Forum Analisis Jurnal 1

Forum Analisis Jurnal 1

Jumlah balasan: 29

Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Nela Azkia -
Nama: Nela Azkia
Npm: 2513053188

Menurut saya, pendidikan nilai dan moral sangat penting karena pendidikan tidak hanya bertujuan membuat siswa pintar dalam pelajaran, tetapi juga membentuk sikap dan perilakunya. Dalam pendidikan di Aceh, nilai moral juga berkaitan dengan nilai-nilai Islam dan budaya daerah yang diterapkan dalam kegiatan pendidikan.
Pendidikan nilai sebaiknya tidak hanya disampaikan sebagai materi, tetapi juga dilakukan melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa dibiasakan untuk jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan peduli terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui pembelajaran, aturan sekolah, kegiatan sekolah, maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Menurut saya, guru juga memiliki peran penting karena guru menjadi contoh bagi siswa. Jika guru menunjukkan sikap disiplin, sopan, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain, siswa akan lebih mudah melihat dan meniru contoh tersebut. Jadi, pendidikan moral tidak cukup hanya dengan menjelaskan teori, tetapi harus terlihat dalam perilaku sehari-hari.

Namun, penerapannya masih memiliki kendala. Beberapa guru dan sekolah masih mengalami kesulitan dalam menerapkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh. Nilai tersebut terkadang hanya dicantumkan dalam perangkat pembelajaran dan belum diterapkan secara konsisten selama proses pembelajaran.
Dari artikel tersebut, saya memahami bahwa pendidikan nilai dan moral akan lebih efektif jika dilakukan secara terus-menerus melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengetahui nilai yang baik, tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Nayla Salsa Ramadhani -
Nayla Salsa Ramadhani 2513053167
Jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk sikap serta perilaku peserta didik. menurut saya, pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan atau nilai akademik saja, tetapi juga bagaimana siswa itu bisa memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. pendidikan nilai dan moral menjadi penting karena lingkungan dan perkembangan zaman itu dapat memengaruhi bagaimana cara siswa dakam berpikir dan bertindak. dijelaskan juga bahwa pendidikan di Aceh itu memiliki ciri yang berbeda karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, juga dipadukan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. nah nilai-nilai tersebut tidak hanya diberikan melalui pelajaran agama saja, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan di sekolah. hal ini membuat pendidikan nilai dan moral itu menjadi bagian dari kehidupan siswa di sekolah, bukan hanya materi yang dipelajari di kelas.
menurut saya, penerapan nilai dan moral akan lebih mudah dipahami oleh siswa jika tidak hanya diberikan dalam bentuk teori atau nasihat saja tetapi siswa juga perlu melihat contoh nyata dan dibiasakan untuk menerapkannya, misalnya dengan membiasakan disiplin, bersikap sopan, menghargai orang lain, mengikuti aturan, dan melakukan kegiatan yang sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan. nah dalam hal ini, guru memiliki peran yang cukup penting karena sikap guru juga dapat menjadi contoh bagi siswa. namun, penerapan pendidikan nilai dan moral dalam kurikulum juga masih memiliki beberapa kendala. dalam jurnal dijelaskan bahwa masih ada guru yang belum sepenuhnya memahami bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran secara nyata dan ada yang hanya mencantumkan nilai tersebut dalam pembelajaran, tetapi belum benar-benar menerapkannya dalam proses belajar. selain itu jg kesiapan sekolah, fasilitas, dan metode pembelajaran juga dapat memengaruhi keberhasilan penerapannya. dari jurnal ini saya memahami bahwa pendidikan nilai dan moral itu seharusnya dilakukan secara terus-menerus bukan hanya ketika ada materi tentang moral atau agama aja. nilai tersebut perlu dibiasakan melalui kegiatan sehari-hari di sekolah dan didukung oleh contoh dari guru. dengan begitu siswa tidak hanya tahu mana yang baik dan buruk, tetapi juga bisa membiasakan diri untuk melakukan hal yang baik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Risma Calista Putri -
Risma Calista Putri 2513053179

Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Pembahasan dalam jurnal berfokus pada bagaimana pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan Islam, budaya, adat, dan kearifan lokal. Penerapan tersebut didukung oleh kebijakan pendidikan Aceh, salah satunya Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Pendidikan nilai dan moral dalam jurnal dijelaskan sebagai bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran, pembiasaan, budaya sekolah, kegiatan sekolah, serta keteladanan guru.
Dalam penerapannya, kurikulum pendidikan di Aceh menggunakan konsep kurikulum nasional yang dipadukan dengan pendidikan Islam dan muatan lokal. Muatan lokal tersebut meliputi bahasa daerah, sejarah Aceh, adat dan budaya, kearifan lokal, serta keterampilan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan kehidupan di sekolah, sehingga pendidikan karakter tidak hanya diberikan melalui materi, tetapi juga melalui kebiasaan dan lingkungan sekolah. Guru juga memiliki peran penting karena menjadi salah satu pihak yang memberikan contoh secara langsung kepada peserta didik.
Meskipun memiliki konsep yang cukup jelas, jurnal menunjukkan bahwa pelaksanaan kurikulum Islam di Aceh masih menghadapi beberapa kendala. Implementasinya belum berjalan secara merata karena masih terdapat sekolah dan guru yang belum memahami konsep serta cara penerapannya secara menyeluruh. Selain itu, terdapat kendala dalam fasilitas, metode pembelajaran, evaluasi, dan kesiapan sekolah. Nilai-nilai Islam juga masih sering dicantumkan dalam RPP atau disampaikan pada awal pembelajaran, tetapi belum sepenuhnya diterapkan dalam seluruh proses pembelajaran.

Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral tidak cukup hanya dibuat dalam bentuk kebijakan atau dicantumkan dalam kurikulum, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Integrasi nilai Islam dan budaya lokal di Aceh dapat menjadi cara untuk membentuk karakter peserta didik sesuai dengan lingkungan mereka. Namun, penerapannya perlu didukung oleh kesiapan guru, fasilitas yang memadai, pemahaman yang sama mengenai kurikulum, serta evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai yang diajarkan benar-benar terlihat dalam perilaku peserta didik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Syifa olivia -
Nama: Syifa Olivia
NPM: 2513053183

Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” karya Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff membahas bagaimana nilai dan moral diterapkan dalam sistem pendidikan di Aceh. Pendidikan di Aceh memiliki kekhususan karena pendidikan nasional juga dipadukan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam jurnal dijelaskan bahwa pendidikan nilai tidak hanya diberikan melalui materi pelajaran. Nilai juga dimasukkan dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan sekolah, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pembiasaan dan keteladanan juga digunakan dalam membentuk nilai pada diri siswa.
Menurut saya, bagian yang menarik adalah pendidikan moral ternyata bisa dibentuk dari hal-hal yang dilakukan siswa setiap hari. Misalnya membiasakan siswa bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai teman, mengikuti aturan, dan menjaga sikap ketika berada di sekolah. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau dilakukan terus-menerus bisa menjadi kebiasaan.
Peran guru juga cukup penting karena siswa SD masih banyak belajar dari contoh yang mereka lihat. Jadi, ketika guru mengajarkan disiplin atau tanggung jawab, guru juga perlu menunjukkan sikap tersebut dalam kesehariannya. Menurut saya, keteladanan seperti ini kadang justru lebih mudah dipahami anak daripada hanya diberi penjelasan tentang pengertian moral.
Dari jurnal ini juga terlihat bahwa pendidikan nilai tidak bisa hanya mengandalkan satu mata pelajaran. Lingkungan sekolah secara keseluruhan ikut berpengaruh. Cara guru berinteraksi dengan siswa, kebiasaan yang diterapkan di sekolah, dan kegiatan yang dilakukan siswa semuanya bisa menjadi bagian dari proses pembentukan moral.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Arista Klara Setianingrum -
Arista Klara Setianingrum
2513053170

Pada jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas terkait pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di aceh dari landasan penyelenggaraan sampai pengimplementasian dalam pendidikan. Berbeda dari provinsi lain yang ada di indonesia, Aceh memiliki otonomi khusus dalam berbagai bidang salah satunya bidang pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan Islam berpedoman pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Pasal 1 ayat 21 adalah pendidikan yang didasarkan atau dijiwai dengan ajaran Islam.
Pendidikan di aceh mengintegrasikan budaya islami yang ada di kehidupan masyarakat di Aceh. Penerapan kurikulum islami adalah bentuk komitmen pemerintah aceh terkait pendidikan yang ada di provinsi aceh, selain itu kurikulum ini sangat cocok dengan budaya masyarakat. Penerapan kurikulum islami berfokus secara luas dari penerapan nilai-nilai islam dalam kehidupan sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat. Sehingga nilai-nilai dan moral tersebut menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengimplementasian pendidikan nilai dan moral pada sekolah-sekolah di kabupaten/kota aceh masih terdapat kendala seperti kurikulum islami hanya dimaknai wacana tanpa aksi nyata karena belum ada gambaran secara nyata tentang proses pengajaran, pembelajaran, dan evaluasi. Selain itu, dari pengakuan guru pemahaman kurikulum aceh belum utuh dan sulit untuk diterapkan di sekolah.
Dari beberapa uraian diatas dapat dilihat bahwa pendidikan nilai dan moral sejalan dengan ajaran islam. Integrasi nilai dan moral antara budaya suatu daerah dengan pendidikan dapat menjadi salah satu alternatif yang jika dipersiapkan lebih matang maka akan optimal dalam penerapannya. Dalam upaya mengimplementasikan nilai dan moral tidak hanya perlu aturan tertulis, tetapi harus mempertimbangkan budaya dalam masyarakat, kesiapan guru, sarana dan prasarana yang memadai, pemahaman mengenai proses pengajaran, pembelajaran, dan evaluasi secara berkelanjutan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Gracella Pelita Utomo -
Gracella Pelita Utomo
2513053178

Jurnal ini menjelaskan betapa pentingnya belajar nilai dan moral dalam menghadapi perubahan sosial yang terus berlangsung dengan cepat. Penulis mengatakan bahwa kemajuan teknologi dan perubahan cara hidup dapat mengubah cara anak muda berperilaku, sehingga pendidikan sangat penting dalam membentuk sikap dan kepribadian siswa. Di Aceh, pendidikan tidak hanya mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi juga mengacu pada keistimewaan daerah.Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran nilai dan moral di Aceh dilakukan melalui kurikulum berbasis agama Islam, yang didasarkan pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Nilai-nilai Islam diaplikasikan dalam semua kegiatan belajar mengajar, baik melalui pelajaran, budaya sekolah, maupun kegiatan di luar kurikulum. Meski penerapannya masih mengalami beberapa hambatan, khususnya terkait kesiapan para guru, pemahaman terhadap kurikulum, serta fasilitas pendukungnya. Secara umum, jurnal ini menyatakan bahwa pendidikan nilai dan moral tidak cukup diajarkan hanya melalui teori, tetapi harus diterapkan dalam semua aspek kehidupan di sekolah agar mampu membentuk karakter siswa yang berakhlak baik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Siti Zahra Ramadhani -
Nama: Siti Zahra Ramadhani
Npm: 2513053189

Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membangun karakter siswa di tengah transformasi sosial dan kemajuan teknologi. Pendidikan tidak hanya menekankan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan sikap siswa. Dalam konteks Aceh, pendidikan memiliki ciri khas karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, juga berdasar pada ajaran Islam dan Qanun Aceh.

Aceh menerapkan kurikulum yang menggabungkan kurikulum nasional bersama pendidikan Islam dan muatan lokal. Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui berbagai pelajaran, kebiasaan, contoh dari guru, budaya sekolah, serta aktivitas di dalam dan luar pembelajaran. Menurut saya pendekatan ini sangat penting karena pendidikan moral akan lebih mudah terwujud jika siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga menyaksikan dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

Secara keseluruhan, jurnal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan nilai dan moral tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, melainkan juga oleh guru, sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Kelebihan pembahasannya adalah menjelaskan hubungan antara kebijakan, kurikulum, dan pembentukan karakter siswa. Namun, penerapannya tetap membutuhkan konsistensi dan keterampilan guru agar nilai-nilai yang diajarkan benar-benar terlihat dalam perilaku siswa.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh syafina aulia -
Syafina aulia
2513053164

Menurut saya, jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa, khususnya di Aceh yang menerapkan pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Pendidikan tidak hanya bertujuan membuat siswa pintar dalam pelajaran, tetapi juga membentuk sikap seperti jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Guru juga punya peran penting karena siswa tidak hanya belajar dari materi, tetapi juga dari contoh perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penerapan kurikulum Islami di Aceh masih memiliki kendala karena sebagian guru belum memahami cara mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran secara nyata.

