Analisis Soal dari Artikel “Akhlak-less Itu Bukan Budaya Kita”
Nama: Wind Nurul Apriliani
Npm: 2515012022
Kelas: B
A. Pendapat Mengenai Isi Artikel dan Hal Positif yang Dapat Diambil
Artikel yang berjudul “Akhlak-less Itu Bukan Budaya Kita” menyampaikan pesan moral yang sangat penting bagi masyarakat, khususnya kami generasi muda. Penulis mengingatkan bahwa di tengah kemajuan zaman dan pengaruh globalisasi, sopan santun dan etika tetap harus dijaga. Kebebasan berekspresi tidak boleh disalahgunakan untuk menyakiti perasaan orang lain, baik melalui ucapan, tindakan, maupun media sosial.
Hal positif yang dapat diambil dari artikel tersebut adalah pentingnya menjaga sikap sopan santun dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, artikel ini juga menegaskan bahwa kebebasan harus diiringi dengan tanggung jawab serta kesadaran akan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Generasi muda diajak untuk tetap melestarikan budaya positif bangsa Indonesia yang dikenal ramah, santun, dan beretika.
B. Hubungan antara Pancasila sebagai Sistem Etika dengan Isi Artikel
Isi artikel memiliki hubungan yang erat dengan nilai-nilai Pancasila sebagai sistem etika bangsa Indonesia. Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga pedoman moral dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.
Sila pertama, mengajarkan agar manusia berperilaku baik sesuai ajaran agama dan memiliki akhlak mulia.
Sila kedua, menuntun kita untuk menghormati dan memperlakukan sesama manusia dengan adil tanpa kekerasan atau penghinaan.
Sila ketiga, menekankan pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan rasa persaudaraan.
Sila keempat, mengajarkan agar setiap pendapat disampaikan dengan sopan dan mengutamakan musyawarah.
Sila kelima, mendorong kita untuk berperilaku adil serta menghormati hak dan kewajiban orang lain.
Dengan demikian, artikel tersebut sejalan dengan nilai-nilai moral Pancasila yang menjadi pedoman etika bangsa Indonesia.
C. Kearifan Lokal di Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Sila-sila Pancasila
Berbagai kearifan lokal di Indonesia mencerminkan penerapan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila.
Beberapa di antaranya yaitu:
Tradisi selametan, tahlilan, atau ngayah di Bali (Sila ke-1), mencerminkan keimanan dan rasa syukur kepada Tuhan.
Gotong royong dan adat mapalus di Sulawesi Utara (Sila ke-2), menunjukkan semangat tolong-menolong dan kepedulian antar sesama.
Upacara adat dan perayaan hari besar bersama (Sila ke-3), mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Musyawarah desa atau rembug kampung (Sila ke-4), menumbuhkan semangat demokrasi dan menghargai pendapat orang lain.
Sistem subak di Bali dan lumbung desa di Jawa (Sila ke-5), mencerminkan nilai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang menjadi wujud nyata pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
D. Cara Menjaga dan Melestarikan Kearifan Lokal di Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Sila-sila Pancasila
Kearifan lokal yang mencerminkan sistem etika Pancasila perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan arus modernisasi. Cara yang dapat dilakukan antara lain:
1. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap sopan, menghormati orang lain, dan menjunjung tinggi keadilan.
2. Mengenalkan dan mengajarkan kearifan lokal kepada generasi muda melalui pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, dan media digital.
3. Mengikuti serta mendukung kegiatan budaya dan tradisi lokal di lingkungan sekitar sebagai bentuk pelestarian budaya.
4. Menyesuaikan nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan zaman, agar tetap relevan dan diterima oleh masyarakat modern.
5. Menjaga bahasa daerah, sastra, serta tradisi lisan, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dan etika yang luhur.
Dengan melaksanakan hal-hal tersebut, kearifan lokal yang mencerminkan sistem etika Pancasila akan tetap hidup dan menjadi pedoman perilaku generasi penerus bangsa.
