Penugasan

Penugasan

Number of replies: 28

  1. Membaca bahan ajar tentang berbagai pendekatan pendidikan moral.
  2. Menentukan pendekatan yang paling relevan untuk konteks Indonesia.
  3. Menulis alasan pemilihan pendekatan tersebut.
  4. Mendesain satu contoh kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan itu.
  5. Diskusikan hasil rancangan di kelas.

In reply to First post

Re: Penugasan

Aufa Nabila གིས-
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

Pendekatan Pendidikan Moral yang Relevan di Indonesia yaitu :

Pendidikan moral merupakan upaya menanamkan nilai, etika, dan sikap yang baik kepada peserta didik agar mereka mampu mengambil keputusan moral secara mandiri. Dalam konteks Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai religius, pendekatan yang paling relevan adalah pendekatan nilai (value-based approach) yang dipadukan dengan pendekatan keteladanan (modeling approach).

Pendekatan nilai menekankan pada internalisasi nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan gotong royong ke dalam diri siswa. Sementara itu, pendekatan keteladanan memperkuat penerapan nilai melalui perilaku nyata guru dan lingkungan sekolah. Kedua pendekatan ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi budaya sopan santun, solidaritas sosial, dan spiritualitas.

Alasan Pemilihan Pendekatan:
Pendekatan nilai dan keteladanan dianggap paling relevan karena:
1. Nilai-nilai moral dalam pendidikan Indonesia berakar pada Pancasila dan ajaran agama.
2. Peserta didik lebih mudah menyerap nilai melalui contoh konkret yang ditunjukkan oleh guru dan lingkungan sekitar.
3. Pendekatan ini membangun hubungan emosional antara siswa dan guru sehingga nilai moral lebih mudah diinternalisasi.
4. Cocok dengan budaya Indonesia yang menekankan pentingnya budi pekerti dan karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Contoh Kegiatan Pembelajaran:
Tema: Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
Mata pelajaran: Pendidikan Pancasila
Kelas: VII SMP

Langkah kegiatan:
• Guru memulai dengan cerita pendek tentang seorang siswa yang menemukan dompet di sekolah.
• Siswa diminta mendiskusikan apa yang seharusnya dilakukan tokoh dalam cerita tersebut.
• Guru mengajak refleksi bersama mengenai arti penting kejujuran dan akibat dari kebohongan.
• Kegiatan dilanjutkan dengan permainan “Kotak Kejujuran”, di mana siswa menulis pengalaman pribadi ketika mereka memilih jujur meski sulit.
• Guru memberikan contoh nyata tentang kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran moral tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan perilaku nyata siswa. Nilai-nilai moral menjadi bagian dari 

keseharian mereka, bukan hanya hafalan di kelas.


In reply to First post

Re: Penugasan

Asep Nurman གིས-
Nama : Asep Nurman
NPM : 2513032086
Kelas : 25 C

1. Pendekatan yang cocok untuk Indonesia adalah Pendekatan Afektif
Pendekatan ini menekankan pada pembentukan sikap, perasaan, dan nilai-nilai moral dalam diri siswa, bukan hanya membuat mereka tahu mana yang benar atau salah.
Tujuan utama pendidikan di Indonesia, seperti tertulis dalam Undang - Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3, adalah membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Karena itu, pendidikan moral tidak cukup hanya diajarkan lewat logika atau teori, tetapi harus menyentuh hati dan perasaan siswa agar nilai-nilai moral benar-benar mereka renungkan dan diterapkan.

2. Alasan Memilih Pendekatan Afektif
a. Banyak siswa tahu apa yang benar dan salah, tapi tidak selalu melakukannya. Dengan pendekatan afektif, mereka belajar merasakan makna nilai moral, seperti empati, kejujuran, dan tanggung jawab, sehingga lebih termotivasi untuk bertindak benar.
b. Budaya Indonesia sangat mengutamakan hubungan sosial dan nilai kemanusiaan, seperti gotong royong, sopan santun, dan rasa hormat. Pendekatan afektif membuat siswa belajar nilai-nilai itu lewat pengalaman dan perasaan, bukan sekadar lewat hafalan.
c. Cara ini sesuai dengan pendidikan karakter di Indonesia yang mengutamakan pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman nyata. Nilai moral tidak hanya diajarkan, tetapi diterapkan dalam keseharian siswa.

3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Afektif
Nama kegiatan: Proyek Empati Sekolah
Tujuan: Menumbuhkan rasa peduli, empati, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar
Langkah-langkah kegiatan:
a. Diskusi awal: Guru mengajak siswa membahas masalah sosial di sekitar mereka, misalnya kebersihan sekolah, teman yang sering sendirian, atau warga yang membutuhkan bantuan.
b. Refleksi perasaan: Siswa diajak membayangkan bagaimana rasanya jika mereka berada di posisi orang lain itu.
c. Aksi nyata: Siswa dibagi menjadi kelompok untuk melakukan kegiatan sosial, seperti membersihkan lingkungan sekolah, membuat kotak donasi, atau mengunjungi panti asuhan.
d. Refleksi akhir: Setelah kegiatan, siswa menulis atau bercerita tentang pengalaman dan perasaan mereka. Guru membantu mereka menyimpulkan nilai-nilai moral yang muncul, seperti empati dan tanggung jawab.

Kegiatan ini mengajak siswa mengalami dan merasakan langsung nilai moral, bukan hanya mempelajarinya lewat buku. Melalui pengalaman dan evaluasi, siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai baik dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: Penugasan

Nadin Azizah གིས-
In reply to Nadin Azizah

Re: Penugasan

DINA OKTA FITRIANA FITRIANA གིས-
Nama:Dina okta fitriana
kelas :25C
NPM. :2513032079

1..Membaca Bahan Ajar Tentang Pendekatan Pendidikan Moral

A. Pendekatan Penanaman Nilai
Pendekatan ini fokus pada cara mengajarkan nilai-nilai sosial secara langsung kepada siswa.
Tujuannya adalah agar nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat dapat diterima dan diinternalisasi oleh siswa.
B. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif
Pendekatan ini menekankan pada proses pengembangan kemampuan berpikir moral siswa, yaitu cara siswa memahami dan menilai tindakan yang benar atau salah.
C. Pendekatan Analisis Nilai
Dalam pendekatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk menguraikan dan menganalisis nilai-nilai yang ada, sehingga mereka bisa memahami makna dan relevansi nilai-nilai tersebut.
D. Pendekatan Klarifikasi Nilai
Pendekatan ini membantu siswa untuk mengenali, memahami, dan merumuskan nilai-nilai pribadi mereka sendiri dengan begitu siswa bisa bertindak secara sadar sesuai dengan nilai yang diyakini.
E. Pendekatan Pembelajaran Berbuat
Pendekatan ini menekankan pembelajaran melalui pengalaman nyata dan tindakan langsung yang mencerminkan nilai-nilai moral.
Pendekatan ini biasanya diberikan secara terpisah maupun diintegrasikan dalam pembelajaran tentang budi pekerti dan karakter.

2.Memilih Pendekatan yang Tepat untuk Indonesia

Pendekatan perkembangan kognitif moral sangat cocok untuk situasi di Indonesia karena bisa membantu siswa berpikir secara kritis dan memiliki kesadaran nilai secara baik, terutama di tengah tantangan sosial dan moral seperti pluralisme, radikalisme, globalisasi, serta penurunan moral yang dipengaruhi budaya luar.
Pendidikan moral di Indonesia harus mengajarkan nilai-nilai Pancasila, solidaritas, dan karakter bangsa yang kuat dengan cara yang mendorong siswa untuk menerapkan nilai-nilai dan membuat keputusan moral yang bijak.

3.Alasan Memilih Pendekatan

Pendekatan perkembangan moral kognitif dipilih karena:
A. Membantu siswa memahami alasan di balik nilai-nilai moral, bukan hanya menerima secara pasif.
B. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah-masalah moral.
C. Sesuai dengan konteks kebhinekaan dan tantangan sosial yang ada di Indonesia yang cukup rumit.
D. Memperkuat kesadaran tentang etika berdasarkan nilai-nilai budaya dan Pancasila sebagai identitas bangsa.

4.Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Judul Kegiatan: Diskusi Dilema Moral tentang Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
A.Guru menyampaikan cerita pendek yang berisi dilema moral, misalnya siswa menemukan dompet di sekolah.
B.Siswa diminta berdiskusi dalam kelompok, membahas apa yang seharusnya dilakukan dan mengeksplorasi berbagai opsi (mengembalikan dompet, menyerahkannya kepada guru, atau mengambilnya sendiri).
C.Setiap kelompok menjelaskan alasan pilihan mereka, berdasarkan nilai-nilai moral dan dampak dari setiap tindakan.
D.Guru membimbing siswa melakukan refleksi dengan pertanyaan seperti: Mengapa kejujuran sangat penting?
Bagaimana keputusan kita mempengaruhi diri sendiri dan orang lain?
E.Pembelajaran ditutup dengan kesimpulan bersama bahwa dalam membuat keputusan moral, siswa perlu memahami nilai-nilai yang dianut serta konsekuensi dari tindakan mereka.
Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam mengembangkan moral secara kritis dan emosional, serta sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan yang diterapkan di sekolah Indonesia sebagai upaya memperkuat karakter dan etika bangsa.
In reply to First post

Re: Penugasan

lena septiana གིས-
Nama: Lena Septiana
Npm: 2513032074
Kelas: 25 C

1. Pendekatan yang paling cocok untuk konteks Indonesia menurut saya adalah Pendekatan Teladan (Modeling). karena menekankan pemberian contoh perilaku moral melalui tindakan nyata oleh seorang guru, orang tua, atau figur yang dihormati.

2. Menulis alasan pemilihan pendekatan tersebut.
Alasannya:
- Budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru, sehingga perilaku guru sangat mudah diikuti siswa.
- Banyak siswa di Indonesia lebih cepat belajar dari contoh nyata daripada lewat ceramah atau teori saja.
- Pendekatan teladan cocok dengan kondisi sekolah Indonesia yang menekankan sopan santun, disiplin, dan etika. Jika guru menunjukkan sikap jujur, peduli, disiplin, dan sopan, siswa biasanya akan meniru.
- Pendekatan ini lebih efektif di usia remaja, karena mereka cenderung meniru figur yang dianggap penting, seperti guru dan kakak kelas.
- Sekolah di Indonesia sering menerapkan kegiatan rutin seperti upacara, doa bersama, salam-sapa, dan piket. Semua ini akan berjalan lebih baik bila guru memberikan contoh yang konsisten.

