiatannya, berapa biaya yang dibutuhkan, dan apa manfaatnya. Nurunnabilah dan Ahmad (2025) menjelaskan bahwa setiap pengeluaran harus memiliki alasan yang jelas sejak awal. Pelaksanaannya bisa dimulai dengan melihat program yang ada, kemudian menentukan tujuan, biaya, dan manfaatnya. Setelah itu, program yang paling dibutuhkan dapat diprioritaskan, sedangkan kegiatan yang kurang penting bisa dikurangi atau ditinjau kembali.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Adzra Ati'iqah -
nama : Adzra Ati'iqah
npm : 2413031056

1. Paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM
Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada input dan pengendalian pengeluaran, yaitu berapa dana yang tersedia dan digunakan sesuai pos yang telah ditetapkan. Sedangkan anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada kinerja, efisiensi, efektivitas, dan hasil yang dicapai dari penggunaan anggaran. Jadi, perbedaannya terletak pada fokusnya: anggaran tradisional menekankan “berapa yang dibelanjakan”, sedangkan NPM menekankan “apa hasil yang diperoleh dari anggaran tersebut”.

2. Implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan NPM
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB)dapat menjembatani keduanya karena setiap program dan pengeluaran harus dijelaskan dan dinilai kembali dari awal, bukan sekadar mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi kegiatan, menyusun kebutuhan dan manfaatnya, menentukan prioritas, kemudian mengalokasikan anggaran berdasarkan hasil evaluasi. Dengan demikian, ZBB tetap memperhatikan pengendalian anggaran seperti pendekatan tradisional, tetapi juga mendorong efisiensi dan pencapaian hasil seperti yang ditekankan NPM.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Murni Solekha -
Nama: Murni Solekha
NPM: 2413030161


1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional lebih berorientasi pada input dan penggunaan dana. Penyusunan anggaran biasanya masih mengacu pada anggaran periode sebelumnya, sehingga perubahan anggaran cenderung dilakukan secara bertahap. Fokusnya lebih banyak pada berapa besar dana yang tersedia dan bagaimana dana tersebut dibelanjakan.
Sedangkan anggaran berbasis NPM (New Public Management) lebih menekankan efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil. Jadi, anggaran tidak hanya melihat berapa banyak dana yang digunakan, tetapi juga mempertimbangkan hasil atau kinerja yang dicapai dari penggunaan dana tersebut. Menurut OECD, penganggaran berbasis kinerja menghubungkan informasi mengenai kinerja dengan proses pengambilan keputusan anggaran sehingga penggunaan anggaran dapat lebih berorientasi pada hasil.
Dengan demikian, perbedaan sederhananya adalah anggaran tradisional berfokus pada input, sedangkan NPM lebih berfokus pada output dan outcome. Perubahan ini bertujuan agar penggunaan anggaran publik tidak hanya terserap, tetapi juga memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan organisasi.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengatasi kesenjangan tersebut. ZBB tidak menjadikan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar utama, tetapi setiap program dan kegiatan harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kembali kebutuhannya. Dengan demikian, program yang sudah ada tidak otomatis mendapatkan anggaran yang sama seperti tahun sebelumnya.
Prosesnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi program, menyusun kebutuhan dan tujuan setiap kegiatan, mengevaluasi manfaat serta biayanya, menentukan prioritas, kemudian mengalokasikan anggaran berdasarkan hasil evaluasi. Selanjutnya, pelaksanaan program perlu dipantau untuk melihat apakah anggaran yang diberikan benar-benar menghasilkan kinerja sesuai target.
Menurut saya, penerapan ZBB dapat menggabungkan kelebihan kedua pendekatan tersebut. Dari anggaran tradisional, ZBB meninggalkan kebiasaan mempertahankan anggaran lama tanpa evaluasi, sedangkan dari NPM, ZBB mendukung efisiensi dan orientasi pada hasil. Jadi, anggaran diberikan berdasarkan kebutuhan, prioritas, manfaat, dan kinerja, bukan hanya karena suatu program sudah mendapatkan anggaran pada periode sebelumnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Maya Khoyrotun Nisa -
Nama : Maya Khoyrotun Nisa
NPM : 2413031045

