Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.
Forum Analisis Jurnal 1
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat dimana peserta didik memperoleh ilmu baik dalam aspek pengetahuan,sosial atau keterampilan.
pendidik utama di sekolah bukan lah hanya guru saja melainkan seluruh kompenen yang terlibat di sekolah tersebut. Pendidikan moral di sekolah sangat perlu diterapkan. Dalam penerapannya tidak terbatas pada guru semata semua subjek tersebut berperan penting dalam mewujudkan peserta didik yang bermoral.
Guru juga mengajarkan peserta didik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Oleh karena guru merupakan sarana mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, Oleh Karena itu guru terlebih dahulu harus mempunyai moral yang baik. berkaitan dengan nilai-
Materi pendidikan moral tidak terlepas dari individu agar mempunyai moral yang baik. Nilai moral yang diajarkan kepada peserta didik misalnya Nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Metode pendidikan
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan cara membiasakan peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
kesimpulannya pendidikan nilai dan moral sangat penting diterapkan karena Anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu sangat berbeda cara berpikir dan berperilakunya.
Terdapat berbagai metode penerapan pendidikan nilai dan moral dan penerapan ini dapat dilaksanan dimulai dari guru dan komponen sekolah.
NPM: 2113053171
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat dimana peserta didik memperoleh ilmu baik dalam aspek pengetahuan,sosial atau keterampilan.
pendidik utama di sekolah bukan lah hanya guru saja melainkan seluruh kompenen yang terlibat di sekolah tersebut. Pendidikan moral di sekolah sangat perlu diterapkan. Dalam penerapannya tidak terbatas pada guru semata semua subjek tersebut berperan penting dalam mewujudkan peserta didik yang bermoral.
Guru juga mengajarkan peserta didik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Oleh karena guru merupakan sarana mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, Oleh Karena itu guru terlebih dahulu harus mempunyai moral yang baik. berkaitan dengan nilai-
Materi pendidikan moral tidak terlepas dari individu agar mempunyai moral yang baik. Nilai moral yang diajarkan kepada peserta didik misalnya Nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Metode pendidikan
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan cara membiasakan peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
kesimpulannya pendidikan nilai dan moral sangat penting diterapkan karena Anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu sangat berbeda cara berpikir dan berperilakunya.
Terdapat berbagai metode penerapan pendidikan nilai dan moral dan penerapan ini dapat dilaksanan dimulai dari guru dan komponen sekolah.
Nama : Dwi Oktavianingsih
NPM : 2113053208
Kelas : 3C
Analisis jurnal 1 "Pendidikan Moral Di Sekolah"
Sekolah merupakan tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Sekolah juga merupakan tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Pendidikan moral pada era globalisasi ini menghadapi berbagai macam tantangan seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi tinggi. Sehingga anak-anak yang hidup pada era modern memiliki cara berpikir dan perilaku yang berbeda dengan anak pada masa lampau. Di mana di lingkungan masyarakat religius tradisional Moral ini diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi yang artinya ajaran moral ini harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian kemudian ajaran ini dilaksanakan. Karena perkembangan zaman inilah yang menyebabkan perbedaan dalam cara berpikir dan perilaku anak-anak pada masa ini, sehingga metode indoktrinasi dipandang oleh para ahli sebagai metode yang sudah usang dalam penanaman moral pada anak. Oleh karena itu ada metode lain yang lebih sesuai dengan penanaman nilai dan moral untuk generasi saat ini
1. Inkulkasi nilai, dimulai dengan mengidentifikasi secara jelas nilai-nilai apa yang diharapkan akan tertanam dalam diri subjek didik sehingga akan tercapainya program pendidikan moral.
2. Metode keteladanan, dalam masyarakat tradisional keteladanan diterima secara sukarela tanpa harus mengejar argumentasi rasionalnya. Sedangkan untuk masyarakat modern keteladanan diterima Dengan pemahaman dan argumentasi rasional.
3. Metode klarifikasi nilai, dalam masyarakat liberal moral diperkenalkan lewat proses klasifikasi atau penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek sejak dini.
4. Metode fasilitasi nilai, pendidik dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan peserta didik agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, dapat diwujudkan mulai dari pembiasaan diri. Dengan membiasakan yang ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan sebagai wujud relasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan moral di sekolah ini penting dilakukan oleh pendidik dan segenap komponen warga sekolah maupun lembaga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang sangat berpengaruh adalah seperti cakupan materi, variasi metode dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan semua itu lembaga sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan dan peserta didik berhasil menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.
NPM : 2113053208
Kelas : 3C
Analisis jurnal 1 "Pendidikan Moral Di Sekolah"
Sekolah merupakan tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Sekolah juga merupakan tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Pendidikan moral pada era globalisasi ini menghadapi berbagai macam tantangan seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi tinggi. Sehingga anak-anak yang hidup pada era modern memiliki cara berpikir dan perilaku yang berbeda dengan anak pada masa lampau. Di mana di lingkungan masyarakat religius tradisional Moral ini diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi yang artinya ajaran moral ini harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian kemudian ajaran ini dilaksanakan. Karena perkembangan zaman inilah yang menyebabkan perbedaan dalam cara berpikir dan perilaku anak-anak pada masa ini, sehingga metode indoktrinasi dipandang oleh para ahli sebagai metode yang sudah usang dalam penanaman moral pada anak. Oleh karena itu ada metode lain yang lebih sesuai dengan penanaman nilai dan moral untuk generasi saat ini
1. Inkulkasi nilai, dimulai dengan mengidentifikasi secara jelas nilai-nilai apa yang diharapkan akan tertanam dalam diri subjek didik sehingga akan tercapainya program pendidikan moral.
2. Metode keteladanan, dalam masyarakat tradisional keteladanan diterima secara sukarela tanpa harus mengejar argumentasi rasionalnya. Sedangkan untuk masyarakat modern keteladanan diterima Dengan pemahaman dan argumentasi rasional.
3. Metode klarifikasi nilai, dalam masyarakat liberal moral diperkenalkan lewat proses klasifikasi atau penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek sejak dini.
4. Metode fasilitasi nilai, pendidik dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan peserta didik agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, dapat diwujudkan mulai dari pembiasaan diri. Dengan membiasakan yang ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan sebagai wujud relasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan moral di sekolah ini penting dilakukan oleh pendidik dan segenap komponen warga sekolah maupun lembaga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang sangat berpengaruh adalah seperti cakupan materi, variasi metode dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan semua itu lembaga sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan dan peserta didik berhasil menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
Kelas : 3 C
Analisis jurnal dengan judul " pendidikan moral di sekolah "
Pentingnya pendidikan moral disekolah perlu dilaksanakan secara serius untuk membentuk Dan menjadikan generasi Muda yang berkualitas walaupun dalam Hal ini pengaruh yang paling besar ialah peran orang tua dalam masa perkembangan anak"nya. Disekolah pengaruh yang paling besar ialah guru, guru yang memiliki karakter baik dapat membawa pengaruh karakter baik bagi peserta didik nya sekolah sebagai tempat sosial, demokratis yang diberikan sebagai tempat untuk membentuk pemberdayaan Siri Dan sosial dalam Hal ini sekolah sebagai tempat publik bagi peserta pendidik untuk dapat belajar pengetahuan Dan keahlian yang dibutuhkan untuk kehidupan dalam demokratis yang sesungguhnya. Sekolah bukan hanya tempat publik juga sebagai tempat membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna Dan menjadi agensu kemanusian, guru berfungsi untuk mewujudkan Dan membangun peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis, dalam Hal ini baik itu sekolah, guru, mata pelajaran yang dapat membangun Dan mewujudkan karakter baik bagi peserta didik harus mampu berjalan bersama-sama agar tujuan yang ingin dicapai Dari masing-masing lembaga pendidikan dapat tercapai Dan penerapan pendidikan moral disekolah dapat berjalan dengan baik sehingga dapat membentuk peserta didik yang memiliki moral yang baik bagi bangsa Dan kehidupan kedepannya.
