1. Deskripsikan desain pembelajaran J. KEMP., (kekurangan dan kelebihanya)
2. Model pembelajaran apa yang sesuai bila desain pembelajaran menggunakan J. Kemp? jelaskan alasanya.
3. dikumpul maksimal jam 12.00 wib
Tugas Individu
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001
Desain pembelajaran J. Kemp merupakan salah satu model desain instruksional yang dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp pada tahun 1977. Model ini menekankan bahwa proses perencanaan pembelajaran bersifat sistematis namun fleksibel, di mana guru atau perancang pembelajaran tidak harus mengikuti urutan langkah yang kaku. Kemp memandang pembelajaran sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan dapat dimulai dari bagian mana pun sesuai kebutuhan guru dan karakteristik siswa. Oleh karena itu, desain ini sering digambarkan dalam bentuk lingkaran atau spiral, yang menunjukkan bahwa seluruh komponen bersifat terintegrasi dan berkesinambungan. Model pembelajaran Kemp memiliki sembilan komponen utama, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, tujuan, dan kebutuhan belajar siswa, (2) menganalisis karakteristik peserta didik, (3) menentukan tujuan umum pembelajaran, (4) merumuskan tujuan khusus atau indikator hasil belajar, (5) menentukan isi atau materi pembelajaran, (6) merancang strategi dan kegiatan belajar mengajar, (7) memilih media dan sumber belajar, (8) merancang penilaian formatif maupun sumatif, dan (9) menyiapkan layanan pendukung serta fasilitas yang diperlukan. Setiap komponen tersebut dapat diatur secara fleksibel sesuai konteks pembelajaran yang dihadapi.
Kelebihan dari desain pembelajaran J. Kemp terletak pada fleksibilitas dan orientasinya yang berpusat pada peserta didik. Guru tidak terikat pada urutan tertentu, sehingga dapat memulai perencanaan dari aspek yang paling mendesak, misalnya dari analisis kebutuhan siswa atau dari ketersediaan sumber belajar. Selain itu, model Kemp bersifat komprehensif karena mencakup semua unsur penting dalam perencanaan pembelajaran mulai dari analisis hingga evaluasi. Model ini juga adaptif terhadap berbagai konteks, baik pendidikan formal maupun nonformal, serta menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar proses belajar dapat diperbaiki secara terus-menerus.
Namun demikian, model Kemp juga memiliki beberapa kelemahan. Karena melibatkan banyak komponen dan tidak memiliki urutan tetap, model ini terkesan kompleks dan membingungkan bagi guru pemula yang belum terbiasa dengan desain non-linier. Selain itu, penerapan model ini membutuhkan waktu, ketelitian, dan sumber daya yang memadai, sehingga bisa sulit diterapkan di sekolah dengan keterbatasan fasilitas. Di samping itu, karena tidak menekankan urutan pembelajaran secara kaku, guru perlu memiliki kemampuan analisis yang baik agar semua komponen tetap terintegrasi dengan efektif.
Model pembelajaran yang paling sesuai diterapkan dengan desain Kemp adalah Problem-Based Learning (PBL) atau Project-Based Learning (PjBL). Kedua model ini memiliki kesamaan prinsip dengan desain Kemp, yaitu berpusat pada peserta didik, mendorong keterlibatan aktif, serta menekankan pembelajaran kontekstual dan reflektif. Dalam PBL, siswa diajak memecahkan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka, sedangkan dalam PjBL, siswa mengerjakan proyek yang menuntut penerapan konsep dan kolaborasi. Keduanya sesuai dengan prinsip Kemp yang fleksibel, memungkinkan guru untuk menyesuaikan strategi dan sumber belajar dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, baik PBL maupun PjBL menekankan proses evaluasi berkelanjutan selama kegiatan belajar, yang juga merupakan salah satu karakteristik utama desain Kemp. Dengan demikian, desain pembelajaran J. Kemp menawarkan pendekatan yang menyeluruh, adaptif, dan berpusat pada siswa, namun tetap memerlukan perencanaan yang matang agar semua komponennya dapat berjalan selaras. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah atau proyek dapat menjadi pilihan yang tepat untuk mengaktualisasikan prinsip-prinsip desain Kemp dalam praktik pembelajaran yang nyata, aktif, dan bermakna.
NPM : 2523031001
Desain pembelajaran J. Kemp merupakan salah satu model desain instruksional yang dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp pada tahun 1977. Model ini menekankan bahwa proses perencanaan pembelajaran bersifat sistematis namun fleksibel, di mana guru atau perancang pembelajaran tidak harus mengikuti urutan langkah yang kaku. Kemp memandang pembelajaran sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan dapat dimulai dari bagian mana pun sesuai kebutuhan guru dan karakteristik siswa. Oleh karena itu, desain ini sering digambarkan dalam bentuk lingkaran atau spiral, yang menunjukkan bahwa seluruh komponen bersifat terintegrasi dan berkesinambungan. Model pembelajaran Kemp memiliki sembilan komponen utama, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, tujuan, dan kebutuhan belajar siswa, (2) menganalisis karakteristik peserta didik, (3) menentukan tujuan umum pembelajaran, (4) merumuskan tujuan khusus atau indikator hasil belajar, (5) menentukan isi atau materi pembelajaran, (6) merancang strategi dan kegiatan belajar mengajar, (7) memilih media dan sumber belajar, (8) merancang penilaian formatif maupun sumatif, dan (9) menyiapkan layanan pendukung serta fasilitas yang diperlukan. Setiap komponen tersebut dapat diatur secara fleksibel sesuai konteks pembelajaran yang dihadapi.
Kelebihan dari desain pembelajaran J. Kemp terletak pada fleksibilitas dan orientasinya yang berpusat pada peserta didik. Guru tidak terikat pada urutan tertentu, sehingga dapat memulai perencanaan dari aspek yang paling mendesak, misalnya dari analisis kebutuhan siswa atau dari ketersediaan sumber belajar. Selain itu, model Kemp bersifat komprehensif karena mencakup semua unsur penting dalam perencanaan pembelajaran mulai dari analisis hingga evaluasi. Model ini juga adaptif terhadap berbagai konteks, baik pendidikan formal maupun nonformal, serta menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar proses belajar dapat diperbaiki secara terus-menerus.
Namun demikian, model Kemp juga memiliki beberapa kelemahan. Karena melibatkan banyak komponen dan tidak memiliki urutan tetap, model ini terkesan kompleks dan membingungkan bagi guru pemula yang belum terbiasa dengan desain non-linier. Selain itu, penerapan model ini membutuhkan waktu, ketelitian, dan sumber daya yang memadai, sehingga bisa sulit diterapkan di sekolah dengan keterbatasan fasilitas. Di samping itu, karena tidak menekankan urutan pembelajaran secara kaku, guru perlu memiliki kemampuan analisis yang baik agar semua komponen tetap terintegrasi dengan efektif.
