Nama : Indah Rahma Alfiah
NPM : 2413031015
1. Perbandingan Pendekatan
Penilaian Nilai Wajar Tradisional dan Berbasis AI dalam Perspektif Teori Akuntansi
Dalam pendekatan tradisional,
penilaian nilai wajar berlandaskan judgment profesional yang dilakukan oleh penilai atau akuntan dengan mengacu pada teknik
penilaian yang diakui, seperti market approach, income approach, dan cost approach. Dari perspektif teori normatif akuntansi, pendekatan ini menekankan kesesuaian dengan standar (IFRS 13), konsistensi metode, serta keterjelasan asumsi yang digunakan. Pengetahuan akuntansi dihasilkan melalui proses deduktif berbasis kerangka konseptual dan pengalaman profesional.
Sebaliknya, pendekatan berbasis AI lebih dekat dengan teori positif akuntansi dan paradigma empiris, karena
penilaian dihasilkan dari pengolahan data historis dan data pasar real-time dalam jumlah besar (big data). AI mengekstraksi pola statistik dan hubungan kompleks yang sering kali tidak tertangkap oleh metode konvensional. Keunggulannya terletak pada kecepatan, skalabilitas, dan potensi peningkatan relevansi informasi. Namun, kelemahannya adalah rendahnya transparansi proses (black box), yang dapat mengurangi verifiability dan faithful representation—dua karakteristik kualitatif utama laporan keuangan.
Dengan demikian, pendekatan tradisional unggul dalam akuntabilitas dan keterjelasan metodologis, sedangkan pendekatan AI unggul dalam efisiensi dan relevansi berbasis data, tetapi menghadapi tantangan legitimasi teoretis dalam akuntansi keuangan.
2. Esensi Epistemologis Penggunaan AI dalam Penentuan Nilai Wajar
Dari sudut pandang epistemologi akuntansi,
penilaian nilai wajar tradisional memperoleh validitas pengetahuan dari otoritas profesional, standar akuntansi, dan proses penalaran yang dapat ditelusuri. Pengetahuan dianggap sah karena dapat dijelaskan, diuji ulang, dan diaudit.
Penggunaan AI menggeser sumber pengetahuan akuntansi dari human judgment ke algorithmic judgment. Validitas pengetahuan tidak lagi terutama berasal dari penalaran normatif, tetapi dari akurasi prediktif dan konsistensi statistik model. Hal ini mencerminkan pergeseran dari epistemologi interpretatif menuju epistemologi komputasional.
Masalah epistemologis utama muncul ketika hasil
penilaian tidak dapat dijelaskan secara memadai (explainability gap). Dalam konteks akuntansi, pengetahuan yang tidak dapat dijustifikasi secara rasional dan normatif berisiko kehilangan legitimasi, meskipun secara empiris akurat. Oleh karena itu, AI menghasilkan pengetahuan yang bersifat probabilistik, bukan deterministik, sehingga menantang konsep tradisional keandalan (reliability) dalam akuntansi.
3. Strategi Akuntabilitas dan Pelaporan agar Pendekatan AI Selaras dengan IFRS 13
Agar penggunaan AI dalam penentuan nilai wajar tetap sejalan dengan IFRS 13, perusahaan perlu menerapkan beberapa strategi berikut:
1. Model Governance dan Explainability
Perusahaan harus memastikan bahwa model AI dilengkapi dengan dokumentasi metodologi, asumsi utama, sumber data, dan mekanisme explainable AI (XAI), sehingga auditor dapat memahami logika
penilaian yang digunakan.
2. Human-in-the-Loop
Hasil
penilaian AI tidak digunakan secara otomatis, melainkan ditinjau dan divalidasi oleh profesional yang kompeten. Ini memastikan bahwa judgment manusia tetap menjadi penentu akhir, sesuai dengan prinsip IFRS.
3. Klasifikasi Input sesuai Hirarki Nilai Wajar IFRS 13
Data yang digunakan AI harus dipetakan secara jelas ke dalam Level 1, Level 2, atau Level 3, sehingga tingkat subjektivitas dan ketidakpastian dapat diungkapkan secara transparan.
4. Pengungkapan Tambahan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
Perusahaan perlu mengungkapkan penggunaan AI sebagai teknik
penilaian, termasuk sensitivitas hasil, risiko model, dan keterbatasan algoritma, untuk meningkatkan faithful representation dan comparability.
5. Audit Model dan Data Secara Berkala
Dilakukan model audit dan data validation untuk memastikan bahwa model AI tetap relevan, bebas bias material, dan konsisten dengan kondisi pasar yang aktual.