Menurut saya, pendidikan nilai akan lebih efektif jika tidak hanya ditulis dalam kurikulum, tetapi benar-benar diterapkan melalui kebiasaan dan contoh nyata di sekolah.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Sindi Aulia -
Nama: Sindi Aulia
Npm: 2513053171

Menurut saya, jurnal ini membahas hal yang cukup penting karena pendidikan nilai dan moral memang tidak hanya berkaitan dengan materi pelajaran, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan peserta didik. Jurnal ini menjelaskan bahwa pendidikan di Aceh memiliki kekhususan karena selain mengikuti pendidikan nasional, juga menerapkan pendidikan yang berpedoman pada ajaran Islam melalui kurikulum Islami dan qanun pendidikan Aceh. Penerapan pendidikan nilai dan moral melalui kurikulum Islami merupakan hal yang baik karena nilai tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga dapat diterapkan melalui pembiasaan, budaya sekolah, keteladanan guru, dan kegiatan pembelajaran. Jurnal juga menjelaskan bahwa penanaman nilai dapat dilakukan melalui pengetahuan moral, perasaan terhadap kebaikan, tindakan moral, serta keteladanan. Hal ini menunjukkan bahwa guru mempunyai peran penting karena guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi contoh bagi peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.
Namun, menurut saya, bagian yang menjadi masalah adalah penerapan kurikulum Islami di sekolah belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan. Dalam jurnal dijelaskan bahwa masih ada sekolah yang belum memahami kurikulum Islami secara utuh, bahkan penerapannya belum memiliki pola yang sama. Guru juga masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam mata pelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa adanya aturan atau kurikulum saja belum cukup apabila tidak diikuti dengan pemahaman guru dan contoh penerapan yang jelas. Namun pengintegrasian nilai jangan sampai hanya sebatas mencantumkan nilai religius dalam RPP atau menyampaikan nasihat di awal pembelajaran. Nilai moral seharusnya terlihat dalam proses pembelajaran dan perilaku sehari-hari peserta didik. Karena itu, guru perlu memberikan contoh secara langsung, membiasakan peserta didik melakukan perilaku yang baik, dan menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pembentukan karakter.

Secara keseluruhan, menurut saya jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral akan lebih bermakna apabila tidak hanya menjadi bagian dari dokumen kurikulum, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sekolah. Kekhususan Aceh dalam menerapkan kurikulum Islami dapat menjadi dasar dalam membentuk peserta didik yang memiliki nilai agama, moral, dan budaya. Akan tetapi, pelaksanaannya tetap membutuhkan kesiapan guru, sarana pendukung, serta penerapan yang konsisten agar nilai-nilai tersebut benar-benar dapat dipahami dan diterapkan oleh peserta didik.
Sebagai balasan Sindi Aulia

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh AULIA TAZKIA ANNAAFI -
Nama: Aulia Tazkia Annaafi
Npm: 2513053165
Kelas: 3G


Artikel yang berjudul Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh karya Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff membahas mengenai penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan di Aceh memiliki karakteristik yang berkaitan dengan penerapan nilai-nilai Islam. Hal tersebut didukung oleh adanya kekhususan Aceh dalam penyelenggaraan pendidikan serta aturan daerah yang menjadi dasar dalam penerapan pendidikan berbasis nilai dan moral. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik, tetapi juga untuk membentuk sikap, perilaku, dan karakter yang sesuai dengan nilai yang dianut dalam lingkungan masyarakat Aceh.
Menurut analisis saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral tidak ditempatkan sebagai materi yang berdiri sendiri, tetapi dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah. Nilai-nilai tersebut dapat dimasukkan ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, budaya sekolah, maupun kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, pembentukan moral siswa tidak cukup hanya dengan memberikan penjelasan mengenai mana perilaku yang baik dan mana yang kurang baik. Nilai tersebut perlu dibiasakan dan diterapkan secara langsung sehingga peserta didik dapat memahami maknanya melalui pengalaman.

Jurnal ini juga memperlihatkan bahwa guru mempunyai peran penting dalam pembentukan nilai dan moral peserta didik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi contoh bagi siswa dalam menunjukkan perilaku yang baik. Sikap disiplin, tanggung jawab, sopan santun, cara berkomunikasi, dan cara guru berinteraksi dengan siswa dapat menjadi bagian dari proses pendidikan moral. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik dapat belajar nilai bukan hanya dari apa yang disampaikan oleh guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan alami di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, keteladanan guru menjadi salah satu bagian penting dalam keberhasilan pendidikan nilai dan moral.

Penerapan pendidikan nilai dan moral dalam jurnal ini juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan kehidupan nyata peserta didik. Nilai seperti disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan kebiasaan berperilaku baik merupakan nilai yang dibutuhkan siswa tidak hanya ketika berada di sekolah, tetapi juga ketika berada di rumah dan lingkungan masyarakat. Budaya sekolah yang dibangun melalui kebiasaan sehari-hari dapat membantu siswa untuk menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Misalnya, pembiasaan untuk menaati aturan sekolah dapat membentuk sikap disiplin, sedangkan kebiasaan berkomunikasi dengan sopan dapat membantu siswa dalam membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

Dari pembahasan tersebut dapat dianalisis bahwa pendidikan moral akan lebih bermakna apabila nilai yang diajarkan tidak hanya berhenti pada pemahaman secara teori. Peserta didik perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan nilai tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Dengan adanya hubungan antara pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan guru, dan lingkungan peserta didik, proses pembentukan karakter dapat berlangsung secara lebih menyeluruh. Hal ini menjadi penting karena tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga siswa yang mampu menggunakan pengetahuannya dengan sikap dan perilaku yang baik.

Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan gambaran bahwa pendidikan nilai dan moral perlu menjadi bagian dari keseluruhan proses pendidikan. Pendidikan moral dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas sekaligus melalui kebiasaan dan budaya yang dibangun di lingkungan sekolah. Menurut saya, pendekatan seperti ini cukup relevan diterapkan di sekolah dasar karena siswa masih berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan contoh dan pembiasaan secara langsung. Dengan demikian, nilai yang dipelajari siswa dapat lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan nyata dan diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh anggun pratistia -

Nama: Anggun Andhita Pratistia

NPM: 2513053174

Jurnal ini mengkaji pendidikan nilai dan moral di Aceh yang berjalan ganda mengikuti sistem nasional sekaligus diperkuat kurikulum Islami berbasis Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Kerangka pendidikannya memadukan delapan belas nilai nasional dengan nilai moral Islami yang berakar pada Al-Qur’an dan Hadis, mencakup hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama serta lingkungan, yang diintegrasikan ke seluruh kegiatan sekolah, bukan sebagai mata pelajaran tersendiri.

Meskipun landasan kebijakan dan tujuan sudah kuat, pelaksanaannya di lapangan belum merata dan mendalam; hanya sekitar tujuh persen sekolah yang telah mencoba menerapkannya secara nyata, pemahaman guru belum utuh, sarana prasarana terbatas, dan penyisipan nilai sering kali sekadar tertulis di awal dokumen perencanaan pembelajaran tanpa menyatu seutuhnya ke proses belajar mengajar. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan ideal dengan realitas penerapan, sehingga keberhasilan pendidikan nilai di Aceh tidak cukup hanya didasarkan pada peraturan, melainkan juga memerlukan kesiapan pendidik, dukungan sarana, serta konsistensi pembiasaan nilai dalam setiap aspek kehidupan sekolah agar benar-benar tertanam dan mewujudkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Malaya Zahratu Seroja -
Malaya Zahratu Seroja 2513053186

Penelitian dalam jurnal ini berfokus pada masalah penurunan moral dan perubahan gaya hidup remaja di Aceh akibat pengaruh teknologi dan budaya luar. Untuk mengatasinya, Pemerintah Aceh memanfaatkan hak otonomi khususnya dengan mengeluarkan aturan daerah yaitu, Qanun No. 9 Tahun 2015. Aturan ini menjadi dasar untuk membuat sistem pendidikan khusus yang menggabungkan karakter nasional dengan akhlak Islami, agar bisa membentuk generasi muda yang religius dan bermartabat. Selanjutnya, jurnal ini menjelaskan bahwa nilai moral yang diajarkan merujuk pada pemikiran Al-Ghazali, seperti kebijaksanaan, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan. Konsep ini diterapkan melalui model kurikulum nasional plus, yaitu kurikulum nasional yang ditambah pelajaran agama dan muatan lokal seperti bahasa daerah, sejarah Aceh, dan tari tradisional. Nilai-nilai Islam tersebut dimasukkan ke dalam materi pelajaran di kelas, budaya sekolah sehari-hari, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

‎Namun, model kurikulum nasional plus ini masih menghadapi tantangan dalam implementasinya. Jurnal ini menemukan fakta bahwa penerapan kurikulum Islami ini ternyata masih sangat rendah. Di lapangan, kurikulum ini terkesan diterapkan secara tergesa-gesa tanpa persiapan fasilitas yang matang karena pihak sekolah belum mendapatkan gambaran nyata tentang proses pengajaran, pembelajaran, dan evaluasi yang ingin diterapkan oleh dinas pendidikan. Akibatnya, tercatat baru sekitar 7 persen sekolah tingkat SMA/SMK di Aceh yang baru mencoba menerapkan sistem kurikulum khusus ini. Kendala terbesar yang diungkap dalam analisis jurnal ini adalah faktor kesiapan guru. Banyak guru yang masih bingung bagaimana cara menyelipkan nilai-nilai agama ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara mendalam. Sehingga meskipun Aceh sudah memiliki payung hukum yang sangat kuat dan konsep yang bagus, kurikulum ini belum berjalan sukses karena guru belum mendapatkan pelatihan yang jelas, sehingga penerapan nilai agama di kelas sering kali baru sebatas formalitas di awal pelajaran saja.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Santri Ariska -
Nama: Santri Ariska
Npm: 2513053180

Setelah membaca jurnal ini, saya jadi paham kalau pendidikan di Aceh punya ciri khas tersendiri. Karena Aceh punya otonomi khusus, sekolah di sana tidak hanya memakai kurikulum nasional, tapi juga dilengkapi aturan sendiri lewat Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Isinya, semua pembelajaran diarahkan supaya sejalan dengan ajaran Islam dan budaya Aceh, dengan tambahan muatan lokal seperti bahasa daerah, sejarah Aceh, dan adat.
Hal yang menurut saya menarik, pendidikan nilai di sini tidak dijadikan satu mata pelajaran khusus, tapi diselipkan ke semua pelajaran dan kegiatan sekolah. Contohnya lewat kebiasaan disiplin, cara berkomunikasi yang sopan, aturan berseragam, sampai kegiatan ekstrakurikuler seperti tari Ranup Lampuan. Jadi anak belajar nilai bukan cuma dari buku, tapi dari suasana sekolahnya sendiri.
Tapi kalau melihat kenyataannya, jurnal ini juga mengakui ada banyak masalah. Kurikulumnya dianggap terlalu cepat diterapkan, fasilitas pendukungnya belum siap, dan hanya sedikit sekolah yang benar-benar menjalankannya. Guru juga masih bingung cara memasukkan nilai Islam ke pelajaran seperti matematika atau PPKn, sehingga hasilnya berbeda-beda di tiap sekolah.
Menurut saya, konsepnya sudah bagus, tapi supaya benar-benar berjalan, guru perlu dibekali pelatihan dan panduan yang jelas dulu. Soalnya sebagus apa pun aturannya, kalau gurunya belum siap, nilai moral itu tidak akan sampai ke siswa.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh khansa a zalfaa aathifah -
Nama: Khansa'a zalfaa aathifah
Npm: 2513053169
Menurut saya jurnal ini membahas bagaimana pendidikan tidak hanya fokus pada meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku mereka di tengah perubahan sosial dan masalah krisis moralitas. Dari artikel tersebut, saya tahu bahwa pendidikan di Aceh memiliki ciri khas karena selain mengikuti kurikulum nasional, penyelenggaraannya juga didasarkan pada nilai-nilai Islam dan budaya Aceh sesuai dengan Qanun No.9 Tahun 2015. Nilai dan moral ini tidak hanya cukup diajarkan secara teori di dalam kelas, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, diteladankan oleh guru, diimplementasikan melalui berbagai kegiatan sekolah, serta didukung oleh tata kelola lembaga yang jujur dan bertanggung jawab. Namun, dari jurnal ini juga terlihat bahwa penerapannya masih menghadapi beberapa hambatan, misalnya masih ada guru yang merasa kesulitan atau belum sepenuhnya konsisten dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara utuh ke dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidikan nilai dan moral akan lebih hasil jika dilakukan terus-menerus melalui kebiasaan, contoh yang baik, dan penggabungan yang baik agar siswa tidak hanya memahami apa yang benar, tetapi juga bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh M. Iqbal al havid -
Nama : M. Iqbal Al Havid
NPM : 2513053182

