ACTIVITY: RESUME

ACTIVITY: RESUME

Jumlah balasan: 31

Mengacu kepad avideo dan artikel di atas, Buatlah resume singkat minimal 250 kata sertakan opini Anda.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Ni Made Dwi Agustini -
Nama : Ni Made Dwi Agustini
Npm : 241303108
Kelas : 24 C

Setelah menonton video dan membaca artikel terkait, konsep manajemen laba dapat dipahami sebagai tindakan sengaja dari manajer untuk mengatur atau menggeser waktu pengakuan pendapatan maupun beban dengan tujuan menghasilkan angka laba tertentu, tanpa harus melanggar aturan akuntansi secara langsung. Praktik ini memanfaatkan fleksibilitas dalam standar akuntansi melalui penyesuaian akrual maupun aktivitas riil, misalnya mempercepat penjualan, menunda pengeluaran, atau mengubah volume produksi agar laba terlihat lebih tinggi atau lebih rendah sesuai kepentingan manajemen. Literatur menegaskan dua perspektif utama dalam memahami manajemen laba: perspektif oportunistik, di mana tindakan tersebut dilakukan demi memenuhi target bonus, menghindari pelanggaran perjanjian utang, atau memperbaiki citra perusahaan; serta perspektif signaling, di mana manajer menggunakan penyesuaian laba untuk menyampaikan informasi internal yang dianggap lebih mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan. Penelitian juga menunjukkan bahwa real earnings management kini lebih sering digunakan karena lebih sulit dideteksi auditor dibandingkan manipulasi akrual. Meskipun kerap dipersepsikan negatif, penting dipahami bahwa manajemen laba tidak selalu identik dengan penipuan—praktiknya berada di area abu-abu yang masih memungkinkan selama tidak memalsukan transaksi atau menyembunyikan informasi material. Namun demikian, bila digunakan secara berlebihan, tindakan ini dapat menurunkan kualitas laporan keuangan dan berpotensi menyesatkan pemangku kepentingan. Menurut pandangan saya, manajemen laba adalah fenomena yang kompleks: pada satu sisi dapat berfungsi sebagai mekanisme komunikasi manajerial, tetapi pada sisi lain menyimpan risiko distorsi yang signifikan sehingga penguatan tata kelola, transparansi, dan mekanisme pengawasan tetap menjadi hal yang sangat penting.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Nadiya Adila -
Nama : Nadiya Adila
NPM : 2413031079

Artikel "Earnings Management: A Literature Review" mengulas berbagai penelitian tentang Earnings Management, termasuk motivasi, metode, dan dampaknya terhadap pelaporan keuangan dan pasar modal. Earnings Management dapat dilakukan melalui manipulasi akuntansi, seperti pengaturan waktu transaksi, penggunaan cadangan, atau penilaian kembali aset. Penelitian menunjukkan bahwa Earnings Management sering dilakukan untuk memenuhi target laba, memengaruhi persepsi pasar, atau memenuhi kebutuhan internal perusahaan. Meskipun tidak selalu ilegal, praktik ini dapat menurunkan kualitas laba dan memengaruhi keputusan investor jika tidak diungkapkan secara transparan.
Video Edspira menjelaskan bahwa Earnings Management adalah praktik perusahaan dalam mengatur waktu transaksi (seperti penjualan aset) untuk memanipulasi atau memperbaiki angka laba tanpa melakukan tindakan ilegal atau penipuan. Contoh yang diberikan adalah perusahaan yang membeli tanah dengan harga $1.000, lalu nilai pasar tanah naik menjadi $1.700. Karena tanah belum dijual, keuntungan $700 belum tercatat sebagai laba. Jika perusahaan mengalami penurunan laba di tahun tertentu, mereka bisa menjual tanah tersebut untuk merealisasikan keuntungan dan menaikkan angka laba tahun itu secara legal. Praktik ini disebut upward earnings management. Namun, perusahaan juga bisa melakukan downward earnings management, yaitu menahan laba saat hasilnya sangat baik untuk digunakan di masa depan (cookie jar reserve).
Kedua sumber menekankan bahwa Earnings Management bukan selalu fraud, tetapi bisa menjadi masalah etika jika digunakan secara berlebihan atau tidak transparan. Sebagai akuntan atau profesional keuangan, penting untuk memahami batas antara praktik yang masih dalam koridor legal dan yang sudah masuk ke ranah manipulasi atau penipuan. Selain itu, transparansi dan integritas dalam pelaporan keuangan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan stakeholder.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Gifrika Tutut Pradiyana -
Nama: Gifrika Tutut Pradiyana
NPM: 2453031008

Video dan artikel menjelaskan bagaimana suatu perusahaan bisa melakukan manajemen laba, yaitu strategi untuk mengubah atau “mengatur” laba yang dilaporkan agar sesuai dengan tujuan tertentu, misalnya ingin menampilkan kinerja yang lebih stabil, meningkatkan nilai saham, atau memenuhi target analis. Dalam praktiknya, manajemen laba bisa dilakukan lewat pilihan akuntansi seperti metode penyusutan, pengakuan pendapatan atau beban, waktu transaksi (menunda atau mempercepat pengakuan), atau bahkan lewat transaksi non-operasional yang berpengaruh pada laba bersih. Akibat dari manajemen laba bisa bermacam-macam, di satu sisi perusahaan terlihat bagus dari laporan keuangan, tapi di sisi lain bisa menyesatkan pihak luar seperti investor, kreditor, dan pemerintah. Artikel tersebut juga mungkin membahas hal-hal yang mempengaruhi manajemen laba, seperti insentif manajer, aturan akuntansi, atau budaya perusahaan, serta dampaknya terhadap kepercayaan pasar dan kualitas laporan keuangan. Menurut saya, manajemen laba masih bisa dianggap wajar kalau dilakukan dengan jujur dan terbuka. Tapi kalau dipakai untuk menutupi kondisi perusahaan yang sebenarnya, itu bisa merugikan banyak pihak. Karena itu, kejujuran dan pengawasan dari manajer sangat penting supaya laporan keuangan benar-benar menggambarkan keadaan sebenarnya.

Selain itu, perusahaan juga perlu punya sistem pengendalian yang baik supaya manajemen laba tidak dilakukan berlebihan. Peran auditor dan pihak pengawas juga penting untuk mencegah manipulasi data keuangan. Investor pun sebaiknya lebih teliti membaca laporan keuangan agar tidak mudah tertipu oleh angka laba yang terlihat besar tapi tidak nyata. Dengan begitu, manajemen laba bisa menjadi strategi yang sehat, menjaga stabilitas usaha, dan membantu perusahaan tetap dipercaya oleh masyarakat dan pihak luar.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Natasya Natasya -
Nama: Natasya
NPM: 2413031081
Kelas: 2024 C

Saya menemukan bener poin penting pada vidio dan artikel yaitu menjelaskan mengenai konsep manajemen laba atau earnings manajemen yaitu sebuah praktik yang sering di salah pahami dalam dunia akutansi dan keuangan. Manajemen laba dalam konteks yang dibahas di vidio ini belum tentu merupakan tindakan ilegal atau penipuan, dan ini adalah wilayah abu abu di mana manajer menggunakan fleksibilitas dalam aturan akutansi untuk menyajikan gambaran keuangan yang mereka inginkan, dalam vidio ini juga di jelaskan mengenai definisi manajemen laba secara spesifik yaitu pengaturan waktu atau timing sebuah transaksi untuk menciptakan keuntungan atau kerugian, di mana tujuan utamanya bukanlah di dasarkan pada alasan ekonomi yang rasional, melainkan murni untuk memanipulasi angka laba.



Tetapi memanipulasi ini memiliki tujuan dan bisa dua arah yang pertama yaitu menaikan laba dan menurunkan laba dana manajemen laba juga memiliki dua arah yaitu manajemen laba ke atas dan manajemen laba ke bawah, tujuan akhir dari manajemen laba ke bawah adalah perataan laba dimana perusahaan yang melaporkan pertumbuhan laba yang stabil dan dapat di prediksi.

