Diskusi

Diskusi

Diskusi

Number of replies: 24

Cobalah anda diskusikan beberapa pertanyaan berikut ini bersama teman-teman disini sebagai bukti anda hadir. Berikan respon anda terhadap pertanyaan berikut dan sertakan argumen dari berbagai sumber.

  1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
  2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!
In reply to First post

Re: Diskusi

by Nashita Shafiyah -

NAMA: NASHITA SHAFIYAH

NPM: 2413031009

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada input, yaitu besarnya dana yang dialokasikan dan digunakan. Penyusunannya juga cenderung incremental, karena anggaran sebelumnya sering menjadi dasar untuk anggaran berikutnya. OECD (2017) menjelaskan bahwa pendekatan incremental menyesuaikan anggaran sebelumnya berdasarkan kondisi dan kebutuhan saat ini.

Sedangkan anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada output, hasil, efisiensi, dan efektivitas. Menurut OECD (2025), performance budgeting menghubungkan sumber daya yang diberikan dengan hasil yang ingin dicapai. Hal ini juga sesuai dengan materi bahwa anggaran sektor publik digunakan sebagai alat penilaian kinerja berdasarkan pencapaian target dan efisiensi anggaran. Jadi, menurut saya, perbedaannya terletak pada fokus: anggaran tradisional lebih melihat berapa dana yang digunakan, sedangkan NPM lebih melihat apa hasil yang diperoleh dari dana tersebut.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi penghubung antara kedua pendekatan tersebut. OECD menjelaskan bahwa ZBB mengharuskan program dan kegiatan dikaji kembali dari awal, sehingga anggaran tidak otomatis mengikuti anggaran tahun sebelumnya.

Implementasinya dilakukan dengan mengidentifikasi program, menentukan tujuan dan manfaat, menghitung kebutuhan biaya, kemudian menentukan prioritas berdasarkan manfaat dan hasil yang ingin dicapai. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi kebiasaan mempertahankan anggaran lama sekaligus mendorong efisiensi dan orientasi pada hasil. Hal ini sejalan dengan prinsip anggaran sektor publik yang menekankan penggunaan anggaran secara ekonomis, efisien, dan efektif.


In reply to First post

Re: Diskusi

by Eka Saryuni -
Nama: Eka Saryuni
NPM: 2413031030

1. Menurut saya, anggaran tradisional lebih fokus pada berapa besar dana yang digunakan dan biasanya penyusunannya mengikuti anggaran pada tahun sebelumnya. Jadi, yang lebih diperhatikan adalah penggunaan dana sesuai dengan rencana. Sementara itu, anggaran berbasis NPM (New Public Management) lebih melihat hasil dan kinerja yang dicapai. Artinya, anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga apakah dana tersebut digunakan secara efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) dilakukan dengan menyusun anggaran dari awal atau dari nol, sehingga setiap program harus dipertimbangkan kembali apakah memang diperlukan. Setiap kegiatan dinilai berdasarkan kebutuhan, biaya, dan manfaatnya. Dengan cara ini, pemerintah dapat mengurangi pengeluaran yang kurang penting dan mengarahkan dana pada program yang lebih prioritas. ZBB juga membantu menerapkan prinsip NPM karena lebih menekankan efisiensi, efektivitas, dan hasil dari penggunaan anggaran.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Saskia Kanesa Dinia -
Nama: Saskia Kanesa Dinia
NPM: 2413031021

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Menurut saya, Anggaran tradisional lebih berfokus pada input atau jumlah dana yang digunakan. Keberhasilan dilihat dari apakah anggaran yang sudah ditetapkan dapat digunakan sesuai rencana. Sedangkan anggaran berbasis NPM (New Public Management) lebih berfokus pada hasil, kinerja, efisiensi, dan efektivitas. Jadi, bukan hanya melihat berapa dana yang digunakan, tetapi juga melihat hasil dan manfaat yang diperoleh masyarakat. Jadi kesimpulannya adalah anggaran tradisional berorientasi pada input, sedangkan NPM berorientasi pada hasil dan kinerja.

2. Proses Implementasi ZBB dalam Mengatasi Kesenjangan
Menurut saya, ZBB (Zero-Based Budgeting) dilakukan dengan menyusun anggaran dari titik nol, sehingga setiap kegiatan harus dijelaskan kembali kebutuhan, biaya, dan manfaatnya.
Berikut merupakan Prosesnya yaitu:
1. Mengidentifikasi kegiatan yang akan dilakukan.
2. Menjelaskan biaya dan manfaat setiap kegiatan.
3. Menentukan kegiatan berdasarkan prioritas dan kebutuhan.
4. Mengalokasikan anggaran pada kegiatan yang paling efektif dan bermanfaat.
5. Melakukan evaluasi terhadap hasil penggunaan anggaran.

Dengan cara ini, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional karena tidak hanya melihat besarnya pengeluaran, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi, efektivitas, dan hasil, seperti yang ditekankan dalam NPM.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Eris Ana Dita -

Nama : Eris Ana Dita

Npm : 2413031017


1. Menurut saya, perbedaan utamanya terletak pada cara melihat keberhasilan anggaran. Anggaran tradisional cenderung melihat apakah dana sudah digunakan sesuai dengan rencana dan aturan yang ditetapkan. Sedangkan anggaran berbasis NPM tidak hanya melihat penggunaan dana, tetapi juga mempertanyakan apa hasil yang diberikan dari anggaran tersebut. Jadi, dalam NPM pemerintah dituntut lebih berorientasi pada kinerja dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

2. Menurut saya, ZBB dapat menjadi penghubung antara kedua pendekatan tersebut. Setiap program tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena sudah ada pada tahun sebelumnya. Program tersebut harus dinilai kembali berdasarkan kebutuhan, biaya, manfaat, dan hasil yang ingin dicapai. Dengan begitu, pemerintah tetap memiliki kontrol terhadap penggunaan dana seperti dalam anggaran tradisional, tetapi juga dapat memilih program yang lebih efektif dan memberikan hasil sesuai prinsip NPM. Jadi, ZBB membantu mengarahkan anggaran agar tidak sekadar habis terserap, tetapi benar-benar memberikan manfaat.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Serly Natasa -
Nama: Serly Natasa
NPM: 2413031028

1. Menurut saya, anggaran tradisional lebih fokus pada penggunaan dana berdasarkan pos-pos yang sudah ditentukan. Penyusunannya juga cenderung mengikuti anggaran tahun sebelumnya, sehingga yang dilihat lebih banyak adalah apakah anggaran sudah digunakan sesuai aturan.