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada jumlah dana yang digunakan dan biasanya disusun berdasarkan anggaran tahun sebelumnya. Pendekatan ini menekankan pengendalian pengeluaran dan kepatuhan terhadap pos anggaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan lebih banyak dilihat dari kesesuaian antara penggunaan dana dengan rencana anggaran. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada kinerja dan hasil yang diperoleh dari penggunaan anggaran. Pemerintah tidak hanya mempertimbangkan berapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi juga manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat. Menurut saya, perbedaan utama keduanya terletak pada fokus penganggaran, yaitu anggaran tradisional lebih berorientasi pada input, sedangkan NPM lebih memperhatikan output, outcome, efisiensi, dan efektivitas.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi kesenjangan antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. Dalam ZBB, setiap program dan kegiatan harus dinilai kembali dari awal berdasarkan kebutuhan, biaya, manfaat, dan prioritasnya. Dengan cara ini, anggaran tidak hanya mengikuti anggaran tahun sebelumnya, tetapi disusun berdasarkan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Setiap kegiatan kemudian dibandingkan untuk menentukan kegiatan yang paling sesuai dengan prioritas organisasi. Setelah anggaran ditetapkan, penggunaannya dapat dipantau berdasarkan hasil yang dicapai. Menurut saya, penerapan ZBB dapat membantu pemerintah mengurangi pengeluaran yang kurang diperlukan sekaligus mendorong penggunaan anggaran yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada hasil.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Danu Akta Alam -

Nama : Danu Akta Alam

NPM : 2413031052

1. Menurut saya, anggaran tradisional lebih menekankan pada input dan pengendalian penggunaan anggaran. Penyusunan anggaran biasanya menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai salah satu dasar, sehingga perhatian lebih banyak diberikan pada berapa dana yang tersedia dan apakah dana tersebut digunakan sesuai dengan anggaran. Kelebihannya adalah pengawasan terhadap penggunaan dana lebih mudah, tetapi kelemahannya adalah kurang memperhatikan hasil dan manfaat yang diperoleh dari penggunaan anggaran.

Sedangkan anggaran yang berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil yang dicapai pemerintah. Jadi, pemerintah tidak hanya dituntut untuk menggunakan anggaran sesuai aturan, tetapi juga harus menunjukkan hasil dari penggunaan dana tersebut. OECD menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja menghubungkan informasi kinerja dengan proses penganggaran dan membantu mengarahkan perhatian pada hasil yang ingin dicapai (OECD, 2019).

Dengan demikian, perbedaan utamanya adalah anggaran tradisional lebih berorientasi pada penggunaan dana, sedangkan paradigma NPM lebih berorientasi pada hasil dan manfaat dari penggunaan dana. Menurut OECD, pendekatan berbasis kinerja juga dapat mendukung transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi dalam pengelolaan anggaran (OECD, 2019; OECD, 2025).

2. Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. ZBB tidak hanya menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar, tetapi setiap kegiatan harus dikaji kembali berdasarkan kebutuhan, tujuan, biaya, dan manfaatnya.

Proses implementasi ZBB dapat dimulai dengan menentukan tujuan dan prioritas program. Setelah itu, setiap unit kerja mengidentifikasi kegiatan yang akan dilaksanakan dan menghitung kebutuhan dananya. Setiap kegiatan kemudian dijelaskan melalui decision package yang berisi tujuan kegiatan, biaya yang diperlukan, alternatif pelaksanaan, serta hasil yang ingin dicapai. World Bank menjelaskan bahwa ZBB menuntut setiap kegiatan dan kebutuhan sumber daya untuk dipertimbangkan kembali, sehingga suatu kegiatan tidak otomatis memperoleh anggaran hanya karena telah mendapatkan anggaran pada tahun sebelumnya (World Bank).

Selanjutnya, pemerintah membandingkan kegiatan berdasarkan prioritas, biaya, dan hasil yang diharapkan. Kegiatan yang kurang penting atau tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya dapat dikurangi atau dievaluasi kembali. Anggaran kemudian diberikan kepada kegiatan yang lebih sesuai dengan tujuan pemerintah dan kebutuhan masyarakat.

Penerapan ZBB tersebut dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena anggaran tidak hanya dibuat berdasarkan kebiasaan atau anggaran tahun sebelumnya. Di sisi lain, ZBB juga sejalan dengan prinsip NPM karena setiap penggunaan dana perlu dikaitkan dengan tujuan, biaya, hasil, efisiensi, dan manfaat. Dengan demikian, ZBB dapat menjadi penghubung antara pengendalian anggaran tradisional dengan orientasi kinerja yang terdapat dalam NPM.