Artikel ini menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh dilaksanakan melalui integrasi nilai-nilai Islam dalam seluruh proses pendidikan. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, karakter, dan perilaku peserta didik sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut diwujudkan melalui penerapan kurikulum Islami yang berpedoman pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015, sehingga nilai-nilai keislaman dapat diterapkan dalam pembelajaran, budaya sekolah, serta kehidupan sehari-hari peserta didik.

Menurut saya, penerapan pendidikan nilai dan moral di Aceh merupakan langkah yang baik karena membantu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan moral yang kuat. Namun, artikel ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaannya masih menghadapi beberapa kendala, seperti pemahaman guru yang belum merata serta belum optimalnya penerapan kurikulum Islami di beberapa sekolah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan, pembinaan, dan evaluasi yang berkelanjutan agar tujuan pendidikan nilai dan moral dapat tercapai secara maksimal.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Alya Puti Wita Prasayu -

Nama : Alya Puti Wita Prasayu
NPM   : 2513053175

Di dalam jurnal “PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH”  dapat dilihat bahwa Pendidikan nilai dan moral sangat penting untuk membendung dampak negatif perubahan sosial dan kemajuan teknologi pada remaja. Di Provinsi Aceh, pembentukan karakter siswa dilakukan melalui keistimewaan otonomi daerah yang melahirkan Kurikulum Islami. Landasan hukum kurikulum ini mengacu pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015, yang mewajibkan seluruh penyelenggaraan pendidikan dijiwai oleh ajaran Islam. Kurikulum ini memadukan materi nasional dengan muatan pendidikan agama yang lebih spesifik serta pelajaran berbasis adat dan kearifan lokal Aceh.

Penerapan nilai-nilai moral Islam di Aceh diwujudkan melalui kurikulum kelas, pembiasaan budaya sekolah (seperti pakaian syar'i, bahasa santun, dan kedisiplinan), serta kegiatan ekstrakurikuler budaya. Namun, pengimplementasiannya di lapangan masih menghadapi kendala. Sebagian besar pendidik masih kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman secara mendalam ke dalam mata pelajaran umum dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, sehingga penerapannya sering kali baru sebatas pembiasaan formalitas di awal kelas. Keberhasilan kurikulum ini sangat bergantung pada kesiapan konsep, pelatihan guru, dan dukungan sarana pendukung yang memadai.


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Alif Laila Fadillah -
Nama :Alif Laila Fadillah
Npm :2513053168

Menurut saya, dalam JURNAL "PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEN KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH"  membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral diselenggarakan dalam sistem pendidikan di Aceh, yang melatarbelakangi pembahasan dalam jurnal ini adalah kekhawatiran atas menurunnya akhlak, gaya hidup, dan aktivitas sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari yang di akibatkan oleh perubahan sosial yang cepat. Namun, penyelenggaraan pendidikan di provinsi Aceh, Indonesia, pada dasarnya mengacu pada sistem pendidikan nasional, sama dengan provinsi lain di Indonesia. Tetapi, semenjak Aceh diberikan status khusus lewat Undang- Undang No 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam serta Undang- Undang No 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, Aceh menanggapinya dengan menjalankan Penyelenggaraan pembelajaran Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun No 9 Tahun 2015 pergantian atas Qanun Aceh No 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran. Secara isi, artikel ini terdiri dari tinjauan literatur dan pembahasaan. Tinjauan literatur disini memaparkan konsep pendidikan nilai menurut para ahli, seperti Lickona yang memandang nilai itu terlihat dari sifat sebagai bentuk perilaku moral yang sesuai. Dalam jurnal ini juga menguraikan konsep akhlak dalam islam menurut Al-Ghazali hikmah (hikmah), keberanian (shaja'ah), kesederhanaan ('iffah), dan keadilan ('adl), Hal ini telah dicantumkan oleh Al-Ghazali dalam teorinya tentang kebaikan (Alavi, 2007). Itu empat jurusan etika dalam filsafat Islam. Istilah ini digunakan dalam hubungannya dengan jiwa: hati (qalb) jiwa atau diri (an-nasf), roh (ruh) dan intelek (al-'aql). Masing-masing memiliki dua arti; satu materi dan spiritual lainnya (Ghazali, 1980). Pada bagian pembahasan, dijelasskan bahwa kurikulum Aceh dapat diseebut sebagai Kurikulum Nasional Plus karena memuat seluruh Kurikulum 2013 ditambah materi pendidikan Islam dan muatan lokal, seperti bahasa daerah, sejarah Aceh, serta adat dan kearifan lokal. Budaya Islami diintegrasikan ke dalam kehidupan sekolah melalui budaya disiplin, komunikasi yang sopan, seragam sesuai qanun, lingkungan sekolah yang Islami, dan kegiatan ekstrakurikuler bernuansa budaya Aceh seperti tari Ranup Lampuan. Selain itu, pengimplementasian menunjukkan bahwa kurikulum ini mulai diterapkan sejak 2018, tetapi dinilai terlalu terburu-buru sehingga dalam pelaksanaannya belum substansif akibat terkendalanya sarana dan prasaran pemahaman guru yang terlihat pada hasil temuan hanya 7% sekolah yang mencoba menerapkannya. Berdasarkan monitoring dan evaluasi Majelis Pendidikan Aceh (2019).
Artikel ini memiliki beberapa kelemahan. Artikel disini tidak menyebutkan pendekatan penelitian seperti apa yang digunakan, subjek, teknik pengumpulan data, pertanyaan guru, kepala sekolah, dan satu laporan monev yang tidak dapat ditelusuri keasliannya. Selain itu, kesimpulan menyatakan bahwa pendidikan di Aceh "secara keseluruhan sudah Islami", sedangkan pembahasan justru menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil sekolah yang menerapkan kurikulum Islami dan itu pun belum substantif. Dari sisi kekuatannya, artikel ini mengangkat topik yang penting dan jarang sekali di kaji, mengenai bagaimana pendidikan di Aceh memengaruhi nilai dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Dari analisis yang saya lakukan dapat di lihat bahwa jurnal ini menegaskan bahwa pembentukan sikap dan moral remaja itu tidak cukup kalau lewat pelajaran di kelas. Pendidikan itu perlu di padukan dengan nilai agama, budaya lokal, dan lingkungan sekolah yang mendukung, sehingga anak-anak itu bisa dibiasakan untuk menerapkan nilai-nilai moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Nisrina Alya Ramadina -
Nama: Nisrina Alya Ramadina
Npm: 2513053185