Sedangkan anggaran berbasis NPM (New Public Management) lebih menekankan pada hasil, efisiensi, dan kinerja. Jadi, pemerintah tidak hanya dituntut untuk menggunakan anggaran dengan benar, tetapi juga harus bisa menunjukkan hasil atau manfaat yang diperoleh masyarakat. OECD juga menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja mengarahkan perhatian dari sekadar input menuju hasil yang ingin dicapai.

2. Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk menjembatani kedua pendekatan tersebut. Dalam ZBB, anggaran tidak langsung mengikuti anggaran tahun sebelumnya, tetapi setiap program harus diperiksa dan dipertanggungjawabkan kembali dari awal.

Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi program, menghitung kebutuhan dan biayanya, kemudian menentukan program mana yang paling penting dan memberikan manfaat terbesar. Setelah itu, anggaran dihubungkan dengan target dan hasil yang ingin dicapai. Dengan cara ini, kebiasaan "tahun lalu sekian, tahun ini tinggal ditambah" dapat dikurangi.

Menurut saya, ZBB cocok dikombinasikan dengan NPM karena bukan hanya mempertanyakan "berapa anggarannya?", tetapi juga "untuk apa anggaran tersebut dan apa hasilnya bagi masyarakat?". Dengan begitu, penggunaan anggaran bisa menjadi lebih efisien dan tepat sasaran.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Dera Lediana -
Nama : Dera LEDIANA
Npm : 2413031032
Kls : A

*1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?*

Menurut saya, paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) memiliki perbedaan mendasar dalam cara melihat fungsi anggaran. Anggaran tradisional pada dasarnya melihat anggaran sebagai alat untuk mengendalikan pengeluaran dan memastikan kepatuhan terhadap aturan. Sedangkan NPM memandang anggaran sebagai alat manajemen yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, kualitas pelayanan, akuntabilitas, serta pencapaian kinerja organisasi publik.
Pada paradigma tradisional, penyusunan anggaran umumnya menggunakan pendekatan line-item budgeting dan incremental budgeting. Line-item budgeting mengelompokkan anggaran berdasarkan jenis pengeluaran, misalnya belanja pegawai, belanja barang, belanja perjalanan dinas, dan belanja modal. Dengan demikian, perhatian utama berada pada jenis dan jumlah input yang digunakan. Sementara itu, incremental budgeting menjadikan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menentukan anggaran tahun berikutnya, kemudian dilakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan tertentu. Pendekatan tersebut relatif mudah diterapkan karena organisasi tidak harus mengevaluasi seluruh kegiatan dari awal setiap tahun.
Namun, menurut saya, kelemahan utama anggaran tradisional adalah adanya kecenderungan status quo. Program yang telah memperoleh anggaran pada tahun sebelumnya cenderung kembali memperoleh anggaran pada periode berikutnya meskipun manfaat atau efektivitas program tersebut belum tentu dievaluasi secara mendalam. Akibatnya, anggaran dapat lebih berorientasi pada berapa besar dana yang terserap daripada apa hasil yang dihasilkan dari dana tersebut.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dengan anggaran berbasis NPM. ZBB memiliki karakteristik berbeda dari penganggaran incremental karena tidak menganggap anggaran tahun sebelumnya sebagai sesuatu yang secara otomatis harus dipertahankan.
Dalam sistem incremental, apabila suatu program memperoleh Rp1 miliar pada tahun sebelumnya, maka pada tahun berikutnya organisasi dapat mengusulkan Rp1 miliar ditambah kenaikan tertentu. Sebaliknya, dalam ZBB, setiap kegiatan harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kembali, seolah-olah organisasi memulai proses penganggaran dari titik nol.
Menurut Pyhrr, ZBB menuntut manajemen untuk mengidentifikasi kegiatan, menyusun alternatif pelaksanaan, mengevaluasi manfaat dan biaya, kemudian menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan organisasi. Dengan pendekatan ini, kegiatan yang selama ini memperoleh anggaran tidak otomatis mendapatkan dana pada periode berikutnya.
Menurut Pyhrr, ZBB menuntut manajemen untuk mengidentifikasi kegiatan, menyusun alternatif pelaksanaan, mengevaluasi manfaat dan biaya, kemudian menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan organisasi. Dengan pendekatan ini, kegiatan yang selama ini memperoleh anggaran tidak otomatis mendapatkan dana pada periode berikutnya.
ZBB dapat menjembatani kesenjangan antara anggaran tradisional dan NPM karena memiliki unsur pengendalian biaya seperti yang terdapat dalam paradigma tradisional, tetapi sekaligus mendorong efisiensi, evaluasi program, prioritas, dan hasil yang menjadi perhatian NPM.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Anggaran tradisional lebih menekankan pada pengendalian input dan pengeluaran. Penyusunannya umumnya menggunakan pendekatan line-item dan inkremental, sehingga anggaran tahun sebelumnya sering menjadi dasar untuk menentukan anggaran tahun berikutnya. Akibatnya, perhatian lebih banyak diberikan pada berapa besar dana yang digunakan dan untuk pos apa dana tersebut dibelanjakan, bukan pada hasil yang diperoleh dari penggunaan dana tersebut.

Berbeda dengan anggaran tradisional, paradigma New Public Management (NPM) menekankan pengelolaan sektor publik yang lebih berorientasi pada efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil. Anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah dana yang dikeluarkan, tetapi juga dikaitkan dengan output dan outcome yang ingin dicapai. Dengan demikian, pemerintah dituntut untuk menunjukkan bahwa sumber daya yang digunakan benar-benar memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat.

Menurut saya, perbedaan utama kedua paradigma tersebut terletak pada orientasinya. Anggaran tradisional lebih berorientasi pada input dan kepatuhan terhadap pos anggaran, sedangkan NPM lebih berorientasi pada kinerja dan hasil. Perubahan ini diperlukan agar anggaran publik tidak hanya habis terserap, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan manfaat dan pencapaian tujuan.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dan tuntutan NPM. Dalam anggaran tradisional, terdapat kecenderungan menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar sehingga suatu program dapat terus memperoleh anggaran meskipun efektivitasnya belum tentu dievaluasi secara menyeluruh. ZBB berusaha mengatasi hal tersebut dengan mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dijustifikasi kembali.

