Kiriman dibuat oleh Shofiya Azhar Ramadhani

D3 MESIN MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

oleh Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

Judul: Pendidikan Pancasila, Eksistensinya bagi Mahasiswa
Penulis: August Hadiwijono
Sumber: Jurnal Cakrawala Hukum Vol. 7 No. 1, Juni 2016.

1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mencoba menjelaskan dua hal utama:
a. Makna Pancasila bagi mahasiswa sebagai generasi muda yang akan menjadi pemimpin bangsa.
b. Bagaimana penerapan nilai-nilai Pancasila di lingkungan kampus, baik melalui pendidikan formal maupun melalui kegiatan organisasi.
Penelitian ini bersifat normatif, artinya mengkaji data melalui literatur, peraturan, dan dokumen hukum.

2. Inti Pemikiran Penulis
a. Pancasila sebagai landasan moral mahasiswa
Penulis menekankan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman moral bagi mahasiswa. Di tingkat perguruan tinggi, Pancasila perlu terus diajarkan agar mahasiswa tidak kehilangan identitas nasional meski hidup di era modern dan digital.

b. Pancasila harus membentuk karakter mahasiswa
Pendidikan Pancasila diharapkan mampu membentuk mahasiswa yang:
- Beriman dan bertakwa
- Menghargai sesama
- Mampu berpikir kritis
- Mampu menghadapi persoalan bangsa secara demokratis
- Memiliki kecintaan pada tanah air
Penulis melihat bahwa tanpa internalisasi nilai-nilai ini, generasi muda bisa mudah terpecah dan kehilangan arah.

c. Pancasila sebagai dasar cara berpikir dan bertindak
Pancasila, menurut penulis, merupakan:
- Filsafat hidup
- Kepribadian nasional
- Ideologi negara
- Sumber moral
Karena itu, mahasiswa harus memaknainya bukan hanya pada aspek teori, tetapi sebagai panduan dalam bertindak.

3. Relevansi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi
Penulis menjelaskan bahwa perguruan tinggi adalah tempat strategis untuk pembentukan intelektual muda. Oleh sebab itu, pendidikan Pancasila wajib diberikan sebagai upaya:
a. Menangkal radikalisme
b. Menanamkan sikap toleransi
c. Membiasakan pola pikir demokratis
d. Membentuk karakter nasionalis yang tetap terbuka terhadap perkembangan global

4. Penerapan Pancasila di Kampus
Penulis menunjukkan contoh penerapan nilai Pancasila pada kehidupan kampus, misalnya:

Sila I – Ketuhanan
Jadwal kuliah tidak mengganggu ibadah, adanya UKM keagamaan, menghormati ibadah teman.

Sila II – Kemanusiaan
Tidak ada diskriminasi, kampus memberikan kesempatan yang sama bagi semua mahasiswa.

Sila III – Persatuan
Kegiatan organisasi dan relasi antarmahasiswa menumbuhkan rasa kebersamaan.

Sila IV – Kerakyatan
Rapat, musyawarah, dan pemilihan ketua organisasi mencerminkan praktik demokrasi.

Sila V – Keadilan Sosial
Penilaian akademik berdasarkan usaha, kegiatan anti-plagiarisme, keadilan dalam penggunaan fasilitas kampus.

5. Kontribusi Penelitian
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai doktrin yang dihafal, tetapi harus dihidupkan oleh mahasiswa melalui:
- Kegiatan belajar
- Etika pergaulan
- Kegiatan organisasi
- Sikap dalam menghadapi perbedaan
Penulis menegaskan bahwa mahasiswa Pancasila akan menjadi lulusan yang berkarakter, mampu menjadi pemimpin, dan siap membangun bangsa.