Menurut saya, jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas penerapan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan di Aceh. Pendidikan di Aceh tetap mengacu pada kurikulum nasional, tetapi memiliki kekhasan karena memasukkan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal. Hal ini juga didukung oleh Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Dari jurnal ini, saya memahami bahwa pendidikan nilai dan moral tidak cukup hanya dijelaskan melalui teori. Nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan menghargai orang lain perlu dibentuk melalui kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga memiliki peran penting karena sikap yang ditunjukkan guru dapat menjadi contoh bagi siswa.

Namun, penerapannya masih memiliki beberapa kendala, terutama karena belum semua guru memahami cara mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan pembelajaran, menurut saya, pendidikan nilai akan lebih efektif jika dilakukan secara terus-menerus melalui pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan di lingkungan sekolah. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengetahui nilai yang baik, tetapi juga terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh M.Satria Ramadhan -
Nama : M.Satria Ramadhan
NPM : 2513053166
jurnal "pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh" membahass bagaimana penerapan pendidikan karakter dan moral diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan sekolah di Aceh. pendidikan di Aceh tetap berpatokan pada kurikulum nasional, namun memiliki kekhasan tersendiri karena memadukan nilai nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal

dari jurnal ini saya paham bahwa pendidikan nilai dan moral tidak bisa sekadar diajarkan melalui teori di dalam kelas. nilai nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan saling menghargai harus dibentuk melalui pembiasaan serta integrasi ke dalam kehidupan sehari-hari dan budaya sekolah. dalam hal ini, guru memegang peranan yang sangat krusial sebagai contoh dan teladan bagi para siswa
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Zaskia Syifa Aulia Syifa -

Nama:Zaskia Syifa Aulia 2513053176

Menurut saya, jurnal ini membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam sistem pendidikan di Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga bagaimana siswa memiliki akhlak dan perilaku yang baik.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah peran guru yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai contoh bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai moral. Nilai tersebut dapat ditanamkan melalui pembiasaan, keteladanan, kegiatan pembelajaran, dan budaya sekolah.

Menurut saya, kelebihan jurnal ini adalah pembahasannya cukup lengkap karena menghubungkan pendidikan moral dengan nilai Islam, budaya Aceh, dan sistem pendidikan. Namun, kekurangannya adalah penerapan kurikulum Islami di beberapa sekolah masih mengalami kendala, seperti kurangnya pemahaman guru, sarana dan prasarana yang belum memadai, serta belum adanya pola penerapan yang sama di setiap sekolah.

Jadi, menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral sangat penting untuk membentuk karakter siswa. Nilai-nilai moral sebaiknya tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh dan kebiasaan yang baik.


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Delvy Ananta -
Nama: Delvy Ananta
NPM: 2513053163

Jurnal ini membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan di sekolah-sekolah di Aceh. Karena Aceh punya kekhususan dalam menjalankan syariat Islam, sekolah di sana tidak hanya memakai kurikulum nasional, tetapi juga kurikulum Islami yang diatur dalam Qanun Aceh. Nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya diajarkan di pelajaran agama, tetapi juga muncul dalam kebiasaan sehari-hari di sekolah, seperti disiplin, sopan santun, dan cara berpakaian.

Kelebihan jurnal ini ada pada topiknya yang khas dan jarang dibahas, serta penjelasan dasar hukumnya yang runtut sehingga pembaca mudah memahami mengapa Aceh berbeda dari daerah lain. Temuan di lapangan: berdasarkan monitoring Majelis Pendidikan Aceh (2019), baru sekitar 7 persen sekolah yang mencoba menerapkan kurikulum Islami, dan banyak guru kesulitan menjelaskan cara mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran.

Namun ada beberapa kelemahan. Pertama, metode penelitiannya tidak dijelaskan sehingga tidak jelas apakah ini kajian pustaka atau penelitian lapangan, dan sebagian besar data hanya dikutip dari penelitian lain. Kedua, kesimpulannya kurang sejalan dengan pembahasan. Penulis menyatakan pendidikan di Aceh "secara keseluruhan sudah Islami", padahal di bagian sebelumnya ia sendiri menyebut pelaksanaannya belum substantif dan baru sedikit sekolah yang menerapkannya. Ketiga, isinya lebih banyak membahas regulasi daripada dampak nyata terhadap moral siswa, padahal latar belakang masalahnya adalah kemerosotan moral remaja.

Secara keseluruhan, jurnal ini cukup membantu untuk memahami dasar dan arah pendidikan nilai berbasis Islam di Aceh, tetapi kualitas ilmiahnya masih kurang karena metodenya tidak transparan. Artikel ini akan lebih kuat jika dilengkapi data langsung tentang pengaruh kurikulum terhadap perilaku siswa.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Ni'matul Khoiriyyah -
Dari Jurnal yang ber judul "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" yang di tulis oleh: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff, tahun 2021.
Jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh. Pendidikan nilai dan moral di Aceh mempunyai ciri khusus karena sistem pendidikannya tidak hanya mengikuti aturan pendidikan nasional, tetapi juga memasukkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Hal ini berkaitan dengan kekhususan Aceh dalam menerapkan syariat Islam.