Menurut kirschenbaum (1995:31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral yang berada dalam Lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai Dan moralitas, modelling nilai-nilai Dan moralitas, fasilitas nilai-nilai Dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai Dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Pendidikan moral pada zaman sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan keterbukaan IPTEK, Hal ini yang menyebabkan tantangan bagi lembaga pendidik untuk menyerapkan pendidikan moral di sekolah.
NPM : 2113053092
Kelas : 3 C
Analisis jurnal dengan judul " pendidikan moral di sekolah "
Pentingnya pendidikan moral disekolah perlu dilaksanakan secara serius untuk membentuk Dan menjadikan generasi Muda yang berkualitas walaupun dalam Hal ini pengaruh yang paling besar ialah peran orang tua dalam masa perkembangan anak"nya. Disekolah pengaruh yang paling besar ialah guru, guru yang memiliki karakter baik dapat membawa pengaruh karakter baik bagi peserta didik nya sekolah sebagai tempat sosial, demokratis yang diberikan sebagai tempat untuk membentuk pemberdayaan Siri Dan sosial dalam Hal ini sekolah sebagai tempat publik bagi peserta pendidik untuk dapat belajar pengetahuan Dan keahlian yang dibutuhkan untuk kehidupan dalam demokratis yang sesungguhnya. Sekolah bukan hanya tempat publik juga sebagai tempat membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna Dan menjadi agensu kemanusian, guru berfungsi untuk mewujudkan Dan membangun peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis, dalam Hal ini baik itu sekolah, guru, mata pelajaran yang dapat membangun Dan mewujudkan karakter baik bagi peserta didik harus mampu berjalan bersama-sama agar tujuan yang ingin dicapai Dari masing-masing lembaga pendidikan dapat tercapai Dan penerapan pendidikan moral disekolah dapat berjalan dengan baik sehingga dapat membentuk peserta didik yang memiliki moral yang baik bagi bangsa Dan kehidupan kedepannya.
Menurut kirschenbaum (1995:31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral yang berada dalam Lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai Dan moralitas, modelling nilai-nilai Dan moralitas, fasilitas nilai-nilai Dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai Dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Pendidikan moral pada zaman sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan keterbukaan IPTEK, Hal ini yang menyebabkan tantangan bagi lembaga pendidik untuk menyerapkan pendidikan moral di sekolah.
Annisa Nathania
2253053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal;
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Henry Giroux (1988: xxxiv) mengatakan; sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokrasi yang didedikasikan untuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pengertian ini, sekolah adalah tempat umum di mana siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam demokrasi sejati.
Didalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan komunis. Ajaran agama dengan nilai-nilai moral sangat penting. Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam pendidikan agama merupakan sumber nilai-nilai kehidupan bagi bangsa Indonesia, sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap mendapat tempat khusus karena dimasukkan dalam kurikulum baik di dalam maupun di luar kurikulum.
Pendidikan akhlak dewasa ini menghadapi berbagai tantangan, serta kemajuan zaman yang ditandai dengan keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi. Anak-anak yang hidup hari ini hidup pada tahap akhir, dengan cara berpikir dan berperilaku yang sangat berbeda dibandingkan dengan anak-anak di masa lalu.
Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu:
* Inkulkasi nilai
* Metode keteladanan
* Metode klarifikasi nilai
* Metode fasilitasi nilai
* Metode keterampilan nilai moral
Terimakasih
2253053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal;
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Henry Giroux (1988: xxxiv) mengatakan; sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokrasi yang didedikasikan untuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pengertian ini, sekolah adalah tempat umum di mana siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam demokrasi sejati.
Didalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan komunis. Ajaran agama dengan nilai-nilai moral sangat penting. Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam pendidikan agama merupakan sumber nilai-nilai kehidupan bagi bangsa Indonesia, sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap mendapat tempat khusus karena dimasukkan dalam kurikulum baik di dalam maupun di luar kurikulum.
Pendidikan akhlak dewasa ini menghadapi berbagai tantangan, serta kemajuan zaman yang ditandai dengan keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi. Anak-anak yang hidup hari ini hidup pada tahap akhir, dengan cara berpikir dan berperilaku yang sangat berbeda dibandingkan dengan anak-anak di masa lalu.
Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu:
* Inkulkasi nilai
* Metode keteladanan
* Metode klarifikasi nilai
* Metode fasilitasi nilai
* Metode keterampilan nilai moral
Terimakasih
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136
Analisis jurnal 1 tentang "Pendidikan Moral di Sekolah"
Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam ajaran agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap diberi tempat khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler. Hanya saja perlu diwaspadai nilai-nilai moral agama harus dibarengi dengan sikap untuk tetap bertoleransi.
NPM: 2113053136
Analisis jurnal 1 tentang "Pendidikan Moral di Sekolah"
Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam ajaran agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap diberi tempat khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler. Hanya saja perlu diwaspadai nilai-nilai moral agama harus dibarengi dengan sikap untuk tetap bertoleransi.
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18)
mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan
nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru merupakan pendidik pertama di sekolah. Tetapi tidak hanya guru saja melainkan seluruh warga sekolah turut andil dalam mendidik moral peserta didik. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang
baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
a. Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu.
b. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
c. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan
nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
d. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945). Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan negara komunis. Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral diberi tempat yang khusus dan penting.
3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Adapun metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan
evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. Berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas.
Selain itu, ada juga pengukuran dengan menggunakan skala sikap seperti yang dikembangkan oleh Likert atau Guttman dan semantic differential yang dikembangkan oleh Nuci, dan peneliti lainnya. Walaupun dinamakan skala sikap, karakteristik afektif yang dievaluasi dapat pula mencakup minat, motivasi, apresiasi, kesadaran akan harga diri dan nilai. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif (atau negatif) yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Di antara skala pengukuran yang ada, skala Likert paling banyak
digunakan, sebab relatif lebih mudah pengembangannya dan dapat memiliki reliabilitas yang tinggi. Skala Likert telah diadaptasi dengan sukses untuk mengukur berbagai karakteristik afektif.
Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku.
Terima kasih
W assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18)
mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan
nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru merupakan pendidik pertama di sekolah. Tetapi tidak hanya guru saja melainkan seluruh warga sekolah turut andil dalam mendidik moral peserta didik. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang
baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
a. Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu.
b. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
c. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan
nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
d. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945). Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan negara komunis. Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral diberi tempat yang khusus dan penting.
3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Adapun metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan
evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. Berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas.