6. Kesimpulan Analisis
Secara umum, jurnal ini menegaskan bahwa:
a. Pancasila sangat penting bagi pembentukan kepribadian mahasiswa, terutama dalam era globalisasi yang rentan terhadap hilangnya identitas bangsa.
b. Perguruan tinggi wajib menjadi pusat internalisasi nilai Pancasila, melalui mata kuliah wajib, kegiatan organisasi, dan budaya akademik.
c. Pengamalan Pancasila bersifat objektif dan subjektif:
- Objektif: tercermin dalam aturan kampus
- Subjektif: tercermin dalam sikap pribadi mahasiswa
Internalisasi Pancasila akan menghasilkan lulusan yang bermoral, berkebangsaan, dan bertanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

D3 MESIN MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal

oleh Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

A. Sikap Gotong Royong yang Dapat Diwujudkan untuk Menghadapi Persoalan Bangsa
Gotong royong pada masa sekarang dapat diwujudkan tidak hanya dalam bentuk kerja fisik bersama, tetapi juga melalui tindakan kolektif yang menolong sesama di tengah berbagai persoalan bangsa. Contohnya:

1. Saling membantu di masa krisis, seperti pandemi—melalui donasi, berbagi makanan, mendukung UMKM lokal, atau menjadi relawan.
2. Menggerakkan solidaritas sosial, misalnya membantu tetangga yang sakit, mendukung warga yang kesulitan ekonomi, atau berbagi informasi yang positif dan benar.
3. Mengikuti protokol kesehatan dan anjuran pemerintah sebagai bentuk gotong royong non-fisik untuk melindungi masyarakat luas.
4. Partisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, seperti kerja bakti, kegiatan kebersihan lingkungan, atau program sosial desa.
5. Kolaborasi komunitas, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun lingkungan—semua merupakan bentuk gotong royong modern yang dapat memperkuat ketahanan bangsa.
Gotong royong adalah roh bangsa Indonesia. Semangat inilah yang membuat masyarakat tetap kuat dan mampu melewati berbagai persoalan besar.

B. Upaya Menghadapi Keberagaman di Lingkungan Tempat Tinggal dan Mewujudkan Keharmonisan
Untuk menghadapi keberagaman dan menciptakan keharmonisan, langkah yang bisa dilakukan antara lain:
1. Menghargai perbedaan agama, suku, dan budaya dengan tidak memaksakan pandangan kepada orang lain.
2. Mengutamakan komunikasi yang baik, bersikap ramah, dan membangun hubungan positif dengan warga sekitar.
3. Menghindari konflik dan intoleransi, serta menolak penyebaran berita hoaks atau provokasi yang dapat memecah persatuan.
4. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kampung seperti ronda, kerja bakti, perayaan hari besar, dan musyawarah warga.
5. Menjadi teladan dalam perilaku toleran, seperti saling membantu saat tetangga melaksanakan acara adat atau hari raya.
Melalui langkah-langkah sederhana ini, keberagaman tidak menjadi penghalang tetapi justru menjadi sumber kekuatan untuk bersatu.

C. Penjelasan tentang Nilai Dasar yang Menjadi Acuan dan Identitas Suatu Kelompok atau Bangsa
Setiap bangsa atau negara memiliki nilai dasar yang dianggap penting dan dijadikan pedoman dalam kehidupan bersama. Nilai dasar ini menjadi identitas nasional dan menjadi pembeda dengan bangsa lain. Nilai dasar tersebut:
1. Berfungsi sebagai pedoman moral dan etika, misalnya nilai agama, kemanusiaan, atau keadilan.
2. Menjadi arah dalam membuat kebijakan negara, termasuk hukum, pendidikan, dan pemerintahan.
3. Mencerminkan sejarah, budaya, dan pengalaman kolektif suatu bangsa.
4. Menjadi pengikat persatuan, karena seluruh warga negara bersepakat menjunjung nilai tersebut.
Contoh untuk Indonesia adalah Pancasila, yang menjadi identitas bangsa sekaligus nilai dasar yang mengatur cara hidup berbangsa dan bernegara.

D. Pendapat tentang Sikap Para Pendiri Bangsa Terkait Perubahan 7 Kata Piagam Jakarta dan Relevansinya di Masa Kini
Sikap para pendiri bangsa yang bersedia menghapus “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta adalah contoh nyata dari kebijaksanaan, kedewasaan politik, dan semangat persatuan. Mereka menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau golongan.
Keputusan itu menunjukkan:
1. Mengutamakan persatuan nasional, bukan kepentingan identitas tertentu.
2. Kesediaan untuk berkompromi demi keutuhan bangsa.
3. Cara berpikir jauh ke depan, karena mereka menyadari Indonesia terdiri dari banyak agama dan budaya.

