CASE STUDY

CASE STUDY

Jumlah balasan: 6

Kementerian Pendidikan dan berbagai startup edtech meluncurkan aplikasi pembelajaran daring untuk siswa di seluruh Indonesia, termasuk daerah terpencil. Namun, banyak guru dan siswa di daerah seperti pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara mengalami kendala. Bukan hanya soal akses internet, tetapi juga karena aplikasi dirasa tidak relevan dengan konteks budaya dan bahasa lokal. Guru juga kesulitan mengintegrasikan aplikasi ke dalam metode pembelajaran mereka.

 Pertanyaan:

  1. Gunakan pendekatan SCP untuk menganalisis mengapa aplikasi edukasi digital tersebut tidak efektif di daerah terpencil.
  2. Nilai peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas dalam membentuk makna dan penerimaan teknologi pendidikan.
  3. Desain sebuah model aplikasi atau strategi penerapan yang mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Ni Wayan Vara Wulandari -
Nama: Ni Wayan Vara Wulandari
NPM: 2313031017

1. Berdasarkan pendekatan Social Construction of Technology (SCP/SCOT), ketidakefektifan aplikasi edukasi digital di daerah terpencil terjadi karena kegagalan pengembang dalam memahami perspektif Relevant Social Groups (kelompok sosial relevan) seperti guru dan siswa lokal. Pengembang platform bertindak atas asumsi determinisme teknologi, yakni menganggap bahwa aplikasi yang berhasil di perkotaan otomatis akan efektif di mana saja. Akibatnya, timbul interpretative flexibility di mana pengembang memaknai aplikasi sebagai solusi pemerataan pendidikan modern, sementara masyarakat di daerah terpencil memandangnya sebagai beban baru yang asing dan tidak praktis. Kegagalan fungsi teknologi ini dipicu oleh absennya proses co-construction, di mana aplikasi dirancang secara terpusat (Java-centric) tanpa melibatkan realitas pedagogis, literasi digital, serta keterbatasan infrastruktur yang dihadapi komunitas pedalaman.
2. Faktor sosial, budaya, dan lokalitas memainkan peran kunci sebagai penentu utama apakah suatu teknologi pendidikan akan diadaptasi atau ditolak oleh masyarakat. Penggunaan Bahasa Indonesia formal yang kaku serta penyampaian materi dengan contoh situasi perkotaan menciptakan jarak kognitif (cognitive distance) yang menyulitkan siswa terpencil untuk menyerap informasi. Selain itu, aplikasi edukasi yang umumnya berfokus pada model pembelajaran mandiri secara individual (self-paced learning) kerap bertentangan dengan struktur sosial pedesaan yang bersifat komunal dan berbasis budaya lisan. Posisi guru lokal sebagai figur otoritas moral dan budaya juga sering terabaikan oleh aplikasi yang bersifat top-down, sehingga menimbulkan kecenderungan resistensi dari para pendidik karena aplikasi tersebut tidak selaras dengan metode dan nilai pengajaran tradisional mereka.
3. Untuk meningkatkan efektivitas edtech, diperlukan pengembangan model Lokal-EdTech Framework yang mengedepankan prinsip participatory design dan pendekatan offline-first. Aplikasi harus dirancang agar dapat mengunduh materi saat terhubung ke jaringan di pusat kecamatan, sehingga seluruh fitur dan konten berbasis video atau modul interaktif dapat diakses secara luring (offline) di desa. Konten materi disusun melalui skema co-creation yang melibatkan guru dan tokoh adat setempat untuk mengintegrasikan konteks lingkungan, cerita lokal, serta pilihan pengantar bahasa daerah. Strategi penerapannya ditekankan pada pemosisian aplikasi sebagai alat bantu mengajar (teaching assistant) bagi guru bukan pengganti peran guru serta mengarahkan proses belajar menjadi aktivitas kelompok berbasis proyek komunal (project-based learning), sehingga teknologi dapat menyatu harmonis dengan nilai-nilai lokalitas setempat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Annisa Luthfiyyah -
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Berikut adalah analisis SCP:
a. Struktur: terjadi kesenjangan infrastruktur listrik, sinyal internet untuk daerah pedalaman seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, serta alasan tidak efektifnya aplikasi ini karena siswa siswi di daerah terpencil tidak memiliki literasi digital yang sama dengan siswa siswi di perkotaan.
b. Perilaku (Conduct): akibat ketimpangan struktur membuat para pengembang merancang aplikasi dengan bahasa yang baku dan mengikuti pembelajaran di perkotaan yang paham digital. Di sisi lain, dorongan dari pemerintah secara mendesak meminta guru untuk mengajarkan pembelajaran tersebut ke siswa tanpa memberikan pembekalan sebelumnya, membuat guru dan siswa merasa terasingkan sehingga mengabaikan platform tersebut.
c. Kinerja (Perfrmance): kinerja yang dihasilkan sangat rendah, karena tidak optimalnya penggunaan aplikasi dalam pembelajaran.
2. Teknologi tidak dapat dipisahkan dari penggunanya yaitu masyarakat, maka terdapat tiga faktor yang memengaruhi penerimaan aplikasi edukasi: Pertama adalah hambatan bahasa, banyak sisa daerah yang belum terbiasa dengan bahasa Indonesia formal terutama dalam aplikasi digital. Kedua, relevansi materi dengan pembelajaran, dimana siswa pedalam belajar materi menggunakan contoh disekitar yang berbeda jauh dengan contoh kehidupan kota yang ada di aplikasi. Ketiga, peran utama guru yang dijunung tinggi sebagai pengajar bukan aplikasi yang dirancang untuk pembelajaran mandiri tanpa peran aktif dari guru.
3. Untuk mengatasi masalah tersebut, berikut adalah rancangan strategis untuk penerapan dalam aplikasi: pertama aplikasi dapat diakses tanpa internet, kedua contoh kasus ataupun ilustrasi menggunakan perumpamaan dasar agar dapat dimengerti oleh semua kalangan, ketiga kolaborasi antara guru di perkotaan dengan di pedesaan dalam penyusunan materi, dan terakhir pembelajaran secara berkelompok untuk mengatasi keterbatasan perangkat sekaligus menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Desmala Az-Zahra -