Selain itu, ada juga pengukuran dengan menggunakan skala sikap seperti yang dikembangkan oleh Likert atau Guttman dan semantic differential yang dikembangkan oleh Nuci, dan peneliti lainnya. Walaupun dinamakan skala sikap, karakteristik afektif yang dievaluasi dapat pula mencakup minat, motivasi, apresiasi, kesadaran akan harga diri dan nilai. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif (atau negatif) yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Di antara skala pengukuran yang ada, skala Likert paling banyak
digunakan, sebab relatif lebih mudah pengembangannya dan dapat memiliki reliabilitas yang tinggi. Skala Likert telah diadaptasi dengan sukses untuk mengukur berbagai karakteristik afektif.
Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku.
Terima kasih
W assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Disini saya akan memberikan hasil analisis saya dari jurnal diatas mengenai "Pendidikan Moral Di Sekolah"
1. Pendidik Moral di Sekolah
Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena itu guru adalah garda terdepan dalam menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa, maka guru juga harus terlebih dahulu memiliki perilaku yang baik . Dengan begitu, siswa tersebut dapat lebih mudah menerima dan meniru pendidikan moral yang diberikan oleh para guru.
2. Materi Pendidikan Moral
Materi pendidikan moral meliputi pelajaran dan pengalaman pembelajaran menjadi pribadi yang bermoral dalam hubungannya dengan diri sendiri, akhlak dalam hubungannya dengan tetangga dan alam semesta, dan moral dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilainilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
3. Metode Pendidikan Moral
a) Metode Inkulkasi nilai
b) Metode keteladanan
c) Metode klarifikasi nilai
d) Metode fasilitasi nilai
e) Metode keterampilan nilai moral
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan oleh guru dan seluruh elemen warga sekolah untuk mencapai pendidikan akhlak yang komprehensif. guru dalam peran utama dapat merencanakan pendidikan moral secara lebih komprehensif, sehingga tercapai hasil yang optimal, yaitu pengembangan nilai moral siswa, sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Sekian terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Disini saya akan memberikan hasil analisis saya dari jurnal diatas mengenai "Pendidikan Moral Di Sekolah"
1. Pendidik Moral di Sekolah
Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena itu guru adalah garda terdepan dalam menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa, maka guru juga harus terlebih dahulu memiliki perilaku yang baik . Dengan begitu, siswa tersebut dapat lebih mudah menerima dan meniru pendidikan moral yang diberikan oleh para guru.
2. Materi Pendidikan Moral
Materi pendidikan moral meliputi pelajaran dan pengalaman pembelajaran menjadi pribadi yang bermoral dalam hubungannya dengan diri sendiri, akhlak dalam hubungannya dengan tetangga dan alam semesta, dan moral dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilainilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
3. Metode Pendidikan Moral
a) Metode Inkulkasi nilai
b) Metode keteladanan
c) Metode klarifikasi nilai
d) Metode fasilitasi nilai
e) Metode keterampilan nilai moral
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan oleh guru dan seluruh elemen warga sekolah untuk mencapai pendidikan akhlak yang komprehensif. guru dalam peran utama dapat merencanakan pendidikan moral secara lebih komprehensif, sehingga tercapai hasil yang optimal, yaitu pengembangan nilai moral siswa, sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Sekian terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama : Fitri Cahya Karnain
Npm : 2153053034
Analisis Jurnal "Pendidikan Moral di Sekolah"
Sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai disekolah. Kirschenbaum (1995: 31) Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Npm : 2153053034
Analisis Jurnal "Pendidikan Moral di Sekolah"
Sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai disekolah. Kirschenbaum (1995: 31) Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Nama : Kiki Lieoni Widodo
NPM : 2113054005
Izin menganalisis jurnal , "Pendidikan moral di sekolah" penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Samsu Nizar (2002: 80) mengatakan bahwa evaluasi pendidikan Islam secara keseluruhan lebih ditujukan untuk mengetahui penguasaan sikap dan perilaku dari pada penguasaan aspek kognitif. Yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan subjek didik yang meliputi empat hal, yaitu:
1. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya;
2. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat;
3. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya;
4. Sikap dan pandangan peserta didik terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
NPM : 2113054005
Izin menganalisis jurnal , "Pendidikan moral di sekolah" penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Samsu Nizar (2002: 80) mengatakan bahwa evaluasi pendidikan Islam secara keseluruhan lebih ditujukan untuk mengetahui penguasaan sikap dan perilaku dari pada penguasaan aspek kognitif. Yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan subjek didik yang meliputi empat hal, yaitu:
1. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya;
2. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat;
3. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya;
4. Sikap dan pandangan peserta didik terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan moral, Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode Pendidikan moral, Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
1. Inkulkasi nilai, Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara.
2. Metode keteladanan, Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
3. Metode klarifikasi nilai, Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
4. Metode fasilitasi nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan.
Evaluasi Pendidikan Moral, Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan moral, Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode Pendidikan moral, Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
1. Inkulkasi nilai, Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara.
2. Metode keteladanan, Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
3. Metode klarifikasi nilai, Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
4. Metode fasilitasi nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan.
Evaluasi Pendidikan Moral, Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Nama : Resti Umi Melinda
NPM : 2113053058
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih pada zaman ini orangtua banyak menaruh harapan pada guru dan sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi anak yang bermoral. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development).
- Pendidian moral di sekolah. Henry Giroux (1988: xxxiv) menyatakan sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
- materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
- Metode. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
- Evaluasi Pendidikan nilai dan moral. Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut: a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya. b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal. c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral. d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal. e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi. f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
NPM : 2113053058
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih pada zaman ini orangtua banyak menaruh harapan pada guru dan sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi anak yang bermoral. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development).
- Pendidian moral di sekolah. Henry Giroux (1988: xxxiv) menyatakan sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
- materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
- Metode. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
- Evaluasi Pendidikan nilai dan moral. Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut: a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya. b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal. c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral. d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal. e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi. f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya izin memperkenalkan diri:
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Pendidikan moral sangat perlu diterapkan di setiap sekolah, karena melalui pendidikan, perkembangan moral diharapkan mampu berjalan dengan baik, serasi dan sesuai dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri. Pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan. Di sekolah dasar perkembangan pendidikan moral tidak pernah beranjak dari nilai-nilai luhur yang ada dalam tatanan moral bangsa Indonesia yang terpapar jelas dalam pancasila sebagai dasar Negara. Pendidikan moral bertujuan sangat mulia yaitu untuk membentuk anak negeri sebagai individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan/tenggang rasa demi persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan serta keadilan hakiki.
Agar dalam pendidikan moral dapat berjalan dengan proses pelaksanaan efektif, maka terdapat beberapa metode yang digunakan oleh pendidik, antara lain: metode inkulkasi nilai, metode keteladanan, metode klarifikasi nilai, metode fasilitasi nilai, dan metode keterampilan nilai moral. Pendidikan moral juga dapat dilakukan dengan pendekatan yang bersifat integrated, yaitu dengan melibatkan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Serta harus didukung oleh kemauan, kerjasama yang kompak dan usaha yang sungguh-sungguh dari keluarga, rumah tangga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Yang turut bertanggung jawab terutama mengenai aspek efektifnya melalui mata pelajaran yang diajarkan dan contoh teladan dalam tingkah laku serta perbuatan-perbuatan.
