Diskusi

Diskusi

Diskusi

Number of replies: 7

Cobalah anda diskusikan beberapa pertanyaan berikut ini bersama teman-teman disini sebagai bukti anda hadir. Berikan respon anda terhadap pertanyaan berikut dan sertakan argumen dari berbagai sumber.

  1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
  2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
In reply to First post

Re: Diskusi

by Asnia Sundari -
Assalamu'alaikum ibu & teman-teman, selamat soree.. sebelumnya perkenalkan saya Asnia Sundari (NPM 2413031040)
Menurut saya, paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM memiliki perbedaan utama pada fokusnya. Anggaran tradisional lebih menekankan input dan besarnya anggaran yang digunakan, sehingga penyusunannya sering kali masih mengikuti pola anggaran tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Novita Indrawati dalam Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis berjudul “Penyusunan Anggaran dalam Era New Public Management: Implementasinya di Indonesia”, yang menjelaskan adanya pergeseran dari anggaran tradisional menuju anggaran berbasis kinerja karena tuntutan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sektor publik. Namun, kelemahannya adalah keberhasilan program dapat lebih banyak dilihat dari penyerapan anggaran, bukan dari manfaat yang dihasilkan. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada kinerja, yaitu bagaimana anggaran yang digunakan dapat menghasilkan output dan outcome yang efektif serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan. Dalam ZBB, setiap program tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena sudah dijalankan pada tahun sebelumnya. Setiap program harus dikaji kembali berdasarkan kebutuhan, biaya, manfaat, dan prioritasnya. Selanjutnya, program disusun berdasarkan tingkat prioritas dan dikaitkan dengan target kinerja sebelum anggaran dialokasikan.

Jadi, ZBB dapat menggabungkan keunggulan keduanya, yakni mengurangi pemborosan dan kebiasaan mempertahankan anggaran lama, sekaligus memastikan setiap dana yang dialokasikan memiliki tujuan dan hasil yang jelas.
Sekian dari saya, terima kasih dan sukses selaluu.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Arshella Cahya Yuniarti -
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat sore Ibu dan Teman-teman sekalian...
Nama: Arshella Cahya Yuniarti
NPM: 2413031058

1. Menurut saya, anggaran tradisional lebih menekankan pada input, aturan, dan penggunaan anggaran tahun sebelumnya. Jadi, anggaran cenderung disusun dengan menyesuaikan anggaran yang sudah ada. Berbeda dengan anggaran berbasis New Public Management (NPM) yang lebih menekankan pada hasil, efisiensi, efektivitas, dan kinerja. Hal ini terlihat dalam jurnal “Memaknai Kembali Penganggaran Berbasis Kinerja Berdasarkan Studi Implementasi Penganggaran Sektor Publik” karya Biswan dan Grafitanti (2021), yang menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja tidak seharusnya hanya berorientasi pada peningkatan jumlah anggaran setiap tahun, tetapi juga harus melihat hasil dan akuntabilitas dari penggunaan anggaran.

2. Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi perbedaan tersebut karena setiap kegiatan dan pengeluaran harus dievaluasi kembali dari awal. Artinya, suatu kegiatan tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena sebelumnya sudah mendapatkan anggaran. Dalam jurnal “Peran Zero-Based Budgeting dalam Peningkatan Akuntabilitas Keuangan: Studi Pustaka” karya Nurunnabilah dan Ahmad (2025), dijelaskan bahwa ZBB mengharuskan setiap pengeluaran untuk dijustifikasi dari awal agar alokasi anggaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan organisasi. Dengan begitu, anggaran dapat lebih diarahkan pada kegiatan yang benar-benar penting, bermanfaat, dan memiliki prioritas.

Jadi kesimpulannya, Anggaran tradisional berfokus pada input dan aturan, sedangkan NPM berfokus pada hasil dan kinerja. ZBB membantu menghubungkan keduanya dengan menentukan anggaran berdasarkan kebutuhan dan prioritas.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Fadhilah Izdihar -
Nama : Fadhilah Izdihar
NPM : 2413031068

Menurut saya, anggaran tradisional berfokus pada input dan pengeluaran, biasanya berdasarkan anggaran tahun sebelumnya. Kelemahannya, program lama cenderung terus dipertahankan tanpa melihat efektivitasnya. Sedangkan NPM (New Public Management) berfokus pada kinerja, efisiensi, efektivitas, output, dan outcome. Jadi, anggaran tidak hanya melihat jumlah uang yang digunakan, tetapi juga hasil yang dicapai.
Sedangkan, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjembatani keduanya dengan mengharuskan setiap program dievaluasi dari awal, bukan sekadar mengikuti anggaran sebelumnya.
Prosesnya meliputi: menentukan tujuan, mengevaluasi program dan biayanya, menentukan prioritas, mengalokasikan anggaran berdasarkan kebutuhan dan kinerja, lalu melakukan evaluasi. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM karena anggaran diarahkan pada prioritas, efisiensi, dan hasil yang nyata.
In reply to First post