3. Mendesain satu contoh kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan teladan.
Judul Kegiatan: Belajar Disiplin dan Tanggung Jawab Melalui Keteladanan Guru
Langkah Kegiatan:
a. 
Guru masuk kelas tepat waktu, menyapa siswa dengan ramah, dan mengecek kebersihan kelas sambil ikut membantu merapikan beberapa meja.
 Ini langsung menjadi contoh nyata kedisiplinan dan tanggung jawab.
b. Guru bertanya, “Menurut kalian, kenapa disiplin itu penting? Bagaimana kalau saya sering terlambat mengajar?”
Siswa memberi pendapat, lalu guru menanggapi dengan contoh nyata dampak kedisiplinan.
c.- Siswa dibagi dalam kelompok kecil.
- Setiap kelompok diberi tugas membuat jadwal kebiasaan disiplin, misalnya: hadir tepat waktu, merapikan meja, mengumpulkan tugas sesuai deadline.
- Selama proses ini, guru terus memberikan contoh: mengumpulkan bahan ajar tepat waktu ke siswa, merapikan papan tulis, atau membantu kelompok yang kebingungan dengan sabar.
d. 
Siswa menuliskan apa yang mereka lihat dari sikap guru hari itu dan bagaimana itu mempengaruhi cara mereka bersikap.
Contoh: “Hari ini saya melihat guru saya tidak marah meskipun kelas agak berisik, dan itu mengajari saya soal sabar.”
e. Guru menegaskan kembali bahwa nilai moral bukan cuma teori, tapi sesuatu yang ditunjukkan lewat tindakan sehari-hari.

Hasil yang Diharapkan:
- Siswa belajar bahwa disiplin, sopan, dan bertanggung jawab harus dilakukan, bukan hanya diucapkan.
- Siswa meniru kebiasaan baik guru dalam kegiatan harian di sekolah.
In reply to First post

Re: Penugasan

NILA DWI LANA 2513032070 གིས-
Nama : Nila Dwi Lana
NPM : 2513032070
Kelas : 25C

pendekatan pendidikan moral yang paling relevan di indonesia menurut saya adalah Pendekatan Pengembangan Kognitif Moral (Cognitive Moral Development): Berbasis teori Kohlberg, pendekatan ini berfokus pada struktur penalaran moral siswa, bukan pada kontennya. Tujuannya adalah mendorong siswa untuk bergerak ke tahap penalaran moral yang lebih tinggi melalui diskusi dilema moral.

Alasan Pemilihan Pendekatan
Pendekatan Pengembangan Kognitif Moral sangat relevan di Indonesia karena:

Sesuai Tahap Perkembangan Kognitif: Siswa SMP mulai mampu berpikir secara abstrak. Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan mereka untuk menganalisis situasi kompleks (dilema moral) dan mempertimbangkan berbagai perspektif, mendorong perkembangan penalaran yang lebih matang.

Mendorong Kemandirian dan Tanggung Jawab: Di usia remaja, siswa mencari kebebasan bertindak. Pendekatan ini tidak mendikte nilai, tetapi membantuk siswa mengembangkan kerangka pikir untuk membuat keputusan moral sendiri. Hal ini krusial dalam konteks Indonesia yang majemuk, di mana mereka harus bisa berinteraksi dengan berbagai norma dan membuat pilihan yang bertanggung jawab.

Relevansi dengan Pancasila dan Kurikulum: Pendidikan moral di Indonesia (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/PPKn) menekankan pada pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Pendekatan kognitif moral menyediakan metode dialogis yang kuat untuk membahas bagaimana nilai-nilai Pancasila (misalnya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia) diterapkan dalam dilema kehidupan nyata, bukan hanya dihafal.

Melengkapi Penanaman Nilai: Sementara Penanaman Nilai efektif untuk nilai-nilai dasar budaya/agama, Pendekatan Kognitif Moral memastikan nilai-nilai tersebut dipahami secara mendalam dan bukan sekadar kepatuhan semata. Ini penting untuk menghadapi tantangan globalisasi dan informasi yang kompleks.

Contoh Kegiatan Pembelajaran:
1. Menganalisis peran dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Menyatakan pilihan moralnya dan memberikan alasan yang rasional.
3. Mengidentifikasi dan menerapkan nilai-nilai Pancasila (khususnya Keadilan Sosial dan Kemanusiaan) dalam penyelesaian dilema.
4. Meningkatkan tahap penalaran moralnya ke level yang lebih tinggi, jika memungkinkan.

Langkah-langkah pembelajaran:
1. Apresiasi: Guru menanyakan pengalaman siswa terkait dilema moral yang pernah mereka alami atau pernah mereka lihat
2. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa hari ini kita tidak akan belajar tentang apa yang benar atau salah, tetapi mengapa kita menganggap sesuatu itu benar atau salah (fokus pada proses berpikir).
3. Penyampaian Kasus: Guru membagikan lembar kasus (Dilema Moral) kepada setiap siswa. Kemudian guru meminta siswa memberikan pilihan dan alasan boleh secara berkelompok atau individu.
4. Refleksi: Siswa menuliskan Refleksi Pribadi singkat: Apakah argumen teman membuat saya mempertimbangkan kembali pilihan awal saya? Jika ya, mengapa? Apa pelajaran terpenting tentang etika dan tanggung jawab dari diskusi ini
5. Penguatan: Guru menyimpulkan bahwa moralitas bukanlah tentang kepatuhan tapi tentang kemampuan berpikir untuk memilih yang paling bertanggung jawab dalam kerangka nilai-nilai luhur bangsa.
In reply to NILA DWI LANA 2513032070

Re: Penugasan

Alya Niza Silvia གིས-
Nama : Alya Niza Silvia
Kelas : 25 C
NPM : 2513032078

A. Bahan Ajar Pendekatan Pendidikan Moral

1. Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Pendekatan ini berfokus pada penanaman nilai tertentu yang dianggap penting oleh masyarakat, sekolah, atau negara kepada peserta didik. Tujuannya untuk membentuk perilaku sesuai norma, memperkuat disiplin dan kepatuhan, serta menanamkan kebiasaan baik.

2. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Cognitive Moral Development Approach)
Pendekatan yang menekankan proses berpikir moral berdasarkan teori tentang perkembangan moral. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan penalaran moral, melatih siswa mengambil keputusan berdasarkan prinsip, dan mengembangkan tanggung jawab pribadi.

3. Pendekatan Klarifikasi Nilai (Values Clarification Approach)
Pendekatan ini membantu siswa menemukan, memahami, dan mengklarifikasi nilai yang mereka yakini melalui proses refleksi diri. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran nilai diri sendiri, membantu siswa membuat pilihan berdasarkan nilai pribadi, dan mengembangkan kejujuran diri dan konsistensi tindakan.

4. Pendekatan Analisis Nilai (Values Analysis Approach)
Pendekatan yang mengajak siswa menganalisis permasalahan moral menggunakan kemampuan berpikir kritis, mempertimbangkan fakta, alternatif tindakan, dan dampaknya. Tujuannya untuk melatih analisis etis, membantu memahami masalah sosial secara rasional, dan meningkatkan kemampuan argumentasi berdasarkan bukti.

5. Pendekatan Lingkungan/Iklim Sekolah (School Environment Approach)
Pendekatan ini menciptakan budaya sekolah yang mendukung perilaku moral, seperti aturan, kebiasaan, dan suasana hubungan antarwarga sekolah. Tujuannya untuk membentuk budaya positif, menjadikan nilai moral sebagai kebiasaan bersama, dan mengurangi perilaku negatif seperti bullying, intoleransi, dan kekerasan.

6. Pendekatan Pembiasaan (Habituation Approach)
Pendekatan yang menekankan kebiasaan rutin sehingga nilai moral tertanam otomatis dalam diri siswa. Tujuannya untuk membentuk karakter melalui rutinitas, mewujudkan nilai moral tanpa paksaan, dan membentuk disiplin diri dalam waktu jangka panjang.

B. Pendekatan Relevan untuk Konteks Indonesia

Pendekatan pendidikan moral yang paling relevan untuk konteks Indonesia, yaitu "Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation)". Mengapa relevan di Indonesia? Karena Indonesia memiliki nilai dasar nasional, yaitu Pancasila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan) yang perlu ditanamkan sejak dini agar mudah mengarahkan siswa untuk mengikuti nilai dasar ini secara jelas. Pendekatan penanaman nilai cocok dengan struktur pendidikan di Indonesia yang masih bersifat hierarkis, guru dianggap figur otoritas, dan nilai moral sering disampaikan secara eksplisit. Kemudian pendekatan ini mudah diterapkan oleh guru dalam kegiatan rutin dan diterima oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung kebersamaan, norma sosial, sopan santun, musyawarah, dan harmoni sosial, sehingga penanaman nilai menjadi dasar pembentukan moral dan karakter melalui contoh, adat, dan kebiasaan. Contoh penerapannya seperti pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), kerja bakti, gotong royong, disiplin sekolah, serta upacara bendera dan pendidikan kewarganegaraan.

C. Contoh Kegiatan Pembelajaran Penanaman Nilai “Disiplin dan Tanggung Jawab”

1. Identitas Pembelajaran
a. Jenjang: SMP/SD (bisa disesuaikan)
b. Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila / Pendidikan Karakter
c. Nilai Utama: Disiplin dan Tanggung Jawab
d. Durasi: 60 menit

2. Tujuan Pembelajaran
a. Menjelaskan arti disiplin dan tanggung jawab.
b. Menunjukkan perilaku disiplin dalam kegiatan kelas.
c. Melaksanakan tugas sederhana secara bertanggung jawab.

3. Pendekatan yang Digunakan
Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation) dengan cara:
a. Pembiasaan
b. Penguatan positif
c. Pemberian contoh
d. Pemberian aturan yang jelas
e. Pemberian konsekuensi

4. Langkah-Langkah Pembelajaran (60 menit)
A. Pendahuluan (10 menit)
1) Guru menyapa dan memastikan semua siswa masuk kelas tepat waktu.
2) Guru memberi penguatan verbal.
3) Guru menampilkan gambar/video singkat tentang siswa yang disiplin.
4) Guru bertanya singkat.

B. Kegiatan Inti (40 menit)
1) Penanaman Nilai melalui Pembiasaan (10 menit)
2) Pemberian Aturan dan Penekanan Nilai (10 menit)
3) Kegiatan Tugas untuk Menanamkan Nilai (15 menit)
4) Pemberian Konsekuensi Ringan (5 menit)

C. Penutup (10 menit)
1) Guru mengajak siswa refleksi singkat.
2) Guru memberi apresiasi pada siswa.
3) Guru menutup dengan pembiasaan merapikan kelas sebelum pulang.

