CASE STUDY

CASE STUDY

Jumlah balasan: 11

PT. Maju Sentosa adalah perusahaan manufaktur otomotif yang telah mengimplementasikan Smart Factory berbasis Industry 4.0 sejak 2019. Mereka telah mengintegrasikan IoT, Big Data, dan otomatisasi robotik dalam proses produksinya. Saat ini, perusahaan menghadapi tekanan untuk bertransformasi menuju Industry 5.0, yang menekankan kolaborasi manusia-mesin, keberlanjutan, dan personalisasi produk.

Pimpinan perusahaan merasa ragu:

  1. Apakah perlu berinvestasi besar untuk beralih ke Industry 5.0?
  2. Bagaimana menjaga efisiensi tanpa mengorbankan aspek humanis?
  3. Apa strategi terbaik untuk menjembatani transisi ini secara bertahap?

PERTANYAAN:

  1. Identifikasi 3 tantangan utama yang akan dihadapi PT. Maju Sentosa dalam transisi dari Smart Factory (Industry 4.0) ke pendekatan Industry 5.0, dan jelaskan mengapa tantangan tersebut krusial.
  2. Bandingkan dua pendekatan berikut untuk implementasi Industry 5.0:
  • Pendekatan Teknologi-dulu: Fokus pada integrasi teknologi AI & robotik kolaboratif baru terlebih dahulu.
  • Pendekatan Manusia-dulu: Fokus pada pelatihan ulang tenaga kerja dan penyesuaian budaya organisasi sebelum implementasi teknologi baru.Tentukan mana yang lebih tepat untuk diterapkan di PT. Maju Sentosa beserta alasannya.
  1. Rancang roadmap strategis (dalam 3 tahap) untuk transisi PT. Maju Sentosa ke Industry 5.0 yang mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi, personalisasi, dan peran manusia.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh WANTY NURKHOLIFAH 2213031051 -
Wanty Nurkholifah
2213031051

1. Tantangan utama transisi ke Industry 5.0

Tantangan pertama adalah perubahan peran manusia. Pada Smart Factory 4.0, manusia lebih banyak berfungsi sebagai operator dan pengawas sistem otomatis. Industry 5.0 menuntut manusia menjadi kolaborator aktif yang berpikir kreatif dan mengambil keputusan. Tanpa kesiapan SDM, kolaborasi manusia–mesin justru menurunkan produktivitas.

Tantangan kedua berkaitan dengan integrasi teknologi baru tanpa mengorbankan efisiensi. AI adaptif dan robot kolaboratif (cobots) harus berjalan selaras dengan sistem otomatisasi lama. Jika integrasi tidak matang, biaya meningkat dan proses produksi justru melambat.

Tantangan ketiga adalah transformasi budaya dan orientasi keberlanjutan. Industry 5.0 tidak hanya soal teknologi, tetapi juga nilai: keselamatan kerja, keberlanjutan lingkungan, dan personalisasi produk. Mengubah mindset organisasi dari “efisiensi murni” ke “nilai manusia dan keberlanjutan” merupakan tantangan strategis.

2. Pendekatan yang lebih tepat: manusia-dulu

Untuk PT. Maju Sentosa, pendekatan manusia-dulu lebih tepat. Perusahaan sudah matang secara teknologi Industry 4.0, sehingga masalah utama bukan kekurangan teknologi, melainkan kesiapan SDM dan budaya kerja. Pelatihan ulang, peningkatan literasi AI, dan pembentukan budaya kolaboratif akan memastikan bahwa investasi teknologi Industry 5.0 benar-benar dimanfaatkan secara optimal, bukan sekadar mahal tetapi tidak efektif.

3. Roadmap transisi Industry 5.0 (3 tahap)

Tahap 1: Persiapan manusia dan budaya
Fokus pada reskilling tenaga kerja, pelatihan kolaborasi manusia–mesin, serta penanaman nilai keberlanjutan dan keselamatan kerja.

Tahap 2: Implementasi teknologi kolaboratif terbatas
Mulai menerapkan cobots dan AI adaptif di lini tertentu untuk personalisasi produk dan peningkatan ergonomi kerja, tanpa mengganggu stabilitas produksi.

Tahap 3: Integrasi penuh dan optimalisasi berkelanjutan
Menggabungkan efisiensi Industry 4.0 dengan fleksibilitas dan human-centric Industry 5.0, termasuk optimasi energi, pengurangan limbah, dan inovasi berbasis masukan pekerja.

Dengan pendekatan bertahap ini, PT. Maju Sentosa dapat bertransformasi ke Industry 5.0 secara aman, efisien, dan berkelanjungan tanpa kehilangan keunggulan kompetitifnya.