Re: Diskusi

by ALZIRAH SABRINA -
Assalamu'alaikum wr.wb. ibu dan teman-teman..
Jika kita bedah pergeserannya, paradigma tradisional dan NPM ini sebetulnya terletak pada perbedaan fokus utama. Anggaran tradisional itu sangat mengunci kontrol input dan prosedur, di mana pola penyusunannya cenderung inkremental karena sekadar mereplikasi tahun sebelumnya. Sederhananya, seperti yang dianalogikan oleh World Bank, fokusnya adalah ketertiban administrasi terlebih dahulu. Nah, NPM kemudian masuk membawa paradigma baru yang menagih output serta dampak nyata dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Menurut hemat saya, kedua pendekatan ini tidak perlu dibenturkan sebagai pilihan mutlak. Kita tetap butuh kontrol kepatuhan dari anggaran tradisional untuk mencegah penyelewengan, sekaligus memerlukan logika kinerja NPM agar anggaran tidak habis tanpa bekas. Hambatan di lapangan biasanya bertumpu pada kapasitas SDM dan indikator kinerja yang belum matang, sehingga implementasinya belum optimal.Di sinilah Zero-Based Budgeting (ZBB) bisa hadir sebagai jembatan penengah. ZBB memotong kebiasaan anggaran tradisional yang asal melanjutkan alokasi tahun lalu, sebab setiap program wajib membuktikan urgensinya dari titik nol. Prosesnya bergerak mulai dari pemetaan kegiatan, penyusunan paket keputusan, hingga pemeringkatan skala prioritas. Melalui mekanisme ini, ZBB mengadopsi kedisiplinan anggaran tradisional sekaligus mengeksekusi prinsip efisiensi NPM. Namun, jika ZBB ini dipaksakan mentah-mentah ke seluruh lini setiap tahun, implikasinya justru memicu beban administrasi dan tumpukan berkas yang tidak produktif. Solusi paling rasional adalah menerapkan ZBB secara selektif. Kita bisa memprioritaskan ZBB khusus untuk program berskala besar atau yang kinerjanya mulai dipertanyakan, alih-alih merombak seluruh pos anggaran secara serentak.</div>
In reply to First post

Re: Diskusi

by Olivia Rahma Dani -
Nama: Olivia Rahma Dani
NPM: 2413031039

1. Anggaran tradisional berorientasi pada input dan biasanya menggunakan pendekatan line-item serta inkremental. Artinya, anggaran tahun berjalan umumnya dibuat berdasarkan anggaran tahun sebelumnya dengan penyesuaian tertentu. Fokus utamanya adalah mengontrol pengeluaran dan memastikan kepatuhan terhadap prosedur. Kelemahannya, program yang sudah kurang relevan masih dapat terus memperoleh anggaran karena tidak selalu dilakukan evaluasi ulang (Mardiasmo, 2009; Wildavsky, 1964). Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada output dan outcome. Anggaran tidak hanya menjadi alat kontrol, tetapi juga digunakan untuk mengukur kinerja. Manajer diberikan fleksibilitas dalam mengelola sumber daya, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan hasilnya. Pengukuran dilakukan berdasarkan prinsip value for money, yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas (Hood, 1991; Osborne & Gaebler, 1992). Di Indonesia, pendekatan ini diperkuat melalui UU No. 17 Tahun 2003. Permasalahannya, penerapan anggaran berbasis kinerja terkadang masih sebatas pada dokumen. Indikator kinerja sudah dicantumkan, tetapi penentuan jumlah anggaran masih menggunakan pola inkremental seperti tahun sebelumnya.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) merupakan pendekatan penyusunan anggaran yang dimulai dari nol. Artinya, anggaran sebelumnya tidak otomatis menjadi dasar untuk anggaran berikutnya (Pyhrr, 1973). Penerapannya dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
1. Identifikasi unit keputusan, yaitu menentukan program atau kegiatan yang akan dievaluasi.
2. Penyusunan paket keputusan, yang berisi tujuan, ukuran kinerja, alternatif pelaksanaan, dan konsekuensi jika kegiatan dihentikan.
3. Peringkat dan alokasi, yaitu mengurutkan paket berdasarkan prioritas kemudian mengalokasikan dana sesuai pagu yang tersedia.