Implementasinya dimulai dengan mengidentifikasi program atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, setiap kegiatan dibuat dalam bentuk decision package yang menjelaskan tujuan, biaya, manfaat, serta hasil yang diharapkan. Setelah itu, setiap kegiatan dibandingkan dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kebutuhan, biaya, manfaat, dan kontribusinya terhadap tujuan organisasi. Anggaran kemudian diberikan kepada kegiatan yang memiliki prioritas dan manfaat paling besar.

Dengan proses tersebut, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional karena alokasi anggaran tidak hanya didasarkan pada anggaran tahun sebelumnya. Di sisi lain, ZBB juga mendukung prinsip NPM karena keputusan anggaran mulai mempertimbangkan efisiensi, efektivitas, manfaat, dan hasil yang akan dicapai. Jadi, menurut saya, ZBB dapat menjadi penghubung antara kedua paradigma tersebut dengan mendorong organisasi untuk lebih kritis dalam menentukan kegiatan apa yang benar-benar diperlukan, berapa biaya yang dibutuhkan, dan hasil apa yang akan diperoleh dari anggaran tersebut.

Namun, penerapan ZBB juga membutuhkan informasi yang cukup, kemampuan menentukan prioritas, serta evaluasi yang baik. Oleh karena itu, ZBB sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai anggaran yang selalu dimulai dari angka nol, tetapi sebagai proses untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran memang memiliki alasan dan manfaat yang jelas.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Rahmi Taqiya Darmawanti -

Rahmi Taqiya Darmawanti

2413031006

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!

Anggaran tradisional berorientasi pada input dan jenis belanja, seperti gaji, barang, serta biaya operasional. Penyusunannya biasanya menggunakan pola inkremental, yaitu anggaran tahun sebelumnya dijadikan dasar untuk menentukan anggaran tahun berikutnya. Kelemahannya, sistem ini cenderung mempertahankan program lama dan belum menilai secara mendalam hasil yang diperoleh.

Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) menekankan efisiensi, efektivitas, transparansi, dan pencapaian kinerja. Dana tidak hanya dilihat dari jumlah yang dibelanjakan, tetapi juga dikaitkan dengan keluaran dan manfaat program bagi masyarakat. Dengan demikian, NPM mendorong pemerintah bekerja lebih berorientasi pada hasil, seperti praktik pengelolaan organisasi yang profesional.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk mengatasi kelemahan anggaran tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM. Dalam ZBB, setiap program tidak otomatis memperoleh anggaran berdasarkan tahun sebelumnya, tetapi harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kembali mulai dari dasar nol.

Proses penerapannya dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, pemerintah mengidentifikasi seluruh program dan kegiatan sebagai unit keputusan. Kedua, setiap unit menyusun beberapa alternatif tingkat pendanaan beserta target dan manfaatnya. Ketiga, seluruh usulan dibandingkan berdasarkan prioritas, biaya, efisiensi, dan hasil yang diharapkan. Terakhir, dana diberikan kepada program yang paling penting dan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.

Dengan cara tersebut, ZBB mengurangi kebiasaan mempertahankan anggaran lama, mencegah pemborosan, dan memperkuat hubungan antara dana dengan kinerja. Namun, penerapannya membutuhkan data yang memadai, indikator kinerja yang jelas, serta waktu analisis yang cukup agar prosesnya tidak hanya menjadi kegiatan administratif.


In reply to First post

Re: Diskusi

by Nurida Elsa -

Nama: Nurida elsa

NPM: 2413031012


1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional lebih berorientasi pada input atau jumlah dana yang digunakan. Penyusunannya biasanya menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan tahun berikutnya. Kelebihannya adalah mudah diterapkan dan dikendalikan, tetapi kurang memperhatikan hasil dan manfaat dari penggunaan anggaran. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan pencapaian kinerja. Jadi, perhatian tidak hanya pada jumlah dana yang digunakan, tetapi juga pada output dan hasil yang dicapai.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dan NPM. Dalam ZBB, setiap program dan kegiatan tidak langsung mengikuti anggaran tahun sebelumnya, tetapi harus dikaji dan dipertanggungjawabkan kembali berdasarkan kebutuhan, biaya, serta manfaatnya. Prosesnya dilakukan dengan mengidentifikasi kegiatan, menyusun kebutuhan anggaran, menilai manfaat dan hasil yang diharapkan, menentukan prioritas, kemudian mengalokasikan dana sesuai dengan kegiatan yang paling dibutuhkan. Dengan cara ini, ZBB dapat mengurangi pemborosan dari sistem tradisional sekaligus mendukung NPM yang berorientasi pada kinerja dan hasil.

Jadi Menurut saya, perbedaan utama keduanya terletak pada orientasi anggaran. Anggaran tradisional lebih fokus pada input dan pengeluaran, sedangkan NPM lebih berfokus pada kinerja dan hasil. Penerapan ZBB dapat menjadi salah satu cara untuk menjembatani keduanya karena setiap penggunaan anggaran harus memiliki alasan, manfaat, dan prioritas yang jelas. Dengan demikian, anggaran diharapkan menjadi lebih efisien, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.


In reply to First post

Re: Diskusi

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1.Paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM

Anggaran tradisional merupakan sistem penganggaran yang lebih berfokus pada pembagian dana berdasarkan jenis atau pos pengeluaran. Dalam penyusunannya, anggaran tahun sebelumnya sering dijadikan acuan untuk menentukan jumlah anggaran pada periode berikutnya. Akibatnya, perhatian lebih banyak diberikan pada besarnya dana yang digunakan daripada hasil yang diperoleh dari penggunaan dana tersebut. Kondisi ini membuat anggaran tradisional memiliki keterbatasan dalam menunjukkan tingkat efektivitas dan manfaat suatu program bagi masyarakat.