Model pembelajaran yang paling sesuai diterapkan dengan desain Kemp adalah Problem-Based Learning (PBL) atau Project-Based Learning (PjBL). Kedua model ini memiliki kesamaan prinsip dengan desain Kemp, yaitu berpusat pada peserta didik, mendorong keterlibatan aktif, serta menekankan pembelajaran kontekstual dan reflektif. Dalam PBL, siswa diajak memecahkan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka, sedangkan dalam PjBL, siswa mengerjakan proyek yang menuntut penerapan konsep dan kolaborasi. Keduanya sesuai dengan prinsip Kemp yang fleksibel, memungkinkan guru untuk menyesuaikan strategi dan sumber belajar dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, baik PBL maupun PjBL menekankan proses evaluasi berkelanjutan selama kegiatan belajar, yang juga merupakan salah satu karakteristik utama desain Kemp. Dengan demikian, desain pembelajaran J. Kemp menawarkan pendekatan yang menyeluruh, adaptif, dan berpusat pada siswa, namun tetap memerlukan perencanaan yang matang agar semua komponennya dapat berjalan selaras. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah atau proyek dapat menjadi pilihan yang tepat untuk mengaktualisasikan prinsip-prinsip desain Kemp dalam praktik pembelajaran yang nyata, aktif, dan bermakna.
NAMA : DIAH RACHMAWATI SYUKRI
NPM : 2523031003
NPM : 2523031003
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008
1. Desain pembelajaran J. Kemp adalah model perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh Jerold E. Kemp dari California State University di San Jose. Model ini menggunakan pendekatan sistemik dan berorientasi pada karakteristik siswa serta perencanaan langkah demi langkah yang saling berhubungan secara logis. Model Kemp memiliki delapan elemen utama yang dimulai dari menentukan tujuan pembelajaran secara umum, menganalisis karakteristik siswa, menentukan tujuan instruksional secara spesifik, memilih materi/bahan ajar, melakukan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa, memilih strategi pembelajaran beserta media dan sumber belajar, menentukan sarana dan prasarana, serta melakukan evaluasi hasil belajar dan efektifitas metode pembelajaran. Model ini berbentuk siklus yang menekankan proses revisi di setiap tahap untuk memastikan perbaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya, sehingga menjamin program pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
Kelebihan desain pembelajaran J. Kemp antara lain menempatkan siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan latar belakang pendidikan dan sosial budaya mereka, sehingga tujuan pembelajaran dapat lebih tepat sasaran. Model ini juga sangat fleksibel karena bukan hanya berurutan linier tapi berbentuk siklus yang memungkinkan revisi pada setiap langkah. Selain itu, model ini menyediakan panduan lengkap bagi guru dalam menetapkan tujuan, materi, strategi, serta evaluasi, sehingga mendukung ketercapaian hasil belajar yang optimal dalam berbagai jenjang pendidikan. Namun, model Kemp memiliki kekurangan yang cukup signifikan, yaitu cenderung berorientasi pada pembelajaran klasikal dengan peran guru yang sangat dominan. Hal ini menuntut guru untuk menguasai berbagai aspek seperti perancangan program, evaluasi, dan strategi pembelajaran secara menyeluruh, sehingga dapat menjadi beban jika guru kurang kompeten atau kurang didukung fasilitas. Pendekatan ini kurang responsif terhadap pembelajaran yang lebih aktif dan kemandirian siswa secara penuh, serta relatif kaku dalam hal adaptasi cepat saat kondisi pembelajaran berubah secara dinamis.
2. Model pembelajaran yang sesuai bila menggunakan desain pembelajaran J. Kemp adalah model pembelajaran kooperatif, seperti teknik Jigsaw atau pembelajaran kooperatif secara umum. Hal ini karena desain Kemp sangat menekankan pada analisis karakteristik siswa, perencanaan yang komprehensif terhadap tujuan, strategi, materi, dan evaluasi, serta memberikan fleksibilitas dalam penggunaan media dan sumber belajar. Model Kemp juga menyarankan penggunaan metode pembelajaran yang dapat melibatkan interaksi aktif antara guru dan siswa serta pembelajaran mandiri, sehingga model pembelajaran kooperatif sangat tepat karena memadukan kolaborasi antar siswa dengan bimbingan guru secara terstruktur. Alasan lain model kooperatif cocok dengan desain Kemp adalah karena pendekatan Kemp menekankan keseimbangan antara aktivitas belajar mandiri, interaksi, dan bimbingan guru. Teknik seperti Jigsaw yang berbasis pembelajaran kolaboratif sesuai dengan siklus perencanaan dan evaluasi Kemp yang terus berulang untuk memperbaiki proses pembelajaran. Dengan metode kooperatif, guru dapat lebih mudah mengimplementasikan aktivitas belajar yang dirancang dalam model Kemp dan siswa dapat aktif mengkonstruksi pemahaman melalui interaksi sosial, yang mendukung tujuan instruksional yang telah ditetapkan secara spesifik di dalam desain Kemp.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan desain model Kemp dapat diterapkan dengan pendekatan yang sistemik dan terstruktur sesuai dengan langkah-langkah desain Kemp. Pertama, guru merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur berdasarkan analisis kebutuhan dan karakteristik siswa. Selanjutnya, dalam tahap pemilihan strategi dan metode pembelajaran, model kooperatif dipilih karena dapat meningkatkan interaksi, keterlibatan, dan kolaborasi antar siswa, sesuai dengan prinsip desain Kemp yang menekankan aktivitas belajar yang aktif dan berpusat pada siswa.
Contohnya, guru dapat menerapkan teknik kooperatif seperti Jigsaw atau STAD (Student Teams Achievement Divisions) yang mengelompokkan siswa ke dalam tim-tim kecil untuk saling berbagi pengetahuan dan bertanggung jawab pada hasil belajar kelompok. Guru menyiapkan bahan ajar dan media yang mendukung kerja kelompok, serta menggunakan evaluasi formatif untuk mengukur pencapaian individu maupun kelompok, sekaligus merevisi proses pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
NPM: 2523031008
1. Desain pembelajaran J. Kemp adalah model perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh Jerold E. Kemp dari California State University di San Jose. Model ini menggunakan pendekatan sistemik dan berorientasi pada karakteristik siswa serta perencanaan langkah demi langkah yang saling berhubungan secara logis. Model Kemp memiliki delapan elemen utama yang dimulai dari menentukan tujuan pembelajaran secara umum, menganalisis karakteristik siswa, menentukan tujuan instruksional secara spesifik, memilih materi/bahan ajar, melakukan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa, memilih strategi pembelajaran beserta media dan sumber belajar, menentukan sarana dan prasarana, serta melakukan evaluasi hasil belajar dan efektifitas metode pembelajaran. Model ini berbentuk siklus yang menekankan proses revisi di setiap tahap untuk memastikan perbaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya, sehingga menjamin program pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
Kelebihan desain pembelajaran J. Kemp antara lain menempatkan siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan latar belakang pendidikan dan sosial budaya mereka, sehingga tujuan pembelajaran dapat lebih tepat sasaran. Model ini juga sangat fleksibel karena bukan hanya berurutan linier tapi berbentuk siklus yang memungkinkan revisi pada setiap langkah. Selain itu, model ini menyediakan panduan lengkap bagi guru dalam menetapkan tujuan, materi, strategi, serta evaluasi, sehingga mendukung ketercapaian hasil belajar yang optimal dalam berbagai jenjang pendidikan. Namun, model Kemp memiliki kekurangan yang cukup signifikan, yaitu cenderung berorientasi pada pembelajaran klasikal dengan peran guru yang sangat dominan. Hal ini menuntut guru untuk menguasai berbagai aspek seperti perancangan program, evaluasi, dan strategi pembelajaran secara menyeluruh, sehingga dapat menjadi beban jika guru kurang kompeten atau kurang didukung fasilitas. Pendekatan ini kurang responsif terhadap pembelajaran yang lebih aktif dan kemandirian siswa secara penuh, serta relatif kaku dalam hal adaptasi cepat saat kondisi pembelajaran berubah secara dinamis.