ZBB dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena tidak hanya bergantung pada anggaran tahun sebelumnya. Selain itu, ZBB dapat mendukung anggaran berbasis NPM karena indikator kinerja dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan alokasi anggaran, bukan hanya sebagai pelengkap dokumen. Namun, ZBB memiliki kendala seperti membutuhkan waktu dan biaya administrasi yang cukup besar, sulitnya menentukan peringkat berbagai program secara konsisten, serta adanya kemungkinan resistensi dari pihak yang anggarannya dikurangi. Oleh karena itu, penerapan ZBB modifikasi dapat menjadi pilihan yang lebih realistis, misalnya diterapkan secara bergilir pada program tertentu. Intinya, anggaran kinerja memberikan arah melalui output dan outcome, sedangkan ZBB membantu menguji kembali apakah anggaran yang diberikan masih relevan dan layak dipertahankan.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Rizky Widyaningrum -
Nama: Rizky Widyaningrum
NPM: 2413031060

1. Anggaran tradisional lebih berfokus pada input atau jumlah dana yang digunakan. Penyusunannya biasanya mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan. Keberhasilannya lebih banyak dilihat dari apakah dana telah digunakan sesuai aturan dan pos yang ditetapkan. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih berorientasi pada kinerja dan hasil. Artinya, tidak hanya melihat berapa banyak dana yang digunakan, tetapi juga melihat hasil dan manfaat yang diperoleh. NPM menekankan efisiensi, efektivitas, dan pencapaian tujuan. Jadi, anggaran tradisional berorientasi pada input, sedangkan NPM lebih berorientasi pada hasil dan kinerja.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengatasi perbedaan antara anggaran tradisional dan NPM karena setiap kegiatan harus dinilai kembali dari awal, bukan otomatis mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Setiap kegiatan perlu dijelaskan tujuan, biaya, manfaat, dan hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, kegiatan dibandingkan dan diprioritaskan berdasarkan kebutuhan serta manfaatnya. Kegiatan yang kurang penting dapat dikurangi atau tidak diberikan anggaran. Dengan begitu, ZBB menggabungkan pengendalian penggunaan dana dari anggaran tradisional dengan fokus terhadap hasil dari NPM. Anggaran diberikan berdasarkan kebutuhan dan manfaat kegiatan, bukan hanya berdasarkan anggaran tahun sebelumnya.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Nina Oktaviana -
NAMA: NINA OKTAVIANA
NPM: 2413031057

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Anggaran tradisional merupakan sistem penganggaran yang lebih berfokus pada jumlah dana yang digunakan dan jenis pengeluarannya. Penyusunan anggaran biasanya mengacu pada anggaran tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan pada tahun berikutnya. Jadi, yang lebih diperhatikan adalah input dan pengendalian pengeluaran. Kelemahannya, sistem ini kurang memperhatikan apakah anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat dan kinerja yang baik bagi masyarakat.
Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada hasil atau kinerja yang ingin dicapai. Anggaran tidak hanya dilihat dari berapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi juga apa hasil yang diperoleh dari penggunaan dana tersebut. Pendekatan ini mendorong efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran. Jadi, perbedaan utamanya adalah anggaran tradisional lebih berorientasi pada input, sedangkan NPM lebih berorientasi pada kinerja dan hasil.

2. Proses Implementasi ZBB dalam Mengatasi Kelemahan Anggaran Tradisional
Zero-Based Budgeting (ZBB) merupakan metode penganggaran yang mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dinilai kembali dari awal. Artinya, anggaran tahun sebelumnya tidak langsung dijadikan dasar untuk menentukan anggaran berikutnya. Proses ZBB dimulai dengan mengidentifikasi kegiatan yang membutuhkan anggaran, kemudian setiap kegiatan dijelaskan tujuan, biaya, manfaat, dan hasil yang akan dicapai. Setelah itu, kegiatan dinilai dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kepentingan dan manfaatnya. Kegiatan yang lebih penting akan mendapatkan prioritas anggaran.

Menurut saya, penerapan ZBB dapat membantu mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena setiap pengeluaran harus memiliki alasan dan manfaat yang jelas. Kegiatan yang sudah tidak relevan atau kurang memberikan manfaat dapat dikurangi, sementara dana dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih dibutuhkan. Namun, penerapan ZBB juga membutuhkan waktu, data, dan analisis yang cukup karena setiap kegiatan harus dikaji kembali. Dengan demikian, ZBB dapat membantu menciptakan penggunaan anggaran yang lebih efisien dan sesuai dengan prioritas organisasi.