Tindakan yang dilakukan sepenuhnya legal dan perusahaan tidak memalsukan angka Karena mereka tidak memalsukan angka, dan mereka benar benar memiliki aset, menjualnya, dan mencatat, keuntungannya dengan benar. Namun niat di balik penjualan itu bukanlah alasan ekonomi murni yaitu niatnya murni untuk mengatur waktu transaksi agar memiliki keuntungan, tetapi walaupun Contoh di atas legal, praktik manajemen laba bisa menjadi lereng yg licin karena ketika manajemen laba yang agresif terjadi, biasanya di dorong oleh tekanan besar untuk selalu memenuhi target laba dan ada resiko manajer akan bertindak selalu jauh karena mereka mungkin akan mulai beralih dari mengatur waktu transaksi legal menjadi menciptakan transaksi ilegal dan beberapa contoh penipuan yang sebenarnya yang bukan lagi manajemen laba seperti penjual efektif, channel stuffing.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

jurnal “Earnings Management: A Literature Review” maupun video yang membahas topik ini sama-sama menguraikan bahwa pengelolaan laba (earnings management) adalah tindakan manajemen dalam mengatur laporan keuangan agar menampilkan hasil sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Laba menjadi fokus penting karena digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dan memengaruhi keputusan para investor, kreditor, serta pihak luar lainnya.
Dalam jurnal dijelaskan dua sudut pandang utama tentang pengelolaan laba, yaitu pandangan oportunistik dan pandangan sinyal (signalling). Pandangan oportunistik menganggap manajer melakukan pengelolaan laba demi kepentingan pribadi, seperti mendapatkan bonus, mempertahankan reputasi, atau memenuhi kontrak tertentu. Sebaliknya, pandangan sinyal menilai bahwa pengelolaan laba bisa menjadi cara manajemen untuk memberikan informasi positif kepada pasar mengenai kondisi dan prospek perusahaan di masa depan.
Keduanya juga menjelaskan dua cara utama dalam melakukan pengelolaan laba, yakni berbasis akrual dan berbasis aktivitas nyata. Pendekatan berbasis akrual dilakukan dengan menyesuaikan kebijakan akuntansi seperti penyusutan atau piutang, sedangkan pendekatan berbasis aktivitas nyata dilakukan melalui tindakan operasional, seperti mempercepat penjualan, menunda pengeluaran, atau mengubah produksi agar laba terlihat meningkat.
Video juga menekankan sisi etika dan risiko dari praktik ini. Walaupun tidak selalu melanggar aturan, pengelolaan laba dapat menurunkan kualitas laporan keuangan dan menyesatkan pengguna informasi. Karena itu, diperlukan transparansi dan pengawasan agar praktik ini digunakan secara wajar sebagai sarana komunikasi kinerja, bukan sebagai alat manipulasi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Siti haryanti 2413031094 -
Nama : Siti Haryanti
Npm : 2413031094

Artikel tersebut memaparkan bahwa laba akuntansi merupakan elemen penting dalam laporan keuangan yang sangat diperhatikan oleh stakeholder dan dapat dimanipulasi oleh manajemen melalui kebijakan akuntansi. Penelitian review ini menganalisis 50 artikel internasional terkait manajemen laba, menemukan bahwa sebagian besar (sektritar 74 %) menggunakan metode kuantitatif, dan mayoritas (≈ 65 %) mengandalkan pendekatan accrual rather than kegiatan riil. Mereka mengidentifikasi dua perspektif utama: perspektif oportunistik — di mana pengelola mengubah laba untuk kepentingan pribadi atau kontraktual; dan perspektif sinyal — di mana pengelola memanipulasi laba untuk menyampaikan informasi tersembunyi kepada pasar atau investor. Artikel menekankan bahwa pendekatan accrual saja tidak cukup karena manipulasi melalui kegiatan operasional nyata (real earnings management) juga signifikan dan lebih sulit dideteksi.

Sementara itu, video yang saya tinjau menyajikan bagaimana perusahaan dapat menerapkan teknik-teknik manajemen laba — misalnya mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan, mengendalikan biaya tak terduga, atau memilih metode akuntansi yang paling menguntungkan — untuk mencapai target laba tertentu atau memenuhi ekspektasi pasar. (Meski tidak dapat mengutip tepat‐tepat karena video tidak terbuka penuh).

Opini saya: Saya menilai bahwa pembahasan ini sangat relevan dalam konteks pendidikan akuntansi dan pelaporan keuangan karena mengingatkan bahwa laporan keuangan bukanlah sekadar angka pasif, tetapi juga hasil dari pilihan manajerial yang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan stakeholder. Bahwa manajemen laba tidak selalu jahat—seperti yang dinyatakan artikel bahwa dalam tingkat tertentu manajemen laba bisa berfungsi sebagai sinyal yang sah—menjadi poin penting yang sering diabaikan. Namun, dari sisi etika dan transparansi, saya berpendapat bahwa perusahaan dan regulator harus meningkatkan mekanisme pengungkapan dan audit agar manipulasi yang merusak kepercayaan publik bisa diminimalkan. Terlebih di Indonesia, di mana kesadaran akan manajemen laba masih berkembang, maka penguatan kontrol dan pendidikan stakeholder menjadi kunci agar laporan keuangan tetap kredibel.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Alfiantika Putri -
Nama : Alfiantika Putri
NPM : 2413031095

Video Earnings Management oleh Edspira membahas tentang tindakan perusahaan yang sengaja mengatur waktu transaksi untuk memanipulasi angka laba mereka, baik untuk menaikkan atau menurunkan laba. Hal ini tidak selalu ilegal atau termasuk penipuan, tapi bertujuan agar laporan keuangan terlihat lebih baik sesuai keinginan perusahaan.

Contohnya, jika sebuah perusahaan memiliki tanah yang dibeli dengan harga $1.000 dan nilai tanah tersebut naik menjadi $1.700, perusahaan tidak akan mencatat keuntungan itu sampai tanah dijual. Jika di tahun tertentu laba perusahaan terancam turun, mereka bisa menjual tanah tersebut untuk merealisasi keuntungan $700 tadi sehingga laporan laba tahun itu naik tanpa menambah operasi bisnis sebenarnya. Perusahaan juga bisa melakukan manajemen laba turun dengan menyimpan kelebihan laba di waktu tertentu untuk dipakai di masa sulit, yang sering disebut cookie jar reserves. Meski terdengar seperti trik, manajemen laba ini legal selama tidak sampai melakukan penipuan atau membuat angka palsu.

Pada artikel "Earnings Management: A Literature Review" menjelaskan bahwa earnings management adalah cara manajer mengatur laporan keuangan untuk mencapai laba yang diinginkan tanpa melanggar aturan akuntansi. Manajer biasanya punya informasi lebih lengkap sehingga bisa menyesuaikan angka laba agar memenuhi kebutuhan perusahaan atau kepentingannya sendiri.

Ada dua pandangan utama dari earnings management pertama, pandangan opportunistik yang menganggap manajer memanipulasi laba demi keuntungan pribadi seperti mendapatkan bonus atau memenuhi syarat pinjaman. Kedua, pandangan sinyal yang melihat earnings management sebagai cara manajer menyampaikan informasi penting tentang prospek perusahaan kepada investor supaya mereka bisa membuat keputusan yang tepat. Banyak penelitian menggunakan pendekatan angka akrual untuk mengukur earnings management, meskipun ada juga yang melihat manipulasi dalam aktivitas riil perusahaan. Earnings management tidak selalu negatif karena bisa membantu memberikan informasi yang lebih jelas, tapi juga punya risiko menyesatkan para pengguna laporan keuangan.

Menurut saya dari video dan artikel diatas earnings management itu seperti cara perusahaan mengatur laporan laba agar terlihat sesuai keinginan, tapi tanpa melanggar aturan. Cara tersebut bisa membantu kalau dipakai dengan benar supaya laporan keuangan jadi lebih jelas, tapi jika disalahgunakan bisa buat orang salah paham dan merugikan, jadi harus ada aturan dan pengawasan supaya manajemen laba ini tidak merugikan siapa pun.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh IREN AGISTA PUTRI 2413031071 -
NAMA : IREN AGISTA PUTRI
NPM : 2413031071

Video dari Edspira dan artikel "Earnings Management: A Literature Review" oleh Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama membahas konsep earnings management sebagai suatu tindakan manajemen untuk mengatur atau memanipulasi laporan laba perusahaan dengan tujuan tertentu yang biasanya bukan berdasarkan alasan ekonomi sebenarnya. Dalam video, nyata bahwa earnings management tidak selalu ilegal, melainkan lebih pada timing atau pengaturan transaksi agar laba tampak naik, seperti contoh penjualan aset pada waktu tertentu guna merealisasikan keuntungan. Definisi ini senada dengan yang dibahas dalam literatur, di mana earnings management adalah intervensi disengaja dalam pelaporan keuangan melalui pilihan kebijakan akuntansi yang dapat menyesatkan pengguna laporan.

Artikel menjelaskan dua perspektif utama earnings management, yaitu opportunistic dan signaling. Perspektif opportunistic melihat earnings management sebagai tindakan manajemen untuk memaksimalkan keuntungan pribadi, misalnya mendapatkan bonus atau memenuhi kondisi perjanjian hutang, dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Sementara perspektif signaling menganggap earnings management sebagai alat komunikasi informasi manajemen kepada investor mengenai prospek perusahaan, membantu mengurangi ketidakpastian.

Mayoritas penelitian menggunakan pendekatan accrual-based karena fleksibilitas pilihan akuntansi yang ada, meskipun real earnings management juga banyak dijalankan dan sulit dideteksi auditor. Walaupun sering dipandang negatif, earnings management tidak selalu buruk—dalam batas tertentu, ia berfungsi untuk meningkatkan komunikasi perusahaan dengan pasar dan menciptakan ekspektasi laba yang lebih stabil.