Berbeda dengan anggaran tradisional, pendekatan New Public Management (NPM) lebih menitikberatkan pada efisiensi, efektivitas, serta pencapaian kinerja. Penggunaan anggaran tidak hanya dinilai dari jumlah dana yang telah dikeluarkan, tetapi juga dari hasil yang dapat dicapai melalui dana tersebut. Oleh karena itu, setiap program diharapkan memiliki target dan indikator kinerja yang jelas sehingga pemerintah dapat mengetahui apakah anggaran yang digunakan benar-benar memberikan hasil sesuai tujuan. Pendekatan ini membuat pengelolaan sektor publik lebih berorientasi pada hasil dan pelayanan kepada masyarakat.

2.Implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan NPM

Zero-Based Budgeting (ZBB) merupakan metode penyusunan anggaran yang tidak secara langsung menggunakan anggaran periode sebelumnya sebagai dasar. Setiap kegiatan harus dikaji kembali dari awal dan diberikan alasan yang jelas mengenai kebutuhan, tujuan, biaya, serta manfaatnya. Dengan demikian, suatu kegiatan tidak otomatis memperoleh anggaran hanya karena kegiatan tersebut sudah dilaksanakan pada tahun sebelumnya.

Penerapan ZBB dapat dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai program yang akan dilaksanakan, menjelaskan tujuan dan kebutuhannya, menghitung sumber daya yang diperlukan, kemudian membandingkan manfaat dan biaya dari setiap program. Setelah itu, program dapat disusun berdasarkan tingkat prioritas sebelum anggaran ditetapkan. Melalui proses tersebut, ZBB dapat membantu mengurangi pengeluaran yang kurang diperlukan sekaligus mendukung prinsip NPM yang mengutamakan efisiensi dan pencapaian hasil.

Dengan demikian, ZBB dapat menjadi penghubung antara sistem anggaran tradisional dan pendekatan NPM. Jika anggaran tradisional cenderung mempertahankan pola pengeluaran sebelumnya, ZBB mendorong setiap program untuk dipertanggungjawabkan kembali berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya. Sementara itu, prinsip NPM dapat diterapkan dengan menilai apakah program yang memperoleh anggaran mampu mencapai target dan memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan organisasi.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Refamei Kudadiri -
Nama: Refamei Kudadiri

Npm: 2413031014

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Anggaran tradisional, menurut saya, lebih menekankan pada penggunaan dana berdasarkan pos-pos yang telah ditentukan. Mereka biasanya menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menyusun anggaran berikutnya. Fokus utamanya adalah pengendalian input dan kepatuhan terhadap aturan, sehingga penggunaan anggaran biasanya menentukan keberhasilan. Anggaran berbasis New Public Management (NPM), di sisi lain, lebih fokus pada efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan hasil yang dicapai. Artinya, pemerintah tidak hanya mempertimbangkan jumlah anggaran yang digunakan, tetapi juga hasil dan manfaat. Penganggaran berbasis kinerja menghubungkan alokasi sumber daya dengan tujuan dan hasil yang diharapkan, menurut OECD. Oleh karena itu, NPM mendorong pemerintah untuk menggunakan anggaran dengan lebih fokus pada hasil dan keuntungan masyarakat.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Karena setiap kegiatan harus dipertanggungjawabkan dari awal, bukan hanya mengikuti anggaran tahun sebelumnya, saya pikir Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat membantu mengurangi perbedaan antara anggaran tradisional dan NPM. Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi kegiatan, memberikan penjelasan tentang kebutuhan dan tujuan kegiatan, menghitung biaya, dan menilai manfaat. Selanjutnya, berdasarkan hasil yang diinginkan, prioritas ditetapkan. Mungkin untuk memprioritaskan kegiatan yang lebih penting daripada yang kurang bermanfaat. Dengan demikian, ZBB tidak hanya memperhatikan pengendalian anggaran seperti pada sistem tradisional, tetapi juga memasukkan prinsip orientasi hasil dan efisiensi yang menjadi ciri NPM. Menurut pendapat saya, penerapan ZBB akan lebih efektif jika didukung oleh data kinerja yang jelas, sehingga keputusan pengalokasian anggaran berdasarkan kebutuhan dan hasil yang dapat dicapai, bukan hanya kebiasaan tahun sebelumnya.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Laila Asia Somad -

Nama : Laila Asia Somad

NPM : 2413031005

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut pemahaman saya, paradigma anggaran tradisional lebih menekankan pada input dan pengendalian pengeluaran. Penyusunan anggaran biasanya menggunakan anggaran periode sebelumnya sebagai dasar, kemudian dilakukan penyesuaian terhadap kebutuhan pada periode berikutnya. Dengan cara ini, pengeluaran yang sudah ada cenderung dianggap sebagai dasar yang tetap, sedangkan yang perlu dijelaskan lebih lanjut biasanya adalah tambahan anggarannya. OECD menjelaskan bahwa pendekatan incremental dalam penganggaran tradisional mempertahankan pengeluaran dasar, sedangkan usulan pengeluaran baru yang perlu mendapatkan justifikasi. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada hasil, kinerja, efisiensi, dan efektivitas. Anggaran tidak hanya dilihat dari berapa besar dana yang digunakan, tetapi juga apa hasil yang dapat dicapai dari penggunaan dana tersebut. OECD menjelaskan bahwa penganggaran berbasis kinerja menggeser perhatian dari input menuju hasil yang dapat diukur serta membantu menghubungkan alokasi sumber daya dengan prioritas dan kinerja pemerintah. Jadi, menurut saya, perbedaan utamanya terletak pada fokusnya. Anggaran tradisional lebih berfokus pada berapa dana yang digunakan, sedangkan pendekatan NPM lebih memperhatikan apa yang dihasilkan dari dana tersebut dan apakah hasilnya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.


