Brainstorming

Brainstorming

Number of replies: 2

Mari kita simak video berikut.

Link Youtube:







Berikan pendapat anda mengapa penting tes transaksi dipahami oleh seorang auditor? Kemudian identifikasilah aspek apa saja yang harus diperhatikan terkait dengan tes transaksi dalam sebuah pemeriksaan keuangan!

In reply to First post

Re: Brainstorming

Adea Aprilia གིས-
Nama : Adea Aprilia
NPM   : 2313031034

Tes transaksi merupakan salah satu elemen krusial dalam proses audit karena bertujuan untuk menilai apakah transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu entitas telah dicatat dengan benar, lengkap, dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Bagi seorang auditor, memahami tes transaksi sangat penting karena menjadi dasar dalam mengevaluasi sistem pengendalian internal dan mendeteksi kemungkinan adanya salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan (fraud). Tes ini memungkinkan auditor untuk menelusuri jalur audit dari dokumen sumber seperti faktur, bukti kas keluar/masuk, hingga ke entri dalam laporan keuangan. Dengan kata lain, tes transaksi adalah bentuk konkret dari pengujian apakah suatu sistem akuntansi bekerja secara efektif dan andal dalam mencerminkan kegiatan ekonomi perusahaan.

Dalam melakukan tes transaksi, terdapat beberapa aspek penting yang harus diperhatikan oleh auditor. Pertama, keberadaan dokumen pendukung yang lengkap dan sah, seperti faktur, nota pembelian, surat jalan, dan bukti pembayaran. Kedua, ketepatan pencatatan terhadap waktu dan jumlah transaksi, sehingga tidak terjadi pengakuan pendapatan atau biaya yang salah periode (cut-off error). Ketiga, otorisasi transaksi, yaitu memastikan setiap transaksi disetujui oleh pihak yang berwenang sesuai dengan prosedur internal perusahaan. Keempat, konsistensi dengan kebijakan akuntansi, yakni transaksi harus dicatat sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum (misalnya PSAK atau IFRS). Terakhir, auditor juga perlu memperhatikan frekuensi dan signifikansi transaksi, karena transaksi yang bersifat besar dan tidak rutin memiliki potensi risiko audit yang lebih tinggi dan memerlukan pengujian yang lebih mendalam.

Dengan memahami tes transaksi, auditor tidak hanya mampu memberikan opini yang andal terhadap kewajaran laporan keuangan, tetapi juga membantu entitas dalam memperkuat pengendalian internal dan mencegah potensi kerugian akibat kesalahan atau penyalahgunaan transaksi. Tes ini merupakan pondasi dalam membangun integritas dan transparansi dalam praktik audit yang profesional.
In reply to First post

Re: Brainstorming

Adella Putri Rizkia གིས-
Nama: Adella Putri Rizkia
NPM : 2313031044

Tes transaksi itu penting dipahami oleh seorang auditor karena di situlah “akar” dari laporan keuangan. Laporan keuangan kan sebenarnya kumpulan dari ribuan transaksi yang terjadi setiap hari. Jika transaksi dasarnya salah, tidak lengkap, atau bahkan fiktif, otomatis laporan keuangannya juga jadi tidak bisa dipercaya. Dengan memahami tes transaksi, auditor bisa menilai apakah sistem pencatatan perusahaan berjalan dengan baik dan apakah pengendalian internalnya benar-benar diterapkan, bukan cuma tertulis di prosedur saja.
Dalam melakukan tes transaksi, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan keuangan, yaitu:
1.Keberadaan (existence/occurrence)
Auditor harus memastikan bahwa transaksi yang dicatat benar-benar terjadi dan bukan transaksi fiktif.

2.Kelengkapan (completeness)
Semua transaksi yang seharusnya dicatat sudah masuk ke pembukuan, tidak ada yang sengaja atau tidak sengaja dihilangkan.

3.Ketepatan jumlah (accuracy)
Nilai transaksi sudah dihitung dan dicatat dengan benar, tidak ada salah hitung atau salah input.

4.Otorisasi (authorization)
Transaksi telah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang sesuai prosedur perusahaan.

5.Klasifikasi (classification)
Transaksi dicatat pada akun yang tepat sesuai standar akuntansi.
Periode pencatatan (cut-off)
Transaksi dicatat pada periode yang benar, tidak dimajukan atau dimundurkan untuk memanipulasi laporan.

6.Bukti pendukung (supporting documents)
Harus ada dokumen yang sah seperti faktur, kuitansi, kontrak, atau bukti transfer sebagai dasar pencatatan.