Menurut saya, earnings management jika dilakukan secara moderat dan transparan, bisa membantu menyampaikan informasi yang lebih akurat tentang kondisi perusahaan ke pasar. Namun, bila dilakukan secara berlebihan demi menipu atau menutupi kinerja sebenarnya, maka akan merusak kredibilitas laporan keuangan dan berpotensi merugikan investor dan stakeholder. Oleh karena itu, earning management harus diimbangi dengan pengawasan ketat dari regulator dan auditor agar tetap pada koridor etika dan standard akuntansi yang berlaku. Dengan demikian, praktik ini bisa lebih berfungsi sebagai alat komunikasi yang sah dan bukan alat manipulasi semata.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Sofia Dilara -
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Video dan artikel menyoroti bagaimana earnings management atau manajemen laba menjadi praktik yang sering dilakukan perusahaan ketika menyusun laporan keuangan. Dari video, terlihat manajemen laba biasanya muncul ketika manajemen ingin menampilkan kinerja yang terlihat lebih stabil, meyakinkan investor, ataupun memenuhi target tertentu seperti bonus, covenant utang, atau ekspektasi pasar. Praktik ini tdak selalu berupa pelanggaran aturan, karena masih berada dalam area kebebasan akuntansi, tetapi dapat menimbulkan kesan seolah-olah perusahaan tampil lebih baik dari kondisi sebenarnya.

Artikel Debbianita dkk. (2024) memperkuat hal tersebut dengan menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menilai manajemen laba dari perspektif oportunistik, yaitu ketika manajer memanfaatkan asimetri informasi untuk kepentingannya sendiri. Sekitar 75% penelitian yang direview dalam artikel tersebut menilai earnings management sebagai tindakan manipulatif yang bisa menyesatkan pengguna laporan keuangan. Selain itu, 65% penelitian kuantitatif masih menggunakan pendekatan accrual earnings management, karena lebih mudah diukur dan menjadi acuan umum dalam penelitian akuntansi

Namun, artikel menarik karena tidak hanya melihat sisi negatifnya. Ada juga perspektif signaling, yang memandang earnings management sebagai cara manajer menyampaikan informasi internal yang tidak dapat dilihat publik. Dalam pandangan ini, manajemen laba bisa membantu investor mengerti prospek jangka panjang dengan menunjukkan aliran laba yang lebih smooth dan stabil.

Menurut saya, manajemen laba adalah area abu-abu dalam akuntansi. Di satu sisi, ketika dilakukan berlebihan, praktik ini jelas berbahaya karena membuat laporan keuangan kehilangan kejujuran, bahkan bisa merugikan investor. Tetapi di sisi lain, saya setuju dengan pandangan signaling bahwa dalam batas tertentu, penyesuaian laba bisa membantu perusahaan memberi gambaran yang lebih konsisten tentang kinerjanya. Intinya bukan “manajemen labanya ada atau tidak,” tetapi seberapa jauh dan apakah tujuannya untuk memperjelas atau justru menipu. Transparansi dan pengawasan tetap menjadi kunci agar praktik ini tidak merusak kepercayaan publik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024 c

Manajemen laba adalah upaya yang disengaja oleh manajemen perusahaan untuk menyajikan laporan keuangan guna memenuhi tujuan laba tertentu tanpa melanggar norma akuntansi yang berlaku. Meskipun sering kali mengakibatkan kebingungan informasi bagi pengguna laporan, tindakan ini bertujuan untuk mengelola laba sesuai dengan harapan pemangku kepentingan. Ada dua perspektif utama tentang Manajemen Laba dalam literatur: sudut pandang oportunistik dan sudut pandang sinyal. Sebuah perspektif oportunistik melihat Manajemen Laba digunakan oleh manajemen untuk keuntungan pribadi seperti bonus atau pelunasan kontrak hutang; Sedangkan dari sudut pandang sinyal, Manajemen Laba berfungsi sebagai sarana transmisi informasi internal perusahaan yang membantu investor mengantisipasi kinerja masa depan.

Di dalam video, konsep Manajemen Laba diilustrasikan dengan contoh bagaimana suatu perusahaan bisa mengatur waktu transaksi aset (contohnya, melakukan penjualan tanah saat terdapat keuntungan yang belum direalisasikan) untuk meningkatkan laba dalam periode tertentu. Karena menggunakan kebijakan yang diizinkan untuk "mengontrol" angka laba agar terlihat lebih baik atau konsisten, contoh ini mencerminkan pengelolaan laba yang tulus dan bukan penipuan. Selain itu, ada kebiasaan untuk menurunkan laba—yaitu manajemen laba di bawah—sehingga menyimpan "cadangan laba" untuk digunakan pada masa-masa sulit. Teknik-teknik dalam Manajemen Laba bisa berupa manipulasi laba akrual (manajemen laba akrual) ataupun operasional nyata (manajemen laba nyata).

Pendapat: Manajemen laba merupakan permasalahan rumit yang tidak selalu berdampak buruk. Secara pragmatis, hal ini memberikan kebebasan kepada manajemen untuk memodifikasi laporan keuangan dengan benar agar dapat mewakili keadaan perusahaan secara lebih konsisten dan dapat diprediksi. Namun, jika dilakukan secara oportunistik dan berlebihan, perilaku ini dapat merusak kepercayaan pemangku kepentingan dan mengacaukan pengambilan keputusan. Maka, untuk menjaga Manajemen Laba tetap dalam batas yang tidak berputar, ada kebutuhan akan pengawasan dan peraturan yang tepat. Singkatnya, Manajemen Laba adalah pedang dua sisi yang—tergantung niat dan batasan penggunaannya—bisa menghasilkan keuntungan atau kerugian.
Untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang Manajemen Laba, ringkasan ini mengintegrasikan sudut pandang akademis dari jurnal dengan penjelasan praktis dari video YouTube.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Niabi Rahma Wati -
Nama: Niabi Rahma Wati
NPM: 2413031078

Manajemen laba merupakan cara yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk mengatur-atur angka laba yang mereka laporkan kepada publik, sesuai dengan keinginan tanpa melanggar aturan akuntansi. Contoh sederhananya, sebuah perusahaan yang punya tanah yang nilainya sudah naik, di tahun di mana penghasilan operasional mereka jelek, mereka bisa saja memilih untuk menjual tanah tersebut. Kemudian keuntungan dari penjualan tanah tersebut akan menyelamatkan laporan keuangan mereka, membuat laba secara keseluruhan terlihat bagus. Tindakan ini dianggap tidak melanggar aturan akuntansi, namun motivasi utamanya diragukan karena hanya untuk membuat angka laba terlihat baik.
Biasanya perusahaan memiliki alasan mengapa melakukan manajemen laba, seperti alasan egois atau oportunis. Dalam hal ini manajer memanipulasi laba untuk kepentingan pribadi, seperti agar mendapatkan bonus yang lebih besar atau supaya bank tetap memberikan pinjaman. Sinyal juga menjadi alasan, karena di mana perusahaan ingin memberikan gambaran positif kepada investor tentang masa depan perusahaan dengan menunjukkan laba mereka stabil. Menurut saya pribadi, praktik ini seperti dua sisi pada pedang. Di satu sisi, bisa dimengerti jika tujuannya untuk menenangkan investor dengan menunjukkan stabilitas. Tetapi disisi lain, hal ini cukup bahaya. Praktik ini dapat membuat kinerja sebenarnya perusahaan tersembunyi. Investor dan pihak lain jadi sulit untuk membedakan mana keberhasilan yang nyata dan mana tang hasil rekayasa akuntansi saja. Jika praktik ini dibiasakan, budaya ini bisa merusak kepercayaan dan pada akhirnya bisa menjerumuskan perusahaan ke dalam tindakan penipuan yang lebih serius. Oleh karena itu, transparansi dan tata kelola perusahaan yang kuat sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan manajemen laba.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Della Puspita -
NAMA : Della Puspita
NPM : 2453031007

Menurut pandangan saya, isu manajemen laba merupakan salah satu fenomena paling menarik sekaligus kompleks dalam dunia akuntansi modern. Setelah membaca uraian dan tinjauan literatur dalam artikel tersebut, saya justru melihat bahwa manajemen laba tidak dapat dipandang hitam atau putih. Ia berada pada spektrum yang luas: di satu sisi dapat merusak transparansi, namun di sisi lain dapat menjadi alat komunikasi yang justru meningkatkan kejelasan informasi bagi investor. Ketegangan antara dua fungsi ini membuat topik earnings management selalu relevan dan tidak pernah habis dibahas.

Saya berpendapat bahwa kecenderungan penelitian yang masih didominasi perspektif oportunistik menggambarkan kenyataan bahwa praktik manipulatif memang lebih sering mencuat ke permukaan. Banyak manajer yang terdorong oleh bonus, target laba, atau tekanan pasar sehingga memilih jalan pintas untuk memperindah laporan keuangan. Saya melihat ini sebagai cerminan masalah struktural: sistem insentif perusahaan sering kali mendorong perilaku jangka pendek daripada kesehatan jangka panjang. Selama budaya “angka laba” menjadi simbol utama keberhasilan, manajemen laba oportunistik akan terus ada.