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Pendidikan moral sangat perlu diterapkan di setiap sekolah, karena melalui pendidikan, perkembangan moral diharapkan mampu berjalan dengan baik, serasi dan sesuai dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri. Pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan. Di sekolah dasar perkembangan pendidikan moral tidak pernah beranjak dari nilai-nilai luhur yang ada dalam tatanan moral bangsa Indonesia yang terpapar jelas dalam pancasila sebagai dasar Negara. Pendidikan moral bertujuan sangat mulia yaitu untuk membentuk anak negeri sebagai individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan/tenggang rasa demi persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan serta keadilan hakiki.
Agar dalam pendidikan moral dapat berjalan dengan proses pelaksanaan efektif, maka terdapat beberapa metode yang digunakan oleh pendidik, antara lain: metode inkulkasi nilai, metode keteladanan, metode klarifikasi nilai, metode fasilitasi nilai, dan metode keterampilan nilai moral. Pendidikan moral juga dapat dilakukan dengan pendekatan yang bersifat integrated, yaitu dengan melibatkan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Serta harus didukung oleh kemauan, kerjasama yang kompak dan usaha yang sungguh-sungguh dari keluarga, rumah tangga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Yang turut bertanggung jawab terutama mengenai aspek efektifnya melalui mata pelajaran yang diajarkan dan contoh teladan dalam tingkah laku serta perbuatan-perbuatan.
Nama : winda eriska
Npm : 2113053079
Kelas : 3C
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus ( Bronfenbrenner (1979: 22).
Di dalam mikrosistem ini, seorang individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru-guru, teman sebaya dan yang lain. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih lagi di zaman sekarang, ketika banyak orang tua menaruh harapan sangat besar terhadap sekolah untuk menjadikan anak-anaknya pintar dan baik. Sekolah yang baik merupakan keniscayaan agar pengaruhnya terhadap
anak menjadi positif. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan” atau ”development” lebih berkonotasi pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan. Istilah ini juga bermakna proses yang berlangsung terus sepanjang waktu
Npm : 2113053079
Kelas : 3C
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus ( Bronfenbrenner (1979: 22).
Di dalam mikrosistem ini, seorang individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru-guru, teman sebaya dan yang lain. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih lagi di zaman sekarang, ketika banyak orang tua menaruh harapan sangat besar terhadap sekolah untuk menjadikan anak-anaknya pintar dan baik. Sekolah yang baik merupakan keniscayaan agar pengaruhnya terhadap
anak menjadi positif. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan” atau ”development” lebih berkonotasi pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan. Istilah ini juga bermakna proses yang berlangsung terus sepanjang waktu
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014
Analisis jurnal 1 yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Pendidikan moral terhadap diri
sendiri yang penting diberikan kepada
peserta didik berkaitan dengan :
1.nilai nilai kebersihan diri,
2. kerajinan dalam
belajar/bekerja,
3. keuletan,
4. disiplin waktu.
Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti :
1. kerjasama,
2. toleransi,
3. respek,
4. berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai:
1. keseimbangan alam,
2. menjaga kelestarian alam,
3. tidak merusak alam,
4. hemat,
5. dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
Npm: 2153053014
Analisis jurnal 1 yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Pendidikan moral terhadap diri
sendiri yang penting diberikan kepada
peserta didik berkaitan dengan :
1.nilai nilai kebersihan diri,
2. kerajinan dalam
belajar/bekerja,
3. keuletan,
4. disiplin waktu.
Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti :
1. kerjasama,
2. toleransi,
3. respek,
4. berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai:
1. keseimbangan alam,
2. menjaga kelestarian alam,
3. tidak merusak alam,
4. hemat,
5. dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Guru yang baik tentunya juga berperan sangat penting dalam membentuk akhlak yang baik pada siswa. Seperti yang dikatakan Henry Giroux (1988):xxxiv) sekolah bertindak sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah adalah tempat yang didedikasikan untuk demokrasi dan untuk membentuk pemberdayaan dan masyarakat. Dalam pengertian ini, sekolah adalah tempat umum di mana siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dalam demokrasi sejati. Sekolah bukanlah perpanjangan dari tempat kerja atau organisasi garis depan dalam perang pasar internasional dan persaingan asing, sekolah untuk ruang publik yang demokratis dirancang untuk melatih siswa dalam mengajukan pertanyaan kritis, menikmati dialog yang bermakna, dan menjadi lembaga kemanusiaan. Siswa mengeksplorasi argumen tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks ini, fungsi guru adalah mendorong siswa untuk menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal ini juga tertuang dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Selain itu, guru juga bertanggung jawab untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan martabat siswanya. Karena guru merupakan ujung tombak untuk mencapai akhlak yang baik pada siswa, maka guru harus terlebih dahulu memiliki akhlak yang baik.
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang utuh. Komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, metode yang beragam, dan penilaian yang komprehensif. Dengan memperhatikan komponen-komponen ini, di mana sekolah dan guru memainkan peran kunci dapat merancang pendidikan akhlak yang lebih komprehensif untuk mencapai hasil yang optimal, yaitu mengembangkan nilai-nilai akhlak pada diri siswa sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Guru yang baik tentunya juga berperan sangat penting dalam membentuk akhlak yang baik pada siswa. Seperti yang dikatakan Henry Giroux (1988):xxxiv) sekolah bertindak sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah adalah tempat yang didedikasikan untuk demokrasi dan untuk membentuk pemberdayaan dan masyarakat. Dalam pengertian ini, sekolah adalah tempat umum di mana siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dalam demokrasi sejati. Sekolah bukanlah perpanjangan dari tempat kerja atau organisasi garis depan dalam perang pasar internasional dan persaingan asing, sekolah untuk ruang publik yang demokratis dirancang untuk melatih siswa dalam mengajukan pertanyaan kritis, menikmati dialog yang bermakna, dan menjadi lembaga kemanusiaan. Siswa mengeksplorasi argumen tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks ini, fungsi guru adalah mendorong siswa untuk menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal ini juga tertuang dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Selain itu, guru juga bertanggung jawab untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan martabat siswanya. Karena guru merupakan ujung tombak untuk mencapai akhlak yang baik pada siswa, maka guru harus terlebih dahulu memiliki akhlak yang baik.
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang utuh. Komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, metode yang beragam, dan penilaian yang komprehensif. Dengan memperhatikan komponen-komponen ini, di mana sekolah dan guru memainkan peran kunci dapat merancang pendidikan akhlak yang lebih komprehensif untuk mencapai hasil yang optimal, yaitu mengembangkan nilai-nilai akhlak pada diri siswa sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang bapak Roy Kembar Habibie,M.Pd.
Izin menyampaikan analisis jurnal 1 mengenai " Pendidikan Moral Di Sekolah. "
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan” atau ”development” lebih berkonotasi pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan.
1. Pendidik moral di sekolah
sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
3. Metode pendidikan moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga
mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Izin menyampaikan analisis jurnal 1 mengenai " Pendidikan Moral Di Sekolah. "
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan” atau ”development” lebih berkonotasi pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan.
1. Pendidik moral di sekolah
sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
3. Metode pendidikan moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga
mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Jessica Amelia Putri
2113053029
Analisis Jurnal Berjudul " Pendidikan Moral di Sekola "
Menurut Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai- nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945 ) dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
2113053029
Analisis Jurnal Berjudul " Pendidikan Moral di Sekola "
Menurut Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai- nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945 ) dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama : Hasni Septiani
Npm :2113053097
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1 yang telah di berikan.
