Forum Analisis Jurnal 1

Forum Analisis Jurnal 1

Number of replies: 34

Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.

In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

ANNISA NATHANIA གིས-
Annisa Nathania
2153053040

Izin memberikanhasil analisis jurnal berjudul:
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL
1. Tujuan Pendidikan Nasional
Peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Pemerintah sudah memberikan kebijakan system desentralisasi yang berlanjut pada system demokrasi kepada setiap daerah dan sekolah untuk mengolah dan mengembangkan sendiri potensi yang dimiliki daerah dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

2. Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi:
(1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,
(2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara serta anti korupsi,
(3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat
Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa yang lainnya.
(4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi (Abdul Ghofur, 2007).

Pendidikan moral ada pada materi ajar PAI misalnya berisi materi pokok meneladani sifat Rosulullah, hidup hemat dan sederhana, menghindari judi dan pertengkaran.

3. Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi PAI dan PKn di Sekolah
Pada tahap persiapan yang telah tersusun dalam perangkat pembelajaran SKL (Standard Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu melalui Permendikbud No. 54 Tahun 2013, kemudian menjadi turunan standar isi, kompetensi inti dan materi.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.
Pada tahap evaluasi dimana tolak ukur keberhasilan siswa selama melakukan proses pembelajaran dapat diketahui melalui evaluasi penilaian. Definisi evaluasi menurut Nana Sujana adalah proses untuk menentukan atau memberikan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu (Nana Sujana, 1990). Evaluasi meliputi semua aspek penilaian pembelajaran pada ranah kemampuan berpikir (kognitif), kemampuan rasa, sikap atau perilaku (afektif) serta kemampuan keterampilan (psikomotorik).

4. Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Unsur evaluasi dianggap paling menentukan seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi pendidikan.

5. Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal
Jika disintesis antara mata pelajaran PAI dan PKn akan menjadi sebuah objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian pesera didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dengan memiliki sikap sebagai berikut:
1) Taat pada ajaran agama yang dianutnya serta tidak mudah terprovokasi oleh kelompok lain,
2) Mengikuti teladan nabi Muhammad.
3 ) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial,
4) Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberadaannya,
5) Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang nampak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan,
6) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan di sekitar lingkungan hidupnya secara objektif,
7) Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga negara,
8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terimakasih..
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

KIKI LIEONI WIDODO གིས-
Nama : Kiki Lieoni Widodo
NPM : 2113053005

Izin menganalisis jurnal yang berjudul "REKONTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL"
Tantangan moral saat ini yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga saat ini evaluasi pendidikan sangat perlu melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa. Dan melalui pendidikan moral di sekolah khususnya yang mencakup dalam materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang secara jelas bertanggungjawab atas penanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia. Sehingga menumbuhkan sikap toleransi,
1) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial,
2) Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya,
3) Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang namapak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan,
4) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar lingkungan hidupnya secara objektif,
5) Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga Negara,
6) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terima Kasih
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Winda.l eriska གིས-
nama : winda eriska
npm : 2113053079

Analisis jurnal 1
Rekonstruksi evaluasi pendidikan moral menunju harmoni sosial

Banyak diantaranya pemicu terjadi konflik dalam negeri diakibatkan oleh perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih
fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang memiliki paham ideology yang berbeda (Fauzi, 2017). Fenomena saling serang dan merasa kelompok yang dianutnya paling benar adalah indikasi dari kegagalan pendidikan melahirkan manusia bermoral dan berbudi pekerti. Maka disini peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi kultural (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang berangkat dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya. Sehingga disinilah peran sekolah untuk menyatukan dan menghilangkan rasa perbedaan dan menyatukannya tanpa pandang tradisi dari asal masing masing siswanya. Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) : pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007), PKn adalah pendidikan politik yang bertujuanbertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi:
(1) berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,
(2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta anti korupsi,
(3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa yang lainnya.
(4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi.
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Yuninda Putri གིས-
Yuninda Putri
2113053045
Dari jurnal yang berjudul rekonstruksi evaluasi pendidikan moral menuju harmoni sosial dapat dilihat bahwa Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah. Lebih dari itu unsur evaluasi yang dianggap paling menentukan seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi pendidikan.
Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Misalnya selama ini sekolah lebih banyak menekankan hafalan, dan ketepatan dalam menjawab soal pilihan ganda. Karena penilaian dari system seperti itu jelas bukan tolak ukur keberhasilan peserta didik pada mata pelajaran moral dan pancasila. Perlu ada penekanan-penekanan evaluasi yang sifatnya perilaku moral yang berbudi luhur tumbuh dan mengakar pada kepribadian peserta didik sebagai hasil belajar. Landasan tercapainya suatu tujuan pendidikan yang baik adalah melalui implementasi kurikulum yang sesuai dengan kemampuan sekolah dalam mengelolah sumber daya yang dimiliki dan disesuai dengan kebutuhan masyarakat dan stakeholder. Banks menuliskan bahwa sekolah sebagai sistem sosial mengajarkan dan membentuk kepribadian dan karakter siswa melalui kurikulum yang manifes maupun laten (Banks, 2010).
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Annisa Salsabina Rahmadhani གིས-
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang bapak roy kembar habibie, M.Pd.

Izin menyampaikan analisis terkait jurnal 1 mengenai "REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL."
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C

1. Terdapat tujuan pendidikan nasional menurut Naquib Al-Attas, akar kata pendidikan mengambil pada istilah ta’dzib mempunyai pengertian bahwa pendidikan merupakan proses perwujudan manusia yang mempunyai adab. Dalam hal ini adab didefinisikan sebagai, (1) The one who is sincerely conscious of his responsibilities towards and true God, (2) Who understands and fulfills his obligations to himself and others in his society with justice, and (3) who constantly strives to improve every aspect of himself towards perfections as a man of adab (Al-Attas, 1999). Secara universal kesimpulan menyeluruh pengertian ta’dib adalah menjadikan manusia yang terus berusaha untuk mengembangkan kebaikan bagi dirinya sendiri, masyarakatnya secara adil dan bertanggungjawab terhadap aturan- aturan Tuhan.
2. Tantangan materi pelajaran di sekolah, Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).
3. Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral, Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah. Lebih dari itu unsur evaluasi yang dianggap paling menentukan seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi pendidikan.
4. Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal, Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik maupun non akademik lebih dari itu adalah usaha sadar untuk menyiapkan manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan akan datang. Upaya pemberian pendidikan moral menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu: Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), analisis nilai (values clarification approach), pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
Jadi, Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Niken Azzahra གིས-
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama : Niken Azzahra
Npm : 2153053032
Kelas :3C

Izin memberikan tanggapan mengenai analisis jurnal satu yang berjudul REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL
pendidikan memiliki nilai kepribadian yang unggul secara pribadi dan sosial yang tidak cukup hanya diketahui dan dipahami, tetapi juga dirasakan serta dijadikan sebuah aksi dalam kehidupan anak didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sedangkan PKn mengalami banyak perubahan muatan, di era orde lama dikenal dengan pendidikan civic.

Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa yang lainnya. Sedangkan materi pada PKn diantaranya adalah pendidikan politik atau mengenai ketatanegaraan yang berlandaskan Pancasila guna merajut manusia dalam masyarakat yang bersatu dalam kebhinnekaan .
Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik maupun non akademik lebih dari itu adalah usaha sadar untuk menyiapkan manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan akan datang.
Sehingga menumbuhkan sikap toleransi, 3) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, 4) Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya, 5) Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang namapak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan, 6) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar lingkungan hidupnya secara objektif, 7) Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga Negara, 8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Farida Julia Saputri གིས-
Nama : Farida Julia Saputri
Npm : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1

Berdasarkan hasil analisis jurnal menurut saya mengenai " REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL" bahwa Pendidikan merupakan proses perwujudan manusia yang mempunyai adab. Peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat.

Di sekolah anak-anak yang datang berasal dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya. Sehingga disinilah peran sekolah untuk membongkar jurang pemisah antar kelas-kelas sosial yang berbeda melalui nilai-nilai akhlak di sekolah. Out put yang diharapkan pendidikan adalah melahirkan manusia cakap dalam potensi kepribadian dan sosial. Karena masalah bangsa yang masih menjadi sorotan utama adalah out put pendidikan yang masih buram dalam membangun relasi sosial.

Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah.

Mata pelajaran yang mengambil peran sebagai agen dalam menangani hal kepribadian dan sosial yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam dan PKn adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga Negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis. Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

ICHA KURNIA PUTRI གིས-
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C

Analisis Jurnal 1
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL. Peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Lebih dari itu unsur evaluasi yang dianggap paling menentukan seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi pendidikan. Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Kurikulum yang manifes maupun laten (Banks, 2010). Inovasi kurikulum manifes yang telah banyak melakukan perubahan dari pemerintah sepertinya tidak begitu memperlihatkan dampak yang optimal terhadap keberhasilan pendidikan, hal ini dapat dilihat dari output pendidikan yang dianggap sebagai produk gagal dari sistem pendidikan di Indonesia. Sedangkan melalui kurikulum laten pihak sekolah dapat lebih leluasa untuk mengkonstruk kurikulum guna menopang dari kekurangan yang ada di dalam kurikulum manifes.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

ERMA TITIS NIKMAH གིས-
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014

Izin menanggapi analisis jurnal berjudul REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL.

Tantangan moral yaitu masalah identitas nasional menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat khususnya pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa unggul secara intelektual dan moral.

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta peserta didik memiliki kompetensi:
(1) berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi masalah kewarganegaraan,
(2) berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dan bertindak cerdas dalam kegiatan masyarakat, bangsa dan negara serta anti korupsi,
(3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.
(4) berinteraksi dengan negara lain di arena dunia langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn
sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah.
a) Rekonstruksi pertama harus dimulai dari kemampuan pendidik dalam membawa materi ajar pendidikan moral kepada peserta didik harus kompeten di bidangnya dan bisa mengintegrasikan dengan kasus-kasus yang banyak terjadi di lingkungan kehidupan,
b) Sesekali peserta didik di hadapkan dengan permasalahan yang marak terjadi untuk menemukan penyebab dan solusinya.
c) Pendidik tidak terpaku pada instrument penilaian formalitas tapi lebih luas cakupannya,
d) Pendidik menyisipkan pembelajaran multicultural melalui kurikulum laten secara sporadic,
e)Evaluasi tulis berupa
ulangan harian bukan penilaian utama atas keberhasilan belajar peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

miftahu rahman གིས-
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
Izin memberikan analisis jurnal 1 yang berjudul "REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL"

Tantangan etis isu identitas nasional menjadi Tanggung jawab terhadap seluruh elemen masyarakat khususnya pendidikan. Berperan penting dalam membentuk dan membina generasi bangsa Lebih unggul secara intelektual dan moral. membuat evaluasi pendidikan Ada kebutuhan untuk perbaikan terus-menerus dan serius dalam Memenuhi kebutuhan kecemasan moral generasi bangsa. dan melalui Pendidikan akhlak di sekolah, khususnya yang terdapat dalam mata pelajaran Kursus Tambahan.

Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Karakter Pendidikan Kewarganegaraan yang Jelas Bertanggung Jawab Menanamkan nilai moral pada warga negara Indonesia. biarkan tumbuh Toleransi, Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, Bertanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri Berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, menghargai kehidupan Perbedaan Lingkup Asosiasi dan Eksistensi. , Semangat belajar tentang wawasan ilmiah dan pemahaman tentang fenomena dan peristiwa yang terlihat di sekitar mereka lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berpikir dan bertindak bijaksana ketika menghadapi masalah Gesekan dengan perbedaan dan perbedaan pendapat antar kelompok, Kemampuan bernalar dan secara independen menganalisis semua aspek dari isu-isu sekitarnya Melihat lingkungannya secara objektif, memiliki wawasan edukatif Politik; tentang cabang eksekutif negara sehingga dapat memposisikan dirinya sebagai Kewarganegaraan Parsial, Ikut serta dalam menumbuhkan jiwa nasionalis Menjaga keutuhan NKRI.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

WAHANA TRI ADHASARI གིས-
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209

Analisis jurnal
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL

Seringkali kita temui berbagai permasalahan yang berkaitan dengan moral seseorang, misalnya saling menyerang karena merasa kelompok yang dianutnya paling benar adalah indikasi dari kegagalan pendidikan melahirkan manusia bermoral
dan berbudi pekerti.

