Kiriman dibuat oleh Rima Diantisa

PAK A2025 -> ACTIVITY: TELAAH ARTIKEL

oleh Rima Diantisa -

NAMA: RIMA DIANTISA

NPM: 2513031034


RESUME MATERI AKUNTANSI

Artikel 1

Artikel ini membahas berbagai penelitian mengenai kualitas pelaporan keuangan dengan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi serta cara mengukurnya. Kajian dilakukan terhadap literatur dari tahun 2009 hingga 2015, mencakup jurnal akuntansi, asosiasi profesi, dan publikasi akademik. Elemen utama kualitas pelaporan menurut FASB dan IASB meliputi: relevansi (informasi bermanfaat untuk  keputusan ekonomi), representasi setia atau reliabilitas (bebas dari bias dan kesalahan material), keterbandingan antarperiode dan antarperusahaan, keterpahaman (informasi mudah dipahami pengguna), ketepatan waktu penyajian, serta verifiabilitas (dapat diuji kebenarannya). Faktor yang memengaruhi kualitas pelaporan keuangan cukup beragam. Manajemen laba sering menurunkan kualitas karena memanipulasi hasil laporan. Sebaliknya, tata kelola perusahaan yang baik, pengawasan pasar modal, pengendalian internal, serta audit independen mampu meningkatkan mutu laporan. Selain itu, standar akuntansi juga berperan—laporan berbasis IFRS cenderung lebih relevan, sementara GAAP lebih menekankan representasi yang setia. Faktor lain seperti teknologi informasi, budaya organisasi, etika bisnis, reputasi perusahaan, usia CEO, serta ukuran dan umur perusahaan juga berhubungan dengan kualitas laporan. Untuk mengukur kualitas pelaporan keuangan, berbagai pendekatan digunakan, misalnya skor standar yang menilai karakteristik kualitatif, model akrual (Accrual Quality), model Beneish M-Score untuk mendeteksi manipulasi, indeks pengendalian internal, serta indikator seperti persistensi akrual dan tingkat manajemen laba.

Namun, kajian literatur ini juga menemukan adanya kesenjangan penelitian. Banyak studi menggunakan sampel yang terbatas sehingga hasilnya kurang representatif. Selain itu, penelitian sering mengabaikan perusahaan kecil dan menengah, kurang memperhatikan pengungkapan sukarela, dan minim data dari pasar negara berkembang. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas dan variabel yang lebih beragam sangat diperlukan.

Kesimpulannya, kualitas pelaporan keuangan tidak hanya ditentukan oleh standar akuntansi, melainkan juga dipengaruhi oleh tata kelola, sistem kontrol, etika, serta kondisi budaya dan institusional. Pemahaman yang baik mengenai faktor-faktor ini akan membantu investor, manajer, dan regulator dalam meningkatkan transparansi, memperkuat kepercayaan, serta mendorong efisiensi pasar.


