Materi
Pengertian
Analisis spasial persebaran permukiman adalah proses mengkaji lokasi, pola, dan hubungan keruangan antar permukiman pada suatu wilayah.
Tujuannya untuk memahami:
-
bagaimana permukiman tersebar,
-
faktor yang memengaruhi persebarannya, dan
-
dampaknya terhadap struktur ruang wilayah.
Permukiman selalu dipengaruhi oleh kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan aksesibilitas.
2. Bentuk–Bentuk Pola Persebaran Permukiman
Secara umum terdapat tiga pola utama:
a. Pola Memusat (Clustered/Nucleated)
Ciri:
-
Rumah-rumah mengelompok pada satu pusat
-
Dekat sumber air, pasar, jalan utama
-
Dijumpai pada daerah subur atau pusat desa
Contoh: permukiman pedesaan di Pulau Jawa, pusat kota kecil.
b. Pola Memanjang (Linear)
Ciri:
-
Permukiman mengikuti koridor jalan, sungai, pantai
-
Muncul di wilayah pesisir, sepanjang jalan provinsi, atau tepi sungai
Contoh: permukiman sepanjang Jalan Lintas Sumatra.
c. Pola Mengelompok Acak (Dispersed/Scattered)
Ciri:
-
Jarak antar rumah berjauhan
-
Tersebar pada lahan luas
-
Muncul di daerah pertanian atau wilayah hutan yang baru dibuka
Contoh: banyak ditemukan pada kawasan transmigrasi baru atau daerah perkebunan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persebaran Permukiman
a. Faktor Fisik
-
Topografi
-
Dataran → pola mengelompok atau linear
-
Lereng/pegunungan → pola tersebar atau mengikuti kontur
-
-
Geologi & Jenis Tanah
Tanah subur → pemusatan permukiman;
Tanah marginal/gambut → persebaran menyebar. -
Ketersediaan Air
Dekat sungai/mata air → permukiman memusat. -
Iklim
Curah hujan dan suhu memengaruhi pilihan lokasi.
b. Faktor Aksesibilitas
-
Dekat jalan utama → pola linear
-
Dekat pusat ekonomi → pola memusat
-
Dekat fasilitas publik meningkatkan densitas permukiman
c. Faktor Ekonomi
-
Lahan pertanian produktif
-
Pusat perdagangan
-
Industri/pabrik
(Ketiganya menarik pemukim baru)
d. Faktor Sosial & Budaya
-
Pertalian kekerabatan → cenderung memusat
-
Budaya agraris → permukiman melebar di lahan terbuka
-
Urbanisasi → mendorong pertumbuhan permukiman padat
e. Faktor Kebijakan Pemerintah
-
Kawasan transmigrasi
-
Perumahan bersubsidi
-
Zona permukiman dalam RTRW
-
Pengembangan kota baru
4. Teknik Analisis Spasial Persebaran Permukiman
a. Pemetaan Pola Permukiman
Menggunakan:
-
SIG
-
Peta citra satelit
-
Peta topografi
-
Peta administrasi
Output:
-
Peta pola memusat/linear/tersebar
b. Analisis Kepadatan (Density Analysis)
Digunakan untuk melihat area dengan konsentrasi permukiman tinggi.
Metode:
-
Kernel Density
-
Point Density
-
Population Density Map
c. Analisis Pola Titik (Point Pattern Analysis)
Untuk mengevaluasi apakah persebaran permukiman:
-
acak,
-
teratur, atau
-
mengelompok.
Metode:
-
Nearest Neighbor Index (NNI)
-
Ripley’s K-Function
d. Overlay Faktor Fisik
Menggabungkan peta:
-
kelerengan
-
jenis tanah
-
jarak ke sungai/jalan
-
penggunaan lahan
Tujuan:
melihat hubungan spasial antara kondisi fisik dan persebaran permukiman.
e. Buffering
Untuk menganalisis:
-
radius pengaruh jalan
-
area aman dari sungai
-
akses terhadap fasilitas publik
f. Analisis Jaringan (Network Analysis)
Melihat keterhubungan permukiman dengan:
-
pasar
-
sekolah
-
puskesmas
-
pusat kota
5. Contoh Penerapan Analisis Spasial Persebaran Permukiman
1. Kawasan Transmigrasi
-
Pola awal: grid teratur
-
Lama kelamaan: menyebar mengikuti aktivitas ekonomi
-
Analisis menunjukkan perpindahan pola dari planned settlement ke organic settlement
2. Permukiman Pesisir
-
Cenderung linear mengikuti garis pantai
-
Dipengaruhi oleh aktivitas nelayan dan akses laut
3. Perkotaan
-
Permukiman padat dan memusat dekat pusat kota
-
Menurun kepadatannya ke pinggiran (urban sprawl)
-
Analisis density dapat memetakan zona inti–transisi–suburb
4. Permukiman Pegunungan
-
Pola tersebar mengikuti kontur
-
Jarak rumah jauh karena kontur curam
6. Indikator Evaluasi Spasial Permukiman
Untuk menilai kualitas persebaran permukiman digunakan beberapa indikator:
1. Kesesuaian Lokasi
-
Jarak dari sungai (≥100 m)
-
Jarak dari lereng curam (>25%)
-
Jarak dari industri berpolusi
2. Aksesibilitas
-
Jarak ke jalan utama (<1 km ideal)
-
Jarak ke sekolah/puskesmas/pasar
3. Kepadatan
-
Kepadatan ideal di desa: 50–200 jiwa/ha
-
Kepadatan ideal kota: 400–800 jiwa/ha (zoning)
4. Tata Ruang
-
Sesuai RTRW
-
Tidak masuk kawasan lindung atau sempadan sungai
5. Lingkungan
-
Risiko bencana rendah
-
Sanitasi layak
-
Ruang terbuka memadai
7. Penutup
Analisis spasial persebaran permukiman sangat penting untuk:
-
perencanaan wilayah,
-
identifikasi kebutuhan infrastruktur,
-
evaluasi keberlanjutan, dan
-
pengendalian penggunaan lahan.
SIG dan citra satelit menjadi alat utama untuk mengidentifikasi pola, faktor pengendali, dan dinamika permukiman.