2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk mengurangi kelemahan anggaran tradisional karena ZBB tidak langsung menganggap anggaran sebelumnya sebagai dasar yang harus dilanjutkan. Setiap kegiatan atau program perlu dikaji kembali dan diberikan alasan mengapa kegiatan tersebut masih perlu dibiayai. OECD menjelaskan bahwa ZBB mengharuskan setiap alokasi anggaran dievaluasi kembali dari titik awal, berbeda dengan penganggaran incremental yang cenderung mempertahankan pengeluaran dasar. Prosesnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi program atau kegiatan yang akan dibiayai, menetapkan tujuan dan kebutuhan sumber dayanya, kemudian menyusun beberapa alternatif pendanaan atau decision packages. Setiap kegiatan selanjutnya dinilai berdasarkan manfaat, biaya, prioritas, serta hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, kegiatan yang memiliki alasan dan hasil yang lebih jelas dapat diprioritaskan dalam penyusunan anggaran. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ZBB yang mengharuskan unit pengeluaran menyusun keputusan pendanaan dari dasar dan menjelaskan tujuan serta kebutuhan sumber dayanya. Dengan demikian, menurut saya ZBB dapat menjadi penghubung antara anggaran tradisional dan pendekatan NPM. ZBB membantu mengurangi kebiasaan mempertahankan anggaran lama secara otomatis, sedangkan penilaian terhadap manfaat dan hasil kegiatan membuat proses penganggaran menjadi lebih berorientasi pada kinerja. Namun, penerapannya juga perlu dilakukan secara realistis karena ZBB membutuhkan informasi, analisis, waktu, dan kemampuan sumber daya manusia yang cukup. OECD juga mencatat bahwa penerapan ZBB secara penuh dapat menambah beban analisis dan titik pengambilan keputusan dalam proses anggaran.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Mourien Ganesti -

Nama : Mourien Ganesti 

Npm : 2413031013

1. Anggaran tradisional cenderung berorientasi pada alokasi dana yang mengikuti pengeluaran tahun sebelumnya serta pengawasan masukan. Di sisi lain, New Public Management (NPM) lebih menekankan pada efisiensi, pencapaian kinerja, dan hasil dari pemanfaatan anggaran. Dengan demikian, NPM berupaya agar anggaran tidak hanya fokus pada total biaya, tetapi juga pada nilai dan hasil yang dihasilkan.

2. Zero Based Budgeting (ZBB) dilaksanakan dengan mengembangkan anggaran mulai dari nol, sehingga setiap program dan aktivitas perlu diuraikan kembali mengenai kebutuhan, keuntungan, dan anggarannya. Hal ini membuat anggaran tidak sekadar meniru anggaran sebelumnya, tetapi mampu diprioritaskan pada aktivitas yang benar-benar diperlukan dan menghasilkan dampak. ZBB dapat mengurangi kekurangan pada anggaran tradisional sekaligus memperkuat prinsip NPM yang menekankan pada efisiensi dan kinerja.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika  

NPM: 2413031011

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional lebih fokus pada input , yaitu berapa besar dana yang tersedia dan bagaimana dana tersebut digunakan. Penyusunan anggaran biasanya juga masih mengacu pada anggaran tahun sebelumnya. Kekurangannya, keberhasilan program sering dilihat dari penyerapan anggaran, bukan dari hasil yang dicapai.

Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada kinerja, efisiensi, output, dan outcome . Jadi, pemerintah tidak hanya menuntut pengeluaran anggaran sesuai aturan, namun juga harus menunjukkan hasil dan manfaat dari program tersebut. Hood (1991) menjelaskan bahwa NPM memang menekankan pengukuran kinerja dan efisiensi dalam pengelolaan sektor publik.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan dengan cara menyalurkan kembali setiap program sebelum anggaran diberikan. Jadi, suatu program tidak otomatis mendapatkan anggaran hanya karena pada tahun sebelumnya sudah mendapatkan dana. Setiap kegiatan harus dijelaskan kembali alasan kebutuhannya, biaya yang diperlukan, serta manfaat yang akan dihasilkan.

Prosesnya dapat dimulai dari mengidentifikasi program, menghitung kebutuhan biaya, menilai manfaat dan kinerjanya, kemudian menentukan program yang menjadi prioritas. Dengan cara ini, ZBB dapat menggabungkan pengendalian anggaran dari sistem tradisional dengan orientasi hasil dari NPM. Menurut Pyhrr (1973), ZBB memang bertujuan agar setiap kegiatan dipertanggungjawabkan kembali dalam proses penyusunan anggaran.

Jadi, anggaran tradisional lebih fokus pada penggunaan dana, NPM fokus pada hasil dan kinerja, sedangkan ZBB membantu menilai kembali apakah suatu program memang layak mendapatkan anggaran.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Nayla Andara -

Nama: Nayla Andara

NPM: 2413031018


1. Paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM

Anggaran tradisional (line-item budgeting) lebih berfokus pada input dan jenis pengeluaran. Keberhasilan anggaran dilihat dari kesesuaian penggunaan dana dengan pos yang telah ditetapkan. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan efisiensi, efektivitas, kinerja, serta hasil (output dan outcome) yang diperoleh dari penggunaan anggaran. Dengan demikian, NPM tidak hanya melihat berapa besar dana yang digunakan, tetapi juga apa hasil yang dicapai.

2. Implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi penghubung antara anggaran tradisional dan NPM. Dalam ZBB, setiap program tidak langsung menggunakan anggaran tahun sebelumnya, tetapi harus dikaji dan dipertanggungjawabkan kembali. Prosesnya meliputi identifikasi kegiatan, penyusunan decision package, penilaian biaya dan manfaat, penentuan prioritas, kemudian alokasi anggaran berdasarkan kegiatan yang paling dibutuhkan. Dengan cara ini, ZBB tetap mempertahankan pengendalian anggaran seperti sistem tradisional, tetapi juga memperhatikan efisiensi, prioritas, dan hasil seperti yang ditekankan NPM.