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Mega Marsanda Putri -
Nama: Mega Marsanda Putri
Npm: 2413031054
1. Anggaran tradisional lebih menekankan pada penggunaan anggaran berdasarkan pos-pos pengeluaran (line item) dan kepatuhan terhadap anggaran yang telah ditetapkan. Keberhasilan biasanya dilihat dari apakah anggaran dapat direalisasikan sesuai rencana. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil. Jadi, pemerintah tidak hanya mempertanyakan berapa dana yang digunakan, tetapi juga apa output dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat. Perubahan ini membuat pengelolaan anggaran menjadi lebih berorientasi pada hasil dibandingkan sekadar penyerapan anggaran.

2. Implementasi Zero Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk menjembatani kedua pendekatan tersebut karena setiap program harus dimulai dari nol dan dijustifikasi kembali kebutuhannya. Dalam penerapannya, setiap kegiatan diidentifikasi, kemudian dinilai berdasarkan kebutuhan, biaya, manfaat, serta hasil yang ingin dicapai. Program yang lebih penting dan memberikan manfaat lebih besar dapat menjadi prioritas anggaran. Dengan begitu, ZBB dapat mengurangi kebiasaan hanya mengikuti anggaran tahun sebelumnya seperti dalam sistem tradisional, sekaligus mendukung prinsip NPM yang menekankan efisiensi, efektivitas, dan pencapaian kinerja.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Anindia Maharani -
Nama : Anindia Maharani
Npm : 2413031042
Anggaran tradisional disusun dengan pendekatan line-item dan incremental yang mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, bersifat sentralistis, berfokus pada input, serta gagal mengungkapkan besaran dana per kegiatan sehingga tidak dapat dijadikan tolok ukur kinerja maupun konsep value for money; sebaliknya, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lahir sejak era 1980–1990-an sebagai reaksi atas kekakuan tersebut dengan menerapkan praktik sektor privat ke sektor publik, mengubah orientasi anggaran dari input menjadi kinerja, hasil, efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas manajerial

Zero-Based Budgeting (ZBB), yang diperkenalkan Peter A. Pyhrr pada akhir 1960-an, menjembatani kesenjangan kedua paradigma tersebut dengan mewajibkan setiap unit organisasi menyusun dan menjustifikasi anggarannya dari titik nol setiap periode berdasarkan kebutuhan aktual, bukan kebiasaan tahun lalu, sehingga aktivitas yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi, transparansi fiskal meningkat, dan pengawasan internal diperkuat sejalan dengan semangat NPM; meski demikian, efektivitas implementasinya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur TI, kompetensi SDM, dan komitmen manajerial, mengingat tantangan berupa beban administratif tinggi dan resistensi birokrasi masih ditemukan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Maya Lisnawati -
Nama: Maya Lisnawati
NPM: 2413031043

1. Anggaran tradisional dan NPM
Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada input atau jumlah dana yang digunakan. Penyusunannya biasanya berdasarkan anggaran tahun sebelumnya, sehingga program yang sudah ada cenderung tetap mendapatkan anggaran. Kelebihannya adalah mudah diterapkan, tetapi kelemahannya kurang memperhatikan hasil dan manfaat program. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan efisiensi, efektivitas, transparansi, dan pencapaian kinerja. Anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah dana yang digunakan, tetapi juga dari hasil yang diperoleh masyarakat.

2. Implementasi ZBB
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional dan mendukung anggaran berbasis NPM. Dalam ZBB, setiap program harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kembali dari awal, termasuk tujuan, biaya, dan manfaatnya. Program yang paling penting dan memberikan hasil besar akan diprioritaskan, sedangkan program yang tidak efektif dapat dikurangi atau dihentikan. Dengan demikian, ZBB mendorong penggunaan anggaran yang lebih efisien, transparan, dan berorientasi pada hasil. Namun, penerapannya membutuhkan data yang akurat, indikator kinerja yang jelas, serta komitmen dari seluruh pihak.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Dini Hanifa -
Nama: Dini Hanifa
NPM: 2413031055

1. Anggaran tradisional dan NPM
Menurut saya, anggaran tradisional biasanya masih menggunakan pola dari anggaran sebelumnya dan lebih memperhatikan bagaimana dana tersebut dibelanjakan sesuai aturan. Sedangkan dalam NPM, perhatian tidak hanya diberikan pada pengeluaran, tetapi juga pada apa yang berhasil dicapai dari anggaran tersebut. Artinya, penggunaan dana diharapkan dapat memberikan hasil dan pelayanan yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2. Implementasi ZBB
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dilakukan dengan melihat kembali setiap kegiatan yang akan diberi dana. Jadi, anggaran sebelumnya tidak langsung dijadikan dasar, tetapi setiap kegiatan perlu dinilai apakah masih diperlukan dan seberapa besar manfaatnya. Dari penilaian tersebut, pemerintah dapat menentukan kegiatan mana yang lebih membutuhkan anggaran. Dengan cara ini, penggunaan dana menjadi lebih terarah dan dapat mendukung pencapaian kinerja.