Nama: Wind Nurul Apriliani
Npm: 2515012022
Kelas: B
A. Pendapat Mengenai Isi Artikel dan Hal Positif yang Dapat Diambil
Artikel yang berjudul “Akhlak-less Itu Bukan Budaya Kita” menyampaikan pesan moral yang sangat penting bagi masyarakat, khususnya kami generasi muda. Penulis mengingatkan bahwa di tengah kemajuan zaman dan pengaruh globalisasi, sopan santun dan etika tetap harus dijaga. Kebebasan berekspresi tidak boleh disalahgunakan untuk menyakiti perasaan orang lain, baik melalui ucapan, tindakan, maupun media sosial.
Hal positif yang dapat diambil dari artikel tersebut adalah pentingnya menjaga sikap sopan santun dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Selain itu, artikel ini juga menegaskan bahwa kebebasan harus diiringi dengan tanggung jawab serta kesadaran akan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Generasi muda diajak untuk tetap melestarikan budaya positif bangsa Indonesia yang dikenal ramah, santun, dan beretika.
B. Hubungan antara Pancasila sebagai Sistem Etika dengan Isi Artikel
Isi artikel memiliki hubungan yang erat dengan nilai-nilai Pancasila sebagai sistem etika bangsa Indonesia. Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga pedoman moral dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.
Sila pertama, mengajarkan agar manusia berperilaku baik sesuai ajaran agama dan memiliki akhlak mulia.
Sila kedua, menuntun kita untuk menghormati dan memperlakukan sesama manusia dengan adil tanpa kekerasan atau penghinaan.
Sila ketiga, menekankan pentingnya menjaga kerukunan, toleransi, dan rasa persaudaraan.
Sila keempat, mengajarkan agar setiap pendapat disampaikan dengan sopan dan mengutamakan musyawarah.
Sila kelima, mendorong kita untuk berperilaku adil serta menghormati hak dan kewajiban orang lain.
Dengan demikian, artikel tersebut sejalan dengan nilai-nilai moral Pancasila yang menjadi pedoman etika bangsa Indonesia.
C. Kearifan Lokal di Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Sila-sila Pancasila
Berbagai kearifan lokal di Indonesia mencerminkan penerapan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila.
Beberapa di antaranya yaitu:
Tradisi selametan, tahlilan, atau ngayah di Bali (Sila ke-1), mencerminkan keimanan dan rasa syukur kepada Tuhan.
Gotong royong dan adat mapalus di Sulawesi Utara (Sila ke-2), menunjukkan semangat tolong-menolong dan kepedulian antar sesama.
Upacara adat dan perayaan hari besar bersama (Sila ke-3), mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Musyawarah desa atau rembug kampung (Sila ke-4), menumbuhkan semangat demokrasi dan menghargai pendapat orang lain.
Sistem subak di Bali dan lumbung desa di Jawa (Sila ke-5), mencerminkan nilai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang menjadi wujud nyata pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
D. Cara Menjaga dan Melestarikan Kearifan Lokal di Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Sila-sila Pancasila
Kearifan lokal yang mencerminkan sistem etika Pancasila perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan arus modernisasi. Cara yang dapat dilakukan antara lain:
1. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap sopan, menghormati orang lain, dan menjunjung tinggi keadilan.
2. Mengenalkan dan mengajarkan kearifan lokal kepada generasi muda melalui pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, dan media digital.
3. Mengikuti serta mendukung kegiatan budaya dan tradisi lokal di lingkungan sekitar sebagai bentuk pelestarian budaya.
4. Menyesuaikan nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan zaman, agar tetap relevan dan diterima oleh masyarakat modern.
5. Menjaga bahasa daerah, sastra, serta tradisi lisan, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dan etika yang luhur.
Dengan melaksanakan hal-hal tersebut, kearifan lokal yang mencerminkan sistem etika Pancasila akan tetap hidup dan menjadi pedoman perilaku generasi penerus bangsa.