5. Penilaian
a. Sikap
b. Pengetahuan
c. Keterampilan

Tujuan kegiatan pembelajaran ini adalah agar siswa memahami arti disiplin dan tanggung jawab dalam aktivitas sehari-hari. Siswa diharapkan mampu menunjukkan perilaku disiplin serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab selama proses belajar. Selain itu, kegiatan ini bertujuan membentuk kebiasaan positif yang mendukung sikap tertib dan konsisten dalam kehidupan sekolah.
In reply to First post

Re: Penugasan

Ica Cahya Marsugi གིས-
Assalamualaikum ibu, izin mengumpulkan tugas
Nama : Ica Cahya Marsugi
Kelas: 25.C
NPM : 2513032081


Pendekatan Pendidikan Moral yang paling relevan yaitu:

a. Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation)
Guru secara langsung menanamkan nilai melalui keteladanan, aturan kelas, penguatan, serta pembiasaan. Pendekatan ini menekankan disiplin dan pembentukan karakter dasar.

b. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Kohlberg)
Pendekatan ini menggunakan dilema moral untuk mendorong siswa berpikir, mempertimbangkan alasan, dan melihat suatu situasi dari berbagai sudut pandang.

c. Pendekatan Analisis Nilai (Value Analysis)
Siswa diajak untuk menganalisis suatu isu nyata, mengidentifikasi fakta, mempertimbangkan dampak, dan menarik kesimpulan moral berdasarkan hasil analisis tersebut.

d. Pendekatan Klarifikasi Nilai (Value Clarification)
Pendekatan ini membantu siswa mengenali nilai-nilai yang mereka anggap penting, memahami alasan di balik nilai tersebut, dan mengekspresikannya dalam tindakan.

e. Pendekatan Pendidikan Karakter
Nilai-nilai ditanamkan melalui budaya sekolah, keteladanan guru, kegiatan bersama, dan pembiasaan sehari-hari sehingga membentuk karakter secara menyeluruh.

2. Pendekatan yang paling relevan untuk konteks Indonesia

Melihat kondisi Indonesia yang sangat beragam dari segi budaya, agama, dan persoalan sosial, pendekatan yang paling sesuai adalah kombinasi Perkembangan Moral Kognitif dan Analisis Nilai karena;

1. Siswa membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan, bukan hanya menerima nilai secara satu arah.
2. Banyak isu sosial saat ini, seperti hoaks, intoleransi, dan etika digital, yang menuntut kemampuan berpikir kritis.
3. Pendekatan ini tetap sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya lokal, tanpa membuat prosesnya menjadi dogmatis.
4. Siswa dilatih untuk mengambil keputusan moral secara matang, sadar, dan bertanggung jawab.


3. Alasan pemilihan pendekatan

Saya memilih gabungan pendekatan Perkembangan Moral Kognitif dan Analisis Nilai karena kedua pendekatan ini mendorong siswa untuk benar-benar memahami alasan moral di balik setiap tindakan. Dalam konteks Indonesia yang penuh keberagaman dan tantangan sosial yang kompleks, siswa tidak cukup hanya mengetahui aturan, tetapi perlu mampu mempertimbangkan sudut pandang orang lain dan memutuskan tindakan yang paling tepat. Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berdialog, mengajukan pertanyaan, serta menganalisis situasi nyata sehingga nilai moral dapat dipahami dan dihayati secara lebih mendalam.


4. Contoh kegiatan pembelajaran
Judul: Dilema Moral di Media Sosial: Diam atau Menegur?
Kelas: SMP/SMA
Kegiatan dimulai dengan pemutaran video singkat tentang hoaks, kemudian guru menyajikan dilema moral mengenai teman yang membagikan informasi palsu. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan pilihan tindakan beserta alasannya, lalu mempresentasikan hasilnya melalui debat mini. Setelah itu, siswa menuliskan refleksi singkat mengenai nilai yang mereka pelajari, dan guru menutup kegiatan dengan rangkuman tanpa memaksakan pendapat tertentu.

5. Diskusi hasil rancangan di kelas
Pendekatan yang menggabungkan Perkembangan Moral Kognitif dan Analisis Nilai dinilai paling tepat karena mendorong siswa berpikir kritis, berdialog, serta memahami alasan moral di balik setiap tindakan. Melalui kegiatan berbasis dilema moral, siswa belajar mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan selaras dengan nilai-nilai kehidupan nyata di Indonesia.
In reply to First post

Re: Penugasan

Revita Winasa Pasundari གིས-

Nama: Revita Winasa Pasundari

NPM:2553032002

Kelas:25C

Menurut saya pendekatan yang paling relevan untuk konteks Indonesia adalah Pendekatan penanaman nilai (value inculcation) dipilih dalam konteks pendidikan moral di Indonesia karena pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai budaya Indonesia yang menjunjung tinggi moralitas, kebajikan, dan karakter luhur. Di Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepribadian yang berakhlak mulia sesuai Pancasila. Melalui pendekatan ini, siswa dididik untuk menerima dan menerapkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, dan menghormati orang lain melalui pembiasaan dan keteladanan guru serta lingkungan. Selain itu, pendekatan ini cocok dengan budaya masyarakat Indonesia yang cenderung menggunakan cara pengajaran langsung dan normatif dalam membentuk karakter. Dengan menanamkan nilai-nilai sejak dini, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan moral di era modern.


Alasan memilih Pendekatan penanaman nilai (value inculcation) dipilih dalam konteks pendidikan moral di Indonesia karena pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai budaya Indonesia yang menjunjung tinggi moralitas, kebajikan, dan karakter luhur. Di Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepribadian yang berakhlak mulia sesuai Pancasila. Melalui pendekatan ini, siswa dididik untuk menerima dan menerapkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, dan menghormati orang lain melalui pembiasaan dan keteladanan guru serta lingkungan. Selain itu, pendekatan ini cocok dengan budaya masyarakat Indonesia yang cenderung menggunakan cara pengajaran langsung dan normatif dalam membentuk karakter. Dengan menanamkan nilai-nilai sejak dini, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan moral di era modern.


Salah satu contoh kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan penanaman nilai yaitu dapat dilakukan melalui kegiatan kelas dengan bertema “Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari.” Guru memulai pembelajaran dengan menceritakan kisah inspiratif tentang seorang tokoh yang dikenal jujur, kemudian mengajak siswa berdiskusi tentang pentingnya nilai kejujuran dalam berbagai situasi, seperti saat mengerjakan ulangan, bertransaksi, atau berbicara dengan orang tua. Setelah itu, siswa diminta menuliskan pengalaman pribadi mereka terkait kejujuran, baik sukses maupun kegagalannya. Guru kemudian memberikan contoh teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari dan mengajak siswa melakukan refleksi diri. Pada akhir kegiatan, siswa membacakan komitmen pribadi untuk selalu berusaha berlaku jujur. Kegiatan ini bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang kejujuran, tetapi juga menanamkan nilai tersebut melalui cerita, diskusi, refleksi, dan pembiasaan, sehingga nilai dapat benar-benar diinternalisasi oleh siswa.

In reply to First post

Re: Penugasan

Nadifah Andresta Asmoro གིས-
Nama: Nadifah Andresta Asmoro
NPM: 2513032076
Kelas: 25C

menurut saya pendekatan yang paling relevan untuk konteks indonesia adalah Pendekatan Pembelajaran Berbuat (Action Learning Approach) dikarenakan:
1. karakter moral di Indonesia lebih mudah dibentuk dengan praktik langsung dibanding jika hanya teori saja,di beberapa sekolah di Indonesia sering kali mengajarkan pendidikan moral berupa memberikan nasiat, sehingga siswa mengetahui teorinya saja tanpa bisa mempraktikannya.
2. Cocok dengan budaya Indonesia yang mengedepankan nilai dan rasa gotong royong sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sila ke 3.
3. Indonesia memiliki contoh-contoh kasus nyata yang dapat di analisis melalui observasi dalam pendekatan pembelajaran berbuat.
4. Dan siswa lebih dapat memahami nilai-nilai moral yang terkandung melalui pengalaman/terjun langsung di dalam kasus tersebut.

Menurut saya tidak ada Pendekatan Moral paling relevan untuk konteks Indonesia semua jenis pendekatan harus di barengi dengan pendekatan-pendekatan lain seperti pendekatan analisis moral untuk bekal praktik dalan pendekatan pembelajaran berbuat, namun Pendekatan Pembelajaran Berbuat (Action Learning Approach) cukup relevan dikarenakan siswa lebih dapat memahami pendekatan moral jika pembelajarannya dibarengi dengan praktik tidak hanya sekedar teori.

Contoh Kegiatan Pembelajaran
Tema: Anti Bullying dan narkoba
Tujuan Kegiatan: untuk memberikan edukasi kepada siswa akan dampak negatif dari bullying dan antir narkoba serta menjadi bagian dari orang yang menolak keras bullying dan narkoba.

Langkah-Langkah:
1. Guru menentukan beberapa tujuan yang jelas mengenai kegiatan
2. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
3. Guru memberi pemahaman tentang bullying (verbal, fisik, sosial dan cyber), yang menjelaskan mengenai dampak, bagaimana cara mencegahnya dan menjelaskan bahayanya jika sampai menyentuh narkoba
4. Guru menentukan bentuk kampanye seperti membuat vidio pendek/poster anti bullying dan narkoba
5. Guru memastikan kampanye berjalan dengan tertib dan baik, kampanye yang dapat dilakukan bisa seperti memasang poster diarea sekolah, membuat booth anti bullying dan lain-lain.
6. Evaluasi kegiatan
In reply to Nadifah Andresta Asmoro

Re: Penugasan

Nur Hidayati གིས-
Nama: Nur Hidayati
NPM: 2513032080
Kelas: 25 C

Pendekatan afektif dalam pendidikan moral adalah pendekatan yang menekankan pembentukan sikap, perasaan, dan nilai dalam diri peserta didik. Fokusnya bukan hanya pada “tahu apa yang baik”, tetapi pada “mau dan rela melakukan yang baik”. Dalam pendekatan ini, mahasiswa diajak merasakan, mengalami, dan merenungkan nilai moral, seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan kepedulian. Nilai tidak hanya dijelaskan secara teori, tetapi dibuat dekat dengan kehidupan nyata sehingga masuk ke hati, bukan sekadar tinggal di ingatan.