2. Model pembelajaran yang sesuai bila menggunakan desain pembelajaran J. Kemp adalah model pembelajaran kooperatif, seperti teknik Jigsaw atau pembelajaran kooperatif secara umum. Hal ini karena desain Kemp sangat menekankan pada analisis karakteristik siswa, perencanaan yang komprehensif terhadap tujuan, strategi, materi, dan evaluasi, serta memberikan fleksibilitas dalam penggunaan media dan sumber belajar. Model Kemp juga menyarankan penggunaan metode pembelajaran yang dapat melibatkan interaksi aktif antara guru dan siswa serta pembelajaran mandiri, sehingga model pembelajaran kooperatif sangat tepat karena memadukan kolaborasi antar siswa dengan bimbingan guru secara terstruktur. Alasan lain model kooperatif cocok dengan desain Kemp adalah karena pendekatan Kemp menekankan keseimbangan antara aktivitas belajar mandiri, interaksi, dan bimbingan guru. Teknik seperti Jigsaw yang berbasis pembelajaran kolaboratif sesuai dengan siklus perencanaan dan evaluasi Kemp yang terus berulang untuk memperbaiki proses pembelajaran. Dengan metode kooperatif, guru dapat lebih mudah mengimplementasikan aktivitas belajar yang dirancang dalam model Kemp dan siswa dapat aktif mengkonstruksi pemahaman melalui interaksi sosial, yang mendukung tujuan instruksional yang telah ditetapkan secara spesifik di dalam desain Kemp.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan desain model Kemp dapat diterapkan dengan pendekatan yang sistemik dan terstruktur sesuai dengan langkah-langkah desain Kemp. Pertama, guru merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur berdasarkan analisis kebutuhan dan karakteristik siswa. Selanjutnya, dalam tahap pemilihan strategi dan metode pembelajaran, model kooperatif dipilih karena dapat meningkatkan interaksi, keterlibatan, dan kolaborasi antar siswa, sesuai dengan prinsip desain Kemp yang menekankan aktivitas belajar yang aktif dan berpusat pada siswa.
Contohnya, guru dapat menerapkan teknik kooperatif seperti Jigsaw atau STAD (Student Teams Achievement Divisions) yang mengelompokkan siswa ke dalam tim-tim kecil untuk saling berbagi pengetahuan dan bertanggung jawab pada hasil belajar kelompok. Guru menyiapkan bahan ajar dan media yang mendukung kerja kelompok, serta menggunakan evaluasi formatif untuk mengukur pencapaian individu maupun kelompok, sekaligus merevisi proses pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
NPM: 2523031006
NAMA : MARIA ULFA RARA ARDHIKA
NPM : 2523031009
Desain pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam dunia pendidikan, sebab melalui desain yang tepat proses pembelajaran dapat berlangsung secara sistematis, terarah, dan efektif. Salah satu model desain pembelajaran yang dikenal luas adalah model yang dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp. Model ini memiliki ciri khas yang berbeda dari model desain pembelajaran lainnya karena menempatkan peserta didik sebagai pusat utama dalam proses perancangan pembelajaran.
Menurut Kemp, desain pembelajaran harus disusun secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi proses belajar. Ia memandang bahwa pembelajaran bukanlah rangkaian langkah yang kaku, melainkan sebuah sistem yang bersifat sirkuler dan fleksibel. Artinya, perancang atau guru dapat memulai dari komponen mana saja sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang dihadapi. Pendekatan ini sangat membantu guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi nyata di lapangan, baik dari segi karakteristik siswa, materi, maupun konteks sosial-budaya sekolah.
Dalam model Kemp, terdapat sembilan komponen utama yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan utuh. Komponen tersebut meliputi: (1) identifikasi tujuan pembelajaran umum, (2) analisis karakteristik peserta didik, (3) analisis tugas, (4) perumusan tujuan khusus, (5) pengorganisasian isi dan kegiatan pembelajaran, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) perencanaan evaluasi, (8) pemilihan media dan sumber belajar, serta (9) evaluasi dan revisi program. Kesembilan komponen ini menunjukkan bahwa desain Kemp berupaya menghadirkan pembelajaran yang terpadu, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa.
Kelebihan dari model Kemp terletak pada sifatnya yang komprehensif dan fleksibel. Guru atau desainer pembelajaran dapat menyesuaikan titik awal pengembangan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Misalnya, jika dalam praktiknya ditemukan bahwa siswa memiliki kemampuan awal yang rendah, maka guru dapat memulai dari analisis karakteristik peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran. Selain itu, model ini juga berpusat pada peserta didik (learner-centered), yang berarti setiap perencanaan pembelajaran didasarkan pada kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan prinsip pendidikan yang humanistik.
Di sisi lain, model Kemp juga memiliki kelemahan. Karena mencakup banyak komponen dan bersifat siklikal, penerapannya membutuhkan waktu, tenaga, dan kemampuan analisis yang mendalam. Guru harus benar-benar memahami setiap unsur dalam model ini agar hasil yang diperoleh sesuai harapan. Model Kemp juga dinilai kurang memberikan petunjuk teknis yang rinci, sehingga bagi guru pemula, penerapannya dapat terasa kompleks. Meski demikian, fleksibilitas model ini justru memberikan ruang kebebasan bagi guru untuk berinovasi sesuai dengan konteks pembelajaran.
Apabila desain pembelajaran menggunakan model J. Kemp, maka model pembelajaran yang paling sesuai untuk diterapkan adalah Project-Based Learning (PjBL) atau Problem-Based Learning (PBL). Kedua model tersebut memiliki kesesuaian filosofi dengan prinsip desain Kemp, yakni berpusat pada peserta didik, kontekstual, dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar.
Pada pembelajaran berbasis proyek (PjBL), siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki, merancang, dan menghasilkan karya yang relevan dengan kehidupan nyata. Dalam prosesnya, guru perlu merancang tujuan pembelajaran, menganalisis karakteristik siswa, menentukan strategi, memilih media, dan melakukan evaluasi berkelanjutan—semua tahapan yang sejalan dengan komponen desain Kemp. Sedangkan pada pembelajaran berbasis masalah (PBL), siswa didorong untuk memecahkan persoalan nyata melalui proses berpikir kritis dan reflektif. Desain Kemp yang menyediakan ruang untuk analisis kebutuhan dan evaluasi formatif sangat mendukung pelaksanaan model pembelajaran tersebut.
