Perbandingan Pendekatan Tradisional
Penilaian Fair Value vs Pendekatan Berbasis AI (Perspektif Teori Akuntansi)
a. Pendekatan Tradisional
Penilaian Fair Value
Pendekatan tradisional dalam penentuan fair value umumnya merujuk pada standar seperti PSAK 68 / IFRS 13, yang menekankan:
Input yang dapat diobservasi (observable inputs)
Pertimbangan profesional (professional judgment) dari penilai atau akuntan
Metode konvensional:
Pendekatan pasar (market approach)
Pendekatan pendapatan (income approach)
Pendekatan biaya (cost approach)
Dari perspektif teori akuntansi:
Selaras dengan Positive Accounting Theory (PAT) → akuntansi sebagai alat untuk merefleksikan realitas ekonomi.
Mengandalkan Human Judgment Theory → manusia dianggap mampu menilai konteks, asumsi, dan risiko.
Memiliki akuntabilitas personal (penilai dapat dimintai pertanggungjawaban).
Kelemahan utama:
Subjektivitas tinggi
Lambat
Rentan bias manusia dan konflik kepentingan
b. Pendekatan
Penilaian Fair Value Berbasis AI
Pendekatan AI menggunakan:
Big data
Machine learning
Data pasar real-time
Algoritma prediktif non-linear
Dari perspektif teori akuntansi:
Sejalan dengan Decision Usefulness Theory → informasi lebih relevan dan tepat waktu.
Mendukung Information Economics Theory → efisiensi informasi meningkat.
Cenderung positivistik ekstrem: nilai dihasilkan dari pola statistik, bukan interpretasi normatif.
Keunggulan:
Cepat dan konsisten
Memproses data dalam skala besar
Mengurangi bias emosional manusia
Kelemahan utama:
Black box problem → proses tidak transparan
Sulit diaudit
Ketergantungan pada kualitas data dan desain algoritma
c. Ringkasan Perbandingan
Aspek
Pendekatan Tradisional
Pendekatan AI
Sumber
penilaian
Judgment manusia
Algoritma & data
Transparansi
Tinggi
Rendah
Kecepatan
Lambat
Sangat cepat
Objektivitas
Terbatas
Relatif tinggi
Auditabilitas
Mudah
Sulit
Akuntabilitas
Jelas
Kabur
2. Implikasi Epistemologis Penggunaan AI dalam Penentuan Fair Value
Epistemologi membahas sumber, legitimasi, dan validitas pengetahuan.
a. Pergeseran Sumber Pengetahuan Akuntansi
Tradisional:
Pengetahuan berasal dari:
Teori ekonomi
Standar akuntansi
Pengalaman profesional
Berbasis AI:
Pengetahuan berasal dari:
Korelasi statistik
Pola data historis
Pembelajaran mesin (machine learning)
➡ Terjadi pergeseran dari knowledge-based accounting ke data-driven accounting.
b. Masalah Validitas Pengetahuan
Beberapa isu epistemologis utama:
Opacity of Knowledge
Nilai fair value dihasilkan tanpa penjelasan kausal
Auditor tidak dapat menelusuri logika keputusan
Algorithmic Bias
Data historis dapat mencerminkan distorsi pasar
AI mereproduksi bias masa lalu sebagai “kebenaran”
Loss of Interpretability
Pengetahuan akuntansi tidak lagi dapat diverifikasi secara konseptual
Bertentangan dengan prinsip verifiability dan faithful representation
Epistemic Authority Shift
Otoritas kebenaran berpindah dari akuntan → sistem AI
Menimbulkan pertanyaan: siapa yang “tahu” nilai wajar sebenarnya?
c. Konsekuensi Filosofis
AI memperkuat empirisisme ekstrem
Melemahkan normative accounting theory
Mengaburkan peran etika dan profesionalisme
3. Strategi Akuntabilitas dan Pelaporan untuk Menjamin Keandalan, Objektivitas, dan Transparansi AI
Agar penggunaan AI dalam
penilaian fair value dapat diterima oleh auditor dan pemangku kepentingan, diperlukan strategi berikut:
a. Explainable AI (XAI)
Menggunakan model AI yang dapat dijelaskan (misalnya:
Feature importance
Sensitivity analysis)
Menyediakan audit trail algoritmik
➡ Mengurangi masalah black box.
b. Hybrid Judgment Model
AI digunakan sebagai decision support system, bukan decision maker.
Keputusan akhir tetap pada:
Manajemen
Penilai independen
➡ Menjaga akuntabilitas manusia.
c. Pengungkapan (Disclosure) yang Diperluas
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan:
Metodologi AI yang digunakan
Jenis dan sumber data
Asumsi utama algoritma
Tingkat ketidakpastian estimasi
Peran judgment manajemen
➡ Selaras dengan prinsip full disclosure.
d. Model Governance dan Audit AI
Pembentukan AI Governance Committee
Audit algoritma secara berkala
Validasi eksternal model AI
➡ Memastikan independensi dan objektivitas.
e. Penyesuaian Standar Akuntansi dan Audit
Standar perlu mengakomodasi:
Algorithm assurance
Data quality assurance
Ethical AI principles