Namun, saya juga melihat bahwa perspektif signalling membuka ruang berpikir baru. Tidak semua manajemen laba berakhir sebagai manipulasi buruk. Terkadang, manajer menghadapi realitas bahwa informasi internal tidak selalu bisa diungkapkan secara eksplisit karena batasan aturan atau risiko salah tafsir pasar. Dalam kondisi tertentu, penghalusan laba dapat membantu investor memperoleh gambaran yang lebih stabil tentang arah perusahaan. Di sinilah saya menilai bahwa manajemen laba bisa menjadi alat komunikasi strategis, bukan sekadar tindakan manipulatif.

Pada akhirnya, menurut saya, tantangan terbesar bukanlah menghilangkan manajemen laba, tetapi membedakan mana praktik yang etis dan informatif, dan mana yang mengecoh serta merugikan. Dunia akuntansi membutuhkan regulasi, sistem insentif, dan transparansi yang lebih adaptif agar manajemen laba benar-benar berfungsi untuk meningkatkan kualitas informasi, bukan merusaknya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Ratih Apriyani -
NAMA: RATIH APRIYANI
NPM: 2413031073

Video dari Edspira dan artikel “Earnings Management: A Literature Review” karya Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama pada dasarnya membahas earnings management sebagai tindakan manajemen dalam mengatur atau memengaruhi pelaporan laba perusahaan untuk tujuan tertentu yang tidak selalu didasarkan pada kondisi ekonomi sebenarnya. Dalam video dijelaskan bahwa earnings management tidak identik dengan pelanggaran hukum; sering kali praktik ini hanya berupa pengaturan waktu transaksi agar laba terlihat meningkat, misalnya menjual aset pada momen tertentu untuk mencatat keuntungan. Penjelasan ini sejalan dengan literatur, yang mendefinisikan earnings management sebagai intervensi sengaja dalam proses pelaporan melalui pilihan kebijakan akuntansi yang berpotensi menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Artikel tersebut menguraikan dua sudut pandang utama mengenai earnings management. Perspektif opportunistic memandang praktik ini sebagai upaya manajemen untuk memperoleh keuntungan pribadi—seperti memenuhi target bonus atau persyaratan perjanjian hutang—meskipun dapat merugikan pihak lain. Sebaliknya, perspektif signaling melihat earnings management sebagai sarana bagi manajemen untuk menyampaikan informasi mengenai prospek perusahaan kepada investor, sehingga dapat mengurangi ketidakpastian di pasar.

Sebagian besar penelitian menitikberatkan pada accrual-based earnings management karena fleksibilitas yang diberikan oleh standar akuntansi, meskipun bentuk real earnings management juga sering dilakukan dan cenderung lebih sulit dideteksi oleh auditor. Walaupun kerap dipandang negatif, earnings management tidak selalu merugikan. Dalam batas yang wajar, praktik ini dapat membantu perusahaan menyampaikan kondisi ekonomi yang lebih stabil kepada pasar dan memfasilitasi komunikasi dengan investor.

Secara pribadi, saya menilai bahwa earnings management dapat memberikan manfaat jika dilakukan secara proporsional dan tetap transparan. Dalam kondisi tersebut, praktik ini mampu membantu pasar memahami kinerja perusahaan secara lebih realistis. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan untuk menyembunyikan kinerja sebenarnya, praktik tersebut justru merusak keandalan laporan keuangan dan berpotensi merugikan investor serta pemangku kepentingan lainnya. Karena itu, earnings management perlu diawasi dengan ketat oleh regulator dan auditor agar tetap berada dalam koridor etika serta standar akuntansi yang berlaku. Dengan pengawasan yang memadai, praktik ini dapat berfungsi sebagai alat komunikasi yang sah, bukan sarana manipulasi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

Manajemen Laba (Earnings Management atau EM) adalah metodologi akuntansi yang rumit, di mana para manajer memanfaatkan kebebasan dalam pelaporan keuangan untuk mencapai target laba yang telah ditentukan, berada di antara batasan moral dan hukum. Aktivitas ini dipicu oleh dua motivasi: sebagian besar studi (sekitar 75%) menganggapnya sebagai perilaku yang oportunistik, di mana para manajer melakukan manipulasi laba seringkali dengan menggunakan EM Berbasis Akrual atau waktu transaksi aktual untuk meningkatkan kepentingan pribadi mereka melalui bonus atau ketentuan utang, yang pada akhirnya dapat menyesatkan para pemangku kepentingan. Namun, ada juga sejumlah kecil penelitian yang mendukung perspektif pensinyalan, di mana manajer menerapkan EM untuk menyampaikan informasi insider dengan lebih efisien dan menghasilkan arus laba yang lebih konsisten dan dapat diprediksi, yang bisa menguntungkan bagi para investor. Dengan demikian, EM menjadi masalah yang sangat penting karena dapat merusak kepercayaan terhadap informasi keuangan, meskipun di sisi lain diakui bahwa kebebasan manajerial bisa meningkatkan relevansi nilai laba.

Menurut pendapat saya, pengelolaan laba (Earnings Management/EM) adalah sebuah metode akuntansi yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, banyak penelitian menunjukkan bahwa EM sering kali dipicu oleh kepentingan pribadi manajer mereka mengubah angka laba demi keuntungan mereka sendiri (seperti bonus atau kontrak pinjaman), yang jelas berdampak negatif pada kualitas laporan keuangan. Namun, di sisi lain, EM bisa juga berfungsi sebagai alat sinyal yang logis, dimana manajer memanfaatkan kebijaksanaan untuk membuat laba lebih konsisten dan dapat diprediksi, sehingga meningkatkan pentingnya informasi bagi para investor. Oleh sebab itu, tantangan utama bukanlah melarang EM, tetapi membangun sistem pengawasan dan metode audit yang efektif untuk membedakan antara praktik pengelolaan laba yang memberikan informasi dan manipulasi yang hanya merugikan, terutama yang dilakukan melalui aktivitas nyata yang sulit terdeteksi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Erlita Pakpahan -
nama : erlita pakpahan
npm: 2413031077
kelas ; c

Resume jurnal Earnings Management: A Literature Review”.
Jurnal ini membahas earnings management melalui telaah literatur terhadap 50 artikel internasional yang diperoleh dari Google Scholar. Penelitian ini mengulas dua perspektif utama dalam manajemen laba, yaitu opportunistic perspective dan signaling perspective. Perspektif oportunistik berpendapat bahwa manajer memanfaatkan asimetri informasi untuk meningkatkan keuntungan pribadi, seperti melalui bonus, pemenuhan perjanjian utang, atau kepentingan politik. Dalam pandangan ini, earnings management dipandang negatif karena dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Sebaliknya, perspektif sinyal berargumen bahwa manajer terkadang mengelola laba untuk menyampaikan informasi internal mengenai prospek perusahaan, sehingga praktik ini dapat meningkatkan relevansi informasi dan membantu investor menilai kinerja masa depan. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa 74% penelitian menggunakan metode kuantitatif dan 65% di antaranya mengukur earnings management melalui pendekatan accrual-based, seperti discretionary accruals. Meskipun real earnings management semakin banyak dibahas, pendekatan akrual masih mendominasi karena model pengukurannya dianggap lebih mapan. Selain itu, sekitar 75% artikel menyoroti manajemen laba dari perspektif oportunistik, sedangkan hanya sebagian kecil yang mengadopsi perspektif signaling. Peneliti menyimpulkan bahwa studi manajemen laba masih cenderung melihat praktik ini sebagai tindakan manipulatif, meskipun beberapa literatur menunjukkan potensi manfaatnya jika digunakan sebagai mekanisme penyampaian informasi. Studi ini menyarankan perluasan penelitian untuk menggali motif manajemen laba secara lebih mendalam sehingga dapat dibedakan apakah suatu praktik bersifat merugikan atau justru informatif bagi pemangku kepentingan.

Menurut saya, jurnal ini memberikan gambaran komprehensif tentang ketidakseimbangan fokus penelitian earnings management. Dominasi perspektif oportunistik menunjukkan bahwa dunia akademik masih memandang praktik ini sebagai tindakan yang cenderung merugikan. Namun, saya melihat bahwa perspektif signaling seharusnya mendapat perhatian lebih besar, terutama pada era ketika standar pelaporan semakin kompleks dan rigid. Dalam beberapa situasi, earnings management memang dapat membantu menjembatani informasi yang tidak terlihat dalam laporan keuangan. Meski demikian, tetap penting memastikan bahwa praktik tersebut tidak mengarah pada misinformasi atau menurunkan kualitas laba.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C

‎Berdasarkan jurnal dan penjelasan dari video YouTube, Manajemen Laba (Earnings Management atau EM) pada intinya adalah aksi sengaja dari pihak manajemen untuk mengolah-olah angka laba dalam laporan keuangan. Caranya seringkali dengan mengatur waktu transaksi agar laba yang dilaporkan sesuai dengan keinginan mereka. Praktik ini memanfaatkan celah dalam kebijakan akuntansi yang legal, jadi belum tentu bisa disebut sebagai kecurangan. Namun, dampaknya bisa menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan saat mengambil keputusan.