Sikap ini sangat relevan untuk bangsa Indonesia saat ini. Kita dapat meneladaninya dengan:
a. Menghindari sikap fanatik atau eksklusif yang dapat memecah belah masyarakat.
b. Mengutamakan dialog, toleransi, dan musyawarah saat menghadapi perbedaan pendapat.
c. Menjaga nilai persatuan sebagai hal yang lebih penting daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
d. Bersedia berkorban demi kepentingan bersama.
Dengan mencontoh sikap para pendiri negara, masyarakat Indonesia masa kini dapat membangun bangsa yang lebih rukun, kuat, dan saling menghargai perbedaan.

D3 MESIN MKU PANCASILA -> Forum Analis Jurnal

oleh Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

1. Identitas Jurnal

Judul: Peran Agama dalam Pancasila
Penulis: Tidak tercantum (dalam dokumen)
Tema Utama: Hubungan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa

2. Latar Belakang Jurnal

Jurnal ini membahas bagaimana agama memiliki andil besar dalam pembentukan nilai-nilai Pancasila. Penulis menekankan bahwa Pancasila bukan ideologi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan negara, tetapi mengakui bahwa keberagaman keyakinan di Indonesia merupakan sumber nilai yang memperkaya Pancasila.
Di tengah perubahan sosial dan tantangan global, penting untuk menegaskan kembali posisi agama sebagai sumber moral, etika, dan pedoman perilaku yang mendukung penguatan Pancasila.

3. Fokus dan Permasalahan yang Diangkat
Penulis ingin menjawab beberapa isu utama:
a. Bagaimana agama mempengaruhi pembentukan sila-sila dalam Pancasila?
b. Mengapa nilai agama relevan sebagai dasar etis bangsa?
c. Bagaimana peran agama dalam memperkuat praktik nilai Pancasila di masyarakat modern?

4. Isi dan Pembahasan Jurnal
a. Pancasila Tidak Bertentangan dengan Agama
Penulis menjelaskan bahwa Pancasila bukanlah ideologi yang menghapus peran agama. Sebaliknya, Pancasila mengakui keberadaan Tuhan dan nilai moral dari tiap agama di Indonesia.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi bukti bahwa kehidupan bernegara tetap menempatkan nilai religius sebagai fondasi.

b. Agama sebagai Sumber Nilai Etis Pancasila
Nilai-nilai agama berkontribusi langsung pada pembentukan sila-sila lainnya:
a. Kemanuasiaan: ajaran agama mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan rasa hormat kepada sesama.
b. Persatuan: agama menekankan hidup damai dan menghargai keberagaman.
c. Kerakyatan: prinsip musyawarah selaras dengan ajaran agama tentang kebijaksanaan.
d. Keadilan sosial: agama mengajarkan pentingnya keseimbangan hak dan kewajiban serta kejujuran dalam bermasyarakat.
Dengan demikian, nilai keagamaan menjadi ruh yang menghidupkan Pancasila dalam praktik sehari-hari.

c. Agama sebagai Penguat Integrasi Bangsa
Penulis menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, baik dalam agama, suku, bahasa maupun budaya. Agama yang dipahami secara benar dapat memperkuat persatuan bangsa.
Nilai-nilai toleransi, saling menghargai, dan menjaga perdamaian menjadi elemen yang meneguhkan rasa kebangsaan.

d. Tantangan Implementasi Agama dalam Pancasila
Penulis juga mengangkat masalah ketika agama disalahpahami atau digunakan secara ekstrem. Hal ini dapat memunculkan konflik sosial. Oleh karena itu, internalisasi Pancasila dan pemahaman agama yang moderat sangat diperlukan agar keduanya berjalan selaras.

