Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022
1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Anggaran tradisional lebih menekankan pada pengendalian input dan pengeluaran. Penyusunannya umumnya menggunakan pendekatan line-item dan inkremental, sehingga anggaran tahun sebelumnya sering menjadi dasar untuk menentukan anggaran tahun berikutnya. Akibatnya, perhatian lebih banyak diberikan pada berapa besar dana yang digunakan dan untuk pos apa dana tersebut dibelanjakan, bukan pada hasil yang diperoleh dari penggunaan dana tersebut.
Berbeda dengan anggaran tradisional, paradigma New Public Management (NPM) menekankan pengelolaan sektor publik yang lebih berorientasi pada efisiensi, efektivitas, kinerja, dan hasil. Anggaran tidak hanya dilihat dari jumlah dana yang dikeluarkan, tetapi juga dikaitkan dengan output dan outcome yang ingin dicapai. Dengan demikian, pemerintah dituntut untuk menunjukkan bahwa sumber daya yang digunakan benar-benar memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat.
Menurut saya, perbedaan utama kedua paradigma tersebut terletak pada orientasinya. Anggaran tradisional lebih berorientasi pada input dan kepatuhan terhadap pos anggaran, sedangkan NPM lebih berorientasi pada kinerja dan hasil. Perubahan ini diperlukan agar anggaran publik tidak hanya habis terserap, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan manfaat dan pencapaian tujuan.
2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Zero-Based Budgeting (ZBB) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kesenjangan antara anggaran tradisional dan tuntutan NPM. Dalam anggaran tradisional, terdapat kecenderungan menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar sehingga suatu program dapat terus memperoleh anggaran meskipun efektivitasnya belum tentu dievaluasi secara menyeluruh. ZBB berusaha mengatasi hal tersebut dengan mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dijustifikasi kembali.
Implementasinya dimulai dengan mengidentifikasi program atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, setiap kegiatan dibuat dalam bentuk decision package yang menjelaskan tujuan, biaya, manfaat, serta hasil yang diharapkan. Setelah itu, setiap kegiatan dibandingkan dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kebutuhan, biaya, manfaat, dan kontribusinya terhadap tujuan organisasi. Anggaran kemudian diberikan kepada kegiatan yang memiliki prioritas dan manfaat paling besar.
Dengan proses tersebut, ZBB dapat mengurangi kelemahan anggaran tradisional karena alokasi anggaran tidak hanya didasarkan pada anggaran tahun sebelumnya. Di sisi lain, ZBB juga mendukung prinsip NPM karena keputusan anggaran mulai mempertimbangkan efisiensi, efektivitas, manfaat, dan hasil yang akan dicapai. Jadi, menurut saya, ZBB dapat menjadi penghubung antara kedua paradigma tersebut dengan mendorong organisasi untuk lebih kritis dalam menentukan kegiatan apa yang benar-benar diperlukan, berapa biaya yang dibutuhkan, dan hasil apa yang akan diperoleh dari anggaran tersebut.
Namun, penerapan ZBB juga membutuhkan informasi yang cukup, kemampuan menentukan prioritas, serta evaluasi yang baik. Oleh karena itu, ZBB sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai anggaran yang selalu dimulai dari angka nol, tetapi sebagai proses untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran memang memiliki alasan dan manfaat yang jelas.