ZBB dapat membantu meningkatkan pengendalian keuangan dan mengarahkan sumber daya kepada program yang lebih prioritas, meskipun penerapannya membutuhkan data dan analisis yang cukup besar.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Alya Nurani -
Nama: Alya Nurani
NPM: 2413031025

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Anggaran tradisional berorientasi pada input dan pengendalian pengeluaran. Penyusunan anggaran didasarkan pada pola anggaran tahun sebelumnya dengan penekanan pada kepatuhan terhadap aturan dan penggunaan dana. Kelemahannya, sistem ini kurang memperhatikan hasil dan efektivitas penggunaan anggaran. Anggaran berbasis NPM (New Public Management) berorientasi pada kinerja dan hasil (output/outcome). Anggaran disusun dengan menekankan efisiensi, efektivitas, produktivitas, pengukuran kinerja, serta pencapaian target pelayanan publik. Dengan demikian, fokusnya bergeser dari sekadar "berapa dana yang digunakan" menjadi "apa hasil yang dicapai"

2. Proses Pelaksanaan ZBB untuk Mengatasi Kesenjangan Anggaran Tradisional dan NPM
Dalam metode Zero-Based Budgeting (ZBB), setiap program dan kegiatan harus dijelaskan dan dibuktikan diperlukan, bukan hanya melanjutkan anggaran sebelumnya. (1) menentukan program dan kegiatan; (2) mengembangkan alternatif kegiatan dan biaya yang diperlukan; (3) menilai manfaat, biaya, dan prioritas setiap kegiatan; (4) menentukan prioritas berdasarkan kinerja dan kebutuhan masyarakat; dan (5) mengatur anggaran sesuai dengan prioritas. ZBB mempertahankan pengendalian atas penggunaan dana, tetapi sekaligus mendorong efisiensi, evaluasi kinerja, dan pengalokasian anggaran berdasarkan hasil dan prioritas, yang memungkinkannya menjadi penghubung antara anggaran tradisional dan NPM.
In reply to First post

Re: Diskusi

by TRIASWARI AYUNANDINI -

Nama: Triaswari Ayunandini

NPM: 2413031029

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis New Public Management (NPM)

Perbedaan mendasar antara paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) terletak pada filosofi serta orientasi pengelolaannya (Mardiasmo, 2009; Hood, 1995). Anggaran tradisional didasarkan pada pendekatan line-item dan incrementalism, yaitu penyusunan yang berfokus pada alokasi input (seperti pos gaji dan barang) serta sekadar menyesuaikan angka tahun sebelumnya tanpa evaluasi mendalam (Mardiasmo, 2009). Sebaliknya, anggaran berbasis NPM mengubah fokus tersebut secara radikal dari input menuju output dan outcome melalui prinsip Value for Money (ekonomis, efisien, dan efektif) (Hood, 1995). Menurut saya, pergeseran ini bukan sekadar perubahan teknik akuntansi, melainkan bentuk reformasi birokrasi agar pemerintah lebih berorientasi pada hasil nyata dan kepuasan masyarakat.

2. Proses Implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dalam Mengatasi Kesenjangan Anggaran Tradisional dan NPM

Untuk menjembatani kesenjangan akibat kelemahan anggaran tradisional—terutama terkait masalah inefisiensi dan praktik penggelembungan anggaran (budget padding)—proses implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) hadir sebagai instrumen strategis di era NPM (Aldimas et al., 2025). Dalam sistem ZBB, setiap unit kerja diwajibkan menyusun rencana anggarannya dari titik nol (zero-base) pada awal periode, seolah-olah seluruh program baru dimulai dari awal. Proses ini dijalankan secara sistematis mulai dari mengidentifikasi pusat keputusan terkecil, menyusun paket keputusan beranalisis biaya-manfaat, hingga melakukan pemeringkatan prioritas agar dana hanya dialokasikan pada program yang terbukti efisien (Aldimas et al., 2025). Dalam pandangan saya, mekanisme justifikasi yang ketat pada ZBB ini menjadi kunci utama untuk memutus kebiasaan incrementalism sekaligus mewujudkan transparansi anggaran secara konkret.

Sumber:

Aldimas, A., Astuti, R. K., & Adillah, M. A. (2025). Zero Based Budgeting di Era Digital: Mewujudkan Anggaran Efisien dan Akuntabel Menuju Birokrasi 4.0. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Kewirausahaan, 4(3), 426–440. https://doi.org/10.55606/jimak.v4i3.4868

Hood, C. (1995). The “New Public Management” in the 1980s: Variations on a Theme. Accounting, Organizations and Society, 20(2-3), 93–109.

Mardiasmo. (2009). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Nasroh Aulia -
Nama : Nasroh Aulia
NPM : 2413031004

⁠1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada penggunaan dana berdasarkan pos-pos yang sudah ditentukan dan biasanya masih mengacu pada anggaran tahun sebelumnya. Jadi, yang diperhatikan adalah apakah dana digunakan sesuai rencana dan aturan. Sedangkan anggaran berbasis NPM (New Public Management) lebih menekankan pada hasil, kinerja, efisiensi, dan efektivitas. Artinya, anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah dana yang digunakan, tetapi juga hasil dan manfaat yang diperoleh.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero Based Budgeting (ZBB) dapat membantu karena setiap kegiatan harus dikaji kembali dari awal, bukan hanya mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Setiap kegiatan dinilai berdasarkan tujuan, biaya, manfaat, dan tingkat kepentingannya. Setelah itu, kegiatan disusun berdasarkan prioritas. Dengan begitu, anggaran dapat lebih diarahkan pada kegiatan yang benar-benar dibutuhkan dan memberikan manfaat, sehingga penggunaan dana menjadi lebih efisien dan sesuai dengan prinsip NPM.

Referensi
Mardiasmo. (2018). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.

Mahmudi. (2019). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Tantowi Jauhari -
Nama: Tantowi Jauhari
NPM: 2413031008

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Menurut saya, anggaran tradisional merupakan sistem penganggaran yang lebih fokus pada input atau jenis pengeluaran. Penyusunan anggaran biasanya menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar, kemudian ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan. Sistem ini memiliki kelebihan karena mudah disusun dan dikendalikan, tetapi kelemahannya adalah kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya cenderung tetap mendapatkan anggaran tanpa dikaji kembali manfaatnya. Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan pencapaian kinerja. Dalam pendekatan ini, keberhasilan anggaran tidak hanya dilihat dari seberapa besar dana yang digunakan, tetapi juga dari output dan outcome yang dihasilkan. Dengan demikian, anggaran tradisional lebih terfokus pada “berapa dana yang digunakan?”, sedangkan NPM lebih menekankan “apa hasil yang diperoleh dari dana tersebut?”.