5. Temuan Utama Penulis

Beberapa poin penting yang menjadi inti jurnal:
a. Agama dan Pancasila tidak bisa dipisahkan, keduanya saling melengkapi.
b.Nilai-nilai agama memberikan dasar etika dan moral bagi penerapan sila-sila Pancasila.
c. Pemahaman agama yang moderat membantu memperkuat persatuan dan mencegah konflik.
d. Implementasi Pancasila membutuhkan dukungan nilai keagamaan agar menjadi praktik nyata, bukan sekadar wacana.

6. Kelebihan dan Kelemahan Jurnal
Kelebihan;
a. Menguraikan hubungan agama dan Pancasila secara logis dan mudah dipahami.
b. Menekankan pentingnya moderasi beragama untuk menjaga persatuan.
c. Menggunakan perspektif filosofis, historis, dan sosial.

Kelemahan
a. Minim data empiris atau contoh kasus nyata.
b. Tidak membahas lebih rinci perbedaan tafsir agama yang dapat memengaruhi penerapan Pancasila.
c. Beberapa argumen masih bersifat umum dan normatif.

7. Kesimpulan

Jurnal ini menyimpulkan bahwa agama memiliki peran vital dalam membentuk dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai keagamaan menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia untuk menjalankan kehidupan sosial, politik, dan kebangsaan.
Pancasila tidak bertentangan dengan agama; justru keduanya saling menguatkan. Agar Pancasila dapat diterapkan secara konsisten, diperlukan pemahaman agama yang terbuka, toleran, dan moderat. Dengan demikian, agama dan Pancasila menjadi dua pilar penting dalam menjaga keutuhan bangsa, membentuk karakter masyarakat, dan membangun kehidupan nasional yang damai dan berkeadilan.

D3 MESIN MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal

oleh Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

1. Hubungan Pendidikan Pancasila dengan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara serta Urgensinya bagi Mahasiswa/Generasi Muda
Pendidikan Pancasila memiliki hubungan langsung dengan kehidupan berbangsa karena Pancasila merupakan dasar negara, sumber nilai, serta pedoman perilaku masyarakat Indonesia. Dengan mempelajari Pancasila, mahasiswa memahami prinsip hidup bersama yang menekankan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai pengarah bagaimana warga negara bersikap dalam ruang publik, menghargai keberagaman, menjunjung hukum, dan menjaga persatuan.
Bagi mahasiswa dan generasi muda, urgensi Pendidikan Pancasila semakin tinggi karena mereka adalah kelompok yang akan memimpin bangsa di masa mendatang. Di tengah derasnya globalisasi, media digital, dan perubahan sosial, generasi muda membutuhkan landasan moral dan identitas kebangsaan yang kuat agar tidak kehilangan jati diri. Pendidikan Pancasila membantu mahasiswa memiliki karakter Pancasilais—berpikir kritis, beretika, dan mampu berperan aktif dalam menjaga stabilitas negara.

2. Hal yang Paling Pokok Dipelajari dari Pendidikan Pancasila dalam Menghadapi Perubahan dan Manfaatnya bagi Masa Depan
Hal paling penting yang harus dipelajari adalah pemahaman terhadap nilai dasar Pancasila dan kemampuan mengaplikasikannya dalam situasi baru. Fokus utamanya meliputi:
1. Etika Ketuhanan dan moralitas, agar teknologi dan modernisasi tidak menghilangkan nilai kemanusiaan.
2. Nilai kemanusiaan dan toleransi, penting dalam menghadapi masyarakat yang semakin multikultural.
3. Semangat persatuan, untuk mencegah konflik identitas di era keterbukaan.
4. Kemampuan musyawarah, berguna dalam pengambilan keputusan baik di organisasi, profesi, maupun kehidupan sosial.
5. Prinsip keadilan, sebagai pedoman dalam bekerja, berbisnis, dan berinteraksi sosial di masa depan.
Manfaatnya bagi masa depan adalah membantu mahasiswa menjadi pribadi yang berkarakter kuat, mampu bersaing secara global tetapi tetap berpegang pada nilai moral bangsa, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negara.