‎Dua Sudut Pandang yang Berbeda.
‎Dalam dunia akuntansi, motivasi di balik Manajemen Laba umumnya dilihat dari dua kacamata yang bertolak belakang:
‎1. Sudut Pandang Oportunistik (Cari Untung Sendiri): Di sini, manajer dilihat sebagai pihak yang memanfaatkan keunggulan informasi mereka untuk kepentingan pribadi. Misalnya, mereka menggelembungkan laba agar bisa dapat bonus lebih besar atau agar perusahaan tidak melanggar perjanjian utang.
‎2. Sudut Pandang Pensinyalan (Memberi Sinyal ke Pasar): Pandangan ini lebih positif. Alasannya, manajer mengelola laba untuk menyampaikan "sinyal" mengenai kondisi internal perusahaan yang sebenarnya kepada investor di luar. Laba yang terlihat stabil dan terus tumbuh dari waktu ke waktu bisa menjadi sinyal positif bahwa perusahaan punya prospek bagus, yang akhirnya bisa menekan biaya modal.

‎Cara dan Temuan Penelitian
‎Dalam praktiknya, Manajemen Laba bisa dilakukan dengan dua cara: menaikkan laba (upward EM) atau justru menurunkannya (downward EM). Menurunkan laba seringkali bertujuan untuk menyimpan tabungan rahasia (cookie jar reserves) yang bisa dicairkan di masa sulit nanti. Ini sejalan dengan tujuan smoothing atau meratakan laba dalam sudut pandang pensinyalan.
‎Secara metode penelitian, Manajemen Laba diukur dengan dua pendekatan:
‎a. Melalui Akrual: Yaitu dengan memanipulasi akrual diskresioner.
‎b.Melalui Aktivitas Riil: Yaitu dengan mengatur transaksi operasional nyata perusahaan, seperti mengubah pola pengeluaran atau produksi.

‎Dari jurnal maupun video yang saya tonton sama-sama menunjukkan bahwa Manajemen Laba itu memiliki dua sifat. Video itu memberi contoh nyata: sebuah perusahaan sengaja menjual tanah untuk merekayasa laba tahunannya yang anjlok. Di permukaan, ini adalah aksi oportunis. Tapi, kalau dilihat lebih dalam, motivasi mereka sebenarnya adalah menjaga tren kenaikan laba, yang justru sesuai dengan logika pensinyalan untuk menunjukkan stabilitas perusahaan di mata pasar.
‎Menurut saya, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan praktik Manajemen Laba sepenuhnya. Dalam batas wajar, ini bisa menjadi alat komunikasi yang efektif bagi manajemen untuk memberi gambaran yang lebih jernih tentang nilai perusahaan kepada investor, yang mungkin tidak tertangkap dari angka-angka laporan keuangan mentah. Jadi, tantangan sesungguhnya bukanlah menghapus Manajemen Laba, tapi bagaimana kita mengembangkan cara yang lebih cerdas untuk membedakan mana yang dilakukan untuk memberi sinyal yang bermanfaat, dan mana yang murni untuk mengeruk keuntungan pribadi. Memadukan pemahaman tentang kedua motif inilah yang akan menjadi kunci bagi riset dan regulasi akuntansi ke depan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Ivan Kurniawan -
Nama: Ivan Kurniawan
NPM: 2453031005
Kelas: 2024 C

Saya menemukan bener poin penting pada vidio dan artikel yaitu menjelaskan mengenai konsep manajemen laba atau earnings manajemen yaitu sebuah praktik yang sering di salah pahami dalam dunia akutansi dan keuangan. Manajemen laba dalam konteks yang dibahas di vidio ini belum tentu merupakan tindakan ilegal atau penipuan, dan ini adalah wilayah abu abu di mana manajer menggunakan fleksibilitas dalam aturan akutansi untuk menyajikan gambaran keuangan yang mereka inginkan, dalam vidio ini juga di jelaskan mengenai definisi manajemen laba secara spesifik yaitu pengaturan waktu atau timing sebuah transaksi untuk menciptakan keuntungan atau kerugian, di mana tujuan utamanya bukanlah di dasarkan pada alasan ekonomi yang rasional, melainkan murni untuk memanipulasi angka laba.



Tetapi memanipulasi ini memiliki tujuan dan bisa dua arah yang pertama yaitu menaikan laba dan menurunkan laba dana manajemen laba juga memiliki dua arah yaitu manajemen laba ke atas dan manajemen laba ke bawah, tujuan akhir dari manajemen laba ke bawah adalah perataan laba dimana perusahaan yang melaporkan pertumbuhan laba yang stabil dan dapat di prediksi.

Tindakan yang dilakukan sepenuhnya legal dan perusahaan tidak memalsukan angka Karena mereka tidak memalsukan angka, dan mereka benar benar memiliki aset, menjualnya, dan mencatat, keuntungannya dengan benar. Namun niat di balik penjualan itu bukanlah alasan ekonomi murni yaitu niatnya murni untuk mengatur waktu transaksi agar memiliki keuntungan, tetapi walaupun Contoh di atas legal, praktik manajemen laba bisa menjadi lereng yg licin karena ketika manajemen laba yang agresif terjadi, biasanya di dorong oleh tekanan besar untuk selalu memenuhi target laba dan ada resiko manajer akan bertindak selalu jauh karena mereka mungkin akan mulai beralih dari mengatur waktu transaksi legal menjadi menciptakan transaksi ilegal dan beberapa contoh penipuan yang sebenarnya yang bukan lagi manajemen laba seperti penjual efektif, channel stuffing.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Nuraini Naibaho 2413031076 -

Nama : Nuraini naibaho

Npm   : 2413031076

Kelas  : 24 C

Pembahasan dalam video Edspira dan artikel “Earnings Management: A Literature Review” menggambarkan bahwa praktik manajemen laba adalah fenomena yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tindakan “memoles” angka keuangan. Keduanya menunjukkan bahwa manipulasi laba bisa muncul karena berbagai tekanan, baik internal maupun eksternal, yang akhirnya mendorong manajemen untuk menampilkan performa tertentu pada laporan keuangan.

Dalam praktiknya, banyak perusahaan masih melakukan manajemen laba dengan motif oportunistik. Tekanan untuk memenuhi target laba, mempertahankan harga saham, atau mengejar kompensasi berbasis kinerja sering kali membuat manajer memilih jalan pintas. Ketika tindakan tersebut dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi atau jangka pendek, kualitas informasi akuntansi menjadi terdegradasi. Investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya berpotensi mengambil keputusan yang salah karena laporan keuangan tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan secara akurat. Bagian ini sejalan dengan temuan artikel bahwa sebagian besar penelitian memandang earnings management sebagai perilaku oportunistik yang merugikan.

Namun, artikel juga menekankan bahwa tidak semua bentuk manajemen laba bersifat destruktif. Dalam perspektif signaling, tindakan penyesuaian laba dapat menjadi sarana untuk menyampaikan informasi yang tidak terlihat langsung pada laporan keuangan. Misalnya, manajemen mungkin ingin menunjukkan stabilitas kinerja atau mengurangi kejutan pasar yang berlebihan. Praktik seperti ini dapat membantu pasar membentuk ekspektasi yang lebih realistis dan mendukung hubungan jangka panjang dengan investor. Penjelasan ini memberikan sudut pandang yang lebih seimbang bahwa manajemen laba tidak semata-mata identik dengan manipulasi yang merugikan.

Jika melihat kedua sumber tersebut secara bersamaan, muncul gambaran bahwa manajemen laba bukan hanya masalah bagaimana angka disajikan, tetapi lebih pada bagaimana perusahaan merespons tekanan dan insentif yang melekat dalam dunia bisnis. Video Edspira menunjukkan sisi praktisnya bagaimana manajer dapat tergoda untuk mengubah angka demi menjaga penampilan kinerja. Sementara itu, artikel memberikan konteks yang lebih dalam mengenai mengapa praktik ini terus terjadi dan bagaimana para peneliti memandangnya dari berbagai perspektif.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Salwa Trisia Anjani -
Salwa Trisia Anjani
2413031090

Jawab:
Video menjelaskan bahwa earnings management adalah upaya manajemen mengatur laba baik melalui akrual maupun keputusan operasional agar tampak sesuai target. Praktik ini tidak selalu salah, tetapi dapat menyesatkan bila digunakan untuk kepentingan pribadi atau menutupi kinerja sebenarnya.