Sebagai contoh penerapan dalam konteks pembelajaran IPS di SMP, guru dapat menggunakan desain Kemp untuk merancang kegiatan berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam pembuatan peta sosial ekonomi daerah tempat tinggalnya. Guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik peserta didik, menetapkan tujuan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berbasis proyek, serta menyiapkan instrumen evaluasi yang menilai proses dan hasil belajar siswa. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep ekonomi dan sosial secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengamati kondisi masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran J. Kemp menawarkan kerangka yang sistematis namun fleksibel, yang memungkinkan guru untuk menyesuaikan setiap tahap pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan konteks sosialnya. Model ini sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran berbasis proyek maupun berbasis masalah karena keduanya menuntut partisipasi aktif, kolaboratif, dan reflektif dari siswa. Dalam konteks pendidikan IPS, penerapan desain Kemp tidak hanya membantu mencapai tujuan kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap sosial, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik terhadap realitas kehidupan masyarakat.
NPM : 2523031009
Desain pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam dunia pendidikan, sebab melalui desain yang tepat proses pembelajaran dapat berlangsung secara sistematis, terarah, dan efektif. Salah satu model desain pembelajaran yang dikenal luas adalah model yang dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp. Model ini memiliki ciri khas yang berbeda dari model desain pembelajaran lainnya karena menempatkan peserta didik sebagai pusat utama dalam proses perancangan pembelajaran.
Menurut Kemp, desain pembelajaran harus disusun secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi proses belajar. Ia memandang bahwa pembelajaran bukanlah rangkaian langkah yang kaku, melainkan sebuah sistem yang bersifat sirkuler dan fleksibel. Artinya, perancang atau guru dapat memulai dari komponen mana saja sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang dihadapi. Pendekatan ini sangat membantu guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi nyata di lapangan, baik dari segi karakteristik siswa, materi, maupun konteks sosial-budaya sekolah.
Dalam model Kemp, terdapat sembilan komponen utama yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan utuh. Komponen tersebut meliputi: (1) identifikasi tujuan pembelajaran umum, (2) analisis karakteristik peserta didik, (3) analisis tugas, (4) perumusan tujuan khusus, (5) pengorganisasian isi dan kegiatan pembelajaran, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) perencanaan evaluasi, (8) pemilihan media dan sumber belajar, serta (9) evaluasi dan revisi program. Kesembilan komponen ini menunjukkan bahwa desain Kemp berupaya menghadirkan pembelajaran yang terpadu, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa.
Kelebihan dari model Kemp terletak pada sifatnya yang komprehensif dan fleksibel. Guru atau desainer pembelajaran dapat menyesuaikan titik awal pengembangan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Misalnya, jika dalam praktiknya ditemukan bahwa siswa memiliki kemampuan awal yang rendah, maka guru dapat memulai dari analisis karakteristik peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran. Selain itu, model ini juga berpusat pada peserta didik (learner-centered), yang berarti setiap perencanaan pembelajaran didasarkan pada kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan prinsip pendidikan yang humanistik.
Di sisi lain, model Kemp juga memiliki kelemahan. Karena mencakup banyak komponen dan bersifat siklikal, penerapannya membutuhkan waktu, tenaga, dan kemampuan analisis yang mendalam. Guru harus benar-benar memahami setiap unsur dalam model ini agar hasil yang diperoleh sesuai harapan. Model Kemp juga dinilai kurang memberikan petunjuk teknis yang rinci, sehingga bagi guru pemula, penerapannya dapat terasa kompleks. Meski demikian, fleksibilitas model ini justru memberikan ruang kebebasan bagi guru untuk berinovasi sesuai dengan konteks pembelajaran.
Apabila desain pembelajaran menggunakan model J. Kemp, maka model pembelajaran yang paling sesuai untuk diterapkan adalah Project-Based Learning (PjBL) atau Problem-Based Learning (PBL). Kedua model tersebut memiliki kesesuaian filosofi dengan prinsip desain Kemp, yakni berpusat pada peserta didik, kontekstual, dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar.
Pada pembelajaran berbasis proyek (PjBL), siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki, merancang, dan menghasilkan karya yang relevan dengan kehidupan nyata. Dalam prosesnya, guru perlu merancang tujuan pembelajaran, menganalisis karakteristik siswa, menentukan strategi, memilih media, dan melakukan evaluasi berkelanjutan—semua tahapan yang sejalan dengan komponen desain Kemp. Sedangkan pada pembelajaran berbasis masalah (PBL), siswa didorong untuk memecahkan persoalan nyata melalui proses berpikir kritis dan reflektif. Desain Kemp yang menyediakan ruang untuk analisis kebutuhan dan evaluasi formatif sangat mendukung pelaksanaan model pembelajaran tersebut.
Sebagai contoh penerapan dalam konteks pembelajaran IPS di SMP, guru dapat menggunakan desain Kemp untuk merancang kegiatan berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam pembuatan peta sosial ekonomi daerah tempat tinggalnya. Guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik peserta didik, menetapkan tujuan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berbasis proyek, serta menyiapkan instrumen evaluasi yang menilai proses dan hasil belajar siswa. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep ekonomi dan sosial secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengamati kondisi masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran J. Kemp menawarkan kerangka yang sistematis namun fleksibel, yang memungkinkan guru untuk menyesuaikan setiap tahap pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan konteks sosialnya. Model ini sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran berbasis proyek maupun berbasis masalah karena keduanya menuntut partisipasi aktif, kolaboratif, dan reflektif dari siswa. Dalam konteks pendidikan IPS, penerapan desain Kemp tidak hanya membantu mencapai tujuan kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap sosial, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik terhadap realitas kehidupan masyarakat.
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004
1.Deskripsikan desain pembelajaran J. KEMP., (kekurangan dan kelebihanya)
Model desain pembelajaran J. Kemp dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp (1977), seorang ahli desain instruksional yang menekankan bahwa perencanaan pembelajaran harus bersifat menyeluruh, fleksibel, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Model Kemp dikenal juga dengan nama Kemp Instructional Design Model, dan merupakan salah satu model yang berorientasi sistem (system-oriented model) dalam perencanaan pembelajaran. Model ini menekankan bahwa proses belajar mengajar merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan dapat dimulai dari titik mana pun tidak harus berurutan. Model desain pembelajaran J. Kemp memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan dalam perencanaan pembelajaran modern, terutama karena bersifat fleksibel, menyeluruh, dan berorientasi pada peserta didik.
1.Fleksibel dan Tidak Linear
Fleksibilitas ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan perencanaan pembelajaran secara dinamis, terutama ketika menghadapi perubahan kondisi kelas, waktu, atau karakteristik siswa.