Di samping keempat aspek yang telah di sebutkan , pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Selanjutnya, dikatakan oleh Darmiyati bahwa untuk menentukan seseorang berada pada tahap perkembangan afektif yang mana, Dupont menggunakan instrumen yang menuntut adanya respons yang melibatkan perasaan. Selain itu, ada juga pengukuran dengan menggunakan skala sikap seperti yang dikembangkan oleh Likert atau Guttman dan semantic differential yang dikembangkan oleh Nuci, dan peneliti lainnya.
Walaupun dinamakan skala sikap, karakteristik afektif yang dievaluasi dapat pula mencakup minat, motivasi, apresiasi, kesadaran akan harga diri dan nilai. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Di antara skala pengukuran yang ada, skala Likert paling banyak digunakan, sebab relatif lebih mudah pengembangannya dan dapat memiliki reliabilitas yang tinggi. Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku.
Perilaku moral hanya mungkin dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara terus-menerus. Dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan apakah perilaku orang yang diamati telah menunjukkan watak atau kualitas akhlak yang akan dievaluasi. Pengamat harus orang yang sudah mengenal orang-orang yang diobservasi agar penafsirannya terhadap perilaku yang muncul tidak salah .
Sekian Terimakasih
Nama : Hasni Septiani
Npm :2113053097
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1 yang telah di berikan.
Di samping keempat aspek yang telah di sebutkan , pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Selanjutnya, dikatakan oleh Darmiyati bahwa untuk menentukan seseorang berada pada tahap perkembangan afektif yang mana, Dupont menggunakan instrumen yang menuntut adanya respons yang melibatkan perasaan. Selain itu, ada juga pengukuran dengan menggunakan skala sikap seperti yang dikembangkan oleh Likert atau Guttman dan semantic differential yang dikembangkan oleh Nuci, dan peneliti lainnya.
Walaupun dinamakan skala sikap, karakteristik afektif yang dievaluasi dapat pula mencakup minat, motivasi, apresiasi, kesadaran akan harga diri dan nilai. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Di antara skala pengukuran yang ada, skala Likert paling banyak digunakan, sebab relatif lebih mudah pengembangannya dan dapat memiliki reliabilitas yang tinggi. Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku.
Perilaku moral hanya mungkin dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara terus-menerus. Dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan apakah perilaku orang yang diamati telah menunjukkan watak atau kualitas akhlak yang akan dievaluasi. Pengamat harus orang yang sudah mengenal orang-orang yang diobservasi agar penafsirannya terhadap perilaku yang muncul tidak salah .
Sekian Terimakasih
Nama: Farhan Iqbal Pratama
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat siang Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. September 2017. Oleh Rukiyati.”
Sekolah merupakan rumah kedua setelah keluarga bagi peserta didik. Adanya sekolah memberikan kesempatan pada anak untuk dapat belajar ilmu yang sebelumnya tidak didapatkan di rumah (keluarga). Menurut Bronfenbrenner (1972: 22) mengatakan bahwa sekolah sebagai mikrosistem yang merupakan pola aktivitas yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang dalam lingkungan kehidupan yang mana individu akan menghabiskan waktunya bersosial dengan keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Dikatakan dalam jurnal tersebut bahwasannya sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu (Rukiyati, 2017: 71). Pendidikan moral harus dilakukan secara komprehensif agar dapat berjalan lebih optimal. Lalu, bagaimana caranya? Berikut kita akan membahasnya.
Berdasarkan jurnal, bahwasannya dalam mewujudkan pendidikan nilai dan moral yang komprehensif di sekolah adalah sebagai berikut.
a. Guru merupakan ujung tombak pendidikan di sekolah yang mana guru harus bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan moral yang baik. Guru harus menjadi teladan atau role model yang dapat menjadi contoh yang baik. Secara tidak langsung, peserta didik akan meniru hal yang dilakukan oleh gurunya. Oleh karena itu, peran guru sangatlah penting.
b. Pendidikan moral harus diajarkan oleh guru dengan baik agar anak paham. Pendidikan moral yang diajarkan bukan semata-mata hanya pengetahuannya saja namun peseta didik dapat diberikan contoh secara nyata melalui tayangan video, diberi nasihat yang baik, diarahkan untuk memiliki sikap jujur, disiplin, toleransi, kerja sama, dll.
c. Metode pengajaran pendidikan moral juga harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Metode yang dapat dilakukan sebagai contoh dari saya adalah reward dan punishment yang mana bagi peserta didik yang paham mengenai pembelajaran nilai moral akan mendapat sebuah reward dan peserta didik yang berperilaku kurang baik akan diberikan punishment yang masih dalam taraf wajar. Selain itu, metode yang lain adalah inkulkasi nilai, metode ketaladanan, metode klarifikasi nilai, metode fasilitasi nilai, dan metode keterampilan nilai moral.
d. Evaluasi dari pendidikan nilai perlu dilakukan untuk mengukur sudah sejauh mana perkembangan moral peserta didik dalam berperilaku sehari-hari.
Adanya pendidikan moral di sekolah menjadi wadah bagi peserta didik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus yang berkualitas dengan nilai dan moral yang baik.
Sekian analisis jurnal dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat siang Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. September 2017. Oleh Rukiyati.”
Sekolah merupakan rumah kedua setelah keluarga bagi peserta didik. Adanya sekolah memberikan kesempatan pada anak untuk dapat belajar ilmu yang sebelumnya tidak didapatkan di rumah (keluarga). Menurut Bronfenbrenner (1972: 22) mengatakan bahwa sekolah sebagai mikrosistem yang merupakan pola aktivitas yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang dalam lingkungan kehidupan yang mana individu akan menghabiskan waktunya bersosial dengan keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Dikatakan dalam jurnal tersebut bahwasannya sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu (Rukiyati, 2017: 71). Pendidikan moral harus dilakukan secara komprehensif agar dapat berjalan lebih optimal. Lalu, bagaimana caranya? Berikut kita akan membahasnya.
Berdasarkan jurnal, bahwasannya dalam mewujudkan pendidikan nilai dan moral yang komprehensif di sekolah adalah sebagai berikut.
a. Guru merupakan ujung tombak pendidikan di sekolah yang mana guru harus bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan moral yang baik. Guru harus menjadi teladan atau role model yang dapat menjadi contoh yang baik. Secara tidak langsung, peserta didik akan meniru hal yang dilakukan oleh gurunya. Oleh karena itu, peran guru sangatlah penting.
b. Pendidikan moral harus diajarkan oleh guru dengan baik agar anak paham. Pendidikan moral yang diajarkan bukan semata-mata hanya pengetahuannya saja namun peseta didik dapat diberikan contoh secara nyata melalui tayangan video, diberi nasihat yang baik, diarahkan untuk memiliki sikap jujur, disiplin, toleransi, kerja sama, dll.
c. Metode pengajaran pendidikan moral juga harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Metode yang dapat dilakukan sebagai contoh dari saya adalah reward dan punishment yang mana bagi peserta didik yang paham mengenai pembelajaran nilai moral akan mendapat sebuah reward dan peserta didik yang berperilaku kurang baik akan diberikan punishment yang masih dalam taraf wajar. Selain itu, metode yang lain adalah inkulkasi nilai, metode ketaladanan, metode klarifikasi nilai, metode fasilitasi nilai, dan metode keterampilan nilai moral.
d. Evaluasi dari pendidikan nilai perlu dilakukan untuk mengukur sudah sejauh mana perkembangan moral peserta didik dalam berperilaku sehari-hari.
