Nama: Desmala Az Zahra
NPM: 2313031002
Kelas: A
1. Analisis Ketidakefektifan Aplikasi Edtech Menggunakan Pendekatan SCP
Pendekatan SCP (Structure-Conduct-Performance) dapat digunakan untuk melihat penyebab aplikasi pembelajaran digital kurang efektif di daerah terpencil melalui tiga aspek, yaitu struktur, perilaku, dan kinerja.
a. Structure (Struktur)
Struktur berkaitan dengan kondisi yang mendukung penggunaan aplikasi, seperti jaringan internet, ketersediaan perangkat, kemampuan ekonomi masyarakat, serta kondisi sosial dan budaya. Di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, keterbatasan internet dan perangkat menjadi kendala. Selain itu, materi aplikasi yang masih bersifat umum terkadang kurang sesuai dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat.
b. Conduct (Perilaku)
Conduct berkaitan dengan cara guru dan siswa menggunakan aplikasi tersebut. Guru masih kesulitan menggabungkan aplikasi dengan metode pembelajaran yang biasa digunakan. Sementara itu, siswa bisa saja kurang tertarik karena materi yang disajikan tidak dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi perlu disertai pelatihan bagi guru dan penyesuaian cara belajar siswa.
c. Performance (Kinerja)
Performance berkaitan dengan hasil dari penggunaan aplikasi. Jika aplikasi sulit diakses dan materinya kurang sesuai dengan kebutuhan siswa, proses pembelajaran menjadi kurang maksimal. Akibatnya, siswa mungkin kurang aktif dan tujuan pembelajaran sulit tercapai. Jadi, keberhasilan aplikasi tidak hanya dilihat dari banyaknya pengguna, tetapi juga dari manfaatnya dalam meningkatkan pemahaman siswa.
Berdasarkan pendekatan SCP, aplikasi edtech kurang efektif karena belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi daerah, belum mudah diterapkan oleh guru dan siswa, serta belum memberikan hasil pembelajaran yang optimal.
2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas dalam Penerimaan Teknologi Pendidikan
Faktor sosial, budaya, dan lokalitas sangat berpengaruh terhadap penerimaan teknologi pendidikan karena setiap daerah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Faktor sosial dapat dilihat dari kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan teknologi, dukungan orang tua, serta peran masyarakat dalam mendukung pembelajaran. Jika guru belum terbiasa menggunakan aplikasi digital dan tidak mendapatkan pelatihan, aplikasi tersebut akan sulit dimanfaatkan secara maksimal.
Faktor budaya juga penting karena bahasa, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat memengaruhi cara siswa memahami materi. Jika aplikasi hanya menggunakan contoh yang jauh dari kehidupan mereka, siswa mungkin akan kesulitan memahami materi. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan contoh dari budaya setempat dapat membuat pembelajaran lebih menarik.
Sementara itu, faktor lokalitas berkaitan dengan kondisi geografis, fasilitas, dan potensi daerah. Misalnya, siswa yang tinggal di wilayah dengan jaringan internet terbatas membutuhkan aplikasi yang dapat digunakan tanpa internet. Materi juga dapat disesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat, seperti kegiatan pertanian, perikanan, pasar tradisional, atau usaha kerajinan.
Dengan demikian, teknologi pendidikan tidak bisa diterapkan dengan cara yang sama di semua daerah. Aplikasi perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar lebih mudah diterima dan benar-benar bermanfaat bagi proses pembelajaran.
3. Model Aplikasi dan Strategi Penerapan Edtech Berbasis SCP dan Lokalitas
Model yang dapat diterapkan adalah aplikasi pembelajaran digital berbasis lokalitas yang bisa digunakan secara daring maupun luring. Aplikasi ini dirancang sesuai dengan kondisi daerah dan kebutuhan guru serta siswa.
Strategi penerapannya dapat dilakukan melalui tiga aspek SCP berikut.
a. Structure (Struktur)
Aplikasi dibuat agar tetap bisa digunakan tanpa internet sehingga siswa di daerah dengan jaringan terbatas tetap dapat belajar. Materi pembelajaran juga disesuaikan dengan kurikulum, bahasa yang mudah dipahami, dan kondisi lingkungan setempat.
b. Conduct (Perilaku)
Guru diberikan pelatihan tentang cara menggunakan aplikasi dan menggabungkannya dengan metode pembelajaran di kelas. Selain itu, guru dan masyarakat setempat dilibatkan dalam penyusunan materi agar isi aplikasi sesuai dengan budaya dan kebutuhan siswa.
c. Performance (Kinerja)
Keberhasilan aplikasi dinilai dari peningkatan pemahaman siswa, keaktifan selama pembelajaran, dan kemampuan menyelesaikan tugas. Guru juga dapat memberikan masukan mengenai kesulitan yang dialami agar aplikasi dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, aplikasi dapat menyediakan materi ekonomi yang membahas kegiatan pasar tradisional, usaha kerajinan, pertanian, dan perikanan di daerah setempat. Dengan begitu, siswa dapat memahami materi melalui contoh yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pendekatan SCP, efektivitas aplikasi edtech dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, cara pengguna memanfaatkan aplikasi, dan hasil pembelajaran yang diperoleh. Oleh karena itu, pengembangan edtech di daerah terpencil tidak cukup hanya menyediakan aplikasi, tetapi juga harus memperhatikan kondisi internet, kemampuan guru dan siswa, serta budaya lokal. Dengan melibatkan masyarakat setempat dan menyediakan materi yang sesuai kebutuhan, aplikasi pembelajaran digital diharapkan dapat digunakan secara lebih efektif dan merata di Indonesia.