Oleh sebab itu sangat diperlukannya Peran pendidikan sebagai agen perubahan untuk merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi lebih baik. Oleh sebab itu pendidikan perlu serius dan meningkatkan pemahaman tentang moral pada peserta didik. Contohnya saja dengan menggunakan mata pelajaran PAI dan PPKN.
Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007). Sedangkan PKn adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga Negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis (Subhan Sofhiyan). Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.

Dengan adanya pendidikan nilai dan moral dari usia dini akan mampu menciptakan harmonisasi sosial yang baik. Namun pendidikan nilai dan moral tetap harus diajarkan dan di pelajari sampai kita dewasa, karena pendidikan nilai dan moral bersifat subjektif dan relatif, yang artinya dapat berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

IRMANDA FRAHANI གིས-
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C

Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL

Tiga kelompok besar prototypeout put pendidikan dewasa ini. Pertama, pendidikan menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai terhadap teknologi, namun kurang mampu memahami, menjalankan dan menghayati nilai-nilai
agama. Kedua, mereka yang memiliki kemampuan intelektual dan mampu menghayati terhadap nilai-nilai ajaran agama akan tetapi tidak mampu menguasai teknologi dan dinamika politik yang ada di dalamnya. Ketiga, kelompok yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai agama akan tetapi tidak mampu menghayati nilai-nilai luhur sebagai subtansi ajaran agama (Ngainun Naim, 2010).

Tujuan Pendidikan Nasional
Peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi kultural (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat.

Tantangan pendidikan nasional
Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).


Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi PAI dan PKn di Sekolah
Pada tahap persiapan yang telah tersusun dalam perangkat pembelajaran SKL (Standard Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu melalui Permendikbud No. 54 Tahun 2013, kemudian menjadi turunan standar isi, kompetensi inti dan materi.

Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.

Pada tahap evaluasi ini, merupakan salah satu komponen pembelajaran yang memiliki peranan penting, dimana tolak ukur keberhasilan siswa selama melakukan proses pembelajaran dapat diketahui melalui evaluasi penilaian.


Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Fokus pada tahapan evaluasi pembelajaran ini khususnya pada mata pelajaran PAI dan PKn perlu direkonstruksi guna memberi implikasi jangka panjang dan permanen pada peserta didik melalui:
a) Rekonstruksi pertamaharus dimulai dari kemampuan pendidik dalam membawa materi ajar pendidikan moral kepada peserta didik harus kompeten di bidangnya dan bisa mengintegrasikan dengan kasus-kasus yang banyak terjadi di lingkungan kehidupan,
b) Sesekali peserta didik di hadapkan dengan permasalahan yang marak terjadi untuk menemukan penyebab dan solusinya. Isu-isu yang diberikan harus sesuai dengan daya kemampuan peserta didik. Kemudian pendidik sebagai fasilitator mengoreksi hasil kerja peserta didik dan memberikan ulasan dengan membawa sudut pandang kebersatuan kebhinnekaan,
c) Pendidik tidak terpaku pada instrument penilaian formalitas tapi lebih luas cakupannya,
d) Pendidik menyisipkan pembelajaran multicultural melalui kurikulum laten secara sporadic,
e) Evaluasi tulis berupa ulangan harian bukan penilaian utama atas keberhasilan belajar peserta didik. Penilaian lebih ditekankan pada ranah afektif yang berimplikasi pada penilaian psikomotorik peserta didik.

Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal
1. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial,
2. Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya,
3. Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang namapak di sekitar
lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan,
4. Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar lingkungan hidupnya secara objektif,
5. Mempunyai wawasan pendidikan lpolitik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga Negara,
6. Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut
serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terima kasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

JESSICA.AMELIA21 JESSICA.AMELIA21 གིས-
Jessica Amelia Putri
2113053029

Analisis Jurnal 1
Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa.

Tujuan Pendidikan Nasional
peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi kultural (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang berangkat dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya.

Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah
Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007). Sedangkan PKn adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga Negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis (Subhan Sofhiyan).

Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi PAI dan PKn di Sekolah
pada tahap pelaksanaan pembelajaran, pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. Dalam hal ini dapat dipaparkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran PAI dan PKn di sekolah sudah menekankan pada kegiatan active learning, di mana peserta didik dapat mengeksplor wawasan dan pengetahuannya sendiri melalui sumber beajar yang tidak terbatas.Pada tahap evaluasi ini, merupakan salah satu komponen pembelajaran yang memiliki peranan penting, dimana tolak ukur keberhasilan siswa selama melakukan proses pembelajaran dapat diketahui melalui evaluasi penilaian.Pada tahap evaluasi penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada kegiatan diskusi, pengayaan (pendalaman materi), refleksi akhlak mulia,
ulangan dalam bentuk soal uraian dan pilihan ganda serta mencatat sikapsikap karakter selama proses pembelajaran.

Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

IKA SAEFITRI གིས-
Nama: Ika Saefitri
Npm: 2113053099
Kelas: 3C

Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul: "REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL"

Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi
tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang
memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa
yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan
perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam
memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa. Dan melalui
pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan yang secara jelas bertanggungjawab atas
penanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia. Sehingga menumbuhkan
sikap toleransi, 3) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, 4) Menghargai hidup
dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya, 5)
Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan
dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang namapak di sekitar
lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan
dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan, 6) Mampu menalar
dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar
lingkungan hidupnya secara objektif, 7) Mempunyai wawasan pendidikan
politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai
bagian dari warga Negara, 8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut
serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Diah Widianingsih གིས-
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171

Analisis jurnal 1 yang berjudul “REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL”
Sistem Pendidikan Nasional memiliki peranan yang sangat signifikan terhadap interaksi terhadap perjalanan bangsa Indonesia (Baharun, 2017a). Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai fenomena-fenomena kerusuhan yang sangat banyak pada negara Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadi konflik yaitu perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang memiliki paham ideology yang berbeda.
Seiring dengan perkembangan zaman arus globalisasi menyebabkan potret pendidikan Islam melahirkan dua sudut pandang yang berbeda yaitu 1) pendidikan Islam tidak lagi dimonopoli oleh kelompok liberalis dan fundamentalis, melainkan telah diwarnai oleh sekelompok Islam lain, 2)pendidikan Islam dipersepsikan menjadi embrio lahirnya kelompok Islam radikal dan Islam fundamentalis.
Pada era otonomi, kualitas pendidikan akan sangat berpengaruh gterhadap kebijakan pemerintah daerah. Ketika pemerintah daerah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan, ada peluang yang cukup luas bahwa pendidikan di daerah bersangkutan akan maju (Baharun, 2012). Jika harapan masing-masing sekolah sudah tercapai menghasilkan out put pendidikan yang baik di bidang industri maupun prestasi akademik lainnya. Out put pendidikan yang melahirkan manusia yang baik dalam potensi kepribadian dan sosial. Karena masalah bangsa yang masih menjadi sorotan utama adalah out put pendidikan yang masih buram dalam membangun relasi sosial.