Kesimpulan: Anggaran tradisional cenderung mengikuti pola sebelumnya, NPM lebih memperhatikan hasil yang dicapai, sedangkan ZBB menilai kembali kebutuhan setiap kegiatan sebelum anggaran ditentukan.
Sebagai balasan Dini Hanifa

Re: Diskusi

oleh Gusti Ngurah Soma Adnyane -
Nama: Gusti Ngurah Soma Adnyane
NPM: 2413031063

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM

Anggaran tradisional berfokus pada input dan pengeluaran, yaitu berapa besar dana yang dialokasikan dan digunakan oleh suatu organisasi. Orientasinya cenderung pada kepatuhan terhadap aturan dan penyerapan anggaran, sehingga keberhasilan sering dilihat dari apakah anggaran telah digunakan sesuai rencana. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan kinerja, hasil (output/outcome), efisiensi, dan efektivitas. Jadi, tidak hanya melihat berapa uang yang digunakan, tetapi juga apa hasil yang diperoleh masyarakat.

2. Implementasi ZBB dalam Mengatasi Kesenjangan

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi penghubung antara kedua paradigma tersebut karena setiap program dan kegiatan harus dimulai dari nol dan dibuktikan kembali kebutuhan serta manfaatnya, bukan sekadar melanjutkan anggaran tahun sebelumnya. Prosesnya dilakukan dengan mengidentifikasi program, menentukan prioritas, menghitung biaya dan manfaat, kemudian mengalokasikan dana berdasarkan prioritas dan kinerja. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi pemborosan dalam anggaran tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM yang menekankan efisiensi, efektivitas, dan hasil yang terukur.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Nuzulliana 2413031064 -
Nama: Nuzulliana
NPM: 2413031064

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada input, pengeluaran, dan kepatuhan terhadap aturan. Penyusunan anggaran biasanya masih mengacu pada anggaran tahun sebelumnya. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil yang dapat diberikan kepada masyarakat. Jadi, jika anggaran tradisional lebih mempertanyakan berapa dana yang digunakan dan untuk apa, NPM lebih melihat apa hasil dan manfaat dari dana yang digunakan. Menurut Hood (1991), NPM memang menekankan penerapan prinsip manajemen yang lebih berorientasi pada kinerja dalam sektor publik.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi kesenjangan antara anggaran tradisional dan NPM karena setiap program harus dinilai kembali dari awal, bukan sekadar mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Prosesnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi program, menjelaskan tujuan dan biaya setiap kegiatan, menilai manfaat serta prioritasnya, kemudian menentukan kegiatan yang layak mendapatkan anggaran. Dengan cara ini, ZBB dapat mengurangi pemborosan dalam sistem tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM yang mengutamakan efisiensi, kinerja, dan hasil. Menurut Pyhrr (1973), ZBB membantu organisasi dalam mengevaluasi kembali kegiatan dan menentukan alokasi sumber daya berdasarkan prioritas yang telah ditetapkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Anggit Yunizar -
Nama : Anggit Yunizar
NPM : 2413031046

Menurut saya, paradigma anggaran tradisional lebih berfokus pada input, yaitu berapa besar dana yang tersedia dan apakah penggunaannya sudah sesuai dengan pos anggaran yang ditetapkan. Keberhasilan biasanya dilihat dari kepatuhan terhadap rencana anggaran, sehingga hasil dan manfaat program bagi masyarakat belum menjadi perhatian utama. Berbeda dengan itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada kinerja, efisiensi, efektivitas, output, dan outcome. Pemerintah tidak hanya dituntut menggunakan anggaran sesuai aturan, tetapi juga harus mampu menunjukkan hasil dan manfaat dari penggunaan anggaran tersebut. Dengan demikian, anggaran berbasis NPM mendorong pemerintah untuk lebih berorientasi pada pencapaian tujuan dan pelayanan kepada masyarakat.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan. Dalam ZBB, setiap program dan kegiatan tidak secara otomatis mendapatkan anggaran berdasarkan alokasi tahun sebelumnya, tetapi harus dijelaskan kembali kebutuhan, biaya, manfaat, dan prioritasnya. Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi kegiatan, menyusun alasan dan manfaat setiap kegiatan, menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan dan kinerja, kemudian mengalokasikan anggaran sesuai kemampuan keuangan pemerintah. Menurut saya, penerapan ZBB dapat menggabungkan kelebihan anggaran tradisional dan NPM karena tetap memperhatikan pengendalian anggaran, tetapi juga menuntut pemerintah untuk membuktikan bahwa setiap pengeluaran memang diperlukan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Rahma Dwi Gishela -
Nama: Rahma Dwi Gishela
NPM: 2413031038

1. Paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM
Anggaran tradisional lebih berfokus pada input, yaitu jumlah dana yang tersedia dan jenis pengeluarannya. Penyusunan anggaran biasanya juga masih mengacu pada anggaran tahun sebelumnya. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada kinerja, efisiensi, efektivitas, dan hasil yang dapat diberikan kepada masyarakat. Menurut OECD, penganggaran berbasis kinerja menghubungkan alokasi anggaran dengan hasil yang ingin dicapai.

2. Implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan
Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan dengan menilai kembali setiap program dan kegiatan sebelum anggaran diberikan, bukan sekadar mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Setiap kegiatan harus memiliki alasan, tujuan, dan manfaat yang jelas. Selanjutnya, program diprioritaskan berdasarkan kebutuhan, biaya, dan hasil yang diharapkan. Dengan cara ini, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM yang menekankan efisiensi dan hasil.

Sumber: OECD (2019), OECD Good Practices for Performance Budgeting Ibrahim (2019), Designing Zero-Based Budgeting for Public Organizations.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Laura Aulia Novriandila Laura -
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama: Laura Aulia Novriandila
NPM: 2413031051

1. Anggaran tradisional cenderung menggunakan pola incremental, yaitu anggaran tahun sebelumnya menjadi dasar untuk menentukan anggaran berikutnya. Fokus utamanya adalah input dan pengendalian pengeluaran, sehingga lebih memperhatikan jumlah dana yang dialokasikan dan digunakan daripada hasil yang dicapai. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan kinerja, output, outcome, efisiensi, dan efektivitas. Artinya, anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah dana yang digunakan, tetapi juga dari hasil dan manfaat yang dihasilkan. OECD menjelaskan bahwa performance budgeting menggeser fokus dari input menuju hasil yang dapat diukur serta membantu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena setiap program tidak otomatis mendapatkan anggaran berdasarkan tahun sebelumnya. Setiap kegiatan harus dikaji kembali berdasarkan tujuan, biaya, kebutuhan, alternatif pendanaan, dan manfaatnya. Proses ZBB dilakukan dengan menentukan decision unit, menyusun decision package, kemudian membandingkan dan memberi peringkat berdasarkan prioritas. Program yang dianggap paling penting dan memberikan manfaat lebih besar akan memperoleh alokasi dana terlebih dahulu. GAO menjelaskan bahwa ZBB menggunakan decision packages dan proses pemeringkatan untuk membantu menentukan prioritas ketika sumber daya terbatas. Dengan demikian, ZBB dapat menjadi jembatan antara anggaran tradisional dan NPM. ZBB mengurangi kebiasaan mempertahankan anggaran lama, sedangkan prinsip NPM tercermin dari penilaian terhadap hasil, prioritas, dan manfaat penggunaan dana. Jadi, keberhasilan anggaran tidak hanya dilihat dari berapa besar anggaran yang terserap, tetapi juga dari hasil dan manfaat yang dicapai bagi masyarakat. OECD juga menegaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja menghubungkan sumber daya dengan hasil serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas.

Kesimpulannya, anggaran tradisional berfokus pada input, NPM berfokus pada kinerja dan hasil, sedangkan ZBB membantu menghubungkan keduanya melalui evaluasi program, penentuan prioritas, dan alokasi dana berdasarkan kebutuhan serta manfaat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh MAYKE RIANSYAH -
Nama : Mayke Riansyah
NPM : 2413031047
Kelas : 24 B

1. Perbedaan Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis New Public Management (NPM)

Menurut saya, perbedaan utama antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) terletak pada fokus penganggarannya. Anggaran tradisional lebih menekankan pada jumlah dana yang dialokasikan, jenis pengeluaran, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Penyusunan anggarannya juga cenderung menggunakan anggaran periode sebelumnya sebagai dasar untuk menentukan anggaran periode berikutnya. Akibatnya, evaluasi sering kali lebih berfokus pada apakah anggaran telah digunakan sesuai rencana daripada apakah penggunaannya benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, anggaran berbasis NPM lebih menekankan efisiensi, efektivitas, dan pencapaian hasil. Anggaran tidak hanya dilihat dari besarnya dana yang digunakan, tetapi juga dikaitkan dengan target kinerja dan hasil yang ingin dicapai. Robinson dan Brumby (2005) menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja berupaya menghubungkan informasi kinerja dengan keputusan alokasi anggaran. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran New Public Management yang mendorong pengelolaan sektor publik agar lebih berorientasi pada hasil dan pertanggungjawaban kinerja.

