Nama: Kaneza Fa'aqurata Ayun
NPM: 2513053095
Terima kasih atas pertanyaannya Dela, saya izin menjawab pertanyaannya.
Secara ideal, pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dirancang untuk menjadi jembatan antara siswa dan lingkungan sosialnya. Namun, jika kita melihat kondisi di lapangan berdasarkan kajian materi kelompok kami, terdapat kesenjangan antara potensi dan realitas praktik yang ada.
1. Realitas Tantangan di Lapangan
Saat ini, pembelajaran IPS masih sering terjebak dalam pola hafalan. Materi dianggap terlalu teoretis dan kurang mampu menjawab kebutuhan riil atau masalah nyata yang dihadapi siswa dalam keseharian mereka. Hal ini menyebabkan pembelajaran terkadang terasa jauh dari dunia anak.
2. Kebutuhan Berdasarkan Tahap PerkembanganMeskipun ada tantangan hafalan, secara psikologis siswa SD yang berada pada rentang usia 6-12 tahun memiliki kebutuhan mutlak akan pembelajaran yang konkret. Karena berada pada tahap operasional konkret, siswa hanya bisa menyerap informasi dengan optimal jika materi tersebut dihubungkan langsung dengan apa yang mereka lihat dan alami sehari-hari. Oleh karena itu, tingkat keterkaitan materi dengan dunia nyata menjadi faktor penentu apakah materi tersebut akan dipahami secara bermakna atau hanya sekadar dihafal.
3. Upaya Strategis Melalui Peran Guru untuk mengatasi hambatan tersebut, keterkaitan dengan kehidupan nyata diupayakan melalui transformasi peran guru sebagai berikut:Sebagai Mediator: Guru bertugas menjembatani antara teori abstrak yang ada di buku teks dengan realitas sosial yang dialami siswa. Strategi CTL (Contextual Teaching and Learning), guru didorong untuk selalu mengaitkan setiap topik IPS dengan situasi dunia nyata agar pembelajaran menjadi lebih relevan. Pemanfaatan Lingkungan, menggunakan lingkungan sekitar sekolah bukan hanya sebagai tempat bermain, melainkan sebagai "laboratorium hidup" untuk memahami interaksi sosial dan ekonomi secara langsung.
Dapat disimpulkan bahwa secara sistematis, pembelajaran IPS di SD sudah memiliki perangkat dan strategi untuk sangat berkaitan dengan kehidupan nyata. Namun, tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengolah materi agar tidak lagi bersifat satu arah dan berfokus pada hafalan, melainkan berpusat pada pengalaman nyata siswa (student-centered).