2.Berpusat pada Peserta Didik (Learner-Centered)
Model Kemp menempatkan peserta didik sebagai fokus utama dalam setiap tahap perencanaan. Sebelum menentukan strategi atau materi, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa, seperti kemampuan awal, minat, motivasi, dan gaya belajar.
3.Memandang Pembelajaran sebagai Sistem yang Terpadu
Setiap unsur mulai dari tujuan, isi, strategi, media, hingga evaluasi tidak dapat berdiri sendiri. Semua harus dirancang secara menyeluruh agar menghasilkan pengalaman belajar yang efektif dan bermakna. Pandangan sistemik ini membantu guru membangun keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kegiatan belajar.
4.Adanya Komponen Revisi (Continuous Improvement)
Model Kemp menyediakan ruang bagi guru untuk melakukan evaluasi dan revisi terhadap rencana pembelajaran setelah kegiatan selesai. Hal ini sangat penting agar pembelajaran dapat terus disempurnakan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil refleksi, umpan balik siswa, dan hasil evaluasi belajar.
5.Dapat Diterapkan di Berbagai Konteks dan Jenjang Pendidikan
Karena bersifat umum dan tidak terikat pada satu jenis mata pelajaran atau jenjang tertentu, model Kemp dapat diterapkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, model Kemp juga mempunyai beberapa kelemahan atau keterbatasan antara lain:
1.Tidak Memiliki Urutan Langkah yang Jelas
Karena bersifat non-linear, model Kemp kadang dianggap membingungkan oleh guru pemula. Tidak adanya urutan langkah yang tegas membuat beberapa perancang pembelajaran sulit menentukan dari mana proses harus dimulai.
Kondisi ini bisa menyebabkan perencanaan menjadi tidak terarah jika tidak didukung dengan pemahaman yang kuat terhadap konsep desain instruksional.
2.Membutuhkan Analisis yang Mendalam dan Waktu yang Lama
Model Kemp menuntut guru untuk melakukan analisis mendetail terhadap karakteristik siswa, kebutuhan belajar, dan struktur materi.
3.Kurang Cocok untuk Situasi Pembelajaran Darurat atau Terbatas
Dalam kondisi tertentu misalnya waktu pembelajaran singkat, kelas besar, atau keterbatasan sumber daya model Kemp bisa menjadi sulit diterapkan karena membutuhkan proses refleksi, evaluasi, dan revisi berulang.
4.Tidak Menyertakan Unsur Motivasi Secara Spesifik
Model Kemp tidak memiliki komponen yang secara eksplisit membahas strategi peningkatan motivasi belajar siswa. Guru harus menambahkan sendiri unsur motivasi ini agar pembelajaran tetap menarik dan bermakna.
5.Memerlukan Pemahaman Teori Pembelajaran yang Kuat
Untuk menerapkan model Kemp dengan benar, guru atau perancang pembelajaran perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang teori belajar, taksonomi tujuan, dan strategi instruksional.
2.Model pembelajaran apa yang sesuai bila desain pembelajaran menggunakan J. Kemp? jelaskan alasanya.
Desain pembelajaran J. Kemp paling sesuai diterapkan bersama model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) atau berbasis masalah (Problem-Based Learning) karena:
- Sama-sama berorientasi pada peserta didik dan mengutamakan keterlibatan aktif.
- Sama-sama bersifat fleksibel dan adaptif terhadap konteks belajar.
- Sama-sama menekankan hubungan sistemik antara tujuan, strategi, media, dan evaluasi.
- Sama-sama mendukung pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas.
- Sama-sama memungkinkan evaluasi reflektif dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan demikian, jika desain pembelajaran menggunakan model J. Kemp, maka model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) adalah pilihan yang paling relevan dan efektif untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi hasil nyata.
NPM : 2523031004
1.Deskripsikan desain pembelajaran J. KEMP., (kekurangan dan kelebihanya)
Model desain pembelajaran J. Kemp dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp (1977), seorang ahli desain instruksional yang menekankan bahwa perencanaan pembelajaran harus bersifat menyeluruh, fleksibel, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Model Kemp dikenal juga dengan nama Kemp Instructional Design Model, dan merupakan salah satu model yang berorientasi sistem (system-oriented model) dalam perencanaan pembelajaran. Model ini menekankan bahwa proses belajar mengajar merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan dapat dimulai dari titik mana pun tidak harus berurutan. Model desain pembelajaran J. Kemp memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan dalam perencanaan pembelajaran modern, terutama karena bersifat fleksibel, menyeluruh, dan berorientasi pada peserta didik.
1.Fleksibel dan Tidak Linear
Fleksibilitas ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan perencanaan pembelajaran secara dinamis, terutama ketika menghadapi perubahan kondisi kelas, waktu, atau karakteristik siswa.
2.Berpusat pada Peserta Didik (Learner-Centered)
Model Kemp menempatkan peserta didik sebagai fokus utama dalam setiap tahap perencanaan. Sebelum menentukan strategi atau materi, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa, seperti kemampuan awal, minat, motivasi, dan gaya belajar.
3.Memandang Pembelajaran sebagai Sistem yang Terpadu
Setiap unsur mulai dari tujuan, isi, strategi, media, hingga evaluasi tidak dapat berdiri sendiri. Semua harus dirancang secara menyeluruh agar menghasilkan pengalaman belajar yang efektif dan bermakna. Pandangan sistemik ini membantu guru membangun keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kegiatan belajar.
4.Adanya Komponen Revisi (Continuous Improvement)
Model Kemp menyediakan ruang bagi guru untuk melakukan evaluasi dan revisi terhadap rencana pembelajaran setelah kegiatan selesai. Hal ini sangat penting agar pembelajaran dapat terus disempurnakan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil refleksi, umpan balik siswa, dan hasil evaluasi belajar.
5.Dapat Diterapkan di Berbagai Konteks dan Jenjang Pendidikan
Karena bersifat umum dan tidak terikat pada satu jenis mata pelajaran atau jenjang tertentu, model Kemp dapat diterapkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, model Kemp juga mempunyai beberapa kelemahan atau keterbatasan antara lain:
1.Tidak Memiliki Urutan Langkah yang Jelas
Karena bersifat non-linear, model Kemp kadang dianggap membingungkan oleh guru pemula. Tidak adanya urutan langkah yang tegas membuat beberapa perancang pembelajaran sulit menentukan dari mana proses harus dimulai.
Kondisi ini bisa menyebabkan perencanaan menjadi tidak terarah jika tidak didukung dengan pemahaman yang kuat terhadap konsep desain instruksional.
2.Membutuhkan Analisis yang Mendalam dan Waktu yang Lama
Model Kemp menuntut guru untuk melakukan analisis mendetail terhadap karakteristik siswa, kebutuhan belajar, dan struktur materi.
3.Kurang Cocok untuk Situasi Pembelajaran Darurat atau Terbatas
Dalam kondisi tertentu misalnya waktu pembelajaran singkat, kelas besar, atau keterbatasan sumber daya model Kemp bisa menjadi sulit diterapkan karena membutuhkan proses refleksi, evaluasi, dan revisi berulang.
