Pertemuan 11: Transaksi Mata Uang Asing: Pengakuan &Pengukuran
Salam Pembelajar,
Pada hari ini pembahasan kita mengenai Transaksi Mata Uang Asing: Pengakuan & Pengukuran.
Sebelumnya mari kita simak video berikut:
Sumber: Youtube.com
Transaksi Mata Uang Asing
Pengakuan & Pengukuran
1. Konsep Dasar yang Wajib Paham
a. Mata Uang Fungsional
Mata uang fungsional adalah mata uang utama yang digunakan entitas dalam menjalankan aktivitasnya.
Contoh:
- Perusahaan di Indonesia → Rupiah (Rp)
- Perusahaan di Jepang → Yen
- Perusahaan di AS → USD
Semua pencatatan akuntansi harus dalam mata uang fungsional.
b. Transaksi Mata Uang Asing
Transaksi yang nilainya menggunakan mata uang selain mata uang fungsional.
Contoh:
- Pembelian barang impor (USD, CNY, JPY)
- Penjualan ekspor (USD, EUR)
- Utang bank luar negeri
- Piutang dalam mata uang asing
2. Pengakuan Awal Transaksi Mata Uang Asing
Prinsip Utama
Pada tanggal transaksi, transaksi mata uang asing diakui menggunakan kurs spot pada tanggal transaksi.
Rumus
Nilai Rupiah=Nilai Mata Uang Asing×Kurs Tanggal Transaksi\text{Nilai Rupiah} = \text{Nilai Mata Uang Asing} \times \text{Kurs Tanggal Transaksi}Nilai Rupiah=Nilai Mata Uang Asing×Kurs Tanggal Transaksi
Contoh 1: Pembelian Aset Tetap
PT Nusantara (mata uang fungsional: Rupiah) membeli mesin dari AS:
- Harga mesin: USD 20.000
- Tanggal transaksi: 1 April
- Kurs 1 April: Rp15.000/USD
Pengakuan awal
20.000×15.000=Rp300.000.00020.000 \times 15.000 = Rp300.000.00020.000×15.000=Rp300.000.000
Jurnal:
Mesin Rp300.000.000
Utang Usaha Rp300.000.000
Dicatat sekali berdasarkan kurs tanggal transaksi.
3. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
Setelah dicatat, akun mata uang asing dibedakan menjadi dua jenis:
4. Pos Moneter
Pengertian
Pos yang akan:
- diterima atau dibayar dalam jumlah uang tertentu
Contoh:
- Kas
- Piutang usaha
- Utang usaha
- Pinjaman bank
Perlakuan Akuntansi
- Diukur kembali menggunakan kurs penutupan (closing rate) pada tanggal laporan keuangan
- Selisih kurs → laba atau rugi periode berjalan
Contoh 2: Utang Usaha (Pos Moneter)
Lanjutan contoh mesin:
- Utang: USD 20.000
- Kurs saat transaksi: Rp15.000
- Kurs 31 Desember: Rp15.500
Nilai awal utang
20.000×15.000=Rp300.000.00020.000 \times 15.000 = Rp300.000.00020.000×15.000=Rp300.000.000
Nilai akhir periode
20.000×15.500=Rp310.000.00020.000 \times 15.500 = Rp310.000.00020.000×15.500=Rp310.000.000
Selisih kurs
Rp310.000.000−Rp300.000.000=Rp10.000.000Rp310.000.000 - Rp300.000.000 = Rp10.000.000Rp310.000.000−Rp300.000.000=Rp10.000.000
Jurnal penyesuaian:
Rugi Selisih Kurs Rp10.000.000
Utang Usaha Rp10.000.000
Kurs naik → utang bertambah → rugi selisih kurs.
5. Pos Nonmoneter
Pengertian
Pos yang:
- tidak diselesaikan dengan kas atau setara kas
Contoh:
- Persediaan
- Aset tetap
- Aset tak berwujud
- Investasi pada saham
Perlakuan Akuntansi
- Tetap menggunakan kurs historis (kurs tanggal transaksi)
- Tidak disesuaikan dengan kurs penutupan
Contoh 3: Persediaan (Pos Nonmoneter)
PT Garuda membeli persediaan dari China:
- Harga: CNY 50.000
- Kurs transaksi: Rp2.200
- Kurs akhir periode: Rp2.300
Pengakuan awal
50.000×2.200=Rp110.000.00050.000 \times 2.200 = Rp110.000.00050.000×2.200=Rp110.000.000
Karena persediaan = pos nonmoneter:
- Nilai tetap Rp110.000.000
- Tidak ada selisih kurs
6. Penyelesaian (Settlement) Transaksi
Jika utang/piutang dilunasi:
- Selisih antara
nilai tercatat dan jumlah yang dibayar/diterima
diakui sebagai laba atau rugi selisih kurs
Contoh 4: Pelunasan Utang
- Utang: USD 20.000
- Nilai tercatat terakhir: Rp310.000.000
- Kurs saat pelunasan: Rp15.300
Jumlah dibayar:
20.000×15.300=Rp306.000.00020.000 \times 15.300 = Rp306.000.00020.000×15.300=Rp306.000.000
Selisih kurs:
Rp310.000.000−Rp306.000.000=Rp4.000.000Rp310.000.000 - Rp306.000.000 = Rp4.000.000Rp310.000.000−Rp306.000.000=Rp4.000.000
Jurnal:
Utang Usaha Rp310.000.000
Kas Rp306.000.000
Laba Selisih Kurs Rp4.000.000
Ringkasan Penting
|
Tahap |
Aturan |
|
Pengakuan awal |
Kurs tanggal transaksi |
|
Pos moneter |
Kurs penutupan |
|
Pos nonmoneter |
Kurs historis |
|
Selisih kurs |
Laba/rugi |