CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 3

Seorang peneliti pendidikan ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid (gabungan daring dan luring) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI di seluruh SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Karena jumlah SMA negeri sangat banyak dan tersebar di berbagai kota dan kabupaten, peneliti memutuskan untuk mengambil sampel sebagai subjek penelitiannya.

Namun, peneliti menghadapi beberapa tantangan:

  1. Terdapat 600 SMA negeri di Provinsi Jawa Barat, tersebar di 27 kota/kabupaten.
  2. Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital tiap daerah berbeda.
  3. Jumlah siswa kelas XI bervariasi di setiap sekolah.
  4. Tidak semua sekolah menerapkan pembelajaran hybrid secara konsisten.

Pertanyaan:

  1. Identifikasilah populasi dan sampel dalam kasus tersebut. Jelaskan alasannya!
  2. Menurut Anda, teknik sampling mana yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini? Jelaskan alasan pemilihan teknik tersebut, dan bagaimana cara menerapkannya dalam konteks ini!
  3. Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi saja, apa potensi kelemahan dari pendekatan ini terhadap validitas hasil penelitian?

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Fathiyah Dzahirah 2413031001 -
Nama : Fathiyah Dzahirah
NPM : 2413031001

1. Identifikasi Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA negeri yang tersebar di 27 kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Populasi tersebut dipilih karena penelitian bertujuan mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI. Sementara itu, sampel adalah sebagian siswa kelas XI dari sejumlah SMA negeri yang dipilih untuk mewakili populasi. Sampel perlu mencakup sekolah dari berbagai daerah agar perbedaan kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur digital, dan penerapan pembelajaran hybrid dapat dipertimbangkan.

2. Teknik Sampling yang Tepat
Menurut saya, teknik yang paling tepat adalah Stratified Random Sampling (sampling acak berstrata). Teknik ini digunakan dengan membagi populasi ke dalam kelompok berdasarkan karakteristik tertentu, misalnya wilayah kota dan kabupaten, kondisi infrastruktur digital, atau konsistensi penerapan pembelajaran hybrid. Selanjutnya, sampel sekolah dipilih secara acak dari setiap kelompok, kemudian siswa kelas XI dipilih dari sekolah terpilih. Jumlah sampel dapat disesuaikan dengan proporsi jumlah siswa di setiap kelompok. Dengan cara ini, berbagai karakteristik daerah dapat terwakili sehingga hasil penelitian lebih menggambarkan kondisi populasi.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya dari Bandung dan Bekasi
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah di Bandung dan Bekasi, hasil penelitian berpotensi mengalami bias pemilihan sampel karena tidak mewakili seluruh kondisi SMA negeri di Jawa Barat. Sekolah di kota besar mungkin memiliki infrastruktur digital dan akses teknologi yang lebih baik dibandingkan sekolah di daerah lain. Akibatnya, hasil penelitian bisa kurang menggambarkan efektivitas pembelajaran hybrid di seluruh wilayah Jawa Barat. Hal ini dapat mengurangi validitas eksternal atau kemampuan untuk menggeneralisasikan hasil penelitian ke populasi yang lebih luas.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Paulina Silaban -
Nama : Paulina Silaban
NPM : 2413031016

1. Identifikasi populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di 600 SMA negeri yang tersebar di 27 kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Alasannya, peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI di seluruh Jawa Barat.
Sampel adalah sebagian siswa kelas XI dari beberapa SMA negeri yang dipilih untuk mewakili seluruh populasi. Sampel diperlukan karena jumlah sekolah sangat banyak dan tersebar di berbagai daerah, sehingga tidak memungkinkan bagi peneliti untuk meneliti semua siswa secara langsung.

2. Teknik sampling yang paling tepat
Menurut saya, teknik sampling yang paling tepat adalah multistage sampling atau sampling bertahap, yaitu pengambilan sampel melalui beberapa tahap.
Alasannya, setiap daerah memiliki kondisi sosial ekonomi, infrastruktur digital, dan jumlah siswa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, peneliti perlu memilih sekolah dari berbagai kota dan kabupaten agar sampel tidak hanya mewakili daerah tertentu.
Cara menerapkannya yaitu dengan mengelompokkan sekolah berdasarkan wilayah, kemudian memilih beberapa SMA negeri secara acak dari setiap wilayah tersebut. Setelah itu, peneliti memilih siswa kelas XI dari sekolah yang terpilih sebagai responden. Peneliti juga perlu memperhatikan apakah sekolah tersebut menerapkan pembelajaran hybrid secara konsisten atau tidak, agar hasil penelitian sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

3. Kelemahan jika sampel hanya diambil dari Bandung dan Bekasi
Menurut saya, kelemahannya adalah sampel menjadi kurang mewakili seluruh siswa SMA negeri di Jawa Barat. Hal ini karena kondisi sekolah di Bandung dan Bekasi belum tentu sama dengan sekolah di daerah lain, terutama dari segi fasilitas internet, kondisi ekonomi, dan penerapan pembelajaran hybrid.
Akibatnya, hasil penelitian bisa kurang akurat jika digunakan untuk menggambarkan kondisi seluruh siswa kelas XI di Jawa Barat. Dengan demikian, peneliti sebaiknya mengambil sampel dari berbagai kota dan kabupaten agar hasil penelitian lebih mewakili populasi dan dapat diterapkan pada wilayah yang lebih luas.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1. Identifikasi populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di 600 SMA negeri yang tersebar di 27 kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Populasi tersebut menjadi sasaran penelitian karena peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI.
Sampel adalah sebagian siswa kelas XI yang dipilih dari sejumlah SMA negeri di Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan subjek penelitian. Sampel harus dipilih secara tepat agar dapat mewakili karakteristik populasi, termasuk perbedaan kondisi daerah, jumlah siswa, dan penerapan pembelajaran hybrid.

2. Teknik sampling yang paling tepat
Menurut saya, teknik yang paling tepat adalah Proportionate Stratified Random Sampling. Teknik ini dilakukan dengan membagi populasi ke dalam kelompok atau strata berdasarkan karakteristik tertentu, kemudian mengambil sampel secara acak dan proporsional dari setiap kelompok.
Teknik ini sesuai karena kondisi setiap kota/kabupaten berbeda, baik dari segi sosial ekonomi maupun infrastruktur digital. Penerapannya dapat dilakukan dengan mengelompokkan sekolah berdasarkan wilayah atau karakteristik yang relevan, menentukan jumlah sampel secara proporsional, lalu memilih sekolah dan siswa secara acak dari setiap kelompok. Peneliti juga perlu memastikan bahwa sampel mencakup sekolah dengan penerapan pembelajaran hybrid yang berbeda agar hasil penelitian lebih menyeluruh.

3. Kelemahan jika hanya mengambil sampel dari kota besar
Jika sampel hanya diambil dari Bandung dan Bekasi, hasil penelitian berisiko tidak mewakili seluruh siswa kelas XI di Jawa Barat. Sekolah di kota besar mungkin memiliki fasilitas digital dan akses internet yang lebih baik dibandingkan sekolah di daerah lain. Akibatnya, efektivitas pembelajaran hybrid yang ditemukan bisa berbeda dari kondisi sebenarnya di seluruh provinsi. Hal ini dapat menurunkan validitas eksternal, yaitu kemampuan hasil penelitian untuk digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Oleh karena itu, sampel sebaiknya mencakup berbagai kota dan kabupaten dengan kondisi yang beragam.