Pendekatan afektif dipilih karena banyak masalah moral di masyarakat Indonesia bukan terjadi karena kurang pengetahuan, tetapi karena lemahnya sikap dan karakter. Orang sering tahu bahwa korupsi, kebohongan, atau perilaku intoleran itu salah, namun tetap melakukannya. Di sinilah pendekatan afektif menjadi relevan: ia menguatkan empati, rasa malu ketika berbuat salah, dan rasa bangga ketika berbuat benar. Pendekatan ini juga sejalan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, gotong royong, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut hanya bisa tumbuh kuat jika dibiasakan dalam pengalaman, bukan hanya diajarkan lewat hafalan.

Pendekatan afektif ini sangat relevan dengan konteks Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah. Nilai-nilai seperti ini sulit dibangun hanya dengan ceramah, tetapi tumbuh kuat melalui pengalaman nyata: bekerja sama, menolong orang lain, dan hidup ramah dalam perbedaan. Pada saat yang sama, banyak masalah moral di ruang publik Indonesianseperti korupsi, intoleransi, perundungan, dan ketidakjujuran bukan terjadi karena orang tidak tahu bahwa itu salah, tetapi karena lemahnya empati, integritas, dan pengendalian diri. Di sisi lain, sistem pendidikan kita masih cenderung menekankan aspek kognitif dan hafalan. Karena itu, pendekatan afektif menjadi penyeimbang yang penting: membantu mahasiswa mengembangkan hati nurani, empati, dan komitmen moral, sejalan dengan Pancasila, pendidikan karakter, serta Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka.

Dalam praktik pembelajaran, pendekatan afektif bisa diwujudkan melalui kegiatan sederhana namun bermakna. Misalnya, setelah melakukan kegiatan sosial seperti membantu tetangga, ikut kerja bakti, atau mengunjungi panti asuhan, mahasiswa diminta menulis jurnal refleksi tentang apa yang mereka lakukan, apa yang mereka rasakan, nilai apa yang mereka pelajari, dan perubahan sikap apa yang ingin mereka buat setelah pengalaman itu. Dosen kemudian mengajak beberapa mahasiswa berbagi secara sukarela di kelas, lalu menegaskan nilai empati dan kepedulian sosial yang muncul dari cerita tersebut. Contoh lain adalah bermain peran (role play) dilema moral, seperti kasus melihat teman mencontek atau tekanan untuk menandatangani laporan yang tidak jujur. Mahasiswa memerankan situasi itu, lalu berdiskusi tentang perasaan mereka saat berada di posisi tokoh, nilai apa yang sedang diuji, dan keputusan apa yang mereka anggap paling bermoral.
In reply to First post

Re: Penugasan

Via Dwi Silviani གིས-
Nama : Via Dwi Silviani
Kelas. : C
NPM. : 2513032085

1. Pendekatan Kognitif dalam Pendidikan Moral

Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Kohlberg) menekankan bahwa moralitas berkembang melalui tahapan penalaran, bukan sekadar pembiasaan.
Ciri-ciri utamanya:

1.Siswa diajak memecahkan dilema moral, bukan diberi jawaban benar-salah.
2.Guru berperan sebagai fasilitator dialog, bukan pemberi nilai moral.
3.Tujuan utamanya adalah meningkatkan tahap penalaran moral siswa.
4.Diskusi kelompok digunakan untuk mengeksplorasi alasan, bukan keputusan akhir.
5.Nilai moral dipahami melalui argumentasi, penalaran, dan analisis konsekuensi.

2. Mengapa Pendekatan Kognitif Relevan untuk KONTEKS INDONESIA

Pendekatan kognitif cocok untuk Indonesia karena:

a. Membantu siswa berpikir kritis terhadap isu moral

Indonesia menghadapi berbagai tantangan moral: intoleransi, bullying, korupsi, sampah, dll.
Pendekatan kognitif membantu siswa menalar, bukan hanya menghafal nilai.

b. Mendorong dialog toleransi

Diskusi dilema moral melatih siswa:
1.menghargai pendapat berbeda,
2.bersikap terbuka,
3.menjelaskan alasan moralnya.
Sangat relevan untuk masyarakat yang majemuk.

c. Mendukung pembelajaran abad 21
Melatih:
1.critical thinking,
2.komunikasi,
3.problem solving.

d. Sesuai kurikulum Indonesia yang menekankan “berpikir tingkat tinggi (HOTS)”
Dilema moral sangat cocok untuk pembelajaran berbasis HOTS di kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013.

3. Alasan Pemilihan Pendekatan Kognitif
1.Mengembangkan kedewasaan moral, bukan hanya kepatuhan.
2.Menanamkan kemampuan melihat dampak moral suatu tindakan.
3.Siswa belajar membuat keputusan moral sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.
4.Relevan dengan nilai-nilai Pancasila tentang kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan musyawarah.
5.Menghindari indoktrinasi; siswa membangun pemahamannya sendiri secara rasional.

4. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Kognitif

Tema: Kejujuran dan Tanggung Jawab
Metode Utama:
1.Diskusi dilema moral (Kohlberg)
2.Tanya-jawab transformatif
3.Penalaran moralPendidikan Moral – Pendekatan Kognitif (Kohlberg)

Mata Pelajaran: PPKn / IPS Kelas: Waktu: 1 JP (60 menit)
I. Tujuan Pembelajaran

1.Siswa mampu menganalisis
dilema moral.
2.Siswa mampu memberi alasan moral secara logis.
3 Siswa menghargai pendapat teman.

II. Materi Pembelajaran
1.Pengertian dilema moral.
2.Prinsip penalaran moral.
3.Contoh kasus dilema moral.
III. Metode & Media
Metode: Diskusi dilema moral (Kohlberg).
Media: Lembar kasus

IV. Langkah Pembelajaran
A. Pendahuluan (5–10 menit)
Guru memberi salam, apersepsi.Guru menyampaikan tujuan.

B. Kegiatan Inti (40 menit)

1. Dilema Moral

Budi menemukan dompet berisi uang. Uang itu bisa membantu membeli buku tugas kelompok. Jika dikembalikan, ia tidak bisa membeli buku. Apa yang harus dilakukan?

2. Diskusi Kelompok

1.Pilihan tindakan Budi.
2.Akibat setiap pilihan.
3.Alasan moral yang mendukung.

3. Diskusi Kelas

Guru menggali alasan moral dengan pertanyaan reflektif: "Mengapa memilih itu?" "Apa dampaknya?"

C. Penutup (10 menit)

1.Siswa menulis refleksi nilai terpenting dalam kasus.
2.Guru menyimpulkan pembelajaran.

V. Penilaian

1.Sikap: Menghargai pendapat.
2.Pengetahuan: Alasan moral.
3.Keterampilan: Keaktifan diskusi.

Sumber referensi:

1.Kesuma, D., Triatna, C., & Permana, J. (2011). Pendidikan Karakter. PT Remaja Rosdakarya.

2.Kemdikbud RI. (2022). Kurikulum Merdeka: Pedoman Pembelajaran.
In reply to First post

Re: Penugasan

Maura Agustin གིས-
Pendekatan yang Paling Relevan untuk Indonesia
yaitu Pendekatan penanaman nilai dengan pengembangan karakter, alasannya karna
1. Selaras dengan Kurikulum Merdeka Indonesia menekankan Profil Pelajar Pancasila: berakhlak, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis.
2. Konteks Indonesia kaya nilai budaya Gotong royong, musyawarah, toleransi, hormat kepada orang tua semua dapat diperkuat lewat pendidikan karakter.
3. Tantangan sosial saat ini seperti Isu perundungan, intoleransi, dan literasi digital membutuhkan pembentukan karakter yang kuat sejak dini.
4. Mudah diterapkan di semua jenjang Mulai dari pembiasaan sederhana hingga proyek berbasis masalah.
5. Memadukan pengajaran nilai dan praktik nyata tidak hanya teori, tetapi membiasakan siswa menerapkannya secara langsung.

Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Pendidikan Karakter:

Tema: Gotong Royong dalam Lingkungan Sekolah
Jenjang: SD/SMP
1. Guru membuka pembelajaran dengan mengajak siswa mengamati kondisi kelas atau lingkungan sekitar sekolah, lalu menanyakan hal sederhana seperti "Kalau tempat ini ingin jadi lebih nyaman, bagian mana yang seharusnya kita perbaiki?", sehingga siswa mulai sadar bahwa meningkatkan lingkungan membutuhkan kerja sama.
2. Setelah itu, guru membagi siswa secara acak dalam beberapa kelompok kecil dan setiap kelompok diberi satu tugas berbeda, misalnya membuat poster ajakan saling membantu, menata ulang sudut tertentu di kelas, menyusun ide kegiatan kebersamaan, atau membuat daftar kebiasaan gotong royong yang bisa dilakukan selama seminggu. Tugasnya bukan pekerjaan fisik saja, tetapi juga memunculkan ide, berdiskusi, dan menentukan peran anggota kelompok.
3. Saat kelompok mulai bekerja, guru mengamati bagaimana mereka saling membagi tugas, mendengarkan pendapat teman, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Jika ada kelompok yang kesulitan, guru menuntun dengan pertanyaan, bukan memberi jawaban langsung, agar nilai gotong royong muncul dari proses mereka sendiri.
4. Ketika waktu hampir selesai, setiap kelompok diminta mempresentasikan hasilnya, baik poster, daftar kebiasaan, maupun rencana kecil yang mereka buat. Kelompok lain memberikan tanggapan singkat tentang bagaimana kerja sama tampak dalam proses tadi, sehingga siswa menyadari pentingnya kontribusi setiap orang.
5. Sebagai penutup, guru meminta seluruh siswa menuliskan satu kebiasaan gotong royong yang akan mereka lakukan minggu ini, misalnya membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, menjaga kebersihan kelas bersama, atau berbagi alat tulis saat diperlukan. Guru kemudian menegaskan bahwa gotong royong adalah karakter khas Indonesia yang harus dibiasakan, bukan hanya dibicarakan.
In reply to First post

Re: Penugasan

Dina Ayu Lestari གིས-
Nama : Dina Ayu Lestari
NPM : 2513032071
Kelas : 25 C

Pendekatan yang Relevan di Indonesia yaitu Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Pendekatan ini sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia karena dapat menghindari krisis moral dan karakter, dengan makin maraknya korupsi, intoleransi, dan kekerasan menunjukkan perlunya pendidikan yang menanamkan nilai secara konsisten. Sejalan dengan norma sosial masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai seperti gotong royong, hormat kepada orang lain. Pendekatan ini dilakukan dengan cara pemerintah menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam kurikulum merdeka belajar serta membentuk kebiasaan dan sikap positif, pada pendekatan ini menekankan pengulangan, keteladanan, dan penguatan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan pemilihan Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach):
1.Fokus pada internalisasi nilai. Siswa tidak hanya tahu nilai, tetapi juga menghayati dan menerapkannya dalam tindakan nyata.
2.Menggunakan metode langsung Seperti pemberian contoh, penguatan positif, dan latihan berulang.
3.Efektif untuk usia dini dan remaja. Supaya anak-anak dan remaja dapat responsif terhadap pembiasaan dan keteladanan.