Adanya pendidikan moral di sekolah menjadi wadah bagi peserta didik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus yang berkualitas dengan nilai dan moral yang baik.
Sekian analisis jurnal dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis mengenai jurnal diatas yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Pendidikan moral di sekolah memiliki peranan yang sangat amat penting dalam membentuk sikap, tutur kata, tingkah laku serta kepribadian yang baik untuk membangun generasi muda yang berkualitas. Penerapan pendidikan moral di sekolah tentunya juga didukung oleh adanya tenaga pendidik, oleh karena itu tenaga pendidik adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan disekolah akan lebih mudah diterima serta dipahami oleh para peserta didik.
Materi serta metode pendidikan moral yang ditanamkan di sekolah sangatlah beragam. Inti dari materi moral yang ditanamkan adalah mengenai ajaran serta pengalaman belajar untuk menjadi orang yang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, terhadap sesama manusia ataupun terhadap alam dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ( Zuriah, 2010). Metode yang dapat diterapkan yaitu Inklusi Nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai serta metode keterampilan nilai moral. Dengan memperhatikan komponen-komponen diatas mengenai materi, metode atau yang lainnya maka sekolah bersama guru mampu untuk merancang pendidikan moral secara lenih komprehensif sehingga hasilnya yang dicapai akan lebih optimal.
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis mengenai jurnal diatas yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Pendidikan moral di sekolah memiliki peranan yang sangat amat penting dalam membentuk sikap, tutur kata, tingkah laku serta kepribadian yang baik untuk membangun generasi muda yang berkualitas. Penerapan pendidikan moral di sekolah tentunya juga didukung oleh adanya tenaga pendidik, oleh karena itu tenaga pendidik adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan disekolah akan lebih mudah diterima serta dipahami oleh para peserta didik.
Materi serta metode pendidikan moral yang ditanamkan di sekolah sangatlah beragam. Inti dari materi moral yang ditanamkan adalah mengenai ajaran serta pengalaman belajar untuk menjadi orang yang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, terhadap sesama manusia ataupun terhadap alam dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ( Zuriah, 2010). Metode yang dapat diterapkan yaitu Inklusi Nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai serta metode keterampilan nilai moral. Dengan memperhatikan komponen-komponen diatas mengenai materi, metode atau yang lainnya maka sekolah bersama guru mampu untuk merancang pendidikan moral secara lenih komprehensif sehingga hasilnya yang dicapai akan lebih optimal.
Nama: Ika Saefitri
Npm: 2113053099
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Pendidikan Moral di Sekolah"
Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik.
Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu Maka, pengembangan manusia dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi "keseluruhan tindakan dan komunikasi lisan dan tertulis yang melihat tujuan pendidikan lebih mengutamakan pada upaya membantu, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh, termasuk di dalamnya sisi kognitif, emosional, sosial, etik, kreatif dan spiritualnya. Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi, metode, dan evaluasinya.
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
Npm: 2113053099
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Pendidikan Moral di Sekolah"
Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik.
Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu Maka, pengembangan manusia dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi "keseluruhan tindakan dan komunikasi lisan dan tertulis yang melihat tujuan pendidikan lebih mengutamakan pada upaya membantu, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh, termasuk di dalamnya sisi kognitif, emosional, sosial, etik, kreatif dan spiritualnya. Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi, metode, dan evaluasinya.
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan cara membiasakan peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Yuninda Putri
2113053045
3C
Dari jurnal artikel tersebut yang berjudul " Pendidikan Moral di sekolah " dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponenkomponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
2113053045
3C
Dari jurnal artikel tersebut yang berjudul " Pendidikan Moral di sekolah " dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponenkomponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Reza Fitriyani Sari
Npm : 2113053094
Analisis Jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Menurut Bronfenbrenner (1979:22) mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng-habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. seorang individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru-guru, teman sebaya dan yang lain.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Guru adalah pendidik utama di sekolah. Namun, pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata. Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Pendidikan moral terhadap diri
sendiri yang penting diberikan kepada
peserta didik yaitu : nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta yaitu : nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan
manusia dengan Sang Khalik penting
dilaksanakan terlebih Indonesia adalah
negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode dalam pendidikan moral yaitu Indoktrinasi. Saat ini indoktrinasi dipandang para ahli
sebagai metode yang sudah usang dan
tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai. Kirschenbaum mengetengahkan 34 cara inkulkasi nilai, di antaranya adalah identifikasi nilai-nilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita. Metode lainnya yaitu Metode keteladanan, Metode klarifikasi nilai, Metode fasilitasi nilai, dan Metode keterampilan nilai moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Terima Kasih
Npm : 2113053094
Analisis Jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Menurut Bronfenbrenner (1979:22) mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng-habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. seorang individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru-guru, teman sebaya dan yang lain.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Guru adalah pendidik utama di sekolah. Namun, pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata. Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Pendidikan moral terhadap diri
sendiri yang penting diberikan kepada
peserta didik yaitu : nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta yaitu : nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan
manusia dengan Sang Khalik penting
dilaksanakan terlebih Indonesia adalah
negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode dalam pendidikan moral yaitu Indoktrinasi. Saat ini indoktrinasi dipandang para ahli
sebagai metode yang sudah usang dan
tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai. Kirschenbaum mengetengahkan 34 cara inkulkasi nilai, di antaranya adalah identifikasi nilai-nilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita. Metode lainnya yaitu Metode keteladanan, Metode klarifikasi nilai, Metode fasilitasi nilai, dan Metode keterampilan nilai moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Terima Kasih
Nama: Zahara Ameliani Putri
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Pendidikan Moral di Sekolah
1. Pendidik Moral di Sekolah
Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena itu guru adalah garda terdepan dalam menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa, maka guru juga harus terlebih dahulu memiliki perilaku yang baik . Dengan begitu, siswa tersebut dapat lebih mudah menerima dan meniru pendidikan moral yang diberikan oleh para guru.
2. Materi Pendidikan Moral
Materi pendidikan moral meliputi pelajaran dan pengalaman pembelajaran menjadi pribadi yang bermoral dalam hubungannya dengan diri sendiri, akhlak dalam hubungannya dengan tetangga dan alam semesta, dan moral dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilainilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
3. Metode Pendidikan Moral
a) Metode Inkulkasi nilai
b) Metode keteladanan
c) Metode klarifikasi nilai
d) Metode fasilitasi nilai
e) Metode keterampilan nilai moral
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan oleh guru dan seluruh elemen warga sekolah untuk mencapai pendidikan akhlak yang komprehensif. guru dalam peran utama dapat merencanakan pendidikan moral secara lebih komprehensif, sehingga tercapai hasil yang optimal, yaitu pengembangan nilai moral siswa, sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Pendidikan Moral di Sekolah
1. Pendidik Moral di Sekolah
Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena itu guru adalah garda terdepan dalam menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa, maka guru juga harus terlebih dahulu memiliki perilaku yang baik . Dengan begitu, siswa tersebut dapat lebih mudah menerima dan meniru pendidikan moral yang diberikan oleh para guru.