Masalah utamanya yaitu perubahan kehidupan sosial dan perkembangan teknologi yang bisa mempengaruhi moral dan perilaku peserta didik. Perubahan itu bisa menjadi penyebab munculnya berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma.
Karena itu, sekolah dianggap memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing siswa dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Guru juga memiliki peran yang sangat penting karena siswa bisa mempelajari nilai bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari perilaku guru. Jika guru menunjukkan sikap disiplin, jujur, menghargai siswa, dan bertanggung jawab, siswa akan mencontoh perilaku tersebut.
Di Aceh, penerapan pendidikan nilai juga dimasukkan ke dalam kurikulum yang menggabungkan kurikulum nasional dengan pendidikan Islam dan budaya lokal.

Tapi menurut saya, penerapan pendidikan nilai dan moral tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah. Tetapi orang tua dan lingkungan masyarakat juga perlu memberikan contoh yang baik kepada anak.
Selain itu, guru juga perlu menggunakan kegiatan yang lebihbdekat dengan kehidupan siswa agar pendidikan moral tidak hanya dipahami sebagai teori tetapi juga dapat menerapkan di kehidupan sehari-hari.
Contohnya seperti: kerja kelompok, kegiatan sosial, pembiasaan disiplin, menjaga kebersihan, saling menghargai, dan menyelesaikan masalah bersama.

Kesimpulan
Jurnal ini menegaskan bahwa pendidikan nilai dan moral memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan nilai akademik yang baik tetapi pendidikan juga membentuk karakter siswa agar memiliki sikap dan perilaku yang baik.
Jadi menurut saya, keberhasilan pendidikan moral sangat bergantung pada pembiasaan, lingkungan sekolah, peran orang tua, dan terutama keteladanan guru.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh shereen kiefa saputra -
Nama: Shereen Kiefa Saputra
NPM: 2553053041

Menurut saya pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk akhlak, karakter, dan moral siswa. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi prilaku siswa, sehingga pendidikan nilai dan moral perlu di terapkan dalam kehidupan sekolah.
Di Aceh, pendidikan tidak hanya mengikuti sistem pendidikan nasional tetapi juga memiliki kekhususan berdasarkan syariat Islam. Hal ini di atur melalui qanun Aceh nomor 9 tahun 2015 tentang penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan di Aceh di arahkan untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta sesuai dengan budaya dan syariat Islam.
Pendidikan nilai berarti menanamkan nilai nilai baik kepada siswa melalui pembelajaran, kebiasaan, keteladanan, dan kegiatan sekolah, nilai yang di tanamkan antara lain religius, jujur, disiplin, toleransi, mandiri, tanggung jawab, peduli sosial, dan cinta damai. Nilai tersebut sebaiknya tidak hanya di ajarkan sebagai teori tetapi di terapkan dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah

Kesimpulan ny ialah pendidikan di Aceh menggabungkan pendidikan nasional dengan nilai nilai Islam. Nilai moral di terapkan memalui kurikulum, pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan, serta kegiatan siswa untuk membentuk peserta didik yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Asyifa Nayla -
Nama : Asyifa Nayla
Npm : 2513053181
Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan perilaku yang baik. Menurut saya, pendidikan nilai dan moral sangat diperlukan karena siswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk belajar, tetapi juga perlu memiliki sikap yang baik ketika berinteraksi dengan orang lain dan menjalani kehidupan sehari-hari. Apalagi perkembangan zaman dan lingkungan sekitar dapat memberikan pengaruh terhadap cara siswa berpikir maupun berperilaku. Dalam pendidikan di Aceh, nilai-nilai yang diberikan juga memiliki kekhasan karena sistem pendidikan nasional dipadukan dengan ajaran Islam serta budaya masyarakat Aceh. Nilai tersebut dapat diterapkan bukan hanya melalui pembelajaran agama, tetapi juga melalui berbagai mata pelajaran dan kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah.

Menurut saya, nilai dan moral akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi juga mendapatkan contoh dan kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung. Misalnya, siswa dibiasakan datang tepat waktu, menaati peraturan sekolah, menghormati guru dan teman, menjaga kebersihan, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Guru juga mempunyai peran besar karena perilaku guru dapat menjadi contoh yang dilihat dan ditiru oleh siswa. Jadi, guru tidak hanya menyampaikan tentang nilai kebaikan, tetapi juga perlu menunjukkannya melalui sikap sehari-hari.

Namun, penerapan pendidikan nilai dan moral dalam kurikulum tentu tidak selalu berjalan dengan mudah. Salah satu kendalanya adalah masih terdapat guru yang belum memahami secara maksimal bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam proses pembelajaran. Terkadang nilai tersebut hanya dituliskan dalam perencanaan pembelajaran, tetapi belum terlihat secara nyata dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kondisi sekolah, ketersediaan fasilitas, dan pemilihan metode pembelajaran juga dapat memengaruhi penerapan pendidikan nilai dan moral.

Dari jurnal tersebut, saya dapat memahami bahwa pendidikan nilai dan moral sebaiknya menjadi bagian dari kebiasaan siswa setiap hari, bukan hanya disampaikan ketika sedang membahas pelajaran agama atau materi tentang moral. Pembentukan sikap membutuhkan proses yang dilakukan secara terus-menerus melalui pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan di sekolah. Dengan adanya lingkungan sekolah yang mendukung, siswa diharapkan tidak hanya mampu memahami nilai yang baik, tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Muhammad Naufal Rifqi Yuwana -
Muhammad Naufal Rifqi Yuwana
2553053035
Menurut saya jurnal tersebut membahas tentang bagaimana sekolah-sekolah di Aceh mengajarkan nilai dan moral menggunakan kurikulum khusus yang berlandaskan ajaran Islam. Aturan ini dibuat oleh pemerintah daerah untuk mengatasi masalah menurunnya moral remaja saat ini. Melalui aturan ini, semua mata pelajaran dan kegiatan di sekolah harus disesuaikan dengan ajaran agama agar anak-anak memiliki akhlak yang baik.