Contoh kegiatan pembelajaran berbasis Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Judul Kegiatan: “Pekan Kejujuran” di Sekolah
Tujuan: Menanamkan nilai kejujuran melalui pembiasaan dan penguatan positif.

Langkah-langkah:
1. Pembukaan, Guru menjelaskan pentingnya kejujuran.
• Peserta didik diberi contoh konkret (misalnya: mengakui kesalahan, tidak mencontek, mengembalikan barang temuan).
2. Peserta didik diminta menuliskan satu tindakan jujur yang mereka lakukan di “Buku Kejujuran”.
• Guru dan siswa lain memberikan apresiasi (pujian, stiker, atau bintang) bagi siswa yang menunjukkan perilaku jujur.
3. Selanjutnya refleksi dan penguatan diskusi kelas: Menelaah apa tantangan menjadi jujur? dan bagaimana rasanya?
• Guru menegaskan bahwa kejujuran adalah bagian dari karakter bangsa yang kuat.
4. Penutup: Siswa membuat poster kecil bertuliskan “Saya Anak Jujur” dan menempelkannya di kelas agar setiap membaca tulisan tersebut bisa tertanam dalam hati.

Hasil yang diharapkan yaitu adalah:
1. Peserta didik mampu terbiasa bersikap jujur dalam berbagai situasi.
2.Terjadi perubahan peserta didik mengenai sikap dan perilaku nyata, bukan hanya pemahaman teori
In reply to First post

Re: Penugasan

Aulia Rahma Ramadani གིས-
Nama: Aulia Rahma Ramadani
Kelas: 25C
NPM: 2513032083

A. Pendekatan Keteladanan (Modeling)
Menurut saya pendekatan keteladanan adalah salah satu pendekatan yang paling relevan di Indonesia yang di mana cara mendidik dari seorang guru, orang tua, atau orang dewasa lain menunjukkan perilaku yang baik secara langsung, sehingga siswa dapat melihat, meniru, dan akhirnya membiasakan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pendekatan ini, nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, sopan santun, tanggung jawab, dan kepedulian tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui tindakan nyata.
Tujuannya adalah agar siswa memahami bahwa perilaku moral bukan sekadar teori, melainkan contoh nyata yang bisa dilakukan dan diikuti dalam situasi sehari-hari. Dengan melihat teladan yang konsisten, siswa lebih mudah membentuk karakter positif.

B. Alasan saya memilih pendekatan keteladanan karena pendekatan ini paling mudah diterapkan dan paling efektif membentuk perilaku nyata pada siswa. Anak-anak cenderung belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat. Ketika guru atau orang dewasa memberikan contoh langsung seperti bersikap sopan, datang tepat waktu, atau berbicara dengan ramah siswa akan lebih mudah meniru dan membiasakan perilaku tersebut.
Selain itu, pendekatan keteladanan sangat sesuai dengan budaya Indonesia, yang menjunjung tinggi nilai hormat kepada guru, orang tua, dan tokoh masyarakat. Karena guru dianggap sebagai panutan, pengaruh moralnya menjadi kuat. Dengan menunjukkan perilaku positif secara konsisten, guru tidak perlu banyak memberi nasihat panjang, cukup dengan tindakan nyata, nilai-nilai itu sudah tersampaikan.

C. Contoh Kegiatan Pembelajaran: Pendekatan Keteladanan
Tema: Disiplin dan tanggung jawab
Kelas: SMP
Mata Pelajaran: PPKn
Durasi: 30–40 menit
Langkah Kegiatan:
1. Guru memberi contoh langsung
Guru datang tepat waktu, menyapa siswa dengan sopan, dan menunjukkan cara merapikan meja belajar sebelum mulai pelajaran.
2. Siswa meniru contoh
Siswa diminta mengikuti perilaku guru: merapikan meja, menyiapkan buku, dan duduk siap belajar.
3. Kegiatan inti
Guru memberi tugas kecil dalam kelompok dengan aturan: membagi peran, menyelesaikan tepat waktu, dan menjaga ketertiban.
4. Refleksi
Setelah tugas selesai, guru mengajak siswa berdiskusi:
Apa yang mereka lakukan dengan disiplin?
Mengapa meniru contoh penting?
Bagaimana kebiasaan ini membantu mereka di sekolah?
5. Penguatan
Guru memberi pujian pada kelompok yang paling tertib dan bertanggung jawab sebagai penguatan positif.
In reply to First post

Re: Penugasan

Muhammad Ilyas གིས-
Nama:Muhammad Ilyas
Kelas:25C
NPM:2513032082
Pendekatan yang paling relevan adalah Pendekatan Pembelajaran Berbasis Karakter (character education approach). Alasan pemilihan pendekatan tersebut
Selaras dengan kebijakan nasional
Indonesia telah lama mengusung Pendidikan Karakter (Kurikulum 2013, Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka). Ini menjadikan pendekatan pendidikan moral berbasis karakter sangat komplementer.
Konstekstual dengan nilai Pancasila
Pendekatan karakter memudahkan integrasi nilai kebangsaan, religiusitas, gotong royong, dan integritas yang menjadi nilai-nilai utama Indonesia. Fleksibel dan mudah diimplementasikan dapat diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, kegiatan sekolah, bahkan budaya sekolah. Tidak menuntut kompetensi tinggi seperti pendekatan dilema moral (Kohlberg).
Mendukung pembentukan perilaku nyata
Di Indonesia, tantangan utama bukan hanya memahami nilai, tetapi membiasakan perilaku. Pendekatan karakter menekankan pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah.Cocok dengan budaya kolektivistik Indonesia
Pendidikan karakter yang menekankan kerja sama, empati, disiplin, dan kepedulian sosial cocok dengan budaya masyarakat Indonesia yang gotong royong dan komunal.
Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Karakter
Tema: “Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-Hari”
Kelas: 5 SD
Waktu: 2 × 35 menit
Nilai karakter utama: Kejujuran, tanggung jawab

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu menjelaskan arti kejujuran.
Siswa dapat memberi contoh perilaku jujur dalam kegiatan sekolah.
Siswa menunjukkan sikap jujur melalui aktivitas pembelajaran.
B. Langkah-Langkah Pembelajaran
1. Apersepsi (10 menit)
Guru menunjukkan dua gambar:
Anak mengembalikan barang temannya.
Anak menyontek saat ujian.
Guru bertanya:
"Menurut kalian, mana yang menunjukkan sikap jujur? Mengapa?"

2. Inti Pembelajaran (45 menit)
a. Keteladanan Guru (2–3 menit)
Guru menceritakan pengalaman nyata tentang harus berkata jujur meski sulit.
b. Aktivitas “Kotak Kejujuran Mini Market” (20 menit)
Guru menyediakan kotak kejujuran berisi pensil/alat tulis kecil.
Siswa boleh mengambil barang dengan membayar sesuai harga tanpa pengawasan.
Setelah kegiatan, siswa berdiskusi reflektif:
Apa rasanya bertransaksi tanpa diawasi?
Mengapa kejujuran penting?

c. Diskusi Kelompok (15 menit)
Setiap kelompok membuat daftar:
5 contoh perilaku jujur di sekolah
5 contoh perilaku tidak jujur yang sering terjadi
Solusi untuk meningkatkan kejujuran dalam kelas
Kelompok mempresentasikan hasilnya.
3. Penutup (10 menit)
Siswa menulis “komitmen kejujuran pribadi” pada kertas kecil.
Guru menyimpulkan pentingnya kejujuran dan mengapresiasi perilaku jujur yang terlihat selama kegiatan.

C. Penilaian

Sikap: pengamatan kejujuran selama aktivitas.
Pengetahuan: pemahaman tentang contoh perilaku jujur.
Keterampilan: presentasi dan kemampuan merumuskan solusi.
In reply to First post

Re: Penugasan

desta purnama sari གིས-
Nama:Desta Purnama Sari
NPM:2513032075
Kelas:25C

1. Membaca bahan ajar tentang Pendekatan Pendidikan Moral

Dalam bahan ajar yang saya baca, ada beberapa metode yang umum digunakan dalam pendidikan moral. Metode penanaman nilai lebih menekankan penanaman teladan, peraturan, dan kebiasaan oleh pengajar. Metode klarifikasi nilai berfokus pada kemampuan siswa untuk mengidentifikasi, memilih, dan bertanggung jawab terhadap nilai-nilai yang mereka anggap penting. Metode perkembangan moral menggunakan situasi dilematis untuk melatih siswa berpikir kritis dan membuat keputusan yang etis. Ada juga metode analisis nilai yang mendorong siswa untuk mengevaluasi masalah sosial dengan cara yang lebih kritis. Di samping itu, metode pendidikan karakter dan pembiasaan cukup banyak diterapkan di sekolah-sekolah karena sifatnya yang praktis dan menyeluruh.

2. Memilih Pendekatan yang Paling relevan untuk konteks Indonesia

Melihat berbagai metode tersebut, saya berpendapat bahwa pendekatan pendidikan karakter merupakan yang paling cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan karakter masyarakat Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai moral seperti kerjasama, disiplin, etika, dan saling menghargai.

3. Alasan Memilih Pendekatan Pendidikan Karakter

Saya memilih pendekatan pendidikan karakter karena beberapa pertimbangan. Pertama, pendekatan ini tidak hanya menekankan pemahaman nilai, tetapi juga pembiasaan melalui pengalaman langsung. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengerti konsep moral secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, pendekatan ini selaras dengan kebijakan pemerintah melalui program Penguatan Pendidikan Karakter, sehingga penerapannya didukung oleh sistem pendidikan nasional.

Ketiga, pendekatan pendidikan karakter bersifat fleksibel dan dapat diterapkan di berbagai pelajaran tanpa membutuhkan metode yang terlalu rumit. Pengajar dapat mengintegrasikan nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerjasama, dan kepedulian dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.

Pendekatan ini mendukung pembentukan sikap dan perilaku moral siswa secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik.

4. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Pendidikan Karakter

Salah satu contoh kegiatan pembelajaran yang bisa diterapkan adalah “Proyek Aksi Peduli Lingkungan Sekolah”. Dalam kegiatan ini, pengajar meminta siswa untuk memeriksa lingkungan sekolah dan menemukan masalah yang perlu diatasi, seperti kebersihan, kerapihan kelas, atau kurangnya perhatian terhadap fasilitas sekolah.