2. Materi Pendidikan Moral
Materi pendidikan moral meliputi pelajaran dan pengalaman pembelajaran menjadi pribadi yang bermoral dalam hubungannya dengan diri sendiri, akhlak dalam hubungannya dengan tetangga dan alam semesta, dan moral dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilainilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
3. Metode Pendidikan Moral
a) Metode Inkulkasi nilai
b) Metode keteladanan
c) Metode klarifikasi nilai
d) Metode fasilitasi nilai
e) Metode keterampilan nilai moral
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan oleh guru dan seluruh elemen warga sekolah untuk mencapai pendidikan akhlak yang komprehensif. guru dalam peran utama dapat merencanakan pendidikan moral secara lebih komprehensif, sehingga tercapai hasil yang optimal, yaitu pengembangan nilai moral siswa, sehingga menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama: Grace Hanna
NPM: 2113053287
kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan. Lama kelamaan pembiasaan itu ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna. Kantin kejujuran, berbagai kegiatan sosial yang dirancang oleh siswa di sekolah adalah contoh-contoh dari metode keterampilan nilai yang selama ini telah banyak dilakukan di sekolahsekolah menengah.
NPM: 2113053287
kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan. Lama kelamaan pembiasaan itu ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna. Kantin kejujuran, berbagai kegiatan sosial yang dirancang oleh siswa di sekolah adalah contoh-contoh dari metode keterampilan nilai yang selama ini telah banyak dilakukan di sekolahsekolah menengah.
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209
Analisis Jurnal 1
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas.
Meskipun pendidikan disekolah bukan satu-satunya yang menanamkan nilai dan moral kepada peserta didik, tapi secara garis besar peserta didik akan lebih mengikuti peraturan di sekolah.
Oleh sebab itu pihak sekolah harus mampu memberikan fasilitas yang memadai khususnya dalam Pendidikan nilai dan moral. Khususnya bagi seorang guru, guru merupakan contoh yang bagi peserta didik, oleh sebab itu seorang guru haruslah memiliki perilaku dan pemahaman moral yang baik, agar dalam diri peserta didik juga dapat tertanam nilai dan moral yang baik.
Peserta didik merupakan generasi yang akan memegang kendali bangsa, oleh sebab itu sangat penting pendidikan nilai dan moral untuk diajarkan kepada peserta didik, agar mampu menciptakan generasi yang cerdas dan berkualitas dengan tertanamnya nilai dan moral di dalam diri mereka.
NPM : 2113053209
Analisis Jurnal 1
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas.
Meskipun pendidikan disekolah bukan satu-satunya yang menanamkan nilai dan moral kepada peserta didik, tapi secara garis besar peserta didik akan lebih mengikuti peraturan di sekolah.
Oleh sebab itu pihak sekolah harus mampu memberikan fasilitas yang memadai khususnya dalam Pendidikan nilai dan moral. Khususnya bagi seorang guru, guru merupakan contoh yang bagi peserta didik, oleh sebab itu seorang guru haruslah memiliki perilaku dan pemahaman moral yang baik, agar dalam diri peserta didik juga dapat tertanam nilai dan moral yang baik.
Peserta didik merupakan generasi yang akan memegang kendali bangsa, oleh sebab itu sangat penting pendidikan nilai dan moral untuk diajarkan kepada peserta didik, agar mampu menciptakan generasi yang cerdas dan berkualitas dengan tertanamnya nilai dan moral di dalam diri mereka.
Nama : Laela nur vazriyah
NPM : 2113053186
Kelas : 3C
Analisi jurnal yang berjudul “ Pendidikan Moral di Sekolah“.
Henry Giroux (1988: xxxiv)
menyatakan bahwa
Sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam
tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan
lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu :
1. Inkulkasi nilai
2. Metode keteladanan
3. Metode klarifikasi nilai
4. Metode fasilitasi nilai
5. Metode keterampilan nilai moral.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen-
komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
NPM : 2113053186
Kelas : 3C
Analisi jurnal yang berjudul “ Pendidikan Moral di Sekolah“.
Henry Giroux (1988: xxxiv)
menyatakan bahwa
Sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam
tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan
lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu :
1. Inkulkasi nilai
2. Metode keteladanan
3. Metode klarifikasi nilai
4. Metode fasilitasi nilai
5. Metode keterampilan nilai moral.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen-
komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 " Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Pendidikan moral harus diselenggarakan disetiap sekolah, karena pada dasarnya sekolah berfungsi untuk menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah tidak hanya dilakukan oleh pendidik saja, akan tetapi dilakukan oleh seluruh komponen sekolah seperti materi, metode dan evaluasi nya agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Metode dalam pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, serta pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Agar pendidikan moral dapat tercapai secara optimal yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Maka sekolah dan pendidik juga harus melakukan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 " Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Pendidikan moral harus diselenggarakan disetiap sekolah, karena pada dasarnya sekolah berfungsi untuk menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah tidak hanya dilakukan oleh pendidik saja, akan tetapi dilakukan oleh seluruh komponen sekolah seperti materi, metode dan evaluasi nya agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Metode dalam pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, serta pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Agar pendidikan moral dapat tercapai secara optimal yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Maka sekolah dan pendidik juga harus melakukan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
Npm : 2113053254
Kelas : 3C
Izin memberikan hasil analisis saya terkait jurnal berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat peserta didik untuk menimba ilmu, sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu pengetahuan. Sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Tentu saja di sekolah terdapat pendidik yang biasa disebut dengan guru. Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka dari itu guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Hal tersebut berarti pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didik.
Pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri berkaitan dengan nilai- nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk membuang sampah sembarangan. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, seperti beribadah dengan taat.
Dalam penanaman pendidikan moral ada beberapa metode yang dilakukan diantaranya inkulkasi nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai, dan keterampilan nilai moral. Tak hanya metode saja, pendidikan moral juga melakukan evaluasi agar mengetahui ketercapaian tujuan. Jadi, pendidikan moral di sekolah sangatlah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik.
Terima kasih.
Npm : 2113053254
Kelas : 3C
Izin memberikan hasil analisis saya terkait jurnal berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat peserta didik untuk menimba ilmu, sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu pengetahuan. Sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Tentu saja di sekolah terdapat pendidik yang biasa disebut dengan guru. Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka dari itu guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Hal tersebut berarti pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didik.
Pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral terhadap diri sendiri berkaitan dengan nilai- nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk membuang sampah sembarangan. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, seperti beribadah dengan taat.
Dalam penanaman pendidikan moral ada beberapa metode yang dilakukan diantaranya inkulkasi nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai, dan keterampilan nilai moral. Tak hanya metode saja, pendidikan moral juga melakukan evaluasi agar mengetahui ketercapaian tujuan. Jadi, pendidikan moral di sekolah sangatlah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Putri ristamarin
Npm : 2013053185
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18)
mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan
nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru merupakan pendidik pertama di sekolah. Tetapi tidak hanya guru saja melainkan seluruh warga sekolah turut andil dalam mendidik moral peserta didik. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang
baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
a. Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu.
b. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
c. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan
nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
d. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945). Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan negara komunis. Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral diberi tempat yang khusus dan penting.