Artikel 2

Artikel ini membahas berbagai penelitian mengenai kualitas pelaporan keuangan dengan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi serta cara mengukurnya. Kajian dilakukan terhadap literatur dari tahun 2009 hingga 2015, mencakup jurnal akuntansi, asosiasi profesi, dan publikasi akademik. Elemen utama kualitas pelaporan menurut FASB dan IASB meliputi: relevansi (informasi bermanfaat untuk keputusan ekonomi), representasi setia atau reliabilitas (bebas dari bias dan kesalahan material), keterbandingan antarperiode dan antarperusahaan, keterpahaman (informasi mudah dipahami pengguna), ketepatan waktu penyajian, serta verifiabilitas (dapat diuji kebenarannya). Faktor yang memengaruhi kualitas pelaporan keuangan cukup beragam. Manajemen laba sering menurunkan kualitas karena memanipulasi hasil laporan. Sebaliknya, tata kelola perusahaan yang baik, pengawasan pasar modal, pengendalian internal, serta audit independen mampu meningkatkan mutu laporan. Selain itu, standar akuntansi juga berperan—laporan berbasis IFRS cenderung lebih relevan, sementara GAAP lebih menekankan representasi yang setia. Faktor lain seperti teknologi informasi, budaya organisasi, etika bisnis, reputasi perusahaan, usia CEO, serta ukuran dan umur perusahaan juga berhubungan dengan kualitas laporan. Untuk mengukur kualitas pelaporan keuangan, berbagai pendekatan digunakan, misalnya skor standar yang menilai karakteristik kualitatif, model akrual (Accrual Quality), model Beneish M-Score untuk mendeteksi manipulasi, indeks pengendalian internal, serta indikator seperti persistensi akrual dan tingkat manajemen laba. Namun, kajian literatur ini juga menemukan adanya kesenjangan penelitian. Banyak studi menggunakan sampel yang terbatas sehingga hasilnya kurang representatif. Selain itu, penelitian sering mengabaikan perusahaan kecil dan menengah, kurang memperhatikan pengungkapan sukarela, dan minim data dari pasar negara berkembang. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas dan variabel yang lebih beragam sangat diperlukan.

Kesimpulannya, kualitas pelaporan keuangan tidak hanya ditentukan oleh standar akuntansi, melainkan juga dipengaruhi oleh tata kelola, sistem kontrol, etika, serta kondisi budaya dan institusional. Pemahaman yang baik mengenai faktor-faktor ini akan membantu investor, manajer, dan regulator dalam meningkatkan transparansi, memperkuat kepercayaan, serta mendorong efisiensi pasar.


Artikel 3

Artikel ini membahas bagaimana tata kelola perusahaan (corporate governance) memengaruhi kualitas laporan keuangan. Latar belakangnya adalah adanya krisis keuangan global serta kasus-kasus kegagalan perusahaan yang menunjukkan pentingnya laporan keuangan yang transparan dan dapat dipercaya. Kualitas laporan keuangan ditentukan oleh beberapa hal seperti relevansi, keandalan, keterbandingan, kemudahan dipahami, ketepatan waktu, dan kesesuaian dengan kondisi nyata. Laporan yang berkualitas membantu mengurangi kesenjangan informasi antara manajemen dan pemilik, menumbuhkan kepercayaan investor, serta mendukung keputusan ekonomi yang lebih tepat.

Tata kelola perusahaan yang baik mendukung kualitas pelaporan melalui beberapa cara, antara lain:

dewan komisaris dan komite audit yang independen, sistem pengendalian internal yang kuat,transparansi dalam pengungkapan informasi, penerapan etika dan akuntabilitas, audit eksternal yang berkualitas, sertakepatuhan pada standar akuntansi seperti GAAP dan IFRS.

Penulis juga meninjau enam teori yang berkaitan dengan hubungan tata kelola dan pelaporan, yaitu agency theory, stewardship theory, stakeholder theory, resource-based view, core competencies theory, dan transaction cost theory. Teori-teori ini memberikan sudut pandang berbeda tentang bagaimana manajemen, pemilik, dan pemangku kepentingan saling memengaruhi dalam proses pelaporan. Dari berbagai penelitian empiris di beberapa negara, ditemukan hasil yang berbeda-beda terkait pengaruh ukuran dewan, independensi, keberagaman gender, maupun rapat audit terhadap kualitas laporan keuangan. Namun, sebagian besar penelitian sepakat bahwa tata kelola perusahaan memang berperan besar dalam meningkatkan kualitas laporan.

Kesimpulannya, tata kelola yang baik akan menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat, transparan, dan terpercaya. Akan tetapi, masih ada keterbatasan penelitian karena sebagian besar hanya mengukur kualitas laporan melalui manajemen laba. Oleh sebab itu, studi berikutnya diharapkan bisa menggali faktor lain yang memengaruhi hubungan antara tata kelola perusahaan dan kualitas pelaporan.