Mata pelajaran PKn dan PAI merupakan bentuk implementasi dari pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga Negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis (Subhan Sofhiyan). Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya. Secara teoritik, paradigma pendidikan Islam.

Dalam Kompetensi inti mata pelajaran PKN dan PAI pada kurikulum 2013 merujuk pada KI 1 merujuk pada pencapaian kompetensi spiritual. Pada KI 2 mecakup aspek sosial. Pada KI 3 mencakup pengembangan kognitif dan pada KI 4 mengarah pada pengembangan implementatif.
Evaluasi sangat penting dalam sebuah proses pembelajaran, evaluasi meliputi semua aspek penilaian pembelajaran pada ranah kemampuan berpikir (kognitif), kemampuan rasa, sikap atau perilaku (afektif) serta kemampuan keterampilan (psikomotorik). Tahap evaluasi penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada kegiatan diskusi, pengayaan (pendalaman materi), refleksi akhlak mulia, ulangan dalam bentuk soal uraian dan pilihan ganda serta mencatat sikap-sikap karakter selama proses pembelajaran berlangsung.

Pendidikan moral bukan hanya mengajarkan tentang akademik maupun non akademiksaja enyiapkan manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan akan datang. Penanaman nilai dan moral dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu: (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), analisis nilai (values clarification approach), pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
Implementasi antara mata pelajaran PAI dan PKn akan menjadi sebuah objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian pesera didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dan memiliki banyak dampak positif.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Farhan Iqbal Pratama གིས-
Nama: Farhan Iqbal Pratama
NPM: 2113053196
Kelas: 3C

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat siang Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONISASI SOSIAL. Jurnal Pedagogik, Vol. 05 No. 01. Januari-Juni 2018. Oleh Ulil Hidayah.”

Pendidikan nasional memiliki peranan yang signifikan dalam dinamika perjalanan masyarakat di Indonesia. Pendidikan nasional bertujuan untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memiliki karakter yang baik sehingga mampu menjadi generasi penerus yang berkualitas, beretika, dan bermartabat. Dikarenakan zaman yang semakin modern, tatanan pendidikan dan suasananya pun mengalami perubahan. Pendidikan yang berperan sebagai agen perubahan diharapkan mampu mengubah dari perilaku yang kurang beradab menjadi beradab, dan mengubah perilaku yang tidak baik menjadi baik. Oleh karena itu, pendidikan yang ada harus mampu membuat peserta didiknya mempunyai karakter, akhlak dan budi pekerti yang baik.

Pelaksanaan pendidikan yang mengutamakan karakter dan akhlak yang baik dapat dilakukan melalui pembelajaran mata pelajaran agama dan budi pekerti, dan PKn. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti memberikan wawasan dan aplikasi terhadap tata cara berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Hal ini akan memberikan pemehaman kepada peserta didik bahwasanyya perilaku yang baik dan buruk yang dilakukan akan diketahui oleh Tuhan Yang Maha Esa. Melalui pembelajaran PKn, peserta didik diharapkan dapat menjadi warga negara Indonesia yang memiliki karakter yang baik sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Berdasakan hasil dan pembahasan dalam jurnal, pelaksanaan pembelajaran Agama dan PKn yang menggunakan pendekatan saintifik sudah dapat membuat peserta didik aktif untuk mengeksplor wawasan dan pengetahuannya melalui sumber belajar yang tak terbatas. Adanya evaluasi penting dilakukan oleh pendidik agar mengetahui sudah sejauh mana peserta didik paham akan materi yang diajarkan dan pelaksanaannya dalam praktik di kehidupan sehari-hari. Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi secara kognitif (pemahaman peserta didik terhadap materi), evaluasi afektif (sikap peserta didik), evaluasi psikomotorik (kepekaan peserta didik dalam melakukan hal yang sesuai dengan moral yang baik).

Penilaian atau evaluasi terhadap moral peserta didik melalui pembelajaran Agama dan PKn memang diperlukan, namun akan lebih baik jika pendidik mampu merekonstruksi bagaimana mengevaluasi pendidikan moral di sekolah. Bentuk rekonstruksi tersebut antara lain:
1. Pendidik yang mampu untuk membawa materi ajar pendidikan moral kepada peserta didik harus kompeten di bidangnya sehingga mampu mengintegrasikan pembelajaran di kelas dengan kasus-kasus yang banyak terjadi di lingkungan masyarakat terkait moral.
2. Peseta didik sesekali diminta untuk mengidentifikasi terkait masalah atau kasus terkait moral untuk dicari penyebab dan solusinya.
3. Pendidik tidak terpaku pada instrumental penilaian formalitas, namun harus lebih kompleks cakupannya.
4. Pendidik menyisipkan pembelajaran multicultural melalui kurikulum laten secara sporadic.
5. Evaluasi tulis berupa ulangan harian bukan penilaian utama atas keberhasilan belajar peserta didik. Penilaian lebih ditekankan pada ranah afektif yang berimplikasi pada penilaian psikomotorik peserta didik.

Apabila pembelajaran Agam dan PKn dapat disintesis menjadi sebuah pembelajaran dengan objek kajian pembelajaran moral yang dapat membentuk kepribadian dan karakter peserta didik yang baik, tidak menutup kemungkinan generasi penerus yang dicetak akan lebih berkualitas. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang secara jelas bertanggung jawab atas penanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia akan menumbuhkan sikap toleransi, menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya.
Pembelajaran moral di sekolah harus dapat dikonstruksi dengan baik agar mampu menghasilkan output yang berkualitas.

