Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

Jumlah balasan: 4

Salam pembelajar,

Pada pekan ini kita akan mempelajari tentang karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka). Apakah kalian ada yang sudah mengetahui tentang hal ihwal topik ini?

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

oleh Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

Izin bu, sejauh yang saya pahami, asesmen dalam pembelajaran IPS bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam Kurikulum 2013 penilaian lebih menekankan pada penilaian autentik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka, asesmen lebih difokuskan pada asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif untuk memantau perkembangan belajar peserta didik serta memberikan umpan balik bagi proses pembelajaran.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Izin mejawab bu, asesmen dalam pendidikan IPS bukan sekedar memberikan nilai saja melainkan sebuah proses sistematis untuk mengukur ketercapaian kompetensi yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam K13 jenis asesmen terbagi menjadi tiga yaitu pengetahuan, sikap, dan kerampilan. Seadangkan dalam kurikulum merdeka terbagi menjadi asesmen formatif yaitu dilaksanakan selama proses pembelajaran, dan asesmen sumatif yaitu akhir proses pembelajaran. Lalu untuk pendekatan dalam K13 cenderung melalui ujian-ujian formal sedangkan kurikulum merdeka siswa dilatih untuk bersikakp kritis tidak hanya terhadap materi pelajaran saja, tetapi juga terhadap pemikiran mereka sendiri.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

oleh Diah Rachmawati Syukri -
NAMA : DIAH RACHMAWATI SYUKRI
NPM : 2523031003

Izin menjawab, menurtu saya Karakteristik asesmen Pendidikan IPS bersifat holistik, kontekstual, autentik, dan berorientasi pada proses serta hasil, dengan tujuan menilai tidak hanya pengetahuan, tetapi juga sikap sosial dan keterampilan berpikir kritis siswa dalam menghadapi masalah nyata di masyarakat. Asesmen Pendidikan IPS dalam K‑13 bersifat berbasis KD yang rinci dengan kombinasi tes tertulis dan penilaian non‑tes, namun praktiknya sering masih bertumpu pada ujian. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen berbasis CP per fase, lebih menekankan formatif, otentik, dan otentik‑projek/portofolio, serta menjadi bagian integral proses belajar untuk menggambarkan secara holistik pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik. Implementasinya di sekolah menunjukkan pergeseran dari penilaian untuk angka menjadi penilaian untuk pembelajaran dan perkembangan siswa, meskipun tetap perlu dukungan pelatihan dan infrastruktur yang memada.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Karakteristik asesmen Pendidikan IPS dan implementasinya di persekolahan (asesmen dalam K-13 dan K-Merdeka).

oleh Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Ya, asesmen dalam Pendidikan IPS pada kurikulum Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama bertujuan untuk mengukur perkembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh. Dalam Pendidikan IPS, asesmen tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga sikap sosial, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan partisipasi peserta didik dalam kehidupan sosial.

Pada K-13, asesmen lebih menekankan pada penilaian autentik (authentic assessment). Guru menilai tiga aspek utama yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian dilakukan melalui berbagai teknik seperti observasi, tes tertulis, penugasan, portofolio, proyek, presentasi, dan praktik. Dalam pembelajaran IPS, peserta didik tidak hanya diminta menghafal materi, tetapi juga mampu menganalisis fenomena sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Oleh karena itu, asesmen IPS dalam K-13 cenderung cukup kompleks karena guru harus melakukan penilaian secara detail pada setiap kompetensi dasar.

Sementara itu, dalam Kurikulum Merdeka, asesmen lebih fleksibel dan berorientasi pada pengembangan kompetensi serta karakter peserta didik sesuai Profil Pelajar Pancasila. Penilaian tidak terlalu berfokus pada administrasi yang rumit, tetapi lebih pada proses pembelajaran yang bermakna. Asesmen dibagi menjadi asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Asesmen diagnostik dilakukan untuk mengetahui kondisi awal dan kebutuhan belajar peserta didik. Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik, sedangkan asesmen sumatif digunakan untuk mengukur pencapaian pembelajaran di akhir materi atau fase.

Karakteristik asesmen IPS dalam Kurikulum Merdeka juga lebih menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah kontekstual. Implementasinya dapat berupa studi kasus sosial, proyek berbasis lingkungan, diskusi isu sosial, presentasi, hingga pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Dengan demikian, peserta didik didorong untuk aktif memahami realitas sosial di sekitarnya dan tidak hanya berorientasi pada nilai angka.

Dalam implementasinya di sekolah, tantangan yang sering muncul adalah kesiapan guru dalam menyusun instrumen asesmen, keterbatasan waktu, serta kemampuan melakukan penilaian autentik secara objektif. Pada Kurikulum Merdeka, guru juga dituntut lebih kreatif dalam merancang asesmen yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks lingkungan sekolah. Namun, pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 karena mampu mengembangkan kompetensi nyata yang dibutuhkan peserta didik dalam kehidupan sosial masyarakat.