4.Tidak Menyertakan Unsur Motivasi Secara Spesifik
Model Kemp tidak memiliki komponen yang secara eksplisit membahas strategi peningkatan motivasi belajar siswa. Guru harus menambahkan sendiri unsur motivasi ini agar pembelajaran tetap menarik dan bermakna.
5.Memerlukan Pemahaman Teori Pembelajaran yang Kuat
Untuk menerapkan model Kemp dengan benar, guru atau perancang pembelajaran perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang teori belajar, taksonomi tujuan, dan strategi instruksional.
2.Model pembelajaran apa yang sesuai bila desain pembelajaran menggunakan J. Kemp? jelaskan alasanya.
Desain pembelajaran J. Kemp paling sesuai diterapkan bersama model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) atau berbasis masalah (Problem-Based Learning) karena:
- Sama-sama berorientasi pada peserta didik dan mengutamakan keterlibatan aktif.
- Sama-sama bersifat fleksibel dan adaptif terhadap konteks belajar.
- Sama-sama menekankan hubungan sistemik antara tujuan, strategi, media, dan evaluasi.
- Sama-sama mendukung pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas.
- Sama-sama memungkinkan evaluasi reflektif dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan demikian, jika desain pembelajaran menggunakan model J. Kemp, maka model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) adalah pilihan yang paling relevan dan efektif untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi hasil nyata.
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007
Desain pembelajaran menurut Jerrold E. Kemp merupakan salah satu pendekatan desain instruksional yang bersifat sistematis namun tetap fleksibel dalam penerapannya. Kemp memandang bahwa proses merancang pembelajaran tidak harus dimulai dari satu tahapan tertentu, melainkan merupakan sebuah lingkaran yang komponen-komponennya dapat dipilih dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Inti dari desain Kemp terletak pada upayanya menempatkan peserta didik sebagai pusat perencanaan. Guru diwajibkan memahami kemampuan awal, karakteristik, latar belakang, hingga motivasi belajar siswa sebelum menentukan tujuan, materi, strategi, ataupun evaluasi. Dengan demikian, desain pembelajaran Kemp bukan hanya sekadar menyusun langkah mengajar, tetapi merupakan proses komprehensif yang menghubungkan analisis peserta didik, pemilihan materi, penentuan tujuan pembelajaran, perencanaan kegiatan belajar, penentuan media, hingga menetapkan bentuk evaluasi dan melakukan revisi terhadap proses yang telah dilaksanakan. Desain Kemp memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan dalam pengembangan pembelajaran. Model ini sangat fleksibel karena guru dapat memulai dari komponen mana saja sesuai kebutuhan situasi. Fleksibilitas ini memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks kelas, karakteristik peserta didik, dan tantangan materi yang dihadapi. Selain itu, desain ini juga komprehensif; seluruh aspek pembelajaran mulai dari tujuan, materi, strategi, hingga evaluasi dirancang dalam hubungan yang padu. Tidak hanya itu, model ini juga menekankan pentingnya refleksi dan revisi, sehingga pembelajaran dapat terus disempurnakan berdasarkan hasil evaluasi. Namun demikian, desain Kemp juga tidak lepas dari kekurangan. Perencanaan yang rinci membutuhkan waktu yang lebih panjang, terutama pada tahap analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Guru yang kurang terbiasa melakukan analisis mendalam sering kali merasa kewalahan ketika harus menghubungkan berbagai komponen yang ada. Selain itu, karena kompleksitasnya cukup tinggi, model ini kurang cocok diterapkan ketika waktu perencanaan terbatas atau pada situasi kelas besar yang membutuhkan penanganan cepat. Jika desain pembelajaran yang digunakan mengikuti pola dan prinsip J. Kemp, maka model pembelajaran yang paling sesuai adalah model-model yang memungkinkan siswa belajar aktif dan terlibat secara mendalam.
Salah satu model yang tepat adalah Problem Based Learning (PBL). PBL menuntut siswa berpikir kritis, memecahkan masalah nyata, dan melakukan penyelidikan, sehingga sangat selaras dengan prinsip Kemp yang menempatkan peserta didik sebagai pusat perencanaan. Selain itu, dalam PBL, tujuan pembelajaran harus dianalisis dan dirumuskan secara jelas, sama seperti proses analisis tugas dan tujuan dalam desain Kemp. Evaluasi dalam PBL yang mencakup aspek proses dan hasil juga sejalan dengan komponen evaluasi komprehensif dalam model Kemp. Selain PBL, Project Based Learning (PjBL) juga merupakan model yang cocok diterapkan dalam desain Kemp. Pembelajaran berbasis proyek membutuhkan perencanaan sistematis, mulai dari penentuan tujuan, analisis tugas proyek, perencanaan langkah kerja, hingga evaluasi produk, sehingga konstruksinya sangat sesuai dengan struktur desain Kemp. Model ini juga mendorong keterlibatan aktif peserta didik, kolaborasi, dan kreativitas—semua hal yang dapat didukung melalui analisis kebutuhan dan pemilihan strategi dalam desain Kemp. Model lain yang juga relevan adalah Inquiry Learning, karena model ini menuntut peserta didik untuk menjalani proses penyelidikan ilmiah yang terstruktur. Inquiry membutuhkan analisis kebutuhan belajar dan tujuan yang jelas, serta evaluasi keterampilan proses, sehingga sangat cocok dengan tahapan desain Kemp.
Secara keseluruhan, desain pembelajaran J. Kemp memberikan kerangka kerja yang kuat untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif, terpadu, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Model pembelajaran seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Inquiry Learning menjadi sangat relevan diterapkan karena selaras dengan prinsip-prinsip dasar desain Kemp yang menuntut fleksibilitas, analisis mendalam, dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan menggunakan kombinasi ini, proses pembelajaran dapat berjalan lebih terarah, efektif, dan bermakna bagi peserta didik.