3. Faktor Penghambat dan Penunjang Diterapkannya Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi
Faktor Penghambat
a. Kurangnya minat mahasiswa karena menganggap Pendidikan Pancasila hanya teori dan tidak relevan dengan profesi.
b. Metode pengajaran yang monoton, terlalu berfokus pada ceramah sehingga mahasiswa tidak terlibat aktif.
c. Pengaruh globalisasi dan media digital, yang sering membawa ide-ide baru yang tidak selaras dengan nilai Pancasila.
d. Lingkungan sosial yang kurang mendukung, seperti maraknya berita hoaks, intoleransi, dan perilaku yang tidak sesuai nilai Pancasila.
e. Keterbatasan dosen atau tenaga pengajar dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang kreatif dan kontekstual.

Faktor Penunjang
a. Landasan hukum yang kuat, seperti UU No.12 Tahun 2012 yang mewajibkan Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi.
b. Materi yang relevan dengan kehidupan sosial modern, seperti etika digital, nasionalisme, dan kebhinekaan.
c. Peran dosen yang kreatif dan inovatif, menggunakan metode diskusi, studi kasus, dan project-based learning.
d. Dukungan kampus, seperti kegiatan organisasi kemahasiswaan yang menanamkan nilai Pancasila (misalnya kegiatan sosial, kerelawanan, musyawarah).
e. Lingkungan kampus yang plural, memungkinkan mahasiswa belajar toleransi secara langsung.

4. Relasi Pendidikan Pancasila dengan Program Studi/Jurusan Anda dan Hubungannya dengan Tujuan Negara Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Pendidikan Pancasila memiliki hubungan erat dengan semua program studi, apa pun jurusannya. Hal ini karena nilai Pancasila bukan hanya teori, tetapi kerangka etika dan moral untuk memandu tindakan dalam setiap bidang keahlian.

Contohnya:
1. Mahasiswa teknik perlu mempelajari etika teknologi agar inovasi tidak merusak lingkungan atau membahayakan masyarakat.
2. Mahasiswa ekonomi atau bisnis membutuhkan nilai keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam praktik usaha.
3. Mahasiswa pendidikan harus menguasai nilai kemanusiaan dan demokrasi sebagai bekal mendidik generasi selanjutnya.
4. Mahasiswa hukum harus memahami Pancasila sebagai sumber nilai dalam penyusunan peraturan perundang-undangan.
5. Mahasiswa kesehatan membutuhkan dasar kemanusiaan dan etika profesi.
Dalam konteks tujuan negara “mencerdaskan kehidupan bangsa”, Pendidikan Pancasila membantu mencerdaskan bukan hanya secara intelektual tetapi juga secara moral, karakter, dan kepribadian. Artinya, negara tidak hanya ingin warganya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, bertanggung jawab, dan berperilaku sesuai nilai Pancasila.
Dengan demikian, Pendidikan Pancasila berfungsi sebagai fondasi karakter yang memperkuat profesionalisme mahasiswa sesuai program studinya masing-masing.

D3 MESIN MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

oleh Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

1. Identitas Jurnal
Judul: Urgensi Penegasan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penulis: Ika Setyorini
Tahun: 2018

2. Latar Belakang
Penulis melihat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat dan berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Namun, perkembangan tersebut tidak selalu sejalan dengan nilai moral dan kemanusiaan. Di Indonesia, Pancasila dipandang sebagai sumber nilai yang seharusnya menjadi landasan bagi arah perkembangan IPTEK. Tanpa pegangan nilai, ilmu dapat berkembang secara bebas dan berpotensi menimbulkan masalah, seperti dehumanisasi, kerusakan lingkungan, dan hilangnya identitas bangsa.
Karena itu, penegasan Pancasila sebagai dasar pengembangan IPTEK dinilai penting agar setiap inovasi tetap berada dalam koridor etika bangsa Indonesia.