Setelah masalah diidentifikasi, siswa bekerja dalam kelompok untuk merumuskan solusi yang bisa mereka lakukan secara bersama-sama, seperti membuat poster ajakan untuk menjaga kebersihan, menyusun jadwal piket, atau mengadakan kerja bakti.

Pengajar kemudian meminta siswa untuk melaksanakan proyek tersebut dalam waktu tertentu. Setelah kegiatan selesai, siswa melakukan refleksi tentang pengalaman yang didapat, nilai-nilai karakter yang terlibat, serta dampak dari kegiatan tersebut pada lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, siswa belajar untuk mempraktikkan nilai tanggung jawab, kerjasama, kepedulian, dan disiplin secara langsung, sehingga pembentukan karakter dapat berjalan lebih efektif.
In reply to First post

Re: Penugasan

Bagas Saputra གིས-
Nama: Bagas Saputra
Kelas: 25C
Npm: 2513032084


1.Menurut saya pendekatan yang paling cocok di konteks Indonesia ialah pendekatan pembiasaan dikarenakan dari kebiasaan lebih efektif daripada hanya belajar tentang teori moral saja

2.Alasan kenapa pendekatan pembiasaan lebih cocok untuk Indonesia dikarenakan siswa kita juga terbiasa belajar melalui kegiatan yang berulang ulang saja (kebiasaan) contohnya seperti berdoa sebelum kelas, piket kelas, antri, mengucapkan salam, dan mengikuti upacara bendera sudah menjadi rutinitas. Kebiasaan yang sederhana ini sebenarnya sangat membantu menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan kerja sama tanpa perlu banyak penjelasan teori. Dalam budaya Indonesia yang cenderung mengutamakan kebersamaan, siswa lebih mudah mengikuti perilaku positif ketika kegiatan itu dilakukan bersama-sama dengan teman dan guru

Pendekatan pembiasaan juga sangat penting di karena kan selama ini pendidikan moral sering hanya berupa nasihat atau ceramah saja, sehingga siswa tahu apa yang benar tetapi belum tentu terbiasa melaksanakannya. Dengan melakukan kebiasaan baik setiap hari, nilai moral menjadi lebih mudah tertanam dan perlahan membentuk karakter siswa. Pendekatan ini sangat efektif untuk anak SD hingga remaja karena mereka sedang berada pada tahap perkembangan di mana perilaku moral mudah dibentuk dari rutinitas yang konsisten berulang.

Contoh kegiatan nyata
3S (Senyum, Salam, dan Sapa)

Kegiatan ini sudah banyak diterapkan di banyak sekolah yang dimulai dari pagi ketika Murid berangkat sampai ke gerbang dan menyapa guru atau satpam yang bekerja.

3.Langkah-Langkah Kegiatan:

1. Siswa masuk gerbang sekolah dan mengucapkan salam, tersenyum, dan menyapa guru atau satpam yang bertugas.

2. Guru menyambut dengan salam dan senyuman agar siswa merasa nyaman.

3. Kebiasaan ini dilakukan setiap hari sehingga menjadi perilaku otomatis.

4. Guru memberi penguatan sederhana seperti pujian atau ucapan terima kasih ketika siswa melakukannya dengan baik.

Kebiasaan ini bertujuan agar murid atau siswa terbiasa bersikap sopan, ramah dan murah senyum terhadap orang lain ataupun guru yang ada di sekolah
In reply to First post

Re: Penugasan

Muhammad Bagus Bahtiar གིས-
Nama : Muhammad Bagus Bahtiar
Kelas : 25 C
Npm : 2553032011

Dalam pendidikan moral, terdapat beberapa pendekatan yang umum digunakan, antara lain:
1.Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Menekankan penanaman nilai melalui keteladanan, pembiasaan, dan aturan yang konsisten.
2.Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Cognitive Moral Development Approach – Kohlberg)
Menstimulasi kemampuan berpikir moral siswa melalui dialog, dilema moral, dan diskusi argumentatif.
3.Pendekatan Klarifikasi Nilai (Values Clarification Approach)
Membantu siswa mengidentifikasi, memilih, dan mempertimbangkan konsekuensi dari nilai yang mereka anut.
4.Pendekatan Analisis Nilai (Values Analysis)
Menggunakan analisis logis terhadap isu sosial untuk mengambil keputusan moral berbasis fakta dan argumen.
5.Pendekatan Pembelajaran Berbasis Aksi (Action Learning Approach)
Mengembangkan moral melalui pengalaman langsung, proyek sosial, dan kegiatan pengabdian.

Pendekatan Penanaman Nilai dikombinasikan dengan Perkembangan Moral Kognitif adalah yang paling relevan untuk konteks pendidikan Indonesia.

Alasan memilih Pendekatan Penanaman Nilai
1.Konteks budaya Indonesia menekankan nilai kolektivitas, seperti gotong royong, hormat pada orang tua/guru, dan sopan santun.
2.Sekolah di Indonesia masih memiliki struktur hierarkis, di mana keteladanan guru sangat kuat mempengaruhi karakter siswa.
3.Nilai-nilai Pancasila mudah diintegrasikan melalui pembiasaan dan keteladanan.

Alasan memilih Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif
Membantu siswa berpikir kritis terhadap isu moral yang kompleks dalam masyarakat modern.
Mengurangi praktik pendidikan moral yang hanya bersifat hafalan, sehingga siswa benar-benar memahami alasan moral di balik tindakan.
Memfasilitasi pembelajaran aktif dan dialogis, sejalan dengan kurikulum Merdeka.

Mendesain satu contoh kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan tersebut
Judul Kegiatan:
“Dilema di Kantin: Jujur atau Mengambil Kesempatan?”
Kelas: 5 SD atau 7 SMP
Tujuan:
Siswa menunjukkan perilaku jujur.
Siswa mampu menjelaskan alasan moral dari keputusan yang diambil.
Langkah-langkah Kegiatan:
1.Pendahuluan – Penanaman Nilai (10 menit)
Guru menceritakan pengalaman pribadi tentang kejujuran.
Guru menegaskan nilai inti: kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.
2.Penyajian Dilema Moral – Perkembangan Moral Kognitif (15 menit)
Guru memberikan skenario:
“Di kantin, seorang siswa membayar dengan uang besar dan penjual salah memberi kembalian lebih. Kamu melihatnya. Apa yang seharusnya kamu lakukan?”
3.Diskusi Kelompok (15 menit)
Siswa berdiskusi:
Apa pilihan yang mungkin?
Apa konsekuensinya?
Apa alasan moral di balik pilihan terbaik?
4.Presentasi & Klarifikasi Nilai (10 menit)
Setiap kelompok mempresentasikan keputusan moral mereka.
5.Aksi Mini – Pembiasaan (5 menit)
Siswa membuat komitmen kecil terhadap kejujuran (misal membuat “Kotak Kejujuran” di kelas).
6.Refleksi Individu (5 menit)
Siswa menulis:
Apa pelajaran moral hari ini?
Apakah mereka pernah menghadapi dilema serupa?
In reply to Muhammad Bagus Bahtiar

Re: Penugasan

2553032010 2553032010 གིས-
Nama : ihsan Revaldo
Npm : 2553032010
Kls : 25c

1. Pendekatan yang paling relevan di Indonesia adalah pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) yang menggabungkan teori dan praktik secara langsung. Ini sejalan dengan program nasional seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang menekankan kegiatan pembiasaan dan proyek sosial sebagai implementasi nilai moral. Program ini mengajak siswa berperan aktif dalam kegiatan sosial dan reflektif agar membentuk karakter yang empati, jujur, dan peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.​

2. Alasan Pemilihan Pendekatan Pembelajaran Berbuat
Pendekatan pembelajaran berbuat dipilih karena:

Membantu siswa menerapkan nilai moral secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya teori.

Selaras dengan kebutuhan Indonesia untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya pintar tapi juga berintegritas dan peduli sosial.

Metode ini mendorong partisipasi aktif dan pengalaman langsung sehingga pembelajaran moral lebih efektif dan berkesan.

Mendorong lingkungan sekolah yang kondusif dan kolaboratif antara guru, siswa, dan masyarakat.​

3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Pembelajaran Berbuat
Contoh kegiatan:
"Program Relawan Sosial di Sekolah"

Siswa diajak melakukan kunjungan dan membantu panti jompo atau panti asuhan di sekitar sekolah.

Mereka terlibat dalam kegiatan sosial seperti membersihkan lingkungan sekolah dan masyarakat.

Setelah kegiatan, siswa diminta merefleksikan pengalaman mereka dengan berdiskusi tentang nilai moral apa yang mereka pelajari, seperti empati, tanggung jawab, dan gotong royong.

Guru memfasilitasi diskusi dan memberikan penilaian reflektif terhadap sikap dan nilai yang muncul dari kegiatan ini.​

4.Diskusi Hasil Rancangan di Kelas
Diskusi dapat melibatkan pertanyaan seperti:

Apa pengalaman berharga yang kamu dapat saat mengikuti kegiatan relawan?

Bagaimana kegiatan ini membuatmu memahami nilai moral seperti empati, kejujuran, dan kepedulian?

Apa manfaat bagi dirimu dan orang lain dari kegiatan ini?

5. Langkah langkah kegiatan

Guru menjelaskan tujuan dan manfaat kegiatan relawan sosial.

Membentuk kelompok siswa yang akan mengikuti kegiatan.

Menentukan lokasi kegiatan, misalnya panti jompo atau panti asuhan sekitar sekolah.

Membagi tugas dan memastikan kebutuhan alat atau perlengkapan telah disiapkan.