Isi video tersebut sejalan dengan artikel “Earnings Management: A Literature Review” , yang menyimpulkan bahwa sebagian besar penelitian memandang earnings management dari perspektif oportunistik, yaitu tindakan manajemen memanfaatkan asimetri informasi untuk mengejar bonus, memenuhi perjanjian utang, atau menghindari tekanan regulasi. Namun artikel juga menyoroti perspektif signaling, di mana earnings management digunakan sebagai sinyal positif untuk menunjukkan stabilitas dan prospek perusahaan.

Menurut opini saya, earnings management adalah fenomena yang wajar terjadi, tetapi penggunaannya harus tetap etis. Jika dilakukan untuk memberikan sinyal wajar tentang kinerja, hal itu dapat membantu investor. Namun jika dilakukan secara manipulatif, praktik ini merusak kepercayaan dan membuat laporan keuangan kehilangan makna. Oleh karena itu, transparansi dan pengawasan menjadi kunci agar informasi keuangan tetap dapat dipercaya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Silviana Febriani -
NAMA: SILVIANA FEBRIANI
NPM: 2413031075

Pengelolaan laba adalah tindakan manajemen dalam mengatur pelaporan keuangan agar menunjukkan kinerja sesuai tujuan tertentu. Jurnal “Earnings Management: A Literature Review” dan video yang membahas topik serupa menjelaskan bahwa praktik ini dilakukan tanpa harus melanggar standar akuntansi. Laba menjadi pusat perhatian karena berperan dalam penilaian kinerja perusahaan dan memengaruhi keputusan investor, kreditor, serta pihak eksternal lainnya.

Jurnal tersebut menjelaskan dua pandangan utama mengenai pengelolaan laba. Pandangan oportunistik melihat praktik ini sebagai upaya manajer memenuhi kepentingan pribadi seperti insentif, target kontraktual, atau menjaga citra. Pandangan lainnya menilai pengelolaan laba sebagai sarana penyampaian informasi. Dalam pandangan ini, manajemen menggunakan praktik pengelolaan laba untuk memberikan sinyal positif tentang prospek perusahaan ketika informasi tersebut tidak bisa disampaikan secara eksplisit.

Kedua sumber juga menjelaskan dua teknik utama dalam pengelolaan laba. Teknik berbasis akrual dilakukan melalui penyesuaian kebijakan akuntansi seperti estimasi penyusutan atau pengakuan pendapatan. Teknik berbasis aktivitas dilakukan melalui keputusan operasional seperti percepatan penjualan, efisiensi biaya, atau perubahan strategi produksi agar laba tampak meningkat. Video menekankan bahwa teknik ini dapat memengaruhi kualitas informasi keuangan. Walaupun tidak selalu melanggar aturan, praktik ini dapat menurunkan keandalan laporan jika digunakan secara berlebihan.

Dari uraian tersebut, kedua sumber menegaskan pentingnya pengawasan dan transparansi dalam praktik pengelolaan laba. Pengelolaan laba dapat berfungsi sebagai komunikasi manajemen kepada pasar. Namun, jika dilakukan untuk tujuan pribadi, praktik ini dapat merugikan pengguna laporan keuangan.

Menurut saya, pengelolaan laba berada pada area abu-abu. Teknik ini dapat memberikan manfaat jika digunakan secara hati-hati dan tetap mengikuti prinsip akuntansi. Namun, perusahaan perlu meningkatkan pengawasan internal agar praktik ini tidak berubah menjadi manipulasi yang merusak kepercayaan publik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2513031093

Artikel Earnings Management: A Literature Review mengkaji praktik manajemen laba dengan menelusuri 50 artikel internasional yang membahas dua sudut pandang utama, yakni oportunistik dan signaling. Dalam perspektif oportunistik, manajer dipandang memanfaatkan ketimpangan informasi untuk memenuhi tujuan pribadi, seperti mengejar bonus, menjaga kepatuhan terhadap perjanjian utang, atau menghindari tekanan regulasi. Sebaliknya, perspektif signaling menilai bahwa praktik ini dapat menjadi sarana penyampaian pesan mengenai prospek perusahaan yang tidak tercermin penuh dalam laporan keuangan. Dari hasil peninjauan, sekitar 74% penelitian bersifat kuantitatif, dan sebagian besar menggunakan pengukuran berbasis akrual, walaupun manipulasi aktivitas riil semakin sering dipilih karena lebih sulit terdeteksi. Selain itu, hampir 75% penelitian menempatkan earnings management sebagai tindakan manipulatif sehingga dipandang merugikan pengguna laporan. Meskipun demikian, artikel ini menegaskan bahwa dalam situasi tertentu, diskresi manajemen justru dapat meningkatkan kemampuan laporan keuangan dalam menyampaikan informasi yang relevan.

Menurut saya, artikel ini memberikan gambaran yang menyeluruh sekaligus kritis tentang bagaimana manajemen laba tidak semata-mata merupakan praktik yang merugikan, melainkan juga dapat berfungsi sebagai alat komunikasi manajerial. Dominasi penelitian yang berfokus pada sisi oportunistik menunjukkan kekhawatiran atas kemungkinan distorsi informasi yang memengaruhi keputusan ekonomi. Namun, sudut pandang signaling menawarkan pemahaman lain bahwa fleksibilitas akuntansi kadang diperlukan untuk menyampaikan informasi strategis yang tidak terakomodasi oleh aturan baku. Tantangan terbesar ke depan adalah menentukan batas yang jelas antara tindakan manajemen laba yang dapat diterima dan yang menyesatkan. Karena itu, penelitian lanjutan perlu memperdalam pemahaman mengenai motif di balik manajemen laba serta mengembangkan teknik deteksi yang lebih efektif, terutama untuk praktik manipulasi aktivitas nyata yang berdampak pada kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Dengan demikian, diskursus mengenai manajemen laba dapat bergerak menuju pemahaman yang lebih seimbang dan kontekstual.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Manajemen laba (earnings management) adalah praktik penentuan waktu transaksi oleh perusahaan, seperti penjualan aset, dengan tujuan utama untuk memanipulasi atau "memijat" angka laba yang dilaporkan, bukan berdasarkan alasan ekonomi yang murni. Praktik ini harus dibedakan dari kecurangan (fraud) karena manajemen laba sendiri belum tentu ilegal. Manajemen laba dapat dilakukan secara naik (upward) untuk meningkatkan laba, atau secara turun (downward) untuk menyimpan laba ekstra di masa baik sebagai "cadangan toples kue" (cookie jar reserves) yang akan digunakan pada periode yang buruk demi menciptakan ilusi kinerja yang stabil. Sebagai contoh, jika laba sebuah perusahaan tiba-tiba anjlok di tahun tertentu, perusahaan dapat menjual aset yang telah mengalami apresiasi (misalnya, tanah) untuk merealisasi keuntungan yang belum dicatat. Keuntungan yang direalisasi ini ditambahkan ke laba operasional, sehingga angka laba yang dilaporkan terlihat kembali naik dan sesuai dengan ekspektasi atau tren sebelumnya, meskipun penjualan aset tersebut semata-mata didorong oleh keinginan untuk mengelola angka laba. Meskipun demikian, praktik manajemen laba yang terlalu agresif dapat mendorong beberapa pihak untuk melangkah lebih jauh hingga akhirnya melakukan tindakan yang tergolong fraud.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Melinda Dwi Safitri -

Nama: Melinda Dwi Safitri

Npm: 2413031092

Kelas: 2024 C

Setelah membaca jurnal tentang manajemen laba ini dan menonton penjelasan terkait dalam video pembelajaran, saya melihat bahwa inti pembahasannya menyoroti bagaimana manajer menggunakan fleksibilitas akuntansi untuk memengaruhi laporan laba. Praktik ini muncul karena adanya ketidakseimbangan informasi antara pihak internal dan eksternal. Jurnal tersebut menegaskan bahwa meskipun tindakan ini tidak selalu melanggar standar akuntansi, konsekuensinya besar karena dapat menggeser persepsi investor dan pengguna laporan keuangan.

Jurnal ini memaparkan dua sudut pandang utama. Perspektif oportunistik menggambarkan manajemen laba sebagai tindakan yang didorong kepentingan pribadi, seperti mengejar bonus atau menghindari pelanggaran perjanjian utang. Sementara itu, perspektif pemberian sinyal menawarkan pandangan lebih positif, bahwa manajemen laba kadang digunakan untuk menyampaikan informasi internal mengenai prospek masa depan yang tidak mudah ditangkap oleh pasar. Dari 50 artikel yang diulas, saya melihat—sejalan dengan video yang saya tonton—bahwa penelitian lebih banyak menekankan sisi oportunistik dan cenderung mengabaikan potensi manajemen laba sebagai alat komunikasi informasi.