Nama: Desmala Az Zahra

NPM: 2313031002

Kelas: A


1. Analisis Ketidakefektifan Aplikasi Edtech Menggunakan Pendekatan SCP

Pendekatan SCP (Structure-Conduct-Performance) dapat digunakan untuk melihat penyebab aplikasi pembelajaran digital kurang efektif di daerah terpencil melalui tiga aspek, yaitu struktur, perilaku, dan kinerja.

a. Structure (Struktur)

Struktur berkaitan dengan kondisi yang mendukung penggunaan aplikasi, seperti jaringan internet, ketersediaan perangkat, kemampuan ekonomi masyarakat, serta kondisi sosial dan budaya. Di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, keterbatasan internet dan perangkat menjadi kendala. Selain itu, materi aplikasi yang masih bersifat umum terkadang kurang sesuai dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat.

b. Conduct (Perilaku)

Conduct berkaitan dengan cara guru dan siswa menggunakan aplikasi tersebut. Guru masih kesulitan menggabungkan aplikasi dengan metode pembelajaran yang biasa digunakan. Sementara itu, siswa bisa saja kurang tertarik karena materi yang disajikan tidak dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi perlu disertai pelatihan bagi guru dan penyesuaian cara belajar siswa.

c. Performance (Kinerja)

Performance berkaitan dengan hasil dari penggunaan aplikasi. Jika aplikasi sulit diakses dan materinya kurang sesuai dengan kebutuhan siswa, proses pembelajaran menjadi kurang maksimal. Akibatnya, siswa mungkin kurang aktif dan tujuan pembelajaran sulit tercapai. Jadi, keberhasilan aplikasi tidak hanya dilihat dari banyaknya pengguna, tetapi juga dari manfaatnya dalam meningkatkan pemahaman siswa.

Berdasarkan pendekatan SCP, aplikasi edtech kurang efektif karena belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi daerah, belum mudah diterapkan oleh guru dan siswa, serta belum memberikan hasil pembelajaran yang optimal.

2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas dalam Penerimaan Teknologi Pendidikan

Faktor sosial, budaya, dan lokalitas sangat berpengaruh terhadap penerimaan teknologi pendidikan karena setiap daerah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.

Faktor sosial dapat dilihat dari kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan teknologi, dukungan orang tua, serta peran masyarakat dalam mendukung pembelajaran. Jika guru belum terbiasa menggunakan aplikasi digital dan tidak mendapatkan pelatihan, aplikasi tersebut akan sulit dimanfaatkan secara maksimal.