Sekian analisis jurnal 1 dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

WAHYU RINGGIT KUNCORO གིས-
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
Npm : 2113053254

Izin memberikan hasil analisis saya terkait jurnal yang judul "REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL"Yaitu pendidikan berperan sebagai agen perubahan artinya merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi kultural (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang berangkat dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya. Sehingga disinilah peran sekolah untuk membongkar jurang pemisah antar kelas-kelas sosial yang berbeda melalui nilai-nilai akhlak di sekolah (Fauzi, 2015).

Dalam sebuah pendidikan pastinya akan mempunyai tantangan,contohnya seperti tantangan dalam materi pelajaran ketika terjadi kasus pelanggaran moral, maka mata pelajaran yang berkaitan dalam hal ini ialah PAI dan juga PKN. Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup Norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan Memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi Toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah Lingkungan masyarakatnya.
Permasalahan bangsa terkait tantangan moral yang terjadi sudah menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan perlu melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa.

Terima kasih.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

ADELBERTUS GADING ANANTA PUTRA གིས-
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023

Izin memberikan analisis jurnal mengenai “REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL”
Untuk mencapai keselarasan sosial yang diinginkan, PAI dan PKn akan menentukan bagaimana cara yang benar dalam mengajarkan konten konten melalui tahapan perencanaan pembelajaran melalui tahapan penilaian bagi siswa di sekolah. Selain itu, faktor evaluasi yang dianggap paling menentukan dalam mencapai tujuan adalah melihat kembali dan menata kembali suasana belajar di sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan siswa itu sendiri sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya (Muali, 2016). Dasar pencapaian tujuan pendidikan yang baik adalah melalui pelaksanaan program yang selaras dengan kemampuan sekolah dalam mengelola sumber daya dan kebutuhan masyarakat dan pemangku kepentingan. Banks menulis bahwa sekolah sebagai sistem sosial mengajarkan dan membentuk kepribadian serta karakter siswa melalui program manifes dan laten (Banks, 2010).

Tantangan etika menjadi persoalan jati diri bangsa, menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, khususnya pendidikan, yang berperan penting dalam pembentukan dan kelahiran generasi anak yang unggul secara intelektual dan moral. Sedangkan evaluasi Pendidikan harus melakukan perbaikan yang berkesinambungan dan serius dalam memenuhi kebutuhan generasi bangsa yang bermoral. Dan melalui pendidikan akhlak di sekolah, khususnya yang berada di bawah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Karakter ditambah pelajaran pendidikan kewarganegaraan, jelas ada kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai moral bagi warga negara Indonesia.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

NEGI TITIN WIDYANINGTIUS གིས-
Nama : Negi Titin widyaningtius
Npm : 2113053167

Berikan hasil analisis jurnal yang berjudul "rekonstruksi evaluasi pendidikan moral menuju harmoni sosial"

Berdasarkan jurnal yang telah saya baca analisis saya terhadap jurnal tersebut yaitu gimana sistem pendidikan nasional memiliki peranan yang signifikan terhadap dinamika perjalanan bangsa Indonesia. Di mana terlihat beberapa kasus yang mewarnai bangsa Indonesia oleh sebab itu tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat khususnya dalam era pendidikan yang memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan juga moralitas. Oleh karena itu perlunya evolusi pendidikan dalam melakukan perbaikan secara terus-menerus dan serius dalam pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti serta ditambah lagi dengan pelajaran pendidikan kewarganegaraan.
Jika disintesis antara mata pelajaran PAI dan PKn akan menjadi sebuah objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian pesera didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dengan memiliki sikap sebagai berikut:
1) Taat pada ajaran agama yang dianutnya serta tidak mudah terprovokasi oleh kelompok lain,
2) Mengikuti teladan nabi Muhammad.
3 ) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial,
4) Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberadaannya,
5) Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang nampak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan,
6) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan di sekitar lingkungan hidupnya secara objektif,
7) Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga negara,
8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

REZA FITRIYANI གིས-
Nama : Reza Fitriyani Sari
Npm : 2113053094

izin melampirkan hasil analisis jurnal 1
berdasarkan jurnal di atas potret pendidikan Islam dewasa ini melahirkan dua sudut pandang yang berbeda yaitu pendidikan Islam tidak lagi dimonopoli oleh kelompok liberalis dan fundamentalis melainkan telah diwarnai oleh sekelompok Islam lain dan pendidikan Islam dipersepsikan menjadi embrio lahirnya kelompok Islam radikal dan Islam fundamentalis. (Fauzi,2018)

Pendidikan memiliki peran sebagai agen perubahan dimana merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. sehingga pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus-menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat sehingga output pendidikan diharapkan dapat melahirkan manusia cakap dalam potensi kepribadian dan sosial karena masalah bangsa yang masih menjadi sorotan utama adalah output pendidikan yang masih buram dalam membangun relasi sosial.

Materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah adalah pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) dan pendidikan kewarganegaraan (PKN). secara teoritis PAIi adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengalaman ajaran agama Islam. sedangkan PKN adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis. Pendidikan moral ada pada materi ajar PAI misalnya berisi materi pokok meneladani sifat Rasulullah, hidup hemat dan sederhana, menghindari judi dan pertengkaran. sedangkan dalam materi PKN adalah pendidikan politik atau mengenai ketatanegaraan yang berlandaskan Pancasila guna merajut manusia dalam masyarakat yang bersatu dalam kebhinekaan (Ahmad,2017).

Guru merupakan ujung tombak dari kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang menjadi motivator bagi peserta didik dalam memacu aktivitas belajarnya pendidik bertindak sebagai fasilitator dan pendamping dalam kegiatan pembelajaran untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan serta menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. esensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik maupun non akademik namun esensi pendidikan moral adalah usaha sadar untuk menyiapkan manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan di masa yang akan datang upaya pemberian pendidikan moral menurut Tengku Ramli dapat dilakukan dengan 5 pendekatan yaitu penanaman nilai perkembangan moral kognitif analisis nilai dan pembelajaran.

Jika disintesis antara mata pelajaran PAI dan PKN akan menjadi sebuah objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian peserta didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dengan memiliki sikap :
1. taat pada ajaran agama
2. mengikuti teladan nabi Muhammad
3. menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, percaya diri dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
4. menghargai hidup dalam perbedaan
5. mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan
6. mampu menalar dan mengurai secara objektif
7. mempunyai wawasan pendidikan politik
8. tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan negara kesatuan republik Indonesia.