NPM : 2523031007
Desain pembelajaran menurut Jerrold E. Kemp merupakan salah satu pendekatan desain instruksional yang bersifat sistematis namun tetap fleksibel dalam penerapannya. Kemp memandang bahwa proses merancang pembelajaran tidak harus dimulai dari satu tahapan tertentu, melainkan merupakan sebuah lingkaran yang komponen-komponennya dapat dipilih dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Inti dari desain Kemp terletak pada upayanya menempatkan peserta didik sebagai pusat perencanaan. Guru diwajibkan memahami kemampuan awal, karakteristik, latar belakang, hingga motivasi belajar siswa sebelum menentukan tujuan, materi, strategi, ataupun evaluasi. Dengan demikian, desain pembelajaran Kemp bukan hanya sekadar menyusun langkah mengajar, tetapi merupakan proses komprehensif yang menghubungkan analisis peserta didik, pemilihan materi, penentuan tujuan pembelajaran, perencanaan kegiatan belajar, penentuan media, hingga menetapkan bentuk evaluasi dan melakukan revisi terhadap proses yang telah dilaksanakan. Desain Kemp memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan dalam pengembangan pembelajaran. Model ini sangat fleksibel karena guru dapat memulai dari komponen mana saja sesuai kebutuhan situasi. Fleksibilitas ini memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks kelas, karakteristik peserta didik, dan tantangan materi yang dihadapi. Selain itu, desain ini juga komprehensif; seluruh aspek pembelajaran mulai dari tujuan, materi, strategi, hingga evaluasi dirancang dalam hubungan yang padu. Tidak hanya itu, model ini juga menekankan pentingnya refleksi dan revisi, sehingga pembelajaran dapat terus disempurnakan berdasarkan hasil evaluasi. Namun demikian, desain Kemp juga tidak lepas dari kekurangan. Perencanaan yang rinci membutuhkan waktu yang lebih panjang, terutama pada tahap analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Guru yang kurang terbiasa melakukan analisis mendalam sering kali merasa kewalahan ketika harus menghubungkan berbagai komponen yang ada. Selain itu, karena kompleksitasnya cukup tinggi, model ini kurang cocok diterapkan ketika waktu perencanaan terbatas atau pada situasi kelas besar yang membutuhkan penanganan cepat. Jika desain pembelajaran yang digunakan mengikuti pola dan prinsip J. Kemp, maka model pembelajaran yang paling sesuai adalah model-model yang memungkinkan siswa belajar aktif dan terlibat secara mendalam.
Salah satu model yang tepat adalah Problem Based Learning (PBL). PBL menuntut siswa berpikir kritis, memecahkan masalah nyata, dan melakukan penyelidikan, sehingga sangat selaras dengan prinsip Kemp yang menempatkan peserta didik sebagai pusat perencanaan. Selain itu, dalam PBL, tujuan pembelajaran harus dianalisis dan dirumuskan secara jelas, sama seperti proses analisis tugas dan tujuan dalam desain Kemp. Evaluasi dalam PBL yang mencakup aspek proses dan hasil juga sejalan dengan komponen evaluasi komprehensif dalam model Kemp. Selain PBL, Project Based Learning (PjBL) juga merupakan model yang cocok diterapkan dalam desain Kemp. Pembelajaran berbasis proyek membutuhkan perencanaan sistematis, mulai dari penentuan tujuan, analisis tugas proyek, perencanaan langkah kerja, hingga evaluasi produk, sehingga konstruksinya sangat sesuai dengan struktur desain Kemp. Model ini juga mendorong keterlibatan aktif peserta didik, kolaborasi, dan kreativitas—semua hal yang dapat didukung melalui analisis kebutuhan dan pemilihan strategi dalam desain Kemp. Model lain yang juga relevan adalah Inquiry Learning, karena model ini menuntut peserta didik untuk menjalani proses penyelidikan ilmiah yang terstruktur. Inquiry membutuhkan analisis kebutuhan belajar dan tujuan yang jelas, serta evaluasi keterampilan proses, sehingga sangat cocok dengan tahapan desain Kemp.
Secara keseluruhan, desain pembelajaran J. Kemp memberikan kerangka kerja yang kuat untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif, terpadu, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Model pembelajaran seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, dan Inquiry Learning menjadi sangat relevan diterapkan karena selaras dengan prinsip-prinsip dasar desain Kemp yang menuntut fleksibilitas, analisis mendalam, dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan menggunakan kombinasi ini, proses pembelajaran dapat berjalan lebih terarah, efektif, dan bermakna bagi peserta didik.
Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005
1. Deskripsi Desain Pembelajaran Model Jerold E. Kemp
Model Jerold E. Kemp adalah salah satu model desain instruksional yang bersifat siklus dan holistik, berbeda dari model linear seperti ADDIE atau Dick & Carey. Desainnya berbentuk non-linear dan berfokus pada keseluruhan aspek pembelajaran—mulai dari identifikasi masalah sampai evaluasi—dengan pendekatan yang fleksibel dan berkelanjutan. Model ini menekankan bahwa setiap elemen dalam proses pengembangan pembelajaran tetap saling terkait dan dapat direvisi kapan saja sesuai kebutuhan belajar siswa.
Komponen Utama Model Kemp
Model Kemp biasanya mencakup 9 elemen utama, antara lain:
- Identifikasi masalah pembelajaran dan kebutuhan tujuan
- Analisis karakteristik peserta didik
- Analisis tugas / konten pembelajaran
- Perumusan tujuan pembelajaran
- Pengurutan konten secara logis
- Perancangan strategi instruksional
- Perancangan pesan atau materi pembelajaran
- Pengembangan materi / sumber belajar
- Pengembangan instrumen evaluasi untuk menilai pencapaian tujuan
2. Kelebihan Model Kemp
Berikut beberapa kelebihan yang sering dikemukakan dalam literature tentang model Kemp:
a. Fleksibel dan Tidak Linear
Model Kemp memungkinkan perancang instruksi untuk memulai dari elemen mana saja tanpa harus mengikuti tahapan tertentu secara berurutan. Ini memberi kebebasan dan fleksibilitas sehingga desain dapat disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual pembelajaran.
b. Fokus pada Siswa sebagai Pusat Perancangan
Kemp menekankan analisis karakteristik peserta didik dan kebutuhan belajar mereka sejak awal, sehingga pembelajaran dirancang lebih relevan dan bermakna bagi siswa.
c. Pendekatan Holistik dan Sistematik
Model ini memperhatikan berbagai aspek desain pembelajaran secara terintegrasi—tujuan, strategi, media, pengembangan materi, dan evaluasi—sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif.
d. Iteratif dengan Evaluasi Berkelanjutan
Model Kemp memasukkan mekanisme evaluasi formatif dan sumatif yang memungkinkan perbaikan berkelanjutan pada desain instruksional berdasarkan umpan balik.
3. Kekurangan Model Kemp
Meskipun memiliki banyak keunggulan, model ini juga memiliki beberapa keterbatasan:
a. Kompleks dan Memakan Waktu
Karena terdiri dari banyak elemen yang harus dipertimbangkan dan sering direvisi, model Kemp dapat menjadi kompleks dan memakan waktu untuk diimplementasikan, terutama oleh desainer instruksional atau guru yang belum berpengalaman.
b. Tidak Memberikan Urutan Langkah yang Ketat
Fleksibilitas bisa menjadi dua sisi mata pisau: meskipun memberi kebebasan, bagi pemula yang belum terbiasa dengan desain instruksional hal ini bisa membuat mereka bingung atau kurang tahu harus mulai dari mana.
c. Butuh Kompetensi Tinggi Desainer
Model Kemp memerlukan perancang yang cukup berpengalaman untuk mengelola desain yang non-linear ini secara efektif. Tanpa pengalaman atau pelatihan, model ini bisa sulit diterapkan secara konsisten.
d. Panduan Evaluasi Bisa Kurang Terinci
Beberapa sumber menyatakan bahwa model ini tidak menjelaskan secara rinci bagaimana menyiapkan dan mengimplementasikan evaluasi secara praktis dibanding model lain yang lebih fokus pada evaluasi.