Faktor budaya juga penting karena bahasa, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat memengaruhi cara siswa memahami materi. Jika aplikasi hanya menggunakan contoh yang jauh dari kehidupan mereka, siswa mungkin akan kesulitan memahami materi. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan contoh dari budaya setempat dapat membuat pembelajaran lebih menarik.

Sementara itu, faktor lokalitas berkaitan dengan kondisi geografis, fasilitas, dan potensi daerah. Misalnya, siswa yang tinggal di wilayah dengan jaringan internet terbatas membutuhkan aplikasi yang dapat digunakan tanpa internet. Materi juga dapat disesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat, seperti kegiatan pertanian, perikanan, pasar tradisional, atau usaha kerajinan.

Dengan demikian, teknologi pendidikan tidak bisa diterapkan dengan cara yang sama di semua daerah. Aplikasi perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar lebih mudah diterima dan benar-benar bermanfaat bagi proses pembelajaran.

3. Model Aplikasi dan Strategi Penerapan Edtech Berbasis SCP dan Lokalitas

Model yang dapat diterapkan adalah aplikasi pembelajaran digital berbasis lokalitas yang bisa digunakan secara daring maupun luring. Aplikasi ini dirancang sesuai dengan kondisi daerah dan kebutuhan guru serta siswa.

Strategi penerapannya dapat dilakukan melalui tiga aspek SCP berikut.

a. Structure (Struktur)

Aplikasi dibuat agar tetap bisa digunakan tanpa internet sehingga siswa di daerah dengan jaringan terbatas tetap dapat belajar. Materi pembelajaran juga disesuaikan dengan kurikulum, bahasa yang mudah dipahami, dan kondisi lingkungan setempat.

b. Conduct (Perilaku)

Guru diberikan pelatihan tentang cara menggunakan aplikasi dan menggabungkannya dengan metode pembelajaran di kelas. Selain itu, guru dan masyarakat setempat dilibatkan dalam penyusunan materi agar isi aplikasi sesuai dengan budaya dan kebutuhan siswa.

c. Performance (Kinerja)

Keberhasilan aplikasi dinilai dari peningkatan pemahaman siswa, keaktifan selama pembelajaran, dan kemampuan menyelesaikan tugas. Guru juga dapat memberikan masukan mengenai kesulitan yang dialami agar aplikasi dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, aplikasi dapat menyediakan materi ekonomi yang membahas kegiatan pasar tradisional, usaha kerajinan, pertanian, dan perikanan di daerah setempat. Dengan begitu, siswa dapat memahami materi melalui contoh yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.


Berdasarkan pendekatan SCP, efektivitas aplikasi edtech dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, cara pengguna memanfaatkan aplikasi, dan hasil pembelajaran yang diperoleh. Oleh karena itu, pengembangan edtech di daerah terpencil tidak cukup hanya menyediakan aplikasi, tetapi juga harus memperhatikan kondisi internet, kemampuan guru dan siswa, serta budaya lokal. Dengan melibatkan masyarakat setempat dan menyediakan materi yang sesuai kebutuhan, aplikasi pembelajaran digital diharapkan dapat digunakan secara lebih efektif dan merata di Indonesia.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : 2313031013
NPM : 2313031013

1. Analisis Aplikasi Edtech Menggunakan Pendekatan SCP
Pendekatan SCP (Structure, Conduct, Performance) dapat digunakan untuk memahami penyebab aplikasi pembelajaran digital belum berjalan secara efektif di daerah terpencil.
a. Structure (Struktur)
Struktur berkaitan dengan kondisi yang memengaruhi penerapan teknologi pendidikan. Di daerah terpencil, penggunaan aplikasi masih terkendala oleh jaringan internet yang terbatas, kurangnya perangkat digital, biaya internet, serta perbedaan bahasa dan budaya. Selain itu, aplikasi yang dirancang untuk digunakan secara umum belum tentu sesuai dengan kebutuhan siswa di setiap daerah.
b. Conduct (Perilaku)
Perilaku berhubungan dengan cara pengembang, guru, dan siswa memanfaatkan aplikasi pembelajaran. Pengembang terkadang belum cukup memperhatikan kondisi masyarakat setempat. Di sisi lain, guru masih kesulitan menggunakan aplikasi sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar. Siswa juga bisa mengalami hambatan dalam memahami materi apabila bahasa dan contoh yang digunakan tidak sesuai dengan kehidupan mereka sehari-hari.
c. Performance (Kinerja)
Kinerja menunjukkan sejauh mana aplikasi mampu mendukung kegiatan pembelajaran. Ketika aplikasi sulit diakses dan materi yang disediakan kurang sesuai dengan kebutuhan siswa, manfaatnya menjadi kurang maksimal. Oleh karena itu, keberhasilan aplikasi perlu dilihat dari kemudahan penggunaannya, pemahaman siswa terhadap materi, serta peningkatan hasil belajar.