Terima Kasih
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

HASNI SEPTIANI གིས-
Nama : Hasni Septiani
Npm :2113053097
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL
A. Tujuan Pendidikan Nasional
peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah perubahan orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau perubahan orang yang perilakunya tidak baik menjadi. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi budaya (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan besar berperan dalam memproduksi ulang dan terus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang dari keluarga yang memiliki budaya
Berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta
gaya hidup lainnya.
B. Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah
Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak.didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama (Muchlis Sholichin, 2007).
C. Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi PAI dan PKn di Sekolah
Guru merupakan ujung tombak dari kegiatan pendidikan dan.pembelajaran yang menjadi motivator bagi peserta didik dalam memacu aktivitas belajarnya (Baharun, 2017b). Dalam proses pembelajaran kurikulum 2013, saat ini lebih banyak memberikan ruang pada peserta didik untuk
mengeksplor secara bebas yang diperoleh, bahkan ada rambu- rambu “guru haram dijelaskan”. Pendidik bertindak sebagai fasilitator dan pendampingan dalam kegiatan pembelajaran untuk peserta didik mencapai tujuan serta menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif (Bali, 2015). Dari perspektif ini sebenarnya peserta didik tidak hanya butuh sosok guru yang berwawasan luas dan kreatif dalam memonitor proses pembelajaran, melainkan juga sangat membutuhkan sosok panutan yang memiliki nilai-nilai moral budi luhur sebagai teladan para peserta didik. Maka sangat dibutuhkan peran guru yang bisa memberikan teladan moral yang dibagikan maupun tidak melalui kurikulum yang saya berikan.

D. Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah. Lebih dari itu tidak evaluasi yang dianggap paling menentukan seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan tinggal dan melangsungkan kehidupan (Muali, 2016). Sebab, kurikulum pemerintah yang berlaku
secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi pendidikan.

E.Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal
Jika disintesis antara mata pelajaran PAI dan PKn akan menjadi sebuah objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian peserta didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dengan memiliki sikap sebagai berikut : 1) Taat pada ajaran agama yang dianutnya serta tidak mudah
terprovokasi oleh kelompok lain, 2) mengikuti teladan nabi Muhammad; melalui peristiwa hijrahnya ke Madinah, peserta didik dapat meneladani kisah Nabi Muhammad SAW yang mempersaudarakan kaum anshor dan kaum muhajirin dan menciptakan perdamaian antara kaum muslim dan kaum non muslim melalui piagam Madinah. Sehingga menumbuhkan sikap toleransi, 3 ) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, 4) Menghargai hidup dalam perbedaan di lingkungan pergaulan dan keberadaan , 5) Memiliki semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang tampak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bijaksana ketika dihadapkan dengan konflik dan perbedaan
antar golongan, 6) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan di sekitar lingkungan hidupnya secara objektif, 7) Memiliki wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga negara, 8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Fauzi, 2017
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

SHERLITA NUR AZIZAH གིས-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya izin memperkenalkan diri:
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C

Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Dalam proses pendidikan tentu terdapat tujuan yang akan di capai. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan tersebut. Salah satunya yaitu melalui perubahan kebijakan sentralisasi yang menjadi desentralisasi, kemudian menjadi demokratisasi hingga perubahan kurikulum yang dinilai mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara utuh. Namun, realitas output pendidikan yang terjadi saat ini masih diliputi oleh masalah yang semakin kompleks. Dari semua masalah pendidikan, disharmonisasi sosial adalah gambaran paling mencolok yang menunjukkan bahwa pendidikan gagal membentuk manusia yang beradab.

Dalam jurnal tersebut terdapat tinjauan evaluasi pendidikan akhlak pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan. Kedua mata pelajaran ini dianggap paling bertanggung jawab atas etika berpikir dan berperilaku manusia terpelajar. Menurut kurikulum diterapkan saat ini perencanaan dan proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik, namun perlu dikonstruksi ulang dalam evaluasi hasil belajar siswa. Dengan begitu perlu ditegaskan bahwa penilaian utama tidak hanya dari domain kognitif pada pembelajaran di kelas, tetapi juga dari segi afektif yang nyata dan permanen serta penilaian psikomotor dalam diri siswa sehingga mereka dapat berkembang di tengah-tengah masyarakat sosial yang harmonis.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

WIRANTO OKTAVIAN གིས-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012

Berikut hasil analisi saya dari jurnal diatas mengenai tentang "Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial"

Peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik.

Tantangan materi pelajaran di sekolah
Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran pendidikan agama islam (pai) dan pendidikan kewarganegaraan (pkn). Sedangkan pkn adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis (subhan sofhiyan). Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya

Persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pai dan pkn di sekolah
Guru merupakan ujung tombak dari kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang menjadi motivator bagi peserta didik dalam memacu aktivitas belajarnya. Dalam proses pembelajaran kurikulum 2013, saat ini lebih banyak memberikan ruang pada peserta didik untuk mengeksplor secara bebas pengetahuan yang diperoleh, bahkan ada ramburambu “guru haram menerangkan”. Pendidik bertindak sebagai fasilitator dan pendamping dalam kegiatan pembelajaran untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan serta menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Pada tahap evaluasi ini, merupakan salah satu komponen pembelajaran yang memiliki peranan penting, dimana tolak ukur keberhasilan siswa selama melakukan proses pembelajaran dapat diketahui melalui evaluasi penilaian.

Rekonstruksi evaluasi pendidikan moral
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan pai dan pkn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah.

Jadi, tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa. Dan melalui pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti ditambah lagi dengan pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang secara jelas bertanggungjawab atas penanaman nilai-nilai moral bagi warga indonesia.

Sekian terima kasih.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

DWI OKTAVIANINGSIH གིས-
Nama : Dwi Oktavianingsih
NPM : 2113053208

Analisis Jurnal 1 "Rekontruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial"
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah guna mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Namun dari semua upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah masih ada beberapa masalah pendidikan yang menyebabkan gagal terbentuknya manusia yang beradab dalam pendidikan. Pada kurikulum yang diterapkan saat ini perencanaan dan proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik namun perlu adanya diskonstruksi ulang dalam evaluasi hasil belajar peserta didik, dengan harapan bahwa penilaian utama tidak hanya dari penilaian kognitif saja tetapi harus lebih dari itu sehingga pembelajaran akan menjadi efektif dan nyata serta permanen dalam penilaian psikomotor. Sehingga dalam diri peserta didik muncul jiwa yang sosial dan harmonis dalam kehidupan sehari hari.

Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Sehingga evaluasi pendidikan perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa. Dengan pendidikan moral yang tercakup dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam dan pendidikan kewarganegaraan secara jelas bertanggung jawab atas penanaman nilai-nilai moral bagi generasi bangsa. Di mana dalam Pendidikan Agama Islam dan PKN tertanam sikap toleransi sikap saling menghargai dan menghayati perilaku jujur disiplin bertanggung jawab peduli sopan santun serta percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, menghargai hidup dalam perbedaan di lingkungan jangkauan pergaulan, mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang nampak di sekitar lingkungan hingga bisa berpikir dan bersikap secara bijak ketika dihadapkan dengan permasalahan serta mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai permasalahan yang dihadapi peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

RAFITRI PRIHATINI གིས-
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 211353133
Kelas: 3C

Izin memberikan hasil analisis jurnal yang berjudul "Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial"

Tantangan moral menjadi permasalahan bangsa yang menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi yang unggul secara intelektual dan moralitas.
Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik maupun non akademik, melainkan menjadi usaha sadar untuk menyiapkan manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan akan datang. Upaya pemberian pendidikan moral menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu: Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), analisis nilai (values clarification approach), pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan, mata pelajaran PAI dan PKn sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di sekolah. Fokus pada tahapan evaluasi pembelajaran ini khususnya pada mata pelajaran PAI dan PKn perlu direkonstruksi guna memberi implikasi jangka panjang dan permanen pada peserta didik melalui: a) Rekonstruksi pertama harus dimulai dari kemampuan pendidik dalam membawa materi ajar pendidikan moral kepada peserta didik harus kompeten, b) Sesekali peserta didik di hadapkan dengan permasalahan yang marak terjadi untuk menemukan penyebab dan solusinya. Isu-isu yang diberikan harus sesuai dengan daya kemampuan peserta didik. Kemudian pendidik sebagai fasilitator mengoreksi hasil kerja peserta didik dan memberikan ulasan dengan membawa sudut pandang kebersatuan kebhinnekaan, c) Pendidik tidak terpaku pada instrument penilaian formalitas tapi lebih luas cakupannya, d) Pendidik menyisipkan pembelajaran multicultural melalui kurikulum laten secara sporadic, e) Evaluasi tulis berupa ulangan harian bukan penilaian utama atas keberhasilan belajar peserta didik. Penilaian lebih ditekankan pada ranah afektif yang berimplikasi pada penilaian psikomotorik peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Resti Umi Melinda གིས-
Resti Umi Melinda
2113053058

Analisis jurnal 1
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL
dari jurnal tersebut kita dapat mengetahui bahwa
peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik. Seorang ahli sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan pendidikan adalah agen bagi reproduksi kultural (Piere Bourdieu). Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang berangkat dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya.

seperti yang kita ketahui bahwa Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak
berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).

diharapkan dengan adanya perubahan-perubahan ini melalui pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang secara jelas bertanggungjawab ataspenanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia dapat menumbuhkan sikap toleransi, Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya, Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang namapak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan, Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar lingkungan hidupnya secara objektif, Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai
bagian dari warga Negara, Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

sekian, terimakasih
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Dhea Ajeng Pradana གིས-
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis mengenai jurnal yang berjudul “Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral menunju Harmoni Sosial”
Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang mempunyai peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas.

Evaluasi pendidikan yang dilakukan untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapakan IPA dan PKN sangat menentukan bagaimana isi materi tersebut dapat diajarkan dengan baik melalui tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik. Muali (2006) berpendapat bahwa unsur penting dalam evaluasi yang menentukan berhsil tidaknya perlu melihat kembali dan menata kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik dari segi lingkungan. Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Misalnya selama ini sekolah lebih banyak menekankan hafalan, dan ketepatan dalam menjawab soal pilihan ganda. Karena penilaian dari system seperti itu jelas bukan tolak ukur keberhasilan peserta didik pada mata pelajaran moral dan pancasila.

Oleh karena itu, perlu adanya penekanan evaluasi yang sifatnya perliku moral yang berbudin luhur tumbuh dan mengakar pada keprobadian peserta didik sebagai hasil belajar. Dalam tahapannya, fokus evaluasi berfokus pada pembelajaran khusus mata pelajaran PAI dan PKN yang perlu direkonstruksi guna memberi implikasi jangka panjang dan permanen pada peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

MUTIA RAHMA AULIA གིས-
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136
Kelas: 3C

Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul "Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial".

PKn adalah pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga Negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis (Subhan Sofhiyan). Sedangkan PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).

Pendidikan moral ada pada materi ajar PAI misalnya berisi materi pokok meneladani sifat Rosulullah, hidup hemat dan sederhana, menghindari judi dan pertengkaran. Sedangkan materi pada PKn diantaranya adalah pendidikan politik atau mengenai ketatanegaraan yang berlandaskan Pancasila guna merajut manusia dalam masyarakat yang bersatu
dalam kebhinnekaan (Ahmad, 2017).

Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Upaya pemberian pendidikan moral juga menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu: Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), analisis nilai (values clarification approach), pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Putri ristamarin 2053054009 གིས-
Nama : Putri ristamarin
NPM : 2013053185
Reconstruction, Evaluation, Moral Education, Social Harmony Secara universal sistem Pendidikan Nasional memiliki peranan yang Hal ini dapat dilihat dari fenomena-fenomena kerusuhan yang mewarnai oleh perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang memiliki paham ideology yang berbeda (Fauzi, 2017), sehingga bendera politik atau menjadi benturan keras yang memicu saling merasa benar dan saling sosial yang merasa diperas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam tentang keadilan dan pembangunan daerah yang tidak merata serta adanya perbedaan agama dan ideology yang dirasa tidak menjamin antar golongan Sejalan dengan arus globalisasi, potret pendidikan Islam dewasa ini pendidikan Islam tidak lagi dimonopoli oleh kelompok liberalis dan pendidikan Islam dipersepsikan menjadi embrio lahirnya kelompok Islam radikal dan Islam fundamentalis (Fauzi, 2018), sebagaimana hasil penelitian Farida menjelaskan bahwa lahirnya radikalisme dan fundamentalisme dilatarbelakangi oleh pemikiran dan peran sosial kiai, pandangan tersebut secara signifikan memberikan pengaruh terhadap lulusan pendidikan Islam, paradigma pendidikan Islam yang lebih membumi dan humanistik, dengan menjadi identitas tersendiri bagi lembaga pendidikan Islam Indonesia (Bali, Fenomena saling serang dan merasa kelompok yang dianutnya paling Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial 71 pendidikan nasional masih bersifat parsial, tidak utuh dan tidak sistematis. Implikasi dari gadget yang semacam ini menghasikan out positioned pendidikan yang out positioned pendidikan dewasa ini.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Zahara Ameliani Putri གིས-
Nama: Zahara Ameliani Putri
Npm: 2113053197