2. Implementasi ZBB dalam Mengatasi Kesenjangan Anggaran Tradisional dan NPM
Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. ZBB dilakukan dengan tidak langsung menjadikan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar, tetapi setiap kegiatan harus dikaji dan dijustifikasi kembali dari awal. Prosesnya dimulai dengan menentukan tujuan dan prioritas organisasi, kemudian identifikasi kegiatan yang akan dilakukan. Setiap kegiatan harus menjelaskan kebutuhan biaya, tujuan, manfaat, serta hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, kegiatan dibandingkan dan diprioritaskan berdasarkan kebutuhan, manfaat, biaya, dan kontribusinya terhadap tujuan organisasi. Anggaran kemudian diberikan kepada kegiatan-kegiatan yang dianggap lebih penting dan memberikan hasil yang jelas. Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi kebiasaan penganggaran secara rutin seperti pada sistem tradisional, sekaligus mendukung prinsip NPM yang menekan kinerja dan hasil. ZBB menjawab mengapa suatu kegiatan perlu diberikan anggaran, sedangkan NPM menilai hasil yang diperoleh dari anggaran tersebut.

Referensi:
Pemerintah Republik Indonesia. (2010). PP Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; Oktaverina dkk. (2019). Perkembangan Sistem dan Teknik Penganggaran Sektor Publik Berbasis Kinerja; Mulyono & Hertianti (2019). Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja dalam Rangka Mewujudkan Good Financial Governance.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Indah Rahma alfiah -
Nama : Indah Rahma Alfiah
NPM : 2413031015

1. Paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM
Menurut saya, anggaran tradisional lebih berorientasi pada input, yaitu berapa besar dana yang dialokasikan dan apakah penggunaannya sesuai dengan aturan. Penyusunannya juga cenderung menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar (incremental budgeting). Sementara itu, New Public Management (NPM) lebih menekankan pada kinerja, efisiensi, efektivitas, serta pencapaian output dan outcome. Jadi, keberhasilan anggaran tidak hanya dilihat dari terserapnya dana, tetapi juga dari hasil yang diperoleh.

2. Implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan
Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu cara untuk menjembatani kedua pendekatan tersebut. Dalam ZBB, setiap program tidak langsung mendapatkan anggaran berdasarkan anggaran tahun sebelumnya, tetapi harus dijelaskan kembali kebutuhan, tujuan, biaya, dan manfaatnya. Selanjutnya, program dinilai dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kepentingan serta hasil yang ingin dicapai.

Dengan demikian, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional yang terlalu bergantung pada anggaran sebelumnya sekaligus mendukung prinsip NPM yang menekankan efisiensi, prioritas, dan hasil kinerja. Namun, penerapannya tetap membutuhkan data kinerja dan evaluasi yang baik agar tidak hanya menjadi proses administratif.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Revie Nevilla Extin -

Nama : Revie Nevilla Extin

NPM : 2413031027

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) memiliki perbedaan dalam cara pemerintah mengelola anggaran. Anggaran tradisional lebih berfokus pada jenis pengeluaran dan biasanya disusun berdasarkan anggaran tahun sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan tahun berikutnya. Menurut Indrawati (2010), perubahan menuju NPM mendorong pemerintah untuk menerapkan sistem penganggaran yang lebih berorientasi pada kinerja. Artinya, pemerintah tidak hanya memperhatikan berapa besar anggaran yang digunakan, tetapi juga hasil yang diperoleh dari penggunaan anggaran tersebut. Menurut saya, kelemahan anggaran tradisional adalah adanya kecenderungan untuk melanjutkan anggaran tahun sebelumnya tanpa mengevaluasi kembali apakah program tersebut masih dibutuhkan. Sementara itu, NPM lebih menekankan pada efisiensi, efektivitas, dan pencapaian hasil. Hal ini juga didukung oleh penelitian Mulyono dan Hertianti (2019) yang menemukan bahwa realisasi anggaran di Kementerian Perindustrian mencapai 92,72%, tetapi capaian output hanya 75%. Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya penyerapan anggaran belum tentu berarti program berhasil mencapai targetnya. Jadi, pemerintah tidak cukup hanya memastikan anggaran digunakan sesuai aturan, tetapi juga perlu memperhatikan hasil dan manfaat yang diperoleh masyarakat.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. ZBB mengharuskan setiap program dan kegiatan dievaluasi kembali dari awal, sehingga anggaran tidak hanya mengikuti jumlah anggaran tahun sebelumnya. Menurut Suryanto dan Kurniati (2019) dalam jurnal Tinjauan Perubahan Sistem Penganggaran Berbasis Kinerja di Indonesia, proses implementasi ZBB terdiri dari tiga tahap, yaitu mengidentifikasi unit keputusan, menyusun paket keputusan, serta melakukan pemeringkatan dan evaluasi paket keputusan. Artinya, setiap program harus memiliki tujuan, kebutuhan biaya, dan manfaat yang jelas sebelum mendapatkan anggaran. Dalam penerapannya, pemerintah terlebih dahulu mengidentifikasi program yang membutuhkan anggaran, kemudian menyusun paket keputusan yang berisi tujuan kegiatan, perkiraan biaya, dan manfaat yang akan diperoleh. Setelah itu, setiap program dinilai dan diurutkan berdasarkan tingkat kebutuhan serta manfaatnya agar anggaran dapat diberikan kepada program yang lebih diprioritaskan. Menurut saya, proses ini dapat mengatasi kelemahan anggaran tradisional karena pemerintah tidak hanya mengandalkan anggaran tahun sebelumnya, tetapi juga mengevaluasi kembali kebutuhan setiap program. Di sisi lain, ZBB juga mendukung prinsip NPM karena penggunaan anggaran dikaitkan dengan tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Namun, penerapan ZBB membutuhkan data yang jelas dan evaluasi yang baik agar penentuan prioritas tidak hanya berdasarkan perkiraan. Jadi, menurut saya, ZBB dapat membantu pemerintah menggunakan anggaran secara lebih terarah dan efisien, tetapi tetap perlu disertai evaluasi kinerja agar dana yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Referensi:

Indrawati, N. (2010). Penyusunan anggaran dalam era New Public Management: Implementasinya di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis, 10(2). https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/akuntan/article/view/474

Mulyono, A. A., & Hertianti, A. (2019). Penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam rangka mewujudkan Good Financial Governance. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 7(2). https://ejournal.upi.edu/index.php/JRAK/article/view/16961

Suryanto, & Kurniati, P. S. (2019). Tinjauan perubahan sistem penganggaran berbasis kinerja di Indonesia. Jurnal Administrasi Publik dan Pembangunan, 1(2). https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jpp/article/view/2441

In reply to First post

Re: Diskusi

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!

