CASE STUDY

CASE STUDY

Jumlah balasan: 2

Kementerian Pendidikan dan berbagai startup edtech meluncurkan aplikasi pembelajaran daring untuk siswa di seluruh Indonesia, termasuk daerah terpencil. Namun, banyak guru dan siswa di daerah seperti pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara mengalami kendala. Bukan hanya soal akses internet, tetapi juga karena aplikasi dirasa tidak relevan dengan konteks budaya dan bahasa lokal. Guru juga kesulitan mengintegrasikan aplikasi ke dalam metode pembelajaran mereka.

 Pertanyaan:

  1. Gunakan pendekatan SCP untuk menganalisis mengapa aplikasi edukasi digital tersebut tidak efektif di daerah terpencil.
  2. Nilai peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas dalam membentuk makna dan penerimaan teknologi pendidikan.
  3. Desain sebuah model aplikasi atau strategi penerapan yang mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Ni Wayan Vara Wulandari -
Nama: Ni Wayan Vara Wulandari
NPM: 2313031017

1. Berdasarkan pendekatan Social Construction of Technology (SCP/SCOT), ketidakefektifan aplikasi edukasi digital di daerah terpencil terjadi karena kegagalan pengembang dalam memahami perspektif Relevant Social Groups (kelompok sosial relevan) seperti guru dan siswa lokal. Pengembang platform bertindak atas asumsi determinisme teknologi, yakni menganggap bahwa aplikasi yang berhasil di perkotaan otomatis akan efektif di mana saja. Akibatnya, timbul interpretative flexibility di mana pengembang memaknai aplikasi sebagai solusi pemerataan pendidikan modern, sementara masyarakat di daerah terpencil memandangnya sebagai beban baru yang asing dan tidak praktis. Kegagalan fungsi teknologi ini dipicu oleh absennya proses co-construction, di mana aplikasi dirancang secara terpusat (Java-centric) tanpa melibatkan realitas pedagogis, literasi digital, serta keterbatasan infrastruktur yang dihadapi komunitas pedalaman.
2. Faktor sosial, budaya, dan lokalitas memainkan peran kunci sebagai penentu utama apakah suatu teknologi pendidikan akan diadaptasi atau ditolak oleh masyarakat. Penggunaan Bahasa Indonesia formal yang kaku serta penyampaian materi dengan contoh situasi perkotaan menciptakan jarak kognitif (cognitive distance) yang menyulitkan siswa terpencil untuk menyerap informasi. Selain itu, aplikasi edukasi yang umumnya berfokus pada model pembelajaran mandiri secara individual (self-paced learning) kerap bertentangan dengan struktur sosial pedesaan yang bersifat komunal dan berbasis budaya lisan. Posisi guru lokal sebagai figur otoritas moral dan budaya juga sering terabaikan oleh aplikasi yang bersifat top-down, sehingga menimbulkan kecenderungan resistensi dari para pendidik karena aplikasi tersebut tidak selaras dengan metode dan nilai pengajaran tradisional mereka.
3. Untuk meningkatkan efektivitas edtech, diperlukan pengembangan model Lokal-EdTech Framework yang mengedepankan prinsip participatory design dan pendekatan offline-first. Aplikasi harus dirancang agar dapat mengunduh materi saat terhubung ke jaringan di pusat kecamatan, sehingga seluruh fitur dan konten berbasis video atau modul interaktif dapat diakses secara luring (offline) di desa. Konten materi disusun melalui skema co-creation yang melibatkan guru dan tokoh adat setempat untuk mengintegrasikan konteks lingkungan, cerita lokal, serta pilihan pengantar bahasa daerah. Strategi penerapannya ditekankan pada pemosisian aplikasi sebagai alat bantu mengajar (teaching assistant) bagi guru bukan pengganti peran guru serta mengarahkan proses belajar menjadi aktivitas kelompok berbasis proyek komunal (project-based learning), sehingga teknologi dapat menyatu harmonis dengan nilai-nilai lokalitas setempat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Annisa Luthfiyyah -
Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010

1. Berikut adalah analisis SCP:
a. Struktur: terjadi kesenjangan infrastruktur listrik, sinyal internet untuk daerah pedalaman seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, serta alasan tidak efektifnya aplikasi ini karena siswa siswi di daerah terpencil tidak memiliki literasi digital yang sama dengan siswa siswi di perkotaan.
b. Perilaku (Conduct): akibat ketimpangan struktur membuat para pengembang merancang aplikasi dengan bahasa yang baku dan mengikuti pembelajaran di perkotaan yang paham digital. Di sisi lain, dorongan dari pemerintah secara mendesak meminta guru untuk mengajarkan pembelajaran tersebut ke siswa tanpa memberikan pembekalan sebelumnya, membuat guru dan siswa merasa terasingkan sehingga mengabaikan platform tersebut.
c. Kinerja (Perfrmance): kinerja yang dihasilkan sangat rendah, karena tidak optimalnya penggunaan aplikasi dalam pembelajaran.
2. Teknologi tidak dapat dipisahkan dari penggunanya yaitu masyarakat, maka terdapat tiga faktor yang memengaruhi penerimaan aplikasi edukasi: Pertama adalah hambatan bahasa, banyak sisa daerah yang belum terbiasa dengan bahasa Indonesia formal terutama dalam aplikasi digital. Kedua, relevansi materi dengan pembelajaran, dimana siswa pedalam belajar materi menggunakan contoh disekitar yang berbeda jauh dengan contoh kehidupan kota yang ada di aplikasi. Ketiga, peran utama guru yang dijunung tinggi sebagai pengajar bukan aplikasi yang dirancang untuk pembelajaran mandiri tanpa peran aktif dari guru.
3. Untuk mengatasi masalah tersebut, berikut adalah rancangan strategis untuk penerapan dalam aplikasi: pertama aplikasi dapat diakses tanpa internet, kedua contoh kasus ataupun ilustrasi menggunakan perumpamaan dasar agar dapat dimengerti oleh semua kalangan, ketiga kolaborasi antara guru di perkotaan dengan di pedesaan dalam penyusunan materi, dan terakhir pembelajaran secara berkelompok untuk mengatasi keterbatasan perangkat sekaligus menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.