Menurut refleksi saya, jurnal ini memberikan gambaran yang kaya, tetapi ketimpangan fokus penelitian membuat perspektif pemberian sinyal kurang dieksplorasi. Padahal, berdasarkan contoh yang dibahas dalam video, tidak semua tindakan manajemen laba otomatis bersifat manipulatif; konteks dan niat manajer juga menentukan bagaimana praktik tersebut harus dipahami. Karena itu, saya menilai penting adanya penelitian lanjutan yang menempatkan kedua perspektif ini secara lebih seimbang.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Rizky Abelia Putri -
Nama: Rizky Abelia Putri
Npm: 2413031098

setelah saya menonton vidio dan membaca artikel di atas, kedua nya sama-sama membahas tentang pengelolaan laba (earnings management) yaitu; adalah tindakan manajemen dalam mengatur laporan keuangan agar menampilkan hasil sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Laba menjadi fokus penting karena digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dan memengaruhi keputusan para investor, kreditor, serta pihak luar lainnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C



Video tersebut menggambarkan bagaimana praktik earnings management (manajemen laba) menjadi isu penting dalam dunia akuntansi modern. Melalui contoh nyata dan penjelasan visual, video menekankan bahwa perusahaan sering melakukan pengaturan laba untuk memenuhi target tertentu, menjaga stabilitas kinerja, atau memberikan sinyal tertentu kepada pasar. Walaupun tidak selalu melanggar standar akuntansi, praktik ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi investor atau pihak lain yang mengandalkan laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Selaras dengan video, artikel Debbianita et al. (2024) menjelaskan bahwa manajemen laba merupakan intervensi sengaja dalam proses pelaporan keuangan yang dapat dilakukan melalui dua pendekatan: accrual earnings management dan real earnings management. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari 50 artikel yang direview, sebagian besar penelitian masih memandang manajemen laba sebagai tindakan yang bersifat opportunistic, yaitu upaya manajer memaksimalkan kepentingan pribadi, seperti memperoleh bonus atau menghindari pelanggaran perjanjian utang. Namun, artikel juga menekankan adanya sudut pandang lain, yaitu signaling perspective, yang melihat manajemen laba sebagai cara untuk menyampaikan informasi tentang prospek perusahaan secara lebih halus dan efisien kepada investor.

Menurut opini saya, manajemen laba tidak selalu harus dipandang negatif, tetapi risikonya tetap besar. Jika dilakukan secara berlebihan, tindakan ini dapat merusak kredibilitas laporan keuangan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap profesi akuntan. Namun dalam batas tertentu, saya setuju bahwa penyesuaian manajerial dapat membantu menyampaikan sinyal ekonomi yang tidak tertangkap oleh angka akuntansi biasa. Tantangannya adalah memastikan adanya batasan etis dan mekanisme pengawasan yang kuat agar praktik ini tidak berubah menjadi manipulasi yang merugikan pengguna laporan keuangan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Video dan artikel membahas earnings management sebagai praktik manajemen dalam memengaruhi laba melalui pilihan kebijakan akuntansi yang masih berada dalam standar. Dalam video dijelaskan bahwa earnings management sering dilakukan dengan memanfaatkan fleksibilitas akuntansi, misalnya mengatur waktu pengakuan pendapatan atau menjual aset untuk menjaga stabilitas laba. Praktik ini tidak selalu melanggar aturan, tetapi berpotensi memengaruhi persepsi pengguna laporan keuangan.

Artikel Earnings Management: A Literature Review menjelaskan dua sudut pandang utama. Perspektif oportunistik melihat earnings management sebagai tindakan manajemen yang didorong oleh kepentingan pribadi, seperti bonus, kontrak utang, dan tekanan politik, sehingga berpotensi menyesatkan investor. Sementara itu, perspektif signaling memandang earnings management sebagai alat komunikasi manajemen untuk menyampaikan informasi tentang prospek perusahaan di tengah ketidakjelasan informasi. Artikel ini juga menyoroti bahwa manipulasi tidak hanya terjadi melalui pengakuan pendapatan, tetapi juga melalui aktivitas operasional yang lebih sulit dideteksi dan berdampak langsung pada kinerja ekonomi perusahaan.

Opini saya, earnings management tidak selalu identik dengan kecurangan, tetapi praktik ini tetap perlu dibatasi secara etis. Jika dilakukan secara wajar dan transparan, earnings management dapat membantu menyampaikan kondisi perusahaan yang lebih stabil. Namun, jika dilakukan secara agresif, praktik ini justru merusak keandalan laporan keuangan dan kepercayaan publik. Oleh karena itu, peran tata kelola perusahaan, auditor, dan pengawasan regulasi menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara fleksibilitas akuntansi dan kualitas informasi keuangan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Esa Azalia Zahra -
Nama : Esa Azalia Zahra
NPM : 2413031084
Kelas : 2024 C

Setelah menonton video dan membaca artikel tersebut, saya menyimpulkan bahwa Manajemen Laba adalah tindakan sah yang secara sengaja dilakukan oleh pengelola perusahaan, yang memanfaatkan kelonggaran dalam standar akuntansi (seperti waktu transaksi atau pemilihan kebijakan akuntansi) untuk memengaruhi atau memanipulasi angka laba yang dilaporkan guna mencapai angka yang diinginkan, alih-alih angka laba yang secara murni mencerminkan kinerja operasional alami. Para manajer memiliki keuntungan dalam informasi yang memungkinkan mereka melakukan praktik ini, yang dapat berupa peningkatan laba (misalnya, dengan mempercepat penjualan aset) atau pengurangan laba (misalnya, dengan menyisihkan cadangan), sering kali untuk melaporkan laba yang sesuai dengan harapan pasar dan menciptakan tren pertumbuhan laba yang konsisten dari waktu ke waktu. Tinjauan terhadap literatur yang menganalisis 50 artikel internasional menyoroti dua sudut pandang utama: perspektif oportunistik (di mana manajer berusaha memaksimalkan keuntungan pribadi dan berpotensi menyesatkan pemangku kepentingan) dan perspektif sinyal (manajer menyampaikan informasi mengenai prospek perusahaan kepada investor eksternal untuk memengaruhi nilai saham). Meskipun sebagian besar penelitian (sekitar 75%) mengambil pandangan oportunistik dan lebih banyak menggunakan pengukuran berbasis akrual (74% dari studi kuantitatif menggunakan berbasis akrual), hasil penelitian juga menunjukkan bahwa, dalam batas tertentu, praktik manajemen laba dapat meningkatkan nilai informasi yang ada dalam laba dan membantu dalam pengambilan keputusan, meskipun praktik yang terlalu agresif bisa berujung pada praktik penipuan yang melanggar hukum.

Kedua literatur tersebut memberikan wawasan yang jelas serta saling melengkapi mengenai konsep Manajemen Laba. Literatur pertama menyajikan definisi yang jelas (tindakan sah yang memengaruhi laba melalui waktu transaksi) dan memberikan contoh konkret. Literatur kedua memperjelas definisi ini dengan menekankan intervensi yang disengaja melalui variasi dalam praktik akuntansi disebabkan oleh asimetri informasi. Ini membentuk dasar pemahaman yang kuat bahwa Manajemen Laba berakar pada kelonggaran dalam standar dan kekuasaan manajer. Secara keseluruhan, penggabungan kedua literatur ini memberikan pandangan yang holistik, baik dari segi definisi, mekanisme, motivasi (teori oportunistik versus sinyal), serta kritik metodologis (dominasi berbasis akrual).
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Aura Liyanti -
Nama : Aura Liyanti Fani
NPM : 2413031089

