Apabila ada pertanyaan dari materi yang belum dipahami, silahkan bertanya dan saling memberi pendapat pada forum ini!
Forum Diskusi
nama:dzaky julianzah arief
npm:2153033004
Perkembangan masyarakat prasejarah di Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh kebudayaan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara. Salah satu kebudayaan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat prasejarah Indonesia adalah kebudayaan Bacson-Hoabinh yang identik dengan alat kebutuhan hidup yang terbuat dari batu.
Kebudayaan Bacson-Hoabinh berasal dari peradaban manusia purba di lembah sungai Mekong, Vietnam dan dari kawasan tersebut menyebar ke Asia Tenggara dan Oseania. Budaya ini muncul pada zaman mesolitikum dimana manusia masih menggunakan batu-batuan sebagai bahan dasar alat-alatnya.
Sebagai salah satu kebudayaan utama pada zaman batu, Bacson–Hoabinh dianggap sebagai salah satu pusat kebudayaan zaman batu di Asia Tenggara dan Indochina. Adapun jejak kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di gua-gua dan bukit-bukit kerang yang terletak di sebelah utara Vietnam tepatnya di provinsi Hoabinh.
Istilah kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkenalkan oleh Madeleine Colani, arkeolog Prancis yang melakukan penggalian di kawasan itu. Kebudayaan ini kemudian tersebar sampai ke Thailand, Malaka, dan Sumatera Bagian Timur. Persebaran kebudayaan itu berlangsung secara sambung menyambung.
Bacson–Hoabinh di Indonesia
Dalam sejarahnya, kebudayaan Bacson–Hoabinh muncul di lembah sungai Mekong, Vietnam sekitar 10.000 hingga 4.000 tahun yang lalu. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia-manusia ini bermigrasi ke selatan atau ke kepulauan Indonesia sekitar 2.000 tahun sebelum masehi.
Pengaruh utama budaya Bacson-Hoabinh terhadap perkembangan budaya di Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu. Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai dan alat ini dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu.
Hasil penyerpihan menunjukan adanya keragaman bentuk, ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga, dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Alat-alat khas kebudayaan Bacson-Hoabinh ternyata banyak ditemukan di Indonesia khususnya Sumatera yang berupa kapak genggang Sumatera atau Sumatralith. Alat ini juga ditemukan di Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, meskipun tidak sebanyak di Sumatera.
Peralatan mesolitikum itu ditemukan di bukit-bukit kerang (kjokkenmoddinger) dan gua-gua (abris sous roche). Kondisi itu menunjukan pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh selama berlangsungnya zaman Mesolitikum di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkuat oleh bukti kehadiran ras Papua Melanosoid sebagai pelaku kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche di Indonesia.
Ras itu pulalah yang menjadi pelaku kebudayaan di Tonkin. Di perkirakan ras ini menyebar ke Asia Tenggara pada zaman es saat Dangkalan Sunda dan Sahul terhampar sebagai daratan luas. Ke berbagai tempat mereka menyebar, memperkenalkan, dan menerapkan tradisi kehidupan menetap sementara dalam gua-gua dan membuat peralatan batu yang lebih baik dari peralatan paleolitikum.
npm:2153033004
Perkembangan masyarakat prasejarah di Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh kebudayaan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara. Salah satu kebudayaan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat prasejarah Indonesia adalah kebudayaan Bacson-Hoabinh yang identik dengan alat kebutuhan hidup yang terbuat dari batu.
Kebudayaan Bacson-Hoabinh berasal dari peradaban manusia purba di lembah sungai Mekong, Vietnam dan dari kawasan tersebut menyebar ke Asia Tenggara dan Oseania. Budaya ini muncul pada zaman mesolitikum dimana manusia masih menggunakan batu-batuan sebagai bahan dasar alat-alatnya.
Sebagai salah satu kebudayaan utama pada zaman batu, Bacson–Hoabinh dianggap sebagai salah satu pusat kebudayaan zaman batu di Asia Tenggara dan Indochina. Adapun jejak kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di gua-gua dan bukit-bukit kerang yang terletak di sebelah utara Vietnam tepatnya di provinsi Hoabinh.
Istilah kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkenalkan oleh Madeleine Colani, arkeolog Prancis yang melakukan penggalian di kawasan itu. Kebudayaan ini kemudian tersebar sampai ke Thailand, Malaka, dan Sumatera Bagian Timur. Persebaran kebudayaan itu berlangsung secara sambung menyambung.
Bacson–Hoabinh di Indonesia
Dalam sejarahnya, kebudayaan Bacson–Hoabinh muncul di lembah sungai Mekong, Vietnam sekitar 10.000 hingga 4.000 tahun yang lalu. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia-manusia ini bermigrasi ke selatan atau ke kepulauan Indonesia sekitar 2.000 tahun sebelum masehi.
Pengaruh utama budaya Bacson-Hoabinh terhadap perkembangan budaya di Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu. Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai dan alat ini dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu.
Hasil penyerpihan menunjukan adanya keragaman bentuk, ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga, dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Alat-alat khas kebudayaan Bacson-Hoabinh ternyata banyak ditemukan di Indonesia khususnya Sumatera yang berupa kapak genggang Sumatera atau Sumatralith. Alat ini juga ditemukan di Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, meskipun tidak sebanyak di Sumatera.
Peralatan mesolitikum itu ditemukan di bukit-bukit kerang (kjokkenmoddinger) dan gua-gua (abris sous roche). Kondisi itu menunjukan pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh selama berlangsungnya zaman Mesolitikum di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkuat oleh bukti kehadiran ras Papua Melanosoid sebagai pelaku kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche di Indonesia.
Ras itu pulalah yang menjadi pelaku kebudayaan di Tonkin. Di perkirakan ras ini menyebar ke Asia Tenggara pada zaman es saat Dangkalan Sunda dan Sahul terhampar sebagai daratan luas. Ke berbagai tempat mereka menyebar, memperkenalkan, dan menerapkan tradisi kehidupan menetap sementara dalam gua-gua dan membuat peralatan batu yang lebih baik dari peralatan paleolitikum.