3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Adapun metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan
evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. Berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas.
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Putri ristamarin
Npm : 2013053185
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18)
mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan
nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Ketiga kelompok nilai inilah yang sekarang menjadi wacana dengan istilah yang populer: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru merupakan pendidik pertama di sekolah. Tetapi tidak hanya guru saja melainkan seluruh warga sekolah turut andil dalam mendidik moral peserta didik. Guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang
baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
a. Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu.
b. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
c. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan
nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.
d. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 29 UUD 1945). Indonesia berbeda dengan negara sekuler dan negara komunis. Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral diberi tempat yang khusus dan penting.
3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Adapun metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan
evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. Berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas.
Nama : Farida Julia Saputri
NPM : 2113053073
Kelas : 3 C
Jurnal 1
Berikut ini adalah hasil analisis jurnal menurut saya dengan topik yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah” bahwa pendidikan moral disekolah sangat penting dilakukan oleh masyarakat yang ada dilingkungan sekolah tersebut baik guru maupun siswanya agar tercapainya pendidikan moral yang komprehensif.
Dalam pengembangan pendidikan moral disekolah tentunya yang menjadi peran utama yaitu pendidik untuk dapat merancang pendidikan moral secara komprehensif sehingga hasilnya dapat tercapai secara optimal yang melibatkan berbagai komponen seperti, pendidik, materi, metode dan evaluasi yang menyeluruh sebagai unsur penting yang harus diperhatikan agar pendidikan moral disekolah dapat berjalan dengan lebih optimal yaitu dengan berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Terimakasih
NPM : 2113053073
Kelas : 3 C
Jurnal 1
Berikut ini adalah hasil analisis jurnal menurut saya dengan topik yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah” bahwa pendidikan moral disekolah sangat penting dilakukan oleh masyarakat yang ada dilingkungan sekolah tersebut baik guru maupun siswanya agar tercapainya pendidikan moral yang komprehensif.
Dalam pengembangan pendidikan moral disekolah tentunya yang menjadi peran utama yaitu pendidik untuk dapat merancang pendidikan moral secara komprehensif sehingga hasilnya dapat tercapai secara optimal yang melibatkan berbagai komponen seperti, pendidik, materi, metode dan evaluasi yang menyeluruh sebagai unsur penting yang harus diperhatikan agar pendidikan moral disekolah dapat berjalan dengan lebih optimal yaitu dengan berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Terimakasih
Nama: Niken Azzahra
NPM: 2153053032
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Berdasarkan pertimbangan di atas, didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah perlu dilakukan perencanaan terkait terkait dengan upaya menumbuhkan pendidikan moral di sekolah yang nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial bersifat komprehensif, yang melibatkan dan nilai-nilai religius.
Indoktrinasi dipandang para ahli kasih, kerja sama, sabar, damai, ramah, sebagai metode yang sudah usang dan kebebasan, murah hati, jujur, adil, setia, tidak sejalan dengan semangat modern moderat, menghargai lingkungan hidup, tersebut. Maka, ada metode lain yang menghargai orang lain, menghargai diri sendiri, tanggung jawab, disiplin diri, sesuai inkulkasi penanaman nilai. Misalnya, Diary di antaranya adalah identifikasi nilai-of a Young Girl, karya Anne Frank yang nilai target, membaca buku-buku sastra ditulis dalam persembunyiannya ketika dan non-fiksi, bercerita.
Sedangkan modern media untuk bercerita dapat dibuat bersama-sama antara guru dan siswa c.
Dalam masyarakat liberal, moral lebih mencapai banyak sasaran dan diperkenalkan lewat proses klarifikasi, keterampilan serta kreatif. Seberapa jauh sesuatu metode bercerita merupakan metode anak, ditentukan oleh anak itu sendiri.
Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, afektif, perilaku . Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai membuat keputusan mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Evaluasi Pendidikan Moral metode, nilai/moral, nilai/moral dan yakni perasaan perilaku nilai/moral.
NPM: 2153053032
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Berdasarkan pertimbangan di atas, didik. Dengan kata lain, fungsi sekolah perlu dilakukan perencanaan terkait terkait dengan upaya menumbuhkan pendidikan moral di sekolah yang nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial bersifat komprehensif, yang melibatkan dan nilai-nilai religius.
Indoktrinasi dipandang para ahli kasih, kerja sama, sabar, damai, ramah, sebagai metode yang sudah usang dan kebebasan, murah hati, jujur, adil, setia, tidak sejalan dengan semangat modern moderat, menghargai lingkungan hidup, tersebut. Maka, ada metode lain yang menghargai orang lain, menghargai diri sendiri, tanggung jawab, disiplin diri, sesuai inkulkasi penanaman nilai. Misalnya, Diary di antaranya adalah identifikasi nilai-of a Young Girl, karya Anne Frank yang nilai target, membaca buku-buku sastra ditulis dalam persembunyiannya ketika dan non-fiksi, bercerita.
Sedangkan modern media untuk bercerita dapat dibuat bersama-sama antara guru dan siswa c.
Dalam masyarakat liberal, moral lebih mencapai banyak sasaran dan diperkenalkan lewat proses klarifikasi, keterampilan serta kreatif. Seberapa jauh sesuatu metode bercerita merupakan metode anak, ditentukan oleh anak itu sendiri.
Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, afektif, perilaku . Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai membuat keputusan mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Evaluasi Pendidikan Moral metode, nilai/moral, nilai/moral dan yakni perasaan perilaku nilai/moral.
Assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh
Nama : Negi titin widyaningtius
NPM: 2113053167
Kelas: 3C
Hasil analisis jurnal 1 yang berjudul Pendidikan Moral di sekolahyaitu
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.
1. Pendidikan moral di sekolah
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral
a. Inkulsasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
terimakasih
waassalamualaikumwarahmatulahi wabarokatuh
Nama : Negi titin widyaningtius
NPM: 2113053167
Kelas: 3C
Hasil analisis jurnal 1 yang berjudul Pendidikan Moral di sekolahyaitu
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.
1. Pendidikan moral di sekolah
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral
a. Inkulsasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
terimakasih
waassalamualaikumwarahmatulahi wabarokatuh
Nama : Kadek Eli
Npm: 2113053117
Kelas: 3C
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh izinkan saya memberikan analisis jurnal yang berjudul pendidikan moral di sekolah.
Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa pendidikan moral sangatlah penting dan harus dilaksanakan secara bersungguh sungguh sehingga nantinya dapat membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas.Tidak hanya guru tetapi warga sekolah juga harus memahami betapa pentingnya pendidikan nilai dan moral. Selain itu kompone komponen sekolah seperti materi, metode mengajar yang bervariasi, serta evaluasi merupakan komponen pendidikan moral yang tidak kalah penting.
Npm: 2113053117
Kelas: 3C
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh izinkan saya memberikan analisis jurnal yang berjudul pendidikan moral di sekolah.
Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa pendidikan moral sangatlah penting dan harus dilaksanakan secara bersungguh sungguh sehingga nantinya dapat membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas.Tidak hanya guru tetapi warga sekolah juga harus memahami betapa pentingnya pendidikan nilai dan moral. Selain itu kompone komponen sekolah seperti materi, metode mengajar yang bervariasi, serta evaluasi merupakan komponen pendidikan moral yang tidak kalah penting.