Diskusi

Diskusi

Number of replies: 1

Berikan pandangan-pandangan anda tentang pemeriksaan persediaan dan urgensinya bagi sebuah entitas. Silakan dielaborasi berdasarkan sumber referensi yang sudah anda baca.

In reply to First post

Re: Diskusi

Adea Aprilia གིས-
Nama : Adea Aprilia
NPM : 2313031034

Pemeriksaan persediaan merupakan salah satu aspek penting dalam audit laporan keuangan karena persediaan sering kali merupakan salah satu aset terbesar dan paling berisiko dalam sebuah entitas, terutama di sektor manufaktur, perdagangan, dan distribusi. Persediaan yang tercatat dalam laporan keuangan harus diverifikasi keakuratannya, baik dari segi jumlah fisik maupun nilai tercatatnya. Hal ini penting karena persediaan dapat mempengaruhi laba yang dilaporkan oleh entitas, terutama ketika ada perbedaan antara jumlah yang tercatat dan jumlah yang sebenarnya tersedia di lapangan, atau jika persediaan tidak dihitung dengan metode yang benar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, seperti PSAK 14 tentang Persediaan. Urgensi pemeriksaan persediaan terletak pada beberapa faktor. Pertama, persediaan memiliki dampak langsung pada laporan laba rugi karena perubahan nilai persediaan akan memengaruhi biaya barang yang terjual (COGS) dan pada akhirnya laba kotor entitas. Kedua, persediaan yang tidak dikelola dengan baik atau tidak tercatat dengan akurat dapat mengarah pada masalah likuiditas atau bahkan kerugian finansial jika entitas harus menjual barang dengan harga lebih rendah dari nilai tercatatnya. Sebagai contoh, persediaan yang usang atau tidak dapat dijual dapat mengurangi nilai wajar persediaan dan harus dinilai dengan penyisihan penurunan nilai, yang mempengaruhi laba dan aset perusahaan. Ketiga, ketepatan pengelolaan persediaan berhubungan dengan efisiensi operasional, di mana audit terhadap persediaan dapat membantu mengidentifikasi apakah ada pemborosan, kelebihan stok, atau masalah dalam pengendalian internal yang dapat merugikan entitas.

Dalam melakukan pemeriksaan persediaan, auditor perlu memeriksa beberapa hal, termasuk pencatatan dan metode perhitungan yang digunakan, serta verifikasi fisik terhadap barang yang ada di gudang atau lokasi penyimpanan. Selain itu, auditor juga harus memastikan bahwa entitas menggunakan metode valuasi yang tepat seperti FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out), atau rata-rata tertimbang sesuai dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan. Di samping itu, auditor juga harus mengevaluasi keberadaan persediaan yang sudah tidak relevan lagi atau rusak, yang mungkin memerlukan penurunan nilai untuk mencerminkan nilai pasar yang lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti dan Sari (2019) dalam jurnal "Pemeriksaan Persediaan dalam Audit Laporan Keuangan", mereka menekankan bahwa pemeriksaan persediaan bukan hanya sekadar menghitung jumlah barang yang ada, tetapi juga memeriksa sistem pengendalian internal entitas yang berkaitan dengan persediaan. Sistem yang baik dapat mencegah pencatatan yang salah, penghilangan barang, atau manipulasi data yang dapat mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Oleh karena itu, audit persediaan tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi proses yang mendasari pencatatan dan pengelolaannya, yang tentunya berhubungan erat dengan aspek kontrol internal yang diterapkan oleh entitas.Pemeriksaan persediaan ini juga menjadi sangat krusial dalam situasi perusahaan yang sedang berkembang atau melakukan ekspansi, di mana pengelolaan persediaan yang tidak efektif bisa menyebabkan masalah serius di kemudian hari, termasuk
ketidaksesuaian dalam perencanaan dan pengalokasian sumber daya yang efisien. Oleh karena itu, audit persediaan memiliki peran penting dalam memberikan keyakinan kepada pihak eksternal (misalnya, investor atau kreditor) bahwa laporan keuangan yang disajikan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, dengan demikian menjaga kepercayaan publik terhadap kinerja finansial entitas.

Referensi:
Widyastuti, A., & Sari, D. P. (2019). Pemeriksaan Persediaan dalam Audit Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 17(1), 45-56.