Menurut saya, kedua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Anggaran tradisional membantu menjaga ketertiban administrasi dan pengendalian pengeluaran, tetapi dapat membuat organisasi terlalu berfokus pada penyerapan anggaran. Sebaliknya, pendekatan NPM mendorong penggunaan anggaran yang lebih berorientasi pada hasil, tetapi keberhasilannya bergantung pada ketepatan indikator kinerja dan kualitas evaluasi.

Hal ini terlihat dalam penelitian Mulyono dan Hertianti (2019) mengenai penerapan penganggaran berbasis kinerja di Kementerian Perindustrian. Penelitian tersebut menemukan bahwa realisasi anggaran mencapai 92,72%, sedangkan capaian output hanya sebesar 75%. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingginya penyerapan anggaran belum tentu sejalan dengan pencapaian hasil yang direncanakan. Oleh karena itu, menurut saya, penganggaran sektor publik perlu menggabungkan pengendalian penggunaan dana dengan evaluasi manfaat dan hasil yang dicapai.


2. Proses Implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dalam Mengatasi Kesenjangan Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengatasi kelemahan anggaran tradisional sekaligus mendukung penerapan prinsip NPM. ZBB merupakan metode penganggaran yang mengharuskan setiap kegiatan dan program dinilai kembali berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya, bukan sekadar melanjutkan alokasi anggaran tahun sebelumnya.

Pyhrr (1977) menjelaskan pendekatan ZBB dalam penganggaran pemerintah dengan menekankan penyusunan paket-paket keputusan atau decision packages yang dapat dibandingkan dan diprioritaskan. Melalui pendekatan ini, setiap kegiatan perlu memiliki alasan yang jelas mengenai tujuan, biaya, alternatif pelaksanaan, serta manfaat yang diharapkan.

Menurut pemahaman saya, proses implementasi ZBB dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, pemerintah mengidentifikasi seluruh program dan kegiatan yang akan dilaksanakan serta menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Kedua, setiap unit kerja menyusun paket keputusan yang menjelaskan kebutuhan dana, alternatif pelaksanaan, biaya, dan manfaat dari setiap kegiatan. Ketiga, paket-paket tersebut dievaluasi dan diurutkan berdasarkan tingkat kepentingan, kebutuhan masyarakat, serta kontribusinya terhadap tujuan organisasi. Keempat, anggaran dialokasikan berdasarkan prioritas dan ketersediaan dana. Kelima, pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dengan membandingkan anggaran yang digunakan dengan target dan hasil yang telah ditetapkan.

Tahapan tersebut sejalan dengan laporan U.S. Government Accountability Office (1979), yang menjelaskan bahwa ZBB membantu pengelola meninjau kembali tujuan, kegiatan, dan biaya program, mempertimbangkan alternatif pelaksanaan, serta mengurutkan program berdasarkan tingkat kepentingannya.

Menurut saya, penerapan ZBB dapat mengurangi kebiasaan dalam anggaran tradisional yang hanya menyesuaikan anggaran sebelumnya tanpa menilai kembali kebutuhan setiap kegiatan. Di sisi lain, ZBB dapat mendukung prinsip NPM karena alokasi dana dipertimbangkan berdasarkan prioritas program dan manfaat yang diharapkan. Namun, ZBB tidak secara otomatis menjamin tercapainya kinerja yang baik. Pemerintah tetap membutuhkan indikator kinerja yang jelas, data biaya yang memadai, serta evaluasi yang objektif agar keputusan penganggaran tidak hanya berfokus pada pengurangan biaya, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pelayanan dan pemerataan manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, menurut saya, ZBB dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki proses penganggaran sektor publik. Penerapannya perlu dilakukan secara terencana dan disertai evaluasi kinerja agar anggaran yang tersedia benar-benar digunakan untuk mendukung program yang paling dibutuhkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Hood, C. (1991). A public management for all seasons? Public Administration, 69(1), 3–19. doi:10.1111/j.1467-9299.1991.tb00779.x