Menurut saya, anggaran tradisional lebih berfokus pada input dan pengeluaran, seperti berapa besar dana yang digunakan dan untuk kegiatan apa. Anggaran tahun sebelumnya biasanya menjadi dasar penyusunan anggaran berikutnya. Sedangkan anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan efisiensi, efektivitas, kinerja, serta hasil (output dan outcome) yang diperoleh dari penggunaan anggaran. Jadi, NPM tidak hanya melihat jumlah dana yang digunakan, tetapi juga hasil yang diberikan kepada masyarakat (OECD, 2019).

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM!

Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi penghubung karena setiap kegiatan harus dijelaskan dan dinilai kembali dari awal, bukan sekadar mengikuti anggaran tahun sebelumnya. Setiap program dibuat berdasarkan tujuan, kebutuhan biaya, manfaat, dan hasil yang ingin dicapai. Setelah itu, program diprioritaskan sesuai tingkat kebutuhan dan manfaatnya. Dengan cara ini, ZBB dapat mengurangi pemborosan dalam sistem tradisional sekaligus mendukung prinsip NPM yang mengutamakan efisiensi dan hasil kinerja (Clynch, 1979).


In reply to First post

Re: Diskusi

by Susan Ti -
NAMA:SUSANTI
NPM:2413031034

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut pemahaman saya, anggaran tradisional merupakan sistem penganggaran yang lebih menitikberatkan pada jumlah dana yang tersedia dan bagaimana dana tersebut digunakan. Dalam penyusunannya, anggaran tahun sebelumnya biasanya masih menjadi acuan untuk menentukan anggaran tahun berikutnya. Jadi, perubahan anggaran cenderung dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Sementara itu, anggaran berbasis New Public Management (NPM) lebih menekankan pada hasil atau kinerja yang ingin dicapai. Menurut saya, dalam pendekatan ini yang menjadi perhatian bukan hanya jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga apakah dana tersebut mampu menghasilkan tujuan dan manfaat yang sesuai. Oleh karena itu, efisiensi dan efektivitas menjadi hal yang penting dalam penganggaran berbasis NPM.

Jadi, perbedaan keduanya menurut saya terletak pada fokusnya. Anggaran tradisional lebih banyak melihat berapa besar anggaran yang digunakan, sedangkan NPM lebih melihat apa hasil yang diperoleh dari penggunaan anggaran tersebut.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?

Menurut saya, Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat digunakan untuk memperbaiki kelemahan yang ada dalam sistem anggaran tradisional sekaligus mendukung pendekatan NPM. Dalam ZBB, setiap program dan kegiatan tidak langsung dianggap harus dilanjutkan hanya karena sudah ada pada tahun sebelumnya. Setiap kegiatan perlu dikaji kembali berdasarkan kebutuhan, tujuan, biaya, dan manfaatnya.

Penerapannya dapat dimulai dengan melihat kembali program yang akan dijalankan, menentukan tujuan yang ingin dicapai, menghitung biaya yang dibutuhkan, kemudian membandingkan biaya tersebut dengan manfaat atau hasil yang diharapkan. Setelah itu, program dapat disusun berdasarkan tingkat kebutuhan dan prioritasnya.

Menurut saya, dengan cara tersebut ZBB dapat membuat penyusunan anggaran menjadi lebih selektif dan tidak hanya mengikuti pola anggaran sebelumnya. Selain itu, ZBB juga dapat mendorong pemerintah untuk menggunakan anggaran secara lebih efisien dan mengarahkan dana kepada program yang benar-benar dibutuhkan serta memberikan hasil bagi masyarakat.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Waly Tanti Fitrani -
Nama: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut pandangan saya, anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) memiliki perbedaan dalam cara pemerintah mengelola anggaran. Anggaran tradisional lebih berfokus pada pengeluaran tahun sebelumnya, kemudian anggaran tahun berikutnya disusun dengan menyesuaikan jumlah anggaran yang sudah ada. Paradigma ini cenderung menekankan kepatuhan terhadap aturan dan penggunaan dana sesuai pos anggaran, tetapi terkadang kurang memperhatikan apakah pengeluaran tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, anggaran berbasis NPM lebih menekankan hasil, kinerja, efisiensi, dan efektivitas penggunaan anggaran. Menurut saya, pendekatan ini lebih mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa setiap dana yang dikeluarkan menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar menghabiskan anggaran. Misalnya, keberhasilan anggaran pendidikan tidak cukup dinilai dari besarnya dana yang terserap, tetapi juga dari peningkatan kualitas pembelajaran dan fasilitas pendidikan. Jadi, anggaran tradisional lebih berorientasi pada input atau jumlah dana yang digunakan, sedangkan NPM lebih menekankan output dan hasil yang dicapai.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. Hal ini karena ZBB tidak langsung menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar penyusunan anggaran baru, tetapi mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dievaluasi serta dijustifikasi kembali berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya.

Proses penerapan ZBB dimulai dengan mengidentifikasi seluruh kegiatan yang membutuhkan anggaran, kemudian menyusun alasan dan tujuan dari setiap kegiatan. Setelah itu, pemerintah menilai manfaat, biaya, serta prioritas masing-masing kegiatan, lalu membandingkannya untuk menentukan program yang paling layak didanai. Anggaran selanjutnya dialokasikan berdasarkan prioritas dan kemampuan keuangan yang tersedia, kemudian pelaksanaannya dievaluasi untuk mengetahui apakah target yang ditetapkan telah tercapai.

Menurut saya, ZBB dapat menjembatani kedua paradigma tersebut karena tetap membutuhkan perencanaan dan pengendalian anggaran, seperti dalam pendekatan tradisional, tetapi juga mempertimbangkan manfaat, efisiensi, dan hasil yang ingin dicapai, seperti dalam NPM. Contohnya, pemerintah tidak harus terus mempertahankan anggaran suatu program hanya karena program tersebut sudah ada sejak tahun sebelumnya. Jika program itu kurang bermanfaat, anggarannya dapat dikurangi atau dialihkan ke program yang lebih dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian, ZBB dapat membantu menciptakan pengelolaan anggaran publik yang lebih transparan, rasional, dan berorientasi pada hasil.