3. Tujuan Penelitian
Tujuan jurnal ini adalah:
a. Menjelaskan konsep dasar nilai Pancasila sebagai acuan pengembangan IPTEK.
b. Menguraikan bagaimana Pancasila dapat menjadi sumber nilai moral dalam dunia ilmu pengetahuan.
c. Mengidentifikasi dasar historis, sosiologis, dan politis yang mendukung pentingnya Pancasila dalam pengembangan IPTEK.

4. Isi dan Pembahasan
a. Pancasila sebagai Sistem Nilai
Penulis membagi nilai Pancasila menjadi:
1. Nilai dasar: prinsip umum yang bersifat tetap dan menjadi cita-cita bangsa.
2. Nilai instrumental: bentuk konkret nilai dasar dalam kebijakan, aturan, dan rencana pembangunan.
3. Nilai praksis: perwujudan nilai-nilai tersebut dalam tindakan sehari-hari.
Dalam konteks IPTEK, ketiga tingkat nilai ini berfungsi sebagai panduan supaya aktivitas ilmiah tidak bertentangan dengan jati diri bangsa.

b. Pancasila sebagai Sumber Moral Pengembangan IPTEK
Penulis menafsirkan setiap sila sebagai landasan etika:
1. Ketuhanan: Ilmu harus memperhatikan moral dan tidak merusak martabat manusia.
2. Kemanusiaan: IPTEK harus membawa manfaat bagi kesejahteraan manusia, bukan menciptakan penderitaan.
3. Persatuan: Kemajuan IPTEK perlu memperkuat integrasi nasional.
4. Demokrasi: Pengembangan ilmu harus terbuka pada kritik, bersifat partisipatif, dan menghormati hak semua orang.
5. Keadilan: Pemanfaatan teknologi harus merata dan tidak menimbulkan kesenjangan.
Dengan demikian, Pancasila memberi arah agar perkembangan IPTEK tetap humanis dan beretika.

c. Dasar Historis, Sosiologis, dan Politis
Penulis menunjukkan tiga aspek yang memperkuat relevansi Pancasila:
1. Historis
Pembukaan UUD 1945 memuat tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dan IPTEK harus mengikuti nilai dasar bangsa, termasuk nilai-nilai Pancasila.
2. Sosiologis
Masyarakat Indonesia sangat sensitif terhadap isu kemanusiaan, etika, dan religiusitas. Pengembangan teknologi yang mengabaikan aspek kemanusiaan dapat menimbulkan penolakan sosial.
3. Politis
Sejak era awal kemerdekaan hingga reformasi, para pemimpin bangsa telah menekankan pentingnya Pancasila dalam pengembangan ilmu. Namun penegasan itu masih perlu dipraktikkan lebih konsisten.

5. . Temuan Utama Penulis
1. Ilmu dan teknologi tidak netral; perlu pedoman etis agar tidak merusak manusia.
2. Pancasila adalah dasar yang paling relevan untuk mengontrol arah perkembangan IPTEK di Indonesia.
3. Globalisasi teknologi membawa pengaruh luar yang bisa menggeser nilai lokal jika tidak disaring.

6. Kelebihan Jurnal
a. Mengaitkan Pancasila dengan isu-isu modern, seperti etika teknologi.
b. Menyediakan landasan historis, sosiologis, dan politis yang lengkap.
c. Mengajak pembaca melihat Pancasila sebagai prinsip etis, bukan hanya simbol negara.

7. Kekurangan Jurnal
Analisis kurang memberi contoh konkret teknologi masa kini (AI, bioteknologi, energi).
Tidak menyertakan data empiris, sehingga argumen bersifat normatif.
Penjelasan masih umum dan dapat dikembangkan dengan perspektif ilmiah yang lebih kritis.

8. Kesimpulan
Pancasila memiliki peran penting sebagai dasar nilai untuk mengarahkan perkembangan ilmu dan teknologi agar tetap berpihak pada kemanusiaan, moralitas, dan kepentingan bangsa Indonesia. Tanpa nilai Pancasila, kemajuan IPTEK berpotensi menimbulkan dampak negatif dan menggerus identitas bangsa. Oleh karena itu, setiap pengembangan ilmu di Indonesia harus selaras dengan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan yang terkandung dalam Pancasila.