Izin memberikan hasil analisis jurnal
Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Fokus pada tahapan evaluasi pembelajaran ini khususnya pada mata pelajaran PAI dan PKn perlu direkonstruksi guna memberi implikasi jangka panjang dan permanen pada peserta didik melalui:
a) Rekonstruksi pertamaharus dimulai dari kemampuan pendidik dalam membawa materi ajar pendidikan moral kepada peserta didik harus kompeten di bidangnya dan bisa mengintegrasikan dengan kasus-kasus yang banyak terjadi di lingkungan kehidupan,
b) Sesekali peserta didik di hadapkan dengan permasalahan yang marak terjadi untuk menemukan penyebab dan solusinya. Isu-isu yang diberikan harus sesuai dengan daya kemampuan peserta didik. Kemudian pendidik sebagai fasilitator mengoreksi hasil kerja peserta didik dan memberikan ulasan dengan membawa sudut pandang kebersatuan kebhinnekaan,
c) Pendidik tidak terpaku pada instrument penilaian formalitas tapi lebih luas cakupannya,
d) Pendidik menyisipkan pembelajaran multicultural melalui kurikulum laten secara sporadic,
e) Evaluasi tulis berupa ulangan harian bukan penilaian utama atas keberhasilan belajar peserta didik. Penilaian lebih ditekankan pada ranah afektif yang berimplikasi pada penilaian psikomotorik peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

LAELA NUR VAZRIYAH གིས-
Nama : Laela Nur Vazriyah
NPM : 2113053186
Izin menganalisis jurnal yang berjudul "REKONTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL"
Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Di sekolah anak-anak yang datang berangkat dari keluarga yang memiliki kultur berbeda-beda dalam bentuk relasi/pergaulan sosial, bahasa dan tradisi, serta gaya hidup lainnya. Sehingga disinilah peran sekolah untuk membongkar jurang pemisah antar kelas-kelas sosial yang berbeda melalui nilai-nilai akhlak di sekolah (Fauzi, 2015). Sehingga evaluasi pendidikan perlu kiranya melakukan perbaikan secara terus menerus dan serius dalam memenuhi kebutuhan kegelisahan moral generasi bangsa. Dan melalui pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang secara jelas bertanggungjawab atas penanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia. Sehingga menumbuhkan sikap toleransi, Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, Menghargai hidup dalam perbedaan dilingkungan jangkauan pergaulan dan keberdaannya, Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang nampak di sekitar lingkungan, sehingga bisa berpikir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan, Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan disekitar lingkungan hidupnya secara objektif, Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga Negara, Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik maupun non akademik lebih dari itu adalah usaha sadar untuk menyiapkan
manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap peranannya di masa sekarang dan akan datang. Upaya pemberian pendidikan moral menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu: Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), analisis nilai (values clarification approach), pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Fitri Cahya Karnain གིས-

 Nama : Fitri Cahya Karnain

Npm : 2153053034


Secara universal sistem Pendidikan Nasional memiliki peranan yang signifikan terhadap dinamika perjalanan bangsa Indonesia .Banyak diantaranya pemicu terjadi konflik dalam negeri diakibatkan oleh perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang memiliki paham ideology yang berbeda , sehingga bendera politik identitas mulai menjadi isu yang sensitif ketika dikibarkan di wilayah tertentu atau menjadi benturan keras yang memicu saling merasa benar dan saling menyalahkan antar golongan yang berbeda sudut pandang pemahaman. Sementara isu-isu terkait politik identitas di Indonesia antara lain adalah munculnya kepentingan local seperti tentang keadilan dan pembangunan daerah yang tidak merata serta adanya perbedaan agama dan ideology yang dirasa tidak menjamin antar golongan dapat hidup tenang berdampingan. Tantangan moral yang menjadi permasalahan identitas bangsa menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan moralitas. Dan melalui pendidikan moral di sekolah khususnya yang tercakup dalam materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditambah lagi dengan pelajaran sehingga menumbuhkan sikap toleransi, 3) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

Grace Hanna གིས-
Nama : Grace Hanna
Kelas : 3C
Npm : 2113053287

Izin memberikan analisi dari jurnal yang berjudul REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL

PAI dan PKn pada era Kurikulum 2013 ini memiliki porsi 3 jam pelajaran dalam sepekan, mengingat kurikulum sebelumnya mata pelajaran PAI hanya memiliki porsi waktu dua jam pelajaran. Maka dalam hal ini harapannya out put pendidikan memiliki nilai kepribadian yang unggul secara pribadi dan sosial yang tidak cukup hanya diketahui dan dipahami, tetapi juga dirasakan serta dijadikan sebuah aksi dalam kehidupan anak didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi :
1. berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
2. berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta anti korupsi.
3. berkembang secara positif dandemokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa yang lainnya.
4. berinteraksi dengan bangsa-bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Abdul Ghofur, 2007).
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 1

KADEK ELI གིས-
Nama : Kadek Eli
Npm : 2113053117
Kelas : 3C

Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL, dari jurnal tersebut kita tahu bahwa Pendidikan Nasional memiliki peranan yang
signifikan terhadap dinamika perjalanan bangsa Indonesia. tantangan moral sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun juga tanggung jawab semua elemen masyarakat , tantangan moral di Indonesia juga menjadi permasalahan identitas bangsa. Sehingga perlu dilakukannya evaluasi pendidikan secara terus-menerus sehingga dapat memenuhi kebutuhan moral tiap generasi yang disebabkan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Melalui pendidikan moral seperti pada mata pelajaran agama dan PKN yang secara jelas bertanggungjawab atas
penanaman nilai-nilai moral bagi warga Indonesia.