Mulyono, A. A., & Hertianti, A. (2019). Penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam rangka mewujudkan good financial governance. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 7(2), 275–290. doi:10.17509/jrak.v7i2.16961

Pyhrr, P. A. (1977). The zero-base approach to government budgeting. Public Administration Review, 37(1), 1–8. doi:10.2307/974503

Robinson, M., & Brumby, J. (2005). Does performance budgeting work? An analytical review of the empirical literature. International Monetary Fund, Working Paper No. 05/210. doi:10.5089/9781451862245.001

U.S. Government Accountability Office. (1979). Streamlining zero-base budgeting will benefit decisionmaking (PAD-79-45).
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Az Zahra Syahlia Putri -
Nama : Az Zahra Syahlia Putri
Npm : 2413031041

Menurut saya, anggaran tradisional adalah sistem penganggaran yang berfokus pada jenis pengeluaran dan kepatuhan terhadap aturan. Penyusunan anggarannya biasanya mengacu pada anggaran tahun sebelumnya sehingga pengeluaran lama cenderung dipertahankan. Kelebihannya adalah mudah diterapkan, tetapi kelemahannya kurang memperhatikan hasil dan manfaat pengeluaran.
Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan pencapaian kinerja. Anggaran tidak hanya dinilai dari besarnya dana yang digunakan, tetapi juga dari hasil yang diperoleh masyarakat. Menurut Hood (1991), NPM menekankan pengukuran kinerja dan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan sektor publik. Dengan demikian, anggaran tradisional berorientasi pada pengeluaran, sedangkan NPM lebih berorientasi pada hasil dan manfaat.
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat menjadi solusi karena setiap kegiatan harus dinilai kembali berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya, bukan hanya mengikuti anggaran tahun sebelumnya.
Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi program, menyusun paket keputusan yang menjelaskan biaya dan manfaat, mengevaluasi serta menentukan prioritas, kemudian mengalokasikan anggaran sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan. Setelah itu, pemerintah menetapkan indikator kinerja dan mengevaluasi hasil pelaksanaan anggaran.
Sebagai contoh, pemerintah daerah perlu memilih antara memperbaiki ruang kelas, membeli buku, atau mengadakan pelatihan guru. Melalui ZBB, setiap kegiatan dinilai berdasarkan kebutuhan, biaya, dan manfaatnya bagi siswa. Menurut Pyhrr (1970), ZBB membantu organisasi mengevaluasi pengeluaran secara sistematis. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi pengeluaran yang kurang efektif sekaligus mendukung prinsip NPM dalam meningkatkan efisiensi dan hasil pelayanan publik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Revalina revalina -

Nama: Revalina

NPM: 2413031053

1. Menurut saya, perbedaan utama anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) terletak pada cara pemerintah memandang dan mengelola anggaran. Anggaran tradisional lebih menekankan pada pengendalian pengeluaran dan kepatuhan terhadap aturan, sedangkan NPM lebih menekankan pada kinerja, efisiensi, dan hasil yang dicapai dari penggunaan anggaran.

Anggaran tradisional biasanya disusun berdasarkan jenis pengeluaran, seperti belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Penyusunan anggaran cenderung mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, kemudian dilakukan penyesuaian untuk tahun berikutnya. Kelebihannya adalah pengawasan pengeluaran relatif mudah karena setiap penggunaan dana memiliki pos yang jelas. Namun, kelemahannya adalah keberhasilan pemerintah sering kali hanya dinilai dari pemenuhan terhadap anggaran dan tingkat penyerapan dana, bukan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sementara itu, NPM berbasis anggaran mendorong pemerintah agar mengelola anggaran dengan cara yang lebih berorientasi pada hasil. Pemerintah tidak cukup hanya menunjukkan bahwa anggaran telah digunakan sesuai rencana, tetapi juga harus membuktikan bahwa penggunaan dana tersebut menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik. Misalnya, keberhasilan program perbaikan sekolah tidak hanya diukur dari jumlah dana yang terserap, tetapi juga dari kualitas bangunan, kelayakan fasilitas, dan manfaatnya bagi siswa.

Jadi menurut saya, pendekatan NPM lebih relevan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik karena mendorong pemerintah bekerja secara efisien dan bertanggung jawab terhadap hasil. Namun pendekatan ini juga memiliki tantangan, terutama ketika indikator kinerja hanya fokus pada angka dan tidak memperhatikan kualitas pelayanan atau kebutuhan kelompok masyarakat yang berbeda.

2. Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat menjadi salah satu cara untuk menjembatani kelemahan anggaran tradisional dan tuntutan NPM. Dalam anggaran tradisional, anggaran tahun sebelumnya sering dijadikan dasar penyusunan anggaran berikutnya. Akibatnya, kegiatan yang sebenarnya sudah kurang dibutuhkan masih bisa memperoleh dana karena dianggap sebagai pengeluaran rutin. Sementara itu, NPM menuntut agar setiap anggaran lebih berorientasi pada efisiensi, kinerja, dan hasil pelayanan publik.

ZBB mengatasi permasalahan tersebut dengan prinsip bahwa setiap kegiatan harus dievaluasi dan dijustifikasi kembali dari awal, bukan otomatis memperoleh anggaran karena pernah mendapatkan dana pada tahun sebelumnya. Menurut Pyhrr (2012), ZBB merupakan pendekatan manajemen yang membantu pengambil keputusan membuka program dan menentukan prioritas pendanaan. Namun penerapannya memerlukan informasi yang memadai, komunikasi, serta kemampuan untuk menilai manfaat setiap kegiatan.

Proses implementasi ZBB dapat dilakukan melalui beberapa tahap berikut.

1. Mengidentifikasi kegiatan dan kebutuhan anggaran. Pemerintah mencatat seluruh program yang akan dilaksanakan dan menjelaskan kebutuhan dana untuk setiap kegiatan. Misalnya, pemerintah daerah mengidentifikasi kebutuhan perbaikan sekolah, pengadaan komputer, dan pengadaan fasilitas belajar.

2. Menyusun paket keputusan (decision package). Setiap kegiatan yang dibuatkan paket yang menjelaskan tujuan, biaya, manfaat, alternatif pelaksanaan, serta konsekuensi jika kegiatan dikurangi atau tidak dilaksanakan. Oleh karena itu, pemerintah mempunyai dasar yang jelas untuk menentukan kegiatan yang benar-benar diperlukan.

3. Mengevaluasi dan menentukan prioritas. Setiap paket keputusan dibandingkan berdasarkan urgensi, manfaat bagi masyarakat, biaya, dan kesesuaiannya dengan tujuan pembangunan. Kegiatan yang memberikan manfaat besar dan berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat seharusnya mendapat prioritas lebih tinggi.

4. Mengalokasikan anggaran sesuai prioritas dan kemampuan keuangan. Setelah evaluasi, pemerintah menetapkan dana berdasarkan kebutuhan yang paling penting, bukan sekadar mengikuti pola pengeluaran tahun sebelumnya. Tahap ini juga membantu pemerintah menghindari pemborosan pada kegiatan yang manfaatnya rendah.

5. Melakukan pengawasan dan evaluasi hasil. Setelah program dilaksanakan, pemerintah membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan hasil dan manfaat yang dicapai. Evaluasi ini menjadi bahan untuk memperbaiki penyusunan anggaran pada periode berikutnya.

Menurut saya, kelebihan ZBB adalah pemerintah mempunyai alasan yang lebih kuat dalam menentukan kegiatan yang layak dibiayai. Pendekatan ini juga mendukung prinsip NPM karena anggaran diarahkan pada prioritas dan manfaat, bukan sekadar penyerapan dana. Akan tetapi, ZBB tidak secara otomatis menjamin keberhasilannya. Proses evaluasinya membutuhkan waktu, data yang akurat, dan indikator manfaat yang jelas. Pyhrr (2012) juga menekankan bahwa penerapan ZBB memerlukan kemampuan administratif dan pelatihan agar proses penilaian program dapat berjalan dengan baik.

Hal ini sejalan dengan penelitian Mulyono dan Hertianti (2019) yang menemukan adanya ketidaksesuaian antara realisasi anggaran dan capaian output dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja di Kementerian Perindustrian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyerapan anggaran yang tinggi tidak selalu mencerminkan pencapaian hasil yang sesuai target.

Jadi, menurut saya, ZBB dapat membantu menjembatani anggaran tradisional dan NPM dengan cara menyalurkan kembali setiap kebutuhan dana, menentukan prioritas, serta mempertimbangkan hasil yang ingin dicapai. Namun penerapannya tetap perlu disertai pengawasan dan evaluasi agar pemerintah tidak hanya mampu menjelaskan mana uang yang dibelanjakan, tetapi juga dapat membuktikan manfaatnya bagi masyarakat.