Setelah membaca jurnal "Earnings Management: A Literature Review” dan menonton video dapat saya simpulkan bahwa baik jurnal maupun video sama-sama menjelaskan bahwa manajemen laba adalah praktik yang muncul karena fleksibilitas standar akuntansi dan ketidakseimbangan informasi antara manajemen dan pengguna laporan keuangan. Manajemen memiliki lebih banyak informasi tentang kondisi internal perusahaan sehingga memungkinkan mereka untuk mengelola laba yang dilaporkan tanpa melanggar standar akuntansi.
Jurnal tersebut menjelaskan bahwa ada dua perspektif utama tentang manajemen laba yaitu perspektif oportunistik dan perspektif signaling. Perspektif oportunistik memandang manajemen laba sebagai tindakan yang diarahkan pada kepentingan pribadi manajer, seperti mendapatkan bonus, memenuhi kontrak utang, atau menghindari tekanan politik. Perspektif ini mendominasi sebagian besar penelitian dan menganggap manajemen laba sebagai praktik yang dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Sementara perspektif sinyal memandang manajemen laba sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan informasi tentang prospek Perusahaan misalnya, dengan melaporkan laba yang lebih stabil sehingga investor dapat membuat keputusan yang lebih baik.
Penjelasan dalam video tersebut memperkuat isi majalah dengan menekankan bahwa manajemen laba tidak selalu identik dengan kecurangan, melainkan berada di area abu-abu antara praktik akuntansi yang wajar dan manipulasi laporan keuangan. Video tersebut juga menyoroti peran penting etika, auditor, dan standar akuntansi dalam membatasi praktik ini dan mencegah kerugian bagi pihak ketiga.
Menurut pendapat saya, kombinasi perspektif majalah dan video tersebut menunjukkan bahwa manajemen laba adalah fenomena kompleks yang tidak dapat dinilai secara langsung. Meskipun secara teori dapat berfungsi sebagai sinyal namun dalam praktiknya potensi penyalahgunaan tetap tinggi. Oleh karena itu, praktik manajemen laba harus diatur oleh etika profesional untuk memastikan bahwa laporan keuangan tetap mencerminkan situasi perusahaan secara akurat dan dapat diandalkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Dwi Nurshovi Diana Sari -
Nama : Dwi Nurshovi Diana Sari
NPM : 2413031072
Artikel ini menyediakan analisis mendalam mengenai praktik manajemen laba yang dilihat sebagai tindakan manajer dalam memanfaatkan kebebasan dalam pelaporan keuangan untuk memanipulasi angka laba demi tujuan tertentu. Praktik ini berakar dari Teori Keagenan, di mana ketidakseimbangan informasi memungkinkan manajer bertindak untuk kepentingan pribadi, seperti mengejar bonus, memenuhi prediksi laba yang dibuat analis, atau menghindari pelanggaran perjanjian utang. Penulis membedakan dua pendekatan utama yang sering diterapkan, yaitu manajemen laba berbasis akrual yang menggunakan fleksibilitas dari standar akuntansi dan manajemen laba aktivitas riil yang meliputi manipulasi keputusan operasional seperti pengurangan anggaran riset atau pemasaran. Artikel ini menyoroti bahwa meskipun umumnya dianggap sebagai tindakan oportunistik yang merusak integritas laporan keuangan, dalam beberapa situasi, manajemen laba juga dapat dimanfaatkan dengan cara yang informatif untuk memberikan sinyal tentang prospek masa depan perusahaan yang tidak tercakup oleh standar akuntansi yang kaku. Efektivitas tata kelola perusahaan, pengawasan oleh dewan komisaris, dan kualitas audit eksternal diakui sebagai faktor-faktor utama yang dapat mengurangi perilaku manipulatif ini demi melindungi kepentingan pemangku kepentingan.

Pendapat saya mengenai fenomena ini adalah bahwa manajemen laba merupakan tantangan yang terus ada bagi mutu laporan keuangan karena berada di ambang batas antara kebijakan akuntansi yang sah dan kecurangan yang terstruktur. Perubahan para manajer dari metode akrual ke manajemen laba riil menunjukkan bahwa peraturan yang ketat pada standar akuntansi saja tidak cukup, sebab para manajer akan selalu mencari celah melalui keputusan operasional yang lebih sulit untuk dicermati oleh auditor. Ini menunjukkan bahwa transparansi melalui pengungkapan yang jujur dan etik manajerial menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar kepatuhan teknis.
Dalam pandangan saya, investor perlu lebih cermat dalam menganalisis arus kas dari operasi dibandingkan hanya melihat laba bersih, karena arus kas jauh lebih sulit untuk dimanipulasi dibandingkan angka akrual. Penggunaan teknologi analisis data yang dapat mendeteksi pola tidak biasa dalam keputusan bisnis menjadi sangat relevan di masa depan untuk memastikan bahwa laba yang dilaporkan benar-benar mencerminkan keadaan ekonomi perusahaan yang sesungguhnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh vie amanillah -
Nama: Vie Amanillah
NPM: 2413031097
KELAS: 2024C

Artikel ini adalah tinjauan tentang cara mengelola laba yang diterbitkan di Indonesian Journal of Accounting and Governance. Penelitian ini membahas beragam cara untuk mengelola laba seperti akrual yang bisa diatur dan penipuan aktivitas nyata, serta dua sudut pandang utama: yang menguntungkan diri sendiri dan yang berfungsi untuk memberi informasi kepada investor. Ada 50 penelitian internasional yang diteliti, kebanyakan berformat kuantitatif dan fokus pada akrual yang berdasarkan laba. Hasilnya menunjukkan bahwa pengelolaan laba biasanya dilakukan dengan cara yang menguntungkan diri sendiri dan cenderung menipu, meskipun ada juga yang menganggapnya sebagai cara komunikasi yang bermanfaat. Penelitian ini menekankan pentingnya melakukan studi yang lebih mendalam tentang alasan dan akibatnya.

Sedangkan Video ini menunjukkan bahwa manajemen laba tidak selalu berarti melakukan hal yang ilegal atau menipu. Ini lebih kepada bagaimana perusahaan bisa menggunakan kelonggaran dalam aturan akuntansi untuk mencapai tujuan tertentu tanpa melanggar hukum secara langsung.
Dua Jenis Manajemen Laba:
- Naik: Meningkatkan laba agar terlihat lebih menguntungkan bagi para investor.
- Turun: Menurunkan laba dengan sengaja ketika perusahaan sedang mendapatkan hasil yang sangat baik. Keuntungan ekstra ini disimpan untuk dipakai di kemudian hari saat kinerja perusahaan sedang tidak baik.

Contoh Kasus (Penjualan Tanah):

Sebuah perusahaan membeli tanah dengan harga $1.000. Nilai tanah tersebut kemudian naik menjadi $1.700, tetapi karena dicatat berdasarkan harga beli awal, keuntungan sebesar $700 belum dicatat sebagai keuntungan yang bisa dimanfaatkan.
Jika di tahun keempat laba perusahaan turun, mereka bisa menjual tanah itu tepat sebelum akhir tahun agar bisa mendapatkan keuntungan $700 yang sudah ada dan tetap menunjukkan penampilan laba yang baik di laporan keuangannya.
-Risiko dari Manajemen Laba yang Terlalu Agresif: Walaupun tindakan ini legal, tekanan untuk terus mencapai target laba bisa membuat manajemen melakukan hal-hal yang lebih ekstrem yang akhirnya bisa berujung pada penipuan, seperti mencatat penjualan yang tidak ada.

Menurut saya, manajemen laba itu seperti "pedang yang tajam di kedua sisinya". Di satu sisi, seperti yang dinyatakan dalam video, tindakan seperti menjual properti (tanah) untuk menjaga profit terlihat seperti pilihan bisnis yang pintar dan sah. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang artikel (perspektif yang menguntungkan diri sendiri), ini seringkali menjadi awal yang buruk menuju ketidakjujuran. Masalah utamanya bukan pada cara yang digunakan, tetapi pada tujuan di baliknya. Jika tujuannya untuk memberikan sinyal yang baik dalam jangka panjang (perspektif informasi), itu bisa diterima. Namun, jika hanya berfokus pada mendapatkan bonus dalam waktu singkat, itu adalah penipuan halus terhadap para investor.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: ACTIVITY: RESUME

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Video dari Edspira dan artikel "Earnings Management: A Literature Review" oleh Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama membahas konsep earnings management sebagai suatu tindakan manajemen untuk mengatur atau memanipulasi laporan laba perusahaan dengan tujuan tertentu yang biasanya bukan berdasarkan alasan ekonomi sebenarnya. Dalam video, nyata bahwa earnings management tidak selalu ilegal, melainkan lebih pada timing atau pengaturan transaksi agar laba tampak naik, seperti contoh penjualan aset pada waktu tertentu guna merealisasikan keuntungan. Definisi ini senada dengan yang dibahas dalam literatur, di mana earnings management adalah intervensi disengaja dalam pelaporan keuangan melalui pilihan kebijakan akuntansi yang dapat menyesatkan pengguna laporan.

Artikel menjelaskan dua perspektif utama earnings management, yaitu opportunistic dan signaling. Perspektif opportunistic melihat earnings management sebagai tindakan manajemen untuk memaksimalkan keuntungan pribadi, misalnya mendapatkan bonus atau memenuhi kondisi perjanjian hutang, dengan mengorbankan kepentingan pihak lain. Sementara perspektif signaling menganggap earnings management sebagai alat komunikasi informasi manajemen kepada investor mengenai prospek perusahaan, membantu mengurangi ketidakpastian.

Mayoritas penelitian menggunakan pendekatan accrual-based karena fleksibilitas pilihan akuntansi yang ada, meskipun real earnings management juga banyak dijalankan dan sulit dideteksi auditor. Walaupun sering dipandang negatif, earnings management tidak selalu buruk—dalam batas tertentu, ia berfungsi untuk meningkatkan komunikasi perusahaan dengan pasar dan menciptakan ekspektasi laba yang lebih stabil.

Menurut saya, earnings management jika dilakukan secara moderat dan transparan, bisa membantu menyampaikan informasi yang lebih akurat tentang kondisi perusahaan ke pasar. Namun, bila dilakukan secara berlebihan demi menipu atau menutupi kinerja sebenarnya, maka akan merusak kredibilitas laporan keuangan dan berpotensi merugikan investor dan stakeholder. Oleh karena itu, earning management harus diimbangi dengan pengawasan ketat dari regulator dan auditor agar tetap pada koridor etika dan standard akuntansi yang berlaku. Dengan demikian, praktik ini bisa lebih berfungsi sebagai alat komunikasi yang sah dan bukan alat manipulasi semata.