2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas
Faktor sosial, budaya, dan lokalitas memiliki pengaruh terhadap penerimaan teknologi pendidikan karena masyarakat di setiap daerah mempunyai kebiasaan, lingkungan, dan kebutuhan yang berbeda.
- Faktor sosial: Dukungan dari guru, orang tua, dan lingkungan sekolah dapat membantu siswa menggunakan aplikasi dengan baik. Namun, keterbatasan perangkat serta kurangnya pendampingan dapat membuat pemanfaatan teknologi menjadi kurang optimal.
- Faktor budaya: Bahasa dan kebiasaan masyarakat perlu diperhatikan dalam penyusunan materi. Apabila materi menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan contoh yang sesuai dengan budaya setempat, siswa akan lebih mudah mengerti pelajaran.
- Faktor lokalitas: Kondisi wilayah, ketersediaan listrik, dan kualitas jaringan internet perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan aplikasi. Contohnya, sekolah di daerah dengan jaringan internet yang sulit membutuhkan aplikasi yang tetap dapat digunakan secara offline.

3. Desain Model Aplikasi atau Strategi Penerapan Edtech
Model yang dapat dikembangkan adalah aplikasi pembelajaran digital yang menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing. Aplikasi ini tidak hanya mengutamakan teknologi, tetapi juga memperhatikan kemampuan pengguna dan lingkungan tempat mereka belajar.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Menyediakan akses offline. Aplikasi dilengkapi fitur untuk mengunduh materi dan latihan soal sehingga siswa tetap bisa belajar meskipun tidak memiliki jaringan internet.
2. Menyesuaikan materi dengan budaya lokal. Materi pembelajaran menggunakan bahasa yang mudah dimengerti serta contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
3. Memberikan pelatihan kepada guru. Guru perlu mendapatkan pendampingan agar mampu menggunakan aplikasi dan menggabungkannya dengan metode pembelajaran yang sudah diterapkan di kelas.
4. Melibatkan masyarakat setempat. Pengembang dapat meminta masukan dari guru, orang tua, dan tokoh masyarakat agar isi aplikasi sesuai dengan kebutuhan serta kebiasaan masyarakat di daerah tersebut.
5. Melakukan evaluasi secara berkala. Penggunaan aplikasi perlu dievaluasi dengan melihat kemudahan akses, keaktifan siswa, pemahaman materi, dan hasil belajar. Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki aplikasi agar semakin sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sebagai balasan IRFAN A SUKI

Re: CASE STUDY

oleh Saqila Rahma Andini -
Nama : Saqila Rahma Andini
NPM : 2313031020

1. Analisis Pendekatan SCP
Struktur lingkungan daerah terpencil yang minim infrastruktur dan terpusat (top-down) mendorong pengembang menerapkan perilaku pembuatan aplikasi homogen berbasis perkotaan. Hal ini membuat guru dan siswa kesulitan menggunakannya, sehingga menghasilkan kinerja (performance) yang buruk berupa rendahnya adopsi dan makin lebarnya ketimpangan pendidikan.

2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas
Bahasa daerah, budaya belajar komunal, dan keterkaitan materi dengan realitas lokal menentukan berhasil atau tidaknya adopsi teknologi pendidikan di pedalaman. Aplikasi yang dipaksakan berbahasa baku dan berkonteks kota akan ditolak secara alamiah karena menciptakan hambatan komunikasi dan ketidakrelevanan materi bagi siswa.