Dengan demikian, pendekatan pembelajaran berbuat yang mengedepankan pengalaman nyata dan refleksi adalah strategi terbaik untuk pendidikan moral di Indonesia. Contoh kegiatan real sosial dan diskusi reflektif memperkuat pemahaman dan penerapan nilai moral secara menyeluruh dalam konteks lokal dan budaya Indonesia.​
In reply to First post

Re: Penugasan

Arjuna Nugraha Triatmaja Arjuna གིས-
NAMA : Arjuna Nugraha Triatmaja
KELAS : 25 C
NPM : 2553032005

1.Pendekatan yang Relevan untuk Konteks Indonesia
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan menghadapi beragam masalah sosial modern, pendekatan yang dinilai paling efektif adalah kombinasi antara Perkembangan Moral Kognitif dan Analisis Nilai.
2.Alasan Pemilihan:
Siswa membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat, menganalisis persoalan, dan tidak hanya menerima nilai secara instruktif.
Tantangan sosial seperti penyebaran hoaks, perbedaan pandangan, serta etika bermedia digital menuntut kemampuan berpikir kritis.
Pendekatan ini tetap dapat diarahkan agar sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan norma budaya Indonesia.
Siswa dilatih untuk membuat keputusan moral secara sadar, bertanggung jawab, dan tidak hanya mengikuti aturan tanpa memahami alasannya.
3.Alasan Memilih Pendekatan Tersebut
Saya memilih perpaduan antara pendekatan Perkembangan Moral Kognitif dan Analisis Nilai karena keduanya mendorong siswa untuk memahami alasan moral yang mendasari setiap tindakan. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pengetahuan nilai, tetapi juga menumbuhkan kemampuan menganalisis masalah dari berbagai sudut pandang. Dalam situasi sosial Indonesia yang beragam, siswa perlu mampu berdialog, menghargai pendapat berbeda, dan menilai suatu tindakan berdasarkan pertimbangan etis yang matang. Dengan demikian, nilai moral bukan sekadar dihafal, tetapi benar-benar dipahami dan diterapkan secara sadar.
4. Contoh Kegiatan Pembelajaran

“Etika Bermedia Sosial Tindakan yang Tepat Saat Melihat Hoaks”
Tingkat: SMP/SMA
Langkah Kegiatan:
Pemantik: Guru menampilkan video singkat tentang penyebaran hoaks dan dampaknya.
Penyajian Dilema Moral: Siswa diberi kasus mengenai seorang teman yang membagikan informasi palsu di grup sekolah.
Diskusi Kelompok:
1.Siswa bekerja dalam kelompok kecil. Mereka memilih tindakan yang dianggap paling tepat dan menyusun alasan moralnya.
Mereka memilih tindakan yang dianggap paling tepat dan menyusun alasan moralnya.
Debat Mini:
Tiap kelompok mempresentasikan pilihan mereka, kemudian berdiskusi antarkelompok untuk membandingkan alasan moral.
Refleksi Individu:
Siswa menuliskan nilai yang mereka pelajari dan bagaimana mereka akan bersikap jika menghadapi situasi serupa.
Penutup:
Guru merangkum poin penting tanpa memaksakan pendapat tertentu, tetapi tetap menekankan pentingnya sikap kritis dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial
In reply to First post

Re: Penugasan

Luthfia Maharani གིས-

Nama : Luthfia Maharani

NPM : 2513032087

Kelas : 25 C

Pendekatan yang saya anggap paling relevan untuk konteks Indonesia adalah Pendekatan Penalaran Moral (Moral Reasoning Approach) yang dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Pendekatan ini menekankan pembentukan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, mempertimbangkan sudut pandang orang lain, serta membuat keputusan moral berdasarkan prinsip keadilan dan nilai universal.


alasan saya memilih pendekatan ini karena Masyarakat Indonesia sedang menghadapi tantangan moral kontemporer, seperti intoleransi, korupsi, perundungan, dan rendahnya budaya kritis. Pendekatan ini mengajak siswa untuk menganalisis dilema moral secara rasional, bukan hanya mengikuti aturan secara buta. Selaras dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ke-2 (Kemanusiaan yang adil dan beradab) dan sila ke-5 (Keadilan sosial). Pendekatan ini membentuk siswa yang mampu menilai tindakan berdasarkan prinsip keadilan, empati, dan kemanusiaan. Mendorong pembelajaran aktif, diskusi, dan dialog. Budaya kelas di Indonesia mulai bergerak dari pola ceramah menuju interaktif. Pendekatan ini sangat mendukung gaya belajar tersebut. Mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas keputusan moralnya sendiri, bukan hanya mematuhi otoritas guru atau orang tua. Hal ini penting dalam membangun masyarakat demokratis.


Judul Kegiatan:

Diskusi Dilema Moral: “Teman yang Mencontek”

Tujuan Pembelajaran:

•Siswa mampu menganalisis dilema moral dari berbagai sudut pandang.

•Siswa dapat memberikan alasan moral atas keputusan yang mereka ambil.

•Siswa menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan empati.

Langkah-Langkah Kegiatan:

1.Pendahuluan (10 menit)

Guru menjelaskan bahwa hari ini siswa akan membahas sebuah dilema moral. Guru menekankan bahwa tidak ada jawaban benar atau salah, yang penting adalah alasan moralnya.

2.Penyajian Kasus (5 menit)

Guru membacakan kasus:

“Saat ulangan, kamu melihat sahabat dekatmu mencontek. Jika kamu melapor, ia bisa kena sanksi. Jika tidak, kamu ikut melanggar aturan karena membiarkan kecurangan. Apa yang kamu lakukan?”

3.Diskusi Kelompok (15 menit)

Siswa dibagi menjadi kelompok kecil. Setiap kelompok diminta:

Memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan.

Menyusun alasan moral (bukan alasan pragmatis).

Menganalisis dampak dari tiap pilihan.

4.Presentasi Kelompok (10 menit)

Tiap kelompok menyampaikan pilihan dan alasan mereka.

Guru mengajukan pertanyaan tingkat tinggi, seperti:

“Apa nilai keadilan dalam tindakan tersebut?”

“Bagaimana dampaknya bagi kepercayaan dalam kelas?”

“Apakah kamu membuat keputusan berdasarkan rasa takut atau prinsip moral?”

5.Refleksi Individu (5 menit)

Siswa menulis keputusan akhir mereka: apakah berubah setelah mendengar pendapat teman? Mengapa?

In reply to First post

Re: Penugasan

keysa putri གིས-
NAMA : KEYSA AULIAN AS'YA PUTRI
NPM : 2513032073
KELAS : 25 C

pendidikan yang relavan di indonesia yaitu :

Pendekatan Nilai dan Karakter (Value-based Education) Pendekatan ini fokus pada nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, serta nasionalisme.alasan memilih pendekatan ini adalah untuk membuat siswa tahu mana yang benar dan salah, dan juga pendekatan ini cocok untuk mencegah masalah yang ada disekolah seperti kurang disiplin,rendahnya empati, dan sikap intoleransu yang berhubungan dengan karakter. karena itu pendekatan ini relavan untuk kondisi indonesia yang sedang mendorong pendidikan karakter melalui kurikulum merdeka dan p5.

contoh kegiatan : " jum'at berbagi "

langkah kegiatan
1. Guru menjelaskan nilai yang ingin ditanamkan, yaitu kepedulian terhadap teman dan lingkungan sekitar.
2. Siswa membawa benda sederhana seperti makanan kecil, alat tulis, atau barang bermanfaat lain.
3. Kelas secara bersama-sama mengumpulkan barang tersebut dan mengaturnya dengan rapi.
4. Siswa menyerahkan barang kepada teman yang membutuhkan atau disalurkan ke warga sekitar/sekolah.
5. Guru mengajak siswa melakukan refleksi, misalnya:
“Bagaimana perasaanmu setelah berbagi?”
“Kenapa sikap peduli itu penting?”

Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mempelajari teori tetapi mempraktikan nya langsung ke semua orang.
In reply to First post

Re: Penugasan

Shelfia Lestari གིས-
Nama : Shelfia Lestari
Kelas : 25 C
NPM : 2513032072

Bahan ajar tentang berbagai pendekatan pendidikan moral :
A. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach)
Pendekatan penanaman nilai adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Tujuan dari pendekatan ini berupa diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang di inginkan.

B. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)
Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Tujuannya adalah membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi serta mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral.

C. Pendekatan analisis nilai (values analysis approach)
Pendekatan ini memberi penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Tujuannya untuk membantu siswa menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah yang berkaitan dengan nilai moral tertentu.

D. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach)
Pendekatan ini memberi penekanan membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.

E. Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach)
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam
suatu kelompok.

Dari penjelasan diatas, menurut saya pendekatan pendidikan moral yang paling relevan untuk konteks indonesia adalah pendekatan penanaman nilai (inculcation approach). Alasan memilih pendekatan tersebut karena Pendekatan ini penting dalam membantu siswa belajar nilai-nilai baik sejak dini, seperti disiplin, jujur, tanggung jawab, sopan santun, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut sesuai dengan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain itu, pendekatan ini mudah diterapkan di sekolah melalui contoh guru, aturan sekolah, dan kebiasaan sehari-hari, sehingga siswa bisa memahami dan mengamalkannya.

Desain contoh kegiatan pembelajaran :
Tema : Kejujuran
Kelas : VII A
Waktu : 45 Menit

Tujuan Pembelajaran:
1.Siswa memahami arti penting kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
2.Siswa mampu menunjukkan perilaku jujur dalam tugas dan interaksi dengan teman.

Langkah-Langkah Pembelajaran:
1.Pendahuluan (5 menit)
-Guru menyapa siswa dan menanyakan pengalaman mereka tentang jujur atau tidak jujur di sekolah atau di rumah
-Guru menjelaskan tujuan pembelajaran tentang nilai kejujuran
2.Kegiatan Inti (30 menit)
-Cerita dan contoh nyata: Guru menceritakan kisah nyata atau contoh tokoh yang menunjukkan kejujuran.
-Diskusi kelas: Siswa diajak mendiskusikan akibat jujur dan tidak jujur dalam kehidupan sehari-hari.
-Simulasi/Role play: Siswa memerankan situasi sederhana, misalnya menemukan uang di kelas, mengerjakan tugas, atau memberi jawaban yang benar saat melakukan kuis.
3.Penutup (10 menit)
-Guru menekankan kembali pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari
-Siswa diminta menyebutkan satu perilaku jujur yang akan mereka lakukan di sekolah atau rumah.

Media/Alat : Cerita tertulis, papan tulis.

Penilaian : Observasi guru terhadap perilaku siswa selama diskusi serta kemampuan mereka menyebutkan tindakan jujur yang konkret.
In reply to First post

Re: Penugasan

Dinda Putri Amelia གིས-
Nama: Dinda Putri Amelia
NPM: 2553032003
Kelas: 25C

1. Membaca bahan ajar tentang. berbagai pendekatan pendidikan moral beberapa pendekatan pendidikan moral yang umum dibahas dalam teori pendidikan adalah:

a. Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Fokus pada pembiasaan nilai-nilai moral tertentu melalui keteladanan, nasihat, aturan, dan disiplin. Guru berperan sebagai model moral.

b. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Cognitive Moral Development – Kohlberg)
Menekankan perkembangan kemampuan peserta didik dalam berpikir moral melalui diskusi dilema moral, sehingga mereka naik ke tingkat moral yang lebih tinggi.

c. Pendekatan Analisis Nilai (Values Analysis) mendorong siswa untuk berpikir kritis dalam menilai suatu isu moral menggunakan data, logika, dan konsekuensi tindakan.

d. Pendekatan Klarifikasi Nilai (Values Clarification) membantu peserta didik mengenali, memilih, dan mengenal pasti nilai pribadi mereka melalui proses refleksi dan dialog.

e. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Karakter (Character Education) mengintegrasikan nilai-nilai moral ke seluruh aspek budaya sekolah: kurikulum, lingkungan, kebijakan, dan hubungan sosial.