Sayangnya, pelaksanaan aturan ini di sekolah masih menghadapi banyak masalah. Banyak pihak merasa kebijakan ini terlalu terburu-buru dan belum ada panduan cara mengajar yang jelas dari pemerintah. Akibatnya, banyak guru yang kebingungan sehingga nilai-nilai agama tersebut sering kali hanya ditulis sebagai pelengkap di buku rencana pelajaran (RPP) saja, namun belum benar-benar diterapkan saat proses belajar mengajar di kelas.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh M. Anton Faroncie Rohman -
M.Anton Faroncie R. 2513053173

Menurut saya, artikel ini menarik karena menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral tidak cukup hanya diajarkan lewat teori, tetapi juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Di Aceh, nilai-nilai moral diterapkan melalui pembelajaran, aturan sekolah, budaya sekolah, dan keteladanan guru. Namun, penerapannya masih memiliki beberapa kendala karena belum semua sekolah dan guru memiliki pemahaman serta cara penerapan yang sama. Dari artikel ini, saya memahami bahwa pendidikan moral akan lebih efektif jika nilai yang diajarkan benar-benar dibiasakan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh lestari ningsih -
Nama: Lestari Ningsih
Npm: 2553053043

Penyelenggaraan pendidikan nilai dan moral dalam kurikulum di Provinsi Aceh hadir sebagai respons atas penurunan moralitas remaja serta tantangan perubahan sosial di era modernisasi. Mengacu pada hak keistimewaan dan otonomi khusus yang dijamin UU No. 44/1999 dan UU No. 18/2001, Pemerintah Aceh berwenang merancang sistem pendidikan berbasis Syariat Islam. Kebijakan ini berlandaskan Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015 (pembaharuan dari Qanun No. 11/2014), yang menerapkan konsep Kurikulum Nasional Plus. Konsep tersebut menggabungkan Kurikulum Nasional 2013 dengan materi keagamaan dan muatan kearifan lokal—seperti Bahasa Daerah, Sejarah Aceh, serta Adat Istiadat—guna mencetak generasi masyarakat Aceh (ureung Aceh) yang berakhlak mulia, beradab, dan bermartabat.
Secara teoritis, landasan pendidikan moral ini bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis yang mencakup empat pilar utama Al-Ghazali: hikmah, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan. Nilai-nilai tersebut diejawantahkan ke dalam dimensi hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan dengan sesama serta lingkungan (horizontal). Di tingkat sekolah, penanaman budaya Islami diwujudkan melalui perumusan visi-misi keagamaan, penegakan tata tertib, kewajiban berbusana syar'i, pembiasaan tutur kata santun, hingga kegiatan seni budaya lokal seperti Tari Ranup Lampuan. Seluruh tata kelola sekolah pun dijalankan atas dasar prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keteladanan.
Namun demikian, eksekusi kurikulum Islami di lapangan masih menghadapi hambatan mendasar. Data evaluasi Majelis Pendidikan Aceh mencatat baru sekitar 7 persen SMA/SMK yang telah berupaya menerapkannya. Sebagian besar sekolah menilai kebijakan ini terkesan terburu-buru lantaran minimnya kesiapan sarana, prasarana, serta petunjuk teknis pembelajaran dan evaluasi dari pemerintah daerah. Di sisi lain, pemahaman para pengajar mengenai integrasi nilai Islam masih terbatas; penyisipan materi Islami sering kali disamakan dengan Kurikulum 2013 biasa dan sebatas dituliskan di awal RPP tanpa terinternalisasi secara utuh dalam proses belajar-mengajar. Kondisi ini menyebabkan pelaksanaan kurikulum Islami berbeda-beda antar-sekolah karena belum adanya standar baku yang dapat dijadikan acuan bersama.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Ferlina Rizki Natasya -
Nama: Ferlina Rizki Natasya Npm: 2513053187
Kls: 3G

Jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral dalam kurikulum di Aceh. Pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga memasukkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh karena adanya kekhususan daerah.
Pendidikan nilai dan moral dianggap penting karena sekolah tidak hanya bertugas membuat siswa pintar, tetapi juga membentuk sikap, akhlak, dan karakter. Nilai tersebut sebaiknya diterapkan dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah, bukan hanya diajarkan sebagai teori.
Dalam penerapannya, guru memiliki peran penting sebagai contoh bagi siswa. Guru harus menunjukkan sikap disiplin, sopan, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain agar siswa dapat mencontohnya.
Namun, penerapan kurikulum Islami di Aceh masih memiliki kendala. Sebagian guru masih bingung bagaimana menggabungkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran, sehingga penerapannya terkadang hanya sebatas ditulis dalam RPP dan belum benar-benar dilakukan dalam kegiatan belajar. jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral perlu diterapkan melalui pembelajaran, keteladanan guru, budaya sekolah, dan kegiatan sehari-hari. Di Aceh, penerapannya diperkuat dengan nilai Islam dan budaya lokal.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum Analisis Jurnal 1

oleh Helcha Nur Sabila Putri -
Nama: Helcha Nur Sabila Putri
Npm: 2553053025

Menurut saya, Jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" Di sana, sekolah tidak cuma mengajarkan pelajaran biasa seperti Matematika, Bahasa, atau IPA, tapi juga wajib menanamkan nilai-nilai agama Islam serta budaya dan adat istiadat khas Aceh ke dalam semua kegiatan belajar. Hal ini memang sudah diatur lewat aturan khusus daerah, tujuannya supaya anak-anak tidak hanya pandai secara akademik, tapi juga memiliki akhlak yang mulia, taat beragama, dan tetap mencintai budaya asalnya di tengah perubahan zaman yang makin cepat.
Namun di kenyataannya, pelaksanaannya belum berjalan sebaik yang diharapkan. Masih banyak sekolah yang baru sekadar menuliskan rencana di atas kertas saja, tapi saat kegiatan belajar berlangsung, nilai-nilai tersebut belum benar-benar diterapkan. Banyak guru yang juga belum paham sepenuhnya cara menyisipkan nilai agama dan budaya ke dalam pelajaran, belum ada panduan yang jelas dan seragam untuk semua sekolah, serta pelatihan dan dukungan yang diberikan kepada guru pun masih terasa kurang memadai.

Jadi secara keseluruhan, tujuannya sangat baik dan penting untuk menjaga identitas anak-anak Aceh, tapi untuk mewujudkannya benar-benar, masih banyak hal yang harus diperbaiki mulai dari memberi panduan yang jelas, melatih para guru, sampai memastikan semua pihak ikut mendukung pelaksanaannya di sekolah.