3. Desain Model Aplikasi dan Strategi Penerapan
Solusi yang ditawarkan adalah aplikasi berarsitektur offline-first menggunakan server lokal sekolah (EdTech Box) tanpa butuh internet, dilengkapi fitur bahasa ganda dan materi kontekstual lokal. Penerapannya berfokus pada pemberdayaan guru melalui pelatihan pedagogi dan kolaborasi dengan komunitas daerah.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Khoirun Nisa -
Nama : Khoirun Nisa
NPM : 2313031005

1. Gunakan pendekatan SCP untuk menganalisis mengapa aplikasi edukasi digital tersebut tidak efektif di daerah terpencil.
Jawaban:
Menurut saya, ketidakefektifan aplikasi edukasi digital (edtech) di daerah terpencil dapat dijelaskan secara rinci melalui kerangka Structure-Conduct-Performance (SCP). Dari segi struktur pasar (structure), industri edtech di Indonesia masih sangat terkonsentrasi pada segmen perkotaan (urban-centric), sehingga menciptakan kesenjangan infrastruktur digital yang tajam antara wilayah pusat dan daerah terisolasi seperti pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Kondisi struktur pasar yang timpang ini memengaruhi perilaku perusahaan (conduct), di mana para pengembang edtech cenderung menerapkan strategi standarisasi produk secara seragam (top-down) tanpa melakukan diferensiasi konten yang adaptif terhadap konteks geografis maupun kapasitas guru di daerah. Berdasarkan sudut pandang saya, kombinasi antara struktur pasar yang tidak inklusif dan perilaku bisnis yang mengabaikan kebutuhan lokal tersebut bermuara pada kinerja industri (performance) yang buruk, yang ditandai oleh rendahnya tingkat adopsi teknologi, ketidakmampuan guru dalam mengintegrasikan aplikasi ke dalam metode mengajar, serta kegagalan pencapaian efisiensi pembelajaran yang berkeadilan di seluruh pelosok Indonesia.

2. Nilai peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas dalam membentuk makna dan penerimaan teknologi pendidikan.
Jawaban:
Faktor sosial, budaya, dan lokalitas memegang peranan yang sangat fundamental karena teknologi pendidikan pada hakikatnya tidak pernah bersifat netral, melainkan selalu membawa nilai-nilai sosio-kultural dari perancangnya. Dalam konteks daerah terpencil, penggunaan bahasa Indonesia yang terlalu formal atau konten materi yang berorientasi pada kehidupan perkotaan sering kali memicu alienasi kultural bagi siswa yang sehari-hari berinteraksi dengan bahasa ibu dan kearifan lokal setempat. Selain itu, saya menilai bahwa guru di daerah terpencil memiliki gaya pengajaran berbasis komunitas dan relasi sosial yang erat; ketika sebuah teknologi dipaksakan tanpa mengakomodasi realitas pedagogis ini, aplikasi tersebut akan dianggap sebagai beban administratif alih-alih alat bantu pembelajaran. Oleh karena itu, penerimaan teknologi pendidikan sangat bergantung pada sejauh mana inovasi tersebut memperoleh legitimasi sosial dan mampu menyatu secara harmonis dengan tatanan nilai serta kebutuhan nyata masyarakat lokal.

3. Desain sebuah model aplikasi atau strategi penerapan yang mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia.
Jawaban:
Menurut saya diperlukan formulasi strategi penerapan edtech yang mengintegrasikan prinsip SCP dengan pendekatan kontekstual berbasis lokalitas. Pada aspek struktur (structure), pemerintah dan penyedia platform harus merevolusi model akses dengan membangun infrastruktur hibrida, seperti penyediaan server lokal luring (offline micro-cloud) di sekolah-sekolah terpencil guna memutus ketergantungan pada jaringan internet berkecepatan tinggi. Pada aspek perilaku (conduct), perusahaan edtech harus mengubah pendekatan pengembangan produk menjadi lebih partisipatif (co-creation) dengan melibatkan guru lokal, tokoh masyarakat, dan budayawan daerah dalam menyusun kurikulum serta bahan ajar yang relevan dengan bahasa dan lingkungan setempat. Pada akhirnya, menurut saya, kinerja (performance) keberhasilan edtech tidak boleh lagi diukur hanya dari jumlah unduhan (downloads) atau pengguna aktif harian, melainkan dari peningkatan literasi yang inklusif, kenyamanan guru dalam mengajar, serta keberlanjutan pemanfaatan teknologi yang mampu memberdayakan potensi lokal tanpa mencabut siswa dari akar budayanya.