2. Menentukan pendekatan yang paling relevan untuk konteks Indonesia Pendekatan yang paling relevan untuk konteks Indonesia adalah Pendekatan Pendidikan Karakter (Character Education) yang dipadukan dengan unsur penanaman nilai.

3. Alasan pemilihan pendekatan tersebut

a. Kesesuaian dengan budaya Indonesia
Indonesia memiliki budaya kolektivistik di mana nilai seperti gotong royong, hormat terhadap orang tua, kerja sama, dan musyawarah sangat dijunjung tinggi. Pendidikan karakter yang mengedepankan pembiasaan nilai dan budaya sekolah sangat cocok dengan konteks ini.

b. Mendukung Kurikulum Nasional
Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 sama-sama menekankan Profil Pelajar Pancasila—yang intinya adalah pendidikan karakter (beriman, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebhinekaan global).
Dengan demikian, pendekatan pendidikan karakter memang sudah menjadi arah kebijakan pemerintah.

c. Pembentukan ekosistem (bukan hanya pengetahuan)
Masalah moral tidak selesai hanya melalui pengetahuan perlu pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung. Pendekatan pendidikan karakter bekerja di seluruh aspek sekolah: aturan, budaya, hubungan sosial, dan kegiatan pembelajaran.

d. Cocok untuk kebutuhan praktis sekolah di Indonesia
Guru seringkali membutuhkan pendekatan yang konkret dan aplikatif. Pendidikan karakter menggunakan model pembiasaan, proyek sosial, kegiatan kolaboratif yang lebih mudah diimplementasikan dibandingkan pendekatan abstrak seperti dilema moral Kohlberg.

e. Lebih inklusif
Pendekatan ini tidak hanya menekankan nilai agama tertentu atau logika tertentu, tetapi merangkul semua nilai universal yang sesuai Pancasila. Cocok untuk keberagaman Indonesia.

4. Contoh kegiatan pembelajaran berbasis pendidikan karakter

Tema: Gotong Royong dan Tanggung Jawab Sosial
Kelas: SMP
Pendekatan: Pendidikan Karakter Berbasis Proyek (Project-Based Character Learning)
Judul Kegiatan: “Aksi Bersih Sekolah Kita”
Tujuan Pembelajaran
Menumbuhkan nilai gotong royong, tanggung jawab, dan peduli lingkungan.

Melatih sikap kerja sama dan komunikasi dalam kelompok.

Langkah-langkah Kegiatan
1. Pemantik (15 menit)
Guru memulai dengan menampilkan foto/video kondisi lingkungan sekolah.
Diskusi singkat:

Mengapa kebersihan penting?

Siapa yang bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan sekolah?

Apa akibat jika kita tidak peduli?

2. Pembentukan Kelompok (10 menit)
Siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan masing-masing diberi area sekolah yang harus mereka perhatikan (taman, lorong kelas, perpustakaan, area parkir, dll).

3. Perencanaan Aksi (20 menit)
Setiap kelompok merumuskan rencana sederhana:

-Masalah yang ditemukan.
-Tindakan yang ingin dilakukan.
-Alat yang dibutuhkan.
-Pembagian tugas.

Guru mengamati dan memberikan bimbingan.

4. Pelaksanaan Kegiatan (30–40
menit) Siswa melaksanakan kegiatan bersih-bersih dan dokumentasi proses. Guru berperan sebagai model—turut membantu siswa sehingga aspek keteladanan muncul.

5. Refleksi Nilai (20 menit) Setelah kegiatan, siswa berdiskusi:

Bagian mana yang paling menantang?

-Apa manfaat kerja sama dalam kegiatan ini?
-Nilai moral apa yang kamu. rasakan muncul?
-Apa yang bisa dilakukan setiap hari agar kebersihan terjaga?
In reply to First post

Re: Penugasan

octa villanza གིས-
NAMA : Octa Villanza Ramadhany
NPM : 2553032006
KELAS: 25 C

Bahan ajar berbagai Pendekatan Pendidikan moral

1. Pendekatan penanaman nilai menekankan pemberian arahan tentang perilaku baik dan buruk dari guru agar siswa mengikutinya, cocok untuk membentuk karakter dasar seperti sopan santun dan disiplin.
2. Pendekatan perkembangan kognitif menitikberatkan pada kemampuan siswa berpikir moral lewat diskusi dan analisis dilema untuk menentukan tindakan berdasarkan prinsip.
3. Pendekatan klarifikasi nilai membantu siswa mengenali dan memilih nilai pribadi tanpa penilaian guru, dengan metode refleksi dan diskusi.
4. Pendekatan analisis mengasah kemampuan siswa menganalisis isu sosial moral secara kritis melalui diskusi dan penulisan esai.
5. Pendekatan keteladanan menonjolkan peran guru dan lingkungan sebagai contoh perilaku moral yang ditiru siswa.
6. Pendekatan pembiasaan membentuk karakter lewat kebiasaan positif yang konsisten tanpa paksaan, seperti salam dan menjaga kebersihan.

Pendekatan yang paling Relevan

Pendekatan yang paling sesuai untuk konteks Indonesia dalam menanamkan nilai adalah pendekatan pembiasaan dan keteladanan. Dalam budaya dan pendidikan Indonesia, nilai moral paling efektif ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten seperti sopan santun, doa sebelum belajar, dan gotong royong. Pendekatan pembiasaan membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai positif lewat pengulangan rutin tanpa paksaan, sementara pendekatan keteladanan menempatkan guru dan tokoh masyarakat sebagai contoh nyata yang harus ditiru siswa.
Banyak penelitian dan laporan studi kasus di Indonesia menunjukkan bahwa kombinasi pembiasaan dan keteladanan efektif meningkatkan disiplin, rasa tanggung jawab, kerjasama, serta perilaku hormat dan santun di kalangan siswa. Program-program pembiasaan seperti shalat berjamaah, menjaga kebersihan, serta perilaku sopan santun yang diajarkan melalui keteladanan guru terbukti mampu membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya Indonesia secara berkelanjutan.

Satu Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan

Teladan Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari”
a. 
Guru masuk kelas tepat waktu, menyapa siswa dengan ramah, dan mengecek kebersihan kelas sambil ikut membantu merapikan beberapa meja.
 Ini langsung menjadi contoh nyata kedisiplinan dan tanggung jawab.
b. Guru bertanya, “Menurut kalian, kenapa disiplin itu penting? Bagaimana kalau saya sering terlambat mengajar?”
Siswa memberi pendapat, lalu guru menanggapi dengan contoh nyata dampak kedisiplinan.
c.- Siswa dibagi dalam kelompok kecil.
- Setiap kelompok diberi tugas membuat jadwal kebiasaan disiplin, misalnya: hadir tepat waktu, merapikan meja, mengumpulkan tugas sesuai deadline.
- Selama proses ini, guru terus memberikan contoh: mengumpulkan bahan ajar tepat waktu ke siswa, merapikan papan tulis, atau membantu kelompok yang kebingungan dengan sabar.
d. 
Siswa menuliskan apa yang mereka lihat dari sikap guru hari itu dan bagaimana itu mempengaruhi cara mereka bersikap.
Contoh: “Hari ini saya melihat guru saya tidak marah meskipun kelas agak berisik, dan itu mengajari saya soal sabar.”
e. Guru menegaskan kembali bahwa nilai moral bukan cuma teori, tapi sesuatu yang ditunjukkan lewat tindakan sehari-hari

Guru yang menunjukkan keteladanan dalam berbagai sikap, mulai dari disiplin, mengakui kesalahan, hingga jujur dalam hal-hal kecil, menciptakan pembelajaran yang nyata dan efektif. Siswa lebih mudah menyerap nilai kejujuran dan moral lainnya melalui pengamatan langsung dibandingkan hanya mendapatkan instruksi verbal. Oleh karena itu, peran guru tidak hanya sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai model moral yang memberikan contoh perilaku yang bisa ditiru. Selain itu, keterlibatan aktif siswa melalui simulasi dan permainan peran membantu mereka belajar menghadapi situasi sulit dengan kejujuran
In reply to First post

Re: Penugasan

frisca chintya sari asisko གིས-
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25C

1. Menurut Saya Pendekatan yang Paling Relevan untuk Indonesia

Menurut saya, pendekatan perkembangan moral kognitif merupakan pendekatan yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Karena pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, memahami alasan moral, dan mampu mengambil keputusan secara mandiri. Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk, penuh keberagaman budaya, agama, serta tantangan global seperti pengaruh budaya luar, individualisme, dan masalah etika digital.

Pendekatan ini juga dapat menguatkan penerapan nilai-nilai Pancasila, toleransi, solidaritas, serta sikap menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Alasan Saya Memilih Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Saya memilih pendekatan ini karena:
1. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan norma secara langsung, tetapi membantu siswa memahami alasan di balik nilai moral.
2. Siswa belajar berpikir kritis dalam menilai tindakan, bukan hanya mengikuti aturan tanpa kesadaran.
3. Indonesia memiliki konteks sosial yang kompleks dan beragam, sehingga kemampuan mempertimbangkan moral sangat penting.
4. Pendekatan ini dapat digunakan untuk memperkuat karakter bangsa berdasarkan nilai Pancasila, sehingga generasi muda mampu membuat keputusan moral yang bertanggung jawab.


3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Judul kegiatan: Diskusi Dilema Moral tentang Kejujuran di Lingkungan Sekolah

Langkah kegiatan:
1. Guru menceritakan kasus dilema moral, misalnya seorang siswa menemukan dompet yang berisi uang di kantin sekolah.
2. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan tindakan yang paling tepat, seperti mengembalikan dompet ke pemiliknya, menyerahkannya kepada guru, atau membiarkan saja.
3. Setiap kelompok menjelaskan alasan moral dari pilihan yang mereka ambil serta dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
4. Guru memandu refleksi, misalnya dengan pertanyaan:

Mengapa kejujuran penting dalam kehidupan?
Apa dampak dari keputusan moral yang kita ambil terhadap orang lain?

4. Guru dan siswa menyimpulkan bersama, bahwa dalam membuat keputusan moral siswa harus mempertimbangkan nilai yang dianut serta konsekuensi tindakannya. Kegiatan ini bertujuan melatih siswa memahami konsep moral secara logis, emosional, dan sesuai dengan nilai kebangsaan.