4. Model Pembelajaran yang Sesuai bila Menggunakan Desain Pembelajaran J. Kemp
Model pembelajaran yang sangat sesuai dengan desain instruksional Kemp adalah pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning / PjBL) atau pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning), dan berikut alasannya:
a. Sesuai dengan Pendekatan Holistik Kemp
Kedua model ini menuntut perancangan yang mempertimbangkan banyak aspek sekaligus—tujuan kilat terpadu, karakteristik siswa, konten yang harus dianalisis, strategi, media, serta evaluasi autentik. Ini selaras dengan pendekatan holistik dan sistematik yang dilakukan dalam model Kemp.
b. Memerlukan Analisis Karakteristik Siswa
Model seperti PjBL dan kooperatif menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran, sehingga penting untuk memahami karakteristik belajar individu dan kelompok, seperti yang dianjurkan oleh model Kemp.
c. Iterasi dan Evaluasi Lingkup Luas
Dalam PjBL atau pembelajaran kooperatif, desain perlu diperbaiki berdasarkan umpan balik dan proses refleksi sepanjang proyek berjalan, sejalan dengan filosofi evaluasi berkelanjutan dan revisi model Kemp.
d. Menunjang Keterampilan Abad 21
Model pembelajaran seperti PjBL maupun kooperatif membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi yang dapat lebih mudah diukur melalui evaluasi autentik—diperlukan perancangan komprehensif, bukan sekadar linear, seperti yang menjadi ciri model Kemp.
5. Kesimpulan
Model Jerold E. Kemp adalah desain instruksional yang fleksibel, berorientasi siswa, dan holistik, cocok untuk merancang pembelajaran yang kompleks dan dinamis. Ia menonjolkan analisis karakteristik peserta didik, integrasi semua komponen pembelajaran, serta evaluasi berkelanjutan. Namun, model ini juga cukup kompleks dan membutuhkan pengalaman perancang instruksional, sehingga tidak selalu ideal bagi pemula atau ketika waktu dan sumber daya terbatas. Model pembelajaran yang paling cocok dengan desain Kemp adalah Project-Based Learning atau pembelajaran kooperatif, karena keduanya menuntut perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang holistik serta responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002
Desain pembelajaran J. Kemp adalah pendekatan sistematis berbentuk siklus untuk merancang pembelajaran yang efektif, fokus pada siswa, dan bisa dimulai dari komponen mana saja (tujuan, siswa, atau evaluasi). Model ini memiliki 8 langkah utama: menentukan tujuan umum, analisis siswa, tujuan spesifik, materi, tes awal, strategi & media, koordinasi sarana penunjang, hingga evaluasi, dengan evaluasi sebagai dasar revisi untuk perbaikan berkelanjutan.
Kelebihan dari desain pembelajaran J. Kemp terletak pada fleksibilitas dan kelengkapannya. Model ini memungkinkan guru untuk merancang pembelajaran yang adaptif terhadap perbedaan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Selain itu, desain ini mendorong keterpaduan antara tujuan, materi, strategi, dan evaluasi sehingga pembelajaran menjadi lebih sistematis dan terarah. Model J. Kemp juga mendukung pembelajaran kontekstual dan inovatif karena guru dapat dengan mudah mengintegrasikan berbagai pendekatan, metode, dan media pembelajaran sesuai situasi.
Namun demikian, desain pembelajaran J. Kemp juga memiliki beberapa kekurangan. Kompleksitas komponennya dapat menyulitkan guru, terutama guru pemula, karena memerlukan pemahaman yang mendalam dan perencanaan yang cukup matang. Selain itu, karena sifatnya yang fleksibel dan tidak linier, desain ini berpotensi menimbulkan kebingungan apabila guru tidak memiliki kemampuan manajemen pembelajaran yang baik. Proses perancangannya juga relatif membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan desain yang lebih sederhana.
Model pembelajaran yang paling sesuai jika menggunakan desain pembelajaran J. Kemp adalah Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Problem Based Learning sesuai karena desain J. Kemp memungkinkan guru merancang pembelajaran berbasis masalah nyata dengan mempertimbangkan kemampuan awal siswa, tujuan pembelajaran, serta strategi evaluasi yang berorientasi pada proses dan hasil. Project Based Learning juga sangat cocok karena memerlukan perencanaan yang komprehensif dan fleksibel, mulai dari penentuan tujuan, pengorganisasian materi, pemilihan sumber belajar, hingga asesmen proyek, yang semuanya dapat diakomodasi dalam desain J. Kemp. Contextual Teaching and Learning sejalan dengan desain J. Kemp karena keduanya menekankan keterkaitan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata peserta didik.
NPM : 2523031002
Desain pembelajaran J. Kemp adalah pendekatan sistematis berbentuk siklus untuk merancang pembelajaran yang efektif, fokus pada siswa, dan bisa dimulai dari komponen mana saja (tujuan, siswa, atau evaluasi). Model ini memiliki 8 langkah utama: menentukan tujuan umum, analisis siswa, tujuan spesifik, materi, tes awal, strategi & media, koordinasi sarana penunjang, hingga evaluasi, dengan evaluasi sebagai dasar revisi untuk perbaikan berkelanjutan.
Kelebihan dari desain pembelajaran J. Kemp terletak pada fleksibilitas dan kelengkapannya. Model ini memungkinkan guru untuk merancang pembelajaran yang adaptif terhadap perbedaan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Selain itu, desain ini mendorong keterpaduan antara tujuan, materi, strategi, dan evaluasi sehingga pembelajaran menjadi lebih sistematis dan terarah. Model J. Kemp juga mendukung pembelajaran kontekstual dan inovatif karena guru dapat dengan mudah mengintegrasikan berbagai pendekatan, metode, dan media pembelajaran sesuai situasi.
Namun demikian, desain pembelajaran J. Kemp juga memiliki beberapa kekurangan. Kompleksitas komponennya dapat menyulitkan guru, terutama guru pemula, karena memerlukan pemahaman yang mendalam dan perencanaan yang cukup matang. Selain itu, karena sifatnya yang fleksibel dan tidak linier, desain ini berpotensi menimbulkan kebingungan apabila guru tidak memiliki kemampuan manajemen pembelajaran yang baik. Proses perancangannya juga relatif membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan desain yang lebih sederhana.
Model pembelajaran yang paling sesuai jika menggunakan desain pembelajaran J. Kemp adalah Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Problem Based Learning sesuai karena desain J. Kemp memungkinkan guru merancang pembelajaran berbasis masalah nyata dengan mempertimbangkan kemampuan awal siswa, tujuan pembelajaran, serta strategi evaluasi yang berorientasi pada proses dan hasil. Project Based Learning juga sangat cocok karena memerlukan perencanaan yang komprehensif dan fleksibel, mulai dari penentuan tujuan, pengorganisasian materi, pemilihan sumber belajar, hingga asesmen proyek, yang semuanya dapat diakomodasi dalam desain J. Kemp. Contextual Teaching and Learning sejalan dengan desain J. Kemp